• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Capaian Kinerja dengan Capaian Nasional

Perbandingan Target dan Realisasi Kinerja Tahun 2016

1.4. Perbandingan Capaian Kinerja dengan Capaian Nasional

Indikator Kinerja Utama Dinas Lingkungan Hidup didasarkan kepada amanat yang tercantum pada RPJMN 2015 – 2019 yaitu pencapaian Indeks Kualitas Lingkungan Hidup sebesar 68,5 pada tahun 2019, dimana tiga komponen penentu Indeks Kualitas Lingkungan Hidup adalah Indeks Pencemaran Air (IPA), Indeks 55Pencemaran Udara (IPU) dan Indeks Tutupan Hutan (ITH) yang menjadi IKU Dinas Lingkungan Hidup.

Target dari masing-masing komponen tersebut tercantum pada Rencana Strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2015-2019, namun tidak diperinci target capaian per tahun, namun dicantumkan target minimal masing-masing komponen IPA, IPU dan ITH yang ingin dicapai pada Tahun 2019, sesuai dengan target IKLH yang ingin dicapai pada Tahun 2019.

Tabel 3.4

Perbandingan Capaian Kinerja dengan Capaian Nasional

No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Realisasi Th. 2016 Target Nasional Ket ( +/- ) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatkan kualitas dan fungsi lingkungan hidup melalui upaya pencegahan dan pengendalian

terhadap pencemaran air dan udara

1. Indeks Pencemaran Air (IPA) 51,00 55,00 Target dimaksud merupakan target capaian pada tahun 2019 2. Indeks Pencemaran Udara (IPU) 100,00 84,00 Target dimaksud merupakan target capaian pada tahun 2019 2 Meningkatkan fungsi perlindungan dan pengawasan dalam pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan 3. Indeks Tutupan Hutan (ITH) 46,83 62,00 Target dimaksud merupakan target capaian pada tahun 2019

D i n a s L i n g k u n g a n H i d u p K a b u p a t e n M a l a n g III - 5

2. ANALISIS PENYEBAB KEBERHASILAN/KEGAGALAN DAN SOLUSI

Secara umum dapat dijelaskan dari 2 sasaran strategis dengan 3 indikator kinerja utama di tingkat PD, menunjukkan hasil capaian di bawah target pada 1 indikator sedangkan realisasi capaian kinerja pada 2 indikator lainnya menunjukkan hasil melebihi target yang telah ditetapkan. Analisis Penyebab Keberhasilan/Kegagalan atau Peningkatan/Penurunan Kinerja Serta Alternatif Solusi Yang Telah Dilakukan dari tiap indikator dapat dijelaskan sebagai berikut :

a) Indikator kinerja utama : Indeks Pencemaran Air (IPA)

Kinerja pemantauan kualitas air melalui pemantauan kualitas pada air badan air (ABA) atau sungai dilakukan pada 50 (lima puluh) titik lokasi air badan air/sungai untuk mengetahui kondisi kualitas air badan air di wilayah Kabupaten Malang. Kegiatan pemantauan melalui pengujian kualitas air pada air badan air dilakukan sesuai Perda 2 tahun 2008 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air di Propinsi Jawa Timur dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Gambar 3.2 Pelaksanaan Kegiatan Pengujian Kualitas Air Badan Air

Hasil pengujian kualitas air badan air tersebut kemudian dianalisa dan diperoleh nilai IPA sebesar 51,00. Nilai ini kurang dari target yang ditetapkan yaitu 54,60, namun dari segi pencapaian kinerja terealisasi sebesar 93,41% yang masuk dalam kategori “sangat berhasil”.

Secara umum, tidak tercapainya target kinerja tersebut disebabkan karena : - Belum optimalnya pengoperasian IPAL pada beberapa

kegiatatan/usaha,seperti kapasitas produksi yang melebihi kapasitas IPAL sehingga pengolahan limbah cair tidak dapat berjalan secara optimal, dengan demikian limbah yang terbuang ke sungai belum memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan;

D i n a s L i n g k u n g a n H i d u p K a b u p a t e n M a l a n g III - 6 - Ketidakseimbangan antara jumlah kegiatan usaha yang harus dipantau

dengan jumlah aparatur pelaksana pemantauan;

- Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan air sungai dengan masih membuang sampah dan limbah domestik langsung ke sungai.

Terhadap adanya kendala tersebut dapat diberikan rekomendasi untuk tindak lanjut perbaikan melalui solusi/strategi pemecahan sebagai berikut :

- Melakukan pembinaan kepada pelaku usaha, dengan mengupayakan penerapan sanksi sesuai perundangan yang berlaku;

- Melakukan pembinaan kepada masyarakat untuk turut serta menjaga kualitas air sungai dengan tidak melakukan aktivitas yang menambah beban pencemaran terhadap sungai;

- Menyediakan IPAL komunal untuk membantu pengolahan limbah domestik. - Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja pemantauan, dengan

meningkatkan kesadaran pelaku usaha terhadap ketaatan perundang-undangan.

b) Indikator kinerja utama: Indeks Pencemaran Udara (IPU)

Kinerja pemantauan kualitas udara ambien dilakukan dengan mengacu pada baku mutu sesuai Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi Sumber Tidak bergerak di Jawa Timur. Pemantauan dilakukan secara rutin setiap tahun pada 12 titik lokasi untuk mengetahui kualitas udara ambien.

Gambar 3.3 Pelaksanaan Kegiatan Pengujian Kualitas Udara Ambien Hasil pengujian kualitas udara ambien tersebut setelah dianalisa didapatkan Indeks Pencemaran Udara sebesar 100, melebihi target yang telah ditetapkan yaitu 91,13 atau dari segi pencapaian kinerja terealisasi sebesar 109,73% yang masuk dalam kategori “sangat berhasil”.

D i n a s L i n g k u n g a n H i d u p K a b u p a t e n M a l a n g III - 7 Hasil analisa Indeks Pencemaran Udara (IPU) tersebut masih perlu penyesuaian, mengingat rumus penghitungan yang dipakai masih belum sesuai dengan metode pengujian yang dipersyaratkan. Penggunaan rumus yang ada sesuai dengan arahan dari Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Jawa (P3EJ) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dikarenakan pada tingkat pusat sendiri masih dilakukan pembahasan untuk penetapan rumus yang tepat dalam penghitungan IPU yang sesuai dengan metode sampling yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. Mengingat kendala tersebut, tidak menutup kemungkinan nilai Indeks Pencemaran Udara di tahun yang akan datang mengalami penurunan diakibatkan adanya konversi dari rumus yang dipergunakan. Terhadap kendala ini diberikan solusi berupa pelaksanaan koordinasi yang intensif dengan P3EJ / Kementerian LHK untuk pembaruan informasi terkait rumus penghitungan IPU dimaksud.

c) Indikator kinerja utama: Indeks Tutupan Hutan (ITH)

Capaian pada indikator ini yaitu didapatkan Indeks Tutupan Hutan (ITH) sebesar 46,83. Jika dibandingkan target sebesar 27,10, capaian kinerja tersebut adalah sebesar 172,80%, yang dalam kategori penilaian kinerja masuk dalam kategori “sangat berhasil”, yang tercapai dengan didukung Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam.

Gambar 3.4 Pelaksanaan Kegiatan Konservasi melalui Penanaman Pohon Capaian kinerja tersebut dapat menghasilkan angka keberhasilan yang tinggi dikarenakan pada saat penetapan target, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang berkoordinasi dengan P3EJ Kementerian LHK dikarenakan Dinas Lingkungan Hidup belum pernah melakukan penghitungan ITH sebelumnya sehingga dalam menentukan metode penghitungan dan penetapan target Dinas LH mengikuti arahan dari P3EJ, bukan mengikuti trend capaian ITH

D i n a s L i n g k u n g a n H i d u p K a b u p a t e n M a l a n g III - 8 yang ada. Namun setelah dilakukan penghitungan didapatkan ITH sebesar 46,83, jauh lebih tinggi daripada target yang ditetapkan sebelumnya yaitu 27,10. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu dipertimbangkan ulang dalam penetapan target jangka menengah IKU tersebut dalam Renstra dengan menyesuaikan realisasi capaian kinerja yang ada.

Capaian kinerja indikator ini sangat bergantung kepada luas tutupan lahan dan upaya rehabilitasi yang dilaksanakan. Meskipun capaian kinerja pada indikator ini cukup tinggi, namun pada pelaksanaannya juga ditemui beberapa kendala/hambatan antara lain :

- Lahan yang ditanami untuk kegiatan konservasi berada di luar hutan mayoritas milik masyarakat, sehingga dikhawatirkan bibit yang ditaman akan ditebang jika sudah besar;

- Tingginya kerusakan lingkungan sehingga jumlah lahan yang perlu dikonservasi sangat luas, tidak sebanding dengan jumlah pengadaan bibit yang ada;

- Pelaksanaan penanaman pohon tergantung pada musim penghujan dan letak lokasi yang jauh dengan medan yang berat sehingga sulit dijangkau; - Kurang optimalnya peran serta dan kesadaran masyarakat dan dunia usaha

dalam pengelolaan lingkungan hidup terutama dalam pelaksanaan penanaman pohon, manfaat dan kegunaannya.

Terhadap kendala/hambatan tersebut diberikan solusi/strategi pemecahan masalah sebagai berikut :

- Bantuan bibit diberikan berupa tanaman tahunan yang menghasilkan buah dengan harapan tanaman tersebut tidak akan ditebang tetapi bisa diambil buahnya;

- Dilakukan kegiatan konservasi secara berkelanjutan;

- Penanaman pada musim hujan menghindari resiko mati dan bantuan bibit disesuaikan dengan jenis, lokasi/ketinggian medan (ukuran bibit);

- Melakukan kerjasama dengan masyarakat melalui perangkat desa dan dunia usaha untuk melaksanakan penanaman pohon sehingga diharapkan semua pihak ikut berperan dan merasa memiliki serta bertangggungjawab.

Analisis Program/Kegiatan Yang Menunjang Keberhasilan Ataupun Kegagalan Pencapaian Pernyataan Kinerja

Keberhasilan capaian kinerja secara tidak langsung juga ditunjang oleh seluruh program dan kegiatan yang telah ditetapkan dalam dokumen perencanaan baik yang bersifat jangka pendek atau tahunan dalam Rencana Kerja (Renja) dan juga

D i n a s L i n g k u n g a n H i d u p K a b u p a t e n M a l a n g III - 9 dalam dokumen perencanaan jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis organisasi. Selanjutnya dalam pelaksanaannya didukung oleh alokasi anggaran kegiatan yang tertuang dalam Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) PD.

Program dan kegiatan yang secara langsung mendukung pencapaian sasaran strategis sebagaimana IKU yang telah ditetapkan meliputi :

1. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup dengan kegiatan Pemantauan Kualitas Lingkungan untuk mendukung pencapaian 2 (dua) indikator utama yaitu :

a) Indikator : Indeks Pencemaran Air b) Indikator : Indeks Pencemaran Udara

2. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam dengan kegiatan Pengawasan Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Kegiatan Konservasi Sumber Daya Air dan Pengendalian Kerusakan Sumber-sumber Air, untuk mendukung pencapaian 1 (satu) indikator utama yaitu :

a) Indikator : Indeks Tutupan Hutan

Selain dukungan program dan kegiatan secara langsung sebagaimana program dan kegiatan diatas, sejatinya seluruh program dan kegiatan yang telah tertuang dalam dokumen perencanaan pada tahunan (Renja) maupun pada dokumen pelaksanaan anggaran (DPA) PD telah mendukung dan memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pencapaian indikator kinerja utama SKPD. Integrasi IKU dalam seluruh program dan kegiatan secara lebih rinci dapat digambarkan pada Rencana Kinerja Tahunan yang terlampir pada dokumen Laporan Kinerja ini.

3. ANALISIS PENGGUNAAN SUMBER DAYA ANGGARAN

Sebagai upaya mewujudkan kinerja yang baik, tentunya harus didukung anggaran yang memadai serta dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya. Anggaran untuk pelaksanaan program dan kegiatan pada Dinas Lingkungan Hidup terbagi menjadi Belanja Tidak Langsung (gaji dan tunjangan) serta Belanja Langsung (pelaksanaan program dan kegiatan). Adapun jumlah Belanja Langsung dipergunakan untuk melaksanakan program utama yang mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama dan untuk mendanai program dan kegiatan pendukung kesekretariatan.

D i n a s L i n g k u n g a n H i d u p K a b u p a t e n M a l a n g III - 10

Dokumen terkait