Tuntas Tidak Tuntas
81 4.5 Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti sebelum dilakukannya tidakan bahwa minat belajar dan hasil belajar siswa masih sangat rendah. Hal ini dikarenakan kurang tertariknya siswa dalam mengikut proses pembelajaran. Kurang tertariknya siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dapat dilihat dalam proses pembelajaran yang berlangsung yaitu terdapat beberapa siswa yang bermain sendiri, bertukar mainan, mengobrol ditambah dalam proses pembelajaran siswa diminta untuk membaca dan menjawab soal dibawahnya. Dalam pembahasannyapun siswa hanya menyontoh dan menulis kembali (apabila salah) dengan jawaban yang telah ditulis dipapan tulis oleh guru.
Keterangan diatas juga didukung oleh hasil minat belajar dan hasil belajar siswa yang diambil dalam prasiklus yaitu dalam pengambilan data ini peneliti hanya mengukur kemampuan dan pertimbangan mengenai model pembelajaran yang cocok untuk dapat meningkatkan minat belajar dan hasil belajar siswa, sehingga hasil yang diperoleh sesuai dengan keadaan sebelum ada upaya ataupun tindakan yang dilakukan oleh peneliti. Hasil minat belajar siswa pada prasiklus yang telah didapatkan yaitu 48 % yang tertarik dalam pembelajaran, sehingga 52 % siswa merasa kurang tertarik dalam proses pembelajaran. Selain hasil minat belajar siswa peneliti juga mengambil hasil belajar siswa dengan hasil 18 siswa (62.5%) siswa tidak tuntas. Nilai tertinggi yang berhasil didapatkan oleh siswa sebelum tindakan ialah 85 dan nilai terendah ialah 35.
Berdasarkan keterangan diatas bahwa rendahnya minat siswa berdasarkan observasi dan lembar angket dapat diketahui dalam proses pembelajaran siswa tidak fokus, berbincang dengan teman dan melakukan aktivitas lain sedangkan dalam hasil lembar angket terdapat siswa merasa tidak tertarik dengan pembelajaran matematika. Berdasarkan data hasil minat belajar siswa dalam prasiklus yang telah dilakukan terdapat 24 siswa yang merasa kurang
82
tertarik dan terdapat siswa yang menginginkan pembelajaran menggunakan hal yang variasi.
Dari penjelasan diatas, maka peneliti akan menerapkan model pembelajaran Treasure Hunt untuk mengupayakan kenaikan minat belajar dan hasil belajar siswa yang dibantu dengan media gambar. Model Treasure Hunt yaitu suatu model pembelajaran dengan penerapan permainan didalamnya. Dalam model Treasure Hunt ini permainan berupa pencarian mengenai harta karun dan harta karun ini dapat berupa gambar atau jawaban yang didalam permainan ini akan terdapat beberapa rintangan yang dapat diisi dengan siswa mengerjakn soal atau kegiatan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan media gambar dikarenakan dengan gambar siswa akan lebh mudah memahami dan mengerti. Hal ini disesuaikan dengan perkembangan anak diusia 7 – 11 tahun yang menyukai hal konkrit. Diusia ini juga siswa akan lebih senang bergerak, bermain, berkelompok sesuai dengan penjelasan dari Naniek dkk(2012) yang menjelaskan mengenai 4 kharakeristik dari siswa. Adapun langkah-langkah dalam model pembelajaran ini, yaitu siswa diberikan penjelasan materi terlebih dahulu, kemudian siswa dikenalkan mengenai model permainan Treasure Hunt, setelah siswa memiliki gambaran mengenai permainan yang akan dilakukan selanjutnya guru menjelaskan dan memberi contoh dari setiap instruksi agar siswa lebih mengerti dan permainan berjalan dengan baik, setelah itu guru juga menjelaskan harta karun yang akan dicari berupa apa misal jawaban, gambar atau suatu benda. Pada tahap selanjutnya guru akan memberi evaluasi dan melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai permainan yang telah dilakukan.
Penelitian ini dimulai pada 27 Juli 2017 sampai 1 Agustus 2017. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas terdapat 2 siklus dalam setiap siklus terdapat 4 tahapan yaitu perencanaan, observasi, tindakan dan refleksi. Setiap siklus memiliki 3 pertemuan pembelajaran.
83
Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan, terdapat kenaikan minat hasil belajar yang mengalami kenaikan. Hal ini dapat dilihat pada hasil perbandingan antara pra siklus dan siklus 2 yaitu dari 48 % siswa yang memiliki ketidak ketertarikan dalam proses belajar mengalami perubahan kenaikan menjadi 57%. Hal ini juga berpengaruh mengenai hasil belajar siswa. Dikatakan memiliki pengaruh karena dengan adanya kenaikan minat belajar siswa maka siswa akan lebih fokus, lebih memperhatikan dan memiliki rasa ketertarikan dalam mengikuti setiap proses pembelajaran sehingga ketuntasan hasil belajar siswa juga akan meningkat. Hasil belajar siswa meningkat dapat dilihat dari kenaikan dalam setiap siklus, dalam prasiklus siswa yang tuntas sebanyak 12 (32%) dari 32 siswa di kelas 2 mengalami kenaikan 75% dalam siklus 1. Setelah siklus 1 selesai dilaksanakan, peneliti bersama guru akan melakukan refleksi dengan berdiskusi dan menyimpulkan kendala, faktor pendukung dan upaya selanjutnya untuk memperbaiki siklus 1 supaya pada siklus 2 dapat diperoleh hasil yang lebih baik. Hal ini juga dapat dilihat ketuntasan yang diperoleh sangat memuaskan yaitu siswa mengalami ketuntasan 100% dalam siklus 2 dengan nilai tertinggi 100 dan nilai terendah 75. Jadi dalam penelitian ini hasil belajar matematika telah mencapai indikator yang ditetapkan yaitu 75 dan keberhasilan kenaikan minat belajar siswa juga sudah mencapai indikator ketuntasan yaitu lebih dari 50% siswa mengalami ketertarikan dalam mengikuti prose pembelajaran.
Dari keterangan diatas, dapat simpulkan bahwa ketuntasn belajar sangat dipengaruhi minat belajar siswa yang berdasarkan kenaikan pada hasil belajar yang telah dijelaskan pada halaman sebelumnya. Sehingga hal ini sesuai dengan teori sebelumny yang mengemukakan mengenai apabila dalam membangkitkan minat peserta didik dengan menghubungkan dalam kehidupan sehari hari sehingga peserta didik mudah memahami pembelajaran yang dimiliki, memberikan peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang kreatif dan
84
kondusif. Sehingga komponen untuk mengajar sebagai usaha dalam membangkitkan minat belajar siswa antara lain, tujuan pemeblajaran itu sendiri, kegiatan dalam proses pembelajaran yang tidak monoton namun diberikan suatu variasi dan inovasi misal dengan penambahan media pembelajaran dan pendekatan atau model pembelajaran yang tepat misal terdapat suatu permainan sehingga siswa merasa bermain namun mereka juga belajar.
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika dengan menerapkan Model Treasure Hunt berbantuan media gambar dapat meningkatkan minat belajar dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika tentang pemahaman penjumlahan dan pengurangan kelas 2 semester 1 di SD Negeri 1 Mudal Boyolali.
Peningkatan dalam penelitian ini dikarenakan menggunakan model Treasure Hunt, dalam model Treasure Hunt ini menerapkan pembelajaran dengan permainan. permainan dalam model Treasure Hunt merupakan aktivitas belajar yang menuntut mereka untuk mencoba dan mempraktikkan sendiri dalam proses pembelajaran sehingga siswa memahami, mudah mengerti, lebih tertarik dan merasa pembelajaran menyenangkan.
Selain meningkatkan minat dan hasil belajar dalam penelitian ini, peneliti juga menemukan pendukung selain model pembelajaran yang mendukung juga diperlukan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Sehingga dapat menunjang proses pembelajaran dengan baik. Selain itu pemahaman bahwa model Treasure Hunt membutuhkan tempat dan waktu yang luas ternyata dalam penelitian ini, model pembelajaran Treasure Hunt dapat dilakukan dengan lebih efektif dikarenakan dapat dilakukan didalam kelas dengan waktu yang efisien. Keberhasilan dalam penelitian ini juga karena didukung oleh media yang mendukung dalam setiap proses pembelajaran.