Rata – rata kinerja jaringan ditentukan untuk mengetahui bagaimana
perbandingan rata – rata antar kinerja terhadap packet generation rate untuk tiap –
tiap standar fisik IEEE 802.11.
4.2.4.1
Throughput
Tabel 4.19 menunjukkan bahwa dengan adanya penambahan packet
generation ratesebesar 2 kali pada standar IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, dan
IEEE 802.11g, maka persentase perubahan throughput antar packet generation
rate akan semakin besar.
Tabel 4.19 Perbandingan throughput rata – rata pada tiap - tiap standar IEEE
802.11
Packet
Generatio
n Rate
(paket /
detik)
IEEE
802.11a
(kbps)
Persentase
Perubaha
n (%)
IEEE
802.11b
(kbps)
Persentase
Perubaha
n (%)
IEEE
802.11g
(kbps)
Persentase
Perubaha
n (%)
25 4351,67 - 3945,125 - 10841,2916 -
50 4183,27 3,8697743 3629,1 8,0105193 9995,075 7,8054967
100 3891,57 6,97300 3139,475 13,491637 8654,55 13,411855
200 3417,82 12,173734 2493,9375 20,561957 6841,48333 20,949289
400 2770,45 18,94114 1791,075 28,18284 4845,025 29,18166
Gambar 4.61 menunjukkan perbandingan throughput rata – rata (kbps)
pada tiap - tiap standar IEEE 802.11.
Gambar 4.61Perbandingan throughput(kbps) pada tiap – tiap standar IEEE
802.11
0
2000
4000
6000
8000
10000
12000
25 50 100 200 400
T
h
ro
u
g
h
p
u
t r
a
ta
-
ra
ta
(
kb
p
s)
Packet Generation Rate (paket / detik)
IEEE 802.11a
IEEE 802.11b
IEEE 802.11g
4.2.4.2
Utilization
Tabel 4.20 menunjukkan bahwa dengan adanya penambahan packet
generation ratesebesar 2 kali pada standar IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, dan
IEEE 802.11g, maka persentase perubahan utlization antar packet generation rate
akan semakin besar.
Tabel 4.20 Perbandingan utilization rata – rata tiap standar IEEE 802.11
Packet
Generation
Rate
(paket /
detik)
IEEE
802.11a
Persentase
Perubaha
n (%)
IEEE
802.11b
Persentase
Perubaha
n (%)
IEEE
802.11g
Persentase
Perubaha
n (%)
25 0,7262937 - 0,7172887 - 0,6022925 -
50 0,6971975 4,006127 0,6598925 8,0018333 0,55527666 7,806146
100 0,648625 6,966821 0,5708 13,501063 0,48082333 13,408331
200 0,5696262 12,1794 0,453435 20,5615 0,38008833 20,95052
400 0,4617925 18,930615 0,3256637 28,17852 0,26917166 29,1818
Gambar 4.62 menunjukkan perbandingan utilization rata – rata pada tiap
– tiap standar IEEE 802.11.
Gambar 4.62Perbandingan utilization rata – rata pada tiap - tiap standar IEEE
802.11
0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
0,6
0,7
0,8
25 50 100 200 400
Uti
li
za
ti
o
n
r
a
ta
-
ra
ta
Packet Generation Rate (paket / detik)
IEEE 802.11a
IEEE 802.11b
IEEE 802.11g
4.2.4.3
Media Access Delay
Tabel 4.21 menunjukkan bahwa dengan adanya penambahan packet
generation ratesebesar 2 kali, maka kinerja media access delay rata – rata akan
semakin kecil. Semakin besar packet generation rate pada standar IEEE 802.11a,
IEEE 802.11b, dan IEEE 802.11g, maka persentase perubahan media access delay
antar packet generation rateakan semakin kecil.
Gambar 4.63 menunjukkan perbandingan media access delay rata – rata
untuk tiap - tiap standar IEEE 802.11.
Tabel 4.21 Perbandingan media access delay rata – rata pada tiap standar IEEE
802.11
Packet
Generation
Rate
(paket /
detik)
IEEE
802.11a
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
IEEE
802.11b
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
IEEE
802.11g
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
25 155,8233324 - 167,8848039 - 42,41221891 -
50 79,55626626 48,944574 89,86947271 46,469561 24,31543322 42,668802
100 42,05564921 47,137226 51,71249783 42,458216 15,18101949 37,566321
200 23,83434221 43,326657 32,76749066 36,635258 10,4213339 31,352872
400 14,75656005 38,086984 23,38973092 28,619096 7,942522107 23,785936
Gambar 4.63 Perbandingan media access delay (msec) pada tiap - tiap standar
IEEE 802.11
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
25 50 100 200 400
M
e
d
ia
A
cc
e
ss
D
e
la
y
r
a
ta
-
ra
ta
(
ms
e
c)
Packet Generation Rate (paket / detik)
IEEE 802.11a
IEEE 802.11b
IEEE 802.11g
4.2.4.4
Queuing Delay
Tabel 4.22 menunjukkan bahwa dengan adanya penambahan packet
generation ratesebesar 2 kali pada standar IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, dan
IEEE 802.11g, maka persentase perubahan queuing delay antar packet generation
rate akan semakin besar kecuali persentase perubahan untuk standar IEEE
802.11gpada packet generation rate antara 200 paket / detik dan 400 paket / detik.
Gambar 4.64 menunjukkan perbandingan queuing delay rata – rata untuk
tiap standar IEEE 802.11.
Tabel 4.22 Perbandingan queuing delay rata – rata tiap – tiap standar IEEE
802.11
Packet
Generation
Rate (paket
/ detik)
IEEE
802.11a
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
IEEE
802.11b
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
IEEE
802.11g
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
25 14554,19587 - 15185,6838 - 5472,337892 -
50 14808,54834 1,747623 15759,4578 3,778388 6452,928881 17,919050
100 15343,45003 3,612114 16725,84909 6,132135 8113,340442 25,731130
200 16189,93538 5,516917 18048,07899 7,905308 10593,81182 30,572751
400 17432,5718 7,675364 19623,38396 8,7283803 13696,07356 29,283716
Gambar 4.64Perbandingan queuing delay (msec) pada tiap – tiap standar IEEE
802.11
0
5000
10000
15000
20000
25000
25 50 100 200 400
Q
u
e
u
in
g
D
e
la
y
r
a
ta
-
ra
ta
(
ms
e
c)
Packet Generation Rate (paket / detik)
IEEE 802.11a
IEEE 802.11b
IEEE 802.11g
4.2.4.5
Total Packet Delay
Tabel 4.23 menunjukkan bahwa dengan adanya penambahan packet
generation ratesebesar 2 kali pada standar IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, dan
IEEE 802.11g,
maka persentase perubahan total packet delay antar
packet
generation rate akan semakin besar kecuali persentase perubahan untuk standar
IEEE 802.11gpada packet generation rate antara 200 paket / detik dan 400 paket /
detik .
Gambar 4.65 menunjukkan perbandingan total packet delay rata – rata
untuk tiap - tiap standar IEEE 802.11.
Tabel 4.23 Perbandingan total packet delay rata – rata pada tiap - tiap standar
IEEE 802.11
Packet
Generation
Rate (paket
/ detik)
IEEE
802.11a
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
IEEE
802.11b
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
IEEE
802.11g
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
25 14710,04806 - 15353,56831 - 5514,75 -
50 14888,10454 1,210441 15849,32729 3,22895 6477,244043 17,45309
100 15385,5178 3,34101 16777,27445 5,85481 8128,52165 25,49352
200 16213,77047 5,383327 18080,48892 7,767737 10604,23308 30,45709
400 17447,32838 7,608088 19646,7739 8,66285 13704,016 29,23156
0
5000
10000
15000
20000
25000
25 50 100 200 400
T
o
ta
l P
a
cke
t D
e
la
y
r
a
ta
-
ra
ta
(
ms
e
c)
Packet Generation Rate (paket / detik)
IEEE 802.11a
IEEE 802.11b
IEEE 802.11g
Gambar 4.65Perbandingan total packet delay (msec) pada tiap – tiap standar
IEEE 802.11
4.2.4.6
Jitter
Tabel 4.24 menunjukkan bahwa dengan adanya penambahan packet
generation ratesebesar 2 kali pada standar IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, dan
IEEE 802.11g, maka persentase perubahan jitter antar packet generation rate
untuk standar IEEE 802.11g akan semakin besar kecuali pada packet generation
rate antara 200 paket / detik dan 400 paket / detik tetapi persentase perubahan
jitter antar packet generation rate untuk standar IEEE 802.11a dan IEEE 802.11b
tidak beraturan.
Gambar 4.66 menunjukkan perbandingan jitter rata – rata untuk tiap
standar IEEE 802.11.
Tabel 4.24 Perbandingan jitter rata – rata pada tiap – tiap standar IEEE 802.11
Packet
Generation
Rate (paket
/ detik)
IEEE
802.11a
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
IEEE
802.11b
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
IEEE
802.11g
(msec)
Persentase
Perubahan
(%)
25 326,7964628 - 730,0471746 - 223,2082692 -
50 328,4570628 0,508145024 733,0270509 0,408175853 239,804237 7,435194003
100 329,5342296 0,32794754 748,5727375 2,120752105 264,6922084 10,37845357
200 334,8390226 1,609785105 759,7053032 1,487172204 293,7681321 10,98480526
400 340,9920532 1,837608575 773,6360541 1,833704581 320,3536095 9,049816693
Gambar 4.66Perbandingan jitter rata - rata(msec) pada tiap – tiap standar IEEE
802.11
0
100
200
300
400
500
600
700
800
900
25 50 100 200 400
Ji
tte
r r
a
ta
-
ra
ta
(
ms
e
c)
Packet Generation Rate (paket / detik)
IEEE 802.11a
IEEE 802.11b
IEEE 802.11g
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Adapun beberapa kesimpulan dari pembahasan pada Tugas Akhir ini adalah
sebagai berikut.
1.
Pada teknologi basic access dan RTS / CTS,penambahan jumlah packet
generation rate pada standar IEEE 802.11a akan mengurangi kinerja
throughputrata – rata sebesar 3,8697743% sampai 18,94114% dan pada
standar IEEE 802.11b akan mengurangi kinerja throughputrata - rata sebesar
8,0105193% sampai 28,18284%. Sementara pada teknologi basic access
,RTS / CTS, dan CTS to Self, penambahan jumlah packet generation rate
pada standar IEEE 802.11g akan mengurangi kinerja throughputrata - rata
sebesar 7,8054967% sampai 29,18166%. Sehingga dapat disimpulkan,
semakin besar packet generation rate, maka kinerja throughput
akan
semakin kecil.
2.
Pada teknologi basic access dan RTS / CTS, penambahan jumlah packet
generation rate pada standar IEEE 802.11a akan mengurangi kinerja
utilizationrata – rata sebesar 4,006127% sampai 18,930615% danpada
standar IEEE 802.11b akan mengurangi kinerja utilizationrata – rata sebesar
8,0018333% sampai 28,17852%. Sementara pada teknologi basic access
,RTS / CTS, dan CTS to Self, penambahan jumlah packet generation rate
pada standar IEEE 802.11g akan mengurangi kinerja utilizationrata – rata
sebesar 7,806146% sampai 29,1818%. Sehingga dapat disimpulkan,
semakin besar packet generation rate, maka kinerja utilization
akan
semakin kecil.
3.
Pada teknologi basic access dan RTS / CTS, penambahan jumlah packet
generation rate pada standar IEEE 802.11a akan mengurangi kinerja media
access delayrata – rata sebesar 48,944574% sampai 38,086984% danpada
standar IEEE 802.11b akan mengurangi kinerja media access delayrata –
rata sebesar 46,469561% sampai 28,619096%. Sementara pada teknologi
basic access ,RTS / CTS, dan CTS to Self, penambahan jumlah packet
generation rate pada standar IEEE 802.11g akan mengurangi kinerja media
access delayrata – rata sebesar 42,668802% sampai 23,785936%. Sehingga
dapat disimpulkan, semakin besar packet generation rate, maka kinerja
media access delay akan semakin kecil.
4.
Pada teknologi basic access dan RTS / CTS, penambahan jumlah packet
generation rate pada standar IEEE 802.11a akan meningkatkan kinerja
queuing delayrata – rata sebesar 1,747623% sampai 7,675364% danpada
standar IEEE 802.11b akan meningkatkan kinerja queuing delayrata – rata
sebesar 3,778388% sampai 8,7283803%. Sementara pada teknologi basic
access ,RTS / CTS, dan CTS to Self, penambahan jumlah packet generation
rate
pada standar IEEE 802.11g akan meningkatkan kinerja queuing
delayrata – rata sebesar 17,919050% sampai 29,283716%.Sehingga dapat
disimpulkan, semakin besar packet generation rate, maka kinerja queuing
delay akan semakin besar.
5.
Pada teknologi basic access dan RTS / CTS, penambahan jumlah packet
generation rate pada standar IEEE 802.11a akan meningkatkan kinerja total
packet delayrata – rata sebesar 1,210441% sampai 7,608088% danpada
standar IEEE 802.11b akan meningkatkan kinerja total packet delayrata –
rata sebesar 3,22895% sampai 8,66285%. Sementara pada teknologi basic
access ,RTS / CTS, dan CTS to Self, penambahan jumlah packet generation
rate pada standar IEEE 802.11g akan meningkatkan kinerja total packet
delayrata – rata sebesar 17,45309% sampai 29,23156%. Sehingga dapat
disimpulkan, semakin besar packet generation rate, maka kinerja total
packet delay akan semakin besar.
6.
Pada teknologi basic access dan RTS / CTS, penambahan jumlah packet
generation rate pada standar IEEE 802.11a akan meningkatkan kinerja jitter
sebesar 0,508145024% sampai 1,837608575% danpada standar IEEE
802.11b akan meningkatkan kinerja jitter sebesar 0,408175853% sampai
1,833704581%. Sementara pada teknologi basic access ,RTS / CTS, dan
CTS to Self, penambahan jumlah packet generation rate pada standar IEEE
802.11g akan meningkatkan kinerja jitter sebesar 7,435194003% sampai
9,049816693%. Sehingga dapat disimpulkan, semakin besar packet
generation rate, maka kinerja jitter akan semakin besar.
5.2
Saran
Adapun saran dari Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk penelitian selanjutnya dapat diamati untuk parameter kinerja jaringan
yang berbeda.
2.
Untuk penelitian selanjutnya dapat diamati untuk standar fisik IEEE 802.11
yang berbeda.
3.
Untuk penelitian selanjutnya dapat diamati dengan menggunakan packet
generation rate yang lebih bervariasi.
4.
Agar didapat perbandingan dari hasil pengukuran yang berbeda, penelitian
dilakukan dengan menggunakan simulator yang lain.
BAB II
DASAR TEORI
2.1
Umum
Bab ini menjelaskan sekilas mengenai IEEE 802.11 secara umum, standar
fisik IEEE 802.11, teknologi multiple access IEEE 802.11, pembangkitan trafik,
parameter kinerja jaringan, dan simulator.
2.2
IEEE 802.11 Secara Umum
Standar WLAN mengacu pada IEEE 802.11 yang pertama kali
dipublikasikan pada tahun 1997. IEEE (Institute of Electrical and Electronics
Engineers) merupakan lembaga independen yang berfokus pada pengembangan
inovasi teknologi dan perbaikan untuk kebaikan manusia [3].
Arsitektur dari standar IEEE 802.11 ditunjukkan oleh Gambar 2.1 [4].
Gambar 2.1 Arsitektur dari WLAN IEEE 802.11
Ada berbagai macam jenis dari standar fisik IEEE 802.11, pada pembahasan
kali ini hanya akan dibahas tentang IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, dan IEEE
802.11g. Tiap – tiap standar IEEE 802.11 memiliki bermacam – macam data rate
yang berpengaruh terhadap daya jangkau sinyal yang mampu dilaluinya, seperti
yang ditunjukkan pada Gambar 2.2 [5].
Gambar 2.2 Perbandingan daya jangkau sinyal tiap standar IEEE 802.11
3.3.1
IEEE 802.11a
Standar IEEE 802.11a merupakan protokol jaringan WLAN yang
dipublikasikan pada tahun 1999. Standar ini bekerja pada band frekuensi 5 GHz
dengan pola OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) menggunakan
52 sub carrier yang dimodulasi menggunakan teknik BPSK (Binary Phase Shift
Keying), QPSK (Quardrature Phase Shift Keying), 16-QAM (16-Quadrature
Amplitude Modulation), atau 64-QAM (64-Quadrature Amplitude Modulation).
Data rate pada IEEE 802.11a adalah 6 Mbps, 9 Mbps, 12 Mbps, 18 Mbps, 24
Mbps, 36 Mbps, 48 Mbps, dan hingga 54 Mbps [3].
3.3.2
IEEE 802.11b
Standar 802.11b memiliki data rate maksimum sebesar 11 Mbit / s,
Produk 802.11b muncul di pasaran pada awal tahun 2000. Standar IEEE 802.11b
menggunakan perangkat yang berada dalam frekuensi 2,4 GHz seperti oven
microwave, perangkat bluetooth, monitor bayi, telepon tanpa kabel, dan beberapa
peralatan radio amatir [6].
3.3.3
IEEE 802.11g
Standar IEEE 802.11g mulai diciptakan pada bulan Juni 2003. Standar
IEEE 802.11g bekerja pada frekuensi 2,4 GHZ sama seperti 802.11b, tetapi
menggunakan skema berdasarkan OFDM sama seperti transmisi 802.11a [6].
2.4
Teknologi Multiple Access IEEE 802.11
Ada tiga jenis teknologi multiple access pada standar IEEE 802.11 yaitu
mekanisme Basic Access, mekanisme RTS / CTS, dan mekanisme CTS to Self.
2.4.1
Basic Access
Ada dua jenis protokol MAC yang didasari pada standar IEEE 802.11
yaitu
Point Coordination Frame (PCF) dan Distributed Coordination Frame
(DCF). PCF adalah mode transmisi dengan pengiriman frame dalam Wireless
LAN menggunakan mekanisme poling. Sementara DCF adalah metode akses
yang diterapkan pada standar IEEE 802.11 dan digunakan untuk semua pemancar
wireless LAN untuk access dalam media transmisi (RF) menggunakan protokol
CSMA / CA ( Carrier Sense Multiple Access with Collision Avoidance.
Jenis interframe space dari DCF yaitu DIFS (DCF Inter Frame Space)
yang mempunyai inter frame spaceyang lebih panjang dan digunakan dalam
pemancar IEEE 802.11 dan berfungsi sebagai pendistribusi. Berbeda dengan
DIFS, SIFS (Short Inter Frame Space)merupakan space inter frame yang pendek
serta digunakan sebelum dan sesudah semua tipe dari pesan telah terkirim.
Jenis – jenis dari SIFS yaitu RTS (Request to Send) dan CTS (Clear to
Send). RTS digunakan untuk cadangan oleh pemancar sedangkan CTS digunakan
untuk merespon access pointframe RTS yang berhubungan dengan pemancar.
Salah satu dari jenis teknologi multiple access pada IEEE 802.11 yaitu
basic access. Pada basic access, protokol yang digunakan hanya DCF. Arsitektur
dari mekanisme basic access ditunjukkan oleh Gambar 2.3.
Gambar 2.3 Arsitektur pada mekanisme Basic Access
Prinsip kerja dari mekanisme basic accessyaitu ketika sebuah stasiun
mengirimkan sebuah paket, maka stasiun tersebut harus menunggu channel
menjadi
idle. Ketika periode idle terdeteksi sama dengan DIFS, maka akan
menghasilkan sebuah nilai initial backoff time. Nilai ini menunjukkan periode
bahwa stasiun harus menambah waktu tunda sebelum transmisi. Mekanisme
backoff time paling penting digunakan dalam CSMA / CA IEEE 802.11 untuk
mencegah terjadinya collision. Backoff time dapat dirumuskan seperti persamaan
(1)[7]:
�����������=������������� (0,1)����������...(2.1)
Keterangan dari persamaan (2.1) yaitu :
1.
Random (0,1) adalah nomor pseudo acak antara 0 dan 1 pada distribusi
uniform.
2.
CW adalah bilangan bulat dalam rentang nilai CWmin dan CWmax. Nilai
CW = 2
x
– 1 (x dimulai dari sebuah integer didefenisikan oleh stasiun).
CW (Contention Window) meningkat secara eksponensial untuk setiap
pengiriman ulang.
3.
Nilai dari durasi Slot Time tergantung dari nilai karakteristik physic. Slot
Time digunakan untuk metode clock.
Untuk utilisasi yang rendah, stasiun tidak dianjurkan untuk menunggu waktu yang
lama sebelum mengirimkan frame. Jika utilisasi jaringan yang tinggi, stasiun akan
menunggu untuk periode yang lebih lama agar meminimalkan kemungkinan
stasiun melakukan transmisi pada saat yang sama. Selanjutnya
backoff time
kembali menurun ketika
channel tersebut
idlepada periode DIFS. Ketika
mencapai waktu nol, paket data akan ditransmisikan [7].
2.4.2
RTS / CTS
Pada standar 802.11 terdapat fitur berupa mekanisme RTS/CTS(Request to
Send / Clear to Send). Mekanisme RTS/CTS ini dapat diaktifkan ataupun tidak
diaktifkan. Tujuan dari penggunaan mekanisme RTS/CTS adalah untuk
mengatasi terjadinyaHidden Node Problem. Dimana tiap node dapat mendeteksi
keadaan base station dan dapat didengar oleh base station, akan tetapi antara node
tidak dapat saling mendeteksi. Hal ini dapat menyebabkan collision karena tiap
node akan mengirimkan data ke base station. Dengan menggunakan mekanisme
RTS/CTS setiap node harus menunggu CTS dari base station sebelum melakukan
transmisi [8].
Gambar 2.4 menjelaskan tentang prosedur pertukaran frame
untuk
mekanisme RTS / CTS sebelum pengirim melakukan transmisi paket data. Ketika
stasiun A ingin mengirim paket ke stasiun C, langkah awal yang dilakukan yaitu
stasiun A harus mengirimkan frame RTS (panah 1), yang diterima oleh stasiun B
dan C (panah berlabel 2) dan terletak pada cakupan pengirim. Stasiun B dan C
lalu mengirim frameCTS (panah diberi label 3) yang diterima oleh semua stasiun
(panah berlabel 4). Stasiun D, yang tersembunyi dari pengirim (keluar dari
jangkauan stasiun A), meskipun tidak dapat menerima frame RTS dari pengirim,
tetapi stasiun D dapat menerima
frame CTS dari stasiun C, sehingga akan
menahan diri untuk melakukan transmisi. Setelah menerimaframe CTS, stasiun A
akan memulai melakukan transmisi paket data [9].
Gambar 2.4 Proses pertukaran frame pada mekanisme RTS / CTS
2.4.3
CTS to Self
Standar IEEE 802.11g mendefinisikan mekanismeCTS to Self sebagai
alternatif padamekanisme RTS / CTS untuk mengurangi overhead dalam sistem
WLAN. Tidak seperti mekanismeRTS / CTS, mekanisme CTS to Self tidak efisien
untuk mengatasi terjadinyahidden terminal problem.
Gambar 2.5 menjelaskan tentang prosedur pertukaran frame untuk
mekanisme CTSto Self sebelum pengirim melakukan transmisi paket data. Ketika
stasiun A ingin mengirim paket ke stasiun C, langkah awal yang dilakukan yaitu
stasiun A mengirimkan sebuah frame CTS (panah 1) yang diterima dari stasiun B
dan C (panah berlabel 2). Kedua stasiun akan menunda melakukan transmisi.
Namun, stasiun D, yang keluar dari daerah cakupan pengirim, tidak akan
menerima frame CTS dan tidak bisa mendeteksi transmisi A. Oleh karena itu, jika
stasiun D melakukan transmisi, makaakan terjadi collision. Akibatnya, frame CTS
to Selfhanya dapat mencegah terjadinya transmisi dua atau lebih stasiun pada slot
yang sama. CTS to Self harus digunakan hanya ketika semua stasiun dapat saling
mendeteksi sama lain [9].
Gambar 2.5 Proses pertukaran framepada mekanisme CTS to Self
2.5
Pembangkitan Trafik
Ada beberapa jenis distribusi pembangkitan trafik, pada pembahasan kali ini
hanya akan dibahas tentang pembangkitan trafik distribusi
poisson dan
pembangkitan trafik distribusi exponential.
2.5.1
Distribusi Poisson
Pada penelitian Tugas Akhir ini, distribusi poisson digunakan pada Packet
Length Distribution pada bagian
Packet Size yang terdapat pada Pamvotis
Simulator.
Beberapa asumsi untuk proses Poisson yaitu :
1.
Peluang terjadi satu kedatangan antara waktu � dan �+ ∆� adalah sama
dengan λ∆�+�(∆�). Dapat ditulis P {terjadi kedatangan antara � dan
�+ ∆�} = λ∆�+�(∆�), dengan
λ adalah suatu konstanta yang
independent dari N(t), dengan N(t) merupakan proses counting, ∆� adalah
elemen penambah waktu, dan �(∆�)dinotasikan sebagai banyaknya
kedatangan yang bisa diabaikan jika dibandingkan dengan (∆�) , dengan
∆�� , dinotasikan : lim
∆�→∞�(
∆�∆�)
= 0.
2.
P{lebih dari satu kedatangan antara � dan �+ ∆� } adalah sangat kecil
atau bisa dikatakan diabaikan = �(∆�)
3.
Jumlah kedatangan pada interval yang berurutan adalah tetap dan
independen, yang berarti bahwa proses mempunyai penambahan bebas,
yaitu jumlah kejadian yang muncul pada setiap interval waktu tidak
bergantung pada interval waktunya [10].
2.5.2
Distribusi Exponential
Pada penelitian Tugas Akhir ini, distribusi exponential digunakan pada
Packet Generation Rate Distribution pada bagian Packet Generation Rate yang
terdapat pada Pamvotis Simulator.
Variabel random kontinu X berdistribusi eksponensial dengan
menggunakan parameter ϴ > 0, jika mempunyai fungsi distribusi seperti pada
persamaan (2.2) [10] :
�(�; ϴ) = �
1
ϴ
�
�
ϴ
�> 0
0 ������������...(2.2)
Dengan ϴ merupakan parameter skala.
Sedangkan fungsi distribusi kumulatifnya ditunjukkan dalam persamaan
(2.3) [10] :
�(�;ϴ) = 1−
�
−�ϴ
, x >
2.6
PacketGenerationRate
Packet Generation Rate merupakan suatu tingkatan perpindahan paket
dalam tiap satu satuan waktu. Satuan dari packet generation rate yaitu paket per
detik. Ketika packet generation ratekecil, jalur terpendek digunakan untuk
menyampaikan paket ke tujuan, tetapi ketika packet generation rate besar, beban
trafik pada node sentral dibagikan ke selain node sentral menggunakan metode
routing[11].
2.7
Parameter Kinerja Jaringan
Parameter kinerja jaringan menunjukkan kemampuan sebuah jaringan dalam
menyediakan layanan yang lebih baik bagi trafik yang melewatinya. Beberapa
parameter kinerja jaringan yaitu throughput, utilization, media access delay,
queuing delay, total packet delay, dan jitter.
2.6.1
Throughput
Throughput menunjukkan jumlah bit yang diterima dengan sukses perdetik
melalui sebuah sistem atau media komunikasi dalam selang waktu tertentu yang
pada umumnya dilihat dalam satuan bit/s [3].
2.6.2
Utilization
Utilization adalah persentase kapasitas channel node diduduki. Utilization
merupakan
throughput node dalam bit/s untuk setiap kecepatan
data node.
Persamaan 2.4 menunjukkan formula untuk menghitung utilization [9].
�����������=
�ℎ���� ℎ���
��������� ��������
���� (���)
...(2.4)
2.6.3
Media Access Delay
Media access delay menunjukkan nilai total delay akibat antrian dan
contention paket data yang diterima oleh MAC WLAN dari layer yang lebih
tinggi. Delay dari media akses dihitung untuk tiap paket dikirimkan ke physical
layer pada waktu tertentu [3].
2.6.4
Queuing Delay
Queuing Delay merupakan
delay dari dibangkitkannya sebuah paket
sampai transmittermelakukan transmisi. Queuing Delay relatif terhadap packet
generation rate dari media access delay [9].
2.6.5
Total Packet Delay
Total Packet Delay merupakan jumlah dari media access delay dan
queuing delay. Total Packet Delay adalah total delay dari dibangkitkannya sebuah
paket sampai diterimanya paket olehreceiver [9].
2.6.6
Jitter
Jitter adalah variasi dari nilai delay antar paket yang dikirimkan. Jitter
diakibatkan oleh antrian yang terjadi di jaringan. Jitter
dapat menyebabkan
sampling disisi penerima menjadi tidak tepat sasaran sehingga informasi menjadi
rusak. Ukuran paket juga mempengaruhi nilai jitter tersebut dimana semakin besar
ukuran paket maka proses penerimaan paket tersebut juga menjadi semakin lama
sehingga jitter yang dihasilkan menjadi besar [12].
2.8
PamvotisSimulator
Pamvotis simulator adalah sebuah simulator WLAN untuk semua standar
fisik dari IEEE 802.11 seperti IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, dan IEEE 802.11g.
Versi saat ini adalah Pamvotis 1.1.
Fitur dasar dari Pamvotis Simulatoryaitu :
1.
Mendukung kemampuan data rate. Ini berarti bahwa setiap node dapat
bekerja pada data rate sendiri, tergantung pada jarak dari penerima.
2.
Mendukunghidden terminal problem.
Node dapat dikonfigurasi untuk
berada di LOS atau NLOS, agar hidden terminal problem dapat diselidiki.
3.
Mendukung berbagai sumber trafik yang berbeda.
4.
Mendukungmekanisme CTS to Self.
5.
Mendukung semua lapisan fisik baru dari spesifikasi IEEE 802.11g yang
meliputi: ERP-DSSS / CCK, ERP-OFDM, ERP-PBCC, dan DSSS-OFDM.
6.
Mendukung fungsi 802.11e EDCA IEEE untuk Quality of Service (QoS)
7.
Mendukung banyak hasil statistik seperti throughput dalam bit dan paket
per detik, utilization, media access delay, queuing delay, total packet delay,
delay jitter, packet length dan retransmission attempts.
8.
Mendukungkemampuan untuk simulasi waktu yang sangat panjang, hingga
50.737 abad.
9.
User interface yang ramah, yang memungkinkan konfigurasi simulasi cepat
dan mudah [9].
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Teknologi nirkabel menjadi area yang paling berkembang di bidang jaringan
dan telekomunikasi. Jaringan dengan teknologi tersebut dapat mempertukarkan
suara, data, dan video. Teknologi nirkabel mempunyai keunggulan diantaranya
biaya pembangunan yang relatif murah, instalasi mudah serta kemampuannya
menjangkau area geografis yang lebih luas [1].
Wireless Fidelity (WiFi) merupakan teknologi nirkabel yang paling banyak
digunakan pada saat ini. Secara teknis WiFi mengacu pada standar komunikasi
IEEE 802.11 untuk Wireless Local Area Networks (WLAN). Dengan
meningkatnya penggunaan jaringan berbasis IEEE 802.11, menjadi sangat penting
untuk mengetahui karakteristik trafik jaringan tersebut. Efisiensi dalam
pengelolaan jaringan nirkabel menjadi hal yang penting di dalam pengembangan
dan pembangunan infrastruktur jaringan [1].
Keluarga protokol IEEE 802.11 atau disebut juga WiFi merupakan standar
protokol yang paling banyak digunakan pada jaringan WLAN. Tiga standar yang
paling banyak diimplementasikan pada banyak perangkat nirkabel LAN adalah
IEEE 802.11a, 802.11b, dan 802.11g [1].
Helmy Fitriawan dan Amri Wahyudin [1] telah melakukan kajian
perbandingan kinerja IEEE 802.11a dan IEEE 802.11g dengan adanya
penambahan jumlah node dari 1 sampai 8node. Pada penelitian tersebut
menghasilkankesimpulan bahwa penambahan jumlah nodemobile station pada
jaringan tidak terlalu mempengaruhi throughput sementara packet loss dan delay
dipengaruhi oleh jumlah node. Perubahan pada delay dan packet loss pada IEEE
802.11g tidak sebesar pada IEEE 802.11a.
Sementara Raffaele Bruno dkk [2] telah melakukan kajian tentang
perbandingan throughput pada standar IEEE 802.11b untuk mekanisme RTS /