• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Pengamatan Minggu ke I dan II

Dalam dokumen ACARA I. ALAT-ALAT KLIMATOLOGI (Halaman 44-50)

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Perbandingan Pengamatan Minggu ke I dan II

Berdasarkan kedua kelompok pengamatan minggu ke I dan II yang telah dibahas, dapat dibandingkan hasil pengamatannya berdasarkan tabel dibawah ini: Tabel 3. Perbandingan Pengamatan Minggu ke I dan II

Paramater Minggu ke I Mingguke II

Suhu (°C) 28,72 29,92

Kelembaban (%) 66,84 72,86

Jumlah hari hujan Jenis awan yang paling sering muncul

Altocumulus Cirrus

Sumber: Data Primer PraktikumKlimatologi, 2016.

Berdasarkan analisis perbandingan pengamatan minggu ke I dan II dapat disimpulkan bahwa rata-rata suhu dan kelembaban cukup berbeda jauh. Minggu I memiliki rata-rata suhu 28,720C dan kelembaban 66,84% sehingga awan yang sering muncul adalah awan Altocumulus. Sedangkan minggu ke II memiliki rata-rata suhu 29,920C dan kelembaban 72,86% dengan awan yang sering muncul adalah awan Cirrus. Kedua minggu tersebut menghasilkan jenis awan yang berbeda karena cuaca pada minggu I cenderung basah sedangkan pada minggu ke II cuacanya kering. Pada minggu I awan yang paling sering muncul adalah awan Altocumulus. Jenis awan ini menandakan cuaca yang lembab dengan suhu rata-rata basah sehingga sangat berpotensi terjadinya hujan. Hal itu sesuai dengan pendapat Harsita dan Jatmiko (2012) yang menyatakan bahwa awan sangat berpotensi terjadinya hujan dan akan mempengaruhi cuaca dan iklim di suatu daerah. Sedangkan pada minggu ke II jenis awan yang paling sering muncul adalah awan Cirrus. Awan Cirrus merupakan salah satu jenis awan yang sering terdapat kristal es. Awan Cirrus membuat cuaca di bumi menjadi panas sehingga tidak berpotensi menimbulkan hujan. Awan Cirrus berperan dalam menjaga radiasi matahari. Hal ini sesuai dengan pendapat Hamdi dan Kaloka (2000) yang menyatakan bahwa awan Cirrus umumnya terbentuk di lapisan atas dan berperan dalam menjaga radiasi bumi melalui proses penghamburan inframerah dan cahaya tampak dan melalui penyerapan inframerah.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan praktikum tentang pengamatan perawanan, dapat disimpulkan bahwa jenis awan yang sering muncul pada minggu I adalah awan Altocumulus dengan suhu 28,72o dan kelembaban 66,84% sedangkan pada minggu II adalah awan Cirrus dengan suhu 29,92o dan kelembaban 72,86%. Perawanan pada minggu I lebih berpotensi hujan dari pada minggu II karena awan yang muncul berbeda dengan suhu yang lebih rendah dan kelembaban tinggi.

5.2. Saran

Pada saat pengamatan awan pastikan thermometer bola basah dan bola kering dalam kondisi siap untuk digunakan serta pengukuran sebaiknya dilakukan tepat waktu agar memperoleh hasil yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Adriat, Riza. 2015. Keterkaitan Variasi Sinar Kosmik dengan Tutupan Awan. Positron, 5(1) : 36 – 41.

Andika, G. 2008. Klasifikasi Tutupan Awan Menggunakan Data Sensor Satelit NOAA/AVHRR APT. Jakarta : Universitas Indonesia.

Astyka, W dan Nasrul I. 2009. Pewilayahan Tipe Hujan dan Zona Prakiraan Iklim (ZPI) Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. JSPF. 8(1) : 57 – 67.

Baskoro, A. A., C. Y. Yatini dan D. Herdiwijaya. 2006. Pengaruh Sinar Kosmik terhadap Pembentukan Awan Total dan Awan Atas Wilayah Indonesia dalam Periode 1979 - 1995. Majalah Sains dan Teknologi Dirgantara. 1(1) : 7 – 17.

Faizatin, T. U., L. Rohmawati dan Madlazim. 2014. Pemetaan Daerah Rawan Petir Cloud to Ground Positif Wilayah Pasuruan Tahun 2012 menggunakan Metode Inverse Distance Weighted. Jurnal Fisika, 03(03) : 6 – 10.

Hakim, M. G., Syech R., dan Ardhitama A. 2007. Analisa Sebaran Awan untuk Menentukan Prediksi Curah Hujan di Kota Pekanbaru Berdasarkan Data Penginderaan Jarak Jauh. Universitas Riau. Skripsi.

Hidayati, R. 2003. Pembentukan Awan dan Hujan. Di dalam: Handoko, editor. Klimatologi dasar. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya Pr. hlm. 97 - 122.

Hamdi, S. dan S. Kaloka, 2000.Pengamatan Awan Cirrus Subvisible di atas Bandung Menggunakan Raman Lidar. Bandung : Lapan.

Harsita. 2012. Estimasi Curah Hujan Data Satelit Geostationer dan Orbit Polar Dibandingkan dengan Data Stasiun Hujan. Karendra Harsita, Drs. Retnadi Heru Jatmiko. Fakultas Geografi UGM : Jurnal Bumi Indonesia 2012.

Imania, A. Z. 2015. Upaya Meningkatakan Rasa Ingin Tahu dan Prestasi Belajar IPA Menggunakan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E (LC5E) Dengan Media Diorama di Kelas II SDN 3 Paninggaran. Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Skripsi.

Karmini, M., dan Renggono, F. 2010.Mengintip Kondisis Cuaca Penyebab Banjir Besar di DKI Jakarta Tanga 25 Oktober 2010. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca. 12(2) : 43 - 48.

Massinai, M. Altin. 2005. Analisis Liputan Awan Berdasarkan Citra Satelit Penginderaan Jauh. Kalimantan Tengah : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.

Matthews . 2005. dalam Kodoatie dan Sjarief 2010 dalam R. J. Kodoatie dan R. Sjarief. 2010. Tata Ruang Air. Yogyakarta : Andi.

Murlina, E. 2013. Prediksi Puting Beliung di Kabupaten Maros. Universitas Hasanuddin. Skripsi.

Nugraheny, D. (2015). Metode Nilai Jarak Guna Kesamaan atau KemiripanCiri Suatu Citra (Kasus Deteksi Awan Cumulonimbus menggunakan Principal

Component Analysis). Jurnal Angkasa, 7(2) : 21 – 30.

Pratikasari, R. 2011. Kajian Teoritis dan Empiris Distribusi Spasial dan Temporal Paramter-Parameter Atmospheric Boundary Layer. Institut Pertanian Bogor.Skripsi.

Rusnadi, S., Sinambela. 2008. Klasifikasi tutupanawan menngunakan data sensor satelit NOAA/AVHRR APT. Jakarta : Universitas Indonesia.

Sudiana, D. (2009). Klasifikasi Tutupan Awan Menggunakan Data Sensor Satelit NOAA/AVHRR APT.

Tongkukut, J. 2011. Identifikasi potensi kejadian petir di Sulawesi Utara. Jurnal Ilmiah Sains. 11(1) : 9-17.

Utoyo, B. 2006. Geografi, Membuka cakrawala dunia. Bandung : Setya Purna Inves.

Wicaksono, Adityo. (2012). Analisa Cuaca Ekstrim di Parigi Moutong (Studi Kasus Hujan Lebat Tanggal 8 Februari 2006 dan Tanggal 25 Agustus 2012). Akademi Meteorologi dan Geofisika.

Yani, A dan M. Ruhimat. (2007). Geografi Menyingkap Fenomena Geosfer. Bandung : Grafindo Media Pratama.

LAMPIRAN

Tabel 4. Form Pengamatan Indikator Cuaca dan Iklim Harian Hari ke- Suhu (pukul) Rata-rata Kelembapan (pukul) Rata-rata Hari hujan (pukul) Rata-rata 7 12 17 7 12 17 7 12 17 1 27 30 26 27,67 96 76 90 87,33 2 27 31 29 29 76 66 76 72,67 3 27 30,5 25,5 27,67 86 70 82 79,22 4 27 32,5 29 29,5 86 72 78 78,67 5 29 26,5 27 27,5 80 76 90 82 6 27 35 30 30,67 76 42 60 59,33 7 27 30 30 29 76 70 90 78,67 8 30 34 30 31,33 60 50 70 60 9 29 33,5 30 30,83 74 46 75 65 10 29 35,5 31 31,83 74 66 85 75 11 27,5 34,5 29 30,33 84 42 97 74,33 12 27 29 29 28,33 74 88 74 78,67 13 29 28 28,5 28,5 64 82 80 75,33 14 29 30 26 28,33 75 72 98 81,67 Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2016.

Tabel 5. Form Pengamatan Indikator Cuaca dan Iklim Minggu ke-I

Parameter Hari ke-

Rata-rata 1 2 3 4 5 6 7 Suhu (°C) 27,67 29 27,67 29,5 27,5 30,67 29 28,72 Kelembaban (%) 87,33 72,67 79,22 8,67 82 59,33 78,67 66,84 Hari hujan (mm/hari)

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2016.

Tabel 6. Form Pengamatan Indikator Cuaca dan Iklim Minggu ke-II

Parameter Hari ke-

Rata-rata 8 9 10 11 12 13 14 Suhu (°C) 31,33 30,83 31,83 30,33 28,33 28,5 28,33 29,92 Kelembaban (%) 60 65 75 74,33 78,67 75,33 81,67 72,86 Hari hujan (mm/hari)

Tabel 7. Perbandingan Pengamatan Minggu ke I dan II

Paramater Mingguke I Mingguke II

Suhu (°C) 28,72 29,92

Kelembaban (%) 66,84 72,86

Hari hujan (mm/hari) Jenisawan yang paling seringmuncul

Altocumulus Cirrus

Dalam dokumen ACARA I. ALAT-ALAT KLIMATOLOGI (Halaman 44-50)

Dokumen terkait