BAB IV EKSISTENSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA PASCA
2. Perbandingan persyaratan parpol sebagai badan
Dalam undang-undang partai politik yang telah disepakati DPR dan pemerintah pada awal Desember lalu dinyatakan, penelitian dan/atau verifikasi partai politik dilakukan secara administrasi dan periodik oleh departemen yang membidangi hukum dan hak asasi manusia bekerja sama dengan instansi terkait. Penelitian dan/atau verifikasi dilakukan paling lama 45 hari sejak diterimanya dokumen persyaratan secara lengkap. Pengesahan partai politik menjadi badan hukum dilakukan Menteri141 paling lama 15 hari sejak berakhirnya proses penelitian dan/atau verifikasi.
Verifikasi pemilu sekarang dilakukan oleh Departemen Hukum dan HAM secara administratif saja. Sementara pada pemilu 2004 lalu, verifikasi yang dilakukan adalah penelitian administratif dan subtantive terhadap akta pendirian dan syarat pendirian partai politik. Pemeriksaan faktual atas kepengurusan dan kantor langsung dilakukan dengan pengecekan ke daerah. Mengacu pada ketentuan UU No. 31 Tahun 2002 Pasal 2 dan 3 dan lain-lain yang berkenaan dengan verifikasi, yang disahkan sebagai Undang-Undang pada 27 Desember 2002. Departemen Kehakiman antara lain bertugas mengecek kepengurusan partai politik sebagaimana yang tercantum dalam akta pendirian partai politik dan pengurusan.142 Jadi syarat badan hukum dalam jumlah kepengurusan pada Undang-Undang No 2 Tahun 2008 ini lebih di perketat, yakni sedikitnya memiliki 60 %
141
Lihat Pasal 1 ayat (6) UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.
dari jumlah propinsi. Pada Undang-Undang No. 31 Tahun 2002, hanya disyaratkan sedikitnya memiliki 50 % dari jumlah propinsi.143 Menurut penulis lahirnya Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 Semakin Memberikan kesulitan bagi para elit masyarakat yang ingin membentuk partai politik baru. Konsekuensi logisnya adalah bahwa UU Partai Politik yang baru semakin mencegah membludaknya partai politik. dilihat dari segi manfaatnya, UU baru diharapkan mampu mencegah terjadinya fragmentasi dikalangan umat Islam, karena meminimalisir pembentukan partai politik Islam baru bagi penduduk mayoritas Islam di Indonesia. Artinya partai politik Islam yang banyak akan menciptakan fragmentasi dikalangan Islam. Sebagaimana dikutip dalam bukunya A.M. Fatwa dengan judul “Satu Islam Multipartai”144
B. Prospek Partai Keadilan Sejahtera Pasca lahirnya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008
Terhadap prospek partai berasas Islam, sebagaimana munculnya tesis 'never ending ideology' oleh Aiken (1964) dan dalam konteks politik Indonesia, Bahtiar Effendi menyebutnya sebagai 'repolitisasi Islam’. Bahtiar dalam bukunya Repolitisasi Islam tersebut, melanjutkan judul bukunya dengan menanyakan:
143 Ibid., h. 5
144
A.M. Fatwa, Satu Islam Multipartai: Membangun Integritas di Tengah Pluralitas, (Bandung: Mizan, 2000), Cet. Pertama, h. 16
“pernahkah Islam berhenti berpolitik ?"145. Bahwa hubungan antar satu ideologi dengan ideologi lain sangat erat dalam aktivitas politik. Apabila ideologi telah mati, maka berakhir pula dunia politik. Ideologi politik merupakan determinasi falsafah politik karena adanya agenda dan kepentingan politik. Sifat pragmatisme dan kecenderungan koruptif pada perilaku politik masyarakat modern, semakin mempertegas arti penting Ideologi politik.146
Sementata Terkait dengan perumusan asas Parpol, Fraksi PKS menimbang secara seksama draf pemerintah yang kembali pada rumusan di dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2002, yaitu "Asas Parpol tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945," dengan dua alasan, pertama, rumusan tersebut telah terbukti mampu mewujudkan stabilitas dan keharmonisan dalam kehidupan politik berbangsa selama dua periode pemilu sejak reformasi. Kedua, adanya upaya untuk mewacanakan aspirasi asas tunggal misalnya, justru menimbulkan polemik dan ketegangan yang kontraproduktif bagi upaya membangun persatuan dan kesatuan bangsa.147
Perdebatan alot atau pembahasan yang memakan waktu cukup panjang terjadi ketika membahas tentang Pasal 9 yang mengatur tentang asas dan ciri partai politik. Semula ada keinginan dari beberapa fraksi untuk menetapkan Pancasila dan
145
Lihat selengkapnya dalam, H. D. Aiken, The Revolt Against Ideology, Commentary (1964) dan Bachtiar Effendi, Repolitisasi Islam: Pernahkah Islam Berhenti Berpolitik?, (Bandung : Mizan Pustaka, 2000), Cet. Pertama, h. 198
146
Firmanzah, Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning Ideology Politik di Era Demokras, (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2008), Cet. Pertama, h. xi
147
Pendapat akhir Fraksi PKS terhadap Rancangan Undang-Undang tentang Partai Politik untuk disahkan menjadi Undang-Undang Tentang Partai Politik, 6 Desember 2007. PSHK, h. 3
UUD 1945 menjadi semacam asas bersama bagi partai politik. Tapi melalui beberapa kali lobi, akhirnya disepakati untuk mengacu pada draft RUU dari Pemerintah dengan mencantumkan 1 ayat tambahan ( Pasal 9 ayat (3) yang akan disempurnakan setelah paripurna).148 Enam fraksi dari partai berasas Islam menyampaikan nota keberatan atas disahkannya UU Parpol 2008 ini. Mereka menolak Islam menjadi subordinasi dari Pancasila dan UUD 1945.149
Karena itu, sebelum pimpinan Sidang Paripurna mengetok palu sebagai tanda pengesahan RUU Parpol menjadi UU, wakil-wakil dari fraksi PPP, PKS, PAN, PKB, PBR dan PBPD (Partai Bintang Pelopor Demokrasi) menyempaikan nota keberatan. Keenam partai tersebut tetap setuju RUU ini disahkan menjadi UU tetapi keberatan dengan rumusan Pasal 9 ayat (3).150 Berdasarkan pertimbangan dan catatan tersebut, dengan mengucap “Bismillahirrahmanir-rahimi seraya memohon perlindungan kepada Allah SWT Fraksi PKS DPR RI menyatakan Setuju untuk mengesahkan RUU tentang Partai Politik menjadi Undang-Undang, dengan terikat kepada kesepakatan Fraksi-fraksi untuk menyempurnakan redaksi pada Pasal 9 ayat 3”.151
148
Pendapat akhir Fraksi PBR terhadap RUU tentang Partai Politik untuk disahkan menjadi Undang-Undang Tentang Partai Politik, 6 Desember 2007. PSHK, h. 1. paripurna yang dimaksud dilakukan pada 6 Desember 2007. Lihat Pendapat akhir Fraksi PKS.
149
“Asas Parpol Masih Jadi Ganjalan, Pengesahan UU Parpol” , artikel ini diakses pada 15 Mei 2008 dari http://cms.sip.co.id/hukumonline/detail.asp?id=18130&cl=Berita
150 Ibid.
151
Pendapat akhir Fraksi PKS terhadap RUU tentang Partai Politik, 6 Desember 2007. PSHK, h. 3
Mengenai RUU Parpol, perwakilan pemerintah, yaitu Menteri Dalam Negeri, dalam hal menanggapi nota keberatan dari beberapa fraksi, menegaskan bahwa RUU Parpol telah sah menjadi UU dan keberatan beberapa partai akan menjadi masukan dikemudian hari.152 Menurut penulis, meskipun beberapa nota keberatan dari wakil-wakil fraksi PPP, PKS, PAN, PKB, PBR dan PBPD (Partai Bintang Pelopor Demokrasi) tidak ada perubahan rumusan dalam Pasal 9 ayat (3) sampai disahkan menjadi Undang-Undang No.2 Tahun 2008, bukan salah satu faktor penghambat bagi partai PKS untuk memperoleh target sekitar 20 persen suara di Pemilu 2009. Masyarakat pemilih sekarang sudah jauh lebih cerdas dan cendrung memilih Parpol dengan kompetensi dan program kerja yang bagus terkait aspek sosial-ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Misalnya hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia pada tahun 2005 PKS termasuk sebagai partai yang bersih dan anti-KKN, bahkan kalangan non-Muslim Greg Fealy, pengamat Islam dan Indonesia dari Australian National University (ANU), termasuk yang memujinya, bahwa dengan melihat contoh PKS di Indonesia, Barat (dalam hal ini Australia) harus menanggalkan pandangan stereotype tentang Islam dan partai berbasis Islam.153
Prof. William Liddle juga mengungkapkan hal yang sama bahwa partai Islam yang meningkat perolehan suaranya pada pemilu 2009 nanti adalah partai
152 Ibid. 153
Dalam artikelnya di koran The Australian (29 Maret 2005) berjudul "Why West should come to Islamist party", dan diakses pada 15 Mei 2008 dari http://madrasahduat.blogspot.com/ 2008/04/eksistensi-partai-dakwah-dalam.html
PKS dengan melihat setiap peningkatan suara pada Pemilu 1999 dengan 1% dan pada pemilu 2004 meningkat dengan perolehan 7% suara.154 Terbukti juga dari beberapa hasil Pilkada, dari 138 Pilkada, PKS memenangkan 81 Pilkada155 dan setiap Pemilihan Umum PKS selalu mengalami dukungan yang terus meningkat sebagaimana hasil survei yang dilakukan oleh LSI pada 8-20 September 2008156 dipaparkan juga beberapa hasil wawancara langsung dari PKS dan tim pemenangan pemilu 2009 bahwa :
“PKS kedepannya mempunyai eksistensi (ketahanan dan daya tahan) yang cukup baik. PKS sudah jauh-jauh hari mempersiapkan beberapa persen suara yang nantinya akan diraih untuk pemilu 2009. Misalnya dengan kegiatan-kegiatan bakti sosial yang selama ini cukup membantu para konstituennya dan masyarakat luas”.157
Munculnya sejumlah partai yang menggunakan simbol dan asas Islam atau yang mempunyai pendukung utama komunitas Islam, 158 dalam konteks agama dalam politik Amerika, ikatan kelompok keagamaan dan tradisi keagamaan menjadi penting secara politik.159
Sehingga Banyak kalangan Parpol mungkin agak nervous dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belakangan ini. Khususnya setelah dua pasang Cagub dan Cawagub yang didukung PKS memenangkan
154
Pengamat Politik Indonesia dari USA disampaikan pada acara West East Conection pada siaran televisi swasta Metro TV Jumat 7 Nopember 2008.
155
Hilmi Aminuddin, Menghilangkan Trauma Persepsi, cet. III, (Jakarta: Sekretariat Jenderal Bidang Arsip dan Sejarah DPP PKS dan Arah Press, 2008) h. 7
156 Parpol Islam Harus Garap Sumber Alternatif”, Kompas, 26 September 2008, h. 8
157
Wawancara langsung Heri Purnomo. Jakarta, 31 Oktober 2008
158 Bachtiar Effendi, Repolitisasi Islam, h. 195 159
David C. Leege dan Lyman A. Kellstedt, Agama dalam Politik Amerika, penerjemah Debbie A. Lubis dan A.Zaim Rofiqi, (Jakarta: Kerjasama Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta, Freedom Institute, dan Yayasan Obor Indonesia, 2006 ), h. 425
Pilkada di Jawa Barat dan Sumatra Utara. Bukan hanya kalangan Parpol lain, pengamat dalam dan luar negeri mengambil kasus di kedua daerah tersebut sebagai pertanda awal dari peningkatan suara PKS dalam Pemilu 2009.160
Maka tidak terlalu salah untuk mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah munculnya kembali kekuatan politik Islam. Hal yang demikian itu, di dalam perjalanannya selalu terbuka kemungkinan untuk "mempolitikkan" bagian-bagian yang menjadi dasar ideologi partai-partai tersebut.161
Termasuk telah dibuka keran kebebasan dalam mencantumkan asas partai sebagaimana dalam UU No. 2 Tahun 2008 sesuai dengan pasal 9 kecuali ayat (3).162 Inilah salah satu keuntungan dari keberadaan partai Islam yang ada di Indonesia khususnya Partai Keadilan Sejahtera dalam peluangnya untuk meraih peningkatan target suara pemilu 2009.
Pendekatan politik Islam dewasa ini, seperti yang belakangan dikembangkan oleh generasi baru kaum intektual dan aktivis Muslim, cenderung bersifat inklusif atau integratif. Watak inklusif atau integratif pendekatan tersebut khususnya tampak dalam (1) bagaimana para pemikir dan aktivis Islam politk sekarang mengeksperisikan gagasan sosial-politik mereka; dan (2) bagaimana mereka berupaya merealisasikan tujuan-tujuan sosial-politik Islam.163
160
Lihat, tulisan Prof. Azumardi Azra di Rubrik Resonansi Republika, Kamis, 24 April 2008, h. 12
161 Bachtiar Effendi, Repolitisasi Islam, h. 195-196 162
Lihat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik pasal 9 ayat (1), (2), dan (3).
163 Bachtiar Effendi, Islam dan Negara: Transformasi Pemikiran dan Praktik Politik Islam
Sehubungan dengan itu, aspirasi-aspirasi politik Islam dirancang sedemikian rupa sehingga mereka tidak harus berbenturan dengan masyarakat pribumi Indonesia. Pada gilirannnya, hal ini diharapkan dapat menciptakan hubungan yang relatif harmonis antara keislaman dan keindonesiaan.164 Mereka percaya bahwa ekspresi tujuan-tujuan politik Islam tidak akan lagi di pandang sebagai pinggiran. Dan yang lebih penting, mereka juga berkeyakinan bahwa pemikiran dan praktik politik semacam itu tidak akan dipandang sebagai ancaman terhadap "persatuan bangsa".165 Hidayat Nur Wahid sebagai anggota Majelis Syuro PKS juga menyampaikan tidak ada lagi dikotomi bahwa partai yang berasaskan Islam akan membahayakan NKRI.166
Demikian halnya mengenai sumber pendanaan (political finance) bagi partai politik menjadi sangat penting untuk diatur dalam Undang-Undang No.2 Tahun 2008, karena seringkali perilaku koruptif terjadi, sehingga potret buram bangsa Indonesia sebagai negara korup kembali dipertegas oleh Transparency International Indonesia (TII) yang meluncurkan hasil survey Indeks Persepsi Korupsi (IPK) tahun 2007 pada tanggal 6 Desember 2007, bahwa dari 180 negara yang disurvei, Indonesia berada di peringkat 143 bersama Rusia, Togo, dan Gambia. Nilai IPK itu juga memasukkan Indonesia ke dalam daftar negara yang dipersepsikan terkorup di dunia, bersama 71 negara berindeks di bawah 3. Aktor
164 Ibid.
165 Ibid., h. 214
”Keberhasilan” Indonesia dalam mempertahankan prestasi sebagai negara korup masih didominasi oleh Lembaga Parlemen.167 Contoh kasus temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tentang adanya pencairan lebih dari 400 lembar cek yang terdistribusikan secara mencurigakan. Temuan ini menguatkan adannya benang merah dengan "nyanyian" politikus PDI Perjuangan, Agus Condro, dengan pengakuannya menerima cek perjalanan senilai 500 juta melalui Fraksi PDI Perjuangan DPR usai voting Komisi IX DPR yang memenangkan Miranda Swaray Goeltom untuk menjabat gubernur senior Bank Indonesia (BI) pada 2004. Ketika itu, Miranda meraih 41 suara dari 54 anggota Komisi IX yang hadir.168
Alasan penulis mengutip ulasan diatas ialah disebabkan perlunya lembaga partai pilitik yang bersih dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Inilah salah satu konsekuensi pentingnya Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 mengatur masalah sumber pendanaan partai sesuai dengan pasal 34 pasal (1) yang berbunyi "keuangan partai politik bersumber dari: a. iuran anggota; b. sumbangan yang sah menurut hukum; dan c. bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah"169. "Kondisi Parlemen saat ini juga tidak ideal untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat. Pasalnya,
167 Zamrony, "Pemberantasan Korupsi: Topik Out Of Date", artikel diakses pada 15
September 2008 dari http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&channel=s&rls=org
.mozilla%3AenUS%3Aofficial&hs=0Ig&q=laporan+ICW+mengenai+lembaga+terkorup+di+Indon esia&btnG=Telusuri&meta=
168 "KPK Telusuri 400 Cek Suap ke DPR", Republika, 11 September 2008, h. 12.
169
posisi anggota Dewan secara perorangan sangat lemah. Selain itu, parlemen pun tak bisa membuat anggotanya menjadi kuat dan tidak mempunyai agenda kerja kerakyatan". Otokritik ini disampaikan anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR, Fahry Hamzah, dalam diskusi "Membangun Parlemen Pro Rakyat" di Jakarta kamis (11/9). Sebelumnya, Bvitri Susanti dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia mengatakan, ketidakpuasan masyarakat terhadap lembaga legislatif memang besar. Masyarakat juga banyak yang tidak tahu siapa wakilnya di DPR. Untuk memperbaiki ini, tidak ada jalan lain kecuali partai harus berbenah diri. Memperbaiki mekanisme kaderisasi dan penentuan calon anggota legislatif yang berkualitas".170
Sehingga Fraksi PKS sejak awal menyerukan dan memperjuangkan pentingnya perwujudan partai kader di negeri ini guna mengimplementasi fungsi Parpol dalam hal pendidikan politik, rekrutmen pemimpin, manajemen konflik, dan agregasi kepentingan. Fungsi-fungsi itu harus dijalankan sepanjang waktu sehingga Parpol tidak hanya sibuk dari pemilu ke pemilu lalu abai pada kepentingan masyarakat. Parpol harus hadir sepanjang waktu melakukan pendidikan politik, menyerap aspirasi, melakukan rekrutmen pemimpin dan yang tak kalah penting, tentu saja, turut mengentaskan pelbagai persoalan yang menghimpit masyarakat. Fraksi PKS sebelumnya menyambut gembira rumusan RUU Parpol yang menegaskan tujuan dan fungsi Parpol secara eksplisit di dalamnya, yaitu di Bab V
serta menjabarkannya di dalam Bab XI tentang Rekrutmen Politik dan Bab XIII tentang Pendidikan Politik.171
Dalam proses kaderisasi Partai Keadilan Sejahtera, sumber keuangan dari iuran anggota dan simpatisan cukup signifikan nilainya terhadap pendanaan partai, hal ini juga diatur dalam Anggaran Rumah Tangga PKS oleh struktur Dewan Pengurus Pusat.172 Padahal dalam budaya masyarakat yang opportunis dan perilaku money politics kecenderungannya adalah sebaliknya, yaitu kader yang berusaha mendapatkan keuntungan materi dari partai. Praktik pendanaan Partai Politik lain sangat jarang menerapkan sumber pendanaan dari iuran anggotanya, lebih banyak bersumber dari para kader anggota DPR, pejabat negara, pengusaha, dan bantuan pihak lain.
Political finance atau sumber pendanaan Parpol diatur dalam Pasal 35, 36, 37, 38, dan 39 UU No. 2 Tahun 2008. PKS sebenarnya lebih mudah dalam masalah transparansi. Karena selain sudah ada penggalangan dana dari kader, potongan dana terhadap pendapatan anggota legislatif untuk partai pun tidak terlalu memberatkan dan bersifat progressif. Artinya potongan disesuaikan dengan kebutuhan keluarga. Tujuan dilakukan penggalangan dana yang trasparan seperti di atas adalah kebaikan para kader agar tidak ada pihak yang dirugikan atau membuat
171
Pendapat akhir Fraksi PKS terhadap RUU tentang Partai Politik untuk disahkan menjadi Undang-Undang Tentang Partai Politik, 6 Desember 2007. PSHK, h. 2
172
miskin legislator PKS sehingga mencegah terjadinya sumber alternatif praktek KKN.
PKS juga adalah partai kader sehingga dalam setiap pengkaderan ada istilah tingkatan yang terbagi beberapa bagian kader, yaitu; anggota pemula, anggota muda (anggota pendukung), anggota madya, anggota dewasa, anggota ahli dan anggota purna (anggota inti)173 anggota yang sudah masuk dalam tingkatan level kader inti adalah (anggota madya, anggota dewasa, anggota ahli dan anggota purna) sudah diwajibkan membayar iuran kader, standar 5000 per orang dan bahkan kebanyakan kader yang memiliki banyak dana, mereka menyumbang lebih dari itu dengan dasar keikhlasan dan sedekah lillâhi ta'âla untuk dakwah.174
mengenai syarat lolosnya peserta pemilu, dalam bentuk rancangannya Pemerintah berpendapat bahwa syarat jumlah pendiri partai politik perlu ditingkatkan dari 50 menjadi 250 orang, untuk meningkatkan kualitas demokrasi dan legitimasi partai politik sebagai representasi aspirasi politik masyarakat yang bertujuan juga sebagai upaya membangun system kepartaian yang ideal, dan tidak dimaksudkan untuk memperberat syarat pendirian partai politik sebagaimana dalam pandangan F-PBR. Pemerintah setuju dengan F-BPD (Bintang Pelopor Demokrasi) mengusulkan adanya peningkatan jumlah pendiri partai politik.175
173
Lihat, Anggaran Rumah Tangga PKS Pasal 5 ayat (1).
174
Wawancara Pribadi dengan Lili Nur Aulia. Jakarta, 24 Oktober 2008
175
Lihat Kartu Pemantauan Legislasi, dalam agenda Jawaban Pemerintah atas Pandangan Fraksi-Fraksi terhadap RUU Parpol dan Susduk, 5 September 2007, PSHK, h. 2
Mengingat sentralnya peran Parpol dalam kehidupan politik yang demokratis dan menilai pentingnya pelaksanaan fungsi-fungsi Parpol dalam kehidupan bermasyarakat, Fraksi PKS dapat memahami dan akhirnya turut memperjuangkan proses pendirian Parpol yang ringan, paling tidak sama dengan ketentuan UU Parpol sebelumnya. Harus diakui, saat ini kita membutuhkan partisipasi luas dari seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan perubahan dan demokratisasi yang lebih ekstensif.176 Ini menunjukkan bahwa pasca lahirnya Undang-Undang Nomor. 2 Tahun 2008 partai Islam yang lolos verifikasi lebih rumit bandingkan dalam undang-undang. Lihat uraian diatas mengenai Perbandingan persyaratan Parpol sebagai badan hukum menurut undang-undang No. 31 Tahun 2002 dengan Undang-Undang No. 2 Tahun 2008. Tetapi, kondisi ini tidak membuat praktisi politik Islam patah semangat untuk tetap optimis dalam verifikasi misalnya PKS dan partai Islam lainnya yang bertambah dua partai politik yaitu PKNU dan PMB177 dibandingkan dengan peserta pemilu 2004, yang hanya ada 5 partai Islam yaitu: PKS, PPP, PBB, PBR, dan PPNUI178 artinya sebagai partai ideologis pada pemilu 2009 hanya bersaing dengan 7 Parpol yang berasaskan Islam peluang mendapatkan jumlah suara pada pemilu 2009 lebih besar.
176
Pendapat akhir Fraksi PKS terhadap RUU tentang Partai Politik, 6 Desember 2007. PSHK, h. 2
177 "Poros Islam Menyongsong 2009", Suara Islam, edisi 49, Tanggal 1-14 Agustus 2008 ,
h. 5
178
Lihat Profil Partai, diakses pada 15 Mei 2008 dari http:/ /www.tempo.co.id/ hg/partai/index.html
Mengenai kadar keterwakilan peremepuan, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 pasal (20) menegaskan ”Kepengurusan Partai Politik tingkat provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) disusun dengan memperhatikan keterwakilan perempuan paling rendah 30% (tiga
puluh perseratus) yang diatur dalam AD dan ART Partai Politik masing-masing.179 Sementara itu, Koordinator Gerakan Perempuan Peduli Indonesia (GPPI)
dan Aliansi Masyarakat Sipil untuk Revisi UU Politik (ANSIPOL) Sri Budi Eko Wardani mengatakan, UU Politik yang baru disahkan akan memberikan terobosan penting bagi partisipasi perempuan di dalam Parpol. Menurutnya, keterlibatan perempuan di dalam Parpol –sebagai anggota dan pengurus—merupakan “hulu” dari perjuangan untuk meningkatkan keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. Aturan yang merupakan hulu tersebut terletak pada dua hal yaitu pembentukan Parpol yang diatur dalam Pasal 2 ayat (2) dan ayat (5). Lainnya, soal kepengurusan Parpol, yakni di Pasal 20.180
Terobosan baru dalam UU partai politik merupakan langkah awal dari proses “feminisasi” negara melalui Parpol. Feminisasi politik ini menjelaskan bagaimana proses politik akan lebih memperhatikan persoalan mendasar yang dialami masyarakat, termasuk perempuan. Bagi perempuan hal ini dapat ditunjukkan melalui lebih peduli pada kesehatan, peningkatan pendidikan,
179
Lihat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik pasal (20).
180
“Asas Parpol Masih Jadi Ganjalan, Pengesahan UU Parpol”, artikel ini diakses pada 15 Mei 2008 dari http://cms.sip.co.id/hukumonline/detail.asp?id=18130&cl=Berita
penghapusan kekerasan terhadap perempuan, serta mendorong perempuan terlibat dalam proses politik dalam kehidupan publik.181
Dalam kerangka partisipasi demokratis, Fraksi PKS juga dapat memahami dan turut mendukung afirmasi politik 30% perempuan dalam pendirian dan kepengurusan Parpol dengan rumusan yang dihasilkan:
"Menyertakan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30% dalam kepengurusan partai politik di tingkat pusat dan di tingkat propinsi serta di Kabupaten/Kota."
Gelombang afirmasi ini diharapkan tidak hanya menimbulkan tuntutan yang berlebihan untuk tampilnya kaum perempuan pada lembaga publik. Tetapi, menjadi pendorong untuk peningkatan kebijakan negara yang berpihak pada pemuliaan kaum perempuan. Antara lain, lebih banyak mendengarkan, meringankan beban fisik, meminimalisasi pelecehan, dan, segala bentuk yang merendahkan kaum perempuan.182
Partai Keadilan Sejahtera dalam hal ini sudah menetapkannya dalam Anggaran Rumah Tangga PKS bab IX tentang Struktur Partai di Tingkat Provinsi. Ada beberapa anggota untuk komisi-komisinya misalnya poin 2 komisi yang bertugas sebagai pengkaderan dan kewanitaan dan begitu juga terhadap Struktur Partai di Tingkat Kabupaten.183