• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Pilihan Skenario Wilayah Prioritas

Faktor Dimensi Konsumsi

3.3 Pemilihan Wilayah Prioritas

3.3.2. Perbandingan Pilihan Skenario Wilayah Prioritas

Upaya penajaman penanggulangan kemiskinan yang dilakukan Pemerintah melalui pemantauan terhadap pelaksanaan seluruh program penanggulangan kemiskinan di 100 kabupaten/kota yang termasuk dalam wilayah prioritas, yang idealnya juga harus mengikutsertakan kegiatan pemantauan dan evaluasi yang telah dilakukan oleh masing-masing program penanggulangan kemiskinan (bantuan sosial) yang sudah ada demi tercapainya tujuan dari setiap program.

Untuk menjaga agar program penanggulangan kemiskinan berjalan sesuai dengan rencana, serta mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap percepatan penurunan tingkat kemiskinan di tingkat nasional, perlu dilakukan evaluasi (perbandingan) terhadap basis wilayah prioritas berdasarkan keempat skenario pemilihan wilayah prioritas yang sudah ditentukan. Hasil evaluasi akan memberi konfirmasi awal berupa seberapa robust (mampu

Thresholds KOMPOSIT INDEKS KABUPATEN KOTA 100 KABUPATEN/KOTA PRIORITAS 100 Wilayah KOMPOSIT INDEKS KECAMATAN 2.382 KECAMATAN PRIORITAS 40% Wilayah KOMPOSIT INDEKS DESA 28.232 DESA PRIORITAS Mean + StdDev 39 Variabel 49 Variabel 47 Variabel Proxy Variabel Agregasi

28

memberi dampak yang signifikan) basis wilayah prioritas yang dihasilkan berdasarkan pendekatan IKW dibandingkan dengan pendekatan yang lain. Evaluasi akan dilakukan terhadap indikator-indikator kemiskinan, antara lain tingkat kemiskinan, kedalaman dan keparahan kemiskinan, serta jumlah orang miskin.

Tingkat Kemiskinan

Dengan menggunakan referensi tingkat kemiskinannasional sekitar 11,66 persen (September 2012), Skenario 1 menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan pada wilayah prioritas adalah sebesar 16,41 persen, sedangkan pada wilayah non-prioritas sebesar 7,56 persen. Sementara dengan menggunakan Skenario 2, tingkat kemiskinan di wilayah prioritas adalah sebesar 12,20 persen, dan 9,08 persen pada wilayah non-prioritas.

Gambar 15. Perbandingan Tingkat Kemiskinan (P0) dengan Berbagai Skenario Wilayah Prioritas

Sumber: Hasil Estimasi Susenas September 2012

Hasil evaluasi Skenario 3 terhadap wilayah prioritas kantong kemiskinan menunjukkan jika tingkat kemiskinan di wilayah prioritas adalah sebesar 11,29 persen, sedangkan wilayah non-prioritas sebesar 11,73 persen. Sementara penerapan Skenario 4 menghasilkan gambaran tentang tingkat kemiskinan pada wilayah prioritas jauh lebih tinggi, yaitu 20,4 persen, sedangkan pada wilayah non-prioritas adalah sebesar 9,83 persen.

7,56 9,08 11,29 9,83 16,41 12,20 11,73 20,40 11,66

Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4

29

Dari keseluruhan hasil evaluasi pemilihan skenario wilayah prioritas berdasarkan tingkat kemiskinan, dapat ditunjukkan jika wilayah prioritas pada Skenario 4 memiliki tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dibandingkan dengan skenario lain. Dengan kata lain, pemantauan terhadap pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan yang efektif di wilayah prioritas berdasar Skenario 4 diharapkan akan mampu memberi dampak yang besar terhadap penurunan tingkat kemiskinan.

Kedalaman dan Keparahan Kemiskinan (P1 dan P2)

Dengan menggunakan referensi tingkat kedalaman kemiskinan nasional pada bulan September 2012 sebesar 1,90 persen, Skenario 1 menunjukkan bahwa tingkat kedalaman kemiskinan di di wilayah prioritas jauh lebih tinggi 2 kali lipat dibandingkan dengan rata-rata nasional maupun wilayah non-prioritas. Sementara dengan menggunakan Skenario 2, tingkat kedalaman kemiskinan pada wilayah prioritas lebih besar dibandingkan dengan wilayah non-prioritas, dan lebih besar dibandingkan dengan rata-rata nasional.

Gambar 16. Perbandingan Kedalaman Kemiskinan (P1) dengan Berbagai Skenario Wilayah Prioritas

Sumber: Hasil Estimasi Susenas September 2012

Hasil evaluasi Skenario 3 menunjukkan tingkat kedalaman kemiskinan di wilayah prioritas dan non-prioritas relatif sama, bahkan lebih tinggi tingkat kedalaman kemiskinan pada wilayah

1,18 1,46 1,94 1,55 2,74 1,99 1,90 3,61 1,90

Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4

30

non-prioritas. Sementara itu, Skenario 4 memberi gambaran jika kedalaman kemiskinan pada wilayah prioritas lebih dari 2 kali wilayah non-prioritas.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa wilayah prioritas berdasarkan pendekatan IKW merupakan wilayah dengan rata-rata pengeluaran per kapita rumah tangga cukup jauh dari garis kemiskinan. Artinya Pemerintah perlu untuk memberikan perhatian lebih kepada wilayah prioritas yang terpilih berdasarkan penerapan Skenario 4 mengingat wilayah-wilayah tersebut terbukti lebih miskin dibanding wilayah lainnya.

Dalam konteks keparahan kemiskinan, angka nasional yang digunakan sebagai referensi adalah sebesar 0,49 persen (September 2012). Hasil pendekatan Skenario 1 menunjukkan jika tingkat keparahan kemiskinan wilayah prioritas ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah non-prioritas, dan masih lebih tinggi dibanding angka nasional. Dengan menggunakan Skenario 2, wilayah prioritas memiliki tingkat keparahan kemiskinan lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah non-prioritas, yaitu 0,51 berbanding 0,39.

Gambar 17. Perbandingan Keparahan Kemiskinan (P2) dengan Berbagai Skenario Wilayah Prioritas

Sumber: Hasil Estimasi Susenas September 2012 0,30 0,39 0,53 0,38 0,70 0,51 0,48 0,98 0,49 0,00 0,30 0,60 0,90 1,20

Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4

31

Penggunaan Skenario 3 menunjukkan tingkat keparahan wilayah non-prioritas yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah prioritas, yaitu 0,53 dibanding 0,48. Hal ini menunjukkan bahwa wilayah yang menjadi prioritas merupakan wilayah dengan ketimpangan per kapita rumah tangga lebih rendah terhadap garis kemiskinan dibandingkan dengan wilayah non-prioritas. Sementara, hasil penerapan Skenario 4 menunjukkan hal yang lebih kontras, dimana tingkat keparahan kemiskinan di wilayah prioritas hampir 3 kali lipat lebih besar dibanding wilayah non-prioritas, dan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tiga skenario sebelumnya.

Dengan kata lain, wilayah prioritas yang dihasilkan oleh pendekatan IKW merupakan wilayah dengan ketimpangan pendapatan per kapita rumah tangga terhadap garis kemiskinan yang paling tinggi. Sehingga upaya khusus Pemerintah yang dilakukan di wilayah-wilayah terpilih berdasarkan penerapan Skenario 4 diharapkan akan mampu memperkecil ketimpangan pendapatan per kapita antar rumah tangga.

Jumlah Penduduk Miskin

Dengan menggunakan referensi jumlah penduduk miskinpada September 2012 sekitar 28,6 juta, ternyata wilayah-wilayah prioritas pada Skenario 4 memiliki jumlah penduduk miskin sebanyak 8,67 juta yang jauh lebih kecil dibanding dengan tiga skenario lainnya. Hal ini dapat dipahami mengingat pendekatan IKW tidak mendasarkan pilihan wilayah prioritas hanya dengan menggunakan dimensi kemiskinan konsumsi (ekonomi) saja, tetapi juga mengikutsertakan dimensi kemiskinan non-konsumsi (sosial, infrastruktur, dan lain sebagainya). Artinya, wilayah-wilayah yang terpilih berdasarkan Skenario 4 merupakan wilayah yang memiliki tingkat kompleksitas permasalahan kemiskinan (ekonomi dan non-ekonomi) yang lebih besar dibanding wilayah lain.

Kecilnya jumlah penduduk miskin di wilayah-wilayah yang terpilih berdasarkan Skenario 4, sedikit banyak juga mengkonfirmasi ketaatan penerapan prinsip penargetan individu (tepat sasaran) seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Selain karena jumlah penduduk miskin tidak merepresentasikan relatif kemiskinan di suatu wilayah karena sangat tergantung pada banyaknya jumlah penduduk yang ada di wilayah tersebut. Dengan kata lain, program penanggulangan kemiskinan selain tepat menyasar wilayah-wilayah dengan tingkat kesejahteraan terendah, juga hanya akan diberikan kepada penduduk miskin tertentu yang benar-benar membutuhkan, sehingga program penanggulangan kemiskinan dapat berjalan dengan efektif.

Dari keseluruhan hasil evaluasi (perbandingan) pilihan skenario penargetan wilayah, pemanfaatan IKW (Skenario 4) terbukti lebih unggul dalam mengidentifikasi wilayah prioritas

32

kantong kemiskinan. Pendekatan IKW dikatakan lebih unggul mengingat wilayah-wilayah prioritas yang terpilih berdasarkan pendekatan IKW terbukti memiliki karakteristik (i) tingkat kemiskinan yang lebih tinggi dibanding wilayah prioritas yang dihasilkan dengan menggunakan pendekatan lain, (ii) perbedaan jarak pendapatan rumah tangga terhadap garis kemiskinan yang lebih besar dibanding wilayah prioritas yang dihasilkan dengan menggunakan pendekatan lain, (iii) ketimpangan pendapatan rumah tangga yang lebih besar dibanding wilayah prioritas yang dihasilkan dengan menggunakan pendekatan lain, serta (iv) jumlah penduduk miskin yang lebih sedikit dibanding wilayah prioritas yang dihasilkan dengan menggunakan pendekatan lain.

Tabel 7. Perbandingan Indikator Kemiskinan di 100 Kabupaten Wilayah Prioritas1

Deskripsi Nasional

Skenario 1 Skenario 2 Skenario 3 Skenario 4

Jumlah Penduduk

Miskin Desil 1 PPLS 2011 KPS 2013 IKW

Non-Prioritas Prioritas Non-Prioritas Prioritas Non-Prioritas Prioritas Non-Prioritas Prioritas Jumlah Provinsi 33 33 12 33 13 33 13 33 26

Jumlah Penduduk Miskin

(Juta) 28.60 9.94 18.66 3.82 24.77 3.95 24.64 19.93 8.67 Perkotaan (Juta) 10.51 5.74 4.77 0.69 9.82 0.64 9.87 9.75 0.76 Perdesaan (Juta) 18.09 4.20 13.89 3.14 14.95 3.31 14.77 10.18 7.90 Tingkat Kemiskinan 11.66 7.56 16.41 9.08 12.20 11.29 11.73 9.83 20.40 Perkotaan (%) 8.60 6.41 14.60 4.34 11.94 5.38 8.95 8.24 19.66 Perdesaan (%) 14.70 10.00 17.15 9.24 15.46 14.33 14.79 12.06 20.48 Kedalaman Kemiskinan 1.90 1.18 2.74 1.46 1.99 1.94 1.90 1.55 3.61 Perkotaan 1.38 1.01 2.41 0.72 1.91 0.95 1.43 1.31 3.51 Perdesaan 2.42 1.55 2.87 1.48 2.56 2.45 2.41 1.87 3.62 Keparahan Kemiskinan 0.49 0.30 0.70 0.39 0.51 0.53 0.48 0.38 0.98 Perkotaan 0.36 0.26 0.62 0.21 0.50 0.28 0.36 0.34 0.98 Perdesaan 0.61 0.38 0.74 0.38 0.65 0.65 0.60 0.45 0.98

Distribusi Penduduk Miskin

(%)

Perkotaan (%) 36.75 57.74 25.57 17.99 39.64 16.15 40.05 48.90 8.80

Perdesaan (%) 63.25 42.26 74.43 82.01 60.36 83.85 59.95 51.10 91.20

Sumber: Hasil Estimasi Susenas September 2012

1IKW berangkat dari kabupaten/kota; contoh: jika 1 provinsi terdiri atas 5 kabupaten/kota dimana 2 termasuk daerah IKW, maka provinsi tersebut disebut provinsi prioritas (2 kabupaten/kota) dan juga non prioritas (3 kabupaten/kota). Jika suatu provinsi tidak memiliki daerah yang masuk dalam kategori IKW, maka bisa dikatakan daerah tersebut sebagai provinsi non-prioritas.

33

Cakupan dan Distribusi Wilayah Prioritas

Hasil perbandingan wilayah prioritas berdasarkan keempat skenario menunjukkan adanya perbedaan sebaran persentase dan jumlah daerah (provinsi) untuk setiap skenario, seperti tersaji dalam mapping sebaran wilayah prioritas pada Gambar 18.

Dengan menggunakan Skenario 1, diperoleh gambaran bahwa distribusi wilayah prioritas secara nasional hanya terdapat di 12 provinsi dan terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat sebagai prioritas utama. Dari 100 wilayah (kabupaten/kota) yang diprioritaskan, 82 kabupaten/kota prioritas berada di Pulau Jawa dan 13 kabupaten/kota prioritas berada di Pulau Sumatera, sedangkan 5 kabupaten/kota prioritas sisanya berada di luar kedua pulau tersebut. Besarnya jumlah penduduk di kedua pulau tersebut telah menyebabkan terjadinya konsentrasi wilayah prioritas pada kedua pulau ini.

Dengan menggunakan Skenario 2 atau pendekatan jumlah penduduk yang berada pada desil 1, diperoleh gambaran sebaran wilayah prioritas yang relatif sama dengan Skenario 1, dimana wilayah prioritas hanya mencakup 13 provinsi. Dari 100 wilayah yang dijadikan prioritas, 80 kabupaten/kota diantaranya berada di Pulau Jawa dan 13 kabupaten/kota lainnya berada di Pulau Sumatera. Hal ini mengindikasikan jumlah penduduk miskin pada kedua pulau tersebut ternyata proporsional terhadap jumlah penduduk yang termasuk dalam kelompok desil 1 atau 10 persen kelompok terbawah. Skenario 3 atau pemilihan wilayah berdasarkan sebaran rumah tangga penerima Kartu Perlindungan Sosial (KPS) menunjukkan hal yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan dua skenario sebelumnya. Sekali lagi, distribusi wilayah prioritas masih cenderung terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera dan hanya tersebar di 13 provinsi.

Gambaran tentang sebaran wilayah prioritas yang hanya terkonsentrasi di Pulau Jawa dan sebagaia Pulau Sumatera berdasarkan Skenario 1 sampai dengan 3, tidak ditemui lagi jika penentuan wilayah prioritas menggunakan pendekatan IKW. Dengan menggunakan Skenario 4, wilayah prioritas tersebar hampir di seluruh provinsi. Provinsi Papua, Papua Barat, Aceh, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur merupakan provinsi-provinsi dengan jumlah kabupaten/kota prioritas pemantauan terbanyak. Dengan demikian, upaya khusus penanggulangan kemiskinan berbasis wilayah dengan menggunakan pendekatan IKW akan meningkatkan pengurangan tingkat kemiskinan yang lebih merata di seluruh wilayah Indonesia. Distribusi detail wilayah prioritas pada tingkat kabupaten/kota berdasarkan keempat skenario tersaji secara lengkap pada Tabel 8 berikut.

34

Gambar 18. Sebaran Wilayah Prioritas

Wilayah Non-Prioritas Wilayah Prioritas Wilayah Non-Prioritas Wilayah Prioritas Wilayah Non-Prioritas Wilayah Prioritas

Skenario 1: Jumlah Penduduk Miskin

Skenario 2: Jumlah Penduduk Desil 1 Skenario 3: Jumlah Penerima Kartu Perlindungan Sosial (KPS) Skenario 4: Indeks Kesejahteraan Wilayah

35

Tabel 8. Perbandingan Distribusi Wilayah dengan Berbagai Skenario

Provinsi Jumlah Kabupaten /Kota Prioritas Skenario Jumlah Penduduk Miskin Jumlah Penduduk Desil 1

Jumlah Rumah Tangga KPS

Indeks Kesejahteraan Wilayah

Daerah % Daerah % Daerah % Daerah %

Aceh 23 1 4.35 1 4.35 1 4.35 9 39.13 Sumatera Utara 33 2 6.06 3 9.09 4 12.12 3 9.09 Sumatera Barat 19 0 0.00 0 0.00 0 0.00 1 5.26 Riau 12 0 0.00 0 0.00 0 0.00 1 8.33 Jambi 11 0 0.00 0 0.00 0 0.00 0 0.00 Sumatera Selatan 15 5 33.33 2 13.33 2 13.33 0 0.00 Bengkulu 10 0 0.00 0 0.00 0 0.00 1 10.00 Lampung 14 5 35.71 6 42.86 5 35.71 5 35.71 Bangka Belitung 7 0 0.00 0 0.00 0 0.00 0 0.00 Kepulauan Riau 7 0 0.00 0 0.00 0 0.00 0 0.00 DKI Jakarta 6 0 0.00 3 50.00 2 33.33 0 0.00 Jawa Barat 26 19 73.08 18 69.23 19 73.08 4 15.38 Jawa Tengah 35 27 77.14 28 80.00 27 77.14 12 34.29 DI Yogyakarta 5 3 60.00 4 80.00 3 60.00 3 60.00 Jawa Timur 38 29 76.32 26 68.42 28 73.68 6 15.79 Banten 8 4 50.00 4 50.00 4 50.00 1 12.50 Bali 9 0 0.00 0 0.00 0 0.00 0 0.00 Nusa Tenggara Barat 10 3 30.00 3 30.00 3 30.00 5 50.00 Nusa Tenggara Timur 21 1 4.76 1 4.76 1 4.76 12 57.14 Kalimantan Barat 14 0 0.00 0 0.00 0 0.00 1 7.14 Kalimantan Tengah 14 0 0.00 0 0.00 0 0.00 1 7.14 Kalimantan Selatan 13 0 0.00 0 0.00 0 0.00 1 7.69 Kalimantan Timur 14 0 0.00 0 0.00 0 0.00 1 7.14 Sulawesi Utara 15 0 0.00 0 0.00 0 0.00 3 20.00 Sulawesi Tengah 11 0 0.00 0 0.00 0 0.00 3 27.27 Sulawesi Selatan 24 0 0.00 1 4.17 1 4.17 0 0.00 Sulawesi Tenggara 12 0 0.00 0 0.00 0 0.00 1 8.33 Gorontalo 6 0 0.00 0 0.00 0 0.00 2 33.33 Sulawesi Barat 5 0 0.00 0 0.00 0 0.00 1 20.00 Maluku 11 1 9.09 0 0.00 0 0.00 8 72.73 Maluku Utara 9 0 0.00 0 0.00 0 0.00 3 33.33 Papua Barat 11 0 0.00 0 0.00 0 0.00 5 45.45 Papua 29 0 0.00 0 0.00 0 0.00 7 24.14 Total Nasional 497 100 20.12 100 20.12 100 20.12 100 20.12

Dokumen terkait