HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Perbandingan Rerata LFG berdasarkan Formula CG, MDRD, dan CKD-EPI CKD-EPI
standarisasi, MDRD dan CKD-EPI menunjukkan klasifikasi tahapan CKD yang tidak berbeda jauh.
C. Perbandingan Rerata LFG berdasarkan Formula CG, MDRD, dan CKD-EPI
Uji komparatif dilakukan setelah mengetahui hasil dari normalitas data dengan tujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rerata LFG antara ketiga formula. Hasil uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov menunjukkan bahwa data terdistribusi normal pada formula CG, CG standarisasi dan MDRD, sedangkan pada formula CKD-EPI data tidak terdistribusi normal sehingga uji komparatif dilanjutkan dengan uji non parametrik yaitu uji Friedman. Rerata nilai LFG berdasarkan tes klirens kreatinin dengan menggunakan formula
Cockcroft-Gault 94,87 ± 19,80 mL/menit/1,73 m2; Cockcroft-Gault standarisasi 91,15 ± 14,39 mL/menit/1,73 m2; MDRD 89,95 ± 14,62 mL/menit/1,73 m2; dan CKD-EPI 93,14 ± 21,19 mL/menit/1,73 m2. Setelah dilakukan uji statistik dengan mengunakan uji Friedman, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat
perbedaan rerata nilai klirens kreatinin yang signifikan dari keempat formula yaitu
Cockcroft-Gault (CG), Cockcroft-Gault (CG) standarisasi, Modification of Diet in
Renal Disease (MDRD) dan Chronic Kidney Disease Epidemiology
Collaboration (CKD-EPI) dengan nilai signifikansi 0,041 (p < 0,05) ditunjukkan
pada table IV. Uji statistik yang selanjutnya dilakukan adalah uji Wilcoxon yang bertujuan untuk mengetahui formula mana yang berbeda. Hasil uji Wilcoxon ditunjukkan pada tabel V.
Tabel IV. Perbandingan Rerata Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)
Formula Rerata LFG (mL/menit/1,73 m2) p
CG CG standarisasi 94,87 ± 19,80 91,15 ± 14,39 0,041 MDRD 89,95 ± 14,62 CKD-EPI 93,14 ± 21,19*
*data tidak terdistribusi normal
Rerata pada CG standarisasi lebih tinggi dibandingkan dengan CKD-EPI namun CKD-EPI lebih tinggi dibandingkan dengan MDRD meskipun secara statistik perbedaan ini tidak bermakna. Hasil penelitian ini sama dengan yang dilakukan oleh Brand et al. (2011) pada 6097 subyek Kaukasian yang menunjukkan rerata berdasarkan formula CKD-EPI lebih tinggi dibandingkan dengan formula MDRD. Menurut Lin, et al. (2003) estimasi LFG menggunakan formula MDRD memberikan perkiraan yang rendah (underestimate) terhadap LFG.
Tabel V. Hasil Uji Wilcoxon
Formula p Kesimpulan
CG-CGstandarisasi 0,004 Berbeda signifikan
CG-MDRD 0,011 Berbeda signifikan
CG-CKDEPI 0,376 Berbeda tidak signifikan
CG standarisasi-MDRD 0,063 Berbeda tidak signifikan CG standarisasi-CKDEPI 0,212 Berbeda tidak signifikan
MDRD-CKDEPI 0,003 Berbeda signifikan
Berdasarkan hasil uji Wilcoxon terdapat perbedaan yang signifikan antara rerata nilai LFG dengan formula CG dan CG standarisasi (p=0,004), formula CG dan MDRD (p=0,011), serta formula MDRD dan CKD-EPI (p=0,003) sedangkan rerata nilai LFG yang berbeda tidak signifikan yaitu antara formula CG standarisasi dan MDRD (p=0,063) dan formula CG standarisasi dan CKD-EPI (p=0,212).
Penelitian yang dilakukan oleh Michels et al. (2010), membandingkan nilai LFG dengan formula CG, MDRD, dan CKD-EPI dengan gold standard yaitu
125
I-iothalamate. Hasil yang diperoleh adalah MDRD memiliki bias yang terkecil (p<0,01), CKD-EPI memiliki akurasi tertinggi dibandingkan dengan
Cockcroft-Gault dan tidak berbeda signifikan dengan MDRD. Hasil penelitian berbeda
dengan hasil penelitian ini, hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan antara formula MDRD dan CKD-EPI.
Kumaresan dan Giri (2011) menyebutkan formula MDRD memiliki presisi dan akurasi yang lebih baik dibandingkan dengan formula CG pada pasien dengan CKD (LFG <60 mL/menit/1,73 m2), sedangkan perhitungan LFG dengan formula CG lebih baik pada subyek dengan nilai normal dan mild CKD (LFG >60
mL/menit/1,73 m2). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Kuan, bahwa formula MDRD lebih akurat dibandingkan dengan formula CG pada pasien ESRD namun, formula MDRD underestimated LFG ketika klirens inulin lebih dari 8 mL/menit/1,73 m2 dan overestimated LFG ketika klirens inulin kurang dari 8 mL/menit/1,73 m2. Disisi lain formula CG overestimated LFG ketika klirens inulin kurang dari 13 mL/menit/1,73 m2 (Kuan cit., Ali et al., 2013).
Pada penelitian yang dilakukan Rostoker (2007), uji ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan antara klirens inulin dengan formula CG standarisasi (p>0,05). Korelasi pearson menunjukkan bahwa klirens inulin berkorelasi baik dengan formula CG standarisasi (r=0,88) dan MDRD (r=0,87) dibandingkan dengan formula CG (r=0,82). Formula CG standarisasi secara signifikan lebih akurat daripada formula CG dan MDRD. Penelitian Rule et al. (2004) membandingkan klirens nonradioilabeled iothalamate dengan MDRD dan CG standarisasi pada 274 donor ginjal, hasil menunjukkan bahwa CG standarisasi lebih akurat, berkorelasi dan memiliki bias yang kecil dengan iothalamate dibandingkan MDRD.
Rerata nilai LFG berdasarkan formula CG standarisasi adalah 91,15 ± 14,39 mL/menit/1,73 m2, hasil ini mendekati rerata nilai LFG berdasarkan formula CG standarisasi yang diperoleh pada penelitian yang dilakukan oleh Mahajan, Mukhiya, Sigh, Tiwan, Kalra et al. (2005) dengan rerata 97,56 ± 21,62 mL/menit/1,73 m2. Nilai LFG berdasarkan formula MDRD dengan rerata 89,95 ± 14,62 mL/menit/1,73 m2 mendekati hasil penelitian yang dilakukan Lin, Knight, Hogan and Singh (2003) dengan rerata 94,5 ± 25,0 mL/menit/1,73 m2 yang
dilakukan pada dewasa tanpa penyakit ginjal. Nilai LFG yang dibandingkan dengan penelitian-penelitian terdahulu tidak dapat menggambarkan keakuratan dari suatu formula hal ini dikarenakan karakteristik responden penelitian tidak seluruhnya sama dengan karakteristik responden pada penelitian ini seperti range umur dan ras yang merupakan variabel penting dalam formula.
Perbedaan rerata nilai LFG dengan menggunakan formula yang merupakan salah satu penanda fungsi ginjal dapat menimbulkan permasalahan dalam praktek klinin terkait dalam memilih formula yang tepat untuk digunakan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara formula CG tanpa standarisasi ataupun CG standarisasi, MDRD, dan CKD-EPI. Perbedaan yang signifikan ditunjukkan pada rerata nilai LFG dengan formula CG dan CG standarisasi (p=0,004), formula CG dan MDRD (p=0,011), serta formula MDRD dan CKD-EPI (p=0,003) sedangkan rerata nilai LFG yang berbeda tidak signifikan yaitu antara formula CG standarisasi dan MDRD (p=0,063) dan formula CG standarisasi dan CKD-EPI (p=0,212). Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti menyarankan formula CG standarisasi yang digunakan dalam estimasi LFG pada laki-laki dewasa sehat, hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Kumaresan dan Giri (2011) yang menyatakan bahwa formula CG lebih baik pada subyek dengan nilai normal dan mild CKD (LFG>60 mL/menit/1,73 m2). Standarisasi BSA pada formula CG dapat meningkatkan akurasi namun demikian perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada responden di Indonesia untuk mengetahui nilai korelasi perhitungan nilai LFG berdasarkan formula dengan pengukuran nilai LFG dengan menggunakan
pembanding. Gold standard untuk mengukur nilai LFG adalah inulin, namun metode ini mahal, rumit dan tidak digunakan dalam praktek klinis. Pembanding yang direkomendasikan adalah Cystatin C yang merupakan penanda senyawa endogen. Kelebihan Cystatin C adalah tidak dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin (NKF, 2013). Menurut Newman (cit., Jahan, 2013), Cystatin C merupakan penanda yang lebih sensitif dari serum kreatinin.
44 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN