• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Secara Horizontal antara Ketentuan Perceraian di

Dalam dokumen KETENTUAN PERCERAIAN DI INDONESIA DAN MALADEWA (Halaman 101-112)

BAB IV PERBANDINGAN KETENTUAN PERCERAIAN MENURUT

B. Perbandingan Secara Horizontal antara Ketentuan Perceraian di

Penulis akan menjelaskan analisis perbandingan secara horizontal antara aturan kedua negara tersebut dengan melihat kepada persamaan dan perbedaannya. Adapun analisis mengenai persamaan dilakukan dari beberapa segi, antara lain: bentuk dan syarat sah perceraian, hakam (mediasi), dan rujuk. Sedangkan analisis mengenai perbedaan dilakukan dari beberapa segi yang meliputi: alasan perceraian, fasakh, hakam (mediasi), dan sanksi pelanggaran.

1. Persamaan

a. Bentuk dan Syarat Sah Perceraian

Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa memiliki kesamaan dalam hal bentuk perceraian. Adapun bentuk perceraian yang terdapat di kedua negara tersebut, antara lain: 1) cerai talak; 2) cerai gugat; 3) khuluk; dan 4) fasakh. Keempat bentuk perceraian ini tertulis pada kedua kitab undang-undang yang ada di negara masing-masing. Namun, perlu diketahui bahwa dalam konteks hukum keluarga di Indonesia, istilah khuluk tidak seperti yang didefinisikan dalam kitab-kitab fikih yang mana khuluk merupakan permintaan istri kepada suami dengan memberikan `iwâd agar suami menceraikannya, melainkan khuluk digolongkan ke dalam bentuk ta`lik talak dan termasuk ke dalam jenis cerai gugat.

Kemudian, agar perceraian yang dilaksanakan mendapatkan legalitas dari negara, maka perceraian tersebut harus dilakukan melalui mekanisme pengadilan. Tidak akan sah suatu perceraian apabila dilakukan di luar pengadilan. Konsep ini ditunjukkan secara sama oleh kedua negara dalam semua bentuk perceraian baik itu cerai talak, cerai gugat, khuluk, maupun fasakh harus dilakukan melalui mekanisme pengadilan. Begitupun mengenai khuluk dan fasakh, kedua negara tersebut menujukkan kesamaannya bahwa perceraian dengan jalan khuluk maupun fasakh dapat diakui sah selama dilakukan melalui mekanisme pengadilan.

Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua negara tersebut dalam hal definisi mengenai empat bentuk perceraian di atas. Kesamaan konsep tersebut terlihat dalam praktik yang dilaksanakan. Seperti halnya konsep yang ditemukan di

dalam cerai talak. Seorang suami yang hendak melakukan cerai talak terhadap istrinya mesti datang ke pengadilan untuk mendapatkan izin dari hakim untuk mengucapkan ikrar talak. Jatuhnya talak tersebut berlaku setelah proses pengucapan ikrar talak yang oleh seorang suami kepada istri. Artinya, talak tidak akan jatuh apabila suami tidak mengucapkan ikrar talak kepada istrinya setelah hakim memberikan izin kepadanya untuk mengucapkan ikrar talak.

Kesamaan konsep dalam hal cerai gugat antar kedua negara tersebut ditunjukkan melalui hasil putusan yang dikeluarkan apabila hakim mengabulkan gugatan cerai tersebut. Hasil putusan di kedua negara tersebut menjatuhkan talak

bâ`in sughrâ bagi kedua pasangan, yang mana tidak membolehkan sang suami

melakukan rujuk kepada istrinya, melainkan masih dibolehkan untuk melakukan akad baru apabila suami ataupun istri ingin melakukan perkawinan lagi.

b. Hakam dan Mediasi

Kesamaan lain juga ditunjukkan oleh Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa. Hal demikian terlihat dalam konsep hakam dan mediasi. Hakam menurut hukum keluarga masing-masing dapat berupa seseorang yang ditunjuk oleh pengadilan yang memeriksa perkara (mediasi di dalam pengadilan) atau dapat juga dipilihkan seseorang di luar pengadilan oleh para pihak yang bersangkutan untuk mendamaikan kedua belah pihak tersebut (mediasi di luar pengadilan).

Namun terdapat juga beberapa perbedaan konsep hakam dan mediasi antar kedua negara tersebut yang akan dijelaskan pada subbab berikutnya.

c. Rujuk

Kesamaan lain juga ditunjukkan oleh Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa. Hal demikian terlihat dalam hal istri memiliki hak untuk mengajukan keberatan atas kehendak rujuk dari bekas suaminya. Artinya, seorang suami yang ingin melakukan rujuk kepada bekas istrinya tidak dapat serta merta melakukannya dengan sesuka hati, melainkan harus ada persetujuan terlebih dahulu dari sang istri. Hal lain yang menjadi kesamaan dalam hal rujuk antar kedua negara tersebut ialah rujuk hanya berlaku bagi cerai talak raj`i yang istrinya masih dalam masa

`iddah. Sementara rujuk tidak dapat berlaku bagi perceraian yang dilakukan melalui

cerai gugat, khuluk, ataupun fasakh. 2. Perbedaan

a. Alasan Perceraian

Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa memiliki perbedaan mengenai alasan perceraian yang menjadi dasar pengajuan perceraian oleh pihak suami maupun istri ke pengadilan. Perbedaan tersebut ditunjukkan dalam hal keberlakuan alasan pengajuan perceraian bagi pihak suami maupun istri melalui mekanisme cerai talak ataupun cerai gugat.

Dalam Hukum Keluarga Indonesia, alasan perceraian berlaku bagi pihak suami maupun istri yang ingin mengajukan perceraian baik melalui mekanisme cerai talak ataupun cerai gugat. Artinya, agak sulit suatu perkara perceraian untuk diperiksa dan diputus oleh hakim apabila tidak dikemukakan alasan perceraian yang berdasar sesuai undang-undang. Hukum Keluarga Indonesia mengatur alasan perceraian di dalam Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975, Pasal 19 dan Kompilasi Hukum Islam, Pasal 116, yang berbunyi:

1) Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

2) Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya;

3) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;

4) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain;

5) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri;

6) Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga;

8) Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.27

Bila diperhatikan dengan cermat, keberlakuan alasan perceraian bagi kedua belah pihak baik pihak suami maupun pihak istri terlihat dari bentuk frasa yang menyebutkan “salah satu pihak” atau “antara suami dan istri”. Melalui frasa kalimat ini dapat diambil kesimpulan bahwa alasan perceraian yang dimaksud dalam pasal tersebut berlaku secara sama bagi suami maupun istri.

Sedangkan dalam Hukum Keluarga Maladewa, alasan perceraian yang menjadi dasar dibolehkannya mengajukan perceraian ke pengadilan hanya berlaku bagi cerai gugat dan tidak berlaku bagi cerai talak. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya alasan pengajuan perceraian yang secara eksplisit disebutkan dalam UU Keluarga Maladewa bagi cerai talak. Dengan kata lain, apabila seorang suami ingin menceraikan istrinya maka tidak diperlukan alasan yang terikat dalam undang-undang, melainkan ia dapat mengajukan perceraian ke pengadilan dengan alasan apapun. Sedangkan apabila istri yang ingin mengajukan cerai gugat maka perlu didasari atas alasan-alasan yang telah diatur dalam undang-undang. Hal tersebut tertuang pada pasal 24 a Undang-Undang Keluarga Maladewa Nomor 4 Tahun 2000, yang menguraikan alasan cerai gugat sebagai berikut:

1) Suami melakukan tindakan yang merendahkan martabat istri; 2) Suami memperlakukan istri dengan tindak kekejaman;

3) Suami memaksa istri untuk melakukan tindakan yang dilarang oleh agama (Islam);

4) Suami dengan tanpa alasan menahan diri untuk melakukan hubungan badan dengan istri dalam waktu lebih dari empat bulan.28

27 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975, Pasal 19 dan Kompilasi Hukum Islam, Pasal 116.

b. Fasakh

Secara garis besar, Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa memiliki dua perbedaan mengenai fasakh. Perbedaan pertama terdapat dalam hal materi muatan yang terkandung dalam alasan fasakh dan perbedaan kedua terdapat dalam hal siapakah pihak yang berwenang mengajukan fasakh ke pengadilan.

Indonesia mengatur alasan fasakh dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 70 dan 71, yang diuraikan sebagaimana berikut:

Pasal 70 menguraikan bahwa perkawinan batal apabila:

1) Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak melakukan akad nikah karena sudah mempunyai empat orang istri sekalipun salah satu dari keempat istrinya dalam iddah talak raj`i;

2) Seseorang menikahi bekas istrinya yang telah di-li`annya;

3) Seseorang menikah bekas istrinya yang pernah dijatuhi tiga kali talak olehnya, kecuali bila bekas istri tersebut pernah menikah dengan pria lain kemudian bercerai lagi ba`da al dukhul dan pria tersebut dan telah habis masa iddahnya;

4) Perkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan darah; semenda dan sesusuan sampai derajat tertentu yang menghalangi perkawinan menurut pasal 8 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, yaitu : a) Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas. b) Berhubungan darah dalam garis keturunan menyimpang yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya.

c) Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu atau ayah tiri.

d) Berhubungan sesusuan, yaitu orng tua sesusuan, anak sesusuan dan bibi atau paman sesusuan.

5) Istri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dan istri atau istri-istrinya.29

Kemudian dijelaskan pada pasal 71 bahwa suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila:

1) Seorang suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama;

2) Perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi istri pria lain yang mafqud.

3) Perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah dan suami lain; 4) Perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan sebagaimana

ditetapkan dalam pasal 7 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974;

5) Perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak;

6) Perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan.30

Sedangkan Maladewa mengatur perihal alasan fasakh pada pasal 28 Undang-Undang Keluarga Maladewa Nomor 4 Tahun 2000, yang diuraikan sebagai berikut:

1) Keberadaan suami sudah tidak diketahui selama selang waktu lebih dari satu tahun;

2) Suami tidak memberikan nafkah dalam waktu melebihi tiga bulan berturut-turut, dan perkara ini sudah diajukan dua kali ke pengadilan serta suami juga telah menerima dua kali perintah dari pengadilan tersebut untuk memberikan nafkah, akan tetapi suami mengabaikan perintah pengadilan tersebut;

3) Suami menderita impotensi secara seksual akan tetapi istri tidak menyadarinya pada saat awal perkawinan serta pengadilan sudah berpendapat memiliki cukup bukti tentang impotensi yang diderita oleh suami setelah istri mengajukan gugatan;

4) Suami hilang akal sehat atau gila dalam waktu lebih dari dua tahun;

29 Kompilasi Hukum Islam, Pasal 70. 30 Kompilasi Hukum Islam, Pasal 71.

5) Suami mengalami penyakit akut menular yang penyembuhannya belum ditemukan;

6) Terjadinya peristiwa lain yang menyebabkan perkawinan dibatalkan (fasakh) menurut syariah.31

Dari uraian pasal mengenai alasan fasakh di atas dapat ditarik perspektif dalam hal perbedaan perihal materi muatan dalam alasan fasakh pada Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa. Hal tersebut terlihat melalui corak dari pada alasan fasakh tersebut. Corak alasan fasakh menurut Hukum Keluarga Indonesia lebih menjelaskan pada hal-hal yang menentang rukun dan syarat perkawinan, sehingga perkawinan harus dibatalkan. Sedangkan corak alasan fasakh dalam Hukum Keluarga Maladewa secara garis besar lebih menjelaskan kepada ketidakmampuan suatu perkawinan untuk dapat berlanjut karena alasan-alasan yang datang dari suami baik karena suami melalaikan kewajibannya ataupun alasan tersebut bersifat di luar kendali kemampuan manusia.

Di samping perbedaan mengenai materi muatan alasan fasakh, hal lain yang juga merupakan perbedaan terdapat dalam hal siapakah pihak yang berwenang dalam mengajukan fasakh ke pengadilan.

Dalam aturan Hukum Keluarga Indonesia, pihak-pihak yang dapat mengajukan fasakh ke pengadilan tercantum pada pasal 73 Kompilasi Hukum Islam, antara lain: 1) para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari pihak suami ataupun istri; 2) suami atau istri; 3) pejabat yang berwenang mengawasi pelaksanaan perkawinan menurut undang-undang; dan 4) para pihak berkepentingan yang mengetahui adanya cacat dalam rukun dan syarat perkawinan menurut hukum Islam dan Peraturan Perundang-undangan.

Sedangkan dalam aturan Hukum Keluarga Maladewa, pihak yang dapat mengajukan fasakh hanyalah pihak istri, sedangkan pihak suami tidak dapat mengajukan fasakh ke pengadilan. Hal ini dapat dilihat dari awal redaksi pasal 28 UU Keluarga Maladewa No. 4 Tahun 2000 yang secara eksplisit hanya

menyebutkan pihak istri sebagaima berbunyi: “Apabila istri mengajukan

perceraian ke pengadilan dengan alasan yang tercantum di bawah ini (Fasakh)...”.

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan, bahwa pihak yang dapat mengajukan fasakh dalam Hukum Keluarga Maladewa hanyalah pihak istri saja. Sedangkan menurut Hukum Keluarga Indonesia, pihak suami maupun istri memiliki hak yang sama dalam mengajukan fasakh ke pengadilan. Namun selain suami dan istri, Indonesia lebih memperluas lagi pihak yang dapat mengajukan fasakh ke pengadilan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

c. Hakam dan Mediasi

Pada pembahasan subbab sebelumnya, sudah dibahas mengenai persamaan konsep mediasi yang terdapat dalam aturan Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa. Pada pembahasan kali ini, akan dibahas mengenai perbedaan konsep mediasi dari kedua negara tersebut.

Perbedaan pertama terdapat dalam hal kondisi yang menyebabkan dilaksanakannya mediasi atau tidak. Dalam aturan hukum di Maladewa, mediasi dilaksanakan apabila:

1) Perceraian diajukan atas inisiatif suami (cerai talak), dan kemudian istri menyatakan ketidaksetujuannya untuk dicerai, maka sebelum persidangan dilanjutkan terlebih dahulu harus diadakan mediasi.32 Namun apabila saat di pengadilan tersebut, ternyata istri menyatakan persetujuannya untuk dicerai, maka persidangan dapat dilanjutkan tanpa melakukan mediasi.33 2) Apabila perceraian diajukan atas inisiatif istri (cerai gugat). Dalam kasus

seperti ini, baik suami menyatakan persetujuannya ataupun tidak, mediasi harus terlebih dahulu dilakukan sebelum persidangan dilanjutkan.

Berbeda dengan Maladewa, di Indonesia tidak ada kondisi yang menyebabkan mediasi dilaksanakan atau tidak. Karena dalam aturan hukum di Indonesia, mediasi

32 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 23 c. 33 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 23 b.

wajib dilaksanakan bagi perkara perdata baik dalam proses berperkara di pengadilan baik melalui peradilan umum maupun peradilan agama. Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2016 pasal 4 ayat 1, bahwa:

“semua sengketa perdata yang diajukan ke Pengadilan termasuk perkara

perlawanan (verzet) atas putusan verstek dan perlawanan pihak berperkara (partij verzet) maupun pihak ketiga (derden verzet) terhadap pelaksanaan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, wajib terlebih dahulu diupayakan penyelesaian melalui mediasi, kecuali ditentukan lain berdasarkan Peraturan Mahkamah Agung ini”.

Sesuai dengan bunyi pasal di atas, maka perkara perceraian juga termasuk ke dalam perkara perdata yang wajib terlebih dahulu dilaksanakan mediasi. Pelaksanaan mediasi wajib dilakukan tanpa memandang apakah perkara yang diajukan merupakan cerai talak atau cerai gugat dan juga tidak memandang apakah salah satu pihak merasa keberatan atau tidak keberatan atas pengajuan perceraian tersebut.

Perbedaan lain yang ditunjukkan oleh kedua negara tersebut terlihat dalam hal lama waktu pelaksanaan mediasi. Dalam aturan mediasi di Indonesia, lama waktu pelaksanaan mediasi ialah 30 hari terhitung sejak penetapan perintah melakukan mediasi. Namun atas dasar kesepakatan para pihak, jangka waktu pelaksanaan mediasi dapat diperpanjang sampai 30 hari berikutnya terhitung sejak pelaksanaan mediasi awal dilakukan.34 Sementara lama waktu pelaksanaan mediasi di Maladewa ialah maksimal 3 bulan atau 90 hari setelah hakim pengadilan memerintahkan untuk melaksanakan mediasi.35

34 Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2016, Pasal 24 ayat 2 dan 3. 35 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 25 a.

d. Sanksi Pelanggaran

Dalam hal sanksi pelanggaran mengenai perceraian, Hukum Keluarga Maladewa memiliki aturan terkait hal tersebut sedangkan Hukum Keluarga Indonesia tidak memilikinya.

Aturan mengenai sanksi pelanggaran di Maladewa terkait perceraian antara lain:

1) Perceraian yang dilakukan di luar pengadilan. Pelanggaran tersebut mengakibatkan pelakunya dijerat dengan hukuman denda yang besarnya tidak melebihi Mrf500036 atau diasingkan ataupun menjadi tahanan rumah dalam waktu tidak lebih dari 6 bulan.37

2) Meneruskan hubungan suami istri yang telah bercerai tanpa melakukan rujuk melalui mekanisme pengadilan. Pelanggaran tersebut mengakibatkan pelakunya dijerat dengan hukuman denda tidak lebih dari Mrf1000 atau diasingkan ataupun menjadi tahanan rumah dalam waktu tidak lebih dari 6 bulan.38

Tabel 4.3: Perbandingan Horizontal mengenai Persamaan Ketentuan Perceraian dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa

No Perihal Persamaan

1 Syarat Sah Perceraian

Kedua negara sama-sama mewajibkan perceraian dilakukan di pengadilan

2 Bentuk Perceraian Kedua negara memiliki bentuk perceraian yang sama antara lain: 1) cerai talak; 2) cerai gugat; 3) khuluk; dan 4) fasakh

3 Putusan Cerai Gugat Putusan hakim bagi cerai gugat ialah talak bai`in

sughrâ

36 Maldivian rufiyaa (mata uang negara Republik Maladewa) 37 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 67.

4 Hakam dan Mediasi Mediasi dapat dilakukan di pengadilan ataupun di luar pengadilan

5 Rujuk Pelaksanaan rujuk harus mendapatkan persetujuan istri

Tabel 4.4: Perbandingan Horizontal mengenai Perbedaan Ketentuan Perceraian dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa

No Perihal Perbedaan Hukum Keluarga Indonesia Hukum Keluarga Maladewa 1 Alasan Perceraian Alasan pengajuan perceraian berlaku bagi pihak suami maupun istri

Alasan pengajuan perceraian hanya berlaku bagi pihak istri

2 Fasakh Corak alasan fasakh lebih menjelaskan kepada hal yang menentang syarat dan rukun perkawinan;

Corak alasan fasakh lebih menjelaskan kepada ketidakmampuan suatu perkawinan untuk dapat berlanjut karena alasan-alasan yang datang dari suami baik karena suami melalaikan kewajibannya ataupun alasan tersebut bersifat di luar kendali kemampuan manusia. Suami istri memiliki hak

yang sama dalam mengajukan fasakh ke pengadilan

Hanya istri yang memiliki hak untuk mengajukan fasakh ke pengadilan

3 Hakam dan Mediasi

Mediasi berlaku tanpa syarat bagi cerai talak maupun cerai gugat

Mediasi berlaku dengan syarat bagi cerai talak dan berlaku tanpa syarat bagi cerai gugat

Lama waktu pelaksanaan mediasi maksimal 60 hari

Lama waktu pelaksanaan mediasi maksimal 90 hari 5 Sanksi

Pelanggaran

Tidak diatur perihal sanksi pelanggaran

Terdapat sanksi pelanggaran bagi suami dan istri dalam perkara perceraian di luar pengadilan dan rujuk di luar pengadilan

C. Perbandingan Secara Diagonal antara Ketentuan Perceraian di Indonesia

Dalam dokumen KETENTUAN PERCERAIAN DI INDONESIA DAN MALADEWA (Halaman 101-112)

Dokumen terkait