MALADEWA
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh:
MOHAMMAD ALI HAIDAR NIM. 11160440000071
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
ii
KETENTUAN PERCERAIAN DI INDONESIA DAN
MALADEWA
Skripsi
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Hukum (S.H.)
Oleh:
MOHAMMAD ALI HAIDAR NIM. 11160440000071
Pembimbing:
Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum. NIP. 19570408 198603 1 002
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
iii
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya, yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata Satu (S1) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Pengutipan dalam skripsi ini telah dicantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; 3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 7 April 2020
iv
Skripsi berjudul “KETENTUAN PERCERAIAN DI INDONESIA DAN MALADEWA”, telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 15 April 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Strata Satu (S1) Sarjana Hukum (S.H.) pada Program Studi Hukum Keluarga.
Jakarta, 15 April 2020 Mengesahkan,
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum
Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., S.H., M.H., M.A.
PANITIA UJIAN MUNAQASYAH
1. Ketua : Dr. Hj. Mesraini, S.H., M.Ag. NIP. 19760213 200312 2 001
(...) 2. Sekretaris : Ahmad Chairul Hadi, M.A.
NIP. 19720531 200710 1 002
(...) 3. Pembimbing : Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum.
NIP. 19570408 198603 1 002
(...) 4. Penguji I : Dr. Ahmad Tholabi Kharlie,
S.Ag., S.H., M.H., M.A.
NIP. 19760807 200312 1 001 (...) 5. Penguji II : Drs. H. Wahyu Widiana, M.A.
NIP. 19520918 197803 1 003
v
Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1441 H/2020 M.
Skripsi ini bertujuan untuk menjelaskan perbandingan secara vertikal, horizontal, dan diagonal mengenai ketentuan perceraian yang meliputi syarat sah perceraian, bentuk perceraian, alasan perceraian, hakam dan mediasi, rujuk, dan sanksi pelanggaran dalam perbandingannya antara Fikih Syafi`i, Hukum Keluarga Indonesia, dan Hukum Keluarga Maladewa.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan yuridis normatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui kajian kepustakaan (library research) dengan melakukan pengkajian terhadap kitab fikih klasik dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan judul skripsi ini.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara perbandingan vertikal, Hukum Keluarga Indonesia dan Hukum Keluarga Maladewa sama-sama telah melakukan pembaruan atau telah beranjak dari aturan yang terdapat dalam Fikih Syafi`i. Namun keberanjakan Hukum Keluarga Indonesia dari Fikih Syafi`i terlampau lebih jauh dibandingkan dengan keberanjakan Hukum Keluarga Maladewa dari Fikih Syafi`i. Sedangkan secara perbandingan horizontal, Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa memiliki persamaan sekaligus perbedaan. Persamaan tersebut dapat dilihat dari segi syarat sah perceraian yang mengharuskan perceraian dilakukan di pengadilan; bentuk perceraian yang meliputi 1) cerai talak 2) cerai gugat 3) khuluk dan 4) fasakh; putusan cerai gugat yang tergolong kepada talak bâ`in sughrâ; hakam dan mediasi yang dapat dilakukan di pengadilan ataupun di luar pengadilan, dan; pelaksanaan rujuk yang harus mendapatkan persetujuan istri. Sedangkan perbedaan masing-masing negara dapat dilihat dari segi alasan perceraian, fasakh, hakam dan mediasi, serta sanksi pelanggaran. Kemudian, secara perbandingan diagonal, Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa memiliki poin keunggulannya masing-masing. Adapun Indonesia memiliki keunggulan dalam hal alasan perceraian yang diberlakukan secara setara bagi pihak suami ataupun istri dan pelaksanaan mediasi dilakukan tanpa syarat bagi cerai talak maupun cerai gugat. Sedangkan poin keunggulan yang dimiliki Maladewa ialah terletak pada adanya sanksi pelanggaran bagi perceraian atau rujuk yang dilakukan di luar pengadilan. Kata kunci : Perceraian, Maladewa, Indonesia.
Pembimbing : Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum. Daftar Pustaka : 1967 s.d. 2020
vi
Hal yang dimaksud dengan transliterasi adalah alih aksara dari tulisan asing (terutama Arab) ke dalam tulisan Latin. Pedoman ini digunakan untuk beberapa istilah Arab yang belum dapat diakui sebagai kata dalam bahasa Indonesia atau lingkup penggunaannya masih terbatas.
a. Padanan Aksara
Berikut adalah daftar aksara Arab dan padanannya dalam aksara Latin:
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا tidak dilambangkan
ب b be
ت t te
ث ts te dan es
ج j je
ح h ha dengan garis bawah
خ kh ka dan ha د d de ذ dz de dan zet ر r er ز z zet س s es ش sy es dan ye
ص s es dengan garis bawah
ض d de dengan garis bawah
vii غ gh ge dan ha ف f ef ق q qo ك k ka ل l ef م m em ن n en و w we ه h ha ء ` apostrof ي y ya b. Vokal
Dalam bahasa Arab, vokal sama seperti dalam bahasa Indonesia, memiliki vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong. Untuk vokal tunggal atau
monoftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
ﹷ
a fathahviii
ﹹ
Sementara itu, untuk vokal rangkap atau diftong, ketentuan alih aksaranya sebagai berikut:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
ﹷ
ي ai a dan i
ﹷ
و au a dan u
c. Vokal Panjang
Ketentuan alih aksara vokal panjang (madd), yang dalam bahasa Arab dilambangkan dengan harakat dan huruf, yaitu:
Tanda Vokal Arab Tanda Vokal Latin Keterangan
ﹷ
ا â a dengan topi di atas
ﹻ
ي î i dengan topi di atas
ﹹ
و û u dengan topi di atas
d. Kata Sandang
Kata sandang, dalam bahasa Arab dilambangkan dengan huruf alif dan lam (لا), dialihaksarakan menjadi huruf “l” (el), baik diikuti huruf syamsiyyah atau huruf
qamariyyah, misalnya:
داهتجلاا = al-ijtihâd
ix diikuti oleh huruf-huruf syamsiyyah. Misalnya:
ةعفشلا = al-syufah, tidak ditulis asy-syuf’ah
f. Ta Marbûtah
Jika ta marbûtah terdapat pada kata yang berdiri sendiri (lihat contoh 1) atau diikuti oleh kata sifat (na’t) (lihat contoh 2), maka huruf ta marbûtah tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “h” (ha). Jika huruf ta marbûtah tersebut diikuti dengan kata benda (ism), maka huruf tersebut dialihaksarakan menjadi huruf “t” (te) (lihat contoh 3).
No Kata Arab Alih Aksara
1 ةعيرش syarî’ah
2 ةيملاسلإا ةعيرشلا Al-syarî’ah al-islâmiyyah
3 بهاذملا ةنراقم Muqaranat al-madzâhib
g. Ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan
Huruf kapital tidak dikenal dalam tulisan Arab. Tetapi dalam transliterasi huruf ini tetap digunakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Perlu diketahui bahwa jika nama diri didahului oleh kata sandang, maka huruf yang ditulis dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya. Contoh: يراخبلا = al-Bukhâri, tidak ditulis Al-Bukhâri.
Beberapa ketentuan lain dalam EYD juga dapat diterapkan dalam alih aksara ini, misalnya ketentuan mengenai huruf cetak miring atau cetak tebal. Berkaitan dengan penulisan nama, untuk nama-nama yang berasal dari dunia Nusantara
x
bahasa Arab. Misalnya: Nuruddin al-Raniri, tidak ditulis Nûr al-Din al-Rânîri. h. Cara Penulisan Kata
Setiap kata, baik kata kerja (fi’il), kata benda (ism) atau huruf (harf), ditulis secara terpisah. Berikut adalah beberapa contoh alih aksara dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan di atas:
No Kata Arab Alih Aksara
1 تاروظحملا حيبت ةرورضلا al-darûrah tubîhu al-mahzûrat
2 يملاسلإا داصتقلاا al-iqtisad al-islâmî
3 هقفلا لوصأ usûl al-fiqh
4 ةحابلإا ءايشلأا يف لصلأا al-asl fî al-asyyâ` al-ibâhah
xi
skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Shallallah ‘Alayhi wa Sallam yang telah membawa umat dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh dengan cahaya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh berupa pihak yang membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini, baik berupa dukungan morel dan dukungan materiel. Oleh karena itu, penulis secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, S.Ag., S.H., M.H., M.A., selaku Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Ibu Dr. Hj. Mesraini, S.H., M.Ag., selaku Ketua Program Studi Hukum Keluarga dan Bapak Ahmad Chairul Hadi, M.A., selaku Sekretaris Program Studi Hukum Keluarga. Atas dukungan, arahan, serta bantuan kepada penulis, hingga akhirnya penulis mampu menyelesaikan jenjang perkuliahan strata satu ini dengan baik;
3. Bapak Dr. H. Muchtar Ali, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Atas bimbingan dan dukungan beliau, penulis terbantu dalam menyelesaikan skripsi ini dengan baik;
4. Ibu Dr. Maskufa, M.A., selaku Dosen Penasihat Akademik yang selalu memberikan saran serta masukan kepada penulis selama proses kegiatan akademik di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; 5. Kedua orang tua penulis, ayahanda tercinta Dr. H. Sapiudin, M.Ag. dan ibunda tercinta Hj. Yayah Sopiah, S.Ag. Terima kasih atas kasih sayang ayahanda dan ibunda yang tiada pernah lekang oleh waktu. Doa dan dukungan ayahanda dan ibunda selama ini selalu mengiringi perjalanan
xii
kemudahan dan kelancaran terutama dalam penulisan skripsi ini;
6. Kakanda tercinta, Yumna Hidayatin, S.Pd.I. dan Fauzan Hidayatullah, S.Kom.I. beserta adinda tersayang, Halwa Shaima dan Muhammad Fawaz Khatami, yang selalu memberikan penulis semangat dan gairah dalam kehidupan ini;
7. Para Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, yang telah mendidik dan membagikan ilmunya kepada penulis;
8. Keluarga besar Hukum Keluarga 2016 yang selalu memberikan warna kehidupan penulis selama berada di kampus tercinta;
9. Isyfi Anny Azmi Al-Rozi dan Lutfi Abdul Latif yang telah banyak membantu penulis dalam mengumpulkan bahan referensi skripsi ini; 10. Serta Sahabat-Sahabat terbaik, khususnya Lutfi Abdul Latif, Raja
Muhammad Mansor, Megat Ahmad Najeeb, Ruslina Muleng, Muhammad Fathan Radhiyan, Bintang Garda Nusantara, Iqbal Farisi, Muhammad Ainur Rifqy, dan sahabat-sahabat penulis lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu dalam kata pengantar ini, yang kesemuanya telah mendukung serta memberikan semangat kepada penulis.
Dari lubuk hati terdalam, penulis berharap semoga Allah Subhânahu wa Ta`âlâ membalas semua kebaikan mereka dan melindungi mereka di dunia dan di akhirat kelak.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun penulis hanya berharap agar skripsi ini sedikit banyak memberikan manfaat bagi para pembaca.
Jakarta, 7 April 2020
xiii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... iv
ABSTRAK ... v
PEDOMAN TRANSLITERASI ... vi
KATA PENGANTAR ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah ... 7
1. Identifikasi Masalah ... 7
2. Pembatasan Masalah ... 8
3. Perumusan Masalah ... 8
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 9
1. Tujuan Penelitian ... 9
2. Manfaat Penelitian ... 9
D. Kajian Studi Terdahulu ... 10
E. Metode Penelitian ... 12
1. Jenis Penelitian ... 12
2. Pendekatan Penelitian... 13
3. Sumber Data ... 13
a. Sumber Data Primer ... 13
xiv
5. Metode Analisis Data ... 14
F. Sistematika Penulisan ... 15
BAB II PERCERAIAN MENURUT FIKIH SYAFI`I ... 16
A. Bentuk-Bentuk Perceraian ... 16
1. Talak ... 16
2. Khuluk ... 18
3. Fasakh ... 18
B. Hakam (Juru Damai dalam Mediasi) ... 19
C. Rujuk ... 20
D. Sanksi Pelanggaran ... 23
BAB III PERCERAIAN MENURUT HUKUM KELUARGA INDONESIA DAN MALADEWA... 24
A. Indonesia ... 24
1. Sejarah Hukum Keluarga di Indonesia ... 24
a. Masa Kerajaan Islam ... 24
b. Masa Penjajahan ... 25
c. Masa Setelah Kemerdekaan ... 26
2. Ketentuan Perceraian dalam Hukum Keluarga Indonesia .. 41
a. Bentuk-Bentuk Perceraian ... 41
b. Alasan Perceraian ... 52
c. Hakam dan Mediasi ... 53
d. Rujuk ... 56
xv
b. Alasan Perceraian ... 62
c. Hakam dan Mediasi ... 63
d. Rujuk ... 64
e. Sanksi Pelanggaran ... 65
BAB IV PERBANDINGAN KETENTUAN PERCERAIAN MENURUT FIKIH SYAFI`I DENGAN ATURAN DI INDONESIA DAN MALADEWA ... 66
A. Perbandingan Secara Vertikal Mengenai Ketentuan Perceraian di Indonesia dan Maladewa dengan Fikih Syafi`i ... 66
1. Syarat Sah Perceraian ... 66
2. Bentuk Perceraian ... 69
3. Alasan Perceraian ... 73
4. Hakam dan Mediasi ... 76
5. Rujuk ... 79
B. Perbandingan Secara Horizontal antara Ketentuan Perceraian di Indonesia dan Maladewa ... 85
1. Persamaan ... 85
a. Bentuk dan Syarat Sah Perceraian ... 85
b. Hakam dan Mediasi ... 86
c. Rujuk ... 86
2. Perbedaan... 87
xvi
c. Hakam dan Mediasi ... 92
d. Sanksi Pelanggaran ... 94
C. Perbandingan Secara Diagonal antara Ketentuan Perceraian di Indonesia dan Maladewa ... 96
BAB V PENUTUP ... 98
A. Kesimpulan ... 98
B. Saran ... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 100
1 A. Latar Belakang Masalah
Perceraian sebagai sebuah berakhirnya ikatan hubungan antara suami dan istri mendapatkan perhatian besar di dalam kajian fikih Islam. Dalam literatur fikih Islam, setidak-tidaknya empat mazhab fikih arus utama, yaitu Syâfi’iyyah,
Hanafiyyah, Mâlikiyyah, dan Hanâbilah membahas secara komprehensif tentang
perceraian di dalam karya monumentalnya masing-masing.
Dalam Islam, perceraian dipandang sebagai sebuah perbuatan yang dibolehkan namun paling dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebagaimana hadisyang diriwayatkan oleh Abu Daud:
، َرَ معُ ِنْب ِنَع
ِنَع
َّلَّ َص ِي ِبَّنلا
مالل
:ََّلَّ َسَو ِهْيَلَع
ِالل َلَ
ِ
ا ِلَلاَلحا مضَغْبَأ
َّزَع
َّلَجَو
مقَلا َطلا
1Artinya: “Dari Ibnu Umar, Dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi
Wasallam: Perbuatan yang dibolehkan namun paling dibenci Allah Subhanahu Wa Ta’ala ialah Talak (Perceraian)”. (Riwayat Abu Dawud).
Perceraian sejatinya diperbolehkan dalam Islam. Namun di sisi lain, perkawinan diorientasikan sebagai komitmen selamanya dan kekal. Kendati demikian, terkadang muncul keadaan-keadaan yang menyebabkan tujuan suci perkawinan gagal terealisasikan. Oleh karenanya tak jarang perkawinan berujung pada perceraian. Meskipun begitu, perceraian merupakan suatu hal yang dibenci dalam Islam walaupun kebolehannya sangat jelas.2 Putusnya perkawinan atau perceraian juga merupakan hal yang wajar saja, karena makna dasar sebuah akad nikah adalah ikatan perjanjian. Konsekuensinya, perkawinan dapat lepas (talak).
1 Abu Dawud Sulaiman, Sunan Abu Dawud, cet. pertama, (Beirut: Dar Risalah wa al-‘Alamiyyah, 2009), h. 505.
2 Ahmad Tholabi Kharlie, Hukum Keluarga Indonesia, cet ke-1, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), h. 228.
Karena makna dasar dari talak itu sendiri adalah melepaskan ikatan atau melepaskan perjanjian.3
Penyebab perceraian pun beragam. Dalam praktiknya, perceraian sering kali dilatarbelakangi oleh beberapa hal, seperti kemandulan dalam melahirkan anak, penyakit mental atau penyakit parah yang menghambat aktivitas seksual atau bahkan membahayakan pasangannya, ketidakmampuan pasangan dalam memenuhi kewajiban dalam berumah tangga, ketidakpatuhan istri terhadap suami, perkawinan yang dilandasi atas paksaan, bahkan percekcokan atau pertengkaran dalam rumah tangga yang sudah tidak dapat dicarikan jalan keluar.4
Menurut Sayid Qutb, perceraian menjadi sangat dibutuhkan dalam kondisi hubungan suami dan istri yang sudah dianggap berada di ambang kehancuran, bahkan bilamana dipaksa untuk dilanjutkan akan mendatangkan bahaya bagi suami, istri, maupun keluarga. Dalam keadaan seperti ini, mempertahankan rumah tangga merupakan perkara yang sia-sia. Namun tidak serta-merta ketika ada suami istri yang sedang berselisih, segera dilakukan pemutusan hubungan perkawinan tersebut dan membubarkannya secara total tatkala ucapan talak keluar. Terlebih dahulu harus ada upaya-upaya untuk menguatkan kembali ikatan perkawinan tersebut. Bilamana tak kunjung berhasil, maka dianjurkan untuk mengambil hakam satu orang dari masing-masing pihak untuk menjembatani dan berupaya untuk memulihkan keharmonisan di antara keduanya. Apabila memang perkawinan sudah benar-benar tidak dapat dipertahankan lagi, maka perceraian ialah jalan paling terakhir untuk masalah tersebut.5 Sejalan dengan yang diutarakan oleh Sayid Qutb, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah mengungkapkan bahwa perceraian merupakan jalan keluar bagi kesulitan yang dialami oleh pasangan suami istri yang
3 Amiur Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia: Studi
Kritis Perkembangan Hukum Islam dari Fikih, UU No. 1/1974 sampai KHI, cet. ke-6, (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2016), h. 206.
4 Aharon Layish, Marriage, Divorce, and Succession in The Druze Family, (Leiden: E. J. Brill, 1982), h. 138-141.
5 Sayyid Qutb, Fi Zilalil Quran, Jilid ke-8, cet. ke-5, (Beirut: Dar Haya Turats al-Arabi, 1967), h. 139.
tidak lagi dapat teratasi,6 namun upaya untuk menceraikan istri haruslah dilakukan dengan cara yang baik pula. Perceraian tidak boleh ditempuh dengan cara yang buruk, seperti mengeluarkan umpatan yang membuat satu sama lain merasa sakit hati, ataupun membuka aib dan kekurangan masing-masing.7
Dalam khazanah fikih Islam, terdapat beberapa bentuk perceraian, diantaranya: 1) perceraian karena kematian suami atau istri; 2) talak; 3) al-ila’; 4) zhihar; 5) khuluk; 6) mubara’ah; 7) lian; dan 8) fasakh.
Talak merupakan metode perceraian yang paling sederhana, dan secara hukum hanya bisa dilaksanakan oleh suami karena alasan tertentu atau tanpa alasan sama sekali. Di samping talak yang merupakan kewenangan suami, dikenal juga istilah khuluk yang memberikan hak bagi perempuan untuk menuntut perceraian kepada suami yang tidak lagi ia senangi. Namun keduanya bukan menjadi sarana main-main kedua pasangan, tetapi tetap menjadi jalan terakhir bagi penyelesaian masalah rumah tangga. Khuluk yang dilakukan oleh istri juga harus memenuhi syarat, yaitu persetujuan antara suami dan istri serta mengembalikan mahar atau memberikan tebusan kepada suami. Dengan adanya khuluk ini dapat diambil kesimpulan bahwa perempuan memiliki hak yang setara dengan laki-laki dalam menuntut pemutusan hubungan perkawinan. Setidaknya, hal ini dapat mengimbangi proses perceraian yang telah ada sebelum datangnya Islam, di mana laki-laki memiliki hak penuh dan mutlak dalam hal perceraian.8
Pada abad ke-20, negara-negara Dunia Islam mulai melakukan kodifikas hukum keluarga dari fikih mazhab ke dalam sistem hukum nasional masing-masing negara. Menurut Ahmad Al-Usairi, yang dimaksud dengan Dunia Islam adalah negara-negara yang persentase penduduk muslimnya lebih dari lima puluh persen dari keseluruhan jumlah penduduk. Pertimbangan jumlah ini merupakan pertimbangan pertama dan terpenting. Bahkan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tampak
6 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 14, cet. ke-8, (Jakarta: Lentera Hati, 2007), h. 291.
7 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an, ... , h. 295.
menjadikan persentase penduduk muslim ini sebagai standar utama dalam menerima dan menetapkan negara-negara yang berhak menjadi anggota OKI.9
Menurut Tahir Mahmood, terdapat tiga kelompok negara muslim apabila ditinjau dari aspek hukum keluarga nasionalnya, yaitu 1) kelompok negara muslim yang memberlakukan hukum keluarga yang bersumber dari fikih mazhab klasik mayoritas di masing-masing negara tersebut dengan tidak mengubah dan tidak pula mengkodifikasinya ke dalam sistem hukum nasional; 2) kelompok negara muslim yang tidak menggunakan atau meninggalkan hukum keluarga yang bersumber dari mazhab fikih klasik mayoritas di masing-masing negara tersebut, melainkan menggunakan undang-undang hukum keluarga modern konvensional; dan 3) kelompok negara muslim yang memberlakukan aturan hukum keluarga yang bersumber dari fikih mazhab klasik mayoritas di masing-masing negara tersebut dengan melakukan pembaharuan dan mengkodifikasinya ke dalam sistem hukum nasional masing-masing negara.10
Yang menjadi salah satu isu penting dari beberapa kelompok negara di atas dalam melakukan penyesuaian dengan perkembangan peradaban ialah upaya mereka dalam melakukan pembaharuan terhadap hukum keluarga nasionalnya. Atho Mudzhar berpendapat bahwa setidaknya terdapat empat tujuan sebuah negara muslim melakukan pembaruan terhadap hukum keluarganya. Pertama, unifikasi hukum yang berlaku untuk seluruh warga negara tanpa memandang agama. Kedua, unifikasi yang bertujuan untuk menyatukan dua aliran pokok dalam sejarah Muslim, yakni antara sunni dan syi`i, sebagai contoh Iran dan Irak. Ketiga, memadukan antar mazhab dalam sunni, karena di dalamnya ada pengikut mazhab-mazhab yang bersangkutan. Keempat, unifikasi dalam satu mazhab-mazhab tertentu, misalnya di kalangan pengikut Syâfi`iyyah, Hanâfiyyah, Mâlikiyyah atau
Hanâbilah.11
9 Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga di Dunia Islam, Ed. Revisi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), h. 156-158.
10 Tahir Mahmood, Family Law Reform in The Muslim World, (Bombay: N.M. Tripathi Pvt. Ltd., 1972), h. 2-3.
11 Atho Mudzhar dan Khairuddin Nasution, Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern, cet. ke-1, (Jakarta: Ciputat Press, 2003), h. 2.
Indonesia merupakan salah satu negara anggota OKI yang termasuk ke dalam golongan negara yang melakukan modifikasi atau pembaharuan ketentuan hukum keluarga dari fikih mazhab klasik untuk dipositivisasi ke dalam sistem hukum nasional. Hal ini dapat dilihat dari ketentuan hukum keluarga yang terkodifikasi dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975, dan Kompilasi Hukum Islam yang beranjak lebih progresif dari ketentuan fikih mazhab klasik.
Dalam sistem hukum Indonesia, perkawinan dapat putus karena tiga hal, yaitu 1) kematian; 2) perceraian; dan 3) atas putusan pengadilan.12 Dalam hal perceraian, ditegaskan bahwa perceraian haruslah dilakukan di pengadilan setelah pengadilan berupaya untuk mendamaikan kedua belah pihak. Apabila pengadilan gagal mendamaikan kedua belah pihak, maka pengadilan dapat menjatuhkan talak pada perkawinan pasangan tersebut. Hal itu pun harus ada cukup alasan bahwa perkawinan di antara keduanya benar-benar tidak dapat lagi rukun. Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pun juga ditegaskan bahwa seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya harus mengajukan permohonan, baik lisan maupun tulisan, kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan tersebut. Namun KHI agak berbeda dengan UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Di dalam KHI dibedakan antara perceraian yang diakibatkan karena talak dan perceraian karena gugatan perceraian. Permohonan cerai talak dilakukan oleh suami dan diajukan kepada Pengadilan Agama sedangkan gugatan perceraian diajukan oleh istri.13 Perbedaan ini memberikan konsekuensi yang berbeda, diantaranya istri tidak punya upaya hukum apa-apa, sedangkan suami mempunyai upaya hukum seperti biasanya dalam perkara perdata, yaitu hak banding dan kasasi.14
Selain Indonesia, ada negara lain yang juga menjadi negara anggota OKI, yaitu Republik Maladewa atau lebih sering dikenal Maldives. Republik Maladewa
12 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Republik Indonesia, Pasal 38. 13 Ahmad Tholabi Kharlie, Hukum Keluarga Indonesia, ... , h. 231. 14 Ahmad Tholabi Kharlie, Hukum Keluarga Indonesia, ... , h. 232.
terletak di tengah-tengah Samudera Hindia dan di sebelah selatan Sri Lanka dan India. Maladewa yang selama ini terkenal sebagai negara surga bagi para turis asing karena keindahan alam dan kemewahan wisata pantainya tergolong ke dalam negara kecil dengan jumlah penduduk kurang lebih 400.000 jiwa.15 Meskipun terbilang negara kecil, negara yang mayoritas penduduknya bermazhab Syafi`i16 ini menyimpan hal yang sangat menarik, yaitu kuatnya hubungan Islam dengan negara. Hal ini dibuktikan dengan beberapa pasal di dalam konstitusinya yang sangat mengistimewakan Islam. Di antaranya adalah dalam Pasal 2 Konstitusi Republik Maladewa tahun 2008, dijelaskan bahwa “Maladewa merupakan negara berdaulat,
merdeka, berbentuk republik demokratis yang berdasarkan atas prinsip Islam”.
Kemudian dalam pasal 9 d, disebutkan bahwa “Nonmuslim tidak dapat menjadi
warga negara Maladewa”. Terakhir di dalam pasal 10 disebutkan bahwa “Agama yang diakui oleh Maladewa adalah Islam. Islam menjadi salah satu sumber hukum dari semua hukum yang ada di Maladewa”.17
Meninjau beberapa isi konstitusi tersebut, posisi Islam menempati tempat yang sangat istimewa bahkan menjadi satu-satunya agama yang diakui dalam konstitusi Republik Maladewa. Islam juga disebutkan secara eksplisit dalam konstitusinya sebagai salah satu sumber hukum di Maladewa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seratus persen warga negara Maladewa ialah muslim, karena secara eksplisit disebutkan bahwa nonmuslim tidak boleh menjadi warga negara Maladewa. Beberapa hal tersebut menyebabkan undang-undang nasional di Maladewa dalam pembentukannya mendapatkan banyak pengaruh dari prinsip-prinsip Islam. Salah satunya ialah Undang-Undang Keluarga Republik Maladewa No. 4 Tahun 2000 yang merupakan hasil amandemen dari Undang-Undang Perkawinan dan Perceraian No. 3 Tahun 1980. Dalam undang-undang tersebut terdapat 75 pasal, yang 14 di antaranya merupakan pasal tentang ketentuan perceraian.
15 Profil Negara Republik Maladewa dalam Wikipedia berbahasa Inggris, https://en.wikipedia.org/wiki/Maldives, diakses pada 20 November 2019.
16 Abdullahi A. An-Na’im, Islamic Family Law in A Changing World: A Global Resource
Book, (London, New York: Zed Books Ltd, 2002), h. 227.
Selain pemaparan yang telah disampaikan sebelumnya, satu hal lainnya yang menjadi sorotan mengapa penulis menjatuhkan pilihan untuk meneliti tentang ketentuan perceraian di Maladewa ialah terjadinya penurunan angka perceraian yang cukup signifikan di negara tersebut setelah diundangkannya Undang-Undang Keluarga Republik Maladewa No. 4 Tahun 2000. Hal ini sebagaimana diekspos dalam laporan United Nation Fund for Population Activities (UNFPA) yang menyebutkan bahwa pada tahun 1999 Maladewa tercatat memiliki angka perceraian sebesar 28,14 perceraian yang terjadi setiap minggunya. Hingga kemudian pada tahun 2004 -tepat 3 tahun lebih setelah diundangkannya undang-undang tersebut-, angka perceraian di Maladewa akhirnya menurun ke angka 5,30 perceraian yang terjadi setiap minggunya.18 Hal ini menunjukkan penurunan angka perceraian yang cukup signifkan sehingga membuat penulis bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya tertulis dan diatur di dalam undang-undang tersebut, sehingga Maladewa berhasil menurunkan angka perceraian secara cukup signifikan tersebut. Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih jauh tentang bagaimanakah ketentuan perceraian dalam sistem hukum keluarga nasional di Republik Maladewa, maka penulis akan mengkaji hal tersebut dalam sebuah skripsi berjudul “Ketentuan Perceraian di Indonesia dan Maladewa”.
B. Identifikasi, Pembatasan, dan Perumusan Masalah 1. Identifikasi Masalah
a. Perlu diteliti lebih dalam mengenai aturan tentang ketentuan perceraian dalam sistem hukum nasional Maladewa;
b. Perlu dikaji lebih jauh mengenai aturan tentang ketentuan perceraian dalam sistem hukum nasional Indonesia;
c. Perlu ditelusuri lebih lanjut mengenai persamaan dan perbedaan ketentuan perceraian dalam sistem hukum keluarga nasional di Maladewa dan Indonesia;
18 United Nation Fund for Population Activities (UNFPA), A Report on Maldives Family
d. Perlu ditelusuri lebih dalam mengenai ketentuan perceraian menurut Fikih Syafi`i;
e. Perlu dikaji lebih dalam apakah Fikih Syafi`i mempengaruhi pembentukan hukum keluarga di Maladewa dan Indonesia terkhusus dalam hal ketentuan perceraian;
f. Perlu ditelusuri lebih dalam mengenai sejauh manakah ketentuan perceraian dalam hukum keluarga di Maladewa dan Indonesia bergeser dari pendapat Fikih Syafi`i.
2. Pembatasan Masalah
Untuk memfokuskan penelitian ini agar pembahasannya lebih jelas dan terarah, maka instrumen yang dikaji dibatasi hanya pada Undang-Undang RI No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jo. Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, Undang-Undang RI No. 7 Tahun 1989, Peraturan Pemerintah RI No. 9 Tahun 1975, Kompilasi Hukum Islam, Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2016 tentang Mediasi, Undang-Undang Keluarga Republik Maladewa No. 4 Tahun 2000, dan Ketentuan Perceraian dalam Fikih Syafi`i. Adapun objek kajian pada penelitian ini dibatasi hanya pada beberapa pokok bahasan, yaitu syarat sah perceraian, bentuk perceraian, alasan perceraian, hakam dan mediasi, rujuk, dan sanksi pelanggaran.
3. Perumusan Masalah
Permasalahan dalam skripsi ini dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana perbandingan ketentuan perceraian dalam Fikih Syafi`i, Hukum Keluarga Indonesia, dan Hukum Keluarga Maladewa secara analisis perbandingan vertikal, horizontal, dan diagonal?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, peneliti menyajikannya melalui beberapa pertanyaan penelitian sebagaimana di bawah ini:
a. Bagaimana Fikih Syafi`i mengatur ketentuan perceraian?
b. Bagaimana Hukum Keluarga Indonesia dan Hukum Keluarga Maladewa mengatur tentang ketentuan perceraian?
c. Sejauh mana keberanjakan ketentuan perceraian dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa dari Fikih Syafi`i?
d. Bagaimana persamaan dan perbedaan ketentuan perceraian dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa?
e. Bagaimana keunggulan ketentuan perceraian dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Maladewa?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dalam penyusunan skripsi ini ialah untuk mengetahui perbandingan vertikal, horizontal, dan diagonal antara Fikih Syafi`i, Hukum Keluarga Indonesia, dan Hukum Keluarga Maladewa mengenai ketentuan perceraian.
Di samping itu, ada beberapa tujuan lain yang akan dicapai dari penulisan skripsi ini, diantaranya:
a. Untuk mengetahui bagaimana Fikih Syafi`i mengatur ketentuan perceraian; b. Untuk mengetahui bagaimana Hukum Keluarga Indonesia dan Hukum
Keluarga Maladewa mengatur tentang ketentuan perceraian;
c. Untuk mengetahui sejauh mana keberanjakan ketentuan perceraian dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Hukum Keluarga Maladewa dari Fikih Syafi`i;
d. Untuk mengetahui bagaimana persamaan dan perbedaan ketentuan perceraian dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Hukum Keluarga Maladewa;
e. Untuk mengetahui bagaimana keunggulan dan kelemahan ketentuan perceraian dalam Hukum Keluarga Indonesia dan Hukum Keluarga Maladewa.
2. Manfaat Penelitian
a. Menjadi rujukan ilmiah bagi akademisi dalam mencari kajian tentang hukum keluarga di Maladewa khususnya tentang ketentuan perceraian;
b. Memperkaya objek bahasan dalam khazanah disiplin ilmu hukum keluarga di dunia Islam;
c. Menjadi bahan refleksi ataupun bahan evaluasi bagi ketentuan perceraian yang sedang berlaku di Indonesia maupun di Maladewa;
D. Kajian Studi Terdahulu
1. Tulisan dalam Jurnal Jindal Global Law Review yang berjudul “Transformations in Shari’ah Family Law in the Republic of Maldives” yang ditulis oleh Marium Jabyn. Tulisan ini menjelaskan tentang perubahan hukum keluarga di Maladewa setelah dikeluarkannya Maldives Family Act
4/2000. Dalam tulisan ini juga dijelaskan mengenai prospek dan masalah
yang mungkin akan muncul setelah diterbitkannya undang-undang tersebut.19
2. Tulisan dalam Jurnal International Journal of Business Education and
Management Studies (IJBEMS) yang berjudul “Reconciliation of Marriage: A Comparative Overview of the Law and Practice in Bangladesh and Maldives”, yang ditulis oleh Kamrul Hassan, Khadeeja Rasheed, dan Nora
Abdul Hak. Tulisan ini menjelaskan tentang perbedaan dalam aturan tentang mediasi perkara perceraian dan praktiknya di Bangladesh dan Maladewa.20
3. Tulisan dalam Jurnal Al-Qaḍâu yang berjudul “Perceraian dalam Perundang-Undangan Negara Muslim: Studi Perbandingan Hukum Keluarga Islam Pakistan, Mesir dan Indonesia” yang ditulis oleh Nur Taufiq Sanusi. Tulisan ini menjelaskan tentang persamaan dan perbedaan tentang ketentuan perceraian dalam aturan hukum keluarga di Pakistan, Mesir, dan
19 Marium Jabyn, “Transformations in Shari’ah Family Law in the Republic of Maldives”,
Jindal Global Law Review, Vol. 7, No. 1, Mei 2016.
20 Kamrul Hassan, dkk., “Reconciliation of Marriage: A Comparative Overview of the Law
and Practice in Bangladesh and Maldives”, International Journal of Business Education and Management Studies, Vol. 1, No. 1, Januari 2020.
Indonesia, serta menjelaskan tentang faktor sosiologis dan historis yang mempengaruhi pembentukan hukum pada masing-masing negara tersebut.21 4. Tulisan dalam Jurnal Al-Ahwâl UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang
berjudul “Hukum Perceraian di Indonesia: Studi Komparatif antara Fikih Konvensional, UU Kontemporer di Indonesia dan Negara-Negara Muslim Perspektif HAM dan CEDAW” yang ditulis oleh Moh. Afandi. Tulisan ini menjelaskan tentang hukum perceraian Indonesia yang dikomparasikan dengan Fikih Konvensional, aturan dalam hukum keluarga negara-negara di dunia Islam, dan CEDAW (Convention on Elimination of All
Discrimination Against Woman).22
5. Tulisan dalam Jurnal Istidlal yang berjudul “Prosedur Pencatatan Perkawinan dan Perceraian di Negara Indonesia dan Malaysia Perspektif Hukum Islam” yang ditulis oleh Fahmi Basyar. Tulisan ini menjelaskan tentang perbedaan dan persamaan prosedur pencatatan perkawinan dan perceraian antara hukum keluarga di Indonesia dan Malaysia dalam tinjauan hukum Islam.23
6. Skripsi berjudul “Perbandingan Fikih Mazhab dengan Hukum Keluarga di Indonesia dan Negara Brunei Darussalam tentang Perceraian” yang ditulis oleh Lutfah Rohmanah. Skripsi ini menjelaskan tentang perbandingan aturan hukum keluarga di Indonesia dan Brunei Darussalam mengenai ketentuan perceraian, masa idah qabla al-dukhûl, hakam atau mediator yang kemudian dikomparasikan dengan ketentuan Fikih Syafi`i.24
7. Skripsi berjudul “Mekanisme Cerai Talak dalam Hukum Keluarga Islam di Indonesia dan Tunisia” yang ditulis oleh Muhammad Ilman Anapi. Skripsi
21 Nur Taufiq Sanusi, “Perceraian dalam Perundang-Undangan Negara Muslim: Studi Perbandingan Hukum Keluarga Islam Pakistan, Mesir dan Indonesia”, Jurnal Al-Qaḍâu, Vol. 4, No. 2, Desember 2017.
22 Moh. Afandi, “Hukum Perceraian di Indonesia: Studi Komparatif antara Fikih Konvensional, UU Kontemporer di Indonesia dan Negara-Negara Muslim Perspektif HAM dan CEDAW”, Jurnal Al-Ahwâl, Vol. 7, No. 2, 2014.
23 Fahmi Basyar, “Prosedur Pencatatan Perkawinan dan Perceraian di Negara Indonesia dan Malaysia Perspektif Hukum Islam”, Jurnal Istidlal, Vol. 1, No. 1, April 2017.
24 Lutfah Rohmanah, “Perbandingan Fikih Mazhab dengan Hukum Keluarga di Indonesia dan Negara Brunei Darussalam tentang Perceraian”, (Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2019).
ini menjelaskan tentang bagaimana mekanisme cerai talak dalam hukum keluarga di Indonesia dan Tunisia serta menjelaskan apa yang menjadi persamaan dan perbedaan dalam mekanisme cerai talak di kedua negara tersebut.25
Perbedaan antara tulisan-tulisan yang telah dipaparkan di atas dengan skripsi ini adalah objek penelitian ini difokuskan kepada pembahasan perbandingan ketentuan perceraian di Indonesia dan Maladewa dengan melihat keberanjakannya dari Fikih Syafi`i. Selain itu objek penelitian ini juga difokuskan kepada perbandingan ketentuan perceraian kedua negara tersebut dengan meninjau kepada persamaan, perbedaan, dan keunggulannya masing-masing.
E. Metode Penelitian
Menurut Soerjono Soekanto, penelitian ialah suatu upaya yang dilakukan manusia untuk memperkuat, membina, serta mengembangkan konstruksi ilmu pengetahuan secara metodologis, sistematis dan konsisten.26
Dalam penelitian ini, penulis menerapkan metode penelitian sebagai berikut: 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif ialah suatu strategi pertanyaan yang menekankan pada pencarian makna, pengertian, konsep, karakteristik, gejala, simbol, maupun deskripsi tentang suatu fenomena; fokus dan multimetode, bersifat alami dan holistik; mengutamakan kualitas, menggunakan beberapa cara, serta disajikan secara naratif.27 Dalam penelitian ini, metode penelitian kualitatif digunakan untuk menjelaskan ketentuan perceraian yang diatur oleh undang-undang hukum keluarga di Maladewa dalam kacamata perbandingan
25 Muhammad Ilman Anapi, “Mekanisme Cerai Talak dalam Hukum Keluarga Islam di Indonesia dan Tunisia”, (Skripsi Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018).
26 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, cet. ke-3, (Jakarta: UI-Press, 1986), h. 3.
27 A. Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, cet. ke-1, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 329.
dari segi persamaan dan perbedaannya dengan undang-undang hukum keluarga di Indonesia dan ketentuan Fikih Syafi`i.
2. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan penelitian yuridis normatif. Penelitian yuridis normatif sering dikonsepsikan sebagai apa yang tertulis dalam peraturan perundang-undangan (law in book).28 Hukum dipandang sebagai suatu sistem peraturan-peraturan yang abstrak atau institusi sosial yang otonom sehingga hukum dipandang mandiri dan terlepas dari segala hal di luar peraturan-peraturan tersebut.29 Menurut Soerjono Soekanto penelitian yuridis normatif merupakan penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka seperti norma dasar, peraturan perundang-undangan, peraturan yang tidak terkodifikasi (hukum adat), yurisprudensi, traktat, atau kajian lain yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti.30
3. Sumber Data
Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggali bahan informasi dengan mengacu kepada dua jenis sumber data penelitian, yaitu data primer dan data sekunder. Adapun perinciannya sebagai berikut:
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah bahan hukum otoritatif yang berarti mempunyai otoritas.31 Dalam penelitian ini, data primer yang digunakan ialah UU Keluarga Maladewa No. 4 Tahun 2000, UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 tentang pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974, Kompilasi Hukum Islam, dan Kitab Al-Umm karangan Imam Asy-Syafi`i.
28 Jonaedi Efendi dan Johnny Ibrahim, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, cet. ke-2, (Depok: Prenadamedia Group, 2018), h. 124.
29 Fahmi Muhammad Ahmadi dan Jaenal Aripin, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010), h. 10.
30 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan
Singkat, ed. ke-1, cet. ke-13, (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), h. 13.
31 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, cet. ke-10 (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), h. 181.
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah buku teks. Karena buku teks berisi mengenai prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan pandangan-pandangan klasik para sarjana yang mempunyai kualifikasi tinggi.32 Data sekunder yang penulis rujuk dalam penelitian ini ialah buku teks, jurnal, ataupun karya ilmiah lainnya tentang ketentuan perceraian di Indonesia, Maladewa, dan ketentuan perceraian menurut Fikih Syafi`i.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini didasarkan pada kajian kepustakaan (library research). Kajian kepustakaan ialah upaya pengidentifikasian secara sistematis dan melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan tema, objek, dan masalah penelitian yang akan dilakukan.33
5. Metode Analisis Data
Metode analisis data dalam penelitian ini ialah deskriptif-kualitatif dengan menganalisis konten kitab Fikih Syafi`i dan materi undang-undang perkawinan Indonesia dan Maladewa tentang ketentuan perceraian. Data yang diperoleh dari objek tersebut dihimpun untuk kemudian diperbandingkan. Metode perbandingan dilakukan melalui tiga aspek analisis, yaitu analisis perbandingan vertikal, horizontal, dan diagonal. Analisis perbandingan vertikal meliputi analisis keberanjakan ketentuan perceraian di Indonesia dan Maladewa dari Fikih Syafi`i. Adapun Fikih Syafi`i dijadikan variabel dalam perbandingan vertikal ini karena didasari atas mayoritas mazhab kedua negara tersebut, yaitu Syâfi`iyyah. Kemudian, analisis perbandingan horizontal meliputi analisis persamaan dan perbedaan mengenai ketentuan perceraian antara hukum keluarga Indonesia dan Maladewa. Terakhir, analisis perbandingan diagonal meliputi analisis perbedaan aturan antara Indonesia dan Maladewa beserta dengan tingkat perbedaannya
32 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, ... , h. 182.
masing-masing,34 atau dalam kata lain dapat diartikan dengan analisis mengenai keunggulan aturan kedua negara tersebut.
F. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran tentang kerangka dan skema penulisan skripsi ini, maka penulis menguraikan sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut:
BAB I, Pendahuluan. Bagian ini berisi latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kajian studi terdahulu, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II berisi tentang ketentuan perceraian menurut Fikih Syafi`i yang di dalamnya akan dibahas tentang sub pembahasan tentang bentuk-bentuk perceraian, hakam (juru damai dalam mediasi), rujuk, dan sanksi pelanggaran.
BAB III berisi tentang penjelasan mengenai ketentuan perceraian dalam hukum keluarga di Indonesia dan Maladewa dan juga pembahasan mengenai sejarah hukum keluarga kedua negara tersebut.
BAB IV berisi tentang analisis perbandingan ketentuan perceraian dalam tiga dimensi variabel, yaitu Fikih Syafi`i, hukum keluarga Indonesia, dan hukum keluarga Maladewa melalui kacamata analisis perbandingan vertikal, perbandingan horizontal, dan perbandingan diagonal.
BAB V, Penutup. Bagian ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan serta saran-saran yang direkomendasikan bagi peneliti berikutnya yang akan mengambil fokus tema yang sama dengan penelitian ini.
34 Mesraini, Hak-Hak Perempuan Pascacerai di Asia Tenggara (Studi
Perundang-undangan Perkawinan Indonesia dan Malaysia), cet. ke-1, (Tangerang Selatan: Pusat Studi dan
16
PERCERAIAN MENURUT FIKIH SYAFI`I
Perceraian menjadi salah satu topik penting yang dibahas di dalam literatur Fikih Syafi`i. Berdasarkan hasil penelusuran penulis terhadap kitab karangan Imam Syafi`i yang berjudul Al-Umm, ditemukan beberapa pokok bahasan mengenai peceraian. Di bawah ini penulis paparkan hasil penelusuran tersebut secara sederhana dan ringkas.
A. Bentuk-Bentuk Perceraian
Imam Syafi`i berpendapat bahwa perceraian/pemutusan hubungan suami istri itu bermacam-macam, namun semuanya tercakup dalam kata furqah (perpisahan). Adapun masing-masing cara pemutusan hubungan itu memiliki istilah tersendiri, diantaranya adalah talak.1 Di samping itu, adapula bentuk perceraian/pemutusan hubungan suami istri lainnya yang juga tercatat di dalam kitab al-Umm, yaitu fasakh dan khuluk.
1. Talak
Talak adalah pemutusan hubungan yang dijatuhkan oleh pihak suami kepada istri, baik berupa perkataan yang tegas ataupun perkataan yang mirip dengan talak dan diniatkan oleh suami sebagai talak. Begitu pula, apabila suami menyerahkan kepada istrinya agar ia menceraikan dirinya sendiri, atau apabila suami menyerahkan kepada orang lain agar orang lain tersebut menceraikannya dengan istrinya, maka hal ini sama seperti talak yang dilakukannya sendiri, sebab semuanya terjadi atas perintahnya.2
Talak merupakan suatu yang diperbolehkan bagi setiap suami. Sebagaimana terdapat beberapa ayat dalam Alquran yang menjelaskan tentang talak:
َةَّدِعۡل أ ْاو مصۡحَأَو َّنِ ِتَِّدِعِل َّنمهومقِيل َطَف َءَٰٓا َسِينل
أ م متُۡقَّلَط اَذ
ا ه ِبَّنل أ اَهيَُّأَٰٓ َي
ِ
اومقَّتاَو
مْمكَّبَر َ هيللّا
1 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, vol. ke-6, cet. ke-3, (Mansoura - Mesir: Dâr al-Wafâ, 2005), h. 303.
Artinya:
“Wahai Nabi! Apabila kamu menceraikan istri-istrimu maka hendaklah kamu
ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu”. (QS.
At-Talaq: 1)
َّنمهو هسَمَت ۡمَل اَم َءَٰٓا َسِينل
أ م متُۡقَّلَط ن
ا ۡ مكۡيَلَع َحاَنمج َلَ
ِ
ًة َضْيِرَف َّنمهَل اْو مضِرْفَت ْوَا
Artinya:
“Tidak ada dosa bagimu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu yang belum
kamu sentuh (campuri) atau belum kamu tentukan maharnya.”. (QS. Al-Baqoroh:
236)
َّنمهومممتۡقَّل َط َّ مثُ ِت َنِمۡؤممۡل أ م متُۡحَكَن اَذ
ا ْآومنَماَء َنيِ َّلَّ أ اَهيَُّأَٰٓ َي
ِ
اَمَف َّنمهْو هسَمَت ْنَا ِلْبَق ْنِم
ماَ َنَْوهدَتْعَت ٍةَّدِع ْنِم َّنِ ْيَْلَع ْ مكَل
Artinya:“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu menikahi
perempuan-perempuan mukmin, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka tidak ada masa idah atas mereka yang perlu kamu perhitungkan”. (QS. Al-Ahzâb: 49)
Imam Syafi`i berpendapat bahwa seorang suami semestinya tidak menceraikan istrinya ketika haid, karena akan memperpanjang masa `iddah-nya.3 Hal ini dikarenakan Imam Syafi`i mengartikan kata qurû dengan ‘kondisi suci’ bukan ‘kondisi haid’. Sehingga apabila menceraikan istri pada masa haid akan memperpanjang masa `iddah istri. Oleh karena itu waktu yang dianjurkan untuk menceraikan istri ialah ketika istri dalam keadaan suci.
2. Khuluk
Khuluk merupakan talak yang dijatuhkan oleh suami atas permintaan istri dengan syarat istri memberikan suami berupa tebusan.4 Apabila suami menerima khuluk istrinya seraya meniatkan talak, maka suami tidak dibolehkan untuk rujuk dengan istrinya.5
Batasan untuk mengetahui siapa yang boleh melakukan khuluk di antara wanita adalah dengan memperhatikan apakah wanita tersebut memiliki harta. Apabila wanita tersebut memiliki harta maka diperbolehkan untuk melakukan khuluk, sedangkan apabila wanita tersebut tidak memiliki harta maka tidak diperbolehkan melakukan khuluk.6
Dalam pelaksanaan khuluk, barang yang dijadikan tebusan ialah sesuatu hal yang memiliki nilai atau sesuatu yang boleh diperjualbelikan, seperti halnya: rumah, hewan, budak, uang dalam jumlah tertentu, dan sebagainya. Namun apabila barang yang dijadikan tebusan tidak memiliki nilai atau merupakan barang yang tidak boleh diperjualbelikan maka khuluk menjadi tertolak, seperti tebusan berupa
khamr, babi, janin hewan di perut induk, budak yang melarikan diri, dan
sebagainya.7 3. Fasakh
Imam Syafi`i berpendapat bahwa fasakh adalah bentuk pembatalan atau pemutusan hubungan suami istri yang bukan dengan jalan talak.8 Dalam artian, pemutusan hubungan tersebut tidak diucapkan oleh suami, melainkan karena kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan perkawinan tersebut menjadi batal, diantaranya sebagai berikut:
a. Seorang budak laki-laki yang beristrikan budak perempuan, kemudian budak wanita tersebut dimerdekakan dan memilih berpisah dari suaminya yang merupakan budak laki-laki;
4 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 502. 5 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 504. 6 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 506. 7 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 509 - 510. 8 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 472.
b. Seorang suami mengalami impoten kemudian istri memilih untuk berpisah darinya;
c. Seorang laki-laki menikahi wanita yang merupakan mahramnya; d. Seorang suami menderita penyakit kusta, gila, atau belang;
e. Nikah yang dibatasi oleh waktu tertentu, di mana mereka dipisahkan tanpa butuh talak;
f. Pernikahan tanpa wali;
g. Pernikahan budak tanpa izin majikannya;
h. Pernikahan yang tidak memenuhi rukun dan syarat, sehingga pernikahannya menjadi fâsid;
i. Apabila suami atau istri murtad.9
B. Hakam (Juru Damai dalam Mediasi) Allah Subhânahu wa Ta`âlâ berfirman:
اٗح َل ۡص
ا َٰٓا َديِرمي ن
ِ
ا َٰٓاَهِلۡهَأ ۡنِيم اٗ َكََحَو ۦِ ِلِۡهَأ ۡنِيم اٗ َكََح ْاومثَعۡب أَف اَمِِنِۡيَب َقاَقِش ۡ متُۡفِخ ۡن
ِ
ِ
اَو
اٗيرِبَخ اًيمِلَع َن َكَ َ َّللّ أ َّن
ا َٰٓۗٓاَمم َنِۡيَب م َّللّ أ ِقِيفَومي
ِ
٣٥
Artinya:“Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka
kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah Maha teliti, Maha Mengenal.”. (QS. An-Nisa: 35).
Menurut Imam Syafi`i, yang dimaksud dengan khawatir adanya perselisihan dalam hubungan suami istri pada ayat di atas adalah masing-masing dari kedua belah pihak mengklaim tidak mendapatkan haknya dari pihak yang lainnya. Sehingga perselisihan di antara mereka ini tidak berhenti bahkan terus-menerus berlangsung.10
9 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 309 - 310. 10 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 494.
Apabila pasangan suami istri yang mengalami perselisihan tersebut mengajukan perkara mereka kepada hakim, maka menjadi keharusan bagi hakim untuk mengutus seorang juru damai dari pihak suami dan seorang juru damai lainnya dari pihak istri. Kedua juru damai yang diutus hendaknya memiliki sifat
qonâ`ah dan cerdik agar mampu menyingkap hakikat persoalan suami istri, lalu
memperbaikinya bila mereka mampu.11
Tidak boleh bagi hakim memerintahkan kedua juru damai itu untuk memisahkan pasangan suami istri yang sedang berselisih, meski mereka berdua berkesimpulan pasangan tersebut sebaiknya dipisahkan. Bahkan, perkara ini menjadi hak mutlak suami. Kedua juru damai itu tidak berhak pula memberikan harta milik istri kepada suaminya, kecuali dengan izin dari istri.12
Imam Syafi`i juga berpendapat bahwa suami istri hendaknya meridai keputusan yang diambil oleh kedua juru damai dan menyerahkan urusan mereka kepada juru damai itu. Begitu pula suami memberi hak kepada juru damai untuk memisahkan hubungan pernikahan mereka, apabila hal itu merupakan jalan terbaik.13
Dan apabila salah satu dari kedua juru damai tidak berada di tempat atau akalnya terganggu, maka dapat diutus juru damai lain oleh hakim atau melalui jalur perwakilan, bila suami istri mewakilkan urusan kepadanya.14
C. Rujuk
Allah Subhânahu wa Ta`âlâ berfirman:
ٓۗ ن َسۡح
ِ
ِبِ ُۢميِ ۡسَۡت ۡوَأ ٍفو مرۡعَمِب ُۢمكا َسۡم
اَف ِن َتَ َّرَم مق َلَّطل
ِ
أ
Artinya:“Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali. (Setelah itu suami dapat) menahan
dengan baik, atau melepaskan dengan baik”. (QS. Al-Baqarah: 229)
11 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 494. 12 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 494 - 495. 13 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 495. 14 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 495.
ۡصَّبَ َتََي مت َقَّل َطممۡل أَو
َٰٓ ِفِ م َّللّ أ َقَلَخ اَم َنۡممتۡكَي نَأ َّنمهَل هلَِيَ َلََو م ءَٰٓو مرمق َةَث َلَث َّنِه ِسمفنَأِب َن
َأ ۡن
ا َ ِ
ِ
لِ َذ ِفِ َّنِهِيدَرِب هقَحَأ َّنم متَُلومعمبَو مِرِخَٰٓأ ۡل أ ِمۡوَيۡل أَو ِ َّللّ أِب َّنِمۡؤمي َّنمك ن
ِ
ا َّنِهِماَحۡرَأ
ْآومداَر
ماٗح َل ۡص
ا
ِ
Artinya:“Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga
kali quru'. Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan para suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam (masa) itu, jika mereka menghendaki perbaikan”. (QS. Al-Baqarah: 228)
Sebagaimana ayat di atas, jika para suami menghendaki islâh (berbaikan) setelah talak maka jalan islah yang dimaksud ialah dengan melakukan rujuk kepada istrinya. Namun rujuk ini hanya dapat dilakukan oleh para suami yang menceraikan istrinya dengan talak satu atau talak dua setelah ia melakukan dukhûl kepada istrinya selama masa `iddah-nya belum berakhir. Sedangkan istri yang telah diceraikan dengan talak tiga atau talak ba`in kubrâ tidak dapat lagi dirujuk. Apabila suami ingin kembali dengan istrinya tersebut maka tidak ada jalan selain dengan proses pernikahan yang baru setelah istrinya dinikahi oleh pria lain.15
Hal ini juga sejalan dengan apa yang dijelaskan Imam Nawawi. Beliau berpendapat bahwa rujuk itu dapat dilakukan oleh seorang suami dalam talak satu atau talak dua sebelum habisnya masa `iddah istri. Imam Nawawi juga menambahkan bahwa seorang suami yang mentalak istrinya qabla al-dukhûl maka baginya tidak ada hak rujuk kepada istrinya, dan bagi sang istri tidak ada masa `iddah.16
Imam Syafi`i berpendapat bahwa suami memiliki hak mutlak untuk melakukan rujuk dengan istrinya dalam masa `iddah. Sebagaimana Imam Nawawi juga
15 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 620.
16 Abu Ishaq Ibrahim bin `Ali Asy-Syairazi, Syarh Al-Muhadzzab li al-Syairâzî, vol. ke-18, (Cairo: Al-Maktabah Al-Taufikiyah, 2010), h. 368.
menyebutkan bahwa suatu rujuk itu sah walaupun sang istri tidak meridainya.17 Melalui pendapat ini, maka jelas bahwa istri tidak berhak melarang suaminya untuk rujuk dengannya dalam keadaan bagaimanapun, karena istri masih ada dalam kekuasaan suami. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran:18
ماٗح َل ۡص
ا ْآومداَرَأ ۡن
ِ
ا َ ِ
ِ
لِ َذ ِفِ َّنِهِيدَرِب هقَحَأ َّنم متَُلومعمبَو
Artinya:“Dan para suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam (masa)
itu, jika mereka menghendaki perbaikan”. (QS. Al-Baqarah: 228)
Rujuk hanya terjadi melalui perkataan, bukan perbuatan seperti bercampur atau yang lainnya. Rujuk seorang suami terhadap istrinya tidak dinyatakan sah hingga ia mengucapkan perkataan yang bermakna rujuk. Imam Nawawi menambahkan bahwa seseorang yang melakukan rujuk dengan langsung menggauli istrinya bersamaan dengan mengucapkan ikrar rujuk, maka tidaklah sah rujuk tersebut. Sehingga Imam Nawawi memiliki pandangan yang sama dengan Imam Syafi`i bahwa rujuk mesti didahului dengan ikrar terlebih dahulu 19 Adapun perkataan tersebut misalnya: “Saya rujuk dengannya” dan sebagainya. Apabila suami mengucapkan kalimat ini, maka wanita tersebut kembali menjadi istrinya yang sah. Apabila suami meninggal dunia, menjadi bisu, atau hilang akalnya, maka wanita itu tetap menjadi istrinya yang sah.20
Apabila suami menceraikan istrinya, kemudian suami kembali kepada istrinya dengan niat rujuk, atau ia mencampuri istrinya dengan niat rujuk maupun tidak, sementara suami tidak mengucapkan perkataan yang bermakna rujuk, maka yang demikian tidak dinamakan sebagai rujuk hingga diucapkan. Maka menurut Imam Syafi`i, agar rujuk itu dapat menjadi sah harus diucapkan sebuah pernyataan yang dimaksudkan untuk rujuk oleh suami. Apabila suami mencampuri istrinya setelah
17 Abu Ishaq Ibrahim bin `Ali Asy-Syairazi, Syarh Al-Muhadzzab li al-Syairâzî, ... , h. 372. 18 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 621.
19 Abu Ishaq Ibrahim bin `Ali Asy-Syairazi, Syarh Al-Muhadzzab li al-Syairâzî, ... , h. 372. 20 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 621.
talak dengan niat rujuk, atau tidak meniatkannya, maka hubungan badan yang dilakukan tersebut merupakan suatu hal yang syubhat. Tidak ada hukuman atas keduanya melainkan hukuman ta’zir bila keduanya mengetahui hukuman tersebut. Kemudian istri berhak mendapatkan mahar yang biasa diterima oleh wanita sepertinya. Adapun anak dinasabkan kepada bapaknya, dan istri harus menjalani
`iddah.21
Dalam melaksanakan rujuk, semestinya dipersaksikan oleh dua orang saksi yang adil, sebagaimana perintah Allah Subhânahu wa Ta`âla dalam hal persaksian. Hal ini untuk menghindari apabila suami meninggal dunia sebelum mengikrarkan rujuk, atau ia meninggal dunia sebelum diketahui telah rujuk dalam masa `iddah. Sebab keduanya tidak akan saling mewarisi bila tidak diketahui bahwa suami telah rujuk ketika istri masih dalam masa `iddah. Jika suami istri membenarkan bahwa mereka telah rujuk tanpa ada saksi, maka rujuk tersebut telah sah, karena rujuk merupakan hak suami bukan istri.22
Adapun rujuk yang dilakukan oleh seorang yang bisu, maka ia melakukannya melalui tulisan atau bahasa isyarat yang dapat dipahami sebagaimana ia melakukan hal demikian pada saat menceraikan istrinya.23
D. Sanksi Pelanggaran
Imam Syafi`i berpendapat bahwa dalam hal rujuk, seorang suami tidak dapat langsung mencampuri istrinya hanya disertai dengan niat rujuk semata melainkan harus mengucapkan ikrar rujuk terlebih dahulu. Apabila hal demikian terjadi, maka menurut Imam Syafi`i perbuatan tersebut tergolong ke dalam hal syubhat dan keduanya diberikan hukuman ta`zir (hukuman yang ditentukan oleh hakim/pemerintah karena belum ada ketentuannya di dalam nas). Kemudian istri berhak untuk mendapatkan mahar yang biasa diterima oleh wanita sepertinya dan istri harus menjalankan masa `iddah.24
21 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 621. 22 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 623. 23 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 625. 24 Asy-Syafi`i, Muhammad bin Idris, al-Umm, ... , h. 621.
24
PERCERAIAN MENURUT HUKUM KELUARGA INDONESIA
DAN MALADEWA
A. Indonesia
1. Sejarah Hukum Keluarga di Indonesia a. Masa Kerajaan Islam
Pada masa kerajaan Islam berlangsung, setidaknya telah ditemukan konsep penyelesaian sengketa perdata yang dipimpin oleh seseorang dari kalangan masing-masing kelompok. Penyelesaian sengketa perkara masih menggunakan cara yang sederhana melalui hakam (arbitrase).
Secara kelembagaan, konsep hakam ini merupakan konsep lembaga yang pertama kali muncul di Indonesia. Kemudian konsep lembaga tahkim berkembang sedemikian rupa hingga muncul sebuah lembaga ahl al-halli wa al-‘aqd dalam bentuk peradilan adat. Yang mana pada konsep kelembagaan ini, para hakim diangkat oleh rapat marga, nagari dan semacamnya. Hingga kemudian, konsep kelembagaan tersebut berkembang menjadi Peradilan Swapraja, yang mana lembaga ini merupakan cikal bakal dari Peradilan Agama saat ini. Namun, bentuk dari lembaga peradilan tersebut masih berbeda di setiap daerah di nusantara.
Menurut Daniel S. Lev, terdapat empat model pengadilan yang diantaranya:
Pertama, hakim diangkat oleh para penguasa setempat, hal ini berlaku di Aceh,
Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan beberapa tempat di Sulawesi.
Kedua, tidak ada kedudukan tersendiri bagi pengadilan agama sehingga tugas-tugas
peradilan diemban oleh para pemuka agama. Ketiga, sudah terdapat pengadilan tertentu di setiap kabupaten dengan hakim yang disebut Penghulu. Konsep semacam ini ditemukan di Jawa sejak abad ke-16. Biasanya, pengadilan berada di serambi masjid sehingga seringkali disebut dengan “pengadilan serambi”.1
1 Yayan Sopyan, Islam-Negara: Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum
b. Masa Penjajahan
Pada awal masa kolonialisasi Belanda, hukum perkawinan yang berlaku ialah hukum perkawinan Islam yang diambil dari kitab-kitab fikih ataupun aturan-aturan yang dibuat pada masa kerajaan Islam. Kemudian Belanda menerjemahkannya ke dalam bahasa Belanda yang pada akhirnya dihimpun menjadi satu kitab hukum yang bernama Compendium Freijer. Kitab tersebut bukan hanya berisi aturan-aturan hukum perkawinan Islam saja, melainkan juga hukum waris menurut Islam.
Berdasarkan Staatsblad Nomor 55 Tahun 1982, Compendium Freijer dicabut secara berangsur-angsur pada abad ke-19. Dengan demikian, berakhirlah riwayat hukum perkawinan Islam yang tertulis. Sehingga hukum perkawinan Islam hanya diatur pada Indische Staatsregeling (IS) pasal 131 ayat 2 sub b yang hanya mengatur perihal pendaftaran perkawinan, sedangkan dasar perkawinan mengacu kepada hukum adat.
Dengan dicabutnya Compendium Freijer pada 3 Agustus 1828, hukum perkawinan yang berlaku bagi yang beragama Islam adalah hukum adat. Sedangkan bagi penganut agama kristen diberlakukan Huwelijk Ordonantie Christen
Indonesiers Java Minahasa an Amboina (HOCI), yakni Undang-Undang
Perkawinan Kristen Jawa, Minahasa, dan Ambon.
Pada tahun 1929, Belanda menempatkan penghulu sebagai pegawai pemerintah yang berada di bawah kontrol bupati. Melalui peraturan semacam ini, diberlakukan pula prosedur registrasi perkawinan dan perceraian serta biaya pelayanan administrasi. Kemudian, pada tahun 1931 diterbitkanlah Staatsblad No. 53. Undang-Undang ini menawarkan beberapa aturan baru yang memberikan efek cukup besar bagi sistem hukum Islam, diantaranya: 1) Priesterraaden (lembaga yang mengawasi kehidupan beragama) akan dihapuskan dan diganti dengan pengadilan penghulu, di mana hakim tunggal akan duduk menyelesaikan perkara-perkara yang berkaitan dengan hukum Islam; 2) Sebuah pengadilan banding akan dibangun untuk memeriksa kembali putusan-putusan yang telah dikeluarkan pengadilan penghulu. Akan tetapi aturan tersebut pelaksanaannya tidak berjalan
mulus karena adanya masalah keuangan yang dialami oleh pemerintah Belanda dalam hal menggaji para penghulu.
Pada awal 1937, Pemerintah Belanda, Gubernur Jenderal A.W. Tjarda van Starkenbrogh membuat rancangan pendahuluan Ordonansi Perkawinan yang akan diberlakukan untuk masyarakat. Salah satu hal yang diusulkan dalam ordonansi ini ialah larangan melakukan poligami. Ordonansi ini tidak berlaku untuk umum, namun hanya berlaku bagi orang Indonesia dan Timur Asing bukan Cina yang notabene tidak memiliki hukum perkawinan tertulis. Sehingga secara sukarela, mereka harus tunduk pada ordonansi ini. Namun, justru banyak reaksi penolakan yang muncul dari organisasi-organisasi Islam atas rancangan ordonansi ini. Akhirnya, rancangan ini batal dibahas dalam Dewan Rakyat (Volksraad) dan ditarik kembali oleh Pemerintah Belanda.2
c. Masa Setelah Kemerdekaan 1) Masa Awal Kemerdekaan
Pada awal masa kemerdekaan, apabila dilakukan pemetaan golongan penduduk Indonesia berdasarkan hukum perkawinan, maka dapat dirincikan sebagaimana berikut:
a) Penduduk Indonesia asli yang beragama Islam berlaku hukum perkawinan Islam yang telah diresipir dalam hukum adat;
b) Penduduk Indonesia asli yang beragama Kristen berlaku
Huwelijksordonnantie Christen Indonesia (Ordonansi Perkawinan Kristen
Indonesia) Staatsblad 1933 Nomor 74;
c) Penduduk Indonesia asli lainnya berlaku hukum perkawinan adat;
d) Penduduk Timur Asing Tionghoa dan warga negara Indonesia keturunan Tionghoa berlaku ketentuan-ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dengan sedikit perubahan;
2 Yayan Sopyan, Islam-Negara: Transformasi Hukum Perkawinan Islam dalam Hukum