• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Teologi Islam menurut Moeslim Abdurrahman

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

F. Perbandingan Teologi Islam menurut Moeslim Abdurrahman

“Menurut Moeslim Abdurrahman, istilah dan pengertian

tentang teologi Islam adalah Islam yang membuat distingsi dengan proses modernisasi atau modernitas yang bekerja dengan menghubungkan refleksi teologis dengan pembacaan konstruk masyarakat agar dapat menimbulkan gerakan- gerakan transformasi

sosial. Hal ini karena menurut Moeslim Abdurrahman, di dalam proses modernisasi itu banyak orang yang semakin tidak peduli terhadap persoalan perubahan atau prosessosial yang semakin memarginalkan orang- orang yang tidak punya akses dengan pembangunan.

Moeslim memilih penggunaan teologi karena konsep ini dianggapnya mampu membangkitkan motifasi dan partisipasi masyarakat.Kalangan “modernisasi berangkat dari kepedulian akan keterbelakangan umat Islam di dunia sekarang. Keterbelakangan itu disebabkan oleh kepicikan berpikir, kebodohan dan ketertutupan dalam memahami ajaran agamanya.sendiri.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa teologi teologi Islam sebagai teologi kontekstual yakni sebuah teologi yang dipahami dan didialogkan secara dialektis sesuai dengan konteks problematika dalam berhadapan dengan dinamika sosial, ekonomi, budaya maupun politik. Ini merupakan perkembangan teologi yang lebih bersifat praksis, yakni kaum beriman melakukan sebuah tindakan yang tidak semata bersifat ukhrowi, tetapi juga dengan keimanan yaitu mereka dituntut untuk membangun kedamaian, keadilan, egalitarianisme di dunia ini.Dengan kata lain, kaum beriman diharapkan dengan

teologinya membangun kerajaanTuhan di bumi ini, agar bumi ini penuh dengan kehidupan surga.34

Menurut Moeslim Abdurrahman dalam konsep ini, sangat ditekankan adanya sikap teologis untuk menyakini bahwa risalah Islamiyah adalah bagaimana mambawa ide agama dalam pergulatan hidup kolektif untuk menegakkan tatanan sosial yang adil sebagai cita-cita ketakwaan.

Dalam rangka pemikiran teologi yang demikian, gagasan teologi Islam Moeslim Abdurrahman dielaborasi dan mendapat landasan acuanteoritis atas pengklasifikasian teologi Islam secara umum.Adapun dimensi pembebasannya adalah upaya praksis untuk mengatasi problem yang diakibatkan oleh dampak modernisasi, yang menciptakan kesenjangan sosial antara penindas, dalam hal ini para pemilik modal dan penguasa, dan yang tertindas yaitu para mustadh’fin seperti paraburuh.35

Dari pemaparan tentang pengertian- pengertian di atas, dapat diperoleh pemahaman bahwa pada hakekatnya teologi Islam adalah transformasi kesadaran. Transformasi kesadaran yang dimaksud

34Syekh Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, hlm, 10.

35Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif , hlm, 76.

adalah kesadaran untuk mengubah masyarakat dari kondisinya yang sekarang menuju kepada keadaan lebih dekat dengan tatanan yang ideal.Karena itu dalam kata transformasi di sini, termuat suatu empowering of the people untuk mengorganisir diri dalam memperbaiki harkat hidup dan martabatnya sebagai manusia yang manusiawi.

Pembahasan Teologi (ilmu kalam), dapat dikelompokkan menjadi 3 pembahasan, yaitu:

1. Iman dan Kufur.

Iman dan kufur merupakan salah satu persoalan yang muncul pada awal-awal munculnya teologi Islam. Dalam Islam, iman itu mengandung tiga unsur, yakni tashdiq bil al-qalb, iqrar bi al-lisan, dan ‘amal bi al-arkan.

Menurut aliran Khawarij, iman bukan hanya sekedar pengakuan dalam hati (tashdiq bi al-qalb), tetapi amal pun termasuk dalam iman. Seseorang yang telah melakukan dosa besar bukan hanya berdosa, melainkan juga kafir, sekalipun ia mengakui ke-Esa-an Allah Dke-Esa-an orke-Esa-ang yke-Esa-ang telah melakukke-Esa-an dosa besar, maka ia akke-Esa-an kekal di dalam neraka.36

Sedangkan menurut aliran Murji’ah, iman hanya pengakuan dalam hati (tashdiq bi al-qalb). Seseorang tidak akan menjadi kafir

36 M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam (Jakarta: Amzah, 2011), 264

karena telah melakukan dosa besar, atau menyatakan kekufuran di lisannya, apabila telah mengakui akan ke-Esa-an Allah. Sekalipun mereka ikut menyembah berhala atau merayakan natal di gereja.Karena, bagi mereka yang penting adalah pengakuan dalam hati, bukan amal.37

“Dan menurut aliran Mu’tazilah, berpendapat bahwa iman

bukan hanya pengakuan dalam hati (tashdiq bi al-qalb), melainkan iman adalah pelaksanaan kewajiban kepada Tuhan.Jadi, orang yang hanya membenarkan pengakuan saja, tidak melakukan kewajiban-kewajibannya itu tidak bisa dikatakan sebagai orang mukmin. Dan pelaku dosa besar itu tidak kafir, dan ia tidak berhak mendapatkan siksa di neraka, akan tetapi orang yang bukan mukmin itu yang akan mendapatkan siksaan yang berat di neraka. Karena, iman bukan berarti pasif menerima apa yang dikatakan dari orang lain, akan tetapi iman seharusnya aktif, karena akal dapat mengetahui kewajibankewajibannya kepada Tuhan38

Menurut Moeslim Abdurrahman, “Sistem kepercayaan agama, nilai-nilai dan praktek-praktek keagamaan memiliki pengaruh langsung terhadap tingkah laku sosial masyarakat.”39 Dari kalimat

37 Ibid 266

38 Ibid 267-268

39 Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif, (Jakarta: Pustaka Fidaus, 1997), hlm, 181.

diatas dapat dikatakan bahwa Moeslim Abdurrahmandengan jelas ia menentang aliran Murji’ah, iman hanya pengakuan dalam hati (tashdiq bi al-qalb) dan ia sependapat dengan aliran Mu’tazilah, berpendapat bahwa iman bukan hanya pengakuan dalam hati (tashdiq bi al-qalb) melainkan juga dengan tindakan dan tingkah laku sosial individu tersebut.

2. Taqdir (qadar).

Dalam persoalan taqdir ini melahirkan dua aliran, yaitu aliran Qadariyah dan Jabariyah.Dimana, aliran Qadariyah menganggap bahwa taqdir seseorang itu bisa berubah, apabila mereka mau merubahnya.Menurut aliran ini, manusia itu merdeka, dan telah diberi kebebasan untuk berkehendak, semua yang terjadi dalam dirinya adalah atas usahanya sendiri, tidak ada campur tangan dari Tuhan.Manusia telah diberi anugerah yang paling baik diantara semua makhluknya, yakni sebuah akal. Dengan akal tersebut manusia bisa melakukan apa yang mereka inginkan. Baik buruknya manusia itu tergantung dari manusia itu sendiri, bukan karena Tuhan

Sebaliknya dengan aliran Jabariyah, yang menyandarkan semua perbuatan manusia itu atas kehendak Allah, tidak ada campur tangan manusia.Baik buruknya manusia itu atas kehendak Allah.Manusia tidak mempunyai kuasa untuk berkehendak.Secara

tidak langsung, menurut aliran Jabariyah, bahwa taqdir itu berasal dari Allah.

Sedangkan Moeslim Abdurrahman mengatakan “Manusia hidup berpangkal pada dirinya dan bukan seperti apa adanya menurut suratan nasib yang telah membawanya.”40 Dari kalimat diatas dapat dilihat secara jelas bahwa Moeslim Abdurrahman mendukung aliran Qadariyah menganggap bahwa taqdir seseorang itu bisa berubah, apabila mereka mau merubahnya atau bisa dikatakan bahwa Moeslim Abudrrahman menolak aliran Jabariyah, yang menyandarkan semua perbuatan manusia itu atas kehendak Allah, tidak ada campur tangan manusia.

3. Tauhid.

Tauhid berasal dari kata wahid yang berarti satu atau Esa.Kata tauhid dapat diartikan meng-Esa-kan.Dinamakan dengan ilmu tauhid, dikarenakan pembahasan yang paling menonjol ialah pembahasan mengenai tentang ke-Esa-an Allah yang menjadi sendi agama Islam.

Menurut Syaikh Muhammad Abduh, mengatakan bahwa ilmu tauhid yaitu ilmu yang membahas tentang wujud Allah, tentang sifat-sifat yang yang wajib tetap bagi-Nya, sifat-sifat-sifat-sifat yang jaiz disifat-sifatkan kepada-Nya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali yang wajib ditiadakan (mustahil) bagi-Nya. Juga membahas tentang Rasul-rasul

40 Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif, hlm .122

Allah untuk menetapkan kebenaran risalahnya, apa yang wajib pada dirinya, hal-hal yang jaiz dihubungkan pada diri mereka, dan hal-hal yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka.41

Menurut Moeslim Abdurrahman, Tauhid tidaklah semata-mata konsep teologis yang vertikal, tapi juga merupakan moralitas yang paling dasar untuk membangun ideologi politik, bahwa ketimpangan ekonomi merupakan ancaman kemanusiaan yang serius.42 Pernyataan diatas dapat dimaknai bahwa Moeslim Abdurrahman mempunyai pendapat yang berbeda dibandingkan dengan Syaikh Muhammad Abduh yang mengatakan bahwa tauhid ilmu yang membahas tentang wujud Allah, tentang sifat yang yang wajib tetap bagi-Nya, sifat-sifat yang jaiz disifat-sifatkan kepada-Nya dan tentang sifat-sifat-sifat-sifat yang sama sekali yang wajib ditiadakan (mustahil) bagi-Nya. Moeslim berpendapat, bahwa tauhid tidak hanya membahas hal tersebut, namun juga membahasa moralitas yang paling dasar untuk membangun ideologipolitik dan ekonomi.

Dari perbandingan diatas, penulis meyimpulkan bahwa teologi Islam menurut pandangan Moeslim Abdurrahman adalah Tauhid tidaklah semata-mata konsep teologis yang vertikal, tapi juga merupakan moralitas yang paling dasar untuk membangun ideology

41 Syekh Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, terj. Firdaus A.N (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), 3.

42 Moeslim Abdurrahman, Islam yang memihak…, hlm.3.

politik, bahwa ketimpangan ekonomi merupakan ancaman kemanusiaan yang serius.”

“Selanjutnya beliau juga berpedapat bahwa Iman bukan hanya

pengakuan dalam hati (tashdiq bi al-qalb) melainkan juga dengan tindakan dan tingkah laku sosial individu tersebut.Sistem kepercayaan agama, nilai-nilai dan praktek-praktek keagamaan memiliki pengaruh langsung terhadap tingkah laku sosial masyarakat.

Terakhir, Menurut beliau taqdir seseorang itu bisa berubah, apabila mereka mau merubahnya.Manusia hidup berpangkal pada dirinya dan bukan seperti apa adanya menurut suratan nasib yang telah membawanya. Takdir bukanlah menyandarkan semua perbuatan manusia itu atas kehendak Allah, tidak ada campur tangan manusia.43

43Moeslim Abdurrahman, Islam yang memihak…, hlm.7

BAB V

PENUTUP A. Kesimpulan.

“Berdasarkan uraian dalam bab-bab sebelumnya, dapat ditarik

kesimpulan Moeslim Abdurrahaman adalah cendikiawan muslim Indonesia yang amat kritis dalam memahami perkembangan Islam di Indonesia melalui analisis sosialnya yang sangat jauh kedepan.

Secara kultural Moeslim Abdurrahman berasal dari yang memiliki keterbelakangan berbeda. Ayahnya bernama Abdurrahman berasal dari keluarga Nahdliyin sedangkan ibunya Muslimah berasal dari keluarga Muhammadiyah, semasa Moeslim Abdurrahman kecil beliau merasa bertentangan dengan Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU), yang mereka pertentangan yaitu hal- hal kecil yang sepele sehingga menjadi besar

Teologi yang dimaksud MoeslimAbdurrahman adalah sebagai pencarian sebuah metode berpikir dan bertindak yang memihak serta mampu mempersenjatai masyarakat untuk bisa bangkit dan keluar dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Moeslim memilih penggunaan teologi karena konsep ini dianggapnya mampu membangkitkan motifasi dan partisipasi masyarakat.”

B. Saran.

Berdasarkan temuan-temuan penelitian sebagaimana yang telah diungkapkan pada bagian sebelumnya, beberapa saran lanjutan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:

1. Skripsi ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari yang namanya kesempurnaan, sangat memungkinkan banyak hal-hal yang tidak dapat dicermati atau dianalisis oleh penulis. Ditambah lagi, penelitian ini dilaksanakan dalam situasi Covid-19 sehingga dalam proses pengumpulan data banyak terkendala waktu dan keterbatasan gerak sehingga menyulitkan pencarian data-data dan diskusi yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, jika ada penelitian selanjutnya yang mengkaji terkait judul di atas, saya berharap agar penelitiannya dilakukan lebih mendalam dan lebih teliti dari ini, sehingga mendapatkan hasil yang lebih baik dan lebih bermanfaat untuk kedepannya.

2. Kepada para calon pemikir hebat, harapan saya hendaknya dapat meningkatkan rasa kritis dalam memahami peran dan fungsi filsafat dalam memahami relasi agama dan negara secara umum dan berdasarkan Islam khususnya, atau juga dalam mengkaji hal lainnya.

Sehingga filsafat tidak hanya menjadi sebuah gelar yang disandarkan pada kita namun lebih dari itu. Lebih giat lagi dalam menghasilkan pemikiran-pemikiran yang kompeten dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagai seorang pemikir, kita bebas mikirkan berbagai hal dalam kehidupan ini. Maka dari itu, jadilah diri yang bebas akan berpikir, dan tetap dalam aturan-Nya.

3. Kepada umat Islam diharapkan berhati-hati terhadap segala bentuk tantangan dari perubahan arus globalisasi yang dapat menggoyahkan keyakinan, ataupun dapat menimbulkan perpecahan antar sesama.

Biasakanlah diri bertanya akan segala sesuatu kepada ahlinya dan biasakanlah mempertimbangkan segala kebenaran yang datang, dan jangan mudah terprovokasi isu-isu yang tidak jelas baik terkait agama maupun pemerintahan. Biasakanlah selektif dan mencerna terlebih dahulu segala persoalan sebelum mengambil keputusan.

62

Jurnal Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta.vol. 12.No. 2 November.

Amiruddin ,Luthfi Hadi. 2018. “ Rekonstruksi Wacana Modernis Tradisionalis”, Jurnal Pemikiran Keislaman Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama Pasca Reformasi, volume .12 no. 1 Tahun.

Damanik, Agustina. 2020. “ Moeslim Abdurrahman Pemikiran Teologi Islam Transformatif”. Jurnal Al-Maqasid: Jurnal Ilmu-Ilmu Kesyariahan dan Keperdataan Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum IAIN Padangsidempuan, volume 6. nomor 1 Edisi Januari- juni.

Falah, Riza Zahriyal, 2015.”Pemikiran Teologi Hasan Hanafi”. Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan, volume 3.no.1.Juni.

Harahap, Syahrin. 2006. Metodologi Studi Tokoh Pemikiran Islam. Medan:

Istiqomah Mulya Press. 2006.

Ichwan, Mohammad or, 2005.“Dekonstruksi Teologi: Menuju Pemaknaan Teologi yang Bebas”. Jurnal Teologia, Volume 16. Nomor.1, januari.

Jamal, Msibahuddin. 2011. “ Konsep Islam dalam Quran”. Jurnal Al-Ulum. volume 11. Nomor.2 Desember.

Jaya, Agung. 2019. “Karakteristik Pemikiran Teologi Moeslim Abdurrahman”. Skripsi Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama.

Latif, Muhaemin, 2019. “ Membincang Ulang Teologi Islam Klasik Dalam Dunia Kontemporer”. Jurnal Fakultas Uashuluddin Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makasar.vol.v no. 1 thn.

Nasution, Harun. 2015, Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Aliran-aliran Perbandingan.Jakarta: Universitas Indonesia.

Nuha, Ulin. 2010. “ Pemikiran Teologi Islam Asghar Ali Engineer dan Hasan Hanafi”. Skripsi

Raharjo ,Fauzan Budi. “ Islam Transformatif dalam Pandangan Moeslim Abdurrahman”. Skripsi Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah.

Ratna, Nyoman Kuyha. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2010.

Rochmat, Saefur. 2008. “ Teologi, Kekuasaan, dan Keadilan Dalam Perspektif Sejarah Islam”. jurnal Istoria, volume 4. nomor 2 april.

Zubair, Anton Bakker Achmad Charris. 2011.Metodologi Penelitian Filsafat.

Yogyakarta: Kanisius

Dokumen terkait