BAB III METODOLOGI PENELITIAN
E. Teknik Analisis Data
“Analisis data merupakan cara yang dipakai untuk menelaah seluruh
data yang tersedia dari berbagai sumber. Proses penyederhanaan data ke dalam benruk yang lebih mudah dibaca dan diinterprestasikan.25 Penelitian ini menganalisis data dengan menggunakan metode sebagai berikut:
a. Deskripsi Anallitik
Metode deskripsi analitik adalah metode dengan cara menguraikan sekaligus menganalisis, dengan menggunakan metode ini maka diharapkan objek dapat diberikan makna secara maksimal.26 Menurut Anton Bakker dan Zubair metode deskriptif dalah peneliti menguraikan secara teratur seluruh konsep took. Teknik deskriptid analitik ini penulis gunakan untuk mengungkapkan
25Sofian Effendi dan Cchris Manning, Pinsip-Prinsip Analisis Data, (Jakarta, Lp3es, 2012), hlm. 250.
26 Nyoman Kuyha Ratna, Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya,( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 336.
KarakteristikPemikiran Teologi Islam Menurut Pandangan Moeslim Abdurrahman dan diimplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
b. Interprestasi Data
Metode interprestasi data adalah menyalami karya tokoh untuk menangkap arti dan nuansa yang dimaksud tokoh secara khas. Dalam penelitian akan dipahami isi pemikiran Moeslim Abdurrahman dalam karya-karyanya mengenai Karakteristik Pemikiran Teologi Islam Menurut Pandangan Moeslim Abdurrahman, serta dapat dilihat implikasi pemikiran tersebut terhadap zaman sekarang.
36 A. Moeslim Abdurrahman
a. Riwayat hidup.
Moeslim Abdurrahman adalah doktor antropologi di University of Illinois Urbana AS.Cendikiawan kelahiran Lamongan 8 Agustus 1948 dari keluarga petani Muhammadiyah ini, punya obsesi membangun aliansi berbagai kelompok kritis.Embrio jaringan itu sudah dirintis bersama sejumlah teman.Istrinya bernama Lily Agus Hidayati, anaknya seorang tokoh Muhammadiyah di Kediri.Anaknya pertamanya bernama Ika Laili Rahmawati dan yang kedua Liana Ade Rahmawati27.
Moeslim Abdurrahman adalah putra seorang petani serta peternak , melihat kondisi orang tuanya yang pas-pasan ia tidak percaya diri untuk melanjutkan pendidikan sekolah dasar di Kasugihan,Lamongan, Jawa Timur. Dengan semangat orang tuanya untuk selalu mendukung anaknya menjadi orang yang berguna bagi nusa bangsa dan agama, maka Moeslim Abdurrahman dapat menyelesaikan sekolah dasarnya.
Pada pertengahan tahun 60-an Moeslim Abdurrahaman dikirim oleh orang tuanya ke pesantren Raudhatul ‘Ilmiyah di Kertosono, Jawa Timur, yang di asuh oleh Kyai Salim Ahyar, seorang Kyai juga merupakan
27Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif, ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996), hlm, 105.
murid generasi pertama dari Kyai Hasyim Asy’ari pendiri Nahdatul Ulam. Pesantren ini dikenal sebagai pesantren yang beralih wahabi yang ketat dan ortodoks. Pengalaman di pesantren untuk membentuk kesadaran Moeslim sebagai anak muda yang radikal.28“
“Ketika di pesantren, Moeslim Abdurrahman tekun mengaji kitab
sebagai bekal untuk menjadi seorang kyai di kampungnya. Orang tuanya selalu menitip untuk membeli kitab-kitab agama pada orang yang naik haji ke tanah suci. Ketika itu untuk membeli kitab-kitab ini sangatlah susah. Ketika Moeslim Abdurrahman masih sekolah di pondok pesatren di rumahnya sudah di bangun madrasah untuk Moeslim kelola natinya.
Moeslim Abdurrahman berpendidikan doctor antropologi sosial di Amerika Serikat, Seorang alumni salah satu pondok yang ada di jawa timur dan menjadi guru besar di Universitas Muhammadiyah Jakarta.Beliau seorang intelektual Indonesia yang memiliki buku-buku tentang keislaman dan sosial.
b. Riwayat pendidikan.
Moeslim abdurrahaman belajar di pondok pesantren selama tiga tahun kemudian lulus SLTP melanjutkan sekolah di Madrasyah Aliyah Solo.Moeslim Abdurrahman masuk pada Fakultas Ilmu Agama Jurusan Tarbiyah yang didirikan Muhammadiyah Kediri.Hampir 2 tahun Moeslim menjadi mahasiswa, beliau mahasiswa katif.Kemudian
28 Moeslim Abdurrahman, Islam yang Memihak,(Yogyakarta: LKis, 2005), hlm,6.
Moeslim melanjutkan studinya di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Muhammadiyah di Surakarta.Selesai SI Moeslim melanjutkan S2 dengan mengambil Jurusan Antropologi di University Illinois, Urbana, Champaign, Amerika Serikat sampai tahun 1996.
Sebagaimana dalam karirnya di Indonesia selama itu menjadi mahasiswa di Amerika juga melakukan penelitian. Beliau mulai ketika aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Solo. Setelah lulus dari pesantren Wahabi yang ketat dan ortodoks waktu di HMI ia merasa ada pergulatan. Ia pernah menjadi ketua.Pergulatan terus berlanjut ketika diterima di Pusat Penelitian Ilmu Sosial di bawah bimbingan Dr Alfian (almarhum) dari LIPI. Pandangan- pandangannya yang normatif berubah ke empiris semakin kental saat bekerja di Badan Litbang Departemen Agama ( 1977-1989), dan merasa namanya mulai dikenal saat ada pertemuan anak-anak muda yang diselengarakan Kompas di Pacet, Puncak tahun 1984. ( jurnal signifikasi perguruan tinggi islam hlm 124)
Setelah mampir bekerja sebagai wartawan, terlibat dalam penelitian-penelitian di LIPI, ia lantas aktif dalam kegiatan LSM. Dia mendirikan Asosiasi Penelitian Indonesia, LSM yang kemudian menghasilkan peneliti-peneliti andal seperti Wardah Hafidz, Indro Tjahjono dia juga menulis beberapa buku sebagai perwujudan dan cita-cita yang ia harapkan adalah sebagai cendikiawan muslim. Ia juga
bergaul intensif dengan kalangan non-Islam di sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Pada tahun 2.000 Moeslim meraih gelar Ph.D dalam kajian antropologi di university of Illionis Urbana Champaign. Moeslim selain aktif menulis di berbagai media massa nasional, ia menjadi ketua Al-Maun Foundation sebuah lembaga yang bervisi menjadi simpul Islam yang toleran dan insklusif, simpul tenda bangsa dan wadah komunitas anak-anak muda yang berpikiran terbuka dan progresif.29
Moeslim Abdurrahman wafat pada usia 65 tahun pada hari Jum’at 6 Juli 2012 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo, Jakarta.
Menderita penyakit jantung dan diabetes.Beliau dimakamkan di pemakaman Sandiego Hills di Karawang, Jawa Barat.
c. Karya Moeslim Abdurrahman
Moeslim Abdurrahman memiliki keterbelakngan ilmu Antropologi dan Sosiologi dan juga beliau banyak melakukan penelitian-penelitian kehidupan sosial keagamaan. Karya-karya yang dibuat beliau berupa tulisan-tulisan yang beliau hasilkan dari pemikiran yang beliau peroleh dari penelitian- penelitian yang dikumpulkan menjdi sebuah artikel atau buku-buku seperti:”
29Moeslim Abdurrahman, Islam yang Memihak…, hlm, 8.
1) Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan : Menuju Demokrasi dan Kesadaran Bernegara (Yogyakarta: Kanisius, 2009).
2) Islam yang Memihak (Yogyakarta: LKis, 2005).
3) Islam sebagai Kritik Sosial ( Jakarta: Erlangga, 2003).
4) Semarak Islam, Semarak Demokrasi ( Jakarta:Pustaka Firdaus, 1997).
5) Islam Transformatif ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 1996).
6) Kang Towil dan Siti Marginal ( Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995).
7) Menafsirkan Islam dalam Tradisi dan Persoalan Umat ( Surakarta:UMS, 1990).
8) Penelitian Agama di Indonesia ( Jakarta: Litbang Agama.
1986).
9) Agama, Budaya dan Masyarakat (Jakarta: Badan Litbang Agama, 1985).
10) Agama dalam Pembangunan Nasional( Jakarta: Pustaka Biru, 1981).
d. Sosial Kultural.
“Secara kultural Moeslim Abdurrahman berasal dari yang
memiliki keterbelakangan berbeda. Ayahnya bernama Abdurrahman berasal dari keluarga Nahdliyin sedangkan ibunya Muslimah berasal dari keluarga Muhammadiyah, semasa Moeslim
Abdurrahman kecil beliau merasa bertentangan dengan Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU), yang mereka pertentangan yaitu hal- hal kecil yang sepele sehingga menjadi besar.
Moeslim Abdurrahman dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah yang multikultural, beliau dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah yang dekat dengan NU. Master dan doktor antropologi University of Illinois, Urbana, Amerika Serikat ia menemukan keberagaman menururt pengalaman religiusnya sendiri. Ada perasaan kemanusiaan yang lebih humanis sifatnya merupakan bagian dari artikulasi keberagamannya.
Moeslim abdurrahman mengaku habitatnya yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan (Ormas) adalah menjabat sebagai ketua Lembaga Pemberdaya Buruh, Tani dan Nelayan PP Muhammadiyah, Anggota Dewan Penasehat Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan sebagainya.
Moeslim Abdurrahman banyak berinteraksi dengan berbegai kalangan, karena selain dia memiliki selera humor yang tinggi karena latar belakang pendidikannnya yang memiliki di atas rata-rata santri Indonesia. Adalah sebagai Master dan Doktor Antropologi di University Illinios, Urbana, Campaign, AS dengan
itu memepunyai wawasan dan momenkultural sehingga membuatnya bisa diterima dan berdialog dengan kalangan paling terdidik. Moeslim Abdurrahman meliki semangat yang tinggi untuk mengusahakan agar lebih banyak santri dikirim keluar negri untuk pendidikan doktoral. Dengan begitu Moeslim dekat dengan anak-anak muda yang memiliki semangat pemikiran yang produktif berpikir secara kontemporer seperti kalangan anak muda Muhammadiyah yang tergabung dalam JIMM.
Pada mulanya, pengalaman di pesantren telah membentuk kesadaran keberagaman Moeslim menjadi radikal. Sehingga Moeslim menemukan pengalaman Islam yang lain ketika beliau menjadi mahasiswa, akan tetepi yang paling mengubah pradigma berfikir Moeslim ketika mengikuti Pusat Pelatihan Ilmu- ilmu sosial di aceh pada tahun 1975.
Pengalaman ini telah merubah kesadaran normatif kepada kesadaran empiris, pada waktu itu dua dosen menarik perhatian Moeslim yang menggunakan ilmu sosial dalam mempelajari riset meskipun ilmu sosial yang belum memihak.
Pandangan normatif berubah ke empiris semakin kental saat bekerja di Badan Litbang Departemen Agama tahun
(1977-1989).30Moeslim abadurrahaman memfokuskan diri aktif dalam kegiatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) beliau mendirikan Asosiasi Penelitian Indonesia (API) dan kemudian melahirkan peneliti-peneliti andal seperti Wardah Hafidz dan Indro Tjahjono.
Beliau kemudian bergaul intensif dengan kalangan non muslim di sekolah tinggi Driyarkara. Ketika memipin API beliau aktif ilmuan sosial yang tidak menjadi ilmuan saja. Tetapi turut berperan dalam perubahan poses sosial di masyarakat. Dari situlah keinnginan untuk mengembangkan Teologi Islam Transformatif muncul karena waktu itu dia melihat banyak LSM yang sekuler yang tidak Apreciate terhadap keyakinan orang dalam pengertian beragama.
e. Pemikiran Moeslim Abdurrahman
Teologi Islam tidak pernah habis untuk diperbincangkan dalam narasi Islamic Studies. Literasi –literasi tentang Teologi Islam diakui memang turut menyumbangkan warna yang berbeda dalam khazanah Islamic Studies.Namun keberadaannya acap kali menjadi pemantik runcingnya Friksi ideologi atau aliran dalam teologi Islam.Sehingga dipandang perlu untuk menghadirkan perspektif teologi Islam yang lebih objektif.
30 Moeslim Abdurrahman, Islam yang Memihak…, hlm, 203.
Kondisi yang beragam menuntut manusia agara dapat hidup dan menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan.Ketika tipologi teologi Islam dapat dipahami, maka ideologi keberagaman dapat terbangun.Beragamnya aliran teologi merupakan suatu keniscayaan bagi manusia yang mejemuk, sehingga sikap dewasa diperlukan untuk menanggapi sekaligus menyikapi perbedaan-perbedaan yang ada.
Tuhan dengan sifat kuasaNya sebenarnya bisa saja menghendaki aliran teologi itu hanya ada satu saja.Namun kenyataannya Tuhan tidak mengehendaki monoaliran tersebut.Tuhan mengenal dan menyuguhkan varian dan ragam perbedaan aliran teologi.Narasi teologi terbangun oleh realita bahwa Tuhan menghendaki ragam dan varian aliran teologi Islam.Makna jelas dapat ditangkap bahwa Tuhan mengajari kita agar mampu bersikap dewasa dalam menghadapi realitas pluralisme aliran teologi Islam.31
Teologi yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang lebih bercorak professional dengan pengandaiannya bahwa hanya sekelompok orang yang boleh menguasai teologi
(sekelompok kecil yang dianggap mampu memahami kehendak Tuhan sedang yang lain diperlukan sebagai konsumen teologi). Dengan begitu teologi tidak lebih dari sekedar alat legitimasi bagi sekelompok orang tadi dan tidak berfungsi sebagai acuan
31 Siti Rohmah, Teologi Islam, (Malang: Madani Media, 2020), hlm 13.
maknawi untuk mengangkat persamaan derajat manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi untuk membangun sejarah peradaban yang lebih adil dan sejahtera.
Moeslim Abdrrahman muncul dengan gagasan pemikiran adalah Teologi Islam Transformatif.Teologi Islam Transformatif ini berangkat dari pradigma bahwa arus besar modernisasi dengan gagasan pembangunannya telah menghasilkan terhadap kaum yang tertindas.Istilah teologi yang dimaksud oleh MoeslimAbdurrahman adalah sebagai pencarian sebuah metode berpikir dan bertindak yang memihak serta mampu mempersenjatai masyarakat untuk bisa bangkit dan keluar dari keterbelakangan, kebodohan dan kemiskinan. Moeslim memilih penggunaan teologi karena konsep ini dianggapnya mampu membangkitkan motifasi dan partisipasi masyarakat.Kalangan
“modernisasi berangkat dari kepedulian akan keterbelakangan umat
Islam di dunia sekarang. Keterbelakangan itu disebabkan oleh kepicikan berpikir, kebodohan dan ketertutupan dalam memahami ajaran agamanya.sendiri.
Perkembangan umat Islam diwarnai dengan dua pradigma, pradigma “modernisasi Islam” cendrung melakukan liberalisme pandangan yang adaptif terhadap kemajuan zaman tanpa harus meninggalkan sikap kritis terhadap unsur negatif dari proses modernisasi. Jadi bagi kalangan “modernisasi Islam” persoalannya
adalah bagaimana dengan tradisi teks mengembangkan pesan Islam dalam konteks perubahan sosial.Kalangan “Islamisasi” yang cendrung berupaya mengali teks dalam rangka mengendalikan perubahan sosial.
Akhir-akhir ini tampak ada kecendrungan baru melalui isu pengembangan “teologi kontekstual” atau penganjurnya kadang-kadang disebut sebagai teologi pembangunan atau ada juga sebagai
“teologi transformatif” jika orientasi pradigma “modernisasi” lebih
bertolak dari isu tentang kebodohan, keterbelakangan dan kepicikan atau pradigma “Islamisasi” mengambil topik persoalan normatif antara yang “Islami” dan yang “tidak Islami” atau mana yang “asli” dan mana yang bid’ah maka “teologi transformatif” lebih menaruhkan perhatian terhadap persoalan keadilan dan ketimpangan sosial saat ini.
Itulah yang dianggap sebagai agenda besar yang menjadikan banyak umat manusia tidak mampu mengekspresikan harkat dan martabat kemanusiaannya.
Moeslim Abdurrahman menjelaskan bahwa teologi Islam memiliki beberapa syarat agar supaya benar-benar berfungsi transformatif:
1. Teologi Islam harus bervisi sosial-emansipatoris.
2. Memerlukan kontekstualisasi nilai etika kitab suci, serta bukan tekstualisasi.
3. Peranan liberatif agama ini merupakan hasil daripada dialog terbuka antara teks dan konteks, sehingga melahirkan suatu penghayatan terbaik yang memihak kemanusiaan.
4. Asas ortodoksi Islam harus dimaknakan sebagai tumpuan untuk kepentingan umat (yang bersifat bervisi dan futuristik)
5. Orientasi keislaman bukan sekedar ortodoksi tetapi juga ortopraksi.
6. Para intelektual, komuniti serta institusinya harus berfungsi kritis khususnya terhadap pengaruh struktur yang dominative, hegemonik dan menindas.32
Sementara itu menurut Moeslim Abdurrahman teologi Islam transformatif lebih menekankan perhatian kepada soal kemiskinan dan ketidakadilan.Menurutnya arus besar modernisasi dengan ideologi pembangunanya telah menghasilkan aksploitasi dan marjinalisasi terhadap kaum dhuafa dan mustadh’afin.
Dalam rangka mengembalikan fungsi kritis agama terhadap struktur sosial yang timpang maka diperlukan upaya transdensi yaitu
“proses yang melahirkan kemampuan manusia untuk keluar dari
strukturnya dan melihat struktur kembali melalui iman yang belum distruktur secara kritis.
32 Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif, hlm, 13
Struktur yang timpang dipandang oleh Moeslim Abdurrahman sebagai bagian dari dosa Barat atau modernisasi, sebab modernisasi dalam prakteknya sering melakukan eksploitasi, dimana sumber-sumber informasi dan ekonomi hanya bisa dikuasai oleh sekelompok orang dengan mengontrol sejumlah orang tanpa memberi kesempatan dan harapan untuk mengubah masa depanya sendiri.33
Kalangan “teologi transformatif” menyimpulkan bahwa agama dalam proses modernisasi sekarang ini melahirkan tiga corak antara lain:
1. Tampil sebagai alat rasionalisasi atas modernisasi atau modernism dengan melahirkan perkembangan teologi rasional yang mengacu pada tumbuhnya kepentingan intelektualisme sekelompok akademikus.
2. Sebagai alat legimitasi atas nama melancarkan dan mendukung berhasilnya program-program ini dirancang dan dilaksanakan secara tenokrasi berdasarkan pradigma pertumbuhan ekonomi dan bukan untuk pertumbuhan nilai-nilai dasar pembangunan harkat kemusiaan sendiri. Dalam konteks seperti itu corak teologi yang dominan adalah teologi paralelisme yang bersifat justifikatif.
33 Agustina Damanik, “ Moeslim Abdurrahman Pemikiran Teologi,…”, hlm 24.
3. Kelompok masyarakat tertentu terutama “kaum dhuafa” yang tidak terserap kedalam dialog besar proses modernisasi dewasa ini, terpaksa menghanyutkan diri dalam impian teologi eskatologis yang bersifat eskapistis. Mereka tidak jarang menunjukan sikap hidup fatalistic. Bahwa “dunia hanyalah tempat bersinggah untuk minum”, bahwa dunia hanyalah penjara bagi orang-orang yang beriman dan surge bagi orang- orang kafir.
Dalam paradigma transformatif, manusia ditentukan oleh lingkungannya itulah sebabnya mengusahakan tujuan transformatif dan egalitarisme dilakukan dengan mengubah dunia untuk mengubah manusia bukan merubah manusia untuk mengubah dunia. Paradigma transformatif melihat bahwa globalisasi yang menyengsarakan rakyat dan menyebabkan marginalisasi sosial kelas tertindas serta kemiskinan ini sebagai bentuk ketidakadilan sistem dan struktrur ekonomi , politik,hegemoni kultural serta penghormatan terhadap HAM.
Menurut Moeslim Abdurrahman dalam konsep ini, sangat ditekankan adanya sikap teologis untuk menyakini bahwa risalah Islamiyah adalah bagaimana mambawa ide agama dalam pergulatan hidup kolektif untuk menegakkan tatanan sosial yang adil sebagai
cita-cita ketakwaan. Ada dua hal penting yang harus dilakukan oleh umat Islam antara lain:
1. Umat Islam harus berani melakukan otokritik terhadap pesan-pesannya dan mendefenisikan konsep-konsepnya selama ini.
Misalnya tentang konsep tauhid yang penting disi adalah bagaimana seseorang itu bertauhid dalam fragmentasi sosial.
2. Umat Islam harus berani mengajukan satu narasi besar yang baru. Umat Islam tidak hanya perlu berbicara pada level the caring society. Dengan kepedulian pada masyarakat seprti mengeluarkan sedekah sebagainya dalam konsep ini, Islam diharapkan lebih mempunyai komitmen menyuarakan ideology yang memperjuangkan keadilan sosial melalui mekanisme redistribusi sosial. Yang selama ini Islam harus diakui sangat lemah pemihakannya ketka berbicara mengenai sistem sosialyang adil.”
f. Perbandingan Teologi Islam Menurut Moeslim Abdurrahman dengan Aliran-aliran lainya.
“Menurut Moeslim Abdurrahman, istilah dan pengertian
tentang teologi Islam adalah Islam yang membuat distingsi dengan proses modernisasi atau modernitas yang bekerja dengan menghubungkan refleksi teologis dengan pembacaan konstruk masyarakat agar dapat menimbulkan gerakan- gerakan transformasi
sosial. Hal ini karena menurut Moeslim Abdurrahman, di dalam proses modernisasi itu banyak orang yang semakin tidak peduli terhadap persoalan perubahan atau prosessosial yang semakin memarginalkan orang- orang yang tidak punya akses dengan pembangunan.
Moeslim memilih penggunaan teologi karena konsep ini dianggapnya mampu membangkitkan motifasi dan partisipasi masyarakat.Kalangan “modernisasi berangkat dari kepedulian akan keterbelakangan umat Islam di dunia sekarang. Keterbelakangan itu disebabkan oleh kepicikan berpikir, kebodohan dan ketertutupan dalam memahami ajaran agamanya.sendiri.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa teologi teologi Islam sebagai teologi kontekstual yakni sebuah teologi yang dipahami dan didialogkan secara dialektis sesuai dengan konteks problematika dalam berhadapan dengan dinamika sosial, ekonomi, budaya maupun politik. Ini merupakan perkembangan teologi yang lebih bersifat praksis, yakni kaum beriman melakukan sebuah tindakan yang tidak semata bersifat ukhrowi, tetapi juga dengan keimanan yaitu mereka dituntut untuk membangun kedamaian, keadilan, egalitarianisme di dunia ini.Dengan kata lain, kaum beriman diharapkan dengan
teologinya membangun kerajaanTuhan di bumi ini, agar bumi ini penuh dengan kehidupan surga.34
Menurut Moeslim Abdurrahman dalam konsep ini, sangat ditekankan adanya sikap teologis untuk menyakini bahwa risalah Islamiyah adalah bagaimana mambawa ide agama dalam pergulatan hidup kolektif untuk menegakkan tatanan sosial yang adil sebagai cita-cita ketakwaan.
Dalam rangka pemikiran teologi yang demikian, gagasan teologi Islam Moeslim Abdurrahman dielaborasi dan mendapat landasan acuanteoritis atas pengklasifikasian teologi Islam secara umum.Adapun dimensi pembebasannya adalah upaya praksis untuk mengatasi problem yang diakibatkan oleh dampak modernisasi, yang menciptakan kesenjangan sosial antara penindas, dalam hal ini para pemilik modal dan penguasa, dan yang tertindas yaitu para mustadh’fin seperti paraburuh.35
Dari pemaparan tentang pengertian- pengertian di atas, dapat diperoleh pemahaman bahwa pada hakekatnya teologi Islam adalah transformasi kesadaran. Transformasi kesadaran yang dimaksud
34Syekh Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, hlm, 10.
35Moeslim Abdurrahman, Islam Transformatif , hlm, 76.
adalah kesadaran untuk mengubah masyarakat dari kondisinya yang sekarang menuju kepada keadaan lebih dekat dengan tatanan yang ideal.Karena itu dalam kata transformasi di sini, termuat suatu empowering of the people untuk mengorganisir diri dalam memperbaiki harkat hidup dan martabatnya sebagai manusia yang manusiawi.
Pembahasan Teologi (ilmu kalam), dapat dikelompokkan menjadi 3 pembahasan, yaitu:
1. Iman dan Kufur.
Iman dan kufur merupakan salah satu persoalan yang muncul pada awal-awal munculnya teologi Islam. Dalam Islam, iman itu mengandung tiga unsur, yakni tashdiq bil al-qalb, iqrar bi al-lisan, dan ‘amal bi al-arkan.
Menurut aliran Khawarij, iman bukan hanya sekedar pengakuan dalam hati (tashdiq bi al-qalb), tetapi amal pun termasuk dalam iman. Seseorang yang telah melakukan dosa besar bukan hanya berdosa, melainkan juga kafir, sekalipun ia mengakui ke-Esa-an Allah Dke-Esa-an orke-Esa-ang yke-Esa-ang telah melakukke-Esa-an dosa besar, maka ia akke-Esa-an kekal di dalam neraka.36
Sedangkan menurut aliran Murji’ah, iman hanya pengakuan dalam hati (tashdiq bi al-qalb). Seseorang tidak akan menjadi kafir
36 M. Amin Nurdin, Sejarah Pemikiran Islam (Jakarta: Amzah, 2011), 264
karena telah melakukan dosa besar, atau menyatakan kekufuran di lisannya, apabila telah mengakui akan ke-Esa-an Allah. Sekalipun mereka ikut menyembah berhala atau merayakan natal di gereja.Karena, bagi mereka yang penting adalah pengakuan dalam hati, bukan amal.37“
“Dan menurut aliran Mu’tazilah, berpendapat bahwa iman
bukan hanya pengakuan dalam hati (tashdiq bi al-qalb), melainkan iman adalah pelaksanaan kewajiban kepada Tuhan.Jadi, orang yang hanya membenarkan pengakuan saja, tidak melakukan kewajiban-kewajibannya itu tidak bisa dikatakan sebagai orang mukmin. Dan pelaku dosa besar itu tidak kafir, dan ia tidak berhak mendapatkan siksa di neraka, akan tetapi orang yang bukan mukmin itu yang akan mendapatkan siksaan yang berat di neraka. Karena, iman bukan berarti pasif menerima apa yang dikatakan dari orang lain, akan tetapi iman seharusnya aktif, karena akal dapat mengetahui kewajibankewajibannya kepada Tuhan38
Menurut Moeslim Abdurrahman, “Sistem kepercayaan agama, nilai-nilai dan praktek-praktek keagamaan memiliki pengaruh langsung terhadap tingkah laku sosial masyarakat.”39 Dari kalimat
Menurut Moeslim Abdurrahman, “Sistem kepercayaan agama, nilai-nilai dan praktek-praktek keagamaan memiliki pengaruh langsung terhadap tingkah laku sosial masyarakat.”39 Dari kalimat