BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Perbandingan Unit Cost/HPP Metode Konvensional dengan
Dari penjabaran sebelumnya dapat diketahui mengenai perbandingan antara unit cost/HPP yang dikeluarkan klinik Agnesia untuk pasien kecelakaan.
Perbedaan tersebut sangat mencolok dari penelusuran biaya-biaya langsung dengan tidak langsung. Dalam menetapkan unit cost/hpp, klinik membebankan biaya-biaya tidak langsung seperti listrik, biaya sewa gedung,dsb tidak semua
dimasukkan ke dalam biaya perincian. Pemilik klinik hanya mengakumulasikan biaya listrik dan kebersihan ke dalam biaya rawat inap dan jasa medis.
Tabel 4.9
Perbandingan Biaya Layanan Pasien Kecelakaan
Sumber: Data Diolah (2018)
Berdasarkan table, perbandingan antara unit cost/HPP metode Activity Based Costing lebih tinggi sebesar Rp26.850 dari pada metode konvensional. Hal ini disebabkan pada penghitungan metode Activity Based Costing(ABC), penelusuran biaya dilakukan lebih terperinci dan akurat mengenai segala biaya yang masuk untuk merawat pasien kecelakaan di Klinik Agnesia.
Metode Activity Based Costing (ABC) memberikan informasi mengenai biaya tidak langsung yang akurat, dengan mengidentifikasi aktivitas-aktivitas apa saja yang yang diperlukan untuk merawat pasien kecelakaan. Dari aktivitas-aktivitas tersebut kemudian dihitung biaya tidak langsungnya secara proporsional.
Penghitungan secara proporsional ini membuat setiap aktivitas mempunyai biaya yang berbeda dengan aktivitas lainnya. Perhitungan dengan metode ABC ini tentu lebih memberikan perhitungan yang akurat dan rinci, sehingga kebijakan penetapan unit cost/HPP kepada pasien kecelakaan lebih akurat dan menguntungkan klinik Agnesia
No Activity Based Costing/ABC Traditional Based Costing Jenis Biaya Jumlah Jenis Biaya Jumlah 1 Biaya Langsung
Obat Rp1.528.000 Bahan Baku Rp1.528.000
Jasa Dokter dan Perawat
Rp873.000 Jasa Dokter dan Perawat
Rp873.000
2 Biaya Tidak Langsung/Overhead
*Rawat Inap Rp250.000 Rawat Inap Rp250.000
Biaya Aktivitas Rp75.050 - -
Total Rp2.223.050 Total Rp2.148.000
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan peneliti pada Klinik Agnesia yaitu:
1. Berdasarkan hasil perhitungan peneliti, total biaya untuk penanganan pasien kecelakaan dengan menerapan metode konvensional untuk menghitung HPP/unit cost pasien kecelakaan diketahui sebesar Rp2.148.000 dengan rincian biaya bahan langsung sebesar Rp1.528.000 dan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp873.000 dan biaya rawat inap yang dialokasikan sebagai biaya overhead sebesar Rp250.000.
2. Berdasarkan hasil perhitungan peneliti, total biaya untuk penanganan pasien kecelakaan dengan menerapan metode Activity Based Costing (ABC) untuk menghitung HPP/unit cost pasien kecelakaan diketahui
sebesar Rp2.223.050dengan rincian biaya bahan langsung sebesar Rp1.528.000 dan biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp873.000, biaya rawat inap yang dialokasikan sebagai biaya overhead sebesar Rp250.000 dan biaya aktivitas yang dialokasikan sebagai biaya overhead sebesar Rp75.050
3. Dalam menentukan unit cost/HPP kepada pasien kecelakaan, Klinik Agnesia menggunakan metode akuntansi konvensional mengakibatkan terjadinya perbedaan biaya dalam menetapkan harga pokok produksi/ unit cost. Dampak yang akan terjadi adalah terjadinya pembebanan biaya yang terlalu rendah (undercosting).
4. Berdasarkan penghitungan akumulasi biaya pasien kecelakaan dengan metode Activity Based Costing (ABC) diperoleh informasi biaya yang lebih akurat. Biaya tidak langsung yang timbul akibat adanya pemicu biaya sebesar Rp75.050 per unit cost yang dialokasikan ke aktivitas.
5.2 Saran
Dari kesimpulan yang telah diuraikan diatas, peneliti mencoba memberikan saran sebagai bahan pertimbangan bagi Klinik Agnesia yaitu:
1. Sistem akuntansi biaya tradisional yang digunakan oleh Klinik Agnesia kurang akurat dalam perhitungan untuk biaya pelayanan terhadap pasien kecelakaan.
2. Klinik Agnesia hendaknyamempertimbangkan untuk menerapkan metode Activity Based Costing System (ABC) sebagai alternatif mengingat
pentingnya informasi biaya produk bagi manajemen Klinik.
3. Sebelum menerapkan metode Activity Based Costing System (Sistem ABC), pihak manajemen Klinik Agnesia harus melakukan pengenalan
terhadap metode Activity Based Costing System (Sistem ABC) kepada semua pihak yang terkait dalam klinik. Hal ini perlu dilakukan, karena dalam penerapan metode Activity Based Costing System (Sistem ABC) memerlukan persiapan dan waktu yang cukup lama untuk menelusuri biaya ke masing-masing aktivitas dan juga membutuhkan tenaga kerja dan biaya yang tidak sedikit.
4. Dalam pembebanan biaya overhead sebaiknya klinik Agnesia menggunakan metode Activity Based Costing (ABC) karena klinik dapat mengendalikan biaya dengan baik melalui pengidentifikasian aktivitas-aktivitas yang bernilai tambah bagi pelayanan pasien kecelakaan.
Aktivitas-aktivitas yang tidak mempunyai nilai tambah bagi produk dapatdihilangkan atau dikurangi sehingga membantu klinik dalam menentukankebijakan harga guna memperoleh laba yang maksimal.
5. Pemilik Klinik sebaiknya menerapkan perhitungan berdasarkan Activity Based Costing (ABC) dengan memasukkan biaya-biaya aktivitas ke dalam
biaya tidak langsung sebesar Rp75.050 ke dalam setiap perincian biaya pasien kecelakaan agar Klinik Agnesia mendapatkan keuntungan secara maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, Firdaus Dunia dan Wasilah Abdullah. 2009. Akuntansi Biaya Edisi 2.Jakarta : Salemba Empat.
Burch, G. John. 1994. Cost and Management Accounting: A Modern Approach.
West Publishing CO
Bustami, Bastian dan Nurlela. 2009. Akuntansi Biaya. Jakarta: Penerbit Mitra Wacana Media
Carter, William K. 2009. Akuntansi Biaya Edisi 14. Jakarta : Salemba Empat.
Cooper, R dan Kaplan Robert S. 1991. The Design of Cost Management System Text, Cases &Reading. Prentice-Hall International Editions Englewood Cliffs. New Jersey
Dewi, Sofia Prima, dan Septian Bayu Kristanto. 2015. Akuntansi Biaya Edisi 2.
Bogor: In Media
Dunia, Firdaus A. 1994. Akuntansi Biaya: Buku Satu. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Efferin, Sujoko.dkk. 2012. Metode Penelitian Untuk Akuntansi. Mengungkap Fenomena dengan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Gray, Jack dan Don Ricketts. 1982. Cost and Managerial Accounting. Tokyo:
Kosaido Printing.CO.Ltd
Hakim, Abdul. 1999. Dasar-Dasar Akuntansi Biaya Edisi 4. Yogyakarta: BPFE Horngren, Charles T. dkk. 2006. Akuntansi Biaya Dengan Penekanan Manajerial
Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga
Kinney, Michael R. dan Cecily A. Raiborn. 2011. Cost Accounting: Foundations and Evolutions. Singapore: Cengage Learning Asia Pte Ltd
Riwayadi. 2016. Akuntansi Biaya Edisi 2: Pendekatan Tradisional dan Kontemporer. Jakarta: Salemba Empat
Siregar, Baldric.dkk. 2013. Akuntansi Biaya Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat Supriyono, R.A. 2013. Akuntansi Biaya Pengumpulan Biaya dan Penentuan
HargaPokok. Yogyakarta : BPFE.
Sujarweni, Wiratna. 2015. Akuntansi Biaya: Teori dan Penerapannya.
Yogyakarta: Penerbit Pustaka Baru
Surjadi, Lukman. 2013. Akuntansi Biaya. Jakarta: Indeks
Usry, Milton F dan William K. Carter. 2004. Akuntansi Biaya Edisi 13. Jakarta:
Penerbit Salemba Empat
Witjaksono, Armanto. 2013. Akuntansi Biaya Edisi Revisi. Yogyakarta: Graha Ilmu
Sirait, Pirmatua. 2017. Akuntansi Biaya. Yogyakarta: Expert
Andriansyah, Rizal (2013). “Penerapan Metode Activity Based Costing Dalam Penetapan Tarif Rawat Inap Pada Rumah Sakit”. Jurnal Penelitian Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya