PERBANDINGAN PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN MEDIS DENGAN METODE KONVENSIONAL
VSABC (ACTIVITY BASED COSTING)
(Studi Pada Klinik Agnesia Jl. Makmur No.38 Kecamatan Siborong-borong Tapanuli Utara)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Ilmu Administrasi Niaga/Bisnis
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Disusun Oleh:
140907075 ADI KESUMAH
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NIAGA/BISNIS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
ABSTRAK
PERBANDINGAN PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN MEDIS DENGAN METODE KONVENSIONAL
VSABC (ACTIVITY BASED COSTING)
(Studi Pada Klinik Agnesia Jl. Makmur No.38 Kecamatan Siborong-borong Tapanuli Utara)
Nama : Adi Kesumah
NIM : 140907075
Program Studi : Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Dosen Pembimbing : Karlonta Nainggolan, SE. MSA.Ak Klinik Agnesia adalah klinik pratama yang melayani pasien kecelakaan.
Dalam melayani pasien kecelakaan, klinik Agnesia menerapkan sistem akuntansi biaya konvensional dalam menghitung biaya setiap pasiennya. Sistem konvensional ini menghitung biaya dari setiap pasien/unit cost berdasarkan biaya- biaya langsung yang dikonsumsi pasien seperti biaya obat-obatan, jasa medis, dan rawat inap. Sistem akuntansi biaya konvensional sendiri tidak akurat karena tidak membebankan biaya-biaya aktivitas sebagai biaya tidak langsung/overhead kepada pasien.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan: 1) Untuk mengetahui pelayanan medis pasien kecelakaan berdasarkan metode ABC ( Activity Based Costing), 2) Untuk mengetahui perbandingan unit cost/HPP pasien kecelakaan berdasarkan metode konvensional dengan metode ABC (Activity Based Costing).
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif non statistik.
Metode pengumpulan data penelitian ini dengan melakukan analisisis dokumen berupa kartu pesanan pasien kecelakaan dan wawancara kepada pemilik klinik.
Data yang didapat kemudian dianalisis dengan menerapkan teori penerapan Activity Based Costing (ABC) oleh Charles T. Horngren.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perhitungan unit cost/HPP pasien kecelakaan berdasarkan metode ABC (Activity Based Costing) lebih mahal Rp75.050. Hal ini disebabkan metode ABC menghitung lebih akurat dibandingkan dengan metode konvensional dengan menghitung biaya-biaya aktivitas yang timbul sebagai biaya tidak langsung/overhead.
Kata Kunci: Activity Based Costing (ABC), Klinik, Overhead, Unit Cost
ABSTRACT
COMPARISON OF MEDICAL COST SERVICE CALCULATIONS WITH CONVENTIONAL COST METHODS VS ABC
(ACTIVITY BASED COSTING) (Case Study at Clinic Agnesia , 38 Makmur
Street North Tapanuli) Name : Adi Kesumah
NIM : 140907075
Department : Ilmu Administrasi Bisnis Faculty : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Advisor : Karlonta Nainggolan, SE. MSA.Ak The Agnesia Clinic is a first clinic that serves accident patients. In serving accident patients, the Agnesia clinic applies a conventional cost accounting system in calculating the costs of each patient. The conventional system calculates the cost of each patient / unit cost based on the direct costs consumed by the patient such as the cost of medicines, medical services, and hospitalization.
Conventional cost accounting systems are inaccurate calculating the cost of each patient / unit cost because do not impose activity costs as overhead costs to patients.
This research is aimed at 1) To know the medical services of accident patients based on the ABC method (Activity Based Costing), 2) To know the comparison of unit cost of accident patients based on conventional methods with ABC (Activity Based Costing) method.
This research uses non-statistical quantitative research methods. The method of collecting data in this study is by analyzing documents in the form of accident patient order cards and interviews with clinic owners. The data obtained is then analyzed by applying the theory of the application of Activity Based Costing (ABC) by Charles T. Horngren.
The results of this study indicate the the calculation of unit cost of accident patients based on ABC (Activity Based Costing) method is more expensive IDR75,050. This is because the ABC method calculates more precise than the conventional method by calculating activity costs that allocate as indirect costs
Key Word: Activity Based Costing (ABC), Clinic, Overhead, Unit Cost
KATA PENGANTAR
Syukur kepada Allah atas kasih karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul “PERBANDINGAN PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN MEDIS DENGAN METODE KONVENSIONAL VS ABC (ACTIVITY BASED COSTING) (Studi Pada Klinik Agnesia Jl.
Makmur No.38 Kec. Siborong-borong, Tapanuli Utara)”. Skripsi ini saya persembahkan buat kedua orangtua saya, terima kasih buat kasih sayangnya dan juga disusun guna memenuhi syarat kelulusan dan memperoleh Gelar Sarjana Adminsitrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Terima kasih saya ucapkan kepada pihak-pihak yang membantu penyusunan skripsi ini yaitu:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Marlon Sihombing, MA selaku ketua Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis atas segala arahan dan bimbingannya selama saya kuliah.
3. Ibu Dr. Beti Nasution, M.Si selaku sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis.
4. Ibu Karlonta, M.Sc selaku dosen pembimbing skripsi yang telah bersedia meluangkan banyak waktu untuk membantu dan membimbing saya dengan sepenuh hati selama proses pengerjaan hingga terselesaikannya skripsi ini dengan baik.
5. Ibu Siswati Saragi, S.Sos, M.Si dan Bapak Farid, S.H selaku staff Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis yang selalu ada dan membantu saya dalam banyak hal.
6. Seluruh dosen Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis yang telah membimbing dan memberikan ilmunya kepada penulis selama masa perkuliahan.
7. Bapak Pray Hoper Malau, Skep.,Ns, CWCCA selaku pemilik Klinik Agnesia yang telah memberikan kesempatan dan informasi yang penulis butuhkan dalam menyelesaikan penelitian ini.
8. Terima kasih terkhusus buat Niki Afsari Putri, Olga Gultom, Cendana Saragih, Rudi Agusman dan Muhammad Azhar Nasution, S.AB yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
9. Terima kasih kepada seluruh teman-teman penulis di Ilmu Administrasi Bisnis 2014, GMKI Fisip USU, Gamadiksi USU, GSM, KMK Fisip USU, Kos 16, Kos 29, Kos Anugrah, dan seluruh teman-teman yang tidak dapat saya sebutkan yang telah mewarnai kehidupan penulis selama di perkuliahan.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna Dengan terselesaikannya skripsi ini, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukannya.
Medan, Desember 2018
Adi Kesumah
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... viii
DAFTAR LAMPIRAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 4
BAB II KERANGKA TEORI ... 5
2.1Klinik Pratama ... 5
2.2 Biaya ... 6
2.2.1 Akuntansi Biaya ... 6
2.2.2 Pemicu Biaya/Cost Driver ... 6
2.3 Perhitungan Biaya Unit Cost dengan Konvensional ... 8
2.3.1 Kartu Pokok Pesanan ... 8
2.4 Perhitungan Biaya Unit Cost dengan ABC ... 9
2.4.1 Sistem Perhitungan Biaya ... 10
2.4.2 Pentingnya Metode ABC ... 10
2.5 Klasifikasi Biaya... 13
2.5.1 Berdasarkan Elemen Produksi ... 13
2.5.2 Berdasarkan Hubungan Biaya dengan Volume Kegiatan ... 18
2.5.3 Berdasarkan Fungsi Pokok Perusahaan ... 23
2.5.4 Berdasarkan Hubungan Biaya dengan Fungsi Pokok Manajerial ... 24
2.6 Keunggulan Metode ABC (Activity Based Costing) ... 25
2.7 Perbedaan ABC(Activity Based Costing) VS Metode Konvensional ... 26
2.8 Penerapan ABC (Activity Based Costing) ... 28
2.9 Penelitian Terdahulu ... 31
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
3.1 Bentuk Penelitian ... 35
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 35
3.3 Defenisi Konsep ... 35
3.4.1 Activity Based Costing/ABC ... 35
3.4 Defenisi Operasional dan Variabel Penelitian ... 35
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 37
3.6 Teknik Analisis Data ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Klinik Agnesia ... 40
4.1.1 Sejarah Singkat Klinik Agnesia ... 40
4.1.2 Visi dan Misi Klinik Agnesia ... 41
4.1.3 Struktur Organisasi Klinik Agnesia ... 42
4.2 Penerapan Metode Konvensional ... 45
4.2.1 Biaya Bahan Baku ... 45
4.2.2 Biaya Tenaga Kerja Langsung ... 46
4.3 Penerapan Metode ABC/Activity Based Costing ... 47
4.3.1 Mengidentifikasi Aktivitas yang Menjadi Objek Biaya .... 48
4.3.2 Mengidentifikasi Biaya Langsung Jasa ... 50
4.3.3 Mengidentifikasi Aktivitas Biaya Tidak Langsung (Overhead) Jasa ... 52
4.3.4 Menghitung Total Biaya Jasa dengan Menambahkan Biaya Langsung dan Tidak Langsung ... 54
4.4 Perbandingan Unit Cost/HPP Metode Konvensional dengan Metode ABC (Acitivity Based Costing) ... 55
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 57
5.2 Saran ... 59 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1Kalkulasi Biaya Tagihan Makan ... 11
Tabel 2.2 Biaya Langsung dan Tidak Langsung ... 16
Tabel 2.3 Perbedaan Metode Konvensional dan ABC ... 27
Tabel 4.1 Perhitungan Biaya Bahan Baku Secara Konvensional ... 45
Tabel 4.2 Perhitungan Biaya Tenaga Kerja Langsung Secara Konvensional ... 46
Tabel 4.3 Identifikasi Aktivitas Sebagai Objek Biaya ... 48
Tabel 4.4 Biaya Bahan Baku Langsung Pasien Kecelakaan ... 50
Tabel 4.5 Biaya Tenaga Kerja Langsung Pasien Kecelakaan ... 52
Tabel 4.6 Identifikasi Biaya Tidak Langsung Pasien Kecelakaan ... 52
Tabel 4.7 Akumulasi Biaya Layanan Pasien Kecelakaan ... 54
Tabel 4.8 Identifikasi Biaya Tidak Langsung Rawat Inap Klinik Agnesia Februari 2017 ... 55
Tabel 4.9 Perbandingan Biaya Layanan Pasien Kecelakaan ... 56
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Aktivitas Membutuhkan Sumber Daya ... 9 Gambar 2.2 Biaya Tetap, Biaya Variabel dan Biaya Campuran ... 18 Gambar 4.1 Struktur Organisasi Klinik Agnesia ... 44
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Transkrip Wawancara
Lampiran 2 Kartu Pesanan Pasien Kecelakaan Lampiran 3Dokumentasi Klinik Agnesia Lampiran 4Denah Klinik Agnesia
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Klinik Agnesia didirikan pada tahun 2008 oleh Sitor Pasaribu sebagai pemilik dan dr. Tunggul Pasaribu sebagai penanggungjawab. Klinik pada awalnya bukan klinik umum melainkan klinik bersalin. Klinik Agnesia memiliki fasilitas yang lengkap dan beroperasi hingga tahun 2012. Klinik Agnesia mempekerjakan seorang bidan yang melayani masyarakat dalam persalinan.
Saat ini Klinik Agnesia memiliki fasilitas yang lebih lengkap. Diantaranya adalah tensi, stetoskop, lampu sorong, pemeriksaan darah (cek kolestrol, asam urat, gula dan hemoglobin), USG, inkubator, tabung oksigen, sterilisator, alat-alat bedah minor, satu kamar periksa dan dua kamar rawat inap hingga berbagai macam obat-obatan.
Berbagai kasus yang pernah ditangani oleh Klinik Agnesia adalah infeksi saluran pernafasan Akut (ISPA), tipus, maag, demam tipoid, mencret, berbagai macam gangguan pada indra seperti masuk serangga pada telinga, kejang, sesak nafas, kecelakaan hingga memformalin mayat.
Salah satu jenis kasus yang paling banyak ditangani klinik adalah menangani pasien korban kecelakaan. Dalam menangani kecelakaan, klinik menetapkan batasan kondisi yang bisa ditangani pada pasien yakni pasien tidak mengalami patah tulang. Jika dalam pemeriksaan diketahui pasien mengalami patah tulang maka klinik menolak menangani dan akan memberi rujukan ke rumah sakit terdekat
Dalam menentukan biaya yang dibebankan kepada seorang pasien, secara garis besar klinik akan mengkalkulasikan total biaya terdiri dari biaya jasa medis (jasa perawat dan jasa dokter), biaya material berupa berbagai macam obatan- obatan injeksi maupun oral dan biaya rawat inap. Rawat inap di Klinik Agnesia merupakan pilihan bagi pasien kecelakaan. Biaya rawat inap sebagai komponen biaya dibebankan sebagai biaya tidak langsung (overhead) kepada pasien kecelakaan.
Untuk menentukan unit cost terhadap pasien kecelakaan tidak mempertimbangkan activity cost atau biaya aktivitas sebagai biaya overhead klinik yang bisa mempengaruhi harga pokok pelayanan medis tersebut.
Untuk biaya perawatan, Klinik Agnesia menetapkan tarif Rp95.000 untuk biaya jasa dokter dan Rp55.000 untuk biaya jasa perawat perhari. Biaya rawat inap sebesar Rp125.000 per malam dan biaya obat-obatan bergantung pada jenis dan banyaknya obat yang dikonsumsi pasien. Untuk biaya rawat inap merupakan opsi yang bisa dipilih pasien tergantung pada kondisinya. Bila kondisi tidak terlalu parah, pasien hanya tidak membutuhkan rawat inap (rawat jalan).
Penetapan biaya layanan dihitung dengan membebankan biaya-biaya tanpa memperhatikan aktivitas sebagai pemicu biaya itu sendiri.
Untuk mengatasi kelemahan sistem konvensional yang tidak mempertimbangkan activity cost atau biaya aktivitas sebagai biaya overhead, maka digunakan metode perhitungan biaya produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing (ABC) yang akan membantu pengelola klinik mengalokasikan biaya overhead yang lebih akurat. Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas diperkenalkan dan didefinisikan sebagai suatu sistem perhitungan biaya
dimana tempat penampungan biaya overhead yang jumlahnya lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang memasukkan satu atau lebih faktor yang tidak berkaitan dengan volume.
Penerapan sistem Activity Based Costing (ABC) sendiri banyak memberikan manfaaat diantaranya sebagai alat untuk membantu pemilik klinik dalam efisiensi dan efektifitas pengelolaan klinik khususnya dalam menetapkan unit cost atau harga pokok pelayanan pada korban kecelakaan. Sistem ini
memberikan informasi kepada pengelola klinik mengenai aktivitas-aktivitas apa saja yang digunakan dalam pelayanan medis korban kecelakaan sehingga menghasilkan perhitungan harga pokok pelayanan yang akurat kepada pasien korban kecelakaan.
Dengan melihat manfaat serta pentingnya penerapan sistem ABC (Activity Based Costing), peneliti tertarik untuk melakukan studi di Klinik Agnesia dalam
menentukan tarif (unit cost) dengan judul “ Analisis Perhitungan Unit Cost Pelayanan Korban Kecelakaan dengan Metode ABC (Activity Based Costing).
(Studi Pada Klinik Agnesia Jl. Makmur No.38 Kecamatan Siborong-borong Tapanuli Utara)”. Penelitian ini menggunakan data unit cost pasien kecelakaan atas nama Mangidu Sianipar yang telah dirawat di Klinik Agnesia pada tanggal 13 s/d 15 Februari 2017.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut:
a. Bagaimana menghitung biaya (unit cost) pelayanan medis korban kecelakaan medis berdasarkan metode ABC (Activity Based Costing)
b. Bagaimana perbandingan biaya (unit cost) pelayanan medis pasien kecelakaan
berdasarkan metode tradisional dengan metode ABC (Activity Based Costing) 1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui unit cost pelayanan medis pasien kecelakaan berdasarkan metode ABC (Activity Based Costing)
b. Untuk mengetahui perbandingan biaya (unit cost) pelayanan medis pasien kecelakaan berdasarkan metode tradisional dengan metode ABC (Activity Based Costing)
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diharapkan oleh peneliti adalah:
a. Bagi Peneliti
Meningkatkan wawasan mengenai penerapan akuntansi biaya di lingkungan usaha medis khususnya dengan metode ABC (Acitivity Based Costing)
b. Bagi Program Studi Administrasi Bisnis USU
Memberikan kontribusi kepada program studi mengenai studi akuntansi biaya dilingkungan usaha dibidang medis
c. Bagi Klinik Agnesia
Memberikan informasi kepada pemilik Klinik Agnesia mengenai perhitungan biaya medis (unit cost) pada korban kecelakaan ditinjau dari metode ABC (Activity Based Costing)
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat menjadi referensi bagi penelitian lanjutan mengenai akuntansi biaya.
BAB II
KERANGKA TEORI
2.1 Klinik Pratama
Klinik Pratama adalah fasilitas kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar dan/atau spesialistik ( Permenkes RI No. 9 Tahun 2014 tentang Klinik Pasal 1 Ayat 1). Klinik dapat dilaksanakan oleh pemerintah (Pemerintah Pusat atau Daerah) maupun masyarakat (Badan Usaha atau Perorangan).
Klinik Pratama merupakan klinik yang menyelenggarakan pelayanan medis dasar baik umum maupun khusus. Dalam pendiriannya, klinik Pratama harus memiliki penganggungjawab dan tenaga kerja. Berikut adalah syarat-syarat penganggungjawab dan tenaga kerja. Berikut adalah syarat-syarat penanggungjawab dan tenaga kerja di Klinik Pratama:
1. Penanggungjawab klinik adalah tenaga kerja medis yang harus memiliki Surat Ijin Praktik (SIP) di Klinik tersebut dan dapat merangkap sebagai pemberi pelayanan.
2. Ketenagakerjaan Klinik Pratama terdiri atas tenaga medis, tenaga kefarmasian, tenaga keperawatan, tenaga gizi, tenaga analis kesehatan, tenaga kesehatan lain, dan tenaga non kesehatan sesuai dengan kebutuhan klinik.
3. Tenaga medis pada Klinik Pratama terdiri dari 2 (dua) orang dokter dan/atau dokter gigi
4. Setiap medis yang berpraktik di Klinik Pratama harus memiliki surat tanda registrasi (STR) dan surat izin praktik (SIP) sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2.2 Biaya
Biaya adalah bagian dari harga pokok yang dikorbankan dalam usaha memperoleh penghasilan.1
Akuntansi biaya merupakan salah satu pengkhususan dalam akutansi yang mengkaji data biaya untuk digolongkan, dicatat, dianalisis, dan dilaporkan dalam laporan informasi akutansi.
Harga pokok adalah bagian dari harga perolehan atau harga beli aktiva yang ditunda pembebanannya atau yang belum dimanfaatkan dalam rangka merealisasikan pendapatan.
2.2.1 Akutansi Biaya
2
Cost driver atau pemicu biaya digunakan untuk membebankan biaya aktivitas
kepada output. Menurut Hongren, et all (2006), cost driver adalah suatu variabel seperti tingkat aktivitas atau volume, yang menjadi dasar timbulnya biaya dalam rentang waktu tertentu. Dalam menentukan cost driver yang tepat perlu adanya Ditinjau dari aktivitasnya, akuntansi biaya dapat didefinisikan sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, dan penyajian biaya-biaya pembuatan dan penjualan barang jadi (produk) atau penyerahan jasa dengan cara-cara tertentu serta menafsirkan hasilnya. Apabila ditinjau dari fungsinya, akutansi biaya dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan yang menghasilkan informasi biaya yang dapat dipakai sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan manajemen.
2.2.2 Pemicu Biaya/Cost Driver
1 Siregar, Baldric.dkk.. Akuntansi Biaya Edisi 2(Jakarta: Salemba Empat, 2013), hlm.23
2 Dewi, Sofia Prima, dan Septian Bayu Kristanto, Akuntansi Biaya Edisi 2. (Bogor: In Media,2015), hlm.1
pertimbangan yang matang dalam menetapkan penimbul biayanya atau cost driver, diantaranya:
1. Penentuan jumlah cost driver yang dibutuhkan
Menurut Cooper dan Kaplan (1991), penentuan banyaknya cost driver yan dibutuhkan berdasarkan keakuratan laporan product cost yang diinginkan dan kompleksitas komposisi output perusahaan. Semakin banyak cost driver yang digunakan, laporan biaya produksi semakin akurat. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat keakuratan yang diinginkan, semakin banyak cost driver yang dibutuhkan.
2. Pemilihan cost driver yang tepat
Menurut Cooper dan Kaplan (1991), dalam pemilihan cost driver yang tepat ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan:
a. Kemudahan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam pemilihan cost driver (cost of measurement). Cost driver yang membutuhkan biaya pengukuran lebih rendah akan dipilih.
b. Korelasi antara konsumsi aktivitas yang diterangkan oleh cost driver terpilih dengan konsumsi aktivitas sesungguhnya (degree of correlation). Cost driver yang dimiliki korelasi tinggi akan dipilih.
c. Perilaku yang disebabkan oleh cost drver terpilih (behavior effect).
Cost driver yang menyebabkan perilaku yang diingikan yang akan dipilih.
2.3 Perhitungan Biaya Unit Cost dengan Konvensional
Menurut Pirmatua Sirait, Akuntansi Biaya (2017:145) Biaya pokok pesanan (job order cost) adalah total pengorbanan dalam rangka menghasilkan pesanan hingga selesai. Biaya pokok setiap pesanan cenderung berbeda ketika kecenderungan pesanan sangat tergantung pada pemesan, akan tetapi unsur biaya pokok tetap terdiri dari biaya bahan langsung, biaya upah langsung dan biaya overhead. Biaya langsung diakui berdasarkan biaya aktual (actual cost), sedangkan biaya overhead pabrik menurut biaya taksiran (estimated cost).
2.3.1 Kartu Pokok Pesanan
Proses pengolahan pesanan sangat eksklusif, memungkinkan setiap setiap pesanan berbeda. Setiap pesanan memerlukan catatan tersendiri seperti kartu pokok pesanan.
Pada sistem akuntansi harga pokok (kalkulasi biaya) pesanan setiap pesanan dibuatkan satu kartu sendiri yang digunakan untuk mencatat semua pengeluaran atau pembebanan biaya pesanan tersebut, yaitu kartu harga pokok pesanan (job order cost sheet). Kartu harga pokok pesanan digunakan untuk mempermudah
perhitungan harga pokok pada setiap konsumen. Bentuk dari kartu pokok pesanan dapat menunjukkan :
1. Identitas pesanan
Tanda pengenal pesanan meliputi pemesan, jumlah atau identifikasi lainnya
2. Catatan biaya bahan langsung
Berisi riwayat penggunaan bahan langsung 3. Catatan biaya upah langsung
Berisi daftar penggunaan upah langsung 4. Rekapitulasi harga pokok produksi
Total dari keseluruhan masing-masing elemen biaya dan total keseluruhan biaya produksi.
2.4 Perhitungan Biaya Unit Cost dengan ABC (Activity Based Costing)
Metode Activity Based Costing adalah sistem akumulasi biaya dan pembebanan biaya ke produk dilakukan dengan menelusuri biaya dari aktivitas dan setelah itu menelusuri biaya dari aktivitas ke produk (Wiratna, 2015:126).
Sistem ABC memperbaiki sistem kalkulasi biaya dengan mengidentifikasi aktivitas individual sebagai objek pokok (fundamental). Produk memerlukan aktivitas-aktivitas dalam mengkonsumsi sumber daya. Aktivitas bisa berupa kejadian, tugas, atau unit kerja dengan tujuan khusus, sebagai contoh perancangan produk, penyetelan mesin, pengoperasian mesin, dan pendistribusian produk.
Sistem ABC menghitung biaya setiap aktivitas serta membebaskan biaya ke objek biaya seperti produk dan jasa berdasarkan aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan tiap produk atau jasa.
Gambar 2.1
Aktivitas Membutuhkan Sumber Daya
Sumber:Akuntansi Biaya Dengan Penekanan Manajerial Jilid 1(2006) Keterangan Gambar:
Aktivitas membutuhkan sumber daya (misalnya: pekerja yang dibayar untuk mengemas dan mengirimkan barang jadi kepada pelanggan).
Objek Biaya 1. Produk 2. Jasa 3. Pelanggan
Biaya Aktivitas
Aktivitas
Sumber Daya
Kemudian, produk yang memerlukan aktivitas (pengepakan dan pengiriman) dialokasikan biayanya ke aktivitas tersebut.
2.4.1 Sistem Perhitungan Biaya
Salah satu cara terbaik untuk memperbaiki sistem kalkulasi biaya adalah dengan menerapkan system kalkulasi biaya berdasarkan aktivitas (activity based costing=ABC). ABC didefinisikan sebagai suatu metode pengukuran biaya produk atau jasa yang didasarkan atas penjumlahan biaya (cost accumulation) dari pada kegiatan atau aktivitas yang timbul berkaitan dengan produksi atau jasa.3
Dulunya perusahaan misalnya perusahaan manufaktur televisi dan mobil membuat berbagai produk yang terbatas. Biaya tidak langsung mengambil tempat yang kecil dari biaya total. Jadi, pemakaian sistem kalkulasi biaya yang sederhana untuk mengalokasikan biaya secara umum mudah dilakukan, tidak mahal dan cukup akurat. Namun ketika produk yang dihasilkan sudah semakin beragam, perataan secara umum (broad averaging) justru mengakibatkan semakin tidak Sistem ABC memperbaiki system kalkulasi biaya dengan mengidentifikasi aktivitas individual sebagai objek pokok (fundamental). Produk memerlukan aktivitas-aktivitas dalam mengkonsumsi sumber daya. Aktivitas bisa berupa kejadian, tugas, atau unit kerja dengan tujuan khusus, sebagai contoh perancangan produk, penyetelan mesin, pengoperasian mesin, dan pendistribusian produk.
Sistem ABC menghitung biaya setiap aktivitas serta membebaskan biaya ke objek biaya seperti produk dan jasa berdasarkan aktivitas yang dibutuhkan untuk menghasilkan tiap produk atau jasa.
2.4.2 Pentingnya Metode Activity Based Costing
3 Horngren, Charles T. dkk.. Akuntansi Biaya Dengan Penekanan Manajerial Jilid 1(Jakarta: Penerbit Erlangga, 2006), hlm. 167-168
akuratnya biaya produk. Misalnya, penggunaan tarif overhead manufaktur untuk seluruh pabrik dalam mengalokasikan biaya-biaya ke produk sering menghasilkan data biaya yang tidak dapat dipercaya. Istilah perataan biaya, atau penghitungan biaya, menyerupai pengolesan selai kacang (peanut-butter costing) menggambarkan pendekatan kalkulasi biaya yang menggunakan pemerataan secara umum dalam mengalokasikan (atau menyebarkan, seperti mengoleskan selai kacang agar tersebar merata) biaya sumber daya secara seragam ke objek biaya (seperti produk atau jasa). Padahal masing-masing produk atau jasa tersebut dalam kenyataannya tidak menggunakan sumber daya dalam jumlah yang sama.
a. Kalkulasi Biaya yang TerlaluTinggi (Overcosting) dan Terlalu Rendah (Undercosting)
Contoh berikut menggambarkan bagaimana perataaan dapat memberikan data biaya yang tidak akurat. Contoh kalkulasi biaya tagihan makan empat sekawan yang rutin berkumpul sebulan sekali untuk mendiskusikan perkembangan bisnis. Mereka masing-masing memesan hidangan utama, hidangan penutup, dan minuman yang berbeda sesuai selera. Berikut ini adalah jumlah tagihan untuk pertemuan terbaru yang mereka adakan.
Tabel 2.1
Kalkulasi Biaya Tagihan Makan
Hidangan Utama Hidangan Penutup Minuman Total
Emma $11 $0 $4 $15
James $20 $8 $14 $42
Jessica $15 $4 $8 $27
Matthew $14 $4 $6 $24
Total $60 $16 $32 $108
Sumber: Akuntansi Biaya Dengan Penekanan Manajerial Jilid 1(2006)
Jika total tagihan makan sebesar $108 dibagi rata, maka biaya rata-rata perorang adalah $27. Pendekatan perataaan biaya ini menyamaratakan biaya makan masing-masing orang tersebut. Emma kemungkinan akan keberatan membayar $27 karena biaya makan sebenarnya yang harus ia bayar hanya $15, ia memesan hidangan utama yang paling murah. Jadi bila biaya makan keempat orang tersebut disamaratakan, Emma dan Matthew akan dikenakan biaya yang lebih tinggi, James dikenakan biaya yang lebih rendah, dan Jessica (secara kebetulan) dikenakan biaya yang sama dengan biaya aktualnya.
Perataan biaya dapat menyebabkan kalkulasi biaya yang terlalu rendah atau terlalu tinggi.
a. Kalkulasi biaya yang terlalu rendah berarti sebuah produk menghabiskan sumber daya yang lebih banyak tetapi justru memiliki biaya per unit yang rendah (biaya makan malam James)
b. Kalkulasi biaya yang terlalu tinggi berarti sebuah produk menghabiskan sumber daya yang lebih sedikit tetapi justru memiliki biaya perunit yang tinggi (biaya makan malam Emma)
Perusahaan yang biaya produknya lebih rendah mungkin melakukan pejualan yang sebenarnya mengalami kerugian, meskipun terkesan bahwa penjualannya menguntungkan. Jadi penjualan yang dilakukan mungkin menghasilkan lebih sedikit pendapatan dibandingkan biaya sumber daya yang digunakan. Sementara perusahaan yang biaya produknya lebih tinggi bisa jadi menetapkan harga yang terlalu tinggi atas produknya, sehingga kehilangan pangsa pasar yang direbut oleh pesaing yang membuat produk yang sejenis.
Rata-rata $15 $4 $8 $27
2.5 Klasifikasi Biaya
2.5.1 Berdasarkan Elemen Produksi
Biaya produk berhubungan dengan hal-hal yang dapat menghasilkan pendapatan untuk perusahaan. Biaya ini dapat dibagi menjadi tiga komponen.
a. Bahan Baku Langsung (Direct Material)
Segala bagian dari produk yang siap dan dapat diidentifikasi merupakan bahan baku langsung. Secara teoritis, bahan baku langsung harus memasukkan seluruh biaya bahan baku yang digunakan untuk memproduksi sebuah produk atau kinerja sebuah jasa. Bagaimanapun, beberapa biaya bahan baku tidak secara jelas atau secara ekonomis dapat dilacak. Biaya seperti itu, diperlakukan dan diklasifikasikan sebagai biaya tidak langsung. Sebagai contoh, dalam dalam memproduksi truk Tundra. Biaya dari bahan perekat dan sekrup tidak dengan mudah dapat dilacak maupun nilai moneter yang signifikan untuk biaya produksi Tundra. Oleh karena itu biaya ini dapat diklasifikasikan dan dibukukan sebagai bahan baku tidak langsung dan dimasukkan sebagai bagian dari biaya overhead.
Dalam sebuah bisnis jasa, bahan baku langsung sering kali tidak signifikan atau sering kali tidak mudah untuk dilacak ke sebuah objek biaya yang telah dipilih. Sebagai contoh, biaya kertas pada disiapkan oleh seorang arsitek dalam membuat sebuah rencana pembangunan gedung memiliki hubungan yang sangat kecil dengan nilai secara keseluruhan dari rencana tersebut. Maka, walaupun kertas dapat dengan mudah dilacak ke produk akhirnya (perencanaan sebenarnya), biaya kertas sangat tidak signifikan; bahwa, melacaknya sebagai bahan baku langsung tidak dapat dianggap tepat.
b. Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
Tenaga kerja langsung berkenaan dengan usaha setiap individu yang melakukan produksi sebuah produk atau mengerjakan sebuah jasa. Tenaga kerja langsung dapat juga dianggap sebagai pekerjaaan yang secara langsung menambah nilai produk akhir atau jasa. Tukang las pada lini produksi Toyota, koki yang menyiapkan makanan pada restoran domestik. Dan ahli kesehatan pada klinik gigi menggambarkan pegawai tenaga kerja langsung.
Biaya tenaga kerja langsung terdiri dari upah atau gaji yang dibayarkan untuk pegawai tenaga kerja langsung. Upah dan gaji tersebut harus dengan jelas dapat dilacak ke produk atau jasanya. Biaya tenaga kerja langsung harus dapat memasukkan dasar kompensasi, bonus atas efisiensi produksi, dan saham pemberi kerja atas jaminan social dan pajak-pajak program kesehatan. Sebagai tambahan jika operasi perusahaan secara relatif stabil, biaya tenaga kerja langsung harus memasukkan semua biaya asuransi yang telah dibayar oleh pemberi kerja, pembayaran hari-hari besar dan liburan, dan uang pension serta keuntungan-keuntungan pensiun lainnya.
Seperti bahan baku, beberapa biaya tenaga kerja secara teori dapat dianggap langsung, diperlakukan sebagai tidak langsung. Alasan pertama atas perlakuan ini adalah bahwa secara spesifik melacak biaya tenaga kerja tertentu untuk produksi dapat menjadi tidak efisien. Sebagai contoh, biaya dari keuntungan tambahan harus diperlakukan sebagai biaya tenaga kerja langsung, tetapi waktu, usaha,dan beban klerikal dari pelacakan biaya ini mungkin tidak membenarkan ketepatan tambahan yang diberikannya. Oleh karena itu,
perlakuan atas keuntungan tambahan pegawai sebagai biaya tidak langsung seringkali berdasarkan pada efisiensi biaya klerikal.
Alasan kedua untuk tidak memperlakukan biaya tenaga kerja tertentu sebagai langsung adalah karena dengan melakukan hal tersebut dapat menghasilkan kesalahan informasi mengenai biaya produk atau jasa sehingga biaya untuk lembur atau shift yang sifatnya premium pada umumnya dianggap sebagai overhead dari pada biaya tenaga kerja langsung dan dialokasikan ke seluruh unit-unit produksinya.
Pada suatu peristiwa tertentu, bagaimanapun, biaya seperti biaya lembur tidak seharusnya dianggap sebagai biaya overhead. Jika seorang pelanggan meminta sebuah pekerjaan untuk dikerjakan selama jam lembur atau dalam keadaan yang terburu-buru dan meminta lembur untuk dilakukan, lembur atau shift yang sifatnya premium harus dianggap sebagai biaya tenaga kerja langsung dan dilekatkan kepada pekerjaaan yang membuat biaya tersebut.
Karena orang-orang menurut sejarah telah melakukan aktivitas konversi yang utama, tenaga kerja langsung menggambarkan bagian besar dari total biaya manufaktur. Pada saat ini, dengan lingkungan kerja yang terotomatisasi tinggi, tenaga kerja langsung seringkali digambarkan hanya 10 hingga 15 persen dari total biaya manufaktur. Oleh karena itu, para manajer seringkali menemukan bagian yang substansial dari biaya tenaga kerja langsung telah digantikan oleh biaya penyusutan yang berhubungan dengan robot-robot dan mesin-mesin yang terotomatisasi lainnya.
Contoh biaya tidak langsung adalah sewa peralatan pabrik. Perusahaan ban, pada contoh sebelumnya, mencatat besarnya sewa peralatan pabrik untuk
satu tahun. Meskipun demikian, perusahaan akan kesulitan dalam menghubungkan antara sewa biaya peralatan pabrik dan banyaknya ban yang dapat diproduksi.
Tabel 2.2
Biaya Langsung dan Tidak Langsung
Produk Kategori Biaya Keterangan
Ban
Biaya langsung Bahan baku karet Upah buruh produksi Biaya tidak langsung Sewa peralatan pabrik
Gaji manajer produksi Sumber: Akuntansi Biaya Edisi 2 (2013)
c. Biaya Overhead
Biaya overhead meliputi semua biaya yang lain yang harus terjadi dalam membuat suatu produk tersebut. Semua biaya produksi (manufacturing cost) selain daripada biaya bahan langsung (direct material cost) dan biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) dikelompokkan sebagai biaya overhead.
Biaya overhead terdiri dari tiga kelompok biaya yakni:
1) Biaya Bahan Tidak Langsung
Bahan yang dipakai dalam produksi yang tidak dapat dibebankan secara langsung kepada jumlah unit produksi tertentu dan biasanya nilainya tidak berarti sebagai elemen biaya yang menghasilkan suatu produk. Contoh dari bahan tidak langsung ini adalah seperti lem, paku, cat, dan lain-lainnya.
Perlengkapan pabrik merupakan unsure-unsur biaya yang menjaga pabrik agar tetap berada dalam kondisi kerja yang baik, seperti minyak pelumas dan perlengkapan kebersihan dan keselamatan.
2) Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung
Semua biaya tenaga kerja pabrik yang secara tidak langsung terlibat dalam proses produksi dari suatu produk dikelompokkan sebagai biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor), seperti tenaga kerja pengawas dan tenaga kerja penunjang yang diperlukan untuk mengoperasikan fasilitas produksi, dimana biaya-biaya ini adalah tidak mungkin dan juga tidak praktis untuk dibebankan secara langsung kepada jumlah unit produksi tertentu. Sebagai contoh dari biaya tenaga kerja tidak langsung umumnya terdapat pada banyak perusahaan manufaktur meliputi:
a) Mandor dan asisten
b) Pegawai administrasi (clerk) c) Tenaga kebersihan
d) Teknisi
e) Tenaga keamanan f) Supir truk
g) Tenaga pemeliharaan h) Tenaga Derek
i) Tenaga kerja umum dan lain-lain 3) Biaya Tidak Langsung Lainnya
Biaya ini meliputi berbagai macam biaya overhead pabrik yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai biaya bahan tidak langsung ataupun biaya tenaga kerja tidak langsung. Sebagai contoh dari biaya tidak langsung lainnya adalah pemeliharaan gedung pabrik, pemeliharaan mesin dan peralatan, pemeliharaan kendaraaan dan peralatan, pemeliharaan inventaris pabrik, penyusutan, asuransi, utilitas, pajak, royalty, dan lain-lain.
2.5.2 Berdasarkan Hubungan Biaya dengan Volume Kegiatan a. Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah proporsional dengan perubahan volume kegiatan atau produksi tetapi jumlah perunitnya tidak berubah. Biaya bahan baku adalah biaya variabel. Contoh biaya variabel adalah upah tenaga kerja langsung dan upah lembur.
b. Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tidak terpengaruh oleh volume kegiatan dalam kisaran volume tertentu. Contoh biaya tetap adalah biaya sewa bangunan kantor atau pabrik, misalnya perusahaan menyewa bangunan kantor dengan biaya sewa sebesar Rp5.000.000 per tahun.
c. Biaya Campuran
Biaya campuran adalah biaya yang jumlahnya terpengaruh oleh volume kegiatan tetapi tidak secara perusahaan tetapi tidak secara proporsional. Bila tidak ada kegiatan-atau volume kegiatan volume nol- biaya campuran tidak akan menjadi nol, tetapi bila volume kegiatan bertambah banyak, biaya campuran akan bertambah banyak. Contoh biaya campuran adalah tagihan listrik. Meskipun perusahaan tidak menggunakannya sama sekali, tetapi perusahaan akan tetap membayar listrik.
Gambar 2.2
Biaya Tetap, Biaya Variabel, dan Biaya Campuran
Rp
Total Biaya
Biaya Tetap Rp Biaya Variabel
Total Biaya
Volume
Rp
Total Biaya
Volume Biaya Campuran
Volume
Sumber: Akuntansi Biaya Edisi 2 (2013) 2.4.3 Berdasarkan Elemen Produksi
Biaya produk berhubungan dengan hal-hal yang dapat menghasilkan pendapatan untuk perusahaan. Biaya ini dapat dibagi menjadi tiga komponen.
b. Bahan Baku Langsung (Direct Material)
Segala bagian dari produk yang siap dan dapat diidentifikasi merupakan bahan baku langsung. Secara teoritis, bahan baku langsung harus memasukkan seluruh biaya bahan baku yang digunakan untuk memproduksi sebuah produk atau kinerja sebuah jasa. Bagaimanapun, beberapa biaya bahan baku tidak secara jelas atau secara ekonomis dapat dilacak. Biaya seperti itu, diperlakukan dan diklasifikasikan sebagai biaya tidak langsung. Sebagai contoh, dalam dalam memproduksi truk Tundra. Biaya dari bahan perekat dan sekrup tidak dengan mudah dapat dilacak maupun nilai moneter yang signifikan untuk biaya produksi Tundra. Oleh karena itu biaya ini dapat diklasifikasikan dan dibukukan sebagai bahan baku tidak langsung dan dimasukkan sebagai bagian dari biaya overhead.
Dalam sebuah bisnis jasa, bahan baku langsung sering kali tidak signifikan atau sering kali tidak mudah untuk dilacak ke sebuah objek biaya yang telah dipilih. Sebagai contoh, biaya kertas pada disiapkan oleh seorang arsitek dalam membuat sebuah rencana pembangunan gedung memiliki hubungan yang sangat kecil dengan nilai secara keseluruhan dari rencana tersebut. Maka, walaupun kertas dapat dengan mudah dilacak ke produk akhirnya (perencanaan
sebenarnya), biaya kertas sangat tidak signifikan; bahwa, melacaknya sebagai bahan baku langsung tidak dapat dianggap tepat.
b. Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
Tenaga kerja langsung berkenaan dengan usaha setiap individu yang melakukan produksi sebuah produk atau mengerjakan sebuah jasa. Tenaga kerja langsung dapat juga dianggap sebagai pekerjaaan yang secara langsung menambah nilai produk akhir atau jasa. Tukang las pada lini produksi Toyota, koki yang menyiapkan makanan pada restoran domestik. Dan ahli kesehatan pada klinik gigi menggambarkan pegawai tenaga kerja langsung.
Biaya tenaga kerja langsung terdiri dari upah atau gaji yang dibayarkan untuk pegawai tenaga kerja langsung. Upah dan gaji tersebut harus dengan jelas dapat dilacak ke produk atau jasanya. Biaya tenaga kerja langsung harus dapat memasukkan dasar kompensasi, bonus atas efisiensi produksi, dan saham pemberi kerja atas jaminan social dan pajak-pajak program kesehatan. Sebagai tambahan jika operasi perusahaan secara relatif stabil, biaya tenaga kerja langsung harus memasukkan semua biaya asuransi yang telah dibayar oleh pemberi kerja, pembayaran hari-hari besar dan liburan, dan uang pension serta keuntungan-keuntungan pensiun lainnya.
Seperti bahan baku, beberapa biaya tenaga kerja secara teori dapat dianggap langsung, diperlakukan sebagai tidak langsung. Alasan pertama atas perlakuan ini adalah bahwa secara spesifik melacak biaya tenaga kerja tertentu untuk produksi dapat menjadi tidak efisien. Sebagai contoh, biaya dari keuntungan tambahan harus diperlakukan sebagai biaya tenaga kerja langsung, tetapi waktu, usaha,dan beban klerikal dari pelacakan biaya ini mungkin tidak
membenarkan ketepatan tambahan yang diberikannya. Oleh karena itu, perlakuan atas keuntungan tambahan pegawai sebagai biaya tidak langsung seringkali berdasarkan pada efisiensi biaya klerikal.
Alasan kedua untuk tidak memperlakukan biaya tenaga kerja tertentu sebagai langsung adalah karena dengan melakukan hal tersebut dapat menghasilkan kesalahan informasi mengenai biaya produk atau jasa sehingga biaya untuk lembur atau shift yang sifatnya premium pada umumnya dianggap sebagai overhead dari pada biaya tenaga kerja langsung dan dialokasikan ke seluruh unit-unit produksinya.
Pada suatu peristiwa tertentu, bagaimanapun, biaya seperti biaya lembur tidak seharusnya dianggap sebagai biaya overhead. Jika seorang pelanggan meminta sebuah pekerjaan untuk dikerjakan selama jam lembur atau dalam keadaan yang terburu-buru dan meminta lembur untuk dilakukan, lembur atau shift yang sifatnya premium harus dianggap sebagai biaya tenaga kerja langsung dan dilekatkan kepada pekerjaaan yang membuat biaya tersebut.
Karena orang-orang menurut sejarah telah melakukan aktivitas konversi yang utama, tenaga kerja langsung menggambarkan bagian besar dari total biaya manufaktur. Pada saat ini, dengan lingkungan kerja yang terotomatisasi tinggi, tenaga kerja langsung seringkali digambarkan hanya 10 hingga 15 persen dari total biaya manufaktur. Oleh karena itu, para manajer seringkali menemukan bagian yang substansial dari biaya tenaga kerja langsung telah digantikan oleh biaya penyusutan yang berhubungan dengan robot-robot dan mesin-mesin yang terotomatisasi lainnya.
c. Biaya Overhead
Biaya overhead meliputi semua biaya yang lain yang harus terjadi dalam membuat suatu produk tersebut. Semua biaya produksi (manufacturing cost) selain daripada biaya bahan langsung (direct material cost) dan biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) dikelompokkan sebagai biaya overhead.
Biaya overhead terdiri dari tiga kelompok biaya yakni:
4) Biaya Bahan Tidak Langsung
Bahan yang dipakai dalam produksi yang tidak dapat dibebankan secara langsung kepada jumlah unit produksi tertentu dan biasanya nilainya tidak berarti sebagai elemen biaya yang menghasilkan suatu produk. Contoh dari bahan tidak langsung ini adalah seperti lem, paku, cat, dan lain-lainnya.
Perlengkapan pabrik merupakan unsure-unsur biaya yang menjaga pabrik agar tetap berada dalam kondisi kerja yang baik, seperti minyak pelumas dan perlengkapan kebersihan dan keselamatan.
5) Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung
Semua biaya tenaga kerja pabrik yang secara tidak langsung terlibat dalam proses produksi dari suatu produk dikelompokkan sebagai biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor), seperti tenaga kerja pengawas dan tenaga kerja penunjang yang diperlukan untuk mengoperasikan fasilitas produksi, dimana biaya-biaya ini adalah tidak mungkin dan juga tidak praktis untuk dibebankan secara langsung kepada jumlah unit produksi tertentu. Sebagai contoh dari biaya tenaga kerja tidak langsung umumnya terdapat pada banyak perusahaan manufaktur meliputi:
j) Mandor dan asisten
k) Pegawai administrasi (clerk)
l) Tenaga kebersihan m) Teknisi
n) Tenaga keamanan o) Supir truk
p) Tenaga pemeliharaan q) Tenaga Derek
r) Tenaga kerja umum dan lain-lain 6) Biaya Tidak Langsung Lainnya
Biaya ini meliputi berbagai macam biaya overhead pabrik yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai biaya bahan tidak langsung ataupun biaya tenaga kerja tidak langsung. Sebagai contoh dari biaya tidak langsung lainnya adalah pemeliharaan gedung pabrik, pemeliharaan mesin dan peralatan, pemeliharaan kendaraaan dan peralatan, pemeliharaan inventaris pabrik, penyusutan, asuransi, utilitas, pajak, royalty, dan lain-lain.
2.5.3 Berdasarkan Fungsi Pokok Perusahaan a. Biaya Produksi (Production Cost)
Biaya produksi terdiri atas tiga jenis biaya, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
b. Biaya Administrasi dan Umum
Biaya administrasi dan umum adalah biaya yang terjadi dalam rangka mengarahkan, menjalankan, dan mengendalikan perusahaan untuk memproduksi barang jadi. Biaya administrasi dan umum meliputi biaya gaji pegawai, biaya perlengkapan dan biaya utilitas.
c. Biaya Pemasaran
Biaya pemasaran meliputi berbagai biaya yang terjadi untuk memasarkan produk atau jasa. Contoh biaya pemasaran adalah biaya gaji pegawai pemasaran dan biaya iklan
2.5.4 Berdasarkan Hubungan Biaya dengan Proses Pokok Manajerial
Proses pokok manajerial meliputi perencanaan, pengendalian, dan penilaian kinerja. Ada beberapa istilah biaya yang sering digunakan dalam rangka melaksanakan fungsi pokok manajerial diatas. Berbagai isitilah tersebut antara lain:
a. Biaya standar (Standard Cost)
Biaya standar adalah biaya ditentukan dimuka yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat suatu produk atau melaksanakan suatu kegiatan.
b. Biaya aktual (Actual Cost)
Biaya aktual adalah biaya yang sesungguhnya terjadi untuk membuat suatu produk atau melaksanakan suatu kegiatan
c. Biaya terkendali (Controllable Cost)
Biaya terkendali adalah biaya yang secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang manajer tingkat tertentu
d. Biaya tidak terkendali (Uncontrollable Cost)
Biaya tidak terkendali adalah biaya yang tidak secara langsung dapat dipengaruhi oleh seorang manajer tingkat tertentu
e. Biaya komitan (Committed Cost)
Biaya committed adalah biaya yang terjadi dalam upaya mempertahankan kapasitas atau kemampuan organisasi dalam kegiatan produksi, pemasaran, dan administrasi.
f. Biaya diskresioner (Discretionary Cost)
Biaya diskersioner adalah biaya yang besar kecilnya tergantung kepada kebijakan manajemen.
g. Biaya relevan (Relevant Cost)
Biaya relevan adalah biaya masa depan yang berbeda antara satu alternatif denga alternatif yang lainnya
h. Biaya kesempatan (Opportunity Cost)
Biaya kesempatan adalah manfaat yang dikorbankan pada saat satu alternatif keputusan dipilih dan mengabaikan alternatif lain.
2.6. Keunggulan Metode ABC (Activity Based Costing)
Menurut Carter (2009:545-547), keunggulan dari sistem activity based costing sebagai berikut :
1) Sistem Activity Based Costing (ABC) menghasilkan informasi biaya produk yang lebih dapat diandalkan daripada sistem tradisional.
2) Sistem Activity Based Costing (ABC) menggunakan aktivitas sebagai basis penggolongan biayayang memberikan informasi bagi para pengambilkeputusan untuk mengontrol kinerja perusahaannya.
3) Adanya penelusuran aktivitas-aktivitas yang menimbulkan elemen biaya sehingga profitabilitas yang diperoleh dapat lebih mengoptimalkan personel perusahaan dalam mengelola aktivitas, yang
nantinya dapat lebih mengefisienkan pembiayaan dalam proses produksi.
4) Menghasilkan penetapan biaya produksi yang lebih akurat dibanding dengan sistem tradisional sehingga menolong perusahaan dalam mengelola keunggulan kompetitif yang dimiliki.
5) Penentuan harga jual per jenis produk akan lebih tepat sehingga perusahaan tidak salah menetapkan harga jual yang kompetitif untuk suatu jenis produk tertentu.
6) Mendeteksi dan menghitung biaya tidak langsung karena dalam sistem biaya konvensional dan ABC tidak berbeda dalam menentukan beban biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung.
2.7Perbedaan ABC (Activity Based Costing) VS Metode Konvensional
Upaya pengendalian biaya overhead memerlukan sistem akuntansi yang tepat, supaya menghasilkan informasi biaya yang tepat. Mengembangkan sistem perhitungan biaya perlu memahami hubungan antara sumber daya, aktivtas, dan produk atau jasa.
Menurut Riwayadi (2016:33), kelemahan sistem akuntansi biaya konvensional adalah biaya yang dibebankan hanya biaya produk, seperti biaya pengembangam, penelitian dan pemasaran, untuk biaya distribusi dan biaya layanan pelangan tidak dibebankan HPP. Sistem akuntansi biaya konvensional menghasilkan biaya produk yang terdistorsi. Menurut Supriono dalam penelitian Andriansyah (2013:2), distorsi timbul karena adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya, sehingga menimbulkan kesalahan
dalam menentukan biaya, membuat keputusan, merencanakan, dan mengendalikan biaya.
Setelah mengacu teori akuntansi biaya konvensional, diketahui apabila sistem akuntansi biaya konvensional kurang akurat dalam mengidentifikasi biaya yang keluar dari setiap aktivitas. Akuntansi biaya tradisional terdiri atas tiga elemen yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung merupakan
biaya langsung sehingga tidak menimbulkan masalah pembebanan ke harga produksi (HPP) produk (Carter,2009:533). Kelemahan sistem akuntasi biaya konvensional dinilai dapat diatasi oleh penerapan Activity Based Costing (ABC), dan dapat megukur secara tepat biaya yang keluar dari setiap aktivitas yang dilakukan. serta memberikan perhatian pada semua aktivitas yang terjadi, sehingga semakin banyak biaya tidak langsumg (overhead) yang dapat ditelusuri pada objek biaya (Firdaus, 2012:329)
Tabel 2.3
Perbedaan Konvensional dan ABC
No Sistem Biaya Berbasis Aktivitas Sistem Biaya Berbasis Konvensional 1 Pertama-tama dengan
mengidentifikasi aktivitas kemudian pemrosesan produk
Pertama-tama dengan mengidentifikasi biaya kemudian
pemrosesan produk 2 Fokus utama pada kinerja aktivitas
untuk mengolah produk
Fokus utama tentang biaya setelah produk selesai
3 Pemicu biaya digunakan untuk mengidentifikasi faktor penyebab biaya masing-masing aktivitas
Biaya perunit digunakan untuk alokasi dan akumulasi biaya
4 Biaya overhead dibebankan pada Biaya overhead dibebankan pada
pusat biaya departemen produksi atau departemen pembantu
5 Biaya overhead dibebankan pada produk dengan menggunakan tarif pemicu biaya
Biaya overhead dialokasikan berdasarkan tarif biaya overhead di departemen
6 Beberapa aktivitas didasarkan pada pusat biaya
Overhead dikelompokkan dan dikumpulkan pada departemen yang dipakai
7 Biaya overhead berubah dalam proporsi sesuai dengan volume dari output
Biaya overhead tidak berubah dalam proporsi perubahan volume dari output
Sumber: Akuntansi Biaya (Pencatatan dan Kelola Biaya (2017) 2.8 Penerapan ABC (Activity Based Costing)
Berikut adalah langkah-langkah dalam menerapkan metode Activity Based Costing (ABC) menurut Horngren (2006:172), yaitu:
a. Mengidentifikasi Produk yang Menjadi Objek Biaya
Objek biaya adalah produk atau jasa. Tujuan yang pertama adalah menghitung total biaya, dan kedua menghitung biaya perunit dari merancang, membuat, serta mendistribusikan dari objek biaya tersebut.
b. Mengidentifikasi Biaya Langsung Produk
Objek biaya diidentifikasi biaya langsungnya yakni biaya bahan langsung dari objek biaya tersebut, biaya perawatan, biaya pembersihan alat-alat dan sebagainya yang berhubungan langsung dengan produk atau jasa.
c. Memilih Dasar Alokasi Biaya yang Akan Digunakan untuk Mengalokasikan Biaya Tidak Langsung ke Produk
Pengidentifikasian dasar alokasi biaya dapat dilakukan dengan menentukan jumlah pool aktivitas dimana biaya harus dikelompokkan pada sistem ABC.
Sebagai contoh, ketimbang menentukan aktivitas perancangan yang mencakup perancangan produk, perancangan proses, dan prototyping sebagai aktivitas yang terpisah.
d. Mengidentifikasi Biaya Tidak Langsung yang Berkaitan dengan Setiap Dasar Alokasi Biaya
Pada langkah ini biaya overhead yang ditanggung produk atau jasa dibebankan ke aktivitas berdasarkan hubungan sebab akibat antara dasar alokasi biaya untuk suatu aktivitas dan biaya aktivitas. Sebagai contoh semua biaya yang memiliki hubungan sebab akibat dengan kemasan yang dipindahkan dalam ukuran meter kubik dibebankanke pool biaya distriibusi. Tentu saja, kuat lemahnya hubungan sebab akibat antara dasar alokasi biaya dan biaya aktivitas berbeda- beda antarpool biaya. Sebagai contoh, hubungan sebab akibat antara jam tenaga kerja manufaktur langsung dan biaya aktivitas administrasi tidak sekuat hubungan antara jam penyetelan dan biaya aktiavitas penyetelan.
Beberapa biaya langsung diidentifikasi dengan aktivitas tertentu. Sebagai contoh, biaya bahan yang digunakan ketika mendesain produk, gaji yang dibayarkan kepada teknisi desain, dan penyusutan peralatan yang digunakan dalam depatemen desain bisa diidentifikasi langsung dengan aktivitas desain.
Intinya adalah bahwa semua biaya tidak harus sesuai dengan kategori aktivitas.
Seringkali, biaya dialokasikan terlebih dahulu ke aktivitas sebelum biaya aktivitas tersebut dapat dialokasikan ke produk.
e. Menghitung Biaya Tidak Langsung yang Dialokasikan ke Produk
Pada langkah ini biaya overhead dibebankan ke aktivitas berdasarkan hubungan sebab akibat antara dasar alokasi biaya untuk suatu aktivitas dan biaya aktivitas. Sebagai contoh semua biaya yang memiliki sebab akibat dengan kemasan yang dipindahkan dalam ukuran meter kubik dibebankan ke pool biaya produksi.
Beberapa biaya langsung diidentifikasi dengan aktivitas tertentu. Sebagai contoh, biaya bahan yang digunakan ketika mendesain produk, gaji yang dibayarkan kepada teknisi desain, dan penyusutan peralatan yang digunakan dalam depatemen desain bisa diidentifikasi langsung dengan aktivitas desain.
Intinya adalah bahwa semua biaya tidak harus sesuai dengan kategori aktivitas.
Seringkali, biaya dialokasikan terlebih dahulu ke aktivitas sebelum biaya aktivitas tersebut dapat dialokasikan ke produk.
f. Menghitung Total Biaya Produk dengan Menambahkan Semua Biaya Langsung dan Tidak Langsung
Pada langkah ini biaya langsung dan biaya tidak langsung dihitung secara keseluruhan sehingga didapati total biaya yang merupakan produk atau jasa tersebut.
2.9Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang digunakan oleh peneliti sebagai bahan referensi penelitian adalah sebagai berikut :
1. Trisna Ekawati S., Margareth(2008), dengan judul “ Penerapan Activity Based Costing Dalam Menentukan Biaya Produksi pada PT. Kidung Indah Selaras Suara Medan (KISS FM). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perhitungan dengan metode ABC menghasilkan penurunan biaya produksi untuk adslips, talkshow, insert/quiz dan spot, sedangkan untuk live report mengalami kenaikan biaya produksi. Perhitungan biaya produksi dengan metode ABC menghasilkan penurunan tarif jasa untuk adslips, talkshow, insert/quiz, dan spot. Sementara untuk live report mengalami kenaikan tarif jasa.
2. Palupi, Dwi Kurnia (2012) dengan judul “Analisis Penentuan Tarif Jasa Pemeriksaan Laboratorium Menggunakan Metode Activity Based Costing (Studi Kasus pada Arafah Medical Center Bandar Lampung.” Hasil penelitian menemukan bahwa: (1) Sistem akuntansi biaya di Arafah Medical Centre Bandar Lampung memerlukan beberapa perbaikan. Hal ini dikarenakan pengklasifikasian biaya masih kurang tepat.(2) Terdapat perbedaan tarif antara penentuan tarif yang berlaku di Arafah Medical Centre Bandar Lampung dengan penentuan tarif berdasarkan ABC sistem. Perbedaan tersebut terjadi karena ada beberapa aktivitas yang mendukung pelayanan jasa laboratorium yang belum dibebankan sebagai aktivitas akuntansi biaya.
3. Sihol Lubis, Sabar (2013) dengan judul “Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi Pakan Ternak dengan Menggunakan Metode Activity Based Costing pada PT. Central Proteinaprima.” Hasil penelitian menemukan bahwa: (1)Selisih harga pokok produksi rata-rata pakan udang dengan menggunakan metode ABC dan metode konvensional adalah sebesar Rp.495/kg atau 7,95%. (2) Selisih harga pokok produksi pakan ikan dengan menggunakan metode ABC dan metode konvensional adalah sebesar Rp.507/kg atau 8,14%.
4. Elsa Sariska Manik (2014) dengan judul “Perhitungan Biaya Pokok Produksi dengan Metode Full Costing (Studi pada Usaha Dagang Delima Jaya Prabot Jalan Panglima Denai Amplas)” Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Perhitungan biaya pokok produksi yang dihitung sendiri oleh perusahaan menghasilkan biaya pokok produksi yang tidak akurat. Namun, apabila menggunakan perhitungan dengan metode full costing maka perhitungan harga pokok produksi lebih akurat dan sesuai dengan harapan pemilik usaha. (2) Berdasarkan hasil perhitungan harga pokok produksi untuk jenis produk risban (sofa kayu) yang dihitung sendiri oleh perusahaan maka diperoleh biaya pokok produski untuk jenis risban sebesar Rp 11.000.000. Sementara hasil perhitungan dengan menggunakan metode full costing diperoleh biaya pokok produksi sebesar Rp 10.543.333,3.
5. Prastiti, Ayu Esa Dwi (2016) dengan judul “Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi dengan Metode Activity Based Costing (Studi Kasus pada CV.
Indah Cemerlang Malang)”. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa (1) Perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan metode
akuntansi biaya tradisional dengan menggunakan satu dasar alokasi yaitu jumlah unit yang diproduksi. Hasil perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode akuntansi biaya tradisional untuk produk paving stone sebesar Rp.1.975.750.217, untuk produk batako sebesar Rp.473.966.701,8, dan untuk produk beton buis sebesar Rp.220.771.517,5. (2) Perbedaan hasil perhitungan harga pokok produksi dengan mnggunakan metode akuntansi biaya tradisional dengan menggunakan metode Activity Based Costing System (Sistem ABC). Perhitungan dengan dua metode tersebut menghasilkan perbedaan biaya overhead pabrik yang mengakibatkan adanya perbedaan hasil harga pokok produksi. Produk paving stone mengalami overcosting atau pembebanan biaya terlalu tinggi sebesar Rp.16.952.888, produk batako mengalami undercosting atau pembebanan biaya terlalu rendah sebesar Rp.11.067402,8, dan produk beton buis mengalami undercosting atau pembebanan biaya terlalu rendah sebesar senilai Rp.5.172.403.
6. Putri, Nanda Desika (2017) dengan judul “Analisis Perbandingan Metode Konvensional dan Metode Activity Based Costing (ABC) untuk Tarif Rawat Inap (Studi Kasus pada RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang)”
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Perhitungan tarif metode konvensional apabila dibandingan dengan perhitungan taif dengan menggunakan metode ABC pada kelas VVIP, VIP, Utama I dan Kelas I mengalami overcostd atau pembebanan biaya produk terlalu tinggi. Nilai overcosted pada masing-masing kelas sebesar Rp166.133,00 pada VVI, Rp68.024,35 pada VIP, Rp86.950,19 pada Utama I, dan Rp2.876,00 pada Kelas I. Sebaliknya, perhitungan tarif metode konvensional apabila
dibandingan dengan perhitungan tarif dengan menggunakan metode ABC pada kelas Utama II, Kelas II, dan Kelas III mengalami undercosted pembebanan biaya produk terlalu rendah. Nilai undercosted pada masing- masing kelas sebesar Rp36.950,12 pada Utama II, Rp33.122,36 pada Kelas II, dan Rp23.266,84 pada Kelas III.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Bentuk Penelitian
Bentuk penelitian ini adalah penelitian kuantitatif non statistik. Data yang digunakan adalah data berupa angka yang berasal dari biaya harga pokok pelayanan/unit cost yang telah dibayarkan pasien kecelakaan. Adapun yang termasuk data yang diolah adalah data berupa biaya bahan baku langsung dan biaya jasa tenaga medis dan biaya rawat inap. Penelitian ini menghitung unit cost dari pelayanan medis korban kecelakaan dengan metode ABC (Activity Based Costing).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada usaha dibidang jasa kesehatan. Jasa kesehatan tersebut adalah Klinik Pratama Agnesia. Klinik Pratama Agnesia beralamat di Jl. Makmur No.38, Kecamatan Siborong-borong, Tapanuli Utara.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga Maret 2018.
3.3 Defenisi Konsep
3.3.1Activity Based Costing/ABC
Activity Based Costing (ABC) adalah sistem akumulasi biaya dan pembebanan
biaya ke produk dilakukan dengan menelusuri biaya dari aktivitas dan setelah itu menelusuri biaya dari aktivitas ke produk (Wiratna, 2015:126)
3.4 Defenisi Operasional dan Variabel
Untuk memberikan batasan-batasan yang lebih jelas dari masing-masing konsep guna menghindari adanya salah pengertian, maka defenisi konsep
dalam penelitian ini sesuai dengan kerangka teoritis yang telah dikemukakan.
Adapun yang menjadi defenisi konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Bahan Baku Langsung (Direct Material)
Bahan baku langsung adalah bahan yang diperlukan dalam menangani pasien korban kecelakaan yang dapat diidentifikasi. Bahan baku langsung harus memasukkan seluruh biaya bahan baku yang digunakan untuk menangani pasien korban kecelakaan mulai dari pasien masuk klinik hingga pasien dinyatakan sehat. Adapun yang termasuk biaya bahan adalah:
1) Biaya Infus
Infus digunakan menggantikan cairan pada tubuh pasien. Pemberian cairan infus normalnya 3 kali sehari atau sekali per delapan jam.
2) Biaya Obat-obatan
Obat-obatan yang digunakan pasien kecelakaan terdiri dari obat oral (Obat yang diminum) dan obat injeksi.
3) Biaya Bahan Perawatan Luka
Perawatan luka termasuk didalamnya biaya cairan pembersih luka, penjahitan dan perawatan luka robek.
b. Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dapat ditelusuri secara langsung dalam proses pelayanan jasa kesehatan diklinik. Adapun yang termasuk biaya tidak langsung (overhead) adalah:
1) Biaya dokter penanggungjawab 2) Biaya perawat
c. Biaya Tidak Langsung (Overhead)
Biaya tidak langsung (overhad) meliputi semua biaya selain daripada biaya bahan langsung (direct material cost) dan biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost) yang harus dialokasikan dalam penanganan pasien korban
kecelakaan. Adapun yang termasuk biaya tidak langsung (overhead) adalah:
1) Biaya aktivitas 2) Biaya sewa gedung 3) Biaya listrik
4) Biaya kebersihan.
5) Biaya administrasi 3.5 Teknik Pengumpulan Data
Dalam memperoleh data-data pada penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian lapangan (field research). Penelitian lapangan (field research) adalah metode pengumpulan data utama untuk penelitian kuantitatif non statistik yang terdiri dari wawancara dan analisis dokumen.
a. Wawancara
Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang secara bebas baik terstruktur maupun tidak terstruktur dengan tujuan memperoleh informasi secara luas mengenai objek penelitian.
b. Analisis Dokumen
Analisis dokumen merupakan metode terpenting untuk mendapatkan data dari catatan-catatan tertulis dan sebagai alat untuk melakukan verifikasi
maupun pembanding untuk data-data lainnya yang diperoleh melalui wawancara.
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kuantitatif non statistik.
Data-data berupa angka dianalisis dengan menggunakan teori Penerapan ABC (Activity Based Costing) dari (Charles T. Horngren, 2006)
a. Mengidentifikasi aktivitas yang menjadi objek biaya
Objek biaya adalah produk atau jasa. Tujuan yang pertama adalah menghitung total biaya, dan kedua menghitung biaya perunit dari merancang, membuat, serta mendistribusikan dari objek biaya tersebut.
b. Mengidentifikasi biaya langsung jasa
Objek biaya diidentifikasi biaya langsungnya yakni biaya bahan langsung dari objek biaya tersebut, biaya perawatan, biaya pembersihan alat-alat dan sebagainya yang berhubungan langsung dengan produk atau jasa.
c. Mengidentifikasi aktivitas biaya tidak langsung (overhead) jasa
Pengidentifikasian dasar alokasi biaya dapat dilakukan dengan menentukan jumlah pool aktivitas dimana biaya harus dikelompokkan pada sistem ABC. Sebagai contoh, ketimbang menentukan aktivitas perancangan yang mencakup perancangan produk, perancangan proses, dan prototyping sebagai aktivitas yang terpisah.
d. Menghitung biaya langsung dan tidak langsung (overhead) yang dialokasikan ke jasa
Pada langkah ini biaya overhead yang ditanggung produk atau jasa dibebankan ke aktivitas berdasarkan hubungan sebab akibat antara dasar alokasi biaya untuk suatu aktivitas dan biaya aktivitas.
e. Menghitung total biaya produk dengan menambahkan semua biaya langsung
dan tidak langsung (overhead)
Pada langkah ini biaya langsung dan biaya tidak langsung dihitung secara keseluruhan sehingga didapati total biaya yang merupakan produk atau jasa tersebut.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Klinik Agnesia
Klinik Agnesia adalah klinik swasta yang berstatus klinik Pratama. Sesuai Permenkes No.9 Thn 2014 Pasal 2 ayat 2, sebagai klinik Pratama, klinik Agnesia memberikan pelayanan medik umum dan khusus meliputi poli umum (tipus, maag, demam tipoid, berbagai macam gangguan pada indra, kejang, kecelakaan,dsb), poli gigi (konsultasi, pencabutan, pembersihan gigi, dsb), dan bersalin ( pemeriksaan ibu hamil, konsultasi laktasi, konsultasi kesehatan bayi atau balita,dsb). Klinik Agnesia beralamat di jalan Makmur, No.38, Kecamatan Siborong-borong, Tapanuli Utara.
4.1.1 Sejarah Singkat Klinik Agnesia
Klinik Agnesia didirikan pada tahun 2008 oleh Sitor Pasaribu.Klinik Agnesia pada awal didirikan merupakan klinik bersalin dibawah penganggungjawab dr. Tunggul Pasaribu, SpOG. Klinik Agnesia berjalan seperti biasa hingga tahun tahun 2012.
Pada tahun 2015, setelah menamatkan diri dari USU, Pray Hoper Malau mengambil alih pengelolaan Klinik Agnesia. Beliau kemudian memperbaharui beberapa sturuktur organisasi klinik dan berbagai fasilitas klinik. Beberapa struktur internal yang diperbaharui adalah dokter penanggungjawab. Dokter penanggungjawab yang semula diduduki oleh dr. Tunggul Pasaribu, Sp.OG diganti menjadi dr. Nita Koesmawati Siahaan. Beliau juga menambahkan beberapa poliklinik diantaranya adalah poli gigi, poli bedah, dan poli kehamilan.