A. Teori Terkait Variabel Penelitian
1. Perbankan Syariah
Bank Syariah menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah adalah Bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan. Asas dari kegiatan usaha perbankan syariah adalah prinsip syariah, demokrasi ekonomi dan prinsip kehati-hatian. Yang dimaksud dengan berasaskan prinsip syariah adalah kegiatan usaha yang tidak mengandung riba, maisir, gharar, objek haram dan menimbulkan kezaliman. Sedangkan yang dimaksud dengan berasaskan demokrasi ekonomi adalah kegiatan usaha yang mengandung nilai keadilan, kebersamaan, pemerataan dan kemanfaatan. Tujuan dari perbankan syariah adalah menunjang pelaksanaan pembangunan nasional.
Menurut Sudarsono (2014), Bank Syariah adalah Lembaga Keuangan negara yang memberikan kredit dan jasa-jasa lainnya di dalam lalu lintas pembayaran dan juga peredaran uang yang beroperasi dengan menggunakan prinsip-prinsip syariah atau Islam. Menurut Muhammad (2005), Bank Syariah adalah bank yang dalam melakukan aktivitas usahanya meninggalkan riba. Menjalankan prinsip prinsip syariah lainnya, yaitu kemaslahatan, keadilan dan kejujuran, serta bebas dari unsur-unsur yang bersifat spekulatif, seperti Perjudian (Maysir), Hal-hal yang meragukan (Gharar), maupun hal-hal yang merusak (Bathil). Sedangkan yang dimaksud dengan Bank Syariah adalah bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan Prinsip Syariah dan menurut jenisnya terdiri atas BUS dan BPRS (Pasal 1 angka 7 UU Perbankan Syariah) (Hasan, 2009).
22
Bank syariah juga bisa disebut bank yang tata cara beroperasinya didasarkan pada tata cara bermuamalat secara Islam, yakni mengacu kepada ketentuan-ketentuan al-Qur’an dan al-Hadis. Kegiatan bank syariah dalam hal penentuan harga produknya sangat berbeda dengan bank konvensional. Penentuan harga bagi bank syariah didasarkan pada kesepakatan antara bank dengan nasabah penyimpan dana sesuai dengan jenis simpanan dan jangka waktunya, yang akan menentukan besar kecilnya porsi bagi hasil yang akan diterima penyimpan. Bank syariah mengharamkan penggunaan harga produknya dengan bunga tertentu. Bagi bank syariah, bunga bank adalah riba (Mawaddah, 2015).
b. Tujuan, Prinsip dan Fungsi Bank Syariah
Menurut Sudarsono (2014) Bank Syariah mempunyai beberapa tujuan di antaranya sebagai berikut::
1) Mengarahkan Kegiatan ekonomi umat untuk bermuamalat secara Islam, khususnya Muamalah yang berhubungan dengan perbankan, agar terhindar dari praktik-praktik riba atau jenis usaha lainnya yang mengandung unsur Gharar (tipuan).
2) Untuk menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi dengan jalan meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi, agar tidak terjadi kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana..
3) Untuk meningkatkan kualitas hidup umat dengan jalan membuka peluang berusaha yang lebih besar terutama kelompok miskin, yang diarahkan kepada kegiatan usaha yang produktif menuju terciptanya kemandirian usaha.
4) Untuk menanggulangi masalah kemiskinan, yang pada umumnya merupakan program utama dari negara-negara yang sedang berkembang.
23
5) Untuk menjaga ke stabilitas ekonomi dan moneter. Dengan aktivitas bank syariah akan mampu menghindari pemanasan ekonomi diakibatkan adanya inflasi.
6) Untuk menyelamatkan ketergantungan umat Islam terhadap bank Non-Syariah.
Fungsi dan peran bank syariah telah tercantum dalam pembukaan standar akuntansi yang dikeluarkan oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution) Sudarsono (2014) sebagai berikut:
1) Manajer investasi, bank syariah dapat mengelola investasi dana nasabah.
2) Investor, bank syariah dapat menginvestasikan dana yang dimilikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya.
3) Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran, bank syariah dapat melakukan kegiatan-kegiatan jasa-jasa layanan perbankan sebagaimana lazimnya.
4) Pelaksanaan kegiatan sosial, sebagai ciri yang melekat pada entitas keuangan syariah, bank Islam juga memiliki kewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola (menghimpun, mengadministrasikan, mendistribusikan) zakat serta dana-dana sosial lainnya.
c. Produk Bank Syariah
Produk-produk bank syariah muncul karena didasari oleh operasionalisasi fungsi bank syariah. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bank syariah memiliki empat fungsi dalam menjalankan operasinya, di antaranya sebagai penerima amanah, pengelola investasi, penyedia jasa dan fungsi sosial (Ascarya, 2015). Dari keempat fungsi operasional tersebut, kemudian diturunkan menjadi produk-produk bank syariah, yaitu:
24 1) Produk Pendanaan
Produk pendanaan bank syariah digunakan untuk mobilisasi dan investasi tabungan untuk pembangunan perekonomian dengan cara yang adil sehingga keuntungan yang adil dapat dijamin bagi semua pihak. Dalam hal ini, bank syariah melakukannya tidak dengan prinsip bunga (riba), melainkan dengan prinsip-prinsip yang sesuai dengan syariat Islam, terutama wadi’ah (titipan), qardh (pinjaman),
mudharabah (bagi hasil) dan ijarah (sewa).
Produk pendanaan bank terdiri dari Giro, Tabungan, Deposito/Investasi, dan Sukuk. Produk-produk pendanaan ini, dalam bank syariah menggunakan akad sebagai berikut. a) Giro, menggunakan akad wadi’ah atau qardh
b) Tabungan, menggunakan akad wadi’ah, qardh, atau mudharabah.
c) Deposito/ Investasi menggunakan akad mudharabah d) Sukuk, menggunakan akad mudharabah, ijarah, dan
lain-lain.
2) Produk Penyaluran Dana atau Pembiayaan
Jenis-jenis pembiayaan bank syariah terdapat 3 jenis utama, yaitu:
a) Pembiayaan Modal Kerja Syariah, adalah pembiayaan jangka pendek yang diberikan oleh bank syariah kepada perusahaan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja usahanya dan sesuai dengan prinsip syariah (Karim, 2007) b) Pembiayaan Investasi Syariah, adalah penanaman dana
dengan maksud memperoleh keuntungan/imbalan/manfaat di masa yang akan datang (Karim, 2007)
c) Pembiayaan Konsumsi Syariah, adalah pembiayaan yang diberikan untuk tujuan diluar usaha yang biasanya sifatnya perorangan (Karim, 2007).
25 3) Produk Jasa Perbankan
Produk-produk jasa perbankan syariah dengan pola lainnya pada umumnya menggunakan akad-akad tabarru’ yang dimaksudkan tidak untuk mencari keuntungan, tetapi dimaksudkan sebagai fasilitas pelayanan kepada nasabah dalam melakukan transaksi perbankan. Oleh karena itu, bank syariah sebagai penyedia jasa hanya membebani biaya administrasi. Jasa perbankan syariah yang bukan termasuk akad tabarru’ adalah akad sharf yang merupakan akad pertukaran uang dengan uang dan ujr yang merupakan bagian dari ijarah (sewa) yang dimaksudkan untuk mendapatkan upah (ujroh atau fee).
d. Dasar Hukum Bank Syariah
Bank syariah secara yuridis normatif dan yuridis empiris diakui keberadaannya di Negara Indonesia. Pengakuan secara yuridis normatif tercatat dalam peraturan per undang- undangan di Indonesia, Sedangkan secara yuridis empiris, bank syariah diberi kesempatan dan peluang yang baik untuk berkembang di seluruh wilayah Indonesia. Upaya intensif pendirian bank syariah di Indonesia dapat ditelusuri sejak tahun 1988, yaitu pada saat pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Oktober (Pakto) yang mengatur deregulasi industri perbankan di Indonesia, dan para ulama waktu itu telah berusaha mendirikan bank bebas bunga.
Hubungan yang bersifat akomodatif antara masyarakat muslim dengan pemerintah telah memunculkan lembaga keuangan (bank syariah) yang dapat melayani transaksi kegiatan dengan bebas bunga. Kehadiran bank syariah pada perkembangannya telah mendapat pengaturan dalam sistem perbankan nasional. Pada tahun 1990, terdapat rekomendasi dari MUI untuk mendirikan bank syariah, tahun 1992 dikeluarkannya Undang- Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang perbankan yang mengatur bunga dan bagi hasil. Dikeluarkan Undang - Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang