BAB II TINJAUAN UMUM ASURANSI DAN UNDERWRITING
5. Perbedaan Asuransi Konvensional dan Syariah
5. Perbedaan asuransi konvensional dan syariah
Secara singkat perbedaan antara asuransi Syariah dan asuransi konvensional dapat dijelaskan pada table tersebut dibawah ini.
TABEL 2.1
Perbedaan antara asuransi konvensional dan syariah21
No. Prinsip Asuransi Konvensional Asuransi Syariah
1. Konsep Perjanjian antara dua pihak atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan pergantian kepada tertanggung.
Sekumpulan orang yang saling membantu, saling menjamin dan bekerja sama dengan cara masing-masing mengeluarkan dana tabarru’.
2. Asal usul Dari masyarakat Babilonia 4000-3000 SM yang dikenal dengan perjanjian Hammurabi.
Dari Al Aqilah, kebiasaan Suku Arab jauh sebelum Islam datang. Kemudian
21
Muhammad Syakir Sula, Asuransi Syariah (life and general) konsep dan sistem operational, (jakarta : Gema insani, 2004), h. 326-328
Dan tahun 1668 M di Coffe House London berdirilah Lloyd of London sebagai cikal bakal asuransi konvensional.
disahkan oleh Rasululllah menjadi hukum Islam, bahkan telah tertuang dalam konstitusi pertama di dunia (Konstitusi Madinah) yang dibuat langsung Rasulullah.
3. Sumber hukum Bersumber dari pikiran manusia dan kebudayaan. Berdasarkan hukum positif, hukum alami dan contoh sebelumnya.
Bersumber dari Wahyu Ilahi, sumber hukum dalam Syariah Islam adalah Al-Quran, Sunnah atau kebiasaan Rasul, Ijma’, Fatwa sahabat, Qiyas, Istihsan, Urf (tradisi) dan Mashalih Mursalah.
4. “Magrib” (Maisir, Gharar dan Riba)
Tidak selaras dengan syariah Islam karena adanya Maisir, Gharar dan Riba; hal yang diharamkan dalam muamalah.
Bersih dari adanya praktek Gharar, Maisir dan Riba.
5. DPS (Dewan
Pengawas Syariah)
Tidak ada, sehingga dalam
prakteknya banyak bertentangan dengan
kaidah-kaidah syara’.
Ada yang berfungsi untuk mengawasi pelaksanaan operasional perusahaan agar terbebas dari pratek-ptraktek muamalah yang bertentangan dengan prinsip-prinsip
syariah.
6. Akad Akad jual beli (akad
Mu’awadhah, akad idz’aan, akad gharar dan akad mulzim).
Akad tabarru’ dan akad tijarah (mudharabah,
wakalah, wadiah, syirkah dan sebagainya).
7. Jaminan / risk (risiko)
Transfer of risk, dimana terjadi transfer risiko dari tertanggung kepada penanggung.
Sharing of risk, dimana terjadi proses saling menanggung antara satu peserta dengan peserta lainnya (ta’awun).
8. Pengelolaan dana Tidak ada pemindahan dana, yang berakibat pada terjadinya dana hangus (untuk produk saving – life).
Pada produk-produk saving (life) terjadi pemisahan dana, yaitu dana tabarru’ (derma) dan dana peserta, sehingga tidak mengenal istilah dana hangus. Sedangkan untuk term insurance (life) dan general insurance semuanya bersifat tabarru’.
9. Investasi Bebas melakukan investasi dalam batas-batas ketentuan perundang-undangan, dan
Dapat melakukan investasi sesuai ketentuan perundang-undangan, sepanjang tidak
tidak terbatasi pada halal dan haramnya objek atau sistem investasi yang digunakan.
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Bebas dari riba dan tempat-tempat investaasi yang terlarang.
10. Kepemilikan dana Dana yang terkumpul dari premi peserta seluruhnya menjadi milik perusahaan.
Perusahaan bebas menggunakan dan menginvestasikan kemana saja.
Dana yang terkumpul dari peserta dalam bentuk iuran atau kontribusi merupakan milik peserta (shahibul mal). Asuransi syariah hanya sebagai pemegang amanah (mudharib) dalam mengelola dana tersebut.
11. Unsur premi Unsur premi terdiri dari : tabel mortalita (Mortality tables), bunga (interest), biaya-biaya asuransi (cost of insurance).
Iuran atau kontribusi terdiri dari unsur tabarru’ dan tabungan (yang tidak mengandung unsur riba). Tabarru’ juga dihitung dari tabel mortalita tetapi tanpa perhitungan bunga teknik.
12. Loading Loading pada asuransi
konvensional cukup besar terutama diperuntukan untuk komisi agen, bisa menyerap
Pada sebagian asuransi syariah, loading (komisi agen) tidak dibebankan pada peserta tapi dari dana
premi tahun pertama dan kedua. Karena itu, nilai tunai pada tahun pertama dan kedua biasanya belum ada (hangus).
pemegang saham. Tapi, sebagian lainnya
mengambilkan dari sekitar 20-30 persen saja dari premi tahun pertama. Dengan demikian. Nilai tunai tahun pertama sudah terbentuk.
13. Sumber
pembayaran klaim
Sumber biaya klaim adalah dari rekening perusahaan,
sebagai konsekuensi penanggung terhadap tertanggung. Murni bisnis dan
tidak ada nuansa spiritual.
Sumber pembayaran klaim diperoleh dari rekening tabarru’, dimana peserta saling menaggung. Jika salah satu peserta mendapat musibah, maka peserta lainnya ikut menanggung bersama risiko tersebut.
14. Sistem akuntansi Menganut sistem akuntansi
accrual basis, yaitu proses
akuntansi yang mengakui terjadinya peristiwa atau keadaan nonkas. Dan mengakui pendapatan, peningkatan aset, expenses,
Menganut konsep akuntansi cash basis, mengakui apa yang benar-benar telah ada, sedangkan accrual basis dianggap bertentangan dengan syariah karena mengkui adanya pendapatan,
liabilities dalam jumlah tertentu yang baru akan diterima dalam waktu yang akan datang.
harta, beban atau utang yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sementara apakah itu benar-benar dapat terjadi hanya Allah yang tahu.
15. Keuntungan (Profit)
Keuntungan yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reasuransi, dan hasil investasi seluruhnya adalah keuntungan perusahaan.
Profit yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi reasuransi, dan hasil
investasi, bukan seluruhnya menjadi milik perusahaan, tetapi dilakukan bagi hasil (mudharabah) dengan peserta.
16. Misi dan visi Secara garis besar misi utama dari asuransi konvensional adalah misi ekonomi dan misi sosial.
Misi yang diemban dalam asuransi syariah adalah misi aqidah, misi ibadah
(ta’awun), misi ekonomi (Iqtishod) dan misi pemberdayaan umat.
6. Asuransi Kesehatan
Asosiasi Asuransi Kesehatan Amerika (HIAA) mendefinisikan asuransi kesehatan sebagai berikut :
“Covarage that provide for payment of benefit as a result of sickness or injury includes insurance for losses from accident medical expense, disability or accidental death and dismemberment”.22
Definisi HIAA ini menjelaskan bahwa asuransi kesehatan memberikan jaminan manfaat karena terjadinya suatu penyakit atau kecelakaan, serta kerugian-kerugian lain yang timbul menyertainya misalnya biaya rumah sakit, disabilitas, kematian karena kecelakaan dan cacat.
Dalam Prinsip-prinsip Manajamen Risiko Asuransi Soeisno Djojo Soedarso mendefinisikan asuransi kesehatan sebagai berikut:
“ Asuransi yang memberikan santunan kesehatan kepada tertanggung berupa sejumlah uang untuk biaya pengobatan dan perawatan bila di luar kehendak
22
Harriet E. Jones dan Dani L. Long, Prinsip-prinsip Asuransi : Jiwa, Kesehatan dan Anuitas. (Georgia, FLMI, 1999). H.213
tertanggung diserang penyakit dan tertanggung akan membayar premi kepada penanggung secara berkala selama waktu tertentu”.23
Definisi di atas menjelaskan bahwa terjadi pertukaran manfaat antara premi yang dibayarkan oleh tertanggung dengan santunan yang diberikan oleh penanggung berupa biaya pengobatan dan perawatan kesehatan bila tertanggung sakit.
B. UNDERWRITING
1. Pengertian Underwriting dan Underwriter
Underwriting disebut juga seleksi risiko, adalah proses penaksiran dan penggolongan tingkat risiko yang terdapat pada seorang calon tertanggung.24 Underwriting atau penangungan, adalah proses menyeleksi risiko dan mengklasifikasikannya sesuai dengan tingkat insurability (dapat ditanggungnya), sehingga dapat ditentukannya tarif yang sesuai. Proses ini meliputi penolakan atas risiko-risiko yang tak dapat diterima.
Sedangkan menurut Moch. Anwar Abdullah (1993) dalam Kamus Umum Asuransi, yang dimaksud dengan Underwriter adalah seseorang yang mempunyai tugas menetapkan diterima atau tidaknya risiko untuk penutupan asuransi, atau seseorang yang tugasnya menyeleksi risiko dan sekaligus menentukan berapa nilai dan persyaratan apa saja yang dikenakan kepada risiko tersebut.25
23
Soeisno Djojosoedarsono, Prinsip-prinsip Manajemen Risiko Asuransi, (Jakarta; Salemba Empat, 2003). H. 74
24
AM. Hasan Ali, Asuransi dalam persefektif Hukum Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 89 25
Seleksi risiko tersebut dilakukan agar perusahaan mampu memprediksi keuntungan yang didapat dari proses tersebut. Bila Undewriter salah dalam menetapkan risiko calon peserta tentu saja akan memberikan kerugian bagi perusahaan.
2. Tujuan Underwriting dan Tugas Underwriter
Dalam asuransi konvensional, underwriting dilakukan untuk memilih mana objek risiko yang ditanggung dan mana yang tidak. Ini berarti seorang underwriter akan membuat suatu penilaian berdasarkan semua risiko yang diajukan kepada perusahaan, yang diperkirakannya secara kolektif akan menguntungkan. Kemudian underwriter juga akan menentukan besarnya premi dan nilai deductible dll. yang sepadan dengan nilai antisipasi klaim dari Tertanggung, biaya manajemen dan akuisisi. Dan yang juga dianggap paling penting, harus diperoleh keuntungan underwriting untuk perusahaan.
Underwriting Asuransi Syariah mempunyai tujuan yang tidak jauh berbeda. Konsep dasarnya adalah adalah memberikan skema pembagian risiko yang proporsional dan adil di antara para peserta yang secara relatif homogen. Dengan dasar pemikiran ini, melalui Asuransi Syariah diharapkan para peserta saling tolong-menolong satu sama lain disertai dengan adanya perlindungan yang sifatnya mutual,
maka semua peserta akan merasa aman dan menikmati perlindungan yang mereka butuhkan.
Dengan tujuan tersebut diatas, maka peran underwriter Asuransi Syariah di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Menetapkan risiko yang relatif homogen dalam suatu kelompok peserta atau calon peserta.
2. Menetapkan ruang lingkup perlindungan yang dibutuhkan oleh para peserta atau calon peserta dalam kelompok tersebut.
3. Menetapkan estimasi biaya secara keseluruhan yang dibutuhkan untuk memberikan perlindungan kepada para peserta tersebut.
4. Mendistribusikan skema kontribusi yang proporsional dan adil yang selayaknya menjadi beban dari setiap peserta.26
Pertanggungjawaban yang utama dari underwriter dalam seleksi resiko tersebut adalah memastikan risiko yang akan dicover sesuai dengan tingkat risiko yang diasumsikan oleh aktuaris. Tujuan underwriting bukan hanya menyeleksi risiko yang tidak akan menimbulkan kerugian besar saja, tetapi tujuannya adalah untuk menghindari suatu jumlah penanggungan yang tidak sebanding antar risiko ringan dan risiko berat.
Jadi jelas bahwa setiap bentuk pertanggungan akan menjalani proses selections of risk atau proses underwriting. Agar perusahaan bisa mmendapatkan
26
Muhaimin Iqbal, Asuransi Umum Syariah dalam Praktik, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), h. 50
keuntungan, maka perusahaan harus mengadakan evaluasi terlebih dahulu terhadap semua risiko yang hendak diasuransikan.
3. Prinsip kerja underwriter Asuransi Kesehatan Kumpulan27
Berbeda dengan prinsip kerja asuransi kesehatan perorangan, seorang underwriter asuransi kesehatan kumpulan dalam melakukan aktifitasnya tidak terlalu menaruh perhatian khusus pada kondisi kesehatan perorangan (kecuali untuk kelompok yang dianalisis adalah kelompok dengan jumlah peserta yang sangat kecil). Hal utama yang menjadi kajian underwriter asuransi kesehatan kumpulan adalah melihat bagaimana penyebaran risiko kesehatan yang luas di dalam kelompok tersebut bisa terjadi. Penyebaran risiko yang luas ini memungkinkan underwriter dapat mengambil kesimpulan apakah individu-individu dalam kelompok tersebut secara umum masuk dalam kategori sehat (memiliki risiko rendah) atau sakit (risiko tinggi).
Pada sebuah kelompok besar biasannya hanya ada sejumlah orang saja yang karena masalah-masalah kesehatan yang cukup serius dan sering muncul sehingga
27
Hasbullah Thabrani, Dkk. Dasar-dasar Asuransi Kesehatan Bagian B, (Jakarta : Pamjaki, 2005)
memiliki risiko asuransi yang tidak dapat diasuransikan atau dapat diasuransikan hanya pda batas-batas tertentu. Namun demikian, pada sebuah kelompok tertentu biasanya mempunyai banyak persamaan karekteristik tentang individu-individu dalam kelompok tersebut. Kondisi ini menyebabkan permasalahan potensial yang muncul dengan risiko kesakitan pada suatu kelompok tertentu akan sulit dideteksi jika hanya melihat secara langsung kelompok tersebut secara keseluruhan. Masalah-masalah potensial akan muncul, jika analisis dilakukan dengan melihat secara seksama terhadap karekteristik dari kelompok itu. Oleh karenanya, dalam melakukan seleksi risiko seorang underwriter asuransi kesehatan kumpulan harus melakukan kajian tentang karakteristik spesifik yang ada pada suatu kelompok yang membedakannya dengan kelompok lain. Underwriter harus mampu melihat dan mampu menetukan apakah sebuah kelompok yang akan diterima berada dalam koridor parameter tertentu untuk kelompok yang bisa diterima oleh perusahaan asuransi. Batas koridor parameter tersebut biasanya sudah ditetapkan oleh perusahaan asuransi.
Seleksi risiko asuransi kesehatan kumpulan melibatkan sejumlah langkah yang harus dilakukan oleh underwriter. Langkah-langkah yang dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Menganalisa karekteristik kelompok. Underwriter harus melihat karekteristik kelompok yang dimiliki. Karekteristik tersebut meliputi : jenis kelompok,
jenis industri, ukuran kelompok, berapa orang jyang memenuhi syarat yang bisa masuk dalam kelompok tersebut dan berbagai pertimbangan finansial. b. Menganalisa karekteristik individu dalam kelompok. Pada tahap ini
underwriter akan melihat karekteristik individu-individu, khususnya mereka yang memnuhi syarat untuk dilibatkan dalam kelompok asuransi. Karekteristik individu yang dianalisis meliputi : usia, jenis kelamin, pekerjaan, lokasi goegrafis, pendapatan, turnover karayawan, fasilitas administrasi dan kontribusi karyawan.
c. Menentukan bahwa kontrak yang akan diaplikasikan dapat diterbitkan dalam yurisdiksi dimana ia akan ditulis.
d. Memastikan apakah paket jaminan kesehatan yang akan diberlakukan dapat dikelola dengan memuaskan baik oleh pemegang polis mmaupun oleh perusahaan asuransi.
e. Menentukan kredibilitas pengalaman klaim masa lalu dan riwayat kesehatan yang dilaporkan oleh pemegang polis kelompok kecil.
f. Membuat tarif premi yang diperkirakan akan memberikan kontribusi yang nantinya akan menguntungkan baik untuk peserta amaupun perusahaan.
4. Tanggung jawab dan fungsi underwriter asuransi kesehatan kumpulan
Seorang underwriter di tuntut untuk memahami faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kesakitan serta dituntut mampu memprediksi
kemungkinan kejadian kesakitan dimasa depan bedasarkan informasi yang diperoleh dari pemohon serta aktiv mencari sumber-sumber linformasi lain.
Tanggung jawab utama underwriter asuransi kesehatan kumpulan adalah, mendesain paket jamianan asuransi kesehatan baru dan melakukan pembaharuan terhadap paket jaminan yang sudah ada.
Sesuai dengan tanggung jawabnya, fungsi utama underwriter asuransi kesehatan kumpulan adalah memeriksa karekteristik paket-paket jaminan kesehatan yang ditawarkan kepada sebuah kelompok, mempertimbangkan berbagai variabel yang berkaitan dengan berbagai risiko yang akan muncul jika paket jaminan kesehatan tersebut dijual, dan menentukan apakah sebuah paket jaminan kesehatan dapat diterima seperti apa adanya atau paket-paket tersebut perlu dimodifikasi menurut aturan-aturan standar perusahaan tersebut.
5. Sumber-sumber informasi underwriting asuransi kesehatan kumpulan Informasi yang lengkap dan akurat merupakan syarat mutlak untuk dapat menghasilkan keputusan underwriting yang fair. Sumber utama underwriting asuransi adalah aplikasi asuransi. Namun demikian aplikasi asuransi tidak selalu menyediakan informasi yang cukup bagi underwriter untuuk membuat keputusan. Oleh karenanya, underwriter harus menggali informasi-informasi lain yang relevan dari berbagai sumber.
Sumber-sumber informasi underwriting asuransi kesehatan kumpulan dapat berasal :
a. Permintaan untuk proposal
Ketika sebuah kelompok membeli produk asuransi, perwakilan kelompok tersebut akan diminta untuk mengisi formulir permintaan asuransi yang telah disediakan oleh perusahaan asuransi. Formulir tersebut menyakan data-data karyawan serta data pengalaman asuransi masa lalu atau riwayat klaim.
Informasi tentang jumlah karyawan yang memenuhi syarat sebagai peserta sangat berguna untuk undewriter untuk menentukan apakah ada sejumlah partisipasi peserta yang cukup adekuat untuk sebuah paket jaminan yang diminta oleh keloompok tersebut. Sedangkan informasi tentang riwayat asuransi kesehatan sebelumnya akan sangat membantu underwriter untuk menetukan apakah calon peserta kelompok memiliki stabilitas yang diterima.
b. Kartu pendaftaran
Kartu pendaftaran akan memberikan tentang usia, jenis kelamin, pendapatan, status tanggungan dan pekerjaan.
Informasi tenutang stabilitas keuangan perusahaan penting diketahui underwriter. Informasi ini harus dipertimbangkan untuk meyakinkan apakah kelompok memungkinkan akan tetap memiliki anggota kelompoknya selama bebarapa tahun.
Informasi kredit calon peserta juga penting untuk diketahui oleh underwiter. Informasi ini dapat membantu underwriter untuk memprediksi kemungkinan kesulitan pengusaha untuk membayar premi secara teratur, khususnya jika premi tersebut bersifat noncontributory.
d. Informasi Agen atau Broker
Untuk pembeli kelompok baru, underwriter dapat meminta bantuan agen atau broker untuk mendapatkan informasi tentang kondisi calon pemegang polis. Informasi tersebut biasanya berhubungan dengan pengalaman asuransi masa lalu, paket jaminan yang pernah dibeli dan informasi premi.
e. Refresentatif kelompok
Penjualan jaminan paket kelompok dapat dilakukan terlebih dahulu melalui kunjungan ke tempat pengusaha oleh refresentatif kelompok dari perusahaan asuransi. Refresentatif ini akan membahas paket jaminan kesehatan dengan calon peserta. Untuk keperluan underwriting, refresentatif kelompok dari perusahaan selanjutnya akan menyampaikan informasi kepada underwriter tentang kondisi pengusaha dan karyawan-karyawannya.
f. Laporan inspeksi
Untuk menangkap calon asuransi peserta yang lebih kecil, perusahaan asuransi dapat memanfaatkan laporan inspeksi. Laporan ini biasanya dibuat oleh perusahaan investigasi komersil yang secara khusus memberikan informasi penting untuk keperluan underwriting. Dalam melakukan inspeksi, perusahaan investigasi akan melakukan kunjungan langsung ketempat pengusaha, melaporkan kemungkinan adanya adverse selection, serta membantu memeriksa akurasi informasi yang diberikan pengusaha pada formulir aplikasi asuransi.
6. Faktor-faktor Seleksi Risiko Asuransi Kesehatan Kumpulan Calon tertanggungasuransi kesehatan kumpulan bisa merupakan: 1) kelompok baru yang belum pernah memilki asuransi
2) kelompok yang sudah terasuransi dan ingin memperpanjang kotraknya 3) kelompok yang sudah mempunyai asuransi dengan perusahaan lain dan ingin pindah asuransinya.
Faktor-faktor seleksi risiko yang perlu dianalisis oleh Underwriter ketika melakukan underwriting pada asuransi kesehatan kumpulan adalah sebagi berikut ;
Ukuran kelompok merupakan faktor seleksi yang harus dipertimbangkan. Namun demikian pertimbangan underwriter cukup bervariasi tergantung beser kecilnya kelompok. Keuntungan kelompok besar adalah lebih stabil dalam memprediksi utilisasi pelayanan kesehatan, dengan demikian perkiraan biaya kesehatan atau terjadinya klaim lebih akurat. Sedangkan masalah yang ada pada sebuh kelompok kecil adalah keterbatasan penyebaran risiko. Angka kesakitan cenderung lebih tinggi pada kelompok kecil daripada kelompok besar karena kemungkian adverse selection lebih sering terjadi pada kelompok kecil.
b. Jenis industri
Jenis industri tertentu dapat mempengaruhi pola kesakitan. Underwriter perlu menggunakan jenis industri untuk memprediksi kemungkinan angka kesakitan dan memungkinkan informasi ini untuk menetukan tarif premi. Jenis-jenis industri tertentu juga bisa masuk dalam kategori faktor risiko yang tidak bisa diterima underwriter, seperti kolompok karyawan yang sering keluar masuk, atau yang sering terpapar dengan subtansi berbahaya.
Angka kesakitan yang yang terjadi pada kelompok pekerja terrtentu cenderung lebih tinggi, yaitu pada :
1. Polisi dan pemadam kebakaran 2. Karyawan rumah sakit
4. Industri yang tingkat penyalahgunaan obat dan alkohol tinggi seperti klub malam
5. Usaha-usaha lainnya seperti restoran dan lapangan parkir
c. Komposisi kelompok
Karekteristik sebuah kelompok tertentu dapat mempengaruhi angka kesakitan, utilisasi, kesehatan dan tentunya biaya pelayanan kesehatan. Karekteristik kelompok yang dimaksud adalah:
1. Kelas karyawan. Secara umum seorang underwriter lebih suka menerima semua karyawan dengan status penuh waktu dan bekerja secara aktif karena risiko yang disebar luas dapat mengurangi adverse selection dan bisa membagi biaya tetap dengan jumlah anggota yang lebih besar. Sedangkan pekerja dengan status paruh waktu, musiman dan sementara kurang menarik karena sering berganti-ganti sehingga akan meningkatkan biaya-biaya adminstrasi
2. Distribusi usia. Berbagai temuan studi di Indonesia menyatakan bahwa pola angka kesakitan dan pemmanfaataan pelayanan kesehatan cenderung berbentuk huruf “U” yang artinya usia balita dan usia tua mempunyai risiko yang lebih tinggi dibandingkan usia produktif. Sebaran usia suatu calon tertanggung kumpulan harus cukup untuk
menghasilkan kisarran risiko yang luas. Para underwriter sangat memperhatikan kumpulan-kumpulan dengan proporsi yang besar dari anggota yang lebih tua yang cenderung akan mengalami tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Kumpulan dengan perputaran anggota yang cenderung untuk meningkatkan usia rata-rata, tetapi alir anggota baru yang stabil dapat membantu menjaga sebaran usia dikehendaki dalam suatu kumpulan, khususnya jika anggota baru tersebut berusia muda.
3. Distribusi jenis kelamin. Berbagai studi menemukan bahwa angka kesakitan pada kelompok wanita lebih tinggi ketimbang laki-laki khususnya pada masa reproduksi. Hal ini dimungkinkan disebabkan oleh fungsi biologis dan wanita sehingga mempunyai risiko terkena sakit yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan dan lain-lain. 4. Distribusi pendapatan. Pendapatan karyawan dalam sebuah kelompok
dapat mempengaruhi underwriting dalam beberapa cara. Individu dengan pendapatan tinggi di atas rata-rata umumnya mencari perawatan yang lebih sering dan lebih mahal. Ini mengakibatkan pemanfaatan pelayanan kesehatan sehingga pengajuan klaim akan lebih sering. Sebuah kelompok yang sebagian besar terdiri dari karyawan yang berpendapatan lebih rendah mungkin memiliki implikasi underwriting yang berarti, seperti tipe pekerjaan atau
kondisi pekerjaan yang diminati atau risiko yang substandar karena lokasi pekerjaan.
d. Persistensi yang diharapkan
Perusahaan asuransi membutuhkan biaya akuisis tinggi ketika mendapatkan peserta baru. Biaya akiusisi meliputi berbagai pengeluaran perusahaan yang berhubungan dengan proses underwriting, proposal, penjualan, pendaftaran, penerbitan konutrak, kartu identifikasi, brosur dan menyiapkan tagihan. Oleh karenanya, underwriter harus menghidari sebuah calon peserta yang kemungkinan akan bertahan sebentar sebagai peserta.
e. Lokasi kelompok
Lokasi kelompok bisa menjadi pertimbangan underwriter karena akan berkaitan dengan fasilitas pelayanan. Banyak pengusaha menginginkan perwakilan perusahaan asuransi dapat membantu masalah-masalah sehari-hari yang muncul berkaitan dengan program asuransi yang mereka beli. Untuk membantu dalam hal solitisasi, instalasi kelompok serta menangani berbagai pertanyaan yang diajukan pemegang polis dekat dengan perusahaan asuransi. Lokasi yang sangat dekat juga sangat penting, terutama
ketika seoarang agen dan broker mengharapakan harapan penuh dari perusahaan asuransi. Sebagai tambahan, lokasi merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan ketika perusahaan asuransi menawarkan sejumlah paket pelayanan kesehatan yang mensyaratkan adanya jaringan pemberi pelayanan kesehatan (PPK).
Underwriter bisa saja menolak sebuah kelompok yang memiliki sejumlah karyawan yang tinggal di lokasi-lokasi dimana perusahaan asuransi tidak mempunyai