terapi ke Hasil Pengamatan Kehilang an nafsu makan Perubaha n Kebiasaa n makan Jumlah makanan masuk berkurang Dehi drasi Mal nutrisi Penuruna n berat badan TPN Dera jat Mual Fre kuensi muntah Derajat muntah 1 - - - - - - - - - - 2 - - - - - - - - - - 3 - - - - - - - - - - Keterangan: - : Tidak ada √ : Ada
Berdasarkan pada tabel 4.8 menunjukkan bahwa pasien 6 tidak mengalami efek samping mual dan muntah kemoterapi paklitaksel karboplatin selama 3 siklus kemoterapi sehingga tidak mengalami efek dari mual dan muntah berdasarkan karakteristik yang ditentukan oleh CTCEAE versi 3 yaitu tidak mengalami kehilangan nafsu makan, perubahan kebiasaan makan, jumlah makanan masuk berkurang, dehidrasi, malnutrisi, penurunan berat badan, TPN, dan frekuensi muntah.
4.4 Perbedaan Derajat Efek Samping Mual dan Muntah Pasien pada Kemoterapi BOMP
Dari hasil data pengamatan efek samping mual dan muntah akut kemoterapi BOMP selama di rumah sakit ditentukan derajat mual dan muntah pasien. Adapun
derajat efek samping mual dan muntah kemoterapi BOMP pada pasien dapat dilihat pada tabel 4.9
Tabel 4.9 Derajat Efek Samping Mual dan Muntah kemoterapi BOMP
Pasien
Derajat Mual dan Muntah pada Siklus Kemoterapi
1 2 3
Mual Muntah Mual Muntah Mual Muntah
1 sedang sedang Sedang Sedang Sedang Sedang
2 - - Ringan - Sedang Ringan
3 sedang ringan Sedang Sedang sedang sedang
4 - - - - - -
5 ringan - Ringan - - -
6 - - - - - -
Dari data pada tabel 4.9 untuk melihat perbedaan derajat efek samping mual dan muntah pasien pada kemoterapi BOMPdilakukan dengan analisa SPSS 16.0 melalui uji Chi-Square yang hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.10 dan tabel 4.11
Tabel 4.10 Hasil Uji Chi Square Perbedaan Derajat Mual Kemoterapi BOMP
Derajat Mual Siklus Kemoterapi
Kemoterapi 1 Kemoterapi 2 Kemoterapi 3
Tidak mual 3 2 3
Mual ringan 1 2 0
Mual sedang 2 2 3
Total 6 6 6
p = 0,638
Berdasarkan dari uji Chi Square (α = 0,05) pada tabel 4.7 nilai p adalah 0,632 (lebih besar dari α = 0,05) sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan derajat efek samping mual pasien pada siklus kemoterapi pertama kedua dan ketiga.
Tabel 4.11 Hasil Uji Chi Square Perbedaan Derajat Muntah Kemoterapi BOMP
Derajat Muntah Siklus Kemoterapi
Kemoterapi 1 Kemoterapi 2 Kemoterapi 3
Tidak ada muntah 4 4 3
Muntah ringan 1 0 1
Muntah sedang 1 2 2
Total 6 6 6
p = 0,812
Dari hasil uji Chi Square (α = 0,05) pada tabel 4.11 nilai p adalah 0,493 (lebih besar dari α = 0,05) sehingga dapat disimpulkan tidak terdapat perbedaan derajat efek samping muntah pasien pada siklus kemoterapi pertama, kedua dan ketiga.
Tidak teradpatnya perbedaan derajat efek samping mual, muntah pada pemberian kemoterapi bomp karena adanya pemberian obat premedikasi sebelum pasien di kemoterapi yang cukup efektif pada pasien dalam menekan rasa mual dan muntahnya.
33 5.1 Kesimpulan
1. Terdapat 3 pasien dari 6 pasien yang mengalami mual muntah pada kemoterapi I, 4 pasien yang mengalami mual muntah pada kemoterapi kedua dan terdapat 3 pasien yang mengalami mual muntah pada kemoterapi ketiga.
2. Tidak terdapat perbedaan derajat mual muntah pada pasien yang mendapatkan kemoterapi BOMP baik pada kemoterapi pertama, kedua maupun ketiga.
5.2 Saran
1. .Perlu dilakukan pemberian obat premedikasi yang lebih kuat efektivitasnyabaik pada kemoterapi seri I, II maupun III sehingga mual dan muntah pada pasien tidak terjadi
2. Perlunya diterapkan pengobatan dan penanganan secara individual untuk masing-masing psaien yang mendapatkan kemoterapi BOMP pada kasus kanker serviks.
3. Perlu diberikan terapi untuk mengatasi rasa cemas yang diderita pasien selama menjalani kemoterapi.
DAFTAR PUSTAKA
Aziz, MF. 2002. Skrening dan Deteksi Dini Kanker Serviks. Jakarta : FK – UI Anthony C Moffat, M David Osselton, Brian Widdop. 2005. Clarke's Analysis of
Drugs and Poisons. © Pharmaceutical Press 2005
Altekruse SF, Lacey JVJ, Brinton LA, Gravitt PE,Silverberg S, Barnes, WAJ, Greenberg MD, Hadjimichael OC, McGowan L, Mortel R, Schwartz PE, Hildesheim A. Comparison of human papillomavirus genotypes, sexual,
and reproductive risk factors ofcervical adenocarcinoma and squamous cell carcinoma.Northeastern United States.Am J Obstet Gynecol, 2003;
188: 657–663.
Dipiro, J. T., R. L. Talbert, G. C. Yee, G. R. Matzke. B. G. Wells. L. M. Posey. 2005. Pharmacotherapy, A Pathophysiologic Approach 6th Edition. United
States of America : The McGraw-Hill Companies, Inc
Donowati, M. W. 2005. Evaluasi Kerasionalan dan Analisis Farmakoekonomi
Peresepan Antibiotika Pada Pasien Bedah Sesar di Rumah Sakit Panti Rini Yogyakarta (Tesis). Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
Edianto D. 2006. Kanker Serviks dalam Onkologi Ginekologi. Ed I. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. pp : 442-54.
Hacker,Moore. 2001. Esensial Obstetri dan Ginekologi, Edisi 2. Jakarta: Hipokrates
Hawkins Rebecca, MSN, ANP,AONCN, Steven Grunberg, MD. 2009.
Chemoteraphy-Induced Nausea and Vomitting: Challenges and
Opportunities for Improved Patents Outcomes. Clinical Journal of
Oncology Nursing Volume 13, Number 1.
Jordan Karin, dkk. 2007. Guidelines for Antiemetic Treatment of
Chemotherapy-Induced Nausea and Vomiting: Past, Present, and Future
Recommendations. TheOncologist2007;12:1143–1150
Keiichi Fujiwara, MD, PhD, Noriyuki Katsumata, MD, PhD, and Takashi Onda, MD, PhD. 2012. Dose-Dense Chemotherapy and Neoadjuvant Chemotherapy for Ovarian Cancer. American Society of Clinical Oncology.1092-9118/10/1-10
Menteri Kesehatan Republik Indonesia (MenKes RI). 2010. Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 796/Menkes/SK.VII/2010 Tentang Pedoman Teknis Pengendalian Kanker Payudara dan Kanker Leher Rahim. Jakarta: Menteri Kesehatan RI.
National Cancer Institute (NCI). 2008. What You Need to Know About Cervical
Cancer. U.S Department of Health and Human Services: National
Institutes of Health Publication. 13.
Perwitasari Aryani Dyah,Msi, Arir Atthobari, PhD,et al. 2011. Impact of
Chemotherapy-Induced Nausea and Vomiting on Quality of Life in Indonesian Patients With Gynecologic Cancer. International Journal of
Gynecological Cancer & Volume 22, Number 1, January 2012.
Price, S.A. dan L.M. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit
Volume 2 Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1295–1297.
Suartini Ayu. 2012. Kajian Interaksi Obat Yang Potensial Pada Pasien Kanker
Serviks Di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Periode 2011 (Skripsi).Denpasar : Universitas Udayana.
Vasilev., S.A., S.E. Lentz., dan A.E.Axtell. 2011. Gynecologic Oncology
Evidence-Based Perioperative and Supportive Care. New Jersey : John
Wiley and Sons. Inc. 299–303.
WHO, 2010.Cervical Cancer and The Human Papilloma Virus (HPV) diakses
pada tanggal 9 september 2012 dari
http://www.who.int/reproductivehealth/topics/cancers/en/index.html
Williams, L. dan Wilkins. 2001. Cancer Principles and Practice of Oncology 6th
Edition. Philadelphia: A Wolters Kluwer Company. 1529–1549.
World Health Organization (WHO), PATH, and the United nations population fund (2009). Cervical cancer, human papillomavirus (HPV), and HPV vaccines: Key points for policymakers and health professionals. Geneva,
CH: WHO; 2007. Available at:
www.who.int/reproductivehealth/publications/cervical_cancer_keypoints/c erv_cancer_hpv_keypts.pdf