Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap tiga partisipan perawat lintas budaya yang bekerja di RST Ambon berbagai pendapat mereka utarakan terutama pada perbedaan kebudayaan yang ada, yang menyebabkan mereka harus berusaha untuk kembali menyesuaikan diri. Bukan hanya perbedaan kebudayaan saja yang menjadi hambatan terbesar mereka, namun perbedaan komunikasi juga sangatlah berpengaruh besar terutama bagi para responden yang berbeda budaya dan bahasa ini, karena setiap kelompok etnik pendatang memiliki kebudayaan, nilai, norma, tata cara bahasa, dan pola tingkah laku tersendiri yang belum tentu sama dengan penduduk lokal. Dimana perbedaan-perbedaan tersebut mengakibatkan hambatan yang timbul dalam proses komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat lintas budaya.
Meskipun berbagai kelompok budaya semakin sering melakukan interaksi, bahkan dengan bahasa yang sama sekalipun, tidak berarti komunikasi akan berjalan mulus atau bahkan dengan sendirinya akan tercipta saling pengertian, karena antara lain, sebagian diantara kita masih punya kecurigaan terhadap kelompok budaya lain dan enggan bergaul dengan mereka.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Jirwe, Garish, Amami (2009) mengenai pengalaman komunikasi lintas budaya mahasiswa, dengan sampel 5 orang mahasiswa yang berasal dari Swedia dan 5 lainnya berlatar belakang imigran. Dalam pertemuan perawat lintas budaya ini menemukan
tema-tema yaitu para mahasiswa keperawatan ini menyadari bahwa komunikasi yang efektif menjadi hal yang sangat penting dalam melakukan pertemuan lintas budaya dalam menangani pasien. Mereka mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan pasien yang komunikasi verbalnya berbeda dari mereka. Sehingga membuat mereka mengembangkan strategi berkomunikasi dengan pasien yang berbeda latar belakang dari mereka. Keterbatasan tersebut memiliki dampak yang beresiko yaitu ketidakpuasan layanan yang diterima oleh pasien yang dirawat oleh mereka.
Berbicara tentang menyesuaikan diri dengan perbedaan budaya dalam berbagai cara. Perawat bisa memegang keyakinan dan praktik yang sangat berbeda dari pasien (Ferguson, 2006). Data mengenai perspektif perawat terkait dengan kekuatan mereka, tantangan, daerah ketidaknyamanan dan strategi dapat berguna untuk meningkatkan kompetensi budaya. Data yang diterima dari studi bisa memberikan kerangka untuk program keperawatan dalam mengembangkan dan meningkatkan kurikulum. Data juga bisa menantang atau mendorong penyedia layanan untuk meningkatkan kesadaran budaya, pengetahuan, dan keterampilan, atau kompetensi budaya.
Budaya kesehatan profesional berasal dari latar belakang dan pengalaman pelatihan medis mereka yang bervariasi di seluruh kategori profesional. Namun, profesional kesehatan cenderung mengabaikan budaya orang lain (bukan dirinya) yang unik dan mereka melihat seperti
hanya mereka yang memiliki budaya. Biasanya, sebagian besar dari penyedia layanan kesehatan menganganggap berbeda pada pasien yang "budaya", dan bahasa yang berbeda, berasal dari kelompok sosial yang berbeda, atau berasal dari negara yang berbeda (Hood & Waldman 2003)
Jika seseorang dihadapkan dengan kebudayaan yang berlainan sekali dari kebudayaannya, dia akan cenderung untuk menilai kebudayaan itu menurut pandangan budayanya sendiri. Dalam antropologi budaya sikap demikian dianggap menghalangi seseorang untuk dapat setepatnya memahami suatu kebudayaan yang lain, karena itu penting sekali bagi seorang yang meninggalkan daerah dan budayanya untuk melihat kebiasaan-kebiasaan dalam suatu kebudayaan dalam konteks masyarakatnya sendiri. Sikap demikian dinamakan kenisbian kebudayaan (Ihromi 2006).
Perbedaan budaya dikatakan sebagai perilaku, sikap dan kebijakan yang bersifat saling melengkapi dalam suatu system kehidupan sehingga memungkinkan untuk berinteraksi secara efektif dalam suatu kerangka berhubungan antar budaya didunia. Perbedaan budaya ini juga merupakan suatu kemampuan dan system nilai yang dimiliki individu dalam berespons secara efektif terhadap semua kebudayaan yang dihadapi, kelompok kelas kehidupan, ras , latar belakang, etnik, agama, serta memahami perilaku yang diaktualisasikan, memahami perbedaan dan kesamaan sistem nilai yang dianut individu, keluarga, komunitas serta kemampuan memproteksi
dan memelihara harga diri siapapun yang dihadapi. Kompetensi budaya diantaranya memahami dan menghormati perbedaan antara klien dan keluarga mengenai sistem nilai yang dianut, pengalaman menerima pelayanan kesehatan dan harapan. Pada kesempatan yang sama perawat perlu mencermati potensi teraktualisasinya praktik keperawatan atau kesehatan berbasis budaya. Asuhan keperawatan yang berbasis kompetensi budaya memungkinkan perawat sebagai petugas pelayanan kesehatan mengelola secara utuh elemen-elemen pelayanan kesehatan di keluarga, termasuk mengelola hambatan atau tantangan di tingkat komunikasi (Effendy 2009).
Pendekatan transkultural merupakan suatu perspektif yang unik karena bersifat kompleks da sistematis secara alamiah yang secara kontekstual melibatkan banyak hal, seperti bahasa yang digunakan, nilai historis yang teraktualisasikan, tradisi, serta ekonomi. Konsekuensinya perawat sebagai tenaga kesehatan perlu memahami perbedaan kebudayaan diantara individu, keluarga, komunitas termasuk organisasi pelayanan kesehatan (Effendy 2009).
Pola pikir umum tentang budaya mempengaruhi cara individu berkomunikasi dan berinteraksi satu sama lain. Namun apa yang umum dalam satu budaya mungkin bermasalah dalam budaya lain. contoh ini menunjukkan betapa penting kedua pemahaman bahwa ada pola yang
berbeda dan perlu belajar berbagai cara agar dapat mengakomodasi dalam sebuah pertemuan komunikasi antarbudaya (Goode & Jones 2009).
Setiap kali berdiskusi tentang bahasa dalam proses antarbudaya maka tidak luput dengan mengikutsertakan pembahasan tentang isu-isu bahasa yang umum sebelum membahas masalah-masalah khusus tentang bahasa asing, penerjemah bahasa dan dialek serta logat dalam kelompok budaya orang lain. Komunikasi antar budaya terjadi pada saat dua atau lebih orang dengan latar belakang budaya yang berbeda berinteraksi. Proses ini jarang atau hampir tidak pernah berjalan dengan lancar dan tanpa masalah. Dalam kebanyakan situasi, para pelaku interaksi antar budaya tidak menggunakan bahasa yang sama, tetapi bahasa dapat di pelajari. Masalah komunikasi yang lebih besar terjadi dalam area baik komunikasi verbal maupun komunikasi nonverbal. Khususnya, komunikasi nonverbal, sangat rumit, multidimensional, dan biasanya merupakan proses yang spontan. Orang-orang tidak sadar akan sebagian besar perilaku non-verbalnya sendiri, dilakukan tanpa berpikir, spontan dan tidak sadar (Samovar & Porter, 1993). Kita biasanya tidak menyadari perilaku kita sendiri, maka sangat sulit untuk menandai dan menguasai baik perilaku komunikasi verbal maupun perilaku komunikasi nonverbal dalam budaya lain. Kadang-kadang kita merasa terganggu dan tidak nyaman dalam budaya lain karena kita merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Khususnya, perilaku komunikasi nonverbal jarang menjadi sesuatu hal penting yang
disadari, dan membuat kita sangat sulit untuk mengetahui dengan pasti mengapa kita merasa tidak nyaman.
Sebagaimana masyarakat terus menjadi lebih beragam budaya, perawat harus berusaha untuk unggul melampaui hambatan dan kemajuan ke arah kompetensi budaya untuk terus memberikan layanan berkualitas dan mengurangi kesenjangan kesehatan (Velasquez 1998).