• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap tiga partisipan perawat lintas budaya yang bekerja di RST Ambon mengenai proses dan strategi adaptasi yang mereka lakukan guna mengurangi perbedaan dan hambatan komunikasi yang terjadi. Para responden menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dan jika mengalami kesulitan akan menggunakan alternative lain yaitu menggunkan bahasa tubuh atau pula menggunakan penerjemah.

Saat sekelompok orang dengan latar belakang budaya yang berbeda melakukan interaksi maka terjadilah komunikasi antar budaya. Hal ini sangat jarang berjalan dengan lancar, karena kebanyakan situasi mereka yang melakukan interaksi antar budaya tidak menggunakan bahasa yang sama, namun bahasa tetap bisa dipelajari. Terjadi masalah komunikasi yang lebih besar dalam area baik nonverbal maupun verbal. Pada komunikasi nonverbal sangatlah rumit, dan kebanyakan merupakan proses yang spontan. Kebanyakan orang sering tidak sadar akan sebagian besar

perilaku nonverbal mereka, yang dilakukan tanpa berpikir dan spontan serta tidak sadar (Samovar & Porter, 1994). Sebagian besar kita sering tidak menyadari akan sikap dan tindakan kita sendiri, sehingga sulit untuk menguasai perilaku verbal maupun nonverbal dalam budaya lain. Sering kita merasa terganggu dalam budaya orang lain, dikarenakan kita sering merasa bahwa ada yang salah dengan kebudayaan tersebut. Pada perilaku nonverbal jarang untuk menjadi sesuatu yang disadari, sehingga kita sulit untuk mengetahui pasti mengapa kita sering merasa tidak nyaman.

Komunikasi antar budaya menjadi sangat penting dikarenakan interaksi sosial dalam kehidupan keseharian kita adalah sesuatu yang tidak dapat ditolak. Saat melakukan percakapan, antara dua orang biasanya 35% percakapan yaitu komunikasi verbal sedangkan 65% lainnya merupakan komunikasi nonverbal (Birdehistell, 1969).

Namun demikian, studi sistematis tentang komunikasi nonverbal sejak lama telah diabaikan. Studi komunikasi secara tradisional lebih fokus pada penggunaan bahasa itu sendiri tanpa mencakup komuniksi dalam bentuk yang lain. Sepertinya telah ada semacam prasangka yang tidak beralasan mengenai bidang tersebut. Misalnya, cukup banyak program-program pengajaran bahasa asing yang biasanya mengabaikan perilaku komunikasi nonverbal. Namun pada kenyataannya, hanya sedikit saja yang mempunyai makna universal khusus-nya adalah tersenyum, tertawa, menangis, dan tanda marah. Karena itulah, orang sering salah dan

menganggap bahwa bila mereka berada di dalam suatu lingkungan dengan kebudayaan yang berbeda di mana mereka tidak mengerti bahasanya mereka berpikir bisa aman dengan sekedar mengetahui gerakan-gerakan manual. Tetapi karena manusia mempunyai pengalaman hidup yang berbeda di dalam kebudayaan yang berbeda, ia akan menjelaskannya dengan cara yang berbeda pula tanda-tanda dan simbol-simbol yang sama (Bennet 1998).

Fokus pada studi komunikasi dan kebudayaan juga meliputi, pola-pola tindakan, bagaimana menjaga makna, juga tentang bagaimana makna dan pola-pola itu diartikulasikan ke dalam suatu kelompok sosial, kelompok politik, kelompok budaya, proses pendidikan, bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia (Liliweri, 2004:10).

Akan tetapi studi sistematis tentang komunikasi nonverbal telah lama diabaikan. Hal ini dikarenakan adanya semacam praduga tidak beralasan tentang bidang tersebut. Contohnya kebanyakan program bahasa asing seringkali mengabaikan perilaku komunikasi nonverbal. Akan tetapi pada kenyataan yang ada hanya sedikit saja komunikasi nonverbal memiliki makna yang universal seperti menangis, tersenyum, tertawa dan tanda marah. Oleh sebab itu orang sering beranggapan sendiri bahwa bila mereka berada dalam suatu kebudayaan yang berbeda dari mereka dan mereka juga tidak mengerti bahasa yang digunakan, mereka berpikir bisa tertolong dengan cukup mengetahui gerakan-gerakan manual. Akan tetapi karena

setiap manusia memiliki perbedaan pengalaman hidup dalam kebudayaan yang berbeda, orang tersebut akan menyatakan secara berbeda pula simbol-simbol dan tanda-tanda yang sama (Bennet 1998).

Studi tentang komunikasi dan kebudayaan juga berfokus pada pola-pola tindakaan, bagaiamana makna dan pola-pola-pola-pola tersebut diartikan kedalam masyarakat, bagaiamana menjaga makna, kelompok politik, proses pendidikan, dan juga lingkungan teknologi yang melibatkan manusia untuk berinteraksi (Liliweri, 2004).

Rahardjo (2005) mengatakan, tidak seperti studi-studi komunikasi lain, dikarenakan tingkat perbedaan yang relatif tinggi pada latar belakang pihak-pihak yang berkomunikasi karena adanya perbedaan kultural maka komunikasi antar budaya merupakan hal yang penting sehingga hal tersebut menjadi perbedaan dengan kajian ilmu yang lainnya. Selanjutnya pendapat Kim yang dikemukakan dalam Rahardjo ialah asumsi yang mendasari komunikasi antar budaya antaralain dikarenakan setiap individu yang memiliki budaya yang sama biasanya berbagi kesamaan-kesamaan dalam keseluruhan latar belakang pengalaman mereka daripada orang-orang yang berasal dari budaya yang berbeda.

Menurut pandangan peneliti tentang strategi adaptasi yang dilakukan oleh para responden semuanya menggunakan bahasa tubuh atau nonverbal saat menghadapi pasien yang hanya mampu menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi sehar-sehari. Hal pertama yang

diketahui dari pengalaman ketiga responden yaitu betapa terbatasnya komunikasi bila tanpa kata-kata. Akhirnya dapat diketahui bahwa emosilah yang secara penuh dikomunikasikan secara nonverbal.

Dalam kedua studi adaptasi pendek dan jangka panjang, penekanan utama adalah sifat bermasalah pengalaman lintas-budaya. kebanyakan peneliti cenderung melihat pengalaman antarbudaya dari pendatang, terutama sebagai yang tidak diinginkan, membenarkan studi mereka sebagai upaya ilmiah untuk menemukan cara-cara untuk membantu kemudahan dalam keadaan sulit. Pandangan berbasis masalah adaptasi lintas budaya yang paling jelas dalam studi kejutan budaya yang berfokus hampir secara eksklusif pada reaksi frustasi pendatang, individu dengan lingkungan baru mereka (Anderson 1994)

Kita memang berharap dan diharapkan untuk berbeda. Tetapi, kita juga diharapkan untuk mampu menghormati dan menerima orang lain apa adanya. Kitapun bisa tanpa memaksa kepribadian-kepribadian kita belajar berkomunikasi dengan cara mengamati pola-pola dan tradisi mereka yang tidak tertulis. Kesadaran akan adanya kekeliruan dalam hubungan lintas budaya merupakan suatu langkah tepat dan besar, serta menerima fakta bahwa pendirian yang kita miliki tak selamanya benar dibandingkan pendirian orang lain merupakan langkah yang baik untuk beradaptasi. Hal ini di dukung oleh (Bastable 1999) yang menyatakan Terlepas dari keadaan pemindahan, semua pendatang baru dipaksa untuk melakukan

penyesuaian dengan cara kebiasaan mereka melaksanakan kegiatan hidup mereka. Mereka yang gagal untuk melakukannya mungkin harus kembali ke rumah sebelum waktunya atau menemukan diri mereka mengalami isolasi emosional dan sosial dari lingkungan baru. Kebanyakan orang, bagaimanapun, belajar untuk mendeteksi persamaan dan perbedaan antara lingkungan baru mereka dan budaya rumah mereka, membuat mereka menjadi semakin mahir dalam menangani situasi yang mereka hadapi. Setiap tantangan adaptif, pada gilirannya, menawarkan mereka kesempatan untuk tumbuh melampaui batas-batas budaya asli.

4.4.5 Refleksi Penelitian Tentang Komunikasi Lintas Budaya yang Terjadi Di Rumah Sakit

Porter (1982) dalam bukunya Intercultural Communication mengatakan, melalui pengalaman lintas budaya, kita menjadi lebih toleran dan terbuka untuk menerima dan menghadapi keganjilan-keganjilan budaya. Bila hal ini di dukung dengan study formal tentang konsep budaya, kita tidak hanya memperoleh pandangan-pandangan baru untuk memperibaiki hubungan-hubungan kita dengan orang lain, namun kita pun menjadi sadar dampak budaya asli kita pada diri kita sendiri.

Dampak positif dari memahami budaya baru yang kita temui yaitu untuk mengurangi gegar budaya (culture shock) dan meningkatkan pengalaman-pengalaman antarbudaya. Tentu saja kita harus sadar bahwa budaya dan perilaku itu relatif, dan karena itu kita harus lebih luwes dalam

interaksi dengan orang lain. Untuk memahami perbedaan-perbedaan budaya lebih efektif, dalam proses ini adalah meningkatkan kesadaran budaya seseorang secara umum, karena orang hanya memahami konsep budaya dan cirri-cirinya sebelum ia memperoleh manfaat dari studi tentang aspek-aspek budaya dan bahasa asing.

Dokumen terkait