peneliti terdahulu oleh Ling, Pysarchik, dan Choo pada tahun 2004 peneliti menggunakan responden masyarakat India dan berdasarkan hasil penelitian peneliti menemukan dimana tidak ada perbedaan yang signifikan dalam price consideration/price influence antara innovator dan non-innovator. Dalam variabel health concerns ditemukan hasil yang menyerupa antara innovator dan innovator. Hasil penelitian menemukan dimana innovator dan non-innovator lebih berkeinginan untuk mencoba produk baru saat dipromosikan dengan makanan gratis (sampler/tester), dan
menemukan dari penelitian yang menyimpulkan lebih mudah untuk mempromosikan produk baru kepada innovator dibandingkan kepada innovator, hal ini dapat terjadi karena bagi non-innovator teknik promosi tersebut tidak cukup atraktif atau hadiah yang ditawarkan kurang menarik. Dalam penelitian sebelumnya menemukan sikap dalam mencari informasi mengenai makanan melalui iklan innovator/early adopters lebih aktif dibandingkan dengan non-innovator, dan innovator lebih berperan dalam opinion leadership dan lebih memilih untuk membeli jenis produk yang berbeda-beda seperti merk dan rasa yang baru dibandingkan dengan non-innovator.
Tabel 4.18. Perbedaan Karakteristik Sikap innovator dan non-innovator
Variabel Hasil Peneliti Hasil Ling, Pysarchik, Choo
Opinion Leadership X √
Advertising Influence X √
Health Concerns √ X
Price Influence X X
Product Loyalty X √
Promotional Impact √ -
Taste Concerns √ -
Shopping Convenience √ -
Shopping Preference X -
Food Seeking √ -
Social Influence √ -
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui ada perbedaan dari kedua hasil penelitian, innovator pada penelitian ini dan penelitian Ling, Pysarchik, & Choo memiliki perbedaan dimana innovator India lebih berperan dalam beropini dibandingkan dengan innovator Surabaya. Innovator India cenderung India signifikan lebih aktif mencari informasi makanan dibandingkan non-innovator India, sedangkan innovator/non-innovator Surabaya cenderung mencari informasi, dimana kedua penelitan memiliki perbedaan dalam media yang digunakan untuk mencari informasi mengenai makanan.
Berdasarkan hasil penelitian, innovator/non-innovator India cenderung tidak memperhatikan kesehatan saat mengkonsumsi makanan dikarenakan cenderung makanan India mengandung banyak lemak, sedangkan innovator Surabaya cenderung memperhatikan tingkat kesegaran bahan makanan, dan hasil kedua penelitian memiliki kesamaan dalam hal price influence.
Innovator India memiliki keinginan untuk mencoba jenis/rasa makanan baru, sedangkan innovator/non-innovator Surabaya cenderung selalu membeli jenis/rasa makanan yang sama.
Berdasarkan tabel diatas ditemukan innovator India memiliki keinginan untuk mencoba jenis/rasa makanan yang baru dibanding non-innovator, sedangkan innovator/non-innovator Surabaya memiliki kecenderungan yang sama untuk tetap membeli jenis/rasa makanan yang sama.
Pada faktor price influence ditemukan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua hasil penelitian dimana innovator/non-innovator memperhatikan jumlah pengeluaran yang dilakukan untuk membeli makanan dan memperhatikan harga sebelum membeli makanan.
Dalam penelitian yang dilakukan Ling, Pysarchik, dan Choo hanya menggunakan 6 variabel diatas dalam pengolahan data dan menghapus 5variabel tersisa dikarena tidak memenuhi uji reabilitas, yang kemudian pembahasan akan dilanjutkan dengan perbandingan innovator dan non-innovator.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti Innovator memiliki pendapat yang berbeda terhadap taste concerns dimana innovator lebih mengutamakan rasa dibandingkan dengan harga dan merasa tidak mendapatkan keuntungan saat membeli makanan yang tidak enak meskipun mendapatkannya dengan harga yang murah, dan innovator/non-innovator memiliki kesamaan pada pendapat mengenai makanan harus memiliki penampilan yang menarik dan harus memiliki rasa yang enak,
innovator/non-innovator setuju akan pendapat ini dimana saat ini bisnis makanan mulai meningkat sehingga perusahaan tidak diminta hanya menjual makanan dengan rasa yang enak, akan tetapi juga berdasarkan dengan penampilan makanan tersebut harus menarik mata para responden.
Berdasarkan hasil uji data pada faktor shopping convenience konsumen Non-Innovator mayoritas tidak akan menghabiskan waktu untuk mencari makanan baru atau merasa lebih tidak nyaman saat mencoba sesuatu yang belum pernah dicoba, hal ini dapat terjadi karena berbagai macam faktor bisa jadi faktor keuangan responden, atau susahnya responden untuk mengganti merk yang sudah disukai responden sehingga tidak mau mencoba sesuatu yang baru, sangat berbeda dengan innovator yang berkeinginan untuk mencari makanan baru meskipun harus menghabiskan waktu dan tenaga dan merasa cukup nyaman untuk mencoba makanan baru tersebut dengan tujuan untuk menceritakan apa yang dirasakan responden saat mencoba makanan baru tersebut ke teman/keluarga responden.
Faktor shopping preference tidak memiliki perbedaan signifikan dimana innovator/non-innovator memiliki sikap yang tidak jauh berbeda mengenai kenyamanan konsumen dalam berbelanja dan ekspektasi terhadap pelayanan yang diterima oleh masyarakat, akan tetapi innovator memiliki keinginan untuk membeli makanan baru tidak hanya ditempat yang sama dimana innovator mau mendapatkan pengalaman dari pelayanan yang baru, suasana yang baru mungkin membuat konsumen merasa lebih nyaman dibandingkan berada dirumah.
Berdasarkan hasil uji data pada faktor food seeking terdapat perbedaan yang sangat signifikan, dimana innovator lebih sering untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dicoba/jarang disajikan direstoran dengan alasan rasa penasaran dan keingintahuan innovator terahadap makanan yang belum pernah dicoba konsumen
sebelumnya dimana hal ini didukung oleh Alshammari dan Kim, 2019 dimana keinginan untuk mencoba makanan berasal dari konsumen sendiri untuk memenuhi rasa ingin tau terhadap makanan baru.
Non-innovator lebih cenderung untuk membeli makanan yang sama/sudah pernah dicoba saat makan direstoran, akan tetapi innovator juga memiliki keinginan untuk membeli makanan yang tidak dikenal dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang mungkin tidak dapat dibayangkan oleh konsumen, sesuatu yang baru dimana konsumen belum pernah mengalaminya saat memakan sesuatu yang sudah sering dimakan.
Pada faktor social influence terdapat perbedaan signifikan dimana innovator lebih sering untuk mendengarkan pendapat dari teman, keluarga, dan mempertimbangkan keputusan untuk mencoba sesuatu bersama dengan teman-temannya dibandingkan dengan konsumen non-innovator. Innovator dan non-innovator sangat setuju akan mempertimbangkan pendapat, informasi, atau pengalaman dari teman/keluarga dimana saat itulah mayoritas masyarakat Surabaya dapat mengetahui gambaran mengenai makanan baru tersebut, pada penelitian ini mayoritas responden yang diwawancara oleh peneliti selalu menyebut satu hal yang sama dimana responden selalu bergantung pada pendapat dari teman/keluarga responden saat memutuskan untuk membeli makanan baru atau tidak dan menjadi alasan bagi responden setelah mengambil keputusan membeli atau tidak membeli.