HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Perbedaan Pengaruh Input Terhadap Output Antara Usahatani Cabai merah dan Cabai rawit
5.2.1 Perbedaan Pengaruh Input (Bibit, Pestisida dan Pupuk) Terhadap Output Usahatani Cabai Rawit
Sebelum melakukan analisis regresi, terlebih dahulu dilakukan uji asumsi klasik yang harus dipenuhi, yaitu:
Uji Normalitas
Uji normalitas dapat dilihat dari grafik scatterplot hasil pengolahan dengan SPSS seperti berikut:
51
Gambar 5.3. Grafik Normal Plot Jumlah Produksi Cabai Rawit
Berdasarkan tampilan grafik normal plot diatas terlihat bahwa titik menyebar dekat di sekitar garis diagonal serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal. Ini menunjukkan bahwa model persamaan layak dipakai karena telah memenuhi asumsi normalitas.
Uji Multikolinearitas
Uji multikolineraritas dapat dilihat dari nilai Tolerance dan VIF masing-masing variabel seperti berikut ini:
Tabel 5.13. Nilai Tolerance dan VIF Produksi Cabai Rawit
Variabel Tolerance VIF
Bibit 0.116 8.609
Pupuk 0.300 3.334
Pestisida 0.109 9.180
Sumber: Analisis data primer dari lampiran 19
Gejala multikolinearitas tidak terjadi jika nilai VIF < 10 dan nilai Tolerance ˃ 0,1. Berdasarkan tabel 5.13 diatas, dapat dilihat variabel bibit, pupuk, dan pestisida
masing nilai VIF-nya sebesar 8.609; 3.334; 9.180 < 10. Sedangkan masing-masing nilai Tolerance-nya sebesar 0.116; 0.300; 0.109> 0,1. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas di dalam model persamaan ini.
Uji Heterokedastisitas
Uji heterokedastisitas dapat dilihat dari grafik scatterplot hasil pengolahan dengan SPSS berikut ini:
Gambar 5.4. Scatterplot Uji Heterokedastisitas Jumlah Produksi Cabai Rawit
Dari grafik scatterplot diatas dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala heterokedastisitas dikarenakan pada grafik terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak tidak membentuk sebuah pola tertentu yang jelas serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka nol pada sumbu Y.
53
Dengan menggunakan persamaan linear berganda, dibentuk fungsi persamaan produksi cabai petani cabai rawit. Variabel-variabel yang dianggap berpengaruh terhadap produksi cabai petani cabai rawit adalah : bibit, pestisida dan pupuk.
Tabel5.14Pengaruh Input Terhadap Output Dalam Usahatani Cabai Rawit
Variabel Koefisien t Hitung Signifikan
Konstanta 55.727 0.326 0.747 Bibit(X1) -1.895 -0.199 0.844 Pupuk (X2) 0.377 1.342 0.190 Pestisida(X3) 0.910 5.674 0.000 R2= 0.924 F Hitung = 116.851 Signifikansi Uji F = 0.000 F Tabel = 2.89 T tabel = 2.035
Sumber :Analisis Data Primer Lampiran
Dari tabel 5.14 diatas diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: Y = 55.727 – 1.895X1+ 0.377X2+ 0.910X3
Keterangan:
Y = Jumlah produksi Cabai Rawit (Kg) X1 = Jumlah bibit (batang)
X2 = Jumlah Pupuk (Kg) X3= Jumlah Pestisida (ml) Koefisien Determinasi (R2)
Dari tabel 5.14 diperoleh nilai R2 sebesar 0.924 yang berarti bahwa produksi cabai petani cabai rawit 92.4% dipengaruhi oleh faktor bibit, pupuk, dan pestisida yang digunakan dalam usahataninya. Sedangkan 7.6 % sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar model.
Uji F (Uji Serempak)
Dari hasil analisis regresi linier berganda diperoleh bahwa nilai F hitung sebesar 116.851 dengan tingkat signifikansi sebesar 0.000. Sedangkan nilai F tabel sebesar 2.89 pada tingkat signifikansi sebesar 5% . Dengan demikian F hitung ≥ F tabel dan sig. F 0.000 ≤ 0.05 , maka Ho ditolak dan H1 diterima yang artinya faktor bibit, pupuk, dan pestisida secara serempak berpengaruh nyata terhadap produksi cabai petani cabai rawit di D esa Hinalang.
Uji t (Uji Parsial)
Dari tabel 5.16 dapat diinterpretasikan pengaruh variabel luas lahan, jumlah bibit, jumlah pupuk, jumlah tenaga kerja dan jumlah pestisida terhadap produksi cabai petani cabai rawit sebagai berikut:
a. Bibit (X1)
Bibit cabai yang digunakan petani cabai rawit di daerah penelitian diproduksi secara tradisional oleh petani, yaitu dengan memanfaatkan cabai rawit yang sudah merah (matang) kemudian direndam sehingga bijinya terpisah dari kulitnya, setelah itu biji tersebut dijemur untuk disemai apabila biji cabai rawit tersebut sudah kering. Setelah layak dari segi umur dan kondisi fisik barulah dipindahkan ke lahan. Rata- rata penggunaan bibit cabai oleh petani cabai rawit di daerah penelitian adalah ±1000 batang/rante.
Koefisien regresi bibit sebesar -1.895 dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang berbanding tebalik (negatif) antara jumlah bibit dengan produksi cabai petani cabai merah. Jika jumlah bibit ditambah sebesar 1 batang, maka produksi cabai petani cabai merah menurun sebesar 1.895 Kg per tahun.
55
Nilai t hitung variabel bibit yang diperoleh adalah -0.199 dan nilai t tabel sebesar 2.035 maka t hitung < t tabel dan tingkat signifikansi t hitung sebesar 0.844 maka sig. t 0.844 > 0.05 , sehingga dapat disimpulkan Ho diterima dan H1 ditolak yang artinya jumlah bibit secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produksi cabai petani cabai rawit di Desa Hinalang.
b. Pupuk (X2)
Pada umumnya pemberian pupuk sangat tergantung kepada jumlah bibit yang ditanam oleh petani. Selama 1 kali masa tanam, petani cabai rawit di daerah penelitian melakukan pemupukan dasar sebanyak 1 kali dan pemupuan susulan sebanyak 2 kali dengan komposisi sebagai berikut : pemupukan 1 dan 2 jumlah pupuknya seimbang, sedangkan pemupukan yang ketiga jumlah pupuknya setengah dari jumlah pupuk pada pemupukan ke 3. Pemupukan pada cabai rawit juga memanfaatkan pupuk kandang, tidak hanya pupuk kimia.
Koefisien regresi pupuk sebesar 0.377 dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang berbanding lurus (positif) antara jumlah pupuk dengan produksi cabai petani cabai rawit. Jika jumlah pupuk ditambah sebesar 1 Kg, maka produksi cabai petani cabai rawit meningkat sebesar 0,377 Kg per tahun.
Nilai t hitung variabel pupuk yang diperoleh adalah 1.342 dan nilai t tabel 2.89 sebesar maka t hitung > t tabel dan tingkat signifikansi t hitung sebesar 0,190 maka sig. t (0,190) > 0,05, sehingga dapat disimpulkan H0 diterima dan H1 ditolak yang artinya jumlah pupuk secara parsial tidak berpengaruh nyata terhadap produksi cabai petani cabai rawit di Desa Hinalang.
c. Pestisida(X3)
Pemakaian pestisida dalam usahatani cabai rawit sangatlah penting. Dari awal penanaman hingga masa panen cabai rawit harus disemprot dengan pestisida sebanyak 1 kali seminggu, kemudian disemprot lagi setiap kali habis dipanenyaitu 1 kali 2 minggu. Penyemprotan pestisida berguna untuk menjaga kualitas produksi dan juga meningkatkan jumlah produksi.
Koefisien regresi pestisida sebesar 0.910 dapat diartikan bahwa terdapat hubungan yang berbanding lurus (positif) antara jumlah pestisida dengan produksi cabai petani cabai rawit. Jika jumlah pestisida ditambah sebesar 1 ml, maka produksi cabai petani cabai rawit meningkat sebesar 0.91 Kg per tahun.
Nilai t hitung variabel pestisida yang diperoleh adalah 5.674 dan nilai ttabel sebesar 2,035 maka t hitung > ttabel dan tingkat signifikansi t hitung sebesar 0,000 maka sig. t (0,000) < 0,05, sehingga dapat disimpulkan H1 diterima dan H0 ditolak yang artinya jumlah pestisida secara parsial berpengaruh nyata terhadap produksi cabai petani cabai rawit di Desa Hinalang.
Output usahatani cabai merah sebanyak 97.6 % dipengaruhi oleh faktor input (bibit, pupuk dan pestisida) sedangkan 2.4 % sisanya dipengaruhi oleh faktor lain diluar model. Output usahatani cabai rawit sebanyak 92.4 % dipengaruhi oleh faktor input (bibit, pupuk dan pestisida) sedangkan 7.6 % sisanya dipengaruhi oleh faktor lain diluar model. Dengan demikian ada perbedaan pengaruh input (bibit, pupuk dan pestisida) terhadap produksi cabai merah dan cabai rawit, dimana Pengaruh input (bibit, pupuk dan pestisida) terhadap output usahatani cabai merah lebih besar dibanding dengan pengaruh input (bibit, pupuk dan pestisida) terhadap output usahatani cabai rawit di daerah penelitian.