• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONSEP UANG ELEKTRONIK ( ELECTRONIC MONEY )

D. Perbedaan Uang Elektronik dengan Alat Pembayaran

Alat pembayaran menggunakan kartu yang ada di Indonesia adalah

sebagai berikut :

1. Kartu Kredit

Kartu kredit adalah instrumen pembayaran elektronik yang berbentuk

kartu yang dapat dipergunakan sebagai alat pembayaran transaksi pembelian

15

Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang elektronik,, Pasal 1 ayat 12

16

Penjelasan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang elektronik, Pasal 17 ayat 3 huruf b

17

barang dan jasa, yang pembayaran dan pelunasannya dapat dilakukan oleh

pembeli secara sekaligus atau angsuran pada jangka waktu tertentu setelah

kartu digunakan sebagai alat pembayaran. Kartu kredit juga dapat

digunakan untuk melakukan penarikan tunai baik langsung melalui teller pada kantor bank yang bersangkutan maupun melalui ATM.18

2. Charge Card

Charge card adalah suatu alat berbentuk kartu yang diterbitkan oleh suatu lembaga keuangan yang digunakan sebagai alat pembayaran transaksi

pembelian barang dan jasa yang pembayaran pelunasannya harus dilakukan

oleh pembeli secara sekaligus dalam jangka waktu tertentu kartu digunakan.19

3. Kartu Debet

Kartu debet merupakan kartu yang diterbitkan oleh lembaga keuangan

yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran transaksi pembelian barang

dan jasa dengan cara mendebit atau mengurangi saldo rekening simpanan

pemilik kartu serta pada saat yang sama, mengkredit saldo rekening penjual

sebesar nilai transaksi jual beli barang dan jasa. Pada kartu debet, pemegang

kartu harus memiliki rekening pada bank. Transaksi hanya dapat dilakukan

apabila pemegang kartu memiliki saldo yang mencukupi pada rekeningnya

untuk menutup biaya transaksinya.20

18

Prof. Dr. H. Veithal Rivai, M.B.A, dkk, Bank and Financial Institution Management, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 1363

19

Ibid, hal. 1363

20

4. Kartu ATM

Kartu ATM dapat melayani kebutuhan nasabah secara otomatis setiap saat melalui mesin ATM. Pelayanan yang diberikan ATM antara lain penarikan uang tunai, mengecek dan mencetak saldo rekening nasabah, dan

pelayanan pembayaran lainnya, seperti pembayaran listrik, telepon, kartu

kredit, transfer uang, dan lain-lain.21 Pada beberapa bank penerbit kartu ATM

terdapat kombinasi fungsi antara kartu debet dan kartu ATM dalam satu kartu sekaligus.22

Uang elektronik memiliki karakteristik yang berbeda dengan alat

pembayaran menggunakan kartu lainnya seperti credit card, charge card, dan debit card/ATM tersebut di atas. Secara umum perbedaan antara uang elektronik dengan alat pembayaran menggunakan kartu lainnyaadalah sebagai berikut:23

No Uang elektronik Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) Lainnya

1 Nilai uang tercatat dalam instrumen media uang elektronik

Tidak ada pencatatan nilai uang pada instrumen kartu

2 Dana sepenuhnya berada dalam penguasaan pemegang

Dana sepenuhnya berada dalam penguasaan bank

3 Transaksi pembayaran dilakukan

secara off-line ke penerbit

Transaksi pembayaran dilakukan secara on-line ke penerbit

21 Ibid, hal. 164 22 Ibid, hal. 164 23

BAB III

IMPLEMENTASI UANG ELEKTRONIK (ELECTRONIC MONEY)

A. Penyelenggara Uang Elektronik

1. Lembaga Penyelenggara Uang Elektronik

Penyelenggaraan uang elektronik dapat dilakukan oleh Bank dan

Lembaga Selain Bank.1

a. Bank

Bank adalah Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992

tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang

nomor 10 tahun 1998, termasuk kantor cabang bank asing di Indonesia

dan Bank Umum Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang nomor 21 tahun 2008

tentang Perbankan Syariah.2

b. Lembaga Selain Bank

Lembaga Selain Bank adalah badan usaha bukan bank yang

melakukan kegiatan sebagai penyelenggara uang elektronik yang

beroperasi di wilayah Republik Indonesia dengan berbadan hukum dalam

1

Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 1 ayat 5,6,7,13, dan 14, Pasal 2 ayat 1, Pasal 8 ayat 1, Pasal 5 ayat 1, dan Pasal 6 ayat 1

2

bentuk Perseroan Terbatas dan didirikan berdasarkan hukum Indonesia3,

seperti perusahaan penyedia jasa telekomunikasi (operator seluler) yang

menerbitkan uang elektronik dalam bentuk pulsa.

2. Bentuk Penyelenggara Uang Elektronik

a. Prinsipal

Prinsipal adalah pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan

sistim dan/atau jaringan antar anggotanya, baik yang berperan sebagai

penerbit dan/atau acquirerdalam transaksi uang elektronik.4

b. Penerbit

Penerbit adalah pihak yang menerbitkan uang elektronik5. Dari

sudut kebijakan bank sentral, penerbit merupakan institusi yang

memegang peranan penting, karena merupakan pihak yang mengelola

float dana atas uang elektronik yang diterbitkannya6. c. Acquirer

Acquirer adalah pihak yang melakukan kerja sama dengan

pedagang, yang dapat memproses data uang elektronik yang diterbitkan

oleh pihak lain dan menampung penerimaan dana atas nilai uang

elektronikyang ditukarkan (redeem) oleh pedagangkepada penerbit7.

3

Ibid, Pasal 1 ayat 2 dan Pasal 10

4

Ibid, Pasal 1 ayat 5

5

Ibid, Pasal 1 ayat 6

6

Siti Hidayati, dkk, Operasional E-Money, (Jakarta: BI, 2006), hal. 23

7

Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/11/DASP, Perihal Uang Elektronik, tertanggal 13 April 2009, hal. 28

d. Penyelenggara Kliring

Penyelenggara kliring adalah pihak yang melakukan perhitungan

hak dan kewajiban keuangan masing-masing penerbit dan/atau acquirer

dalam rangka transaksi uang elektronik.8

e. Penyelenggara Penyelesaian Akhir

Penyelenggara penyelesaian akhir adalah pihak yang melakukan

dan bertanggungjawab terhadap penyelesaian akhir atas hak dan

kewajiban keuangan masing-masing penerbit dan/atau acquirer dalam

rangka transaksi uang elektronik berdasarkan hasil perhitungan dari

penyelenggara kliring.9

f. Agen Penerbit

Penerbit dapat bekerjasama dengan pedagang dan/atau pihak lain

sebagai agen penerbit, baik dalam hal penerbitan maupun fasilitas yang

melekat pada uang elektronik, seperti isi ulang, tarik tunai dan transfer

antar uang elektronik. Dalam hal agen penerbit tersebut memberikan jasa

layanan kepada pemegang untuk tarik tunai dalam rangka transfer dana,

maka agen penerbit tersebut wajib memperoleh izin sebagai

penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang sesuai dengan ketentuan

yang berlaku.10

8

Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 1 ayat 13

9

Ibid, Pasal 1 ayat 14

10

B. Prosedur Penyelenggaraan Uang Elektronik

1. Prosedur Penerbitan Uang Elektronik

Proses penerbitan dan pengisian ulang uang elektronik dilakukan baik

melalui penerbit secara langsung maupun melalui agen penerbit dengan cara

menyetorkan uang baik secara tunai (cash) maupun melalui transfer rekening dengan menggunakan satuan mata uang Rupiah.11

Jumlah uang elektronik yang diterbitkan harus sesuai dengan jumlah

nilai uang yang disetorkan berdasarkan ketentuan dan batas maksimal

penerbitan uang elektronik dan batas maksimal total nilai transaksi uang

elektronik dalam periode tertentu12.

2. Redeem

Refund adalah penukaran kembali nilai uang elektronik kepada penerbit baik yang dilakukan oleh pemegang pada saat nilai uang elekronik

tidak terpakai atau masih tersisa pada saat pemegang mengakhiri penggunaan

uang elektronik dan atau masa berlaku media uang elektronik telah berakhir13,

maupun yang dilakukan oleh pedagang pada saat penukaran nilai uang

elektronik yang diterima oleh pedagang dari pemegang kepada penerbit.14

11

Ibid, Pasal 20 ayat 1 dan 2

12

Ibid, Pasal 14 ayat 1

13

Siti Hidayati, dkk, Operasional E-Money, (Jakarta: BI, 2006), hal. 11. Lihat juga Penjelasan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 17 ayat 3 huruf b

14

Redeemability merupakan kewajiban penerbit yang dimaksudkan sebagai bentuk jaminan atau kepastian bagi pemilik nilai uang elektronik, baik

pemegang maupun pedagang bahwa mereka setiap saat dapat menukarkan

(redeem) nilai uang elektronik tersebut ke dalam bentuk nilai uang baik berupa uang tunai (cash) maupun melalui transfer ke rekening yang bersangkutan. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat atas

instrumen pembayaran uang elektronik. Kepastian ini juga merupakan salah

satu aspek perlindungan kepada konsumen.15

1) Mekanisme Pencairan bagiPemegang

Pemenuhan hak tagih oleh penerbit atas redeem yang dilakukan oleh pemegang dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan

mentransfer sisa nilai uang elektronik tersebut ke rekening pemegang atau

memindahkannya ke dalam media uang elektronik yang baru.

2) Mekanisme Pencairan bagi Pedagang

Hasil transaksi pedagang dengan pemegang hanya dapat ditarik

oleh pedagang melalui rekening pedagang yang tercatat pada bank.

Rekening yang tercatat pada bank milik pedagang digunakan sebagai

sarana untuk menampung pembayaran dari penerbit atau acquirer setelah

dilakukannya transaksi antara pemegang dan pedagang.16

15

Ibid, hal. 33

16

Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/11/DASP, Perihal Uang Elektronik, tertanggal 13 April 2009, hal. 28

3. Ketentuan Nilai Uang Elektronik

Nilai uang elektronik adalah nilai uang yang disimpan secara

elektronik pada suatu media yang dapat dipindahkan untuk kepentingan

transaksi pembayaran dan/atau transfer dana.17

Nilai uang yang disetorkan terlebih dahulu oleh pemegang kepada

penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam

Undang-Undang tentang Perbankan dan Undang-Undang-Undang-Undang tentang Perbankan Syariah.

Dengan demikian, karena tidak termasuk simpanan maka uang elektronik

yang dimiliki oleh pemegang tidak termasuk yang dijamin oleh Lembaga

Penjamin Simpanan (LPS) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang

tentang Lembaga Penjamin Simpanan.18

4. Batasan Nilai Uang

Batas paling banyak nilai uang elektronik yang disimpan pada media

elektronik adalah sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta Rupiah) untuk yang

berjenis unregistered dan sebesar Rp. 5.000.000,00 (lima juta Rupiah) untuk yang berjenis registered, serta batas paling banyak total nilai transaksi uang elektronik dalam periode tertentu adalah sebesar Rp. 20.000.000,00 (dua

puluh juta Rupiah).

Pembatasan nilai uang elektronik dan total nilai transaksi dimaksudkan

juga karena uang elektronik pada prinsipnya digunakan untuk pembayaran

17

Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 1 ayat 4

18

Penjelasan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, hal. 3

yang bersifat ritail dan untuk mencegah penyalahgunaan uang elektronik

seperti untuk tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme.19

5. Pengelolaan Dana Float

Dana float adalah seluruh nilai uang elektronik yang diterima penerbit atas hasil penerbitan uang elektronik dan/atau pengisian ulang yang masih

merupakan kewajiban penerbit kepada pemegang dan pedagang20. Kewajiban

kepada pemegang antara lain berupa pengembalian seluruh nilai uang

elektronik yang tersisa pada media uang elektronik pada saat pemegang

mengakhiri penggunaan uang elektronik dan kewajiban kepada pedagang

adalah pemenuhan hak tagih pedagang pada saat pedagang menukarkan nilai

uang elektronik kepada penerbit atas transaksi pembayaran dari pemegang

kepada pedagang (redeem).21

Penerbit harus menempatkan dana float dalam bentuk aset yang aman dan likuid serta menggunakannya hanya untuk memenuhi kewajiban kepada

pedagang dan pemegang secara tepat waktu22, dan dana float tidak dapat digunakan untuk membiayai kegiatan operasional penerbit dan kegiatan di

luar kewajiban kepada pemegang dan pedagang23. Apabila penerbit adalah

Lembaga Selain Bank, maka sebesar 100% dari dana float yang diperoleh dari

19

Peraturan Bank Indonesia No. 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 14 ayat 1

20

Ibid, Pasal 1 ayat 6

21

Penjelasan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, hal. 13

22

Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 17 ayat 3 huruf a,b, dan c

23

Penjelasan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, hal. 32

hasil penjualan uang elektronik yang masih merupakan kewajiban penerbit

kepada pemegang dan pedagang wajib ditempatkan pada Bank Umum dalam

bentuk rekening simpanan berupa tabungan, giro, dan/atau deposito.24

6. Masa BerlakuMedia Uang Elektronik

Penerbit dapat menetapkan masa berlaku media uang elektronik untuk

jangka waktu tertentu antara lain dengan pertimbangan adanya batas usia

teknis dari media uang elektronik yang digunakan, sehingga harus

diperbaharui dengan penggantian media penyimpan uang elektronik yang

baru.

Mengingat dalam penggantian media penyimpan tersebut terdapat

kemungkinan masih tersimpan nilai uang elektronik dari pemegang, maka

penerbit dilarang untuk menghapus atau menghilangkan nilai uang elektronik

yang masih tersisa dan merupakan kewajiban penerbit atau masih merupakan

milik pemegang.25

Dengan demikian pemegang masih memiliki hak tagih atas sisa nilai

uang elektronik yang terdapat dalam media tersebut sampai dengan jangka

waktu sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,

sepanjang masih terdapat sisa nilai uang elektronik pada media tersebut.26

24

Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/11/DASP, Perihal Uang Elektronik, tertanggal 13 April 2009, hal. 32

25

Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 15. Lihat juga penjelasannya

26

Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/11/DASP, Perihal Uang Elektronik, tertanggal 13 April 2009, hal. 35 – 36

C. Mekanisme dan Alur Transaksi pada Uang Elektronik

Pegembangan uang elektronik di berbagai negara sangat bervariasi

tergantung pada kerangka pengaturan dan kebijakan moneter yang diatur di

negara masing-masing27. Dari penyelenggara kegiatan uang elektronik yang

diatur dalam Peraturan Bank Indonesia nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang

Elektronik, mekanisme dan alur transaksi uang elektronik dapat digambarkan

sebagai berikut:28

[ 1 ] Jaringan Prinsipal

Acquirer Y Acquirer X

Pemegang Pemegang Pedagang X Pedagang Y

7 4 4 4 4 Penerbit A Penerbit B 5 6 5 Penyelenggara Kliring dan Penyelenggara Penyelesaian Akhir

2 3 2 3 4 27

Bank Indonesia, Paper Kajian Mengenai E-Money, (Jakarta: Bank Indonesia, 2001), hal. 25

28

Penjelasan :

1. Prinsipal bertanggungjawab mengelola sistim dan/atau jaringan untuk

penyelenggaraan kegiatan uang elektronik dalam rangka bekerjasama dengan

penerbit dan acquirer;29

2. Pemegang melakukan pembelian dan/atau pengisian ulang uang elektronik

dengan sejumlah nilai tertentu;

3. Penerbit memberikan nilai uang elektronik yang disimpan di media uang

elektronik milik pemegang sebesar nilai uang yang disetorkan oleh pemegang;

4. Pemegang uang elektronik melakukan transaksi pembayaran kepada

pedagang. Atas transaksi tersebut, nilai uang elektronik akan berpindah dari

media uang elektronik milik pemegang ke media/terminal penampungan milik

pedagang melalui peralatan tertentu;

5. Pedagang kemudian dalam periode tertentu melakukan penukaran atas nilai

uang elektronik yang diperoleh dari pemegang kepada penerbit untuk

ditukarkan dengan nilai uang tunai (cash);

6. Penyelenggara kliring melakukan perhitungan hak dan kewajiban keuangan

masing-masing penerbit dan pedagang dalam transaksi uang elektronik,

setelah hak dan kewajiban masing-masing penerbit dan pedagang dihitung

oleh penyelenggara kliring kemudian penyelenggara penyelesaian akhir

bertanggungjawab untuk melakukan penyelesaian akhir (sattelment) atas hak

29

dan kewajiban keuangan masing-masing penerbit dan pedagang berdasarkan

hasil perhitungan dari penyelenggara kliring;30

Bank Penerbit Uang Elektronik

(3) Barang

(3) Nilai Uang Elektronik

Pedagang Pemegang Rekening Pemegang Rekening penampungan dana float Rekening Pedagang 2 1 2 3 5

7. Pemenuhan hak tagih pedagang kemudian diproses oleh acquirer sebagai

pihak yang bekerjasama dengan pedagang untuk menampung penerimaan

dana atas nilai uang elektronik yang ditukarkan (redeem) oleh pedagang kepada penerbit.

Dalam hal terdapat satu penerbit (single issuer), di mana selain sebagai penerbit, bank juga bertindak sebagai acquirer, maka tidak diperlukan mekanisme

kliring31, dan alur transaksi uang elektronik secara sederhana dapat digambarkan

sebagai berikut:

4

30

Ibid, Pasal 1 ayat 13 dan 14

31

Penjelasan :

1. Pemegang melakukan pembelian dan/atau pengisian ulang uang elektronik

dengan sejumlah nilai tertentu dengan menginstruksikan bank untuk mendebit

rekeningnya atas pembelian uang elektronik tersebut. Pemegang dapat juga

melakukan pembelian uang elektronik dengan uang tunai;

2. Atas dasar instruksi tersebut, bank kemudian mendebit rekening pemegang

dan meng-kredit rekening penampungan dana float dan bersamaan dengan itu bank memasukan nilai uang elektronik ke dalam media uang elektronik untuk

diserahkan kepada pemegang;

3. Pemegang uang elektronik kemudian melakukan transaksi pembayaran atas

barang dengan pedagang dengan menggunakan uang elektronik miliknya.

Atas transaksi tersebut, nilai uang elektronik akan berpindah dari media uang

elektronik milik pemegang ke media/terminal penampungan milik pedagang

melalui peralatan tertentu;

4. Pedagang kemudian dalam periode yang telah ditentukan melakukan

penukaran atas nilai uang elektronik yang diperoleh dari pemegang kepada

penerbit untuk ditukarkan dengan nilai uang tunai (cash);

5. Atas penyetoran tersebut bank kemudian melakukan verifikasi, kemudian

mengkredit rekening pedagang dan mendebit rekening penampungan dana

BAB IV

ANALISIS IMPLEMENTASI UANG ELEKTRONIK

PADA PERBANKAN SYARIAH

A. Analisis Akad Syariah pada Uang Elektronik

Penerbitan uang elektronik pada perbankan syariah akan meningkatkan

minat nasabah/konsumen untuk menggunakan jasa Syariah. Kondisi demikian

mendorong adanya satu bentuk tertentu dalam mekanisme transaksi uang

elektronik yang sesuai dengan prinsip-prinsip Syariah.

1. Implementasi Uang Elektronik dalam Tinjauan Akad Syariah

Uang elektronik merupakan alat pembayaran yang diterbitkan atas

dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu oleh pemegang kepada penerbit,

kemudian nilai uang tersebut disimpan secara elektronik dalam suatu media

uang elektronik yang digunakan sebagai alat pembayaran oleh pemegang

kepada pedagang1.

Uang elektronik pada dasarnya sama seperti uang karena memiliki

fungsi sebagai alat pembayaran atas transaksi jual beli barang2. Uang

elektronik tersebut dipersamakan dengan uang karena pada saat pemegang

menggunakannya sebagai alat pembayaran kepada pedagang, bagi pedagang

1

Bank of International Settelments, Implications for Central Banks of theDevelopment of Electronic Money, (Basle: BIS, 1996), hal. 1

2

Penjelasan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, hal. 2

tersebut nilai uang elektronik yang berpindah dari media uang elektronik yang

dimiliki oleh pemegang ke terminal penampungan nilai uang elektronik milik

pedagang, apapun satuan nilai dalam media uang elektronik tersebut, pada

dasarnya berupa nilai uang yang pada waktunya akan ditukarkan kepada

penerbit dalam bentuk uang tunai (cash)3.

Dengan dipersamakannya uang elektronik dengan uang, maka

pertukaran antara nilai uang tunai (cash) dengan nilai uang elektronik merupakan pertukaran atau jual beli mata uang sejenis yang dalam literatur

Fikih Muamalatdikenal dengan Al-Sharf, yaitu tukar-menukar atau jual beli mata uang.4 Tukar-menukar atau jual beli uang (Sharf) dalam transaksi uang elektronik dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain :

a. Mekanisme Transaksi

Pada saat penerbitan dan pengisian ulang dilakukan dengan cara

pemegang menyetorkan terlebih dahulu sejumlah uang kepada penerbit,

baik secara langsung maupun melalui agen-agen penerbit, atau dengan

pendebitan rekening di bank, nilai uang yang dibayarkan tersebut

dimasukan menjadi nilai uang elektronik dalam media uang elektronik

yang dinyatakan dalam satuan Rupiah.5

3

Prof. Dr. H. Veithal Rivai, M.B.A, dkk, Bank and Financial Institution Management, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 1361

4

Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, SH., Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia, (Jakarta: PT. Pustaka Utama Grafiti, 2005), cet. II, hal. 90

5

Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 20 Ayat 1 dan 2

Pada saat uang elektronik digunakan untuk melakukan transaksi

pembayaran kepada pedagang dilakukan secara off-line dengan penerbit6. Transaksi pembayaran tersebut dilakukan dengan cara mengurangi secara

langsung nilai uang pada media uang elektronik7.

b. Posisi Dana Float

Dana float adalah seluruh nilai uang elektronik yang diterima penerbit atas hasil penerbitan uang elektronik dan/atau pengisian ulang

yang masih merupakan kewajiban penerbit kepada pemegang dan

pedagang8. Kewajiban penerbit tersebut merupakan redeemability yang dimaksudkan sebagai bentuk jaminan atau kepastian bagi pemilik nilai

uang elektronik, baik pemegang maupun pedagang bahwa mereka setiap

saat dapat menukarkan (redeem atau refund) nilai uang elektronik tersebut ke dalam bentuk nilai uang baik berupa uang tunai (cash) maupun melalui transfer ke rekening yang bersangkutan9.

Dana float yang disetorkan pemegang kepada penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang

mengenai Perbankan10. Dana float dapat dikelola oleh pihak penerbit untuk ditempatkan atau diinvestasikan dalam bentuk deposito atau lainnya

6

Siti Hidayati, dkk, Operasional E-Money, Jakarta: BI, 2006, hal. 4

7

Prof. Dr. H. Veithal Rivai, M.B.A, dkk, Bank and Financial Institution Management, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hal. 1367

8

Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 1 Ayat 11

9

Siti Hidayati, dkk, Operasional E-Money, Jakarta: BI, 2006, hal. 33

10

Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009, tentang Uang Elektronik, Pasal 1 Ayat 3 Huruf d

dengan syarat aman dan likuid11. Pendapatan atas investasi yang diperoleh

dari outstanding dana float yang terhimpun sepenuhnya menjadi hak penerbit sebagai keuntungan dari penerbitan uang elektronik12.

c. Posisi Nilai Uang Elektronik

Nilai uang elektronik yang disimpan dalam media uang elektronik

sepenuhnya berada dalam penguasaan pemegang. Pada saat transaksi,

perpindahan nilai uang elektronik dari pemegang kepada pedagang dapat

dilakukan secara off-line dan verifikasi cukup dilakukan pada level pedagang, berbeda dengan alat pembayaran elektronik lainnya yang harus

on-line ke komputer penerbit, sehingga dana sepenuhnya berada dalam penguasaan bank sepanjang belum ada otorisasi dari nasabah untuk

melakukan pembayaran. 13

d. Redeemability

Redeemability merupakan jaminan yang diberikan pihak penerbit atas uang elektronik yang diterbitkannya, bahwa uang elektronik tersebut

dapat ditukarkan kembali dengan uang tunai (cash) sewaktu-waktu pemegang dan pedagang ingin menukarkannya kembali14.

Hal tersebut berbeda dalam penyelenggaraan kartu kredit, dimana

jaminan pihak penerbit diberikan kepada pemegang kartu kredit terhadap

11

Ibid, Pasal 17 Ayat 3 Huruf a

12

Bank Indonesia, Paper Kajian mengenai E-Money, (Jakarta: BI, 2001), hal. 9

13

Siti Hidayati, dkk, Operasional E-Money, (Jakarta: BI, 2006), hal. 4

14

pedagang atas semua kewajiban bayar (dayn) yang timbul dari transaksi antara pemegang kartu kredit dengan pedagang15.

2. Akad Sharf dalam Kajian Fikih Muamalat a. Pengertian Sharf

Menurut pengertian bahasa, Sharf berarti menjual uang dengan uang lainnya atau tukar-menukar uang yang dalam bahasa Inggris disebut

dengan money changer16. Menurut istilah Syara’ Sharf adalah jual beli satu mata uang dengan mata uang yang lain baik mata uang tersebut satu

jenis atau berlainan jenis17.

b. Dasar Hukum Sharf

Dalam kajian Fikih Muamalat, jual beli mata uang (Sharf) termasuk ke dalam bab jual beli yang didasarkan pada firman Allah SWT :

Dokumen terkait