nasional harus dijamin ketersediaan dan
keterjangkauannya, sehingga penetapan
harganya dikendalikan oleh pemerintah.
Setiap orang berhak menerima atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan yang akan diberikan kepadanya setelah
menerima dan memahami informasi
mengenai tindakan tersebut secara lengkap. Hak menerima atau menolak tidak berlaku pada penderita penyakit yang penyakitnya dapat secara cepat menular ke masyarakat yang lebih luas.
Setiap orang berhak atas rahasia kondisi kesehatan pribadinya yang telah
dikemukakan kepada penyelenggara / petugas kesehatan.
Pelayanan kesehatan tradisional meliputi kesehatan tradisional yang menggunakan
ketrampilan dan yang menggunakan ramuan. Pelayanan kesehatan tradisional dibina dan diawasi oleh pemerintah agar dapat
dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya serta tidak bertentangan dengan norma-norma agama.
Setiap orang yang melakukan pelayanan kesehatan tradisional harus mendapat izin dari lembaga kesehatan yang berwenang. Pemerintah mengatur dan mengawasi
pelayanan kesehatan tradisional dengan
didasarkan pada keamanan, kepentingan, dan perlindungan masyarakat..
Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit merupakan segala bentuk upaya
yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat untuk
mengoptimalkan kesehatan dan menghindari atau mengurangi resiko, masalah, dan
Kesehatan reproduksi meliputi saat sebelum hamil, hamil, melahirkan dan sesudah
melahirkan; pengaturan kehamilan, alat kontrasepsi, dan kesehatan seksual;
Setiap orang dilarang melakukan aborsi. Larangan aborsi dikecualikan berdasarkan indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang
mengancam ibu dan/atau janin, yang
menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat
diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau kehamilan akibat perkosaan yang dapat
menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
Tindakan dapat dilakukan setelah melalui
konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
Pelayanan darah merupakan upaya pelayanan kesehatan yang memanfaatkan darah manusia sebagai bahan dasar dengan tujuan
kemanusiaan dan tidak untuk tujuan komersial.
darah diperoleh dari pendonor darah sukarela yang sehat dan memenuhi kriteria seleksi
pendonor dengan mengutamakan kesehatan pendonor.
Darah yang diperoleh dari pendonor darah sukarela sebelum digunakan harus dilakukan pemeriksaan laboratorium guna mencegah penularan penyakit.
Penyelenggaraan donor darah dilakukan oleh Unit Transfusi Darah (UTD). UTD dapat
diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau organisasi sosial yang tugas pokok dan fungsinya di bidang
Pengamanan penggunaan bahan yang
mengandung zat adiktif diarahkan agar tidak mengganggu an membahayakan kesehatan perseorangan, keluarga, masyarakat, dan lingkungan.
Zat adiktif meliputi tembakau, produk yang mengandung tembakau padat, cairan, dan
gas yang bersifat adiktif yang penggunaannya dapat menimbulkan kerugian bagi dirinya
dan/atau masyarakat sekelilingnya. Produksi, peredaran, dan penggunaan bahan yang
mengandung zat adiktif harus memenuhi standar dan/atau persayaratan yang
Upaya kesehatan ibu harus ditujukan untuk menjaga kesehatan ibu sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat dan
berkualitas serta mengurangi angka kematian ibu.
Pemerintah wajib memberikan imunisasi
lengkap kepada setiap bayi dan anak. Upaya pemeliharaan kesehatan bayi dan anak harus ditujukan untuk mempersiapkan generasi
yang akan datang yang sehat, cerdas, dan berkualitas untuk menurunkan angka
kematian bayi dan anak.
Anak yang dilahirkan wajib dibesarkan dan diasuh secara bertanggungjawab sehingga memungkinkan anak tumbuh dan
Setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi. Setiap bayi dan anak berhak terlindungi dan terhindar dari segala bentuk diskriminasi dan tindak kekerasan yang dapat mengganggu
kesehatannya.
Pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat berkewajiban untuk menjamin
terselenggarakan perlindungan bayi dan anak dan menyediakan pelayanan kesehatan
Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat bertanggungjawab melaksanakan upaya
pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan penyakit menular serta dampak yang
ditimbulkannya.
Upaya itu dilakukan untuk melindungi masyarakat dari tertularnya penyakit,
menurunkan jumlah yang sakit, cacat, dan/atau meninggal dunia serta untuk mengurangi
dampak sosial dan ekonomi akibat penyakit menular.
Pemerintah menjamin ketersediaan bahan imunisasi yang aman, bermutu, efektif,
terjangkau, dan merata bagi masyarakat untuk upaya pengendalian penyakit menular melalui imunisasi.
Pengendalian penyakit tidak menular
dilakukan dengan pendekatan surveilansa faktor resiko, registrasi penyakit, dan
surveilans kematian. Kegiatan dimaksud bertujuan memperoleh informasi yang esensial serta dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dalam upaya pengendalian penyakit tidak menular.
Kegiatannya dilakukan melalui kerja sama
lintas sektor dan dengan membentuk jejaring baik nasional maupun internasional.
Sumber pembiayaan kesehatan berasal dari pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan swasta dan sumber lain.
Besar anggaran pemerintah dialokasikan minimal lima persen dari anggaran
pendapatan belanja negara diluar gaji.
Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah propinsi, kabupaten/kota dialokasikan
minimal sepuluh persen dari anggaran
Untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam menyelenggarakan pembangungan
bidang kesehatan dibentuk Badan
Pertimbangan Kesehatan Pusat dan Daerah. Badan Pertimbangan Kesehatan Pusat
dinamakan Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional (BPKN) berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia. Badan
Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) berkedudukan di ibukota propinsi dan ibukota kabupaten/ kota.
Pimpinan unit pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang melakukan praktik
atau pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan yang dengan sengaja tidak memberikan pertolongan pertama pada pasien yang dalam keadaan gawat darurat dipidana dengan pidana penjara paling lama dua tahun dan denda paling banyak dua ratus juta rupiah.
Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang dengan sengaja tidka memberikan pertolongan
pertama pada pasien yang dalam keadaan gawat darurat mengakibatkan kecacatan
dan/atau kematian dipidana dengan pidana paling lama sepuluh tahun dan denda paling banyak satu milyar rupiah.
Setiap orang yang tanpa ijin melakukan
praktek pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan alat dan teknologi sehingga
mengakibatkan kerugian harta benda, luka berat, dan/atau kematian dipidana dengan penjara paling lama satu tahun dan denda paling banyak seratus juta rupiah.
Perubahan paradigma upaya pembangunan kesehatan yaitu dari paradigma sakit yang begitu kental pada Undang-Undang
Kesehatan sebelumnya (no 23 tahun 1992) bergeser menjadi paradigma sehat yaitu
pendekatan promotif dan preventif kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara