• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa melakukan perbuatan untuk memenuhi kebutuhannya. Perbuatan manusia itu dilakukan secara sengaja untuk menimbulkan hak dan kewajiban, seperti membuat surat wasiat, membuat surat jual beli, membuat surat sewa-menyewa, membuat surat nikah, dan membuat surat persetujuan. Perbuatan tersebut dinamakan perbuatan hukum.

Menurut R. Soeroso, Perbuatan hukum adalah setiap perbuatan subjek hukum (manusia atau badan hukum) yang akibatnya diatur oleh hukum, karena akibat itu bisa dianggap sebagai kehendak dari yang melakukan hukum.

Kemudian Marwan Mas mengemukakan bahwa Perbuatan hukum adalah setiap perbuatan atau tindakan subjek hukum yang mempunyai akibat hukum, dan akibat hukum itu memang dikehendaki oleh subjek hukum.

Selanjutnya Sudarsono menjelaskan, Perbuatan hukum adalah setiap perbuatan yang akibatnya diatur oleh

185

hukum, karena akibat itu boleh dianggap menjadi kehendak dari yang melakukan perbuatan itu. Di samping itu juga Chainur Arrasjid mengatakan, Perbuatan hukum adalah setiap perbuatan yang akibatnya diatur oleh hukum dan akibat itu dikehendaki oleh yang melakukan perbuatan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapatlah dijelaskan bahwa perbuatan hukum, yaitu suatu perbuatan yang dilakukan oleh subjek hukum (manusia atau badan hukum), perbuatan itu dapat menimbulkan suatu akibat yang dikehendaki oleh yang melakukannya. Jika perbuatan itu akibatnya tidak dikehendaki oleh yang melakukannya atau salah satu di antara yang melakukannya, maka perbuatan itu bukan perbuatan hukum.

Oleh karena itu, dapat dijelaskan bahwa kehendak dari subjek hukum (manusia atau badan hukum) yang melakukan perbuatan itu menjadi unsur esensiil atau pokok dari perbuatan tersebut. Dengan demikian, jika ditelaah pengertian perbuatan hukum di atas, terdapat unsur-unsur perbuatan hukum, yaitu sebagai berikut:

a) Perbuatan itu harus dilakukan oleh subjek hukum.

b) Perbuatan itu akibatnya diatur oleh hukum.

c) Perbuatan itu akibatnya dikehendaki oleh yang melakukan perbuatan itu.

Dengan adanya pernyataan kehendak yang melakukan perbuatan itu mengakibatkan terjadinya perbuatan hukum.

Jadi, suatu perbuatan yang akibatnya tidak dikehendaki oleh yang melakukannya bukanlah perbuatan hukum.

186

Pernyataan kehendak pada asasnya menurut R. Soeroso, tidak terikat pada bentuk-bentuk tertentu dan tidak ada pengecualiannya, sebab dapat terjadi secara tegas dan secara diam-diam.

Pernyataan kehendak secara tegas dapat dilakukan sebagai berikut:

a) Tertulis, baik ditulis sendiri, maupun ditulis oleh pejabat tertentu. Ditulis sendiri serta ditandatangani oleh pihak-pihak yang bersang- kutan tanpa bantuan dari pejabat umum dengan maksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti. Tulisan tersebut lazim disebut akta di bawah tangan, seperti perjanjian perdamaian sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal 1851 KUH Perdata, yaitu:

"Perdamaian adalah suatu perjanjian dengan mana kedua belah pihak, dengan menyerahkan menjanjikan atau menahan suatu barang, mengakhiri suatu perkara yang sedang bergantung ataupun mencegah timbulnya suatu perkara."

Perjanjian ini tidaklah sah, melainkan jika dibuat secara tertulis. Adapun yang ditulis oleh pejabat umum yang berwenang untuk itu, dengan maksud untuk dipergunakan sebagai alat bukti. Tulisan tersebut lazim juga disebut akta autentik, contoh:

sumpah oleh kuasa sebagaimana telah dijelaskan dalam Pasal 1945 KUH Perdata, berbunyi:

"Sumpah harus diangkat sendiri secara pribadi. Karena alasan-alasan penting, hakim diperbolehkan mengizinkan

187

kepada suatu pihak yang beperkara untuk suruhan mengangkat sumpahnya oleh seseorang yang untuk itu khusus dikuasakan dengan suatu akta autentik. Dalam hal ini surat kuasanya harus menyebutkan secara lengkap dan teliti sumpahnya yang harus diucapkan. Tiada sumpah yang boleh diambil selain dengan hadirnya pihak lawan, atau setelah pihak lawan ini dipanggil untuk itu secara sah."

Jadi jika tidak ada akta, tidak ada juga perbuatan hukum.

b) Dengan isyarat, seperti menggeleng-gelengkan kepala menandakan tidak setuju atau menolak atau dengan cara menganggukkan kepala pertanda setuju.

Adapun pernyataan kehendak secara diam-diam dapat dilihat dari perbuatan diamnya seseorang di dalam rapat, berarti menunjukkan setuju, atau diamnya seorang gadis jika kedua orang tuanya menanyakan tentang dilamarnya dengan seorang pemuda. Diam di sini berarti menandakan setuju.

Perbuatan hukum itu dapat dibedakan atas 3 (tiga) jenis, yaitu

1) perbuatan hukum bersegi satu (sepihak), 2) perbuatan hukum bersegi dua (dua pihak), dan 3) perbuatan hukum bersegi banyak (banyak pihak).

Perbuatan hukum bersegi satu atau sepihak, yaitu suatu perbuatan yang akibat hukumnya (rechtsgevolg) ditimbulkan

188

oleh kehendak dari seorang atau sepihak saja yang telah melakukan perbuatan itu.

Misalkan:

- Bahwa perbuatan yang disebutkan dalam Pasal 132 KUH Perdata, yaitu: "Setiap istri berhak melepaskan haknya atas persatuan; segala perjanjian bertentangan dengan ketentuan ini, adalah batal; sekali melepaskannya, tak boleh ia menuntut barang sesuatu pun dari persatuan, melainkan barang-barang selimut seprai dan pakaian pribadinya. Karena pelepasan itu, terbebaslah ia dari kewajibannya akan ikut membayar utang-utang persatuan. Dengan tak mengurangi hak para berpiutang terhadap persatuan, istri tetap berwajib membayar utang-utang, yang telah ia ambil sendiri bagi persatuan, hal mana tidak mengurangi pula hak si istri, untuk menuntutnya kembali seluruhnya kepada suami, atau para ahli warisnya."

- Bahwa perbuatan hukum yang disebutkan dalam Pasal 875 KUH Perdata, yaitu: "Adapun yang dinamakan surat wasiat atau testamen ialah suatu akta yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal dunia, dan yang olehnya dapat dicabut kembali lagi."

Bahwa perbuatan hukum yang disebutkan dalam Pasal 1666 KUH Perdata, yaitu

"Hibah adalah suatu perjanjian dengan mana si penghibah, di waktu hidupnya, dengan cuma-cuma dan dengan tidak dapat ditarik kembali, menyerahkan sesuatu benda guna keperluan si

189

penerima hibah yang menerima penyerahan itu. Undang-undang tidak mengakui lain-lain hibah selain hibah-hibah di antara orang yang masih hidup.”

Perbuatan hukum bersegi dua atau dua pihak, yaitu suatu perbuatan yang akibat hukumnya ditimbulkan oleh kehendak dari dua pihak atau lebih. Setiap perbuatan hukum yang bersegi dua merupakan perjanjian (overeenkomst).

Misalkan:

- Bahwa perbuatan hukum di dalam Pasal 1313 KUH Perdata, yaitu: "Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih."

- Bahwa perbuatan hukum yang disebutkan dalam Pasal 1457 KUH Perdata, yaitu:

"Jual beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu meng- ikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan."

- Bahwa perbuatan hukum yang dijelaskan dalam Pasal 1548 KUH Perdata, yaitu:

"Sewa menyewa ialah suatu perjanjian, dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang lainnya kenikmatan dari sesuatu barang, selama suatu waktu tertentu dan dengan pembayaran sesuatu harga, yang oleh pihak tersebut belakangan itu disanggupi pembayarannya."

190

Adapun perbuatan hukum bersegi banyak, yaitu setiap perbuatan yang akibat hukumnya ditimbulkan oleh kehendak dari banyak pihak, seperti perjanjian yang banyak pihak terlibat di dalamnya.