• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbuatan yang masuk kriteria Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed)

Tindak pidana korupsi di Singapura diatur dalam The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) yang direvisi pada tahun 1993. Undang-undang Pencegahan Korupsi (PCA) di Singapura memberikan definisi yang sangat luas terhadap kata “Korupsi”. Paradigma korupsi adalah situasi yang melibatkan tiga pihak- A, penyuap; B, penerima suap; dan C, orang yang diberi tugas oleh B. tujuan A menyuap B adalah untuk membuat B bertindak untuk kepentingan A, dan melawan kepentingan C, yang melanggar kewajiban B. Hal ini terdapat pada pasal 6 Pencegahan Tindak Pidana Korupsi, dimana B disebut sebagai agen (baik di sektor publik maupun swasta), C sebagai prinsipal, dan suap sebagai gratifikasi(Tan Boon Gin,2007:3).

Pengertian korupsi di jelaskan dalam The Prevention of Corruption Act sebagai gratifikasi atau suap, yang didefinisikan dalam Section 2 atau Bagian 2. Sedangkan Jenis-jenis atau bentuk tindak pidana korupsi dalam The Prevention of Corruption Act (Chapter 241) Singapura ini diatur dalam Bagian III yaitu Offences and Penalties Punishment for Corruption atau bagian Pelanggaran dan Hukuman untuk korupsi. Secara spesifik bentuk – bentuk tindak pidana korupsi yang ada dalam The Prevention of Corruption Act (Chapter 241) Singapura ini diatur dalam Pasal 5 sampai Pasal 14.

Unsur-unsur dalam tindak pidana korupsi menurut The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) yaitu ( dikutip dari https://www.accaglobal.com/my/en/student/exam-support

resources/fundamentals-exams-study-resources/f4/technical-articles/sgp-corruption.html pada 4 februari 2021) :

a. pemberian atau penerimaan gratifikasi. Dalam Pasal 2 PCA gratifikasi memiliki definisi yang luas dan bermacam macam, korupsi di commit to user

Singapura secara luas didefinisikan sebagai suap yang ditawarkan sebagai imbalan atas bantuan. Suap bisa dalam bentuk moneter atau non-moneter. Manfaat moneter termasuk "hadiah, pinjaman, biaya, hadiah, komisi, keamanan berharga atau properti lain atau bunga dalam properti dengan deskripsi apa pun, baik yang dapat dipindahkan atau tidak bergerak". Manfaat non-moneter termasuk "layanan lain, bantuan, atau keuntungan dari deskripsi apa pun". Ini termasuk (dikutip dari https://www.cpib.gov.sg/about-corruption/prevention-of-corruption-act pada 2 Februari 2021 pukul 11:28):

1) Uang, hadiah, pinjaman, biaya, penghargaan, komisi, atau properti lain dalam deskripsi apa pun

2) Kantor, pekerjaan, atau kontrak apa pun

3) Setiap pembayaran, pelepasan, pelepasan, atau likuidasi pinjaman, kewajiban, atau kewajiban lainnya

4) Layanan lain, dukungan, atau keuntungan dari deskripsi apa pun 5) Setiap tawaran, usaha, atau janji kepuasan apa pun

b. sebagai bujukan atau hadiah atau karena terdakwa melakukan atau menahan untuk melakukan sesuatu. Unsur kedua ini mensyaratkan adanya konsensus atau hubungan sebab akibat antara gratifikasi dan tindakan gratifikasi yang dimaksudkan untuk diperoleh.

c. ada unsur korup dalam transaksi. Artinya kata keterangan "korup"

mensyaratkan adanya unsur korup dalam transaksi dan niat korup dari pihak yang memberi atau menerima gratifikasi atau bisa dikatakan ada unsur kesengajaan dalam transaksi.

d. Pemberi atau penerima gratifikasi memiliki pengetahuan yang bersalah.

Pengadilan Tinggi Chan Wing Seng v PP (4) menjelaskan unsur keempat sebagai berikut :

“Saya harus mengklarifikasi bahwa' niat korup 'sebenarnya mengacu pada apakah terdakwa tahu atau menyadari apa yang dia lakukan korup menurut standar biasa dan objektif. Ini adalah ujian subyektif dan rumusan yang lebih akurat dari apa yang dimaksud pengadilan ini ketika dinyatakan dalam PP v Khoo Yong Hak [5] bahwa 'pemberian harus disertai dengan commit to user

niat yang korup'. Dengan demikian, diperlukan pengetahuan yang bersalah. Mengingat hal tersebut di atas, menjadi jelas bahwa pemberi mungkin telah memberi, berpikir dan percaya bahwa tindakannya korup, tetapi tanpa sepengetahuan mereka, transaksi tersebut sah-sah saja. Demikian pula, sebuah transaksi dapat memiliki unsur korup, tetapi tidak ada pengetahuan yang bersalah karena si pemberi beroperasi di bawah kepercayaan yang salah bahwa memberi itu sah. Dalam kedua kasus tersebut, pelanggaran tidak akan dilakukan.

(dikutipdarihttps://www.cpib.gov.sg/aboutcorruption/prevention -of corruption-act pada 2 Februari 2021 pukul 11:35). "

Bentuk-bentuk perbuatan yang dilarang atau perbuatan yang termasuk dalam tindak pidana korupsi menurut The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) Singapura terbagi dalam penyuapan secara publik dan privat yang diatur dalam Section 5, Section 6 dan penyuapan pejabat publik dalam Section 11 dan Section 12 dalam Bagian III Pelanggaran dan Hukuman (Part III Offences and Penalties).

Bentuk-bentuk tindak pidana gratifikasi atau penyuapan tersebut yang diatur dalam Bagian III Pelanggaran dan Hukuman dalam The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) Singapura secara lebih rinci akan dibahas sebagai berikut :

a. Penyuapan Publik dan Privat (Bribery in Private and Public Sector) 1) Pasal 5/Section 5

Bunyi dari Section 5 adalah sebagai berikut :

“Any person who shall by himself or by or in conjunction with any other person —

(a) corruptly solicit or receive, or agree to receive for himself, or for any other person; or

(b) corruptly give, promise or offer to any person whether for the benefit of that person or of another person, any gratification as an inducement to or reward for, or otherwise on account of —

(i) any person doing or forbearing to do anything in respect of any matter or transaction whatsoever, actual or proposed; or

(ii) any member, officer or servant of a public body doing or forbearing to do anything in respect of any matter or transaction whatsoever, actual or proposed, in which such public body is concerned, commit to user

shall be guilty of an offence and shall be liable on conviction to a fine not exceeding $100,000 or to imprisonment for a term not exceeding 5 years or to both.”

Artinya :

“Setiap orang yang akan sendiri atau oleh atau dalam hubungannya dengan orang lain

(a) secara korup meminta atau menerima, atau setuju untuk menerima untuk dirinya sendiri, atau untuk orang lain orang;

atau

(b) memberi, menjanjikan atau menawarkan secara curang kepada siapa pun baik untuk kepentingan orang itu atau orang lain, gratifikasi apa pun sebagai bujukan atau hadiah untuk, atau sebaliknya karena –

(i) siapa pun yang melakukan atau menahan untuk melakukan apa pun sehubungan dengan masalah apa pun atau transaksi apa pun, aktual atau yang diusulkan; atau

(ii) setiap anggota, pejabat atau pelayan dari badan publik melakukan atau menolak untuk melakukannya apa pun sehubungan dengan masalah atau transaksi apa pun, aktual atau diusulkan, yang menyangkut badan publik tersebut, bersalah atas suatu pelanggaran

dan akan dikenakan hukuman denda tidak melebihi $ 100.000 atau penjara untuk jangka waktu tidak lebih dari 5 tahun atau keduanya.”

Dalam Section 5 PCA ini mengatur penyuapan aktif dan pasif oleh individu dan perusahaan di sektor publik maupun swasta.

diterangkan bahwa unsur-unsur pelanggaran terhadap tindak pidana korupsi yaitu :

a) setiap orang. Istilah orang didefinisikan dalam Singapore Interpretation Act yaitu termasuk dalam “perusahaan atau asosiasi atau orang, badan hukum atau perusahaan tidak berbadan hukum (WongPartnership LLP, 20919:9)”

b) secara korup (corruptly). Dalam unsur ini, yang dimaksud dengan kata “secara korup” artinya bahwa keterangan "korup"

mensyaratkan adanya unsur korup dalam transaksi dan niat korup atau adanya kesengajaan untuk memberi atau menerima gratifikasi. Sesuai pasal ini bahwa setiap orang dilarang secara korup meminta, menerima atau setuju untuk menerima untuk commit to user

dirinya sendiri atau untuk orang lain pada huruf (a), atau juga memberi, menjanjikan atau menawarkan secara curang kepada siapapun untuk kepentingan orang itu atau orang lain pada huruf (b).

c) gratifikasi apapun sebagai bujukan atau hadiah. Sesuai dalam Section 2 The Prevention of Corruption Act (Chapter 241) Singapura, yang dimaksud dengan gratifikasi adalah untuk memasukkan uang, hadiah, pinjaman, biaya, penghargaan, dan lainnya.

d) Sehingga dari akibat penyuapan aktif maupun pasif yang diatur dalam huruf (a) dan huruf (b) tersebut, membuat siapa pun yang melakukan atau menahan untuk melakukan apa pun sehubungan dengan masalah apa pun atau transaksi apa pun, aktual atau yang diusulkan, ataupun membuat setiap anggota, pejabat atau pelayan dari badan publik melakukan atau menolak untuk melakukannya apa pun sehubungan dengan masalah atau transaksi apa pun, aktual atau diusulkan, yang menyangkut badan publik tersebut, bersalah atas suatu pelanggaran.

Contoh kasus korupsi di sektor privat sebagaimana diatur dalam section 5 yaitu kasus penyuapan yang dilakukan oleh pemilik usaha penyedia makanan laut yang menyuap 19 koki rumah makan terkenal di Singapura. Tay Ee Tiong adalah pemilik Wealthy Seafood Product and Enterprise yang mendekati para koki yang memiliki wewenang untuk memilih pemasok makanan laut di rumah makan dimana mereka bekerja dijanjikan komisi, berdasarkan persentase dari total nilai produk makanan laut yang dibeli. Koki akan menerima uang tunai dari Tay setiap dua hingga tiga bulan sekali. Sebagai imbalannya, mereka akan terus memesan makanan laut dari perusahaan Tay. Investigasi CPIB menemukan bahwa dari Februari 2006 dan Agustus 2009, Tay telah memberikan suap kepada 19 koki mulai dari S $ 200 dan S $ commit to user

24.000. Tay Ee Tiong akhirnya didakwa dengan 223 dakwaan korupsi dan dijatuhi hukuman 18 bulan penjara pada September 2011 karena memberikan suap hampir S $ 1 juta. Koki yang terlibat juga dihukum karena menerima suap dari Tay secara korup dan menerima hukuman masing-masing, kecuali satu yang dibebaskan(https://www.cpib.gov.sg/aboutcorruption/prevention-of-corruption-act diakses pada 16 Maret 2020 pukul 18.30)

Jadi berdasakan Pasal 5 The Prevention of Corruption Act Singapura, diatur mengenai larangan melakukan penyuapan baik di sektor privat yang diatur dalam Pasal 5/Article 5 hurif (i) dan juga di sektor publik yang diatur dalam Pasal 6/ article 6 huruf (ii). Setiap orang (orang perseorangan, korporasi berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum) dan juga setiap anggota, pejabat atau pelayan dari badan publik dilarang secara korup atau dengan niat korup atau dengan sengaja meminta atau menerima atau setuju menerima untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain dan juga memberi, menjanjikan atau menawarkan secara curang gratifikasi, kepada siapapun untuk kepentingan orang itu atau orang lain sebagai bujukan atau hadiah untuk melakukan atau menahan untuk melakukan sesuatu.

2) Pasal 6/ Section 6 ( Transaksi korup dengan agen)