• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Perbuatan yang masuk kriteria tindak pidana korupsi Undang-Undang Pemberantasan Korupsi Indonesia dan Singapura

1. Perbuatan yang masuk kriteria Tindak Pidana Korupsi menurut Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Tindak pidana korupsi di Indonesia sebenarnya sudah diatur dengan berbagai undang-undang terdahulu, seperti Delik korupsi dalam KUHP, Peraturan Pemberantasan Korupsi Penguasa Perang Pusat Nomor Prt/Peperpu/013/1950, Undang-Undang No.24 (PRP) tahun 1960 tentang Tindak Pidana Korupsi. Undang-Undang No.3 tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, TAP MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dan Undang-Undang No.28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme dan aturan yang terakhir adalah Undang-Undang No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang kemudian sebagiaman diubah dengan Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 merupakan undang-undang yang lahir semata untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan undang- undang terdahulu.

Jadi secara garis besar, tindak pidana korupsi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah delik atau tindak pidana yang ditarik dari KUHP baik secara langsung maupun tidak langsung. Macam-macam tindak pidana korupsi diatur dalam Bab II tentang tindak pidana korupsi, ketentuan pasal 2 sampai dengan pasal 20, Bab III tentang tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi sesuai dengan ketentuan pasal 21 sampai dengan 24 UU PTPK(Lilik Mulyadi,2008:186). Menurut Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, Korupsi yaitu setiap orang yang dengan tujuan commit to user

(2)

menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian Negara.

Secara gamblang tindakan yang dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi dapat dilihat dalam Pasal 2 sampai dengan Pasal 16 Undang- Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (“UU 31/1999”) sebagaimana yang telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Julia Kambey, Trifena dkk. 2020:3). Berdasarkan pasal-pasal tersebut, korupsi dirumuskan ke dalam 30 (tiga puluh) bentuk/jenis tindak pidana korupsi, dan dari 30 (tiga puluh) jenis tindak pidana korupsi pada dasarnya dikelompokkan dalam 7 kelompok pidana korupsi dan Tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi, yakni sebagai berikut : a. Merugikan Keuangan Negara

Tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara, dimana suatu perbuatan dianggap sebagai tindak pidana korupsi karena perbuatan tersebut menyebabkan kerugian bagi keuangan negara atau perekonomian negara. Tindak pidana yang masuk dalam bentuk merugikan keuangan negara terdapat dalam Pasal 2 dan Pasal 3, yaitu : 1) Pasal 2 ayat (1) (Melawan Hukum Untuk Memperkaya Diri

Sendiri dan Dapat Merugikan Keuangan Negara)

“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara dengan penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).”.

Untuk menyimpulkan apakah suatu perbuatan termasuk tindak pidana korupsi menurut Pasal 2 ayat (1) ini, maka harus memenuhi unsur-unsur : commit to user

(3)

a) Setiap orang, sesuai yang diatur dalam BAB I mengenai Ketentuan Umum Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, setiap orang diartikan sebagai orang perseorangan ataupun korporasi, penyelenggara negara, pegawai negeri ataupun swasta.

b) Melawan hukum, unsur melawan hukum dapat diartikan secara formil maupun materiil. Suatu perbuatan dikatakan melawan hukum secara formil adalah apabila perbuatan itu bertentangan dengan ketentuan undang-undang (hukum tertulis). Dengan pengertian seperti itu, maka suatu perbuatan bersifat melawan hukum adalah apabila telah terpenuhi semua unsur yang disebut di dalam rumusan delik. Jika semua unsur tersebut telah terpenuhi, maka tidak perlu lagi diselidiki apakah perbuatan itu menurut masyarakat benar-benar telah dirasakan sebagai prbuatan yang tidak patut dilakukan (Amin, Idi. 2018:5) Sedangkan perbuatan hukum materiil adalah perbuatan yang tercela karena tidak sesuai dengan rasa keadilan atau norma- norma kehidupan sosial dalam masyarakat. Contoh perbuatan melawan hukum ini seperti penyalahgunaan APBN/APBD.

c) Melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. Penafsiran istilah memperkaya antara makna harfiah dan pembuat undang-undang hampir sama, keduanya menunjukkan perubahan kekayaan atau bertambahnya kekayaan dikukur dari penghasilan yang diperolehnya (Andi Hamzah, 2004:174-175). Memperkaya harus dikaitkan dengan kewajiban terdakwa untuk memberikan keterangan tentang sumber kakayaan tersebut sehingga kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya sebagai alasan untuk memperkuat keterangan saksi dan bukti-bukti lainnya bahwa pelaku telah melakukan tindak pidana korupsi (Mahrus Ali, commit to user

(4)

2016:85). Memperkaya berarti sebagai perbuatan menjadikannya bertambah kekayaan. Memperkaya diri sendiri atau orang lain adalah menjadikan diri sendiri atau orang lain atau suatu koporasi, yang belum kaya menjadi bertambah banyak hartanya atau orang yang sudah kaya bertambah kekayaannya secara signifikan (Purba, Idra Gunawan, 2018:195).

d) Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU- IV/2006, makna kata “dapat” sebelum frasa “merugikan keuangan atau perekonomian Negara”, menunjukkan bahwa tindak pidana korupsi merupakan delik formil, yaitu adanya tindak pidana korupsi cukup dengan dipenuhinya unsur-unsur perbuatan yang sudah dirumuskan bukan dengan timbulnya akibat” Namun berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi terbaru yaitu Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 25/PUU- XIV/2016, mengubah secara radikal makna konstitusional unsur kerugian keuangan Negara dalam tindak pidana korupsi kerugian keuangan Negara tersebut menjadi delik materil (Suhendar, 2017:5), bahwa unsur merugikan keuangan negara yang menggunakan konsepsi actual loss dipandang lebih memberikan kepastian hukum yang adil. Oleh karena itu unsur merugikan keuangan negara tidak lagi dipahami sebagai perkiraan (potential loss) namun harus dipahami benar-benar sudah terjadi atau nyata (actual los) untuk dapat diterapkan sebagai tindak pidana korupsi (Arif Setiawan,2017:521)

Jadi dalam Pasal 2 ayat (1) ini melarang setiap orang yaitu orang perseorangan atau korporasi secara melawan hukum memperkaya dirinya sendiri atau orang lain atau suatu korporasi sehingga merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

commit to user

(5)

2) Pasal 3 (Menyalahgunakan Kewenangan Untuk Menguntungkan Diri Sendiri dan Dapat Merugikan Keuangan Negara) :

“Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)...”

Untuk menyimpulkan apakah suatu perbuatan itu termasuk tindak pidana korupsi yang menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri dan dapat merugikan keuangan negara, maka harus memenuhi unsur-unsur berikut ini :

a) Setiap orang, unsur ‘setiap orang’ dalam Pasal 3 ini berbeda dengan unsur ‘setiap orang’ yang ada dalam Pasal 2. Dalam Pasal 3 unsur ‘setiap orang’ diartikan sebagai aparatur negara atau pejabat publik yang tentunya seseorang yang diangkat oleh pejabat yang berwenang memangku suatu jabatan atau kedudukan, dan melakukan sebagian dari pada tugas atau alat- alat perlengkapan pemerintahan negara.

b) Dengan tujuan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau korporasi, menguntungkan memiliki arti lebih luas daripada memperkaya yaitu menguntungkan artinya memperoleh keuntungan. Keuntungan dalam arti tidak semata-mata berupa benda atau uang saja, tetapi segala sesuatu yang dapat dinilai dengan uang termasuk hak dan kesempatan.

c) Menyalahgunakan wewenang, kesempatan atau sarana.

Penyalahgunaan wewenang adalah tindakan yang cacat oleh badan atau pejabat pemerintahan, yaitu mereka melaksanakan wewenangnya untuk mencapai tujuan yang berbeda dari tujuan yang seharusnya commit to user diberikan wewenang tersebut

(6)

(Parchomiuk,2018:456). Sehingga ketentuan makna

“menyalahgunakan kewenangan” haruslah diartikan dalam konteks pejabat publik, bukan pejabat swasta meskipun swasta juga memiliki jabatan(Abdul Latif,2014:289). Misalnya menyalahgunakan sarana karena jabatan atau kedudukan seperti pegawai atau penyelenggara negara menyewakan mobil dan rumah dinas yang diberikan kepadanya sebagai fasilitas penunjang pekerjaan.

d) Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, unsur ini memiliki pengertian yang sama dengan Pasal 2.

Dalam Pasal 3 ini setiap orang baik orang perseorangan atau korporasi dilarang menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan dengan tujuan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi sehingga membuat kerugian terhadap keuangan negara atau perekonomian negara.

b. Suap Menyuap

Seperti kita ketahui bahwa Penyuapan merupakan bagian dari korupsi (Eleanora, Fransiska Novita. 2012:hal 204), dimana suap diartikan sebagai pemberian atau janji kepada seseorang penyelenggara negara atau pegawai negeri yang berhubungan dengan jabatan, yang bersangkutan dalam menjalankan tugas mereka masing-masing. Bentuk suap antara lain dapat berupa pemberian barang, uang sogok dan lain sebagainya. Adapun tujuan suap adalah untuk mempengaruhi pengambilan keputusan dari orang atau pegawai atau pejabat yang disuap. Menurut Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo UU No 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ada beberapa kategori suap menyuap yaitu pemberi suap (penyuap aktif) dan penerima suap (penyuap pasif).

Penyuap aktif yaitu pihak yang memberikan atau menjanjikan sesuatu, baik berupa uang atau barang. Penyuapan ini terkait dengan commit to user

(7)

sikap batin subjek hukum yaitu ‘setiap orang’ yaitu orang perseoragan atau korporasi berupa niat yang bertujuan untuk menggerakkan seorang pejabat penyelenggara negara atau pegawai negeri agar ia dalam jabatannya berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya. Perbuatan mengenai penyuapan aktif ini dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Perubahan atas Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diatur dalam Pasal 5, Pasal 6 dan Pasal 13 yaitu :

1) Pasal 5 ayat (1) (Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara)

“...setiap orang yang:

(a) memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya;

(b) memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.”

Untuk menyimpulkan suatu perbuatan termasuk tindak pidana korupsi suap berdasarkan Pasal 5 ayat (1) huruf (a) maka harus dipenuhi unsur-unsur berikut :

a) setiap orang, yaitu orang perseorangan atau korporasi.

b) memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara. Pegawai negeri yang dimaksudkan disini adalah menurut pengertian dalam Pasal 1 UU No. 31 Tahun 1999 yaitu pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Kepegawaian, pegawai negeri sebagaimana dimaksud dalam KUHP, orang yang menerirna gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima bantuan dan keuangan negara atau daerah, atau orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.orang yang menerima gaji commit to user

(8)

atau upah dari keuangan negara atau daerah. Sedangkan penyelenggara negara menurut pengertian Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme yaitu Pejabat Negara pada Lembaga Tertinggi Negara, Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara, Menteri, Gubernur, Hakim, pejabat negara yang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perUndang-Undangan yang berlaku; dan Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c) dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.

Selanjutnya untuk menyimpulkan suatu perbuatan termasuk tindak pidana korupsi suap berdasarkan Pasal 5 ayat (1) huruf (b) maka harus dipenuhi unsur-unsur berikut :

a) Setiap orang, yaitu orang perseorangan atau korporasi.

b) memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara, maksudnya sesuatu disini yang akan diberikan atau dijanjikan itu dapat berupa barang/benda yang bergerak atau tidak bergerak atau yang berwujud ataupun yang tidak berwujud, kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara.

c) karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya

Untuk memudahkan pemahaman suap dalam pasal ini adalah bahwa pemberian sesuatu setelah keinginannya dipenuhi oleh yang diberi. Membaca rumusan unsur, dapat disimpulkan bahwa pemberian sesuatu itu dilakukan setelah pegawai negeri atau penyelenggara negara melakukan atau commit to user

(9)

tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya sesuai dengan apa yang diinginkan oleh si penyuap. Biasanya pemberian diberikan sebagai ucapan terima kasih. atau sebagai balas jasa (Badan Diklat Kejaksaan R.I, 2019:37).

Jadi dalam Pasal 5 ayat (1) ini melarang setiap orang untuk memberi atau menjanjikan hadiah kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud agar pegawai negeri atau penyelenggara negara berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya (a) ataupun memberi sesuatu karena jabatannya (b).

2) Pasal 6 ayat (1) (Menyuap Hakim dan Advokat)

“...setiap orang yang :

(a) memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili; “

Unsur tindak pidana korupsi suap sesuai Pasal 6 ayat (1) huruf (a) adalah :

a) setiap orang, yaitu orang perseorangan atau korporasi.

b) memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim.

c) dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diadili

(b) “memberi atau menjanjikan sesuatu kepada seseorang yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri sidang pengadilan dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.”

Unsur tindak pidana korupsi suap sesuai Pasal 6 ayat (1) huruf (b) adalah :

a) setiap orang

b) memberi atau menjanjikan sesuatu kepada advokat commit to user

(10)

c) dengan maksud mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan

Dalam pasal 6 ayat (1) ini, setiap orang yaitu orang perseorangan ataupun korporasi dilarang menyuap yaitu memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim (huruf a) dan juga advokat (huruf b) dengan tujuan agar bisa mempengaruhi putusan perkara yang diadili untuk hakim ataupun dengan maksud mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan jika suap itu diberikan kepada advokat.

3) Pasal 13 (Memberi Hadiah Kepada Pegawai Negeri Karena Jabatannya)

“Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah).”

Dalam Pasal 13 ini unsur perbuatan yang termasuk suap- menyuap adalah :

a) Setiap orang, yaitu orang perseorangan atau korporasi.

b) Yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri.

c) Dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut.

Dalam Pasal 13 ini melarang setiap orang yaitu orang perseorangan ataupun korporasi untuk memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri karena berhubungan dengan kekuasaan atau wewenang yang dimilikinya.

Sedangkan pengertian dari penyuapan pasif adalah pihak yang menerima pemberian atau janji baik uang maupun barang. Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Perubahan atas Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang commit to user

(11)

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi diatur dalam Pasal 5 ayat (2), Pasal 6 ayat (2), Pasal 11 dan Pasal 12 huruf (c) dan (d), yaitu :

4) Pasal 5 ayat (2) (Pegawai negeri atau penyelenggara menerima suap):

“Bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)”

Suatu perbuatan dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi suap sesuai Pasal 5 ayat (2) jika memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :

a) Pegawai negeri atau penyelenggara negara,

b) Menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf b. Dalam Pasal ini terdapat dua jenis perbuatan penerimaan atau janji yang diterima sebelum berbuat atau tidak berbuat sesuatu, yang diistilahkan sebagai penerimaan dimuka (down payment) yaitu pada ayat (1) huruf a, dan ucapan terimakasih (thanks giving) yaitu pada ayat (1) huruf b. Perbedaan kedua perbuatan penyuapan terletak pada waktu pemberian atau janji diterima. Pada huruf a pegawai negeri atau penyelenggara negara telah menerima pemberian atau janji terlebih dahulu sebelum ia berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, sedangkan pada huruf b pegawai negeri atau penyelenggara negara telah melakukan atau tidak melakukan sesuau dalam jabatannya baru ia menerima pemberian atau janji tersebut.

Dalam Pasal 5 ayat (2) ini mengatur bahwa pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima suap sebagaimana yang diatur dalam pasal 5 ayat (1) akan dikenakan hukuman yang sama dengan pemberi suap.

commit to user

(12)

5) Pasal 6 ayat (2) (Hakim dan Advokat menerima suap):

“Bagi hakim yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau advokat yang menerima pemberian atau janji sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).”

Dalam Pasal 6 ayat (2) ini unsur-unsur perbuatan yang dilarang adalah :

a) Subjek hukum dari pasal ini adalah hakim atau advokat.

b) Menerima pemberian atau janji sebagaimana dalam ayat (1) huruf a dan huruf b. Pada huruf a, bagi hakim yang menerima pemberian atau janji dengan maksud untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili. Sedangkan pada huruf b, bagi advokat yang menerima pemberian atau janji dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili. Mengenai kapan pemberian atau janji diterima oleh hakim atau advokat tidak dipermasalahkan. Yang terpenting pada rumusan ini adalah bahwa pemberian tersebut diberikan dengan tujuan untuk mempengaruhi putusan hakim atau pendapat yang diberikan oleh advokat dalam suatu perkara.

Dalam Pasal 6 ayat (2) mengatur larangan bagi hakim dan advokat sebagai penyuap pasif yang menerima pemberian hadiah atau janji sebagaimana yang diatur dalam Pasal Pasal 6 ayat (1) huruf a untuk hakim dan Pasal 6 ayat (1) huruf b untuk advokat, akan dikenakan hukuman yang sama dengan pemberi suap.

6) Pasal 11 (Pegawai Negeri Menerima Suap yang Berhubungan dengan Jabatannya)

“....pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.”

Dalam Pasal 11 ini merupakan perbuatan yang dilarang dengan unsur-unsur tindak pidananya adalah : commit to user

(13)

a) Pegawai negeri atau penyelenggara negara b) Menerima hadiah atau janji

c) Padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.

Dalam Pasal 11 mengatur larangan bagi pegawai negeri ataupun penyelenggara negara untuk menerima hadiah atau janji yang mana hadiah atau janji yang diberikan tersebut diketahui atau patut diduga karena berhubungan dengan kekuasaan atau kewenangannya karena jabatannya. Mengenai waktu dalam penerimaan hadiah atau janji dalam pasal ini tidak dipermasalahkan apakah sesudah atau sebelum pegawai negeri atau penyelenggara negara yang bersangkutan, ataupun mungkin pegawai negeri atau penyelenggara negara tidak mempunyai kekuasaan atau kewenangan yang dimaksud tetapi menurut pikiran sipemberi hadiah atau janji bahwa sipenerima mempunyai kekuasaan atau kewenangan jabatan.

7) Pasal 12

- Pasal 12 huruf (a) :

“pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya;”

Unsur-unsur dari perbuatan yang dilarang dalam Pasal 12 huruf (a) ini adalah :

a) pegawai negeri atau penyelenggara negara b) menerima hadiah atau janji

c) padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk menggerakkan agar melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya. commit to user

(14)

- Pasal 12 huruf (b)

“pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya”;

Unsur-unsur dari perbuatan yang dilarang dalam Pasal 12 huruf (b) ini adalah :

a) pegawai negeri atau penyelenggara negara b) yang menerima hadiah

c) padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.

Dalam Pasal 12 ini mengatur bahwa seorang pegawai negeri atau penyelenggara negara dilarang menerima hadiah yang mana diketahui atau patut diduga pemberian hadiah tersebut dimaksudkan untuk menggerakkan pegawai negeri atau penyelenggara negara melakukan sesuatu yang bertentagan dengan jabatannya (huruf a) atau karena seorang pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang betrtentangan dengan kewajibannya dalam menjalankan tugas (huruf b).

- Pasal 12 huruf (c) :

“Hakim yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili”

Dalam Pasal 12 huruf (c) ini unsur tindak pidana korupsinya yaitu :

a) hakim.

b) yang menerima hadiah atau janji.

commit to user

(15)

c) padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili.

Jadi dalam Pasal 12 huruf (c) ini hakim sebagai subjek hukum dilarang menerima hadiah atau janji dari setiap orang yaitu orang perseorangan atau korporasi yang mana patut diduga bahwa pemberian hadiah atau janji tersebut dimaksudkan untuk mempengaruhi putusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili.

- Pasal 12 huruf (d)

“Seseorang yang menurut ketentuan peraturan perundang- undangan ditentukan menjadi advokat untuk menghadiri sidang pengadilan, menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan, berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.”

Unsur-unsur tindak pidana dalam Pasal 12 huruf (d) adalah : a) Advokat menghadiri sidang pengadilan.

b) Menerima hadiah atau janji.

c) padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan, berhubung dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.

Dalam pasal ini seorang advokat dilarang menerima hadiah atau janji yang mana diketahui atau patut diduga pemberian atau janji tersebut dimaksudkan untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan berhubungan dengan perkara yang diserahkan kepada pengadilan untuk diadili.

c. Penggelapan Dalam Jabatan

Tindak pidana korupsi penggelapan dalam jabatan sebelumnya diatur di dalam KUHP dalam Buku II Bab XXVIII tentang “Kejahatan Jabatan”, namun tindak pidana penggelapan yang memanfaatkan commit to user

(16)

jabatannya dalam sistem pemerintahan untuk mempermudah melakukan tindak pidana penggelapan maka tindakannya tersebut dikenakan undang-undang khusus, yakni Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Thezar.M, dkk. 2020:331). Ada beberapa bentuk perbuatan yang masuk dalam tindak pidana korupsi penggelapan dalam jabatan yang diatur dalam UU PTPK ini, diantaranya yaitu :

1) Pasal 8 (Pegawai Negeri Menggelapkan Uang atau Membiarkan Penggelapan)

“...pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut”

Untuk dapat menyimpulkan apakah suatu perbuatan termasuk tindak pidana korupsi menurut Pasal 8 maka harus memenuhi unsur- unsur :

a) Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu. Pengertian pegawai negeri merujuk pada Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999. Sedangkan pengertian “orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus” dijelaskan oleh Adami Chazawi bahwa, “orang yang bukan pegawai negeri yang menjalankan tugas jabatan umum terus menerus”, misalnya pegawai tidak tetap (PTT) di jawatan-jawatan atau dinas-dinas publik”(Adami Chazawi,2016:120).

b) Dengan sengaja, Pengertian dengan sengaja ini mencakup tiga bentuk kesengajaan yang dikenal dalam doktrin, yaitu sengaja sebagai maksud, sengaja dengan kesadaran tentang kepastian, keharusan, dan sengaja dengan kesadaran tentang kemungkinan (Muhammad Kurniawan, 2016:6). commit to user

(17)

c) Menggelapkan atau membiarkan orang lain mengambil atau membiarkan orang lain menggelapkan atau membantu dalam melakukan perbuatan itu, menurut Adami Chazawi perbuatan yang dilarang dalam unsur ini adalah menggelapkan, membiarkan orang lain mengambil, membiarkan orang lain menggelapkan dan membantudalam melakukan perbuatan”(Adami Chazawi,2016:118) d) Khusus pada pasal ini yang digelapkan adalah uang atau surat

berharga, yang merupakan objek dari tindak pidana Pasal 8.

Jadi dalam Pasal 8 ini melarang pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain, atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut

2) Pasal 9 (Pegawai Negeri Memalsukan Buku Untuk Pemeriksaan Administrasi)

“...pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja memalsu buku-buku atau daftar-daftar yang khusus untuk pemeriksaan administrasi”

Unsur tindak pidana korupsi penggelapan dalam jabatan berdasarkan Pasal 9 ini yaitu :

a) Pegawai negeri atau selain pegawai negeri

b) Bertugas menjalankan jabatan umum secara terus menerus atau sementara waktu

c) Dengan sengaja memalsu buku-buku atau daftar yang khusus untuk pemeriksaan administratif.

Pasal 9 melarang pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri dengan sengaja memalsukan buku atau daftar khusus untuk pemeriksaan administrasi, perbuatan tersebut termasuk tindak pidana korupsi. commit to user

(18)

3) Pasal 10

“pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja:

(a) menggelapkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidakdapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya; atau

(b) membiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut; atau

(c) membantu orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar tersebut pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri bertugas menjalankan jabatan umum secara terus menerus atau sementara waktu

Dalam pasal 10 ini pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri dilarang merusakkan, membiarkan orang lain merusakkan, atau membantu orang lain merusakkan bukti baik berupa barang, akta, surat atau daftar tersebut.

d. Perbuatan Pemerasan

Pasal-Pasal mengenai pemerasan terkenal dengan nama

“knevelarij” yang berarti permintaan memaksa atau pemerasan yang dilakukan ketika menjalankan tugas. Dan arti harfiah yang seperti ini laiu dikatakan bahwa knevelarij merupakan arti kiasan bagi perbuatan yang memeras rakyat untuk memberikan uang. Mengenai pemerasan dirumuskan daiam Pasal 12 huruf e, f, dan g UU No. 20 Tahun 2001.

Rumusan Pasal ini merupakan perbaikan dari Pasal 12 UU No. 31 Tahun 1999 (Badan Diklat Kejaksaan R.I, 2019:47).

1) Pasal 12 (Pengawai Negeri Memeras) - Pasal 12 huruf (e)

“Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, atau dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran dengan potongan, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri”

commit to user

(19)

Untuk menyimpulkan suatu perbuatan termasuk tindak pidana korupsi sebagaimana yang diatur dalam Pasal 12 huruf (e), maka harus memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :

a) Pegawai negeri atau penyelenggara negara

b) Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain c) Secara melawan hukum

d) Memaksa seseorang memberikan sesuatu, membayar, atau menerima pembayaran potongna, atau untuk mengerjakan sesuatu bagi dirinya

e) Dengan menyalahgunakan kekuasaan (Ahmad Rukbil,2017:154).

- Pasal 12 huruf (f)

“pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta, menerima, atau memotong pembayaran kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kepada kas umum, seolah-olah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kas umum tersebut mempunyai utang kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang;

Untuk menyimpulkan apakah suatu perbuatan termasuk korupsi menurut pasal ini harus memenuhi unsur-unsur :

a) pegawai negeri atau penyelenggara negara b) pada waktu menjalankan tugas

c) meminta atau menerima pekerjaan, atau penyerahan barang d) seolah-olah merupakan utang kepada dirinya

e) diketahuinya bahwa hal tersebut bukan merupakan utang

- Pasal 12 huruf (g) (Pegawai Negeri Memeras Pegawai Negeri Lain)

“Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima pekerjaan, atau penyerahan barang, seolah-olah merupakan utang kepada dirinya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang”

Untuk menyimpulkan apakah suatu perbuatan termasuk tindak pidana korupsi menurut pasal ini maka harus memenuhi unsur-unsur : a) pegawai negeri atau penyelenggara negara

b) pada waktu menjalankan tugas

c) meminta, menerima, atau memotong pembayaran commit to user

(20)

d) kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kepada kas umum

e) seolah-olah pegawai negeri atau penyelenggara negara yang lain atau kas umum mempunyai utang kepadanya

f) diketahuinya hal tersebut bukan merupakan utang

Pasal 12 huruf e menunjuk pada Pasal 423 KUHP, Pasal 12 huruf f, rumusannya mengambil dari Pasal 425 ayat (1) KUHP dan Pasal 12 huruf g rumusannya dari Pasal 425 ayat (2) KUHP.

Perbuatan dalam Pasal 12 huruf f atau Pasal 425 ayat (1) tidak hanya dapat dilakukan oleh pegawai negeri yang dalam jabatannya berkewajiban atau berwenang menarik iuran uang, seperti misalnya pegawai kantor pajak, tetapi juga oleh seorang pegawai negeri yang sama sekali tidak berkewajiban atau wewenang untuk itu. Hanya saja, penarikan uang dan sebagainya itu harus dihubungkan dengan suatu pekerjaan dalam jabatannya, seolah-olah pada pekerjaan itu melekat suatu pembayaran uang yang harus dilayani. Termasuk pada golongan ini adalah perbuatan yang kerap dilakukan yaitu perbuatan pemungutan liar (pungli) yang dilakukan oleh seorang pegawai negeri (Badan Diklat Kejaksaan R.I, 2019:48).

e. Perbuatan Curang

Pasal 7 UU 20 Tahun 2001 merujuk pada Pasal 387 dan Pasal 388 KUHP yang kualifikasinya adalah melakukan perbuatan curang bagi pemborong, ahli bangunan dan pengawas, sehingga membahayakan keamanan orang atau barang dan membahayakan keselamatan negara.

1) Pasal 7 ayat 1

- huruf (a) (Pemborong Berbuat Curang)

“Pemborong, ahli bangunan yang pada waktu membuat bangunan, atau penjual bahan bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan bangunan, melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang, atau keselamatan negara dalam keadaan perang”

Dalam Pasal 7 ayat 1 huruf (a) ini, pemborong dan ahli bangunan pada saat membuat bangunan, atau penjal bahan bangunan commit to user

(21)

pada saat menyerahkan bahan bangunan dilarang melakukan perbuatan yang curang yang dapat membahayakan keamanan orang atau barang atau keselamatan negara dalam keadaan perang. Contoh perbuatan curang yang dilakukan adalah pemborong dalam melakukan pembangunan suatu bangunan tidak sesuai atau menyalahi ketentuan yang sudah diatur dan disepakati yang tertuang dalam surat perjanjian kerja atau leveransir bahan bangunan yang dipesan/dibeli darinya tidak sesuai dengan yang diperjanjikan. Sebenarnya perbuatan ini, dalam kaitan perjanjian jual-beli (dalam lingkup hukum perdata) apabila salah satu tidak memenuhi perjanjian wanprestasi. Tetapi hal ini dimasukkan dalam ranah hukum pidana karena perbuatan curang itu bersifat menipu, dan lebih khusus lagi dijadikan tindak pidana korupsi.

- huruf (b) (Pengawas Proyek Membiarkan Perbuatan Curang)

“Setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan bahan bangunan, sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam huruf a”

Dalam Pasal 7 huruf (b) setiap orang dianggap melakukan tindak pidana korupsi jika dengan sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaiamana diatur pada huruf (a) padahal ia diberi tugas untuk mengawasi pembangunan atau penyerahan bahan bangunan.

- huruf (c) (Rekanan TNI/Polri Berbuat Curang)

“Setiap orang yang pada waktu menyerahkan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia melakukan perbuatan curang yang dapat membahayakan keselamatan negara dalam keadaan perang”

- huruf (d) (Pengawas Rekanan TNI/Polri Berbuat Curang)

“Setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam huruf c”

2) Pasal 7 ayat 2 (Penerima Barang TNI/Polri Membiarkan Perbuatan Curang)

“Bagi orang yang menerima penyerahan bahan bangunan atau orang yang menerima penyerahan barang keperluan Tentara Nasional Indonesia dan atau Kepolisian Negara Republik Indonesia dan commit to user

(22)

membiarkan perbuatan curang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a atau huruf c, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)”

3) Pasal 12 huruf (h) (Pegawai Negeri Menyerobot Tanah Negara Sehingga Merugikan Orang Lain)

“Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang pada waktu menjalankan tugas, telah menggunakan tanah negara yang di atasnya terdapat hak pakai, seolah-olah sesuai dengan peraturan perundang- undangan, telah merugikan orang yang berhak, padahal diketahuinya bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan peraturan perundang- undangan”

Subjeknya ialah seseorang yang memiliki kapasitas sebagai pegawai negeri atau penyelenggara negara, dan perbuatan yang dilarang berupa menggunakan tanah negara. Sedangkan objeknya adalah tanah negara yang di atasnya terdapat hak pakai. Tanah negara adalah tanah yang dikuasai oleh negara. Hak pakai ialah untuk menggunakan dan atau memungut hasil dari tanah yang langsung dikuasai oleh negara, tanah milik orang lain yang memberi wewenang dan kewajiban yang ditentukan dalam pemberiannya oleh pejabat yang berwenang atau dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya yang bukan perjanjian sewamenyewa atau perjanjian pengolahan tanah, yang tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan undang-undang tentang peraturan dasar pokok agraria (Takasihaeng, Yoane. 2015:93).

f. Benturan Kepentingan Dalam Pengadaan

1) Pasal 12 huruf (i) (Pengawai Negeri Turut Serta Dalam Pengadaan Yang Diurusnya)

“Pegawai negeri atau penyelenggara negara baik langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut serta dalam pemborongan, pengadaan, atau persewaan, yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian ditugaskan untuk mengurus atau mengawasinya”

Dalam Pasal 12 huruf (i) ini, terdapat unsur-unsur yang menjadikan suatu perbuatan menjadi tindak pidana korupsi yaitu : a) Pegawai negeri atau penyelenggara negara

commit to user

(23)

b) Baik langsung maupun tidak langsung dengan sengaja turut serta dalam pemborongan, pengadaan atau persewaan

c) Yang pada saat dilakukan perbuatan, untuk seluruh atau sebagian ditugaskan untuk mengurusnya.

Dalam pasal ini yang menjadi subjek hukumnya yaitu pegawai negeri atau penyelenggara negara dilarang turut serta dalam pekerjaan pemborongan, pengadaan atau persewaan baik secara langsung maupun tidak langsung sedang yang bersangkutan justru ditugasi untuk mengurus atau mengawasinya.

g. Gratifikasi (Pasal 12B Jo Pasal 12C) (Pegawai Negeri Menerima Gratifikasi dan Tidak Lapor KPK)

- Pasal 12B ayat (1)

“Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut:

(a) yang nilainya Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih, pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi,

(b) yang nilainya kurang dari Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah), pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum.

Adapun yang dimaksud dengan gratifikasi sebagaimana dijelaskan dalam Penjelasan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa yang dimaksud dengan

“gratifikasi” adalah pemberian dalam arti luas, yaitu termasuk dalam pemberian uang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, fasilitas wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima didalam negeri maupun di luar negeri dan yang dilakukan dengan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik.

Maka dari ketentuan Pasal 12B ayat (1) tersebut diatas, ada 2 (dua) syarat, unsur atau kriteria adanya menerima gratifikasi yaitu yang pertama bahwa penerima gratifikasi haruslah ada hubungannya dengan jabatan, penyelenggara negara atau pegawai negeri (orang commit to user

(24)

yang memiliki jabatan), lalu yang kedua penerima gratifikasi itu harus berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menguraikan contoh- contoh pemberian yang dapat dikategorikan sebagai gratifikasi yang sering terjadi, yaitu :

a) pemberian parsel atau hadiah kepada pejabat pada hari raya keagamaan, oleh rekanan atau bawahannya.

b) hadiah atau sumbangan pada saat perkawinan anak dari pejabat oleh rekanan kantor pejabat tersebut.

c) pemberian tiket perjalanan pejabat atau keluarganya untuk keperluan pribadi secara cuma-Cuma

d) pemberian potongan harga khusus bagi pejabat untuk pembelian barang dari rekanan.

e) Pemberian biaya atau ongkos naik haji bagi pejabat.

f) Pemberian hadiah ulang tahun atau pada acara-acara pribadi lainnya dari rekanan.

g) pemberian hadiah atau souvenir kepada pejabat pada saat kunjungan kerja.

h) Pemberian hadiah atau uang sebagai ucapan terimakasih karena telah dibantu.

Selain definisi tindak pidana korupsi yang sudah dijelaskan di atas, masih ada tindak pidana lain yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi. Jenis tindak pidana lain itu tertuang pada Pasal 21, 22, 23, dan 24 Bab III Undang-Undang No 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yaitu sebagai berikut : a. Merintangi proses pemeriksaan perkara korupsi

Pasal 21 berbunyi :

“Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi, commit to user

(25)

dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas), tahun dan atau denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)”

Pasal 21 hakikatnya tidak berisi delik tentang tindak pidana korupsi karena yang dilarang adalah perbuatan mencegah, merintangi atau menggagalkan penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan sidang pengadilan perkara korupsi. Tapi karena yang dirintangi dan digagalkan pelaku adalah proses penegakan hukum perkara korupsi, maka Pasal tersebut disebut tindak pidana lain terkait tindak pidana korupsi (Gareda, Markhy S, 2015:137). Dalam pasal ini setiap orang dilarang dengan sengaja mencegah, merintangi atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung proses penyidikn, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi

b. Tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar

- Pasal 22 berbunyi :

"Setiap orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 29, Pasal 35, atau Pasal 36 yang dengan sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau denda paling sedikit Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)"

Penjelasan Pasal 22 yaitu :

a) terdakwa yang tidak memberikan keterangan atau memberikan keterangan yang tidak benar tentang seluruh harta bendanya dan harta benda istri atau suami, anak dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diketahui dan atau yang diduga mempunyai hubungan dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan tersangka.

b) bank yang tidak memberikan keterangan atau memberikan keterangan yang tidak benar untuk kepentingan penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan di sidang pengadilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim berwenang meminta keterangan. commit to user

(26)

c) orang yang menurut pekerjaan, harkat dan martabat atau jabatannya diwajibkan menyimpan rahasia, kecuali petugas agama yang menurut keyakinannya harus menyimpan rahasia tidak memberikan keterangan atau memberikan keterangan yang tidak benar.

c. Orang yang memegang rahasia jabatan tidak memberikan keterangan atau memberi keterangan palsu

Dalam perkara korupsi, pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 220 (mengatur tentang laporan palsu tentang suatu tindak pidana), Pasal 231 (mengatur tentang penyimpangan barang sitaan), Pasal 421 (mengatur tentang pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan untuk melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu), Pasal 422 (mengatur tentang seorang pejabat yang dalam suatu perkara pidana, menggunakan sarana paksaan baik untuk memeras pengakuan, maupun untuk mendapatkan keterangan), Pasal 429 (mengatur tentang menyalahgunakan kekuasaannya untuk memasuki rumah orang lain secara paksa) atau Pasal 430 (mengatur tentang seorang pejabat yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk merampas surat atau barang lain yang bersangkutan dengan hal tersebut) Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.

300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

d. Saksi yang membuka identitas pelapor - Pasal 24 berbunyi :

"Saksi yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (Seratus lima puluh juta rupiah)”

Dalam Pasal 24 ini mengatur mengenai saksi yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 yaitu commit to user

(27)

tentang larangan menyebut nama atau alamat pelapor, atau hal-hal lain yang memberikan kemungkinan dapat diketahuinya identitas pelapor.

2. Perbuatan yang masuk kriteria Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed)

Tindak pidana korupsi di Singapura diatur dalam The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) yang direvisi pada tahun 1993. Undang-undang Pencegahan Korupsi (PCA) di Singapura memberikan definisi yang sangat luas terhadap kata “Korupsi”. Paradigma korupsi adalah situasi yang melibatkan tiga pihak- A, penyuap; B, penerima suap; dan C, orang yang diberi tugas oleh B. tujuan A menyuap B adalah untuk membuat B bertindak untuk kepentingan A, dan melawan kepentingan C, yang melanggar kewajiban B. Hal ini terdapat pada pasal 6 Pencegahan Tindak Pidana Korupsi, dimana B disebut sebagai agen (baik di sektor publik maupun swasta), C sebagai prinsipal, dan suap sebagai gratifikasi(Tan Boon Gin,2007:3).

Pengertian korupsi di jelaskan dalam The Prevention of Corruption Act sebagai gratifikasi atau suap, yang didefinisikan dalam Section 2 atau Bagian 2. Sedangkan Jenis-jenis atau bentuk tindak pidana korupsi dalam The Prevention of Corruption Act (Chapter 241) Singapura ini diatur dalam Bagian III yaitu Offences and Penalties Punishment for Corruption atau bagian Pelanggaran dan Hukuman untuk korupsi. Secara spesifik bentuk – bentuk tindak pidana korupsi yang ada dalam The Prevention of Corruption Act (Chapter 241) Singapura ini diatur dalam Pasal 5 sampai Pasal 14.

Unsur-unsur dalam tindak pidana korupsi menurut The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) yaitu ( dikutip dari https://www.accaglobal.com/my/en/student/exam-support

resources/fundamentals-exams-study-resources/f4/technical-articles/sgp- corruption.html pada 4 februari 2021) :

a. pemberian atau penerimaan gratifikasi. Dalam Pasal 2 PCA gratifikasi memiliki definisi yang luas dan bermacam macam, korupsi di commit to user

(28)

Singapura secara luas didefinisikan sebagai suap yang ditawarkan sebagai imbalan atas bantuan. Suap bisa dalam bentuk moneter atau non-moneter. Manfaat moneter termasuk "hadiah, pinjaman, biaya, hadiah, komisi, keamanan berharga atau properti lain atau bunga dalam properti dengan deskripsi apa pun, baik yang dapat dipindahkan atau tidak bergerak". Manfaat non-moneter termasuk "layanan lain, bantuan, atau keuntungan dari deskripsi apa pun". Ini termasuk (dikutip dari https://www.cpib.gov.sg/about-corruption/prevention-of-corruption-act pada 2 Februari 2021 pukul 11:28):

1) Uang, hadiah, pinjaman, biaya, penghargaan, komisi, atau properti lain dalam deskripsi apa pun

2) Kantor, pekerjaan, atau kontrak apa pun

3) Setiap pembayaran, pelepasan, pelepasan, atau likuidasi pinjaman, kewajiban, atau kewajiban lainnya

4) Layanan lain, dukungan, atau keuntungan dari deskripsi apa pun 5) Setiap tawaran, usaha, atau janji kepuasan apa pun

b. sebagai bujukan atau hadiah atau karena terdakwa melakukan atau menahan untuk melakukan sesuatu. Unsur kedua ini mensyaratkan adanya konsensus atau hubungan sebab akibat antara gratifikasi dan tindakan gratifikasi yang dimaksudkan untuk diperoleh.

c. ada unsur korup dalam transaksi. Artinya kata keterangan "korup"

mensyaratkan adanya unsur korup dalam transaksi dan niat korup dari pihak yang memberi atau menerima gratifikasi atau bisa dikatakan ada unsur kesengajaan dalam transaksi.

d. Pemberi atau penerima gratifikasi memiliki pengetahuan yang bersalah.

Pengadilan Tinggi Chan Wing Seng v PP (4) menjelaskan unsur keempat sebagai berikut :

“Saya harus mengklarifikasi bahwa' niat korup 'sebenarnya mengacu pada apakah terdakwa tahu atau menyadari apa yang dia lakukan korup menurut standar biasa dan objektif. Ini adalah ujian subyektif dan rumusan yang lebih akurat dari apa yang dimaksud pengadilan ini ketika dinyatakan dalam PP v Khoo Yong Hak [5] bahwa 'pemberian harus disertai dengan commit to user

(29)

niat yang korup'. Dengan demikian, diperlukan pengetahuan yang bersalah. Mengingat hal tersebut di atas, menjadi jelas bahwa pemberi mungkin telah memberi, berpikir dan percaya bahwa tindakannya korup, tetapi tanpa sepengetahuan mereka, transaksi tersebut sah-sah saja. Demikian pula, sebuah transaksi dapat memiliki unsur korup, tetapi tidak ada pengetahuan yang bersalah karena si pemberi beroperasi di bawah kepercayaan yang salah bahwa memberi itu sah. Dalam kedua kasus tersebut, pelanggaran tidak akan dilakukan.

(dikutipdarihttps://www.cpib.gov.sg/aboutcorruption/prevention -of corruption-act pada 2 Februari 2021 pukul 11:35). "

Bentuk-bentuk perbuatan yang dilarang atau perbuatan yang termasuk dalam tindak pidana korupsi menurut The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) Singapura terbagi dalam penyuapan secara publik dan privat yang diatur dalam Section 5, Section 6 dan penyuapan pejabat publik dalam Section 11 dan Section 12 dalam Bagian III Pelanggaran dan Hukuman (Part III Offences and Penalties).

Bentuk-bentuk tindak pidana gratifikasi atau penyuapan tersebut yang diatur dalam Bagian III Pelanggaran dan Hukuman dalam The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) Singapura secara lebih rinci akan dibahas sebagai berikut :

a. Penyuapan Publik dan Privat (Bribery in Private and Public Sector) 1) Pasal 5/Section 5

Bunyi dari Section 5 adalah sebagai berikut :

“Any person who shall by himself or by or in conjunction with any other person —

(a) corruptly solicit or receive, or agree to receive for himself, or for any other person; or

(b) corruptly give, promise or offer to any person whether for the benefit of that person or of another person, any gratification as an inducement to or reward for, or otherwise on account of —

(i) any person doing or forbearing to do anything in respect of any matter or transaction whatsoever, actual or proposed; or

(ii) any member, officer or servant of a public body doing or forbearing to do anything in respect of any matter or transaction whatsoever, actual or proposed, in which such public body is concerned, commit to user

(30)

shall be guilty of an offence and shall be liable on conviction to a fine not exceeding $100,000 or to imprisonment for a term not exceeding 5 years or to both.”

Artinya :

“Setiap orang yang akan sendiri atau oleh atau dalam hubungannya dengan orang lain

(a) secara korup meminta atau menerima, atau setuju untuk menerima untuk dirinya sendiri, atau untuk orang lain orang;

atau

(b) memberi, menjanjikan atau menawarkan secara curang kepada siapa pun baik untuk kepentingan orang itu atau orang lain, gratifikasi apa pun sebagai bujukan atau hadiah untuk, atau sebaliknya karena –

(i) siapa pun yang melakukan atau menahan untuk melakukan apa pun sehubungan dengan masalah apa pun atau transaksi apa pun, aktual atau yang diusulkan; atau

(ii) setiap anggota, pejabat atau pelayan dari badan publik melakukan atau menolak untuk melakukannya apa pun sehubungan dengan masalah atau transaksi apa pun, aktual atau diusulkan, yang menyangkut badan publik tersebut, bersalah atas suatu pelanggaran

dan akan dikenakan hukuman denda tidak melebihi $ 100.000 atau penjara untuk jangka waktu tidak lebih dari 5 tahun atau keduanya.”

Dalam Section 5 PCA ini mengatur penyuapan aktif dan pasif oleh individu dan perusahaan di sektor publik maupun swasta.

diterangkan bahwa unsur-unsur pelanggaran terhadap tindak pidana korupsi yaitu :

a) setiap orang. Istilah orang didefinisikan dalam Singapore Interpretation Act yaitu termasuk dalam “perusahaan atau asosiasi atau orang, badan hukum atau perusahaan tidak berbadan hukum (WongPartnership LLP, 20919:9)”

b) secara korup (corruptly). Dalam unsur ini, yang dimaksud dengan kata “secara korup” artinya bahwa keterangan "korup"

mensyaratkan adanya unsur korup dalam transaksi dan niat korup atau adanya kesengajaan untuk memberi atau menerima gratifikasi. Sesuai pasal ini bahwa setiap orang dilarang secara korup meminta, menerima atau setuju untuk menerima untuk commit to user

(31)

dirinya sendiri atau untuk orang lain pada huruf (a), atau juga memberi, menjanjikan atau menawarkan secara curang kepada siapapun untuk kepentingan orang itu atau orang lain pada huruf (b).

c) gratifikasi apapun sebagai bujukan atau hadiah. Sesuai dalam Section 2 The Prevention of Corruption Act (Chapter 241) Singapura, yang dimaksud dengan gratifikasi adalah untuk memasukkan uang, hadiah, pinjaman, biaya, penghargaan, dan lainnya.

d) Sehingga dari akibat penyuapan aktif maupun pasif yang diatur dalam huruf (a) dan huruf (b) tersebut, membuat siapa pun yang melakukan atau menahan untuk melakukan apa pun sehubungan dengan masalah apa pun atau transaksi apa pun, aktual atau yang diusulkan, ataupun membuat setiap anggota, pejabat atau pelayan dari badan publik melakukan atau menolak untuk melakukannya apa pun sehubungan dengan masalah atau transaksi apa pun, aktual atau diusulkan, yang menyangkut badan publik tersebut, bersalah atas suatu pelanggaran.

Contoh kasus korupsi di sektor privat sebagaimana diatur dalam section 5 yaitu kasus penyuapan yang dilakukan oleh pemilik usaha penyedia makanan laut yang menyuap 19 koki rumah makan terkenal di Singapura. Tay Ee Tiong adalah pemilik Wealthy Seafood Product and Enterprise yang mendekati para koki yang memiliki wewenang untuk memilih pemasok makanan laut di rumah makan dimana mereka bekerja dijanjikan komisi, berdasarkan persentase dari total nilai produk makanan laut yang dibeli. Koki akan menerima uang tunai dari Tay setiap dua hingga tiga bulan sekali. Sebagai imbalannya, mereka akan terus memesan makanan laut dari perusahaan Tay. Investigasi CPIB menemukan bahwa dari Februari 2006 dan Agustus 2009, Tay telah memberikan suap kepada 19 koki mulai dari S $ 200 dan S $ commit to user

(32)

24.000. Tay Ee Tiong akhirnya didakwa dengan 223 dakwaan korupsi dan dijatuhi hukuman 18 bulan penjara pada September 2011 karena memberikan suap hampir S $ 1 juta. Koki yang terlibat juga dihukum karena menerima suap dari Tay secara korup dan menerima hukuman masing-masing, kecuali satu yang dibebaskan(https://www.cpib.gov.sg/aboutcorruption/prevention- of-corruption-act diakses pada 16 Maret 2020 pukul 18.30)

Jadi berdasakan Pasal 5 The Prevention of Corruption Act Singapura, diatur mengenai larangan melakukan penyuapan baik di sektor privat yang diatur dalam Pasal 5/Article 5 hurif (i) dan juga di sektor publik yang diatur dalam Pasal 6/ article 6 huruf (ii). Setiap orang (orang perseorangan, korporasi berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum) dan juga setiap anggota, pejabat atau pelayan dari badan publik dilarang secara korup atau dengan niat korup atau dengan sengaja meminta atau menerima atau setuju menerima untuk dirinya sendiri ataupun untuk orang lain dan juga memberi, menjanjikan atau menawarkan secara curang gratifikasi, kepada siapapun untuk kepentingan orang itu atau orang lain sebagai bujukan atau hadiah untuk melakukan atau menahan untuk melakukan sesuatu.

2) Pasal 6/ Section 6 ( Transaksi korup dengan agen) Bunyi dari Pasal 6/Article 6 adalah sebagai berikut :

“If —

(a) any agent corruptly accepts or obtains, or agrees to accept or attempts to obtain, from any person, for himself or for any other person, any gratification as an inducement or reward for doing or forbearing to do, or for having done or forborne to do, any act in relation to his principal’s affairs or business, or for showing or forbearing to show favour or disfavour to any person in relation to his principal’s affairs or business;

(b) any person corruptly gives or agrees to give or offers any gratification to any agent as an inducement or reward for doing or forbearing to do, or for having done or forborne to do any act in relation to his principal’s affairs or business, or for showing or forbearing to show favour or disfavour to commit to user

(33)

any person in relation to his principal’s affairs or business;

or

(c) any person knowingly gives to an agent, or if an agent knowingly uses with intent to deceive his principal, any receipt, account or other document in respect of which the principal is interested, and which contains any statement which is false or erroneous or defective in any material particular, and which to his knowledge is intended to mislead the principal,

he shall be guilty of an offence and shall be liable on conviction to a fine not exceeding

$100,000 or to imprisonment for a term not exceeding 5 years or to both.”

Artinya :

“Jika –

(a) agen mana pun secara korup menerima atau memperoleh, atau setuju untuk menerima atau mencoba mendapatkan, dari siapa pun, untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, apa pun gratifikasi sebagai bujukan atau hadiah untuk melakukan atau menahan untuk melakukan, atau karena telah melakukan atau meneruskan untuk melakukan, tindakan apa pun yang berhubungan dengan

“principal”nya urusan atau bisnis, atau untuk menunjukkan atau menahan untuk menunjukkan dukungan atau ketidaksukaan kepada siapa pun sehubungan dengan urusan atau bisnis utamanya;

(b) setiap orang dengan korup memberi atau setuju untuk memberi atau menawarkan kepuasan apapun agen mana pun sebagai bujukan atau penghargaan untuk melakukan atau menahan diri untuk melakukan, atau untuk telah melakukan atau menyerahkan untuk melakukan tindakan apa pun yang berkaitan dengan urusan prinsipal atau bisnis, atau untuk menunjukkan atau menahan untuk menunjukkan dukungan atau ketidaksukaan kepada siapa pun yang terkait dengan urusan atau bisnis utamanya; atau (c) setiap orang dengan sengaja memberi kepada agen, atau

jika agen dengan sengaja menggunakan bermaksud untuk menipu prinsipalnya, setiap kuitansi, rekening, atau dokumen lain di rasa hormat yang diminati oleh prinsipalnya, dan yang berisi apa saja pernyataan yang salah atau keliru atau cacat dalam materi apa pun tertentu, dan yang menurut pengetahuannya dimaksudkan untuk menyesatkan atasannya, dia akan bersalah karena suatu pelanggaran dan akan dikenakan hukuman denda tidak melebihi $ 100.000 atau penjara untuk jangka waktu tidak melebihi 5 tahun atau keduanya.” commit to user

(34)

Dalam Section 6 PCA ini mengatur penyuapan aktif dan pasif yang berhubungan dengan “agen”. Pasal ini menerangkan bahwa unsur-unsur pelanggaran terhadap tindak pidana korupsi yaitu : a) Dalam Section 6 huruf (a) ini, yang menjadi subjek hukumnya

adalah “agen”. Sesuai penjelasan yang diatur dalam Bagian I The Prevention Of Corruption Act (PCA) (Cap 241, 1993 Rev Ed) Singapura mengenai interpretation, yang dimaksud sebagai agen yaitu “setiap orang yang dipekerjakan oleh atau bertindak untuk orang lain, dan termasuk wali amanat, administrator dan pelaksana, dan orang yang melayani Pemerintah atau di bawah perusahaan atau badan publik mana pun, dan untuk tujuan bagian 8 termasuk subkontraktor dan setiap orang yang dipekerjakan oleh atau bertindak untuk subkontraktor tersebut;”. Dalam Pasal 6 huruf (a) ini adalah bentuk penyuapan pasif, dimana “agen”

dianggap melakukan pelanggaran jika secara korup menerima atau memperoleh, atau setuju untuk menerima atau mencoba mendapatkan, dari siapa pun, untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, apa pun gratifikasi sebagai bujukan atau hadiah untuk melakukan atau menahan untuk melakukan, atau karena telah melakukan atau meneruskan untuk melakukan, tindakan apa pun yang berhubungan dengan prinsipnya urusan atau bisnis, atau untuk menunjukkan atau menahan untuk menunjukkan dukungan atau ketidaksukaan kepada siapa pun sehubungan dengan urusan atau bisnis utamanya.

b) Lalu dalam Section 6 huruf (b) yang menjadi subjek hukumnya yaitu setiap orang, sebagaimana dijelaskan bahwa arti dari setiap orang yaitu perusahaan atau asosiasi atau orang, badan hukum atau perusahaan tidak berbadan hukum (Wong Partnership LLP,2019:9). Dalam pasal 6 (b) ini diklasifikasikan sebagai penyuapan aktif, singkatnya, bagian 6 (b) mengkriminalkan tindakan menawarkan secara korup yang menyetujui memberi commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Telah diuraikan sebelumnya bahwa tindak pidana korupsi “pemerasan” berbeda dengan tindak pidana korupsi “suap” juga dengan tindak pidana korupsi

Hakim Arini mengatakan bahwa Pasal 3 Undang-Undang No.31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No.20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi yang menyebutkan , “Setiap

Hakim Arini mengatakan bahwa Pasal 3 Undang-Undang No.31 Tahun 1999 jo Undang-Undang No.20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi yang menyebutkan, “Setiap

“Tindak pidana korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah

Karena isi Pasal 68 UU Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi “Semua tindakan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan tindak

Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan

Dalam pasal 12 B ayat 1 Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, mengatakan bahwa setiap

Unsur-Unsur Tindak Pidana Korupsi Tindak pidana korupsi menurut undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang- undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.,