• Tidak ada hasil yang ditemukan

Percaturan Politik NU dari 1981 Hingga Kembalinya ke

BAB IV PERAN KH. ALI MA’SHUM DALAM TUBUH NU

A. Percaturan Politik NU dari 1981 Hingga Kembalinya ke

perjuangan-perjuangan kepentingan dan upaya memperoleh dan mempertahankan kekuasaan secara terbuka. Pergulatan semacam ini bukan hanya sebatas pada hubungan dengan kekuatan lain, melainkan pula terjadi di dalam organisasi NU sendiri. Sebenarnya, setelah berfungsinya NU dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bersama tiga kekuatan politik Islam lainnya, NU telah kembali sebagai

jam’iyah dinniyah sebagaimana semula. Tetapi organisasi ini tetap saja bergulat di dunia politik praktis.57

Dalam buku “NU, Kritisisme dan Pergeseran Makna Aswaja” Badrun Alaena mengatakan bahwa NU merupakan salah satu organisasi yang sepanjang perjalanannya mengalami perubahan orientasi dan bentuk. Ia lahir sebagai organisasi sosial-keagamaan. Namun tumbuh, berkembang dan menjadi besar setelah terlibat aktif dalam gelanggang politik praktis. Perubahan-perubahan yang dilakukan itu di satu sisi menunjukkan bahwa NU ternyata mampu beradaptasi dengan perubahan situasional, namun di sisi lain, perubahan seperti itu justru semakin memperkuat asumsi bahwa NU dipandang berwatak dualistik.

Jika dicermati secara seksama, perubahan-perubahan yang dilakukan itu ternyata bukan hanya menyangkut persoalan “identitas” organisasi. Akan tetapi, perubahan-perubahan itu juga bisa kita temukan pada sejumlah kasus yang berhubungan dengan kebijakan-kebijakan yang diambil, terutama sekali yang berhubungan dengan masalah politik. Pada satu saat NU tampak sebagai organisasi yang begitu akomodatif dan bahkan kompromistik dengan kekuasaan. Namun pada saat yang berlainan ia justru memperlihatkan sosok yang begitu kritis dan militan.58

Keterlibatan NU dalam proses perjuangan kepentingan dan memperoleh serta mempertahankan kekuasaan di dunia politik nampak nyata. Nampak jelas pula ketika NU berfusi di PPP. Harapan terciptanya kepaduan perjuangan politik bagi kekuatan Islam di PPP rupanya tinggallah harapan. Tidak lama setelah berfusi di organisasi ini dilanda gejolak internal. Gejala seperti ini memang bukan hanya di PPP. PDI pun dilanda gejolak internal yang cukup panjang. Di PPP, konflik mulai menyeruak ke

57

Kacung Marijan, Quo Vadis NU setelah Kembali ke Khittah 1926, ERLANGGA, Jakarta, 1992, h. 110.

58

Badrun Alaena, NU, Kritisisme dan Pergeseran Makna Aswaja, Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 2000, h. 65.

permukaan setelah pemilu 1977.59 Begitu juga ketika NU gagal memperjuangkan kepentingannya di PPP dalam daftar calon di DPR pada pemilu 1982, organisasi ini merasa perlu untuk merumuskan kembali hubungannya dengan pemerintah secara lebih akrab.60

Pemilu 1982 ditandai oleh putusnya hubungan antara para ulama dengan PPP yang dipimpin oleh John Naro. Menjelang pemilu, Naro mengusulkan agar pembagian kursi dihitung berdasarkan hasil pemilu 1955. NU meminta agar pembagian kursi didasarkan pada hasil pemilu tahun 1977, saat Parmusi tampak sangat lemah dibanding Masyumi.

Pertikaian menjadi semakin seru ketika pada tanggal 27 Oktober 1981, Naro menyerahkan daftar caleg PPP kepada pemerintah dengan 29 caleg NU ditempatkan pada urutan terbawah hingga kemungkinan untuk terpilih bisa dikatakan tidak ada. Rasa tidak puas itu masih ditambah lagi oleh kepahitan yang disebabkan oleh dominasi kaum pembaharu, dalam hal ini MI.61

NU ingin mempertahankan status-quo, sementara MI dan unsur-unsur lainnya ingin memperoleh tambahan jatah kursi. Komposisi distribusi di DPR NU: 56, SI: 14 dan Perti: 4, hendak dipertahankan NU. Menggambarkan suasana saling ngotot, Saifuddin Zuhri mengatakan:

Dalam kesempatan bermusyawarah berkali-kali antara NU, MI, SI dan Perti, meja musyawarah itu tidak dipergunakan untuk forum mengadu hujjah menggelar argumentasi. Forum itu Cuma gebrak-gebrakkan untuk menuntut NU tidak menjadi kekuatan mayoritas terhadap ketiga rekannya MI, SI dan Perti bila yang tiga itu bersatu.

Mengomentari terjadinya gejolak di PPP, Mahrus Irsyam melihatnya karena kian terbatas dan kecilnya ruang gerak distribusi kekuatan di PPP. Bahkan, pola

59

Kacung Marijan, Quo Vadis NU setelah kembali ke Khittah 1926, h. 111.

60

Badrun Alaena, NU, Kritisisme dan Pergeseran Makna Aswaja, h. 68.

61

Andree Feillard, NU Via-a-vis Negara; Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, LKIS, Yogyakarta, 1999, h. 221, 222, 223.

gejolak pun tercermin di dalam ruang gerak distribusi kekuatan lain. Lebih jauh ia mengatakan:

Setelah parpol-parpol Islam berfusi di dalam PPP, maka alokasi kekuatan wilayahnya meliputi jalur: unsur-PPP-Fraksi/DPR. Di dalam jalur itulah didistribusikan dan diaktualisasikan kekuatan. Proses distribusi dan aktualisasi kekuatan membentuk rangkaian mata rantai yang berawal dari pengolelolaan/eksploitasi potensi unsur, guna mendapatkan distribusi kekuasaan di PPP, kemudian berlanjut untuk memperoleh distribusi kekuasaan di fraksi serta pada akhirnya berusaha memasuki mekanisme kelengkapan DPR. Rangkaian mata rantai itu membentuk ruang gerak yang terbatas dan distribusi kekuatan yang kecil.

Model ruang gerak distribusi kekuatan itu pula yang dipakai oleh Mahrus Irsyam untuk menganalisis gejolak internal NU, selain melihat pilar-pilar kekuatan di NU sendiri.62

Pergolakan politik yang dihadapi NU pada saat itu sebenarnya bukan hanya dari kalangan intern kelompok Islam sendiri, melainkan ada suatu kelompok lain di luar ormas Islam yang menyebabkan kalangan NU mengalami percaturan politik yang lebih rumit. Bagaimana tidak, di satu sisi NU harus menghadapi persaingan politik sesama kelompok Islam di PPP, di sisi lain NU harus menghadapi kebijakan orde baru yang terkesan memojokkan NU. Andree Feillard mengatakan bahwa kendala-kendala baru di bidang politik bagi NU pada saat itu bertambah. Lurah di desa terkadang melarang pemasangan papan nama yang bertuliskan Nahdlatul Ulama di depan kantornya atau di muka sekolah, atau menghalangi pertemuan-pertemuan rutin. Interogasi kepolisian yang kadang-kadang menyusul pertemuan NU membuat anggota yang tidak begitu bersemangat menjadi kehilangan keberanian.63

Atas persoalan ini maka sebagian dari beberapa tokoh NU mengambil sikap dengan berusaha mempergiat usaha-usaha di bidang sosial sambil menyesuaikan diri dengan identitas baru organisasi keagamaan (jam’iyah). Setidaknya salah satu hal

62

Kacung Marijan, Quo Vadis NU setelah Kembali ke Khittah 1925, h. 116, 117.

63

inilah yang pada akhirnya mendorong kalangan NU untuk mengembalikan NU pada Khittahnya tahun 1926.

Ketika perebutan antara MI dan NU semakin gencar, Rais ‘Am KH. Bisri Syansuri meninggal dunia tanggal 25 April 1980. Setelah KH. Bisri Syansuri wafat, muncul upaya-upaya yang tidak terorganisir dari NU untuk mempertahankan posisinya di tubuh PPP. Oposisi NU kembali jatuh ke tangan orang-orang politik dari kubu radikal. Kepergian KH. Bisri Syansuri juga berakibat pada rusaknya keseimbangan antara kelompok sosial-keagamaan dan kelompok politik. Sebagai Rais ‘Am dan juga sekaligus sebagai anggota DPR dan anggota Majelis Pertimbangan Partai, KH. Bisri Syansuri merupakan jembatan antara kedua dunia tersebut. Melalui Kiai ini, dunia pasantren terus menguasai atau berusaha menguasai dunia orang-orang politik.

Pada tahun yang sama, KH. Achmad Siddiq, seorang kiai cendekia dari Jember Jawa Timur dan berasal dari keluarga besar NU menerbitkan gagasan pertamanya mengenai pentingnya pengembalian kekuasaan organisasi ke tangan para ulama. Ia menganjurkan “kembali ke khittah para pendiri NU tahun 1926”.64 Dalam sebuah buku kecil yang berjudul Khittah Nahdliyah, ia menjelaskan betapa pentingnya mendefinisikan kembali khittah atau semangat ini dengan beberapa pertimbangan:

1. makin jaunya jarak waktu antara generasi pendiri dengan generasi penerus. 2. makin luasnya medan perjuangan dan banyaknya jumlah serta macam bidang

yang ditangani.

64

3. makin banyaknya jumlah dan macam ragam mereka yang menggabungkan diri pada Nahdlatul Ulama, dengan latar belakang pendidikan dan subkultur yang berbeda-beda.

4. makin berkurangnya peranan dan jumlah ulama generasi pendiri dalam pimpinan Nahdlatul Ulama.65

Retrospeksi terhadap pergulatan politik NU sebenarnya telah lama dilakukan oleh orang-orang NU sendiri. Secara resmi, ini terungkap pada Muktamar ke-22 di Jakarta pada 13-18 Desember 1959. Pada saat pemandangan umum memasuki hari ketiga yang dipimpin oleh H. Ahmad Syaichu, ada gagasan yang ketika itu dinilai aneh. Gagasan ini datang dari KH. Achyat Chalimi, selaku juru bicara Cabang Mojokerto yang kebetulan memperoleh kesempatan pertama dari 68 cabang yang hadir. KH. Achyat Chalimi antara lain mengatakan “Peranan politik oleh Partai NU telah hilang dan peranan dipegang oleh perorangan, hingga partai sebagai alat sudah hilang. Oleh karena itu, diusulkan agar NU kembali pada tahun 1926. Tidak berbeda dengan penilaian para ulama lain di kemudian hari, gagasan ini didasari oleh pertimbangan bahwa selama ini NU terlampau mengedepankan urusan politik yang kenyataannya bukan semata-mata bagi kepentingan organisasi melainkan pola untuk kepentingan pribadi daripada urusan sosial keagamaan yang justru pernah menjadi urusan dominan pada awal berdirinya.66

Seiring jalannya waktu, ide kembalinya khittah NU 1926 sering didengungkan dari satu Muktamar ke Muktamar lain, dalam satu periode ke periode lain. Namun gagasan itu nampak begitu santer terdengar pada akhir tahun 70-an. Klimaksnya pada tahun 1982, di mana gagasan untuk kembali ke khittah 1926 memperoleh dukungan dari kelompok idealis yang kecewa terhadap PPP. Pada tanggal 21 Desember 1983

65

Achmad Siddiq, Khittah Nahdliyah, LTN NU, Surabaya, 2005, h. 7.

66

saat Munas Alim Ulama di Podok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Sukorejo, Situbondo, kembali ke khittah 1926 justru menjadi salah satu agenda utama. Bahkan, salah satu di antara tiga komisi bernama Komisi Khittah (Komisi II) yang membahas landasan perjuangan NU, termasuk di dalamnya persoalan asas tunggal dan struktur organisasi NU.

Materi pemulihan khittah sebenarnya telah lama digodog dan yang terakhir dirumuskan oleh Tim Tujuh. Semua orang yang terlibat dalam Tim Tujuh ini merupakan “Generasi Ketiga”. Ini merupakan intelektual muda NU, yang tidak hanya bersentuhan dengan nilai-nilai pesantren, melainkan pula nilai-nilai lain yang kosmopolit sifatnya. Kelompok inilah yang secara konsepsional, merumuskan khittah 1926. Para ulama (nonpolitisi) mendukung para intelektual muda NU ini, karena dasar pemikiran kembali ke khittah 1926 berarti pula mengembalikan posisi ulama ke peran yang lebih besar lagi.67 Kembalinya khittah NU akan berakibat pada makin luasnya ulama NU dalam memainkan peranannya di tubuh NU, hingga NU akan kembali menjadi suatu organisasi yang concern mengurusi empat hal penting yaitu; persoalan keagamaan, sosial kemasyarakatan, pendidikan dan ekonomi. Kembalinya khittah NU juga akan berpengaruh pada makin kuatnya ikatan sesama warga NU secara intern. Lebih dari itu, dengan kembalinya NU pada khittahnya, berarti secara kelembagaan organisasi NU tidak lagi melibatkan diri dalam kancah politik. Walau demikian NU tetap memberikan kebebasan kepada setiap warganya untuk ikut berpartisipasi dalam politik. Ini berarti setiap warga NU bebas memilih partai sebagai media politiknya dan tidak lagi terikat dalam satu pertai yaitu PPP an-sich. Ini bisa dikatakan bahwa walaupun NU kembali ke khittahnya, NU tetap ada di mana-mana dan tetap terjaga eksistensinya.

67

Dokumen terkait