BAB III KH. ALI MA’SHUM DAN NU
B. Perkembangan NU Pasca Kelahirannya
Dilihat dari beberapa interpretasi mengenai latar belakang berdirinya NU di atas, bisa dipahami bahwa berdirinya organisasi ini dilatarbelakangi oleh situasi atau keadaan sosial yang sangat kompleks.
B. Perkembangan NU Pasca Kelahirannya
Pada perkembangannya, NU bukanlah suatu perkumpulan yang berorientasi pada kegiatan politik praktis (politic oriented). Walau demikian, bukan berarti organisasi sosial keagamaan ini lepas sama sekali terhadap isu-isu kebangsaan, apalagi organisasi ini didirikan sebelum kemerdekaan. Sejak kelahirannya, perhatian NU tidak terbatas pada persoalan dalam negeri saja, melainkan persoalan-persoalan luar negeri yang menyangkut atau mempunyai hubungan dengan persoalan-persoalan umat Islam Indonesia.42
40
Sejak awal, Belanda selalu memperoleh perlawanan rakyat. Dalam perlawanan ini, para pemimpin agama (Ulama, Kiai) cukup besar, seperti, Perang diponegoro, Perang Paderi, Pemberontakan di Banten dan lain-lain.
41
M. Dachlan, Riwayat Singkat Nahdlatul Ulama, Berita Nahdlatoel Oelama, Surabaja, 1931, h. 30.
42
Untuk memudahkan penulis dalam menginterpretasikan perkembangan NU pasca kelahirannya, maka penulis mencoba membagi dua periode perjalanan organisasi ini, yaitu periode sebelum dan sesudah kemerdekaan.
Sebelum kemerdekaan, yang menjadi perhatian NU bukan hanya persoalan-persoalan sosial keagamaan, lebih dari itu, persoalan-persoalan-persoalan-persoalan yang menyangkut perjuangan untuk menuntut kemerdekaan juga dilakukan, walaupun dengan melalui tindakan kooperatif terhadap Belanda. Dalam surat kabar NU yang diterbitkan pada kisaran tahun 1929 hingga 1934 ditulis bahwa; walaupun NU tidak memprokalamirkan diri sebagai partai politik, bukan berarti dalam usaha perjuangannya terbatas pada soal-soal ubudiyah, tetapi juga persoalan-persoalan yang langsung berhubungan dengan peri-kehidupan Umat Islam khsususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, misalnya penolakan NU terhadap diadakannya kerja rodi, ordonansi guru, ordonansi perkawinan, pemindahan hak dalam pembagian waris, persoalan milisi dan lain-lain.43
Hilmy Muhammadiyah dan Sulthan Fatoni dalam bukunya menyatakan bahwa pada masa awal berdirinya, NU menitikberatkan perjuangannya di bidang pendidikan, social dan perekonomian. Para ulama berbasis pesantren mulai berfikir mengupayakan terwujudnya sarana dan prasarana mendasar masyarakat agar dapat menjalankan aktivitas ritualnya dengan baik. NU berupaya mendirikan lembaga-lembaga sosial sebagai solusi atas problem kemasyarakatan. Sedangkan di bidang pendidikan, NU berupaya memperbanyak pendirian lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis Islam. Pada praktiknya, NU mendorong terjadinya pembaruan pendidikan dan kerja-kerja kreatif. Sistem madrasah/sekolah diperkenalkan dengan tetap melestarikan sistem pendidikan ala pesantren. Di bidang perekonomian, NU
43
berusaha melakukan modernisasi di bidang pertanian, perdagangan dan industri. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan mendirikan badan-badan usaha; misalnya koperasi atau badan usaha lainnya. Realisasi program kerja hasil muktamar NU II yang cukup besar adalah keberhasilannya mengirimkan delegasi khusus ke Saudi Arabia yang sempat tertunda selama dua tahun.44
Pada masa sebelum kemerdekaan, NU telah berkali-kali mengadakan kongresnya dengan mengambil beberapa keputusan untuk perbaikan bangsa Indonesia umumnya dan umat Islam khususnya. Hal-hal yang berkaitan dengan masalah perpolitikan juga tidak lepas dari kegiatan NU. Memang, NU didirikan bukan sebagai partai politik seperti yang telah disebutkan di atas, namun bukan berarti NU sama sekali tidak respek terhadap hal-hal yang berbau politik, apalagi kalau sudah menyangkut kepentingan rakyat. Salah satu sikap NU yang menyangkut persoalan politik ialah ketika NU bersama-sama dengan GAPI menuntut kepada Pemerintah Hindia Belanda,agar Indonesia Berperlement.45 Termasuk penolakannya terhadap ordonansi perkawinan, ordonansi guru, masalah waris dan lain-lain seperti yang telah disebutkan di atas.
Sebelum kemerdekaan, persinggungan NU dengan kekuasaan sering terjadi dalam konteks social keagamaan dibanding kepentingan politik. Beberapa kasus menunjukkan bahwa NU terkadang bersikap akomodatif terhadap penguasa tetapi terkadang juga bersikap konfrontatif terhadapa kolonial Hindia Belanda. Meskipun sikap tersebut terkesan oportunistik, namun NU selalu berupaya meletakkan sikapnya di atas landasan argumen-argumen agama. Sehingga langkah-langkah NU dalam kenyataannya mempunyai ekses sosial yang luas akibat dilegitimasi oleh agama.46
44
Hilmy Muhammadiyah, Sulthan Fatoni, NU; Identitas Islam Indonesia, Elsas, Jakarta, 2004, h. 122.
45
KH. M. Dachlan, Riwayat Singkat Nahdlatul Ulama, h. 31.
46
Yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa NU sejak kelahirannya pada masa sebelum kemerdekaan telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Dari mulai banyaknya pengikut, banyaknya madrasah yang didirikan dalam setiap cabang dan rantingnya,47 beberapa koperasi dan badan usaha hingga pengaruhnya dalam wilayah sosial dan politik. Sebagai organisasi yang terbesar semenjak didirikannya, NU tidak bisa dipandang sebelah mata baik oleh tokoh-tokoh dari kalangan Indonesia maupun dari pemerintah Hindia Belanda.
Adapun perkembangan NU pada masa setelah kemerdekaan ditandai oleh keterlibatannya dalam kancah politik yang lebih besar. Keutuhan Masyumi sebagai satu-satunya partai Islam tidak berlangsung lama. Perbedaan kepentingan berbagai pihak yang terdapat di dalamnya segera menyeruak dan mengabaikan kesatuan. Maka, sebutan bagi Masyumi sebagai satu-satunya partai Islam segera tidak berlaku lagi. Retaknya Masyumi yang menyeruak ke permukaan bermula dari pergantian cabinet, dari Sutan Sjahrir ke Amir Syarifuddin pada tanggal 3 Juli 1947. Akhirnya pada tanggal 28 April 1952 NU mendirikan partai sendiri, yaitu lima tahun setelah Sarikat Islam memutuskan untuk mendirikan partai sendiri.48
Pada pemilu tahun 1955, NU mendapat sukses yang luar biasa. Dari 8 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara meningkat menjadi 45 kursi dengan 18,4% suara, tepat di belakang Masyumi (20,9%), Partai Nasional Indonesia (22,3%) dan berada di depan Partai Komunis Indonesia (16,4%. Partai-partai lainnya hanya mendapat kurang dari 3% suara. Keenam partai Islam bersama, termasuk NU, mencapai 43,9% suara.
Pada tanggal 11 Maret, NU menyatakan bersedia menerima sebuah cabinet yang dipimpin Hatta seperti diusulkan oleh Masyumi dan PSI. Pada akhir Juni Sidang
47
KH. M. Dachlan, Riwayat Singkat Nahdlatul Ulama, h. 31.
48
Partai NU memutuskan keikutsertaan warga NU dalam Kabinet dipandang sebagai mendahulukan usaha mencegah datangnya madlarat yang lebih besar, hal mana sesuai dengan kaidah dar’ al-mafaasid muqaddamun ‘ala jalbil masalih.49
Pada saat kehidupan perpolitikan di Indonesia secara umum mengalami tantangan, presiden Suharto sebagai pemegang amanat Orde Baru melakukan restrukturisasi parpol50 menuju penyederhanaan pada 7 Februari 1970. Seruan ini dilanjutkan pada 27 Februari 1970 lewat dialog, konsultasi dengan partai-partai politik yang membahas gagasan tentang pengelompokan partai-partai.
Seiring jalannya waktu, akhirnya sebuah fusi disepakati, karena ini hal yang tak mungkin dihindari. Berbagai macam pertemuan dilangsungkan, sebagai langkah membidani lahirnya partai baru. Pada hari Jumat, 5 Januari 1973, pimpinan keempat parpol yang berkonfederasi dalam rapat Presidium Badan Pekerja dan Pimpinan Fraksi telah sepakat untuk memfusikan diri ke dalam satu parpol “Partai Persatuan Pembangunan (PPP).51
Secara keseluruhan, NU merupakan salah satu organisasi yang sepanjang perjalanan sejarahnya senantiasa mengalami perubahan orientasi dan bentuk. Ia lahir sebagai organisasi sosial keagamaan, namun tumbuh, berkembang dan menjadi besar setelah terlibat aktif dalam gelanggang politik praktis. Perubahan-perubahan yang dilakukan itu, di satu sisi menunjukkan bahwa NU ternyata mampu beradaptasi dengan perubahan situasional, namun di sisi lain, perubahan seperti itu justru semakin memperkuat asumsi bahwa NU dipandang tidak mempunyai pendirian, tidak konsisten dan berwatak dualistik.
49
Andree Feilard, NU vis-avis Negara; Pencarian Isi, Bentuk dan Makna, LKIS, Yogyakarta, 1999, h. 49, 52.
50
A. Zuhdi Mukhdlor, KH. Ali Ma’shum; Perjuangan dan Pemikiran-Pemikirannya, Multi Karya Grafika, Yogyakarta, 1989, h. 86.
51
Jika dicermati secara seksama, perubahan-perubahan yang dilakukan itu ternyata bukan hanya menyangkut persoalan “identitas” organisasi. Akan tetapi, perubahan-perubahan itu juga bisa ditemukan pada sejumlah kasus yang berhubungan dengan kebijakan-kebijakan yang diambil, terutama sekali yang berkaitan dengan masalah politik. Pada satu saat, NU tampak sebagai organisasi yang begitu akomodatif dan bahkan kompromistik dengan kekuasaan. Namun pada saat yang berlainan, ia justru memperlihatkan sosok yang begitu kritis dan militan. Pada tahun 70-an barangkali NU-lah satu-satunya ormas Islam dan sebagai salah satu unsur terpenting Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang relatif kritis dan vokal dalam melihat kebijakan-kebijakan pemerintah..52
Di atas merupakan gambaran singkat mengenai perkembangan NU pasca kelahirannya. Kiprah dan perjalanan NU pada masa sesudahnya akan dibahas pada sub-bab berikutnya, yaitu mengenai percaturan politik NU dari 1981 hingga kembalinya ke Khittah NU (1926).