• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perceraian Yang Terjadi Di Luar Prosedur Hukum

Dalam dokumen Buku Ajar HUKUM PERKAWINAN (Halaman 126-130)

tanggal 15 Februari 1933

B. Perceraian Yang Terjadi Di Luar Prosedur Hukum

Terjadinya perceraian di luar prosedur hukum perkawinan nasional yang dilakukan oleh suami dengan cara menjatuhkan talak kepada isteri, baik yang terjadi dalam rumah tangga mereka sendiri, maupun yang terjadi disaat penyelesaian perselisihan secara damai oleh pihak orang tuanya, pemangku adat gampong, Tengku Imam Chik atau ulama dayah dan pada saat perdamaian yang dilakukan

113

oleh pihak Kantor Urusan Agama Kecamatan. Perceraian diluar prosedur perkawinan/ diluar Mahkamah Syar’iyah dinilai sangat mudah dan tidak berbelit-belit serta tidak ada sanksi hukum apapun bagi pelanggarnya. Berbeda halnya dengan pelaksanaan perceraian melalui Mahkamah Syar’iyah dengan menempuh prosedur yang panjang, membutuhkan biaya dan proses yang berbelit-belit, sehingga sangat sulit di tempuh oleh orang yang ingin bercerai.

Dalam hal mengantisipasi tingkat perceraian yang terjadi sesuai atau di luar prosedur hukum perkawinan nasional, maka dilakukan tahapan-tahapan penyelesaian perselisihan atau pertengkaran antara suami dengan isteri, sebagai berikut:

(Jamaluddin 2010: 180).

1. Diselesaikan Oleh Suami Isteri Itu Sendiri.

Perselisihan atau pertengkaran antara suami isteri dalam rumah tangga merupakan hal yang biasa dan lazim terjadi dalam suatu perkawinan. Untuk menjaga kerahasiaan dalam rumah tangga, perselisihan yang terjadi antara suami isteri terlebih dahulu harus diselesaikan oleh mereka berdua, karena hal tersebut merupakan persoalan yang sangat pribadi sekali sehingga tidak perlu diketahui oleh orang lain. Apabila perselisihan suami isteri dalam rumah tangga diberitahukan kepada orang lain, berarti telah membawa aib rumah tangga untuk diketahui oleh pihak lain yang akan memperumit rumah tangga.

Penyelesaian perselisihan dilakukan dengan membangun komunikasi terbuka antara suami isteri, sehingga penyebab terjadinya perselisihan diketahui bersama dan dapat dicari penyelesaiannya untuk itu. Didalam komunakasi tersebut satu pihak menceritakan kepada pihak lain mengenai apa yang terjadi dalam rumah tangga dan menyinggung perasaannya, sehingga menimbulkan rasa benci yang akhirnya menimbulkan kemarahan dan berujung pada terucapnya kata-kata yang menyakitkan pihak lain.

Setelah persoalan inti diketahui para pihak, tahapan selanjutnya adalah mencari solusi agar dalam membangun mahligai rumah tangga harus saling menghargai satu sama lain sehingga kehidupan rumah tangga dapat bahagia dan bertahan lama.

Hasil penyelesaian melalui komunikasi terbuka diharapkan masing-masing pihak menyadari kekeliruan dan berjanji akan melakukan perubahan sesuai dengan yang telah disepakati bersama.

Namun tidak jarang penyelesaian yang dilakukan oleh suami isteri

114

(mereka berdua) menyebabkan suasana semakin panas antara keduanya yang menyebabkan hubungan suami isteri semakin sulit dikendalikan. Jika suasana semakin tidak terkendali, maka persoalan rumah tangga harus dibawa keluar dengan menempuh tahapan atau cara yang akan diuraikan pada bagian selanjutnya.

2. Melibatkan orangtuanya.

Orang tua merupakan panutan dari anaknya, tanpa orang tua tidak mungkin ada anak, demikian juga tanpa orang tua tidak mungkin anak dapat melangsungkan perkawinan. Oleh karena itu pada dasarnya suatu perkawinan tentunya sudah mendapat restu dari orang tua. Oleh karena orang tua sebagai panutan dan tempat meminta nasihat, maka anak yang telah melangsungkan perkawinan terjadi perselisihan dan pertengkaran antara suami isteri, bila mereka tidak mampu menyelesaikan sendiri, maka mereka dapat membawa persoalan mereka kepada orang tuanya yang telah melahirkan, membesarkan serta mengawinkannya.

Atas pengaduan anaknya, pihak keluarga berupaya sekuat tenaga menasihati pasangan suami isteri sebagai anaknya yang sedang berselisih atau bertengkar dapat kembali hidup rukun dalam rumah tangganya. Nasihat orang tua terkait dengan pelaksanaan etika dalam rumah tangga, jika selama ini etikanya telah keluar dari jalan yang benar, maka dapat kembali mengintrospeksi diri dan menyadari kekelruannya sehingga tidak menyakitkan pasangannya.

3. Melibatkan Pemangku Adat Gampong.

Apabila perselisihan suami isteri dalam rumah tangga tidak dapat diselesaikan baik oleh mereka sendiri maupun melalui orangtua kedua belah pihak maka tahapan berikutnya yang terjadi dalam kebiasaan masyarakat adalah dengan cara melibatkan pemangku adat gampong. Terdapat 3 (tiga) cara dalam melibatkan pemangku adat gampong. Pertama, pasangan suami isteri datang memohon bantuan pemangku adat gampong untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi oleh suami isteri dalam rumah tangganya. Kedua permohonan pelibatan pemangku adat gampong dilakukan oleh orangtua pasangan suami isteri karena upaya yang dilakukan orang tua untuk menyelesaikannya tidak berhasil. Ketiga, pemangku adat gampong sendiri yang mengambil inisiatif untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi dalam rumah tangga suami

115

isteri selaku warga masyarakatnya. Pengambilan inisiatif ini didasarkan pada pengaduan masyarakat yang disampaikan pada pemangku adat gampong bahwa ada pasangan suami isteri selaku masyarakat gampong yang sudah lama tidak harmonis dalam rumah tangga.

Sebagaimana cara penyelesaian yang dilakukan oleh orangtuanya, perangkat adat juga menghendaki agar warganya dapat hidup aman dan damai dalam rumah tangga. Karena apabila terjadi perselisihan dalam rumah tangga di lingkungan masyarakat yang dipimpinnya, menyebabkan terganggunya keseimbangan suasana gampong. Untuk mengharmonisasikan kembali hubungan suami isteri yang telah berselisih, perangkat adat gampong dalam upaya memperbaikinya tidak hanya dilakukan sekali dalam memberikan nasihat melainkan dilakukan berulang-ulang sampai pasangan suami isteri dapat menyadari kekeliruan masing-masing baik dari segi perbuatan, perkataan dan tingkat laku yang menyakitkan perasaan pihak lainnya.

4. Melibatkan Imam Chik atau Ulama Dayah

Prosedur penyelesaian perselisihan suami isteri dalam rumah tangga yang ditempuh melalui Tengku Imam Chik atau ulama Dayah dengan cara mengajukan permohonan secara lisan oleh salah seorang dari pasangan suami isteri kepada Tengku Imam Chik atau ulama Dayah. Atas permohonan tersebut Tengku Imam Chik atau ulama Dayah akan memanggil suami isteri ketempat yang telah ditentukan untuk diberi nasihan dan bimbingan agar pasangan suami isteri tidak bercerai, karena bercerai merupakan perbuatan yang dibenci Allah SWT. Nasihat atau bimbingan yang diberikan Tengku Imam Chik atau ulama Dayah ditekankan pada nilai-nilai ilmu agama.

5. Melibatkan Kepala Kantor Urusan Agaman Kecamatan.

Apabila dengan cara penyelesaian melalui suami isteri, orangtua, perangkat adat gampong dan Tengku Imam Chik atau ulama Dayah terhadap pasangan suami isteri tidak berhasil, maka ada yang memohon lagi ke Kantor Urusan Agama (KUA) dan ada juga yang langsung ke Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah. Prosedur pengajuan ke KUA sama halnya dengan memohon kepada pemangku adat gampong dan Tengku Imam Chik atau ulama Dayah. Dimana suami isteri datang ke KUA Kecamatan di wilayah hukum tempat

116

tinggalnya, dan menceritakan persoalan rumah tangganya kepada Kepala Kantor Urusan Agama agar dapat menyelesaikannya.

Pihak KUA setelah menerima permohonan, akan memanggil pasangan suami isteri pada hari yang ditentukan untuk memberikan nasihat kepada pasangan suami isteri agar mereka dapat berdamai kembali dalam membina rumah tangga yang rukun dan damai. Pihak KUA berupaya mempersulit terjadinya perceraian terhadap pasangan suami isteri yang sedang menghadapi masalah dalam rumah tangga dengan menyatakan bahwa perceraian tidak sesuai dengan yujuan perkawinan, karena tidak ada tujuan perkawinan untuk bercerai.

C. Akibat Hukum Dari Pelaksanaan Perceraian Di Luar

Dalam dokumen Buku Ajar HUKUM PERKAWINAN (Halaman 126-130)