• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Ajar HUKUM PERKAWINAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Buku Ajar HUKUM PERKAWINAN"

Copied!
349
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

i

Buku Ajar

HUKUM PERKAWINAN

(3)

ii

(4)

iii

Buku Ajar

HUKUM PERKAWINAN

Prof. Dr, Jamaluddin, SH, M.Hum

Nanda Amalia, SH, M.Hum

(5)

iv

Judul Buku: Buku Ajar Hukum Perkawinan Cetakan Pertama: Januari, 2016

Hak Cipta © dilindungi Undang-undang. All Rights Reserved Penulis:

Prof. Dr. Jamaluddin, S.H., M.Hum.

Nanda Amalia, SH, M.Hum.

Editor: Dr. Faisal, S.Ag, SH, MH Perancang Sampul:

Penata Letak:

Pracetak dan Produksi: Unimal Press Penerbit:

Unimal Press Jl. Sulawesi No.1-2

Kampus Bukit Indah Lhokseumawe 24351 PO.Box. 141. Telp. 0645-41373. Fax. 0645-44450 Laman: www.unimal.ac.id/unimalpress.

Email: [email protected] ISBN:

978-602-1373-44-6

xvii + 200 hal., 14,8 cm x 21 cm

Dilarang keras memfotocopy atau memperbanyak sebahagian atau seluruh buku ini tanpa seizin tertulis dari Penerbit

(6)

v

PENGANTAR PENULIS

Hanya kepada Allah SWT kami memanjatkan puji dan syukur – atas segala rahmat dan inayah – yang telah diberikan-Nya. Kami yakin, hanya karena dan berkat petunjuk Allah SWT – lah maka segala kemudahan kami dapatkan sepanjang proses penelitian sampai dengan buku ini diterbitkan. Shalawat beriring salam disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan jalan kebaikan dan kebenaran bagi segenap ummat manusia.

Buku ini merupakan salah satu bagian dari capaian hasil Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PUPT), skim Desentralisasi Dit-Litabmas DIKTI tahun 2015 yang diajukan dan disusun oleh Penulis dengan mendasarkan pada realitas kebutuhan masyarakat khususnya mahasiswa Fakultas Hukum dalam mempelajari aspek-aspek hukum perkawinan nasional.

Keseluruhan proses penyusunan buku ini ini tidak mungkin dapat diselesaikan tanpa bantuan dari Riesky Wulan Putri dan Dara Quthni Effida yang telah memberikan energi dan waktunya di dalam pengetikan dan finalisasi buku ini. Untuk itu, rasa terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan.

Selain itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada

Ketua LPPM Universitas Malikussaleh beserta staff dan Seluruh

Pimpinan dan staff pada Fakultas Hukum Universitas

Malikussaleh serta kepada semua pihak yang telah memberikan

bantuan serta dukungan terhadap kegiatan penelitian maupun

proses penyusunan buku ini, kami ucapkan terima kasih.

(7)

vi

Teruntuk kepada keluarga penulis, rasa terima kasih saja kiranya tidak akan pernah cukup untuk menggantikan waktu- waktu yang hilang dikarenakan proses penelitian ini secara keseluruhan maupun masa-masa pengerjaan rancangan buku ajar ini, oleh karena itu doa kami semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan berkah-Nya bagi kalian semua.

Penulis menyadari bahwa bahwa buku ajar Hukum Perkawinan ini masih sangat sederhana, dan dalam upaya untuk melakukan penyempurnaan terhadap materi buku ini yang berorientasi kepada kemashlahatan ummat, maka penulis sangat mengharapkan banyak masukan untuk perbaikan dan kesempurnaan buku ini. Penulis juga menyadari bahwa kekhilafan dan kekeliruan yang terdapat dalam buku ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis, dan akhirnya hanya kepada Allah-lah penulis menyerahkan diri. Semoga karya kecil ini, bermanfaat adanya. Aamiin....

Lhokseumawe, Januari 2016

Prof. Jamaluddin, SH., M.Hum

Nanda Amalia, SH., M.Hum

(8)

vii

PENGANTAR EDITOR

Konteks tulisan buku ini berkisar dan bersumber sebahagiannya dari hasil penelitian yang penulis lakukan serta menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pembaca atas keberadaan hukum perkawinan. Keberadaan penulis, - Prof. Dr. Jamaluddin, S.H., M.Hum yang merupakan Guru Besar di bidang Hukum Perkawinan dan Nanda Amalia, S.H., M.Hum seorang akademisi yang sedang mengembangkan minat studinya pada aspek- aspek hukum keluarga dan pentingnya perlindungan bagi perempuan telah memberikan nuansa tersendiri.

Buku ini signifikan dan penting dalam pengembangan keilmuan, khususnya di bidang hukum perkawinan. Buku ini membahas aspek hukum perkawinan nasional secara umum, yang dilanjutkan dengan pembahasan terkait hak dan kewajiban suami – isteri, putusnya perkawinan, aspek hukum perceraian berdasarkan hukum perkawinan nasional dan dilanjutkan pada bab-bab terakhir membicarakan tentang berbagai aspek dan problematikan hukum keluarga di Indonesia dan diakhiri dengan penyampaian salinan Putusan Mahkamah Konstitusi atas berbagai persoalan kontemporer terkait Undang-Undang Perkawinan.

Sebagai buku ajar, buku ini dilengkapi dengan informasi terkait matakuliah diantaranya memuat tentang manfaat matakuliah, deskripsi matakuliah, tujuan instruksional umum dan khusus, strategi perkuliahan, materi/bahan bacaan, bahan evaluasi dan penugasan, kriteria penilaian dan agenda perkuliahan.

Sebagai bagian dari karya akademik, buku ini merupakan hasil

dari proses editing (penyuntingan) yang dilakukan setelah

laporan penelitian ini disusun. Disadari bahwa proses editing

(9)

viii

(penyuntingan) buku ini memiliki kelemahan-kelemahan, karena terbatasnya waktu dan kesempatan editor untuk mensinkronisasikan hasil editing namun demikian hanya karena kemudahan yang diberikan oleh Allah SWT akhirnya buku ini dapat diselesaikan dengan baik.

Perkenankan kami pada kesempatan ini menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih untuk pihak-pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam proses editing buku ini.

Lhokseumawe, Januari 2016 Editor,

Dr. Faisal, S.Ag., S.H., M.Hum

(10)

ix

Daftar Isi

Contents

PENGANTAR PENULIS ... v

PENGANTAR EDITOR ... vii

Daftar Isi ... ix

PENGANTAR MATAKULIAH ... 2

A. Manfaat Matakuliah ... 2

B. Deskripsi Perkuliahan ... 2

C. Tujuan Instruksional ... 3

D. Strategi Perkuliahan ... 5

E. Materi/Bacaan Pokok ... 6

F. Tugas Perkuliahan ... 7

G. Kriteria Penilaian ... 8

H. Agenda Perkuliahan ... 9

I. Petunjuk Praktis Penggunaan Buku Ajar ... 15

HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA... 17

A. Pengertian perkawinan ... 18

B. Sumber hukum perkawinan di Indonesia ... 21

1. Al-Qur’an ... 21

2. Al Hadist ... 22

3. Ijmak Ulama Fiqh ... 23

C. Hukum perkawinan Islam di Indonesia ... 27

D. Hukum perkawinan di Indonesia sebelum tahun 1975 31 1. Hukum Perkawinan Adat ... 32

2. Hukum Perkawinan Islam ... 34

3. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk

Wetboek atau BW) yang berlaku bagi orang-orang

keturunan Eropa, Cina (Tionghoa) dan Timur Asing. ... 34

4. Hukum Perkawinan menurut Ordonansi Perkawinan

Indonesia Kristen (HOCI) yang berlaku bagi orang-orang

Indonesia asli (Jawa, Minahasa, dan Ambon) yang

(11)

x

beragama Kristen. Ordonansi ini mulai di undangkan pada

tanggal 15 Februari 1933. ... 34

5. Peraturan Perkawinan Campuran. ... 34

6. (Regeling op de Gemengde Huwelijken). Peraturan ini dibuat untuk mengatasi terjadinya banyak perkawinan antara orang-orang yang tunduk pada hukum-hukum yang berlainan, seperti orang Indonesia asli dengan orang Cina atau orang Eropa, orang Cina dengan orang Eropa, antara orang-orang Indonesia tetapi berlainan agama ataupun berlainan asalnya.peraturan ini mulai berlaku pada tanggal 29 Desember 1896, termuat dalam Staatsblad 1896 Nomor 158 dan telah mengalami beberapa perubahan. . 34

E. Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 ... 35

F. Pencatatan Perkawinan ... 36

1. Pencatatan Perkawinan Menurut Islam ... 37

2. Akibat Hukum Dari Dicatat/Tidaknya Perkawinan ... 39

PERKAWINAN ... 43

A. Persiapan Perkawinan ... 44

1. Memilih jodoh yang tepat ... 44

2. Peminangan ... 44

3. Melihat perempuan yang dipinang ... 46

B. Tujuan Pernikahan ... 47

C. Jenis Pernikahan ... 48

1. Nikah mut’ah ... 48

2. Nikah Muhallil (Kawin Cinta Buta) ... 49

3. Nikah Sirri ... 49

4. Nikah Kontrak ... 49

5. Poliandri ... 50

6. Poligami ... 50

7. Isogami... 50

8. Esogami ... 50

9. Monogami ... 50

10. Kawin Paksa ... 50

11. Kawin Lari ... 51 12. Perkawinan oleh Kaum Homo Seksual dan Lesbian

51

(12)

xi

D. Rukun dan Syarat Sah Perkawinan ... 51

E. Larangan Perkawinan ... 52

F. Pencegahan Perkawinan ... 56

G. Perjanjian dalam Perkawinan ... 58

H. Akad Nikah (Dasar Hukum dan Rukun Akad Nikah) ... 59

1. Dasar Hukum Akad Nikah... 59

2. Rukun Akad Nikah... 60

I. Sah dan Batalnya Akad Nikah ... 61

J. Shighat Akad Nikah ... 63

K. Wali Nikah ... 64

1. Status wali dalam perkawinan menurut empat madzhab ... 64

2. Pengertian Wali Nikah ... 66

L. Saksi Nikah ... 68

HAK DAN KEWAJIBAN SUAMI - ISTERI... 70

A. Hak dan Kewajiban Suami dalam Rumah Tangga ... 71

1. Hak Istri Menerima Mahar ... 71

2. Hak Istri Digauli dengan Baik ... 72

3. Hak Istri Dalam Masa Iddah ... 73

4. Hak Hadhanah ... 75

B. Sebab-Sebab Yang Mewajibkan Nafkah ... 76

C. Hak dan Kewajiban Istri Dalam Rumah Tangga ... 77

D. Macam-Macam Nafkah ... 78

1. Nafkah Maskanah (Tempat Tinggal) ... 78

2. Nafkah Kiswah (Pakaian) ... 79

E. Hak dan Kewajiban Suami-Istri Dalam UU Perkawinan dan KHI ... 79

PUTUSNYA PERKAWINAN ... 86

A. Pengertian dan Dasar Hukum Putusnya Perkawinan .. 87

B. Macam-Macam Bentuk Perceraian ... 89

1. Talak ... 89

2. Fasakh ... 93

4. Ila’ ... 96

5. Syiqaq ... 98

6. Li’an ... 99

7. Zhihar ... 100

(13)

xii

8. Taklik Talak ... 100

C. Tata cara melakukan perceraian ... 101

D. Syarat sah perceraian ... 104

E. Akibat Hukum Perceraian ... 104

1. Akibat Hukum terhadap Harta Bersama ... 104

2. Akibat hukum terhadap suami isteri dan anaknya 105 PERCERAIAN BERDASARKAN ... 108

HUKUM PERKAWINAN NASIONAL ... 108

A. Perceraian Menurut Undang-Undang Perkawinan dan KHI 109 1. Cerai Talak (Permohonan) ... 109

2. Cerai Gugat ... 112

B. Perceraian Yang Terjadi Di Luar Prosedur Hukum Perkawinan Nasional ... 112

1. Diselesaikan Oleh Suami Isteri Itu Sendiri. ... 113

2. Melibatkan orangtuanya. ... 114

3. Melibatkan Pemangku Adat Gampong. ... 114

4. Melibatkan Imam Chik atau Ulama Dayah ... 115

5. Melibatkan Kepala Kantor Urusan Agaman Kecamatan. ... 115

C. Akibat Hukum Dari Pelaksanaan Perceraian Di Luar Mahkamah Syar’iyah ... 116

BERBAGAI ASPEK HUKUM KELUARGA ... 118

A. Perkawinan Campuran ... 119

B. Izin Kawin, Dispensasi Kawin dan Wali Adhal ... 121

1. Izin Kawin ... 121

2. Dispensasi Kawin ... 122

3. Wali Adhal ... 122

C. Nikah Sirri ... 122

D. Pembatalan Perkawinan dan Pengesahan Perkawinan (Itsbat Nikah) ... 125

E. Harta Bersama ... 127

1. Dasar Pemikiran tentang Adanya Harta Bersama .... 127

2. Ruang Lingkup Harta Bersama ... 128

3. Harta Bersama dalam Perkawinan Poligami ... 129

F. Pemeliharaan dan Nafkah Anak ... 131

(14)

xiii

G. Perwalian ... 131

H. Pengangkatan Anak ... 132

A. Poligami (Studi Putusan Nomor 12/PUU-V/2007 Persoalan Izin Poligami) ... 138

1. Hak asasi manusia bukan tanpa batas ... 159

2. Poligami bukan hak yang asasi ... 161

3. Islam menganut asas monogami ... 162

4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 adalah kompromi maksimal yang telah mempertimbangkan nilai-nilai Islam ... 163

5. Ketentuan-ketentuan pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan adalah kepastian hukum ... 164

I. UMUM ... 165

B. Agama sebagai sumber hukum ... 168

C. Poligami sebagai hak bersyarat. ... 169

D. Poligami Menurut Pandangan Agama Islam ... 170

E. Tujuan mendasar dari Poligami. ... 171

F. Hukum Poligami ... 173

G. Syarat-syarat dan alasan Poligami. ... 174

H. Realitas poligami ... 175

B. Hubungan Keperdataan Ayah dan Anak Biologisnya (Studi Putusan Nomor 46/PUU-VIII/2010) ... 235

Alasan-Alasan Permohonan Uji Materiil UU Perkawinan 240 B. Persoalan Alasan Perceraian (Analisis Putusan Nomor 38/PUU-IX/2011) ... 279

A. Kewenangan Mahkamah Konstitusi ... 280

B. Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon ... 280

C. Pokok Permohonan ... 282

6. PENDAPAT BERBEDA (DISSENTING OPINION) ... 326

Perselisihan dan Pertengkaran Terus Menerus dalam Hukum Islam (Syiqaq) ... 327

Pendapat Akhir ... 330

(15)

xiv

(16)

2

PENGANTAR MATAKULIAH

Nama Matakuliah : Hukum Perkawinan

Kode Matakuliah : MKK 642

Semester/sks : IV (empat)/ 2 (dua) sks

A. Manfaat Matakuliah

Tidak dapat dipungkiri bahwa perkawinan merupakan salah satu fase dalam kehidupan manusia yang dianggap sangat penting, baik secara pribadi maupun oleh masyarakat. Untuk itu, matakuliah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dalam memahami dan menyelesaikan berbagai permasalahan perkawinan yang lazim terjadi di masyarakat.

Berbagai problema perkawinan yang terjadi seiring dengan perkembangan kemasyarakatan turut menjadi perhatian berbagai pihak, tidak hanya oleh para pihak bersangkutan, namun juga para pakar, alim ulama, pemerintah maupun akademisi. Dalam kondisi ini, maka dibutuhkan hadirnya orang-orang yang mampu memahami dan mampu menjelaskan berbagai persoalan terkait kepada masyarakat. Hal ini juga tidak terlepas dari keberadaan hukum perkawinan yang memiliki kedudukan penting di dalam Islam. Berbagai hal terkait dengan aspek hukum perkawinan di dalam Islam dikenal juga dengan istilah Fiqh Munakahat yang menjadi bagian dari ajaran agama Islam yang wajib untuk ditaati oleh ummat-Nya.

B. Deskripsi Perkuliahan

Matakuliah ini merupakan matakuliah wajib bagi

mahasiswa semester IV. Substansi pokok bahasan pada

perkuliahan ini akan membahas: Keberadaan Hukum

(17)

3

Perkawinan di Indonesia, Perkawinan (syarat sah, rukun, tujuan, wali nikah), Hak dan kewajiban suami-isteri, Putusnya Perkawinan dan akibat hukumnya. Matakuliah ini juga akan membahas berbagai aspek dari hukum keluarga, seperti perwalian, pengangkatan anak, perkawinan poligami, pencatatan perkawinan. Pada akhir pertemuan, mahasiswa juga akan diminta mendiskusikan berbagai persoalan kontemporer yang terjadi dikaitkan dengan ketentuan UU Perkawinan di Iindonesia.

C. Tujuan Instruksional

Matakuliah ini dirancang dalam 16 (enam belas) kali pertemuan dengan 8 (delapan) pokok bahasan utama.

Untuk itu, setelah menempuh mata kuliah ini, diharapkan:

 Mahasiswa mampu memahami pengertian perkawinan dan sumber hukum perkawinan di Indonesia;

 Mahasiswa mampu menjelaskan keberadaan hukum perkawinan Islam di Indonesia;

 Mahasiswa mampu menjelaskan keberadaan hukum perkawinan di Indonesia masa sebelum tahun 1975;

 Mahasiswa mampu menjelaskan sejarah kelahiran UU Perkawinan No. 1 tahun 1974;

 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang akibat hukum dari dicatat/tidaknya perkawinan

 Mahasiswa mampu menjelaskan berbagai aspek

dalam perkawinan, termasuk di dalamnya aspek

persiapan perkawinan, tujuan pernikahan, macam-

macam jenis pernikahan dalam perkembangan

kemasyarakatan, rukun dan syarat sah perkawinan,

larangan dan pencegahan perkawinan serta

perjanjian dalam perkawinan.

(18)

4

 Mahasiswa mampu menjelaskan dasar hukum dan rukun dari akad nikah;

 Mahasiswa mampu menjelaskan sah dan batalnya akad nikah serta sighat nikah;

 Mahasiswa mampu menjelaskan keberadaan wali dan saksi nikah.

 Mahasiswa mampu menjelaskan dan memberikan contoh-contoh terkait pemenuhan hak dan kewajiban suami isteri dalam rumah tangga

 Mahasiswa mampu mencelaskan pengertian dan dasar hukum dari perceraian;

 Mahasiswa mampu menjelaskan berbagai bentuk putusnya perkawinan;

 Mahasiswa mampu menjelaskan tata cara perceraian;

 Mahasiswa mampu menjelaskan syarat sah dan akibat hukum perceraian

 Mahasiswa mampu menjelaskan dasar-dasar hukum dan tata cara pelaksanaan perceraian menurut ketentuan hukum nasional;

 Mahasiswa mampu menjelaskan pelaksanaan perceraian di luar ketentuan hukum nasional;

 Mahasiswa mampu membandingkan kedua praktik perceraian yang terjadi di dalam masyarakat.

 Mahasiswa mampu menjelaskan berbagai aspek terkait dengan:

- Hukum Perkawinan di Indonesia;

- Berbagai aspek Perkawinan;

- Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Rumah Tangga;

- Putusnya perkawinan;

- Perceraian dalam ketentuan hukum nasional;

- Praktik perceraian yang dilakukan oleh

masyarakat dengan tidak mengikuti

ketentuan hukum nasional.

(19)

5

 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang perkawinan campuran, izin kawin, dispensasi kawin dan keberadaan wali adhal.

 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang nikah sirri, akibat nikah sirri terhadap status hukum kedua belah pihak suami – isteri, akibat nikah sirri terhadap harta, tentang pembatalan perkawinan dan pengesahan perkawinan (itsbat nikah)

 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang harta bersama dalam perkawinan dan akibat hukum terhadap harta bersama paska perceraian

 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang:

- Pemeliharaan dan nafkah anak;

- Aspek hukum perwalian

- Aspek hukum pengangkatan anak

 Mahasiswa mampu mendiskusikan berbagai persoalan kontemporer terkait Undang-Undang Perkawinan yang terjadi di masyarakat, khususnya pada aspek:

- Persoalan Poligami;

- Hubungan Keperdataan Ayah dengan Anak Biologisnya;

- Persoalan Alasan Perceraian

D. Strategi Perkuliahan

Perkuliahan ini mengkombinasikan metode ceramah, sumbang saran (brain storming), diskusi serta student

center learning. Melalui kombinasi metode ini

diharapkan mahasiswa mendapatkan pemahaman yang komprehensif mengenai materi perkuliahan.

Metode ceramah digunakan dengan tujuan untuk dapat

memberikan arahan serta pemahaman awal bagi

mahasiswa tentang pokok bahasan serta sub pokok

bahasan. Sedangkan metode sumbang saran digunakan

untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam

(20)

6

menyampaikan gagasan, fikiran serta pendapatnya di hadapan kelas.

Kedua metode ini diperkaya dengan metode diskusi dan student center learning yang akan diselenggarakan pada beberapa pokok bahasan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam bekerja secara personal maupun bersama tim (team work) dengan dengan target masing-masing peserta secara pribadi maupun dalam kelompok akan menghasilkan lembar kerja dan mempresentasikannya di hadapan kelas. Metode ini juga akan melatih mahasiswa untuk mampu berbicara dan menyampaikan gagasannya dihadapan publik.

E. Materi/Bacaan Pokok

Buku atau bacaan pokok yang dipergunakan dalam perkuliahan ini adalah sebagai berikut:

 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

 Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 1975 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI).

 A. Basiq Djalil, (2006), Peradilan Agama di

Indonesia, Kencana, Jakarta.

 A. Hamid Sarong, (2010), Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, PeNA, Banda Aceh.

 Amir Syarifuddin, (2006), Hukum Perkawinan Islam

di Indonesia, Kencana, Jakarta.

 Amru Abdul Mun’im Salim, (2005), Fikih Thalaq

Berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah, Pustaka

Azzam, Jakarta.

 Beni Ahmad Saebani (2009), Fiqh Munakahat (1) , Pustaka Setia, Bandung.

 Beni Ahmad Saebani, (2010), Fiqh Munakahat (2),

Pustaka Setia, Bandung.

(21)

7

 Jamaluddin, (2009), Hukum Perkawinan dalam

Pendekatan Normatif, Pustaka Bangsa Press,

Medan.

 Jamaluddin, (2010), Hukum Perceraian dalam

Pendekatan Empiris, Pustaka Bangsa Press, Medan.

 M. Anshary MK., Hukum Perkawinan di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,

 Neng Djubaidah, (2010), Pencatatan Perkawinan &

Perkawinan Tidak Dicatat (Menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam), Sinar

Grafika, Jakarta.

 Taufiqurohman Syahuri, (2013), Legislasi Hukum

Perkawinan di Indonesia (Pro Kontra Pembentukanya Hingga Putusan Mahkamah Konstitusi), Kencana Prenadia Media Group,

Jakarta.

 Ratna Batara Munti & Hindun Anisah, (2005), Posisi

Perempuan dalam Hukum Islam di Indonesia, LBH

APIK, Jakarta.

F. Tugas Perkuliahan

1. Setap bahan perkuliahan sebagaimana disebutkan pada agenda perkuliahan/jadwal program harus sudah dibaca oleh mahasiswa sebelum mengikuti perkuliahan pada setiap sessinya;

2. Mahasiswa secara mandiri diwajibkan untuk menyerahkan 2 (dua) artikel terkait hukum perkawinan yang didapatkannya melalui studi literature;

3. Artikel sebagaimana dimaksud di atas diharapkan ditelusuri oleh mahasiswa dari sumber yang representatif dan valid;

4. Mahasiswa di dalam kelompok kecil (3 – 4 orang)

diharapkan menyusun lembar kerja (dalam bentuk

paper maupun makalah) dan mempresentasikannya

dihadapan kelas;

(22)

8

5. Topik tulisan dalam lembar kerja akan ditentukan berdasarkan kesepakatan di dalam kelas;

6. Tugas mandiri dan lembar kerja kelompok sebagaimana disampaikan pada poin 2 s.d 5 di atas akan menjadi nilai mahasiswa pada kategori Tugas Terstruktur dengan bobot poin 20 %;

7. Jadwal pengumpulan Tugas Terstruktur sesuai dengan agenda perkuliahan;

8. Pelaksanaan quis akan dislenggarakan pada minggu ke-empat;

9. Pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) akan diadakan sesuai dengan jadwal pada kalender akademik semester berjalan dengan bentuk Essay Test;

10. Pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS)akan diadakan sesuai dengan jadwal pada kalender akademik semester berjalan dengan bentuk Essay Test.

G. Kriteria Penilaian

Penilaian terhadap capaian prestasi belajar mahasiswa dalam matauliah Hukum Perkawinan akan dilakukan oleh Tim Dosen Pengampu Matakuliah dengan menggunakan kritera penilaian sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Akademik Universitas Malikussaleh.

Penilaian akan dilakukan oleh dosen pengampu dengan aspek sebagai berikut:

 Kuis Bobot Nilai 15 %;

 Tugas Terstruktur Bobot Nilai 20%;

 UTS Bobot Nilai 25 %;

 UAS Bobot Nilai 40 %;

Selain memperhatikan aspek-aspek sebagaimana

disampaikan di atas, penilaian pada matakuliah ini juga

akan memperhatikan aspek etika, kedisiplinan serta

(23)

9

partisipasi mahasiswa di dalam proses pembelajaran secara keseluruhan.

H. Agenda Perkuliahan

Pertemuan Ke-

Pokok Bahasan & Sub Pokok Bahasan

Bacaan Wajib

1 Hukum Perkawinan di Indonesia:

 Pengertian Perkawinan

 Sumber hukum perkawinan di Indonesia;

 Hukum Perkawinan Islam di Indonesia;

UU Perkawinan &

KHI

A. Basiq Djalil, Peradilan Agama di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2006, halaman 115 - 138

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2006, halaman 1 - 34

Taufiqurohman Syahuri, Legislasi Hukum Perkawinan di Indonesia (Pro – Kontra

Pembentukanya Hingga Putusan mahkamah

Konstitusi), Kencana Prenadia Media Group, 2013, halaman 31 - 182

Ratna Batara Munti

& Hindun Anisah, Posisi Perempuan dalam Hukum Islam di Indonesia, LBH APIK, Jakarta, 2005

Neng Djubaidah, Pencatatan Perkawinan &

2  Hukum Perkawinan di Indonesia sebelum Tahun 1975;

 Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974;

 Pencatatan Perkawinan

(24)

10

Perkawinan Tidak Dicatat (Menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam), Sinar Grafika, Jakarta, 2010, halaman 153 – 344; 354 – 462

Pertemuan Ke-

Pokok Bahasan & Sub Pokok Bahasan

Bacaan Wajib

3 Perkawinan

 Persiapan perkawinan

 Tujuan Pernikahan

 Jenis Pernikahan

 Rukun & Syarat Sah Perkawinan

 Larangan Perkawinan

 Pencegahan Perkawinan

 Perjanjian dalam Perkawinan

 UU Perkawinan &

KHI

 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2006, halaman 35 – 188

 Beni Ahmad Saebani, Fiqh Munakahat (1) , Pustaka Setia, Bandung, 2009, halaman 9 – 127; 200 - 259

 Jamaluddin, Hukum Perkawinan dalam Pendekatan Normatif, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2009

 M. Anshary MK., Hukum Perkawinan di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, halaman 10 – 63

 Neng Djubaidah, Pencatatan Perkawinan &

4  Akad Nikah (dasar hukum dan rukun akad nikah)

 Sah dan Batalnya Akad Nikah

 Sighat Akad Nikah

 Wali Nikah

 Saksi Nikah

(25)

11

Perkawinan Tidak Dicatat (Menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam), Sinar Grafika, Jakarta, 2010, halaman 90 – 123

 Dedi Supriyadi &

Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, Pustaka Al Fikriis, Bandung, halaman 1 – 21

 Ratna Batara Munti

& Hindun Anisah, Posisi Perempuan dalam Hukum Islam di Indonesia, LBH APIK, Jakarta, 2005 Pertemuan

Ke-

Pokok Bahasan & Sub Pokok Bahasan

Bacaan Wajib

5 Hak dan Kewajiban Suami –Isteri

 Hak dan Kewajiban Suami dalam Rumah Tangga:

- Hak isteri menerima mahar

- Hak isteri digauli dengan baik

- Hak isteri dalam masa iddah

- Hak hadhanah

 Sebab-sebab yang Mewajibkan Nafkah

 Hak dan Kewajiban Isteri dalam Rumah Tangga

 Macam-macam Nafkah

 Hak dan Kewajiban Suami – Isteri dalam UU Perkawinan dan KHI

 UU Perkawinan &

KHI

 Beni Ahmad Saebani, Fiqh Munakahat (2) , Pustaka Setia, Bandung, 2010, halaman 11 – 49

 Neng Djubaidah, Pencatatan Perkawinan &

Perkawinan Tidak Dicatat (Menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam), Sinar Grafika, Jakarta, 2010, halaman 123 – 152

(26)

12

6 Putusnya Perkawinan A. Pengertian dan Dasar

Hukum

B. Macam-macam bentuk putusnya perkawinan C. Tata cara melakukan

perceraian

D. Syarat sah perceraian E. Akibat hukum perceraian

F. UU Perkawinan &

KHI

G. Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2006, halaman 189 – 348

H. Amru Abdul Mun’im Salim, Fikih thalaq Berdasarkan Al qur’an dan Sunnah, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005 I. Beni Ahmad

Saebani, Fiqh Munakahat (2) , Pustaka Setia, Bandung, 2010, halaman 55 – 150 J. Dedi Supriyadi &

Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, Pustaka Al Fikriis, Bandung, halaman 125 – 204

K. Jamaluddin, Hukum Perceraian (dalam pendekatan empiris), Pustaka Bangsa Press, Medan, 2010.

Pertemuan Ke-

Pokok Bahasan & Sub Pokok Bahasan

Bacaan Wajib

7 Perceraian Berdasarkan Hukum Perkawinan Nasional

 Pelaksanaan perceraian menurut UU Perkawinan dan KHI;

 Pelaksanaan perceraian yang terjadi di luar

 UU Perkawinan &

KHI

 A. Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, PeNA, Banda Aceh, 2010, halaman 117 –

(27)

13

prosedur hukum perkawinan nasional

165

 M. Anshary MK., Hukum Perkawinan di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, halaman 64 – 85

 Dedi Supriyadi &

Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, Pustaka Al Fikriis, Bandung, halaman 125 – 204

 Jamaluddin, Hukum Perceraian (dalam pendekatan empiris), Pustaka Bangsa Press, Medan, 2010.

8 Ujian Tengah Semester (UTS)

Pertemuan Ke-

Pokok Bahasan & Sub Pokok Bahasan

Bacaan Wajib

9 Berbagai Aspek Hukum Keluarga:

 Perkawinan Campuran

 Izin Kawin, Dispensasi Kawin dan Wali Adhal

 UU Perkawinan & KHI

 A. Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, PeNA, Banda Aceh, 2010, halaman 166 - 172

 M. Anshary MK., Hukum Perkawinan di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, halaman 112 – 128, halaman 129 - 170

 Dedi Supriyadi &

10  Nikah Sirri

 Nikah di bawah tangan

 Pembatalan Perkawinan dan Pengesahan Perkawinan (itsbat nikah)

11  Harta Bersama

 Dasar Pemikiran tentang Adanya Harta Bersama

 Ruang Lingkup Harta Bersama

(28)

14

 Harta Bersama dalam Perkawinan Poligami

 Harta Bersama disandingkan dengan aksus-kasus hukum lainnya

Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, Pustaka Al Fikriis, Bandung, halaman 107 - 125

 Jamaluddin, Hukum Perceraian (dalam pendekatan empiris), Pustaka Bangsa Press, Medan, 2010.

12  Pemeliharaan dan nafkah Anak

 Perwalian

 Pengangkatan Anak

13 Persoalan Kontemporer Undang- Undang Perkawinan

 Poligami

(Studi Putusan Nomor 12/PUU-V/2007 Persoalan Izin Poligami)

UU Perkawinan &

KHI

A. Hamid Sarong, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, PeNA, Banda Aceh, 2010, halaman 173 - 192

Beni Ahmad Saebani, Fiqh Munakahat (2) , Pustaka Setia, Bandung, 2010, halaman151 – 172;

halaman 173 – 208

M. Anshary MK., Hukum Perkawinan di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010, halaman 85 – 108

Dedy Supriadi &

Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, Pustaka Al Fikriis, Bandung, halaman 81 – 94; halaman 107 - 125 14  Hubungan Keperdataan

Ayah dan Anak Biologisnya

(Studi Putusan Nomor 46/PUU-VIII/2010)

15  Persoalan Alasan Perceraian (Analisis Putusan Nomor 38/PUU- IX/2011)

(29)

15

Neng Djubaidah, Pencatatan Perkawinan &

Perkawinan Tidak Dicatat (Menurut Hukum Tertulis di Indonesia dan Hukum Islam), Sinar Grafika, Jakarta, 2010, halaman 11 – 90

Taufiqurohman Syahuri, Legislasi Hukum Perkawinan di Indonesia (Pro – Kontra

Pembentukanya Hingga Putusan Mahkamah Konstitusi), Kencana Prenadia Media Group, 2013, halaman 183 – 207 16 Ujian Akhir Semester (UAS)

I. Petunjuk Praktis Penggunaan Buku Ajar

Buku Ajar pada Matakuliah Hukum Perkawinan disusun dengan mendasarkan pada Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dan Satuan Acara Perkuliahan (SAP), oleh karenanya kedua hal ini akan disampaikan di awal buku ajar, dengan tujuan agar setiap peserta didik (mahasiswa) dapat terlebih dahulu membaca dan memahami nya.

Setiap pokok bahasan pada buku ajar ini diawali dengan

penjabaran Tujuan Instruksional Umum (TIU) dan

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) pada pokok bahasan

dimaksud. Pada masing-masing peserta didik diharapkan

(30)

16

mengawali pembelajarannya dengan membaca dan memahami TIU dan TIK dimaksud, untuk kemudian melanjutkannya pada rincian sub pokok bahasan.

Pada bagian berikutnya adalah uraian tentang pokok

bahasan dan sub pokok bahasan yang disusun dengan

mendasarkan pada kepustakaan penunjang. Buku ajar

ini juga dilengkapi dengan tugas dan latihan soal, yang

diharapkan dapat dikerjakan oleh peserta didik dalam

menguji pemahamannya atas pokok bahasan dimaksud.

(31)

17

HUKUM PERKAWINAN DI INDONESIA

Tujuan Instruksional Umum:

Setelah menyelesaikan matakuliah ini, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Malikussaleh diharapkan mampu menjelaskan dan mendiskusikan berbagai hal pokok terkait dengan aspek hukum perkawinan, aspek hukum perceraian, aspek hukum keluarga terkait dengan perkawinan serta berbagai persoalan hukum yang dihadapi oleh masyarakat dikaitkan dengan keberadaan UU Perkawinan dan Putusan Mahkamah Konstitusi.

Tujuan Instruksional Khusus:

 Mahasiswa mampu mengetahui dan mampu memahami pengertian perkawinan dan sumber hukum perkawinan di Indonesia;

 Mahasiswa mampu menjelaskan keberadaan hukum perkawinan Islam di Indonesia;

 Mahasiswa mampu menjelaskan keberadaan hukum perkawinan di Indonesia masa sebelum tahun 1975;

 Mahasiswa mampu menjelaskan sejarah kelahiran UU Perkawinan No. 1 tahun 1974;

 Mahasiswa mampu menjelaskan tentang akibat hukum dari dicatat/tidaknya perkawinan

Sub Pokok Bahasan:

 Pengertian Perkawinan

 Sumber hukum perkawinan di Indonesia;

 Hukum Perkawinan Islam di Indonesia;

(32)

18

 Hukum Perkawinan di Indonesia sebelum Tahun 1975;

 Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974;

 Pencatatan Perkawinan Uraian:

A. Pengertian perkawinan

Perkawinan atau pernikahan dalam literatur fiqh berbahasa arab disebut dengan dua kata, yaitu nikah dan zawaj. Kedua kata ini yang terpakai dalam kehidupan sehari- hari orang arab dan banyak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi (Amir Syarifuddin, 2006:35).

Hukum Islam mengatur agar perkawinan itu dilakukan dengan akad atau perikatan hukum antara pihak-pihak yang bersangkutan dengan disaksikan dua orang laki-laki. Perkawinan menurut Islam ialah suatu perjanjian suci yang kuat dan kokoh untuk hidup bersama secara sah antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan membemtuk keluarga yang kekal, santun menyantuni, kasih mengasihi, aman tenteram, bahagia dan kekal (M. Idris Ramulio, 1985:147).

Dengan demikian Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam (KHI) memberikan pengertian perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan ghaliizhan untuk menaati perintah Allah dan melakukannya merupakan ibadah.

Apabila pengertian tersebut dibandingkan dengan yang tercantum dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 (UU Perkawinan) dan KHI maka pada dasarnya antara pengertian perkawinan menurut hukum Islam dan menurut UU Perkawinan tidak terdapat perbedaan prinsipil (Hamid Sarong, 2010:33), sebab pengertian perkawinan menurut UU Perkawinan ialah: “ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dalam bahasia Indonesia, perkawinan berasal dari kata “kawin” yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh (Kamus Besar Bahas Indonesia, 1994:456).

Menurut pendapat para ahli antara lain Soedharyo Saimin menyatakan perkawinan adalah suatu perjanjian yang diadakan oleh dua orang, dalam hal ini perjanjian antara seorang pria dengan seorang wanita dengan tujuan materil, yakni membentuk keluarga

(33)

19

(rumah tangga) yang bahagia dan kekal itu haruslah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagai asas pertama dalam Pancasila (Soedharyo Saimin, 2002:6). Ali Afandi menyatakan perkawinan adalah suatu persetujuan kekeluargaan. Persetujuan kekeluargaan dimaksud disisni bukanlah persetujuan biasa, tetapi mempunyai ciri- ciri tertentu (Ali Afandi, 1984:94).

Adapun maksud akad yang sangat kuat dalam Kompilasi Hukum Islam adalah jika pelaksanaan akat nikah sudah terjadi antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan memenuhi syarat dan rukun nikah yang ditentukan oleh syariat islam dan hukum negara, maka ikatan pernikahan itu tidak begitu mudah putus untuk mengakhiri hubungan suami isteri. Tali ikatan pernikahan itu tidak dapat diputuskan oleh pasangan suami isteri dengan alasan yang tidak kuat dan dibuat-buat. Tali ikatan pernikahan yang sudah terjadi baru dapat diputuskan jika mempunyai alasan yang kuat dan sesuai dengan ketentuan hukum syariat serta hukum negara dan tidak ada jalan lain untuk mempertahankan ikatan pernikahan itu untuk tetap kukuh selama- lamanya.

Sementara pengertian perkawinan dalam UU Perkawinan mempunyai 4 (empat) unsur, yakni : 1) ikatan lahir batin, maksudnya dalam suatu perkawinan tidak hanya ada ikatan lahir yang diwujudkan dalam bentuk ijab kabul yang dilakukan oleh wali menpelai perempuan dengan menpelai laki-laki yang disaksikan oleh 2 (dua) orang saksi yang disertai penyerahan mas kawin, tetapi ikatan batin yang diwujudkan dalam bentuk adanya persetujuan yang ikhlas antara kedua calon menpelai dalam arti tidak ada unsur paksaan dari pihak yang satu kepada pihak yang lain juga memegang peranan yang sangat penting untuk memperkuat akad ikatan nikah dalam mewujudkan keluarga bahagia dan kekal. 2) antara seorang pria dengan seorang wanita, maksudnya dalam suatu ikatan perkawinan menurut UU perkawinan hanya boleh terjadi antara seorang pria sebagai suami dengan seorang wanita sebagi isteri.

Dengan demikian pasal 1 UU perkawinan menganut azas monogami. 3) membentuk keluarga Bahagia dan kekal, maksudnya perkawinan bertujuan untuk memperoleh ketenangan, kesenangan, kenyamanan, ketentraman lahir dan batin untuk selama-lamanya dalam kehidupan berumah tangga. Dalam arti perkawinan untuk membentuk sebuah keluarga harus mampu membawa ketenangan

(34)

20

dan ketentraman sampai akhir hayatnya. 4) berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, maksudnya perkawinan harus berdasarkan pada ketentuan agama, tidak boleh perkawinan dipisahkan dengan agama.

Dalam arti sahnya suatu perkawinan diukur dengan ketentuan yang diatur dalam hukum agama.

Ahli Ahmad Al-Jurjawi menyatakan Hikmah-hikmah perkawinan antara lain:

1. Dengan pernikahan maka banyaklah keturunan. Ketika keturunan itu banyak, maka proses memakmurkan bumi berjalan dengan mudah, karena suatu perbuatan yang harus dikerjakan bersama-sama akan sulit jika dilakukan secara individual.

2. Keadaan hidup manusia tidak akan tenteram kecuali jika keadaan rumah tangga teratur.

3. Laki-laki dan perempuan adalah dua sekutu yang berfungsi memakmurkan dunia masing-masing dengan ciri khasnya berbuat dengan berbagai macam pekerjaan.

4. Sesuai dengan tabiatnya, manusia itu cenderung mengasihi orang yang dikasihi. Adanya isteri akan bisa menghilangkan kesedihan dan ketakutan. Isteri berfungsi sebagai teman dalam suka dan penolong dalam mengatur kehidupan.

5. Manusia diciptakan dengan memiliki rasa ghirah (kecemburuan) untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan.

Pernikahan akan menjaga pandangan yang penuh syahwat terhadap apa yang tidak dihalalkan untuknya.

6. Perkawinan akan memelihara keturunan serta menjaganya.

Didalamnya terdapat faedah yang banyak antara lain memelihara hak-hak dalam warisan.

7. Berbuat baik yang banyak lebih baik daripada berbuat baik sedikit. Pernikahan pada umunya akan menghasilkan keturunan yang banyak.

8. Manusia itu jika telah mati terputuslah seluruh amal perbuatannya yang mendatangkan rahmat dan pahala kepadanya. Namun bila masih meninggalkan anak dan isteri, mereka akan mendoakannya dengan kebaikan hingga amalnya tidak terputus dan pahalanyapun tidak ditolak.

Sayyid Sabiq juga menyebutkan hikmah-hikmah yang lain, seabagi berikut:

(35)

21

1. Sesungguhnya naluri seks merupakan naluri yang paling kuat, yang selamanya menuntut adanya jalan keluar. Bilamana jalan keluar tidak dapat memuaskannya, maka banyaklah manusia yang mengalami kegoncangan, kacau dan menerobos jalan yang jahat. Kawin merupakan jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk menyakurkan dan memuaskan naluri seks ini. Dengan kawin badan jadi segar, jiwa jadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram, perasaan tenang menikmati barang yang halal.

2. Kawin merupakan jalan terbaik untuk menciptakan anak-anak menjadi mulia, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia serta memelihara nasap yang oleh islam sangat diperhatikan

3. Menyadari tanggung jawab beristeri dan menanggung anak- anak akan menimbulkan sikap rajin dan sungguh-sungguh dalam memperkuat bakat dan pembawaan seseorang.

4. Adanya pembagian tugas, dimana yang satu mengurusi dan mengatur rumah tangga, sedangkan yang lain bekerja di luar, sesuai dengan batas-batas tanggung jawab antara suami isteri dalam menangani tugas-tugasnya.

5. Dengan perkawinan, diantaranya dapat membuahkan tali kekeluargaan, memperteguh kelanggengan rasa cinta antara keluarga, dan memperkuat hubungan kemasyarakatan yang oleh islam direstui, ditopang dan ditunjang. Karena masyarakat yang saling menunjang lagi saling menyayangi akan terbentuk masyarakat yang kuat dan bahagia.

B. Sumber hukum perkawinan di Indonesia 1. Al-Qur’an

Ayat-ayat Al-Qur’an tentang perkawinan adalah sebagai berikut:

a. Perkawinan adalah tuntutan kodrat hidup dan tujuannya antara lain adalah untuk memperoleh keturunan, guna melangsungkan kehidupan jenisnya terdapat didalam QS. Al-Dzariyat:49, QS.Yasin:36, QS.al-Hujurat:13, QS.al-Nahl:72.

b. Perkawinan adalah untuk mewujudkan kedamaian dan ketentraman hidup serta menumbuhkan rasa

(36)

22

kasih sayang khususnya antara suami istri, kalangan keluarga yang lebih luas, bahkan dalam kehidupan umat manusia umumnya. Hal ini dapat dilihat didalam QS. Al-Rum:21, QS.An-nur:32.

c. Larangan-larangan Allah untuk dalam perkawinan dapat dilihat didalam QS.al-Baqarah:235, QS.Al- Nisa:22-23, QS.an-Nur:3, QS.al-Baqarah:221, QS.al- Maidah:5, QS.al-Mumtahanah:10.

d. Perintah berlaku adil dalam perkawinan dapat dilihat di dalam QS. An-Nisa’:3 dan 34.

e. Adanya peraturan dalam melakukan hubungan suami istri terdapat di dalam QS. Al-Baqarah:187, 222, dan 223.

f. Aturan-aturan tentang penyelesaian kemelut rumah tangga terdapat di dalam QS.an-Nisa’:35, QS. Al- Thalaq:1, QS. Al-Baqarah:229-230.

g. Aturan tentang masa menunggu (‘iddah) terdapat di dalam QS.al-Baqarah:226-228, 231-232, 234, 236- 237, QS. Al-Thalaq:1-2, 4, 7, dan 66, serta QS al- Ahzab;49.

h. Hak dan kewajiban dalam perkawinan terdapat di dalam QS. Al-Baqarah: 228-233, serta QS. An-Nisa’:4.

i. Peraturan tentang nusyuz dan zhihar terdapat di dalam QS. An-Nisa’:20 dan 128, QS. Al-Mujadalah:2- 4, QS. An-Nur;6-9.

2. Al Hadist

Meskipun Al-Quran telah memberikan ketentuan- ketentuan hukum perkawinan dengan sangat terperinci sebagaimana disebutkan diatas, tetapi masih diperlukan adanya penjelasan-penjelasan dari sunnah, baik mengenai hal-hal yang tidak disinggung maupun mengenai hal-hal yang telah disebutkan Al-Qur’an secara garis besar. Beberapa contoh sunnah mengenai hal-hal yang tidak disinggung dalam Al-Quran dapat disebutkan antara lain sebagai berikut:

a. Hal-hal yang berhubungan dengan walimah.

b. Tata cara peminangan.

c. Saksi dan wali dalam akad nikah.

(37)

23

d. Hak mengasuh anak apabila terjadi perceraian.

e. Syarat yang disertakan dalam akad nikah.

Beberapa contoh penjelasan sunnah tentang hal-hal yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara garis besar sebagai berikut:

a. Pengertian quru’ yang disebutkan dalam Al-Qur’an mengenai masa ‘iddah perempuan yang ditalak suaminya.

b. Bilangan susuan yang mengakibatkan hubungan mahram.

c. Besar kecilnya mahar.

d. Izin keluar rumah bagi perempuan yang mengalami

‘iddah talak raj’i.

e. Perceraian yang terjadi karena li’an merupakan talak yang tidak memungkinkan bekas suami istri kembali nikah lagi.

3. Ijmak Ulama Fiqh

Para ahli fiqh Munakahat banyak memberikan pemikiran, pendapat tentang perkawinan yang didasarkan pada Al-Quran dan Al-Hadis dengan melakukan interprestasi serta analisis yang melahirkan hukum Fiqh dalam bidang perkawinan yang menjadi sumber hukum perkawinan indonesia. Para ahli Fiqh juga menguraikan tentang :

a. Pengertian perkawinan, antara lain seperti yang dikemukakan oleh Abu Yahya Zakariya Al-Anshary, Nikah menrut istilah Syarak ialah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan seksual dengan lafaz nikah atau dengan kata-kata yang semakna dengannya (Abu Yahya Zakariya Al-Anshary, t.t:30). selanjutnya Muhammad Abu Ishrah yang dikutip oleh Abd.

Rahman Ghazaly, akad yang memberikan faedah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga (suami isteri) antara pria dan wanita dan mengadakan tolong menolong dan memberi batas hak bagi pemiliknya serta pemenuhan kewajiban

(38)

24

bagi masing-masing. (Abd. Rahman Ghazaly, 2003:9).

b. Rukun dan Syarat sah Perkawinan. Rukun yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah dan tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), dan sesuatu itu termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti membasuh muka untuk wudhuk dan takbiratur ihram untuk shalat. Atau adanya calon penganten laki-laki/peremouan dalam perkawinan. Syarat yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah dan tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), tetapi sesuatu itu tidak termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti menutup aurat untuk shalat. Atau menurut islam, calon penganten laki-laki/perempuan itu harus beragama islam (Abd. Rahman Ghazaly, 2003:

45-46)

a) Jumhur Ulama sepakat bahwa rukun perkawinan itu terdiri atas:

a) Adanya calon suami dan isteri yang akan melakukan perkawinan,

b) Adanya wali dari pihak calon penganti wanita, akad nikah akan dianggap sah apabila ada seorang wali atau wakilnya yang akan menikahkannya.

c) Adanya dua orang saksi, pelaksanaan akad nikah akan sah apabila dua orang saksi yang menyaksikan akad nikah tersebut.

d) Sighat akad nikah, yaitu ijab kabul yang diucapkan oleh wali atau wakilnya dari pihak wanita dan dijawab oleh calon penganten laki-laki.

Jumlah rukun nikah ini para ulama berbeda pendapat:

Imam malik mengatakan, bahwa rukun nikah itu ada lima macam, yaitu:

1) Wali dari pihak perempuan, 2) Mahar (mas kawin),

(39)

25

3) Calon penganten laki-laki 4) Calon penganten perempuan 5) Sighat akad nikah.

Imam Syafi i menyatakan rukun nikah itu ada lima macam, yaitu:

1) Calon penganten laki-laki, 2) Calon penganten perempuan, 3) Wali,

4) Dua orang saksi, 5) Sighat akad nikah

Menurut Ulama Hanafiyah, rukun nikah itu hanya ijab dan qabul saja (yaitu akad yang dilakukan oleh pihak wali perempuan dan calon penganten laki-laki).

Menurut segolongan yang lain, rukun nikah itu ada empat macam, yaitu:

1) Sighat (ijab kabul),

2) Calon penganten perempuan, 3) Calon penganten laki-laki,

4) Wali dari pihak calon penganten perempuan.

Rukun perkawinan (Abd. Rahman Chazali, 2003:46-49):

1) Dua orang yang saling melakukan akad perkawinan, yakni mempelai laki-laki dan mempelai perempuan,

2) Adanya wali,

3) Adanya dua orang saksi,

4) Dilakukan dengan sighat tertentu.

b) Syarat Sah Perkawinan (lihat Abd. Rahman Ghazali, 2003: 49-50).

Syarat-syarat perkawinan merupakan dasar bagi sahnya perkawinan. Apabila syarat- syaratnya terpenuhi, maka perkawinan itu sah

(40)

26

dan menimbulkan adanya segala hak dan kewajiban sebagai suami isteri. Pada garis besar syarat-syarat sahnya perkawinan itu ada dua:

1) Calon mempelai perempuan halal dikawin oleh laki-laki yang ingin menjadikannya isteri.

2) Akad nikahnya dihadiri para saksi.

Syarat-syarat kedua mempelai (Abd. Rahman Ghazali, 2003:54-55).

Syarat bagi calon pengantin pria:

a. Calon suami beragama islam;

b. Terang (jalas) bahwa calon suami itu betul- betul laki-laki;

c. Orangnya diketahui dan tertentu;

d. Calon mempelai laki-laki itu jelas halal kawin dengan calon isteri;

e. Calon mempelai laki-laki tahun/kenal pada calon isteri halal baginya;

f. Calon suami rela (tidak dipaksa) untuk melakukan perkawinan itu;

g. Tidak sedang melakukan ihram;

h. Tidak mempunyai isteri yang haram dimadu dengan calon isteri;

i. Tidak sedang mempunyai isteri empat.

Syarat-syarat calon pengantin perempuan:

a. Beragama islam

b. Terang bahwa ia wanita, bukan khuntsa (banci);

c. Wanita itu tentu orangnya;

d. Halal bagi calon suami;

e. Wanita itu tidak dalam ikatan perkawinan dan tidak masih dalam iddah;

f. Tidak dipaksa;

g. Tidak dalam keadaan ihram haji atau umrah. Hikmah perkawinan.

(41)

27

4. Ijtihad

Hal yang tidak disinggung dalam Al-Qur’an atau Sunnah, tetapi memerlukan ketentuan hukum dengan ijtihad misalnya mengenai harta bersama yang diperoleh selama perkawinan berlangsung, perkawinan wanita hamil karena zina, akibat pembatalan pertunangan, terhadap hadiah- hadiah pertunangan dan sebagainya.

C. Hukum perkawinan Islam di Indonesia

Indonesia telah memiliki undang-undang nasional yang berlaku bagi seluruh warga Negara Republik Indonesia, yaitu UU Perkawinan.

Sebelum diberlakukannya UU Perkawinan ini, Indonesia telah memberlakukan peraturan-peraturan perkawinan yang diatur dalam KUHPerdata (BW) , Ordonansi Perkawinan Indonesia Kristen (Huwelijks Ordonansi voor de Christens Indonesiers) Staatsblaad 1933 No.74, Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling op de gemengde Huwelijken), Staatsblaad 1898 No. 158. Selain itu, diberlakukan juga Undang-Undang Pencatatan Nikah, Talak, dan Rujuk (NTR) dalam lembaran negara 1954 No.32 serta peraturan Menteri Agama mengenai pelaksanaannya. Undang-Undang Pencatatan NTR hanya mengenaii teknis pencatatan nikah, talak, dan rujuk umat islam, sedangkan praktek hukum nikah, talak, dan rujuk pada umumnya menganut ketentuan-ketentuan fiqh mazhab Syafi’i (Hamid Sarong, 2010: 24-25).

Agama Islam di nusantara sudah ada sebelum penjajahan belanda datang ke nusantara, sehingga dimana masyarakat islam berada, disitu sudah berlaku hukum islam, meskipun dalam lingkup masyarakat yang jumlahnya masih sangat minim. Dibeberapa kerajaan Nusantara waktu itu, hukum islam diakui dan dianut oleh masyarakat, seperti disumatera terdapat Kerajaan Sultan Pasai di Aceh serta Kerajaan Pagar Ruyung dan Kerajaan Paderi kedua-duanya di Minang Kabau. Di Jawa terdapat Kerajaan Demak, Mataram, dan Sultan Agung: di Makassar terdapat Kerajaan Hasanuddin: dan sebagainya, bahkan Malaka serta Brunai (sekarang Brunai Darussalam) di semenangjung Melayu (Idris Ramuliyo, 1997:49)

Pada Zaman VOC eksistensi Hukum Keluarga Islam telah diakui dan berlaku dalam masyarakat dan diakui pula oleh kerajaan- kerajaan islam yang kemudian dihimpun dalam Kitab Hukum Islam, yang dikenal dengan Kompedium Freijen. Kitab Hukum Islam tersebut

(42)

28

berisi aturan-aturan Hukum Keluarga, perkawinan, dan kewarisan islam yang ditetapkan agar diterapkan oleh Pengadilan VOC. Selain itu, dibuat pula himpunan hukum keluarga, perkawinan dan kewarisan islam untuk daerah-daerah Cirebon, semarang dan Makasar. (Arso Sosroatmodjo dan Alwi A. Wasit, 1978:11).

Sudah menjdi fakta sejarah, sebelum pemerintah kolonial Belanda menginjakkan kakinya di Bumi Nusantara pada waktu itu, manyoritas penduduk telah menganut agama islam. Atas dasar fakta tersebut tak dapat dimungkiri apabila di Nusantara pada waktu itu telah terbentuk kelompok masyarakat islam yang besar dan kuat. Di beberapa daerah di Hindia Belanda (kini Indonesia), islam bukan saja merupakan agama resmi karena diakui kerajaan-kerajaan di Nusantara, bahkan akhirnya hukum keluarga yang berlaku di Hindia Belanda telah mengakui nilai-nilai islam yang kemudian diadopsi dalam perundang-undangan Hindia Belanda. (Abdurkadir Muhammad, 2010:58).

Walaupun sudah berabad-abad hukum Islam itu dianut oleh masyarakat islam di Nusantara yang secara terus menerus diperjuangkan oleh umat islam, namun dengan berlakunya Hukum Barat yang dibawa dari Negeri Belanda di berlakukan di Nusantara dalam menunjang dan memperkuat kristenisasi tidak mampu menghilangkan semangat masyarakat islam di Nusantara untuk memperkuat hukum islam. Atas dasar keyakinan yang sudah tertanam dalam jiwanya dan dengan penuh semangat mempertahankan agama islam dan hukum keluarga islam tetap kokoh ditengah-tengah masyarakat di Nusantara ini.

Dalam rangka menghadapi perkembangan hukum keluarga Islam di Hindia Belanda, semula pemerintah Kolonial Belanda merumuskan kebijaksanaan yang telah ditempuh oleh VOC bahwa mereka tidak menganggap hukum islam itu sebagai suatu ancaman bagi kelangsungan pemeritah kolonial Belanda. Akan tetapi kondidsi seperti ini tidak dapat dipertahankan dalam jangka waktu panjang sebab pemerintah kolonial Belanda mengubah pendirian ini sebagai akibat usul Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda.

(Abdul Manan, 2006: xii).

Snouck Hurgronje mengajukan teori baru, karena teori yang berlaku saat itu dianggap sebagai teori yang keliru dalam kehidupan masyarakat. Menurut Snouck Hurgronje teori yang lebih tepat untuk digunakan dalam masyarakat adalah teori resepsi (receptie theori).

(43)

29

Menurut teori tersebut hukum yang berlaku dalam realitas masyarakat adalah hukum adat, sedangkan hukum islam baru dapat diberlakukan apabila sudah beradaptasi dengan hukum adat. Teori resepsi ini didukung oleh Van Vollen Hoven dan Ter Haar. (Abdul Manan, 2006: xii).

Akibat pemberlakuan teori resepsi ini dalam masyarakat Hindia Belanda waktu itu, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan Stb.

Nomor 116 dan Nomor 610 Tahun 1937 tentang Kebijakan Baru yang membatasi kewenangan Peradilan Agama. Pembatasan kewenangan peradilan agama tersebut berdampak penghambatan atau penghentian pengembangan hukum keluarga islam dalam masyarakat. Teori resepsi ini berlaku terus di Hindia Belanda (kini indonesia) sampai kurun waktu 1970. Bahkan hingga kini masih ada beberapa ahli hukum indonesia menganut teori ini. (abdulkadir Muhammad, 2010: 60).

Satu tahun setelah proklamasi kemerdekaan indonesia, keadaan mulai berubah akibat perkembangan masyarakat yang semakin maju untuk menyesuaikan hukum yang berlaku dengan kondisi indonesia merdeka termasuk juga hukum islam. Pada tanggal 22 Nopember di undangkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946 tentang Nikah, Talak dan Rujuk sebagai dasar hukum keluarga islam.

(Abdul Manan, 2006: xiv).

Berdasarkan pada pertimbangan bahwa peraturan nikah, talak dan rujuk yang diatur dalam Ordonansi Perkawinan Stb. Nomor 348 Tahun 1929 Jo. Stb. 467 Tahun 1931, Ordonansi Perkawinan Campuran Stb. 1933 Nomor 98, tidak sesuai lagi dengan keadaan yang ada. Sementara itu, untuk membuat Undang-undang baru tidak mungkin dilaksanakan dalam waktu singkat. Setelah diundangkannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946 tentang Nikah, Talak dan Rujuk, segera diambil tindakan dengan jalan memisahkan urusan pendaftaran nikah, talak dan rujuk dan peradilan agama. Karena Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946 hanya berlaku untuk Jawa dan Madura, dengan semangat kemerdekaan perlu adanya kesatuan hukum yang berlaku secara nasional. Pada tanggal 26 Oktober 1954 dikeluarkan peraturan Penetapan berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946 tentang pencatatan Nikah, Talak dan Rujuk di seluruh daerah di luar Jawa dan Madura. (Abdulkadir Muhammad, 2010: 63- 64).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Pasal 43 ayat 1 undang- undang nomor 1 tahun 1974 sebelum adanya putusan MK ini maka anak yang lahir dari perkawinan sirri tidak mempunyai hubungan secara

Ketentuan mengenai harta kekayaan dalam perkawinan yaitu Pasal 35 sampai dengan Pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Pasal 85 sampai

Perkawinan batal demi hukum apabila dilakukan sebagimana tersebut dalam pasal 70 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu (1) suami melakukan

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak ditemukan adanya ketentuan atau pasal khusus yang mengatur

Berbeda dengan ketentuan yang ter- dapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, ketentuan yang terdapat dalam Un- dang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yaitu pada

Dalam Pasal 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (yang selanjutnya ditulis UU RI No. 1 Tahun 1974) dinyatakan “Perkawinan adalah

Ketentuan pada Pasal 6 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 yaitu “ perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai” maka perkawinan harus disetujui oleh kedua

1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dikaitkan dengan alasan perceraian pasal 39 Undang-undang Perkawinan, dimana dari pelanggaran perjanjian kawin tersebut dapat merusak keharmonisan rumah