• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELAJAR TENTANG MAKALAH HUKUM PERKAWINAN

N/A
N/A
Rohmaniatus Jannah

Academic year: 2024

Membagikan "BELAJAR TENTANG MAKALAH HUKUM PERKAWINAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“HUKUM PERKAWINAN”

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji kami haturkan kehadirat Allah SWT tuhan semesta alam, karena atas rahmat dan petunjuknya kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah kami tentang

“HUKUM PERKAWINAN”

Shalawat serta salam tak lupa pula kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang dalam naungan iman dan islam.

Kami sadar, sebagai seorang mahasiswa/I yang masih dalam proses pembelajaran, penyusunan makalah ini masih banyak sekali kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik serta saran yang bersifat positif, guna penyusunan makalah yang lebih baik untuk kedepannya.

Dan tak lupa pula kami haturkan terima kasih kepada teman-teman yang telah ikut serta dalam penyusunan makalah kita ini. Sehingga kami dapat menyelesaikannya tepat waktu.

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...2

DAFTAR ISI...3

BAB I PENDAHULUAN...4

A. Latar Belakang Permasalahan...4

B. Rumusan Masalah...4

C. Tujuan Penulisan...4

BAB II PEMBAHASAN...6

A. Pengertian Perkawinan...6

B. Arti dan Syarat-syarat perkawinan menurut UU No.1 Tahun 1974...7

C. Hubungan hukum hubungan suami dan istri dalam perkawinan...10

D. Hubungan hukum hubungan anak dan orang tua dalam perkawinan...12

BAB III...14

PENUTUP...14

A. Kesimpulan...14

B. Saran...14

DAFTAR PUSTAKA...16

(4)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan

Secara mendasar, perkawinan adalah sebuah perjanjian yang mengesahkan ikatan dan mengatur hak serta kewajiban antara dua individu yang bukan muhrim.

Dalam pandangan hukum, perkawinan adalah ikatan suci antara seorang pria dan seorang wanita yang mengakibatkan mereka menjadi suami dan istri, serta melegitimasi hubungan intim mereka dengan tujuan membentuk keluarga yang harmonis, penuh kasih, dan saling mendukung. Dalam Islam, terdapat perbedaan antara perkawinan yang sah dan yang tidak sah, yang bergantung pada pemenuhan syarat-syarat dan rukun-rukun yang ditetapkan dalam ajaran agama.

Perkawinan yang sah adalah yang dilakukan dengan memenuhi semua persyaratan agama, sementara yang tidak sah adalah yang tidak memenuhi syarat- syarat tersebut. Namun, dalam praktiknya, terdapat perkawinan yang hanya mengikuti aturan agama tanpa dilakukan pencatatan resmi. Perkawinan semacam ini sering disebut Perkawinan Siri, yang tidak memiliki bukti otentik dan karenanya tidak memiliki keabsahan secara hukum. Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan adalah salah satu peraturan yang mengatur tata cara perkawinan di Indonesia, bersama dengan hukum adat dan hukum agama.

Untuk menjaga ketertiban dalam institusi perkawinan, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menetapkan bahwa setiap perkawinan harus dicatat oleh pihak berwenang. Namun, kenyataannya, terjadi fenomena perkawinan yang tidak tercatat atau disebut juga perkawinan di bawah tangan, yang menjadi marak dalam masyarakat.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengerian umum perkawinan menurut UU No. 1 Tahun 1974?

2. Apa arti dan syarat-syarat dalam perkawinan?

3. Bagaimana hubungan suami dan istri ?

4. Bagaimana hubungan anak dengan orang tua ?

C. Tujuan Penulisan

(5)

1. Untuk mengetahui pengerian perkawinan menurut UU No.1 Tahun 1974;

2. Untuk mengetahui arti dan syarat-syarat dalam perkawinan;

3. Untuk mengetahui hubungan suami dan istri;

4. Untuk mengetahui hubungan anak dengan orang tua.

(6)

BAB II

PEMBAHASAN A. Pengertian Perkawinan

Negara Republik Indonesia, sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, di mana sila yang pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan dianggap mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama atau kerohanian, sehingga perkawinan bukan saja mengandung unsur lahir atau jasmani, tetapi unsur batin atau rohani juga mempunyai peranan yang sangat penting. Pengertian Perkawinan Berdasarkan UU No.1 Tahun 1974 dan KUH Perdata atau BW. Dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 tentang Perkawinan dirumuskan pengertian Perkawinan yang di dalamnya terkandung tujuan dan dasar perkawinan dengan rumusan :

“Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (Rumah Tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata “nikah” sebagai Perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami isteri atau sering diartikan pula sebagai perkawinan. Mulanya kata “nikah” berasal dari bahasa Arab. Sedangkan di dalam Al-Quran menggunakan kata“zawwaja” dan kata

“zauwj”, yang berarti pasangan. Hal ini dikarenakan pernikahan menjadikan seseorang memiliki pasangan.

Pada prinsip perkawinan atau nikah adalah suatu akad untuk menghalalkan hubungan serta membatasi hak dan kewajiban, tolong-menolong antara laki-laki dan perempuan yang antara keduanya bukan muhrim. Apabila ditinjau dari segi hukum tampak jelas bahwa pernikahan adalah suatu akad suci dan luhur antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sahnya status sebagai suami istri dan di halalkannya hubungan seksual dengan tujuan mencapai keluarga sakinah, penuh kasih sayang dan kebajikan serta saling menyantuni antara keduanya.

Perkawinan menurut Hukum Islam adalah Pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqon gholiidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Suatu akad perkawinan menurut Hukum Islam ada yang sah dan ada yang tidak sah. Akad perkawinan dikatakan sah, apabila akad tersebut dilaksanakan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun yang lengkap, sesuai dengan ketentuan Agama. Sebaliknya, akad perkawinan dikatakan

(7)

tidak sah bila tidak dilaksanakan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun yang lengkap sesuai dengan ketentuan Agama. Sementara dalam pandangan ulama suatu perkawinan telah dianggap sah apabila telah terpenuhi baik dalam syarat maupun rukun perkawinan.

KUHP atau BW memandang soal perkawinan hanya dalam hubungan-hubungan perdata (Pasal26). Hal ini berarti bahwa undang-undangnya mengakui perkawinan perdata ialah perkawinan yang sah, yaitu perkawinan yang memenuhi syarat- syarat yang ditentukan dalam KUHP, sedang syarat-syarat atau ketentuan agama tidaklah diperhatikan tau dikesampingkan.

Dengan demikian di dalam pengertian perkawinan itu jelas terlihat adanya unsur ikatan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri.

Hal ini menunjukkan bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengandung asas Monogami tidak mutlak yang secara tegas dinyatakan di dalam Dasar Perkawinan bahwa pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang suami hanya boleh mempunyai seorang isteri sedangkan seorang isteri hanya boleh mempunyai seorang suami. Akan tetapi Pengadilan dapat memberi izin kepada seorang suami untuk beristeri lebih dari seorang yang lazim dikenal dengan Poligami, izin ini diberikan apabila Poligami ini dikehendaki oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Dengan kata lain Poligami dapat dilaksanakan sepanjang Hukum Agama yang bersangkutan mengizinkan dan itupun dibatasi oleh alasan dan persyaratan yang ketat yaitu dengan izin Pengadilan.

B. Arti dan Syarat-syarat perkawinan menurut UU No.1 Tahun 1974 1. Arti perkawinan dalam UU No.1 Tahun 1974

Arti perkawinan Berdasarkan UU No.1 Tahun 1974 dan KUH Perdata.

Dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan Tahun 1974 tentang Perkawinan dirumuskan pengertian Perkawinan yang di dalamnya terkandung tujuan dan dasar perkawinan dengan rumusan :

“Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (Rumah Tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

(8)

Pada prinsip perkawinan atau nikah adalah suatu akad untuk menghalalkan hubungan serta membatasi hak dan kewajiban, tolongmenolong antara laki-laki dan perempuan yang antara keduanya bukan muhrim. Apabila ditinjau dari segi hukum tampak jelas bahwa pernikahan adalah suatu akad suci dan luhur antara laki-laki dan perempuan yang menjadi sahnya status sebagai suami istri dan di halalkannya hubungan seksual dengan tujuan mencapai keluarga sakinah, penuh kasih sayang dan kebajikan serta saling menyantuni antara keduanya.

Dengan demikian di dalam pengertian perkawinan itu jelas terlihat adanya unsur ikatan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri. Hal ini menunjukkan bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengandung asas Monogami tidak mutlak yang secara tegas dinyatakan di dalam Dasar Perkawinan bahwa pada asasnya dalam suatu perkawinan seorang suami hanya boleh mempunyai seorang isteri sedangkan seorang isteri hanya boleh mempunyai seorang suami.

Dari uraian diatas diketahui bahwa rumusan dalam Pasal 1 UU No.1 th 1974 merupakan rumusan perkawinan yang telah disesuaikan dengan masyarakat Indonesia, dasar falsafah negara Pancasila dan UUD 1945.

1. Syarat-syarat perkawinan menurut UU No.1 Tahun 1974 di atur adalam pasal 6 yaitu :

a. Perkawinan harus di dasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai

b. Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat izin kedua orang tua

c. Dalam hal salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal atau dalam keadaaan tidak mampu menyatakan kehendaknya maka izin di maksud ayat 2 pasal ini cukup diperoleh dari orang tua yang masih hidup atau dari orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya

d. Dalam hal kedua orang tua telah meninggal dunia atau dalam keadaan tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan khusus keatas selama mereka masih hidup dan dalam keadaan dapat menyatakan kehendaknya

e. Dalam hal ada perbedaan pendapat antara orang-orang yang disebut dalam ayat 2, 3, dan 4 pasal ini atau salah seorag atau lebih diantara mereka tidak

(9)

menyatakan pendapatnya, maka peradilan dalam daerah hukum tempat tinggal orang yang akan melangsungkan perkawinan atas permintaan orang tersebut dapatbmembari izin setelah lebih dahulu mendengar orang-orang tersebut dalam ayat 2, 3, dan 4 pasal in

f. Ketentuan tersebut ayat 1 sampai ayat 5 pasal ini berlaku sepanjang hukum masing-masing agamanya dan kepercayaan itu dari yang bersangkutan tidak menentukan lain

Adapun syarat perkawinan berdasarkan kitab undang-undang hukum perdata terdiri dari :

1. Syarat materil 2. Syarat formal.

Adapun yang dimaksud dengan syarat materil absolut adalah syarat- syarat yang menyangkut pribadi seseorang yang terdiri dari :

1. Monogami

2. Persetujuan antara kedua calon suami istri 3. Memenuhi syarat umur minimal

4. Perempuan yang pernah kawin dan hendak kawin lagi harus mengindahkan waktu 300 hari setelah perkawinan yang terdahulu di bubarkan

5. Izin dari orang tertentu di dalam melakukan perkawinan Syarat formil berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah:

Syarat ini mengandung Tata Cara Perkawinan, baik sebelum maupun setelah perkawinan. Misalnya sebelum perkawinan dilangsungkan , maka kedua mempelai harus memberikan Pemberitahuan / aangifte tentang kehendak kawin kepada pegawai catatan sipil, yaitu pegawai yang nantinya akan melangsungkan pernikahan. Sedang syarat lainnya, yaitu larangan untuk kawin dengan orang yang sangat dekat di dalam kekeluargaan sedarah atau karena perkawinan, larangan untuk kawin dengan orang yang pernah melakukan zina, larangan memperbaharui perkawinan setelah adanya perceraian jika belum lewat waktu 1 tahun.

(10)

C. Hubungan hukum hubungan suami dan istri dalam perkawinan

Menurut UU No.1 Tahun 1974 hakikat perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri. Dari rumusan diatas jelaslah bahwa ikatan lahir dan batin harus ada dalam setiap perkawinan. Terjalinnya ikatan lahir dan batin merupakan fondasi dalam membentuk dan membina keluarga yang bahagia dan kekal.

Dengan demikian, bahwa hakikat perkawinan itu bukan sekedar ikatan formal belaka, tetapi juga ikatan batin. Hendaknya pasangan yang sudah resmi sebagai suami istri juga merasakan adanya ikatan batin, ini harus ada sebab tanpa itu perkawinan tak akan punya arti, bahkan akan menjadi rapuh. Hal ini lah yang membedakan dengan haikat perkawinan menurut KUHP. Apabila kita membaca KUHP dapat diketahui bahwa hakikat perkawinan adalah merupakan hubungan hukum antara subjek-subjek yang mengikatkan diri dalam perkawinan (dalam hal ini yang dimaksud adalah antara seorang pria dan seorang wanita). Hubungan tersebut didasarkan pada persetujuan diantara mereka dan dengan adanya tujuan tesebut mereka menjadi terikat.

Akibat Hukum dari Perkawinan terhadap Suami Istri menurut UU No.1/1974 dan KUHPdt/BW. Pasal 30 sampai dengan 34 UU No.1/1974, yang isinya:

1. Suami istri memikul kewajiban hukum untuk menegakan rumah tangga yang menjadi sendi dasar susunan masyarakat.

2. Suami istri wajib saling cinta mencintai, hormat-menghormati, setia dan memberi bantuan lahir-batin yang satu kepada yang lain.

3. Hak dan kedudukan istri seimbang dengan suami dalah kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama masyarakat.

4. Suami istri sama-sama berhak untuk melakukan perbuatan hukum.

5. Suami adalah kepala rumah tangga dan istri adalah ibu rumah tangga.

Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan rumah tangga sesuai dengan kemampuannya dan istri wajib mengurus rumah tangga dengan sebaik-baiknya.

(11)

6. Suami istri harus mempunyai tempat kediaman yang tetap, yang ditentukan secara bersama.

Akibat lain yang timbul dari hubungan suami istri yang terdapat dalam KUHPdt/BW:

1. Suami istri wajib tinggal bersama dalam satu rumah. Istri harus tunduk patuh kepada suaminya, ia wajib mengikuti kemana suami memandang baik untuk bertempat tinggal.

2. Suami wajib menerima istrinya dalam satu rumah, yang ia diami. Suami juga wajib melindungi istrinya dan member padanya segala apa yang perlu dan berpanutan dengan kedudukan dan kemampuannya.

3. Suami istri saling mengikatkan diri secara timbale balik untuk memelihara dan mendidik anak-anak.

Asas-asas atau prinsip-prinsip yang tercantum dalam Undang-Undang ini adalah sebagai berikut :

Tujuan Perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi, agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan spiritual dan materiil.

Dalam Undang-undang ini dinyatakan, bahwa suatu perkawinan adalah sah bila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dan di samping itu tiap-tiap perkawinan harus di catat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan peristiwaperistiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan suatu akta yang juga dimuat dalam daftar pencatatan.

Hak dan kedudukan seorang isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam pergaulan masyarakat sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan dan dapat diputuskan bersama antara suami isteri.

(12)

Untuk menjamin kepastian hukum maka perkawinan berikut segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan yang terjadi sebelum berlakunya Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, yang dilaksanakan menurut hukum yang ada pada saat itu maka Perkawinan tersebut dinyatakan sah menurut Hukum.

D. Hubungan hukum hubungan anak dan orang tua dalam perkawinan

Hubungan hukum antara orang tua dan anak dalam konteks perkawinan menjadi titik sentral yang diatur dengan cermat dalam undang-undang perkawinan dan hukum perdata. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab atas kelahiran anak, tetapi juga memiliki kewajiban moral dan hukum untuk mendidik, membesarkan, serta menjaga anak dengan penuh kasih sayang. Keterikatan ini menciptakan dasar yang kuat bagi pembentukan ikatan keluarga yang sehat dan harmonis.

Kedudukan anak dalam konteks perkawinan sangatlah erat terkait dengan permasalahan yang muncul dalam perkawinan itu sendiri, karena setiap perkawinan membawa konsekuensi hukum terhadap anak yang dilahirkan dari ikatan tersebut. Hukum menetapkan berbagai aspek mengenai kedudukan anak, baik dari segi hubungan dengan orang tua maupun statusnya sebagai individu yang masih di bawah umur atau yang telah mencapai usia dewasa.

Dalam konteks hukum perdata, kedudukan anak yang lahir dari perkawinan diatur dengan rinci. Hal ini mencakup hak-hak dan kewajiban-kewajiban anak terhadap orang tua, serta sebaliknya, kewajiban dan tanggung jawab orang tua terhadap anak. Di samping itu, hukum juga menetapkan hak-hak dan kewajiban- kewajiban anak yang masih di bawah umur, serta hak-hak dan kewajiban yang dimiliki anak yang telah mencapai usia dewasa.

Keseluruhan regulasi ini bertujuan untuk melindungi kepentingan terbaik anak, baik secara fisik, emosional, maupun finansial, serta untuk memastikan bahwa hubungan antara orang tua dan anak terjaga dengan baik. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang kedudukan hukum anak dalam perkawinan menjadi penting bagi masyarakat, terutama dalam konteks pembentukan dan pemeliharaan keluarga yang kokoh dan berkelanjutan.

Selain itu, hukum juga memberikan perhatian khusus terhadap anak yang lahir dari perkawinan yang mungkin mengalami situasi yang kompleks, seperti perceraian atau perpisahan orang tua. Dalam kasus-kasus seperti ini, hukum

(13)

memastikan bahwa hak-hak anak tetap terlindungi dan kebutuhannya terpenuhi dengan baik, termasuk hak untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan kedua orang tua.

Di samping itu, bagi anak yang masih di bawah umur, hukum menetapkan perlindungan tambahan dalam bentuk pengawasan dan perwalian untuk memastikan bahwa kepentingan mereka tidak terabaikan atau terpinggirkan. Hal ini termasuk dalam hal keputusan-keputusan penting yang memengaruhi kehidupan anak, seperti pendidikan, kesehatan, dan aspek-aspek lain yang bersifat fundamental.

Sementara itu, bagi anak yang telah mencapai usia dewasa, hukum memberikan lebih banyak otonomi dalam mengatur kehidupannya sendiri, namun tetap memberikan perlindungan terhadap hak-hak dasarnya. Anak dewasa tersebut juga memiliki kewajiban untuk menghormati orang tua dan menjaga hubungan yang baik dengan mereka.

Ketegasan dalam pengaturan kedudukan hukum anak dalam perkawinan tidak hanya bertujuan untuk melindungi kepentingan mereka secara individual, tetapi juga untuk memastikan stabilitas dan kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.

Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk memahami hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang terkait dengan kedudukan hukum mereka dalam konteks perkawinan, sehingga dapat menjaga hubungan yang sehat dan harmonis antara orang tua dan anak, serta memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

(14)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Perkawinan adalah sebuah ikatan yang membentuk keluarga sebagai elemen penting dalam kehidupan sosial dan politik, yang diatur oleh peraturan hukum baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, seperti hukum adat. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menjelaskan bahwa tujuan dari perkawinan adalah untuk membentuk ikatan spiritual dan emosional antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami dan istri, dengan maksud untuk membentuk sebuah rumah tangga yang bahagia dan abadi, yang didasarkan pada prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pemerintah Indonesia telah lama berupaya mewujudkan Undang-Undang Perkawinan Nasional yang diimpikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Upaya ini akhirnya terwujud dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan pada tanggal 2 Januari 1974. Untuk memperlancar pelaksanaannya, Pemerintah juga mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1975 yang mengatur tentang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, yang mulai berlaku secara efektif pada tanggal 1 Oktober 1975.

Isi dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sangatlah luas, mencakup berbagai aspek seperti pernikahan, perceraian, kedudukan anak, hak dan kewajiban orang tua terhadap anak, serta perwalian dan pembuktian asal-usul anak. Undang- Undang ini menegaskan bahwa calon suami dan istri harus matang secara emosional dan fisik sebelum melangsungkan perkawinan, dengan harapan agar ikatan perkawinan mereka dapat berlangsung dengan baik tanpa berujung pada perceraian, serta untuk mendapatkan keturunan yang sehat dan berkualitas. Oleh karena itu, Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menetapkan batas usia untuk melangsungkan perkawinan, yaitu 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita.

(15)

B. Saran

Sebagai saran, penting bagi pemerintah untuk terus meningkatkan sosialisasi dan penegakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, dengan fokus pada pendidikan mengenai kesiapan emosional dan fisik dalam perkawinan serta pentingnya pembinaan hubungan yang sehat dan berkelanjutan. Selain itu, upaya perlindungan terhadap hak-hak anak dan pemahaman yang lebih baik tentang kewajiban orang tua juga perlu ditingkatkan melalui program-program pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, diharapkan masyarakat dapat memahami betapa pentingnya mempersiapkan diri dengan matang sebelum memasuki ikatan perkawinan, serta menjaga keberlangsungan keluarga yang harmonis dan berkualitas.

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, S., Aminuddin, & Djaliel, M. A. (1999). Fiqh Munakahat. Bandung: CV Pustaka Setia.

Rusli, SH. A., & Tama, R. T. SH. (1974). Perkawinan Antar Agama dan Masalahnya.

Bandung: Santika Dharma.

Ramulyo, M. I. (1996). Hukum Perkawinan Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Ghazaly, A. R. (2006). Fiqh Munakahat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Wirjono, P. (1974). Hukum Perkawinan Indonesia. Bandung: Sumur.

Wibowo, R. (2009). Hukum Perkawinan Nasional Jilid I, Tentang Perkawinan. Bandung:

Rajawali Pers.

Sudarsono. (1994). Hukum Perkawinan Nasional. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Tim Media Focus. (2005). Undang-undang Perkawinan. Bandung: Focus Media.

Ramulyo, M. I. (1996). Hukum Perkawinan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah, bagaimana keabsahan perkawinan beda agama ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Pasal 13 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan menentukan bahwa perkawinan dapat dicegah apabila ada pihak-pihak yang tidak memenuhi syarat untuk melangsungkan

SANWACANA ... Latar Belakang ... Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup ... Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian ... Perkawinan Menurut Undang-Undang ... Pengertian Perkawinan

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah, bagaimana keabsahan perkawinan beda agama ditinjau dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Dari uraian tersebut di atas, bahwa pengertian perjanjian dalam Pasal 29 Undang-undang tentang Perkawinan No.1 Tahun 1974 adalah merupakan tindakan hukum dengan siapa telah

Berdasarkan pasal 57 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Perkawinan campuran dimaksudkan perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada hukum

Perkawinan berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa :“Perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang laki- laki dengan

Pembahasan dan Hasil Penelitian Pengertian Perkawinan Dalam pasal 1 Undang-undang Perkawinan, disebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang