Konteks penulisan buku ini dibawa dan diperoleh sebagian dari hasil penelitian yang dilakukan penulis dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pembaca mengenai keberadaan hukum perkawinan. Sebagai bagian dari karya akademik, buku ini merupakan hasil proses penyuntingan yang dilakukan setelah penyusunan laporan penelitian ini.
Manfaat Matakuliah
Deskripsi Perkuliahan
Mata kuliah ini juga akan mencakup berbagai aspek hukum keluarga seperti hak asuh, pengangkatan anak, perkawinan poligami, pencatatan perkawinan. Di akhir pertemuan, para mahasiswa juga akan membahas berbagai permasalahan kontemporer terkait ketentuan Undang-Undang Perkawinan di Indonesia.
Tujuan Instruksional
Mahasiswa mampu menjelaskan dasar hukum dan tata cara perceraian menurut ketentuan hukum nasional; Siswa dapat menjelaskan harta bersama dalam perkawinan dan akibat hukum harta bersama setelah perceraian.
Strategi Perkuliahan
Materi/Bacaan Pokok
Taufiqurohman Syahuri, (2013), Peraturan Perundang-undangan Perkawinan di Indonesia (Kelebihan dan Kekurangan Sejak Pembentukan Hingga Keputusan Mahkamah Konstitusi), Kencana Prenadia Media Group, Jakarta. Ratna Batara Munti & Hindun Anisah, (2005), Kedudukan Perempuan dalam Hukum Islam di Indonesia, LBH APIK, Jakarta.
Tugas Perkuliahan
Pelaksanaan Ujian Pertengahan Semester (UTS) akan berlangsung mengikut jadual takwim akademik semester semasa dalam bentuk Ujian Esei. Pelaksanaan Peperiksaan Akhir Semester (UAS) akan berlangsung mengikut jadual takwim akademik semester semasa dalam bentuk Ujian Esei.
Kriteria Penilaian
Siswa dalam kelompok kecil (3-4 orang) diharapkan menyiapkan lembar kerja (berupa makalah atau esai) dan mempresentasikannya di depan kelas; Tugas individu dan lembar kerja kelompok sebagaimana dimaksud pada poin 2 sampai dengan 5 di atas akan menjadi nilai siswa pada kategori Tugas Terstruktur dengan bobot 20 poin.
Agenda Perkuliahan
Petunjuk Praktis Penggunaan Buku Ajar
Setiap topik pembahasan dalam buku ajar ini diawali dengan uraian mengenai Tujuan Pembelajaran Umum (TIU) dan Tujuan Pembelajaran Khusus (TIK) topik tersebut. Bagian selanjutnya adalah uraian poin pembahasan dan subtopik terpenting, yang disusun berdasarkan literatur pendukung.
Pengertian perkawinan
Makna akad yang sangat kuat dalam Ikhtisar Hukum Islam adalah apabila telah terjadi pelaksanaan akad nikah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai suami istri yang memenuhi syarat-syarat dan rukun perkawinan yang ditentukan oleh hukum Islam dan hukum negara, maka maka ikatan pernikahan itu tidak mudah putus. Ikatan perkawinan tidak dapat diputuskan oleh suami istri dengan alasan yang tidak kuat dan dibuat-buat.
Sumber hukum perkawinan di Indonesia
- Al-Qur’an
- Al Hadist
- Ijmak Ulama Fiqh
- Ijtihad
Meskipun Al-Qur’an telah memberikan ketentuan-ketentuan hukum perkawinan dengan sangat rinci, namun sebagaimana telah disebutkan di atas, namun masih perlu adanya penjernihan dari Sunnah, baik terhadap hal-hal yang tidak disinggungnya maupun terhadap hal-hal yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an. - Al-Qur'an secara detail. Makna quru' yang disebutkan dalam Al-Qur'an mengenai masa 'iddah wanita yang suaminya telah bercerai.
Hukum perkawinan Islam di Indonesia
Pada tanggal 22 November, UU No. 22 Tahun 1946 tentang Perkawinan, Perceraian dan Rujuk Sebagai Dasar Hukum Keluarga Islam. RUU Perkawinan Muslim yang berlaku bagi umat Islam di seluruh Indonesia.
Hukum perkawinan di Indonesia sebelum tahun
Dalam masyarakat lampung dengan tradisi pepadun, meskipun perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sah dilakukan menurut syariat Islam, namun kedua mempelai tidak diformalkan sebagai warga adat (kugruk adat) lampung. diakui sebagai anggota kekerabatan tradisional. Setelah acara suap berakhir, pembawa acara mempersilahkan pembaca puisi untuk membacakan puisi tentang nama panggilan kedua mempelai.
Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974
Tingkat kedua adalah pandangan umum masing-masing fraksi terhadap RUU tersebut dan tanggapan pemerintah terhadap pandangan umum tersebut. Setelah melalui empat tingkat pembahasan antara DPR dan pemerintah, RUU tersebut diteruskan ke paripurna DPR RI untuk disahkan menjadi undang-undang.
Pencatatan Perkawinan
Pencatatan Perkawinan Menurut Islam
Dari sudut pandang Fikih sebagai sumber hukum Islam, ada beberapa analisis yang dapat dikemukakan mengapa pencatatan perkawinan tidak disikapi secara serius oleh Fikih, padahal ada ayat Al-Qur’an yang menganjurkan agar segala bentuk transaksi muamalah direkam menjadi Jadi pencatatan perkawinan bukanlah suatu hal yang dianggap penting pada masa itu, sehingga pembuktian perkawinan tidak dengan akta tertulis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, melainkan pembuktian perkawinan hanya dapat dilakukan dengan saksi dan wali yang dihadiri oleh banyak orang.
Akibat Hukum Dari Dicatat/Tidaknya
Taufiqurohman Syahuri, Peraturan Perundang-undangan Perkawinan di Indonesia (Pro dan Kontra Pembentukannya Hingga Putusan Mahkamah Konstitusi), Kencana Prenadia Media Group, 2013, halaman 31 - 182. Sebutkan dan jelaskan pula berbagai undang-undang perkawinan yang berlaku sebelum diundangkannya UU Perkawinan nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.
Persiapan Perkawinan
Memilih jodoh yang tepat
Peminangan
Berdasarkan ketentuan Pasal 12 dapat diartikan bahwa laki-laki bebas melamar perempuan manapun, baik perawan maupun janda, siapa saja yang dikehendakinya untuk dijadikan isteri. Selain itu, seorang laki-laki tidak boleh melamar seorang wanita yang sedang dalam masa iddah, karena mantan suaminya tetap berhak merujuk istrinya pada masa iddah tersebut, jika dia menghendakinya.
Melihat perempuan yang dipinang
Hadits Nabi Muhammad SAW dari Khalid bin Duraikh dan Aisyah menurut Abu Dawud juga menegaskan bahwa batasan umum aurat wanita yang terlihat hanyalah wajah dan telapak tangan. Alasan mengapa hanya wajah dan telapak tangan yang terlihat adalah karena dengan melihat wajah dapat diketahui keindahannya dan dengan melihat telapak tangan dapat diketahui kesuburan tubuh (Amir Syarifuddin, 2006:57).
Tujuan Pernikahan
Larangan melihat bagian tubuh selain wajah dan telapak tangan didasarkan pada pernyataan Al-Qur’an yang terdapat dalam surat An-Nur ayat 31: “Dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasannya kecuali yang (biasanya) terlihat darinya.” (Q.S.An-Nur:31). Waktu memandang wanita adalah sebelum melamar, bukan setelahnya, karena jika pria tidak suka setelah melihatnya, dia akan bisa meninggalkannya tanpa menyakitinya.
Jenis Pernikahan
- Nikah mut’ah
- Nikah Muhallil (Kawin Cinta Buta)
- Nikah Sirri
- Nikah Kontrak
- Poliandri
- Poligami
- Isogami
- Esogami
- Monogami
- Kawin Paksa
- Kawin Lari
- Perkawinan oleh Kaum Homo Seksual dan
Isogami adalah perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tinggal dalam satu wilayah, mempunyai suku dan ras yang sama. Pernikahan ini merupakan pernikahan sesama jenis yaitu laki-laki dan laki-laki.
Rukun dan Syarat Sah Perkawinan
Namun hukum Islam memberikan batasan usia bagi calon pengantin pria dan calon pengantin wanita yang ingin menikah. Akad nikah dilaksanakan oleh dua pihak, yaitu pihak laki-laki yang dilaksanakan oleh mempelai laki-laki sendiri dan pihak perempuan yang dilaksanakan oleh walinya.
Larangan Perkawinan
Saudara laki-laki ayah, kandung, ayah yang sama atau ibu yang sama dengan ayah; saudara laki-laki kakek, ayah kandung atau ayah atau ibu dengan kakek, dan seterusnya ke atas. Saudara laki-laki ibu, saudara kandung, saudara laki-laki ayah atau ibu; saudara laki-laki nenek, saudara kandung, ayah atau ibu oleh nenek, dan seterusnya ke atas.
Pencegahan Perkawinan
Tujuan mencegah perkawinan adalah untuk menghindari perkawinan yang dilarang oleh syariat Islam dan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, suatu perkawinan harus memenuhi segala sesuatu yang harus dipenuhi untuk menyempurnakan suatu perkawinan.
Perjanjian dalam Perkawinan
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa “pada waktu atau sebelum berakhirnya perkawinan, kedua belah pihak dapat mengadakan perjanjian tertulis dengan persetujuan bersama yang disahkan oleh Pencatat Perkawinan, yang menurut isi itu berlaku juga bagi pihak ketiga, sepanjang pihak ketiga pihak-pihak yang terlibat (ayat 1). Selama perkawinan masih dalam waktu, maka perjanjian itu tidak dapat diubah, kecuali kedua belah pihak sepakat untuk mengubahnya, dan perubahan itu tidak merugikan pihak ketiga (ayat 4).
Akad Nikah (Dasar Hukum dan Rukun Akad Nikah)
Dasar Hukum Akad Nikah
Memandangkan kepentingan akidah bagi seseorang, maka tauhid ini perlu dijadikan asas atau asas pertama dalam akad nikah. Al-Ihsan, artinya akad nikah harus berdasarkan asas taqarrub di hadapan Allah dan kerana Allah, sehingga akad nikah tersebut dapat melahirkan orang-orang yang bertaqwa, dekat kepada Allah, khusyuk dalam beribadah dan mengabdikan seluruh hidupnya kepada kegiatan. untuk mencari keredhaan Allah SWT (Beni Ahmad Saebani).
Rukun Akad Nikah
Sah dan Batalnya Akad Nikah
Saat menyatakan persetujuan, kata-kata yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak harus digunakan. Oleh karena itu, perkawinan tersebut tidak ada dan akad nikah tersebut dianggap tidak sah atau batal.
Shighat Akad Nikah
Wali Nikah
Status wali dalam perkawinan menurut empat
Bagi Imam Syafi’i, yang berhak menjadi wali adalah ayah dan keluarga laki-laki. Status Wali dalam Pernikahan Menurut Madzhab Hanbaliyah, mazhab Hanbaliyah, seperti halnya mazhab Malikiyah dan mazhab Syafi'iyah, memandang wali sebagai hal yang sangat penting (dloruri).
Pengertian Wali Nikah
Wali Sultan, Wali Yudisial, dan Wali Muhakkam adalah wali jauh yang haknya menjadi wali dapat dilaksanakan apabila wali terdekat yaitu wali nasab (nasab wali yaitu wali tersebut di atas) tidak hadir atau tidak memenuhi syarat untuk menjadi wali. . seorang wali. Wali yang lebih jauh hanya dapat menjadi wali apabila ia mempunyai surat kuasa dari wali yang lebih dekat.
Saksi Nikah
Saksi dinilai sangat penting, karena saksi inilah yang sebenarnya yang menentukan sah atau tidaknya akad nikah yang dibuat oleh calon mempelai pria dengan wali calon mempelai pria. Mereka mengetahui cara menjelaskan dan memberi contoh terkait pemenuhan hak dan kewajiban suami istri dalam rumah tangga;
Hak dan Kewajiban Suami dalam Rumah Tangga
- Hak Istri Menerima Mahar
- Hak Istri Digauli dengan Baik
- Hak Istri Dalam Masa Iddah
- Hak Hadhanah
Jika anak paham, maka anak berhak memilih siapa yang disukainya. Berdasarkan isi Pasal 105 KHI, hak asuh anak yang belum mencapai umur 12 tahun adalah hak ibu untuk mengasuhnya serta biaya pemeliharaan, perawatan, pendidikan dan segala hal yang berkaitan dengan anak tersebut. kepentingan anak sepenuhnya ditanggung oleh ayah.
Sebab-Sebab Yang Mewajibkan Nafkah
Sebab keturunan
Kasyafani awalnya menyerahkan hak asuh anaknya, Sienna Ameerah Kasyafani, di tangan ibunya. Namun karena kondisi psikologis Marshanda yang berubah, emosinya yang terkadang sulit dikendalikan, serta gangguan bipolar yang dideritanya, pengadilan mempertimbangkan untuk melepaskan hak asuhnya dan memberikan hak asuh anak kepada ayahnya.
Sebab pernikahan
Sebab milik
Hak dan Kewajiban Istri Dalam Rumah Tangga
Macam-Macam Nafkah
Nafkah Maskanah (Tempat Tinggal)
Dengan adanya tuntutan tingkah laku istri yang demikian, maka suami wajib menyediakan tempat tinggal yang layak bagi istrinya. Pada hakikatnya hak isteri sehubungan dengan kewajiban suami untuk memberi nafkah berupa uang, tempat tinggal, sandang dan lain sebagainya tidak ditentukan dari segi besarannya, tetapi demi keharmonisan rumah tangga maka nafkah itu harus secukupnya dan mencukupi. untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Nafkah Kiswah (Pakaian)
Hak dan Kewajiban Suami Istri dalam UU Perkawinan dan KHI Hak dan kewajiban suami istri diatur dalam UU Perkawinan.
Hak dan Kewajiban Suami-Istri Dalam UU
Pengertian dan Dasar Hukum Putusnya Perkawinan
Macam-Macam Bentuk Perceraian
Talak
Fasakh
Khulu’
Ila’
Syiqaq
Li’an
Zhihar
Taklik Talak
Tata cara melakukan perceraian
Syarat sah perceraian
Isogami melarang laki-laki atau perempuan menikah dengan orang yang berbeda ras atau etnis. Esogami adalah perkawinan antara seorang perempuan dan laki-laki yang berbeda suku, suku, dan tempat tinggal.
Akibat Hukum Perceraian
Akibat Hukum terhadap Harta Bersama
Salah satu pihak meninggalkan pihak lainnya selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa persetujuan pihak lainnya dan tanpa alasan yang sah atau karena alasan lain di luar kekuasaannya. Pasal 89 KHI menegaskan bahwa suami bertanggung jawab atas pengelolaan harta bersama, harta istri, dan harta miliknya sendiri.
Akibat hukum terhadap suami isteri dan anaknya
Menjelaskan lebih rinci alasan-alasan yang dapat dijadikan dasar perceraian, sebagaimana diatur dalam penjelasan ayat kedua Pasal 39. Perceraian yang tidak terjadi di sidang pengadilan/pengadilan syar'iyah sering terjadi di masyarakat kita.
Perceraian Menurut Undang-Undang Perkawinan dan
Cerai Talak (Permohonan)
Seorang laki-laki yang melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, yang ingin menceraikan istrinya, mengajukan surat kepada pengadilan di tempat tinggalnya yang memberitahukan niatnya untuk menceraikan istrinya beserta alasan dan permohonannya kepada pengadilan. untuk mengadakan sidang untuk tujuan ini. Permohonan sebagaimana dimaksud memuat: (a) nama, umur dan tempat tinggal pemohon masing-masing suami, dan tergugat masing-masing isteri; (b) alasan-alasan yang menjadi dasar perceraian (Pasal 19 PP nomor 9 Tahun 1975 jo Pasal 116 KHI).
Cerai Gugat
Perceraian Yang Terjadi Di Luar Prosedur Hukum
- Diselesaikan Oleh Suami Isteri Itu Sendiri
- Melibatkan orangtuanya
- Melibatkan Pemangku Adat Gampong
- Melibatkan Imam Chik atau Ulama Dayah
- Melibatkan Kepala Kantor Urusan Agaman
Pertama, suami istri datang untuk meminta bantuan kepada aparat adat desa untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi suami istri dalam rumah tangganya. Ketiga, aparat adat desa sendiri yang berinisiatif menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam rumah tangga suami istri sebagai anggota masyarakat.
Perkawinan Campuran
Dalam hal pejabat yang berwenang menolak untuk mengikat akta yang bersangkutan, calon pengantin dapat mengajukan permohonan pencabutan surat penolakan tersebut kepada pengadilan agama atau pengadilan syariah. Sertifikat atau keputusan penggantian data tidak diterbitkan dalam waktu 6 (enam) bulan sejak transmisi data. 5) Demi kesatuan maka keputusan pembatalan penolakan adalah sebagai berikut: “Batalkan surat penolakan yang dikeluarkannya.
Izin Kawin, Dispensasi Kawin dan Wali Adhal
Izin Kawin
Dispensasi Kawin
Wali Adhal
Nikah sirri adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan tanpa memberitahukan orang tuanya yang berhak menjadi wali. Ini terjadi ketika seorang wanita menikah dengan sepupu kandungnya atau dari pihak ayah.
Nikah Sirri
Calon mempelai wanita yang hendak melangsungkan perkawinan yang wali perkawinannya tidak mau menjadi wali perkawinannya, dapat mengajukan permohonan pengangkatan wali adhal kepada Pengadilan Agama atau Pengadilan Syar’iyah apabila. Kedua, akad nikah telah memenuhi syarat dan keharmonisan perkawinan yang sah sesuai dengan ketentuan hukum Islam, namun tidak dicatatkan sesuai dengan keinginan hukum perkawinan di Indonesia.
Pembatalan Perkawinan dan Pengesahan
Pernyataan sahnya suatu perkawinan yang terjadi sebelum Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dilaksanakan menurut peraturan-peraturan lain. Perkawinan yang dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai hambatan dalam perkawinan menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Harta Bersama
Dasar Pemikiran tentang Adanya Harta Bersama
Perkawinan yang diperhitungkan adalah perkawinan yang dilakukan sebelum disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, bukan perkawinan yang dilakukan sesudahnya. Setidaknya ada dua pandangan masyarakat Islam dalam melihat harta benda yang diperoleh suami istri selama perkawinan, yaitu berdasarkan adat/adat istiadat dan pemakaian setempat serta tidak berdasarkan hukum Islam.
Ruang Lingkup Harta Bersama
Pendapat kedua berpendapat bahwa harta bersama tidak dikenal dalam Islam kecuali syirkah (perjanjian) antara suami dan istri yang dilakukan sebelum atau pada saat perkawinan. Menurut Yurisprudensi Tetap Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 803K/Sip/1970, tanggal 5 Mei 1970, sebuah rumah dan satu buah mobil termasuk dalam harta bersama suami istri.
Harta Bersama dalam Perkawinan Poligami
Suami bekerja sebagai peniaga dan isteri bekerja sebagai penjawat awam/PNS, pendapatan masing-masing menjadi harta bersama. Sekiranya berlaku perceraian atau kematian, pengiraan harta bersama untuk isteri pertama ialah ½ daripada harta bersama dengan suami yang diperoleh semasa perkahwinan, ditambah 1/3 daripada harta bersama suami dengan isteri pertama dan kedua yang diperolehi, campur ¼ harta bersama yang diperoleh suami bersama isteri ketiga, isteri kedua dan isteri pertama, ditambah 1/5 daripada harta bersama yang diperoleh suami bersama isteri keempat, ketiga, kedua dan pertama.
Pemeliharaan dan Nafkah Anak
Perwalian
Dalam hal wali melalaikan kewajibannya terhadap anak, berkelakuan buruk atau tidak cakap, maka keluarga yang berada dalam antrian terdekat, saudara kandung, pejabat/jaksa dapat mengajukan permohonan pencabutan kuasa wali secara substantif di Pengadilan Agama. atau Mahkamah Syar'iyah di wilayah hukum tempat wali menjalankan kekuasaannya. Gugatan pencabutan wali dapat digabung dengan permintaan pengangkatan wali pengganti serta tuntutan ganti rugi terhadap wali yang dapat menjalankan kekuasaan wali sehingga merugikan harta benda anak yang diakibatkan oleh perwalian (Pasal 53 ayat (1). 2) dan Pasal 54 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974).
Pengangkatan Anak
Ahli Dr. Ahmad Sudirman, M.A
Sedangkan ketentuan Pasal 3 ayat 2 dan Pasal 4 undang-undang a quo tidak pernah diatur secara tegas, namun dalam Al-Quran disebutkan kata adil, itupun maknanya cukup luas karena berkaitan dengan sabab. ayat an-nuzul sendiri, yang menyangkut kebolehan melakukan poligami; Selain itu, ada juga hal-hal yang tidak bisa diintervensi oleh akal, seperti rukun Islam yang lima.
Ahli Dr. Eggi Sudjana, S.H.,.M.Si
2.2] Mengingat pada sidang tanggal 27 Juni 2007, kami mendengar Pernyataan Pembukaan Pemerintah yang disampaikan oleh H.M. Maftuh Basuni (Menteri Agama Republik Indonesia), serta telah diterima pula surat pernyataan tertanggal 26 Juni 2007 yang diterima di Kantor Kepaniteraan pada tanggal 27 Juni 2007 yang pada pokoknya menjelaskan hal-hal sebagai berikut :.
Hak asasi manusia bukan tanpa batas
Artinya pelaksanaan hak asasi manusia tidak bersifat mutlak atau tidak dapat dilaksanakan secara bebas, melainkan hanya dapat dilaksanakan dalam batas-batas tertentu yang diatur dengan undang-undang. Berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Pasal 28J Ayat (1) dan (2) di atas, secara hukum formal Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, meskipun pasal-pasal dalam undang-undang tersebut – Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, khususnya Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 9, Pasal 15 dan pasal 24, seolah-olah membatasi hak asasi manusia, sehingga sebenarnya pembatasan tersebut hanya untuk menjamin pengakuan dan penghormatan terhadap hak dan kebebasan masyarakat serta memenuhi syarat-syarat hak sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam masyarakat demokratis.
Poligami bukan hak yang asasi
Ketentuan tersebut, diatur dalam UU No. 1 Tahun 1974, merupakan wujud hak konstitusional untuk berkeluarga dan meneruskan keturunan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian, ketentuan poligami diatur dalam UU No. 1 Tahun 1974. tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang perkawinan.
Islam menganut asas monogami
Oleh karena itu, asas monogami yang dianut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 sejalan dengan ajaran Islam. Hal-hal yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan kompromi maksimal dari seluruh ketentuan agama yang ada di Indonesia.
Ketentuan-ketentuan pada Undang-Undang Nomor 1
Namun sebagai undang-undang nasional, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan harus bersifat netral, obyektif, dan adil bagi seluruh warga negara. Aturan agama yang dijadikan aturan hukum dalam Undang-undang ini merupakan batas minimum atau ketentuan yang bersifat mendasar yang tidak dapat dikesampingkan oleh ketentuan hukum agama.
UMUM
Ayat (1) yang mengatur tentang syarat-syarat pengajuan permohonan poligami dan Pasal 9 merupakan ketentuan yang mencegah terjadinya kekerasan yang dilakukan oleh pasangan dan memberikan jaminan agar tercipta keharmonisan, kebahagiaan dan kesejahteraan dalam poligami. Ketentuan dalam Pasal 15 dan Pasal 24 merupakan hak yang diberikan kepada laki-laki atau perempuan untuk mengajukan gugatan apabila pasangannya menikah lagi. Dengan demikian, jika permohonan tersebut disetujui, kesewenang-wenangan suami dalam melakukan poligami dikhawatirkan akan sering terjadi sehingga menimbulkan ketidakpastian hukum dan pada akhirnya banyak menimbulkan pelanggaran HAM.
Secara umum Undang-Undang Nomor 1 Tahun
Secara umum undang-undang no. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak bertentangan dengan Undang-Undang Pokok Perkawinan dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Selain itu, pengaturan pelaksanaan hak konstitusional merupakan konsekuensi logis dari kewajiban negara. diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang – Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Agama sebagai sumber hukum
Kondisi seperti ini diakui oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan diberikan sebagai hak konstitusional sebagaimana diatur dalam Pasal 28E ayat (1) yang menyatakan; “Setiap orang bebas menganut suatu agama dan beribadah menurut keyakinannya…”. Oleh karena itu, aturan agama yang dijadikan aturan hukum dalam Undang-Undang Perkawinan merupakan batasan minimal yang tidak bisa dihindari oleh aturan hukum agama.
Poligami sebagai hak bersyarat
Lebih lanjut, pengaturan mengenai perlindungan setiap keluarga diatur dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menekankan adanya persyaratan lain bagi orang yang ingin berpoligami, yaitu: a. Laki-laki dapat dipastikan mampu menjamin kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya; dan C.
Poligami Menurut Pandangan Agama Islam
Jadi tujuan awal diperbolehkannya poligami adalah untuk melindungi para janda dan anak yatim piatu (Soejati, 1986:47). Konstruksi budaya Arab yang patriarki membuat posisi anak yatim (terutama anak perempuan) menjadi tercela.
Tujuan mendasar dari Poligami
Diizinkannya poligami saat itu sebenarnya hanya sebagai cara untuk memperbaiki kedudukan perempuan dan anak yatim. Seringkali anak yatim dikawinkan oleh ayah angkatnya sendiri tanpa mendapat mahar karena tujuan perkawinan hanya untuk menguasai harta bendanya.
Hukum Poligami
Suatu keluarga akan lebih terjamin kedamaian dan kesejahteraannya jika bersifat monogami, karena dalam monogami setiap individu dapat menyalurkan kasih sayang dan cinta dengan sempurna, dan keadilan akan lebih terjaga. Oleh karena itu, meskipun poligami diperbolehkan, namun hal tersebut bukanlah suatu keharusan.
Syarat-syarat dan alasan Poligami
Dalam Al Quran Surat An Nisa Ayat 3 “Jika kamu takut akan kezaliman, maka nikahilah seorang saja”. Adapun keadilan yang secara umum digariskan oleh para fuqaha masa kini adalah keadilan yang bersifat kuantitatif, secara lebih terperinci terbahagi kepada 3 aspek iaitu adil dalam unsur material dan bukan cinta kasih, adil dalam sikap dan tingkah laku, dan adil dalam soal. isteri-isterinya.
Realitas poligami
- KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON
- PENJELASAN PEMERINTAH ATAS PERMOHONAN
- KESIMPULAN
- PERTIMBANGAN HUKUM
- KONKLUSI
- AMAR PUTUSAN
- Kesimpulan
- Kedudukan Hukum (Legal Standing) para Pemohon
- Pengujian UU Perkawinan terhadap UUD Negara
- ALASAN BERBEDA (CONCURRING OPINION)
- DUDUK PERKARA
Pertama, kekerasan selalu terjadi karena adanya dua pihak yang berada dalam hubungan relasional yang tidak setara sehingga kelompok yang kuat melakukan tindakan kekerasan terhadap kelompok yang lemah. Asumsi ini berarti jika terjadi kekerasan terhadap perempuan dianggap beresiko karena perilakunya (Faturochman, 2002: 100).
Kewenangan Mahkamah Konstitusi
Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon
Pokok Permohonan
Bismar Siregar, S.H
Marzuki Darusman, S.H
Dr. Makarim Wibisono
Prof. Dr. Musdah Mulia
Sinta Nuriya Abdurrahman Wahid
Pokok Permohonan Pemohon
Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon
Penjelasan Pemerintah Terhadap Materi Yang
Secara umum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974
Sebagaimana dengan ketentuan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan perwujudan pelaksanaan hak konstitusional yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan, namun ketentuan a quo sekaligus memberikan pembatasan terhadap perkawinan. pelaksanaan hak konstitusional yang dimaksudkan semata-mata untuk melindungi warga negara guna mewujudkan masyarakat yang berkeadilan. Hak konstitusional tersebut sebenarnya sudah ada sebelum amandemen (amandemen) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana diatur dalam Pasal 29 ayat (2) yang menyatakan; “Negara menjamin kebebasan setiap penduduknya untuk memeluk agama dan beribadah sesuai dengan keyakinan dan keyakinannya.” Itu sebabnya undang-undang no. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan merupakan undang-undang yang mengatur hubungan interpersonal yang tidak lepas dari aturan agama.
Penjelasan Terhadap Materi Muatan Norma Yang
Kedudukan Hukum (Legal Standing) Para Pemohon
Pengujian Undang-Undang Perkawinan terhadap
- PENDAPAT BERBEDA (DISSENTING OPINION)