• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nikah Sirri

Dalam dokumen Buku Ajar Hukum Perkawinan (Halaman 141-144)

Nikah sirri artinya adalah nikah rahasia, lazim juga disebut dengan nikah di bawah tangan atau nikah liar. Dalam fikih Maliki, nikah sirri diartikan sebagai nikah yang atas pesanan suami, para saksi merahasiakannya untuk isteri atau jamaahnya, sekalipun keluarga setempat (H.M Anshari, 2009:25). Masyarakat Indonesia mengenal nikah siri atau nikah dibawah tangan sebagai pernikahan yang dilakukan dengan memenuhi rukun dan syarat yang ditetapkan agama, tetapi tidak dilakukan dihadapan Pegawai Pemcatat Nikah sebagai aparat resmi pemerintah atau perkawinan yang yang tidak dicatatkan

di Kantor Urusan Agama bagi yang beragama islam atau di kantor catatan sipil bagi yang tidak beragama islam, sehingga tidak mempunyai akta nikah yang dikeluarkan oleh pemerintah.

(Burhanuddin, 2010: 13).

Istilah nikah sirri telah dikenal pada zaman sahabat, istilah itu berasal dari ucapan Umar bin Khattab pada saat memberitahu bahwa telah terjadi pernikahan yang tidak dihadiri oleh saksi, kecuali hanya seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dalam suatu riwayat masyhur, sahabat Umar bin Khattab R.A menyatakan: “ini nikah sirri, saya tidak membolehkannya, dan sekiranya saya tahu lebih dahulu, maka pasti akan saya rajam”. (Muhammad Ali Hasan, 2003: 295).

Larangan nikah sirri tidak hanya disampaikan oleh Umar bin Khattab, Ulama-ulama besar selanjutnya seperti Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i berpendapat bahwa nikah sirri itu tidak boleh dan jika itu terjadi harus di fasakh (batal) oleh pengadilan agama dan pelakunya dapat diacam dengan hukuman had berupa cambuk atau rajam.

Wildan Suyuti Mustofa membedakan nikah sirri kedalam dua jenis. Pertama, akad nikah yang dilakukan oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan tanpa hadirnya orang tua/wali si perempuan.

Akad nikah hanya dihadiri oleh laki-laki dan perempuan yang akan melakukan akad nikah, dua orang saksi dan guru atau ulama yang menikahkan tanpa memperoleh pendelegasian dari wali nikah yang berhak. Padahal guru atau ulama tersebut dalam pandangan hukum Islam tidak berwenang menjadi wali nikah, karena ia tidak termasuk dalam prioritas wali nikah. Kedua, akad nikah yang telah memenuhi syarat dan rukun suatu perkawinan yang legal sesuai dengan ketentuan hukum Islam, tetapi tidak dicatatkan sesuai dengan kehendak Undang-undang perkawinan di Indonesia.

Abdul Gani Abdullah berpendapat bahwa untuk mengetahui perkawinan memiliki unsur sirri atau tidak, hal tersebut dapat dilihat dari tiga indikator yang harus selalu menyertai suatu perkawinan legal.

Apabila salah satu faktor tidak terpenuhi, maka perkawinan tersebut dapat diidentifikasi sebagai perkawinan sirri. Indikator tersebut adalah:

1. Subjek hukum akad nikah, yang terdiri dari calon suami, calon isteri dan wali nikah adalah orang yang berhak sebagai wali dan dua orang saksi.

2. Kepastian hukum dari pernikahan tersebut, yaitu ikut hadirnya pegawai pencatat nikah pada saat akad nikah dilangsungkan.

3. Walimatul ‘arusy, yaitu kondisi yang sengaja diciptakan untuk menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa calon suami isteri telah resmi menjadi suami isteri.

Nikah sirri, apapun pendekatan pengertiannya, ternyata dinilai menimbulkan persoalan tersendiri dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Meskipun nikah sirri dinilai sah menurut pandangan agama, tetap saja secara yuridis formal tidak mempunyai kekuatan hukum untuk memberikan jaminan perlindungan kepada pihak-pihak terkait selama tidak tercatat secara resmi dalam bentuk akta nikah.

Konsekuensinya, segala perselisihan yang timbul akibat pernikahan sirri tersebut, sering tidak dapat diselesaikan berdasarkan hukum yang berlaku formal.

Sama halnya dengan nikah sirri, nikah di bawah tangan juga tidak memiliki kepastian dan kekuatan hukum. Istilah perkawinan di bawah tangan muncul setelah diberlakukannya secara efektif Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perkawinan dibawah tangan merupakan perkawinan yang dilakukan diluar ketentuan hukum perkawinan yang berlaku secara positif di Indonesia.

Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan bahwa keabsahan suatu perkawinan apabila dilakukan sesuai dengan ajaran agama orang yang melakukan perkawinan itu. Karenanya apabila perkawinan sirri/di bawah tangan telah memenuhi syarat dan rukun nikah menurut hukum Islam maka perkawinan tersebut sah secara hukum islam dan hukum positif. Hanya saja, perkawinan itu tidak dicatatkan oleh pejabat pecatatan perkawinan.

Masalah pencatatan perkawinan yang tidak dilaksanakan tidaklah mengganggu keabsahan suatu perkawinan yang telah dilaksanakan sesuai degan hukum Islam karena sekedar menyangkut aspek administratif. Hanya saja jika suatu perkawinan tidak dicatatkan, maka suami isteri tersebut tidak memiliki bukti otentik bahwa mereka telah melaksanakan suatu perkawinan yang sah. Akibatnya, dilihat dari aspek yuridis, perkawinan tersebut tidak diakui pemerintah, sehingga

tidak mempunyai kekuatan hukum (no legal force). Oleh karena itu, perkawinan tersebut tidak dilindungi oleh hukum dan bahkan dianggap tidak pernah ada/never existed.

Jika ditinjau dari aspek politis dan sosiologis, tidak mencatatkan suatu perkawinan akan menimbulkan dampak sebagai berikut:

a. Masyarakat muslim Indonesia dianggap tidak mempedulikan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bidang hukum, yang pada akhirnya sampai pada anggapan bahwa pelaksanaan ajaran Islam tidak membutuhkan negara, yang pada akhirnya mengusung pandangan bahwa agama haru dipisahkan dari kehidupan kenegaraan, yang dikenal dengan sekularisme.

b. Akan mudah dijumpai perkawinan dibawah tangan, yang hanya peduli pada unsur agama saja dibanding unsur tata cara pencatatan perkawinan.

c. Apabila terjadi wanprestasi terhadap janji perkawinan, maka peluang untuk putusnya perkawinan akan terbuka secara bebas sesuka hati suami atau isteri, tanpa ada akibat hukum apa-apa, sehingga hampir semua kasus berdampak pada wanita/isteri dan anak-anak.

D. Pembatalan Perkawinan dan Pengesahan Perkawinan (Itsbat

Dalam dokumen Buku Ajar Hukum Perkawinan (Halaman 141-144)