• Tidak ada hasil yang ditemukan

Akibat Hukum Perceraian

Dalam dokumen Buku Ajar Hukum Perkawinan (Halaman 122-127)

1. Akibat Hukum terhadap Harta Bersama

Pasal 35 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama. Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing (Pasal 37 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974). Dalam penjelasan Pasal 37 disebutkan yang dimaksud dengan hukumnya masing-masingialah hukum agama, hukum adat dan hukum-hukum yang lainnya.

Kedudukan harta bersama menjadi tanggungjawab bersama antara suami dan isteri dalam melakukan pengelolaannya. Suami tidak dapat bertindak sendiri untuk mengalihkan harta bersama kepada pihak lain tanpa persetujuan isteri. Demikian sebaliknya, isteri tidak dapat bertindak sendiri dalam mengalihkan harta bersama kepada

pihak lain tanpa persetujuan dari suaminya. Dalam Pasal 89 KHI ditegaskan bahwa suami bertanggungjawab menjaga harta bersama, harta isterinya maupun hartanya sendiri. Isteri turut bertanggungjawab menjaga harta bersama maupun harta suami yang ada padanya (Pasal 90). Pasal 97 KHI menjelaskan bahwa janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan.

2. Akibat hukum terhadap suami isteri dan anaknya

Pasal 149 KHI menjelaskan bilamana perkawinan putus karena talak, maka bekas suami wajib memberikan mut’ah yang layak kepada bekas isterinya baik berupa uang atau benda, kecuali bekas isteri tersebut qobla al dukhul (butir a). Memberi nafkah makan dan kiswah kepada bekas isteri selama dalam masa iddah, kecuali isteri telah dijatuhi talak ba’in atau nusyuf dan dalam keadaan tidak hamil (butir b), melunasi mahar yang masih terhutang seluruhnya dan separuh apabila qobla al dukhul (butir c), memberi biaya hadhanah untuk anak- anaknya yang belum mencapai usia 21 tahun (butir d).

Akibat hukum selanjutnya bagi seorang bekas suami, meskipun sudah menceraikan isterinya, akan tetapi masih mempunyai hak terhadap bekas isterinya. Dalam Pasal 150 KHI dijelaskan bekas suami berhak melakukan rujuk kepada bekas isterinya yang masih dalam iddah. Bekas isteri selama dalam iddah, wajib menjaga dirinya, tidak menerima pinangan dan tidak menikah dengan pria lain (Pasal 151 KHI). Berdasarkan ketentuan tersebut seorang bekas isteri wajib menjaga dirinya dengan baik, karena ia belum sepenuhnya pisah dengan bekas suaminya, bila perceraian itu terjadi dengan talak satu dan dua.

Selanjutnya setelah terjadi perceraian, konsekuensi hukum yang harus diterima oleh seorang bekas isteri tidak dapat langsung melakukan perkawinan setelah perkawinan terjadi. Melainkan ada masa waktu tunggu yang harus dipatuhi oleh seorang bekas isteri. Lain halnya dengan seorang bekas suami setelah terjadi perceraian dapat melakukan perkawinan dengan wanita lain. Waktu tunggu bagi seorang janda bagi seorang janda ditentukan sebagai berikut:

a. Apabila perkawinan putus karena kematian, walaupun qobla al dukhul, waktu tunggu ditetapkan 130 (seratus tiga puluh) hari.

b. Apabila perkawinan putus karena perceraian waktu tunggu bagi yang masih haid ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang- kurangnya 90 (sembilan puluh) hari, dan bagi yang tidak haid ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari.

c. Apabila perkawinan putus karena perceraian sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.

d. Apabila perkawinan putus karena kematian, sedang janda tersebut dalam keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan.

Kepustakaan:

 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

 Kompilasi Hukum Islam (KHI)

 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2006, halaman 189 - 348

 Amru Abdul Mun’im Salim, Fikih thalaq Berdasarkan Al qur’an dan Sunnah, Pustaka Azzam, Jakarta, 2005

 Beni Ahmad Saebani, Fiqh Munakahat (2) , Pustaka Setia, Bandung, 2010, halaman 55 – 150

 Dedi Supriyadi & Mustofa, Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Islam, Pustaka Al Fikriis, Bandung, halaman 125 – 204

 Hasballah Thaib, Hukum Keluarga dalam Syariat Islam, Universitas Dharmawangsa, Medan, 1993, halaman 8

 Jamaluddin, Hukum Perceraian (dalam Pendekatan Empiris), Pustaka Bangsa Press, Medan, 2010, halaman 54 - 122

 Moch. Anwar, Dasar-Dasar Hukum Islam dalam Menetapkan Keputusan di Pengadilan Agama, CV. Diponegoro, Bandung, 1991, halaman 49 – 54

 Mustafa Haji Jafar, Kursus Perkawinan Lengkap Ikatan Etika Perkawinan dalam Islam, Pustaka Muda, Perah Darul Rhiduah, 2002, halaman 62

 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 8, Al Ma’arif, Bandung, 1990, halaman 124.

 Syaikh Muhammad Al Utsaimin, Shahih Fiqih Wanita, Akbar Media, Jakarta, halaman 340 – 347.

Tugas & Latihan Soal:

1. Jelaskan hal-hal yang menyebabkan putusnya perkawinan!

2. Bagaimanakah ketentuan hukum Islam mengatur masalah perceraian?

3. Jelaskan secara rinci mengenai alasan-alasan yang dapat dijadikan alasan perceraian yang diatur dalam penjelasan Pasal 39 Ayat (2)!

4. Jelaskan macam-macam perceraian yang anda ketahui!

5. Bagaimanakah akibat hukum dari perceraian?

6. Di dalam masyarakat kita sering terjadi perceraian yang tidak dilaksanakan di hadapan sidang penagdilan/mahkamah syar’iyah.

Apakah praktik perceraian seperti ini sah? Bagaimanakah akibat hukum dari perceraian yang tidak tercatat?

PERCERAIAN BERDASARKAN HUKUM PERKAWINAN NASIONAL

Tujuan Instruksional Umum:

Setelah menyelesaikan matakuliah ini, mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Malikussaleh diharapkan mampu menjelaskan dan mendiskusikan berbagai hal pokok terkait dengan aspek hukum perkawinan, aspek hukum perceraian, aspek hukum keluarga terkait dengan perkawinan serta berbagai persoalan hukum yang dihadapi oleh masyarakat dikaitkan dengan keberadaan UU Perkawinan dan Putusan Mahkamah Konstitusi.

Tujuan Instruksional Khusus:

 Mahasiswa mampu menjelaskan dasar-dasar hukum dan tata cara pelaksanaan perceraian menurut ketentuan hukum nasional;

 Mahasiswa mampu menjelaskan pelaksanaan perceraian di luar ketentuan hukum nasional;

 Mahasiswa mampu membandingkan kedua praktik perceraian yang terjadi di dalam masyarakat.

Sub Pokok Bahasan:

 Pelaksanaan Perceraian Menurut UU Perkawinan Dan KHI;

 Pelaksanaan Perceraian Yang Terjadi Di Luar Prosedur Hukum Perkawinan Nasional.

 Akibat Hukum Dari Pelaksanaan Perceraian Di Luar Mahkamah Syar’iyah.

Uraian:

Dalam dokumen Buku Ajar Hukum Perkawinan (Halaman 122-127)