• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : ANALISIS DATA

2.5 Pengertian Kehidupan Sosial Ekonomi

2.5.1. Perekonomian Keluarga

Secara bahasa terdiri dari dua kata yaitu ekonomi dan keluarga . Sebagaimana telah dijelaskan bahwa ekonomi merupakan tingkah laku manusia secara individu atau bersama- sama dalam menggunakan faktor yang mereka butuhkan. Adapun keluarga adalah suatu satuan kekerabatan yang juga merupakan satuan tempat yang di tandai dengan adanya kerjasama ekonomi dan mempunyai fungsi untuk berkehidupan, bersosialisasi atau mendidik anak daan menolong serta melindungi yang lemah khususnya merawat orang tua yang telah lanjut usia. Dalam bentuk yang paling sederhana keluarga terdiri dari seorang seorang laki-laki dan perempuan di tambah dengan anan-anak mereka yang tinggal dalam satu rumah yang sama. Bentuk keluarga yang demikian dalam antropologi disebut keluarga inti.

tanggal 15 Juni 2014 pukul 12:44).

Pengertian keluarga:

a. Menurut Depertemen Kesehatan RI (1998) :

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di satu tempat di satu atap dalam keadan saling ketergantungan.

b. Menurut Salvicion dan Ara Celis (1989) :

Keluarga adalah atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam peranannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.

Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga 1. Unit terkecil dari masyarakat

2. Terdiri atas dua orang atau lebih

3. Adanya ikatan perkawinan atau pertalian darah 4. Hidup dalam satu rumah tangga

5. Dibawah asuhan seseorang kepala rumah tangga 6. Berinteraksi antara sesama anggota keluarga

7. Setiap anggota keluarga mempunyai peranan masing-masing 8. Diciptakan mempertahankan suatu kebudayaan

Dari defenisi diatas maka perekonomian keluarga adalah pengaturan rumah tangga dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup keluarga untuk pencapaian kemakmuran. Ada beberapa faktor yang menentukan tinggi rendahnya sosial ekonomi seseorang dalam masyarakat, diantaranya tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, kesehatan, kondisi lingkungan ditempat tinggalkepemilikan kekayaan,dan partisipasi dalam aktivitas kelompok dan komunitasnya. Kenyataan setiap manusia yang menjadi warga suatu

masyarakat mempunyai suatu status atau kedudukan dan peranan. Dalam hal ini uraiannya dibatasi hanya 3 faktor yaitu pendapatan, pendidikan dan kesehatan.

2.5.2. Pendapatan

Ilmu ekonomi mengenal istilah pendapatan yang mengandung arti Everes merinci pendapatan terdiri atas:

a) Pendapatan Berupa Uang

1. Usaha sendiri meliputi hasil bersih dari usaha sendiri, komisi atau penjualan dari kerajinan rumah.

2. Hasil investasi yakni pendapatan yang di peroleh dari hak milik tanah. 3. Keuntungan sosial yakni pendapatan yang di peroleh dari kerja sosial. b) Pendapatan berupa barang, yaitu pendapatan berupa :

1. Bagian pembayaran upah dan gaji yang dibentuk dalam beras, pengobatan dan transportasi, pemukiman dan rekreasi

2. Barang yang di produksi dan yang dikonsumsi dirumah antara lain pemakaian barang yang diproduksi dirumah atau di sewa yang seharusnya dikeluarkan terhadap rumah sendiri yang di tempati.

3. Penerimaan yang bukan pendapatan, yaitu pengambilan tabungan penjualan barang yang dipakai, penagihan piutang, pinjaman uang, kiriman uang, hadiah/pemberian, warisan atau menang judi (Mulyanto Sumardi, 1985)

2.5.3. Pendidikan

Tingkat pendidikan sesuai dengan status sosial ekonomi karena merupakan fenomena “cross cutting” untuk semua individu. Pencapaian pendidikan individu dianggap sebagai cadangan untuknya atas semua prestasi dalam hidup, yang tercermin melalui nilai-nilai atau drajatnya. Akibatnya, pendidikan memainkan peran dalam sebuah pendapatan.

Pendidikan memainkan peran penting dalam mengasah keteranpilan seseorang individu yang membuat dia sebagai orang yang siap untuk mencari dan memperoleh pekeerjaan, serta kualifikasi khusus yang mengelompokkan orang dengan setatus sosial ekonomi terendah. Menurut UU NO.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keteranpilan yang ditemukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

1. Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang di tetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang si kembangkan.

a) Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang di tujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantupertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

b) Pendidikan dasar

Jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

c) Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan jenjangbpendidikan lanjutan pendidikan dasar yang harus dilaksanakan minimal 9 tahun.

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

Mata pelajaran pada perguruan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA.

2.5.4. Kesehatan

Kesehatan adalah keadaam sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi pemeliharaaan kesehatan adalah upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu seseorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.Defenisi yang bahkan lebih sederhana di ajukan oleh Larry Green dan para kolegannya menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap prilaku yang kondusif bagi kesehatan.

Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap ‘teranaktirikan’ dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.

Untuk mewujudkan negara yang lebih baik melalui kepemilikan generasi terbaik, Kesehatan masyarakat perlu menjadi prioritas. Dengan mengaplikasikan kesehatan ini, akan

muncul generasi sehat yang mampu memberikan konstribusi optimalnya dalam membangun negara ini. Jiwa yang sehat secara fisik dan batin diharapkan memiliki kemampuan untuk berkonstribusi dengan baik dan nyaman dalam berbagai ide dan pemikiran mereka kedalam bentuk nyata sesuai aspek dan bidang yang ditekuni masing-masing bagi masa depan yang lebih baik. Kesehatan masyarakat sendiri mencakup banyak hal, misalnya dari kesehatan keluarga, reproduksi, hingga kesehatan kejiwaan. Kesemua ilmu dan keteranpilan mengenai kesehatan tersebut dibahas dan dipelajari demi terwujudnya kesehatan tang lebih baik dam komprehensif bagi masyarakat.

Kesehatan keluarga merupakan bagian dari kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan dan di pelajari oleh masyarakat. Mengenai keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat, kebutuhan akan terciptanya keluarga yang sehat yang juga menjadi pertimbangan mengapa masyarakat perlu memiliki pengetahuan dan keteranpilan dalam melindungi kesehatan keluarga. Dengan adanya ilmu ini, diharapkan keluarga setidaknya mampu memberikan pertolongan pertama saat ada keluarga lain yang jatuh sakit. Perawatan dan pengobatan yang dilakukan oleh keluarga juga diyakini lebih efektif dalam penyembuhan pasien. Kesembuhan pasien tidak hanya dipenuhi dengan pengobatan dan perawatan semata namun juga kasih sayang dan perhatian yang ditunjukkan oleh keluarga. Ketika keluarga mampu berkonstribusi dalam perawatan pasien, maka proses penyembuhan akan berjalan lebih cepat.

Dengan beragam bagian kesehatan yang telah diupayakan dalam kegiatan tersebut, maka disempulkan permasalahan kesehatan memiliki ruang lingkup kompleks. Oleh karena itulah, Kesehatan masyarakat menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat yang berupaya menguraikan dan menjadi solusi dari permasalahan kesehatan kompleks tersebut

2.5.5. Kesejahteraan

Kesejahteraan (welfare) ialah kata benda yang dapat diartikan nasib yang baik, kesehatan, kebahagiaan, dan kemakmuran. Dalam istilah umum, sejahtera menunjuk pada keadaan baik, kondisi masyarakat dimana orang-orangnya dalam keadaan makmur, sehat dan damai. Konsep sejahtera menurut BKKBN, dirumuskan lebih luas daripada sekedar defenisi kemakmuran ataupin kebahagiaan. Konsep Kesejahteraan. Tidak hanya mengacu pada pemenuhan kebutuhan fisik orang ataupun keluarga. Sebagai etnitas tetapi juga kebutuhan fsikologisnya. Ada tiga kelompok kebutuhan yang harus terpenuhi yaitu kebutuhan dasar, kebutuhan sosial dan kebutuhan pengembangan. Kesejahteraan dalam artian sangat luas mencakup berbagai tindakan yang dilakukan manusia untuk mencapai tingkatan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Menurut Walter Friedlander, kesejahteraan sosial ialah sistem yang terorganisir dari pelayanan pelayanan sosial dan lembaga yang bertujuan untuk meembantu individu dan kelompok untuk mencapai standart hidup dan kesehatan yang memuaskan relasi-relasi pribadi serta sosial yang memungkinkan mereka untuk mengembangkan kemampuannya sepenuh mungkin dan meningkatkan kesejahteraannya selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakat.

Sementara Elizabeth Wickenden mengemukakan behwa kesejahteraan sosial termasuk didalamnya peraturan perundangan, program, tunjangan dan pelayanana yang menjamin atau memperkuat pelayanan untuk memenuhi kebutuhan sosial yang mendasar dari masyarakat serata menjaga ketentraman dalam masyarakat

Menurut rumusan Undang-undang Republik Indonsesia No.6 Tahun 1974 tentang ketentuan pokok kesejahteraan sosial pasal 2 ayat 1, adalah kesejahteraan sosial adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa keselamatan, kesusilaan dan ketentraman lahir dan batin, yang memungkinkan bagi setiap

warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang sebaik baiknya bagi diri, keluarga serta masyarakat dengan menjunjung tinggi hak –hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan pancasila.

Menurut PBB ada sembilan indikator kesejahteraan sosial yaitu sebagai berikut: 1. Kebutuhan fisik 2. Gizi 3. Tempat berlindung 4. Kesehatan 5. Kebutuhan kultural 6. Pendidikan

7. Waktu terluang dan rekreasi 8. Ketenangan hidup

9. Kelebihan pendapatan

Dokumen terkait