• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Perencanaan Bangunan Check Dam

A. Perencanaan fasilitas check dam didasarkan pada perencanaan check dam yang dirumuskan untuk mengantisipasi sejumlah debris/sedimen yang

(2.36) (2.35b)

merusak dan menimbulkam masalah baik dari alur yang dilaluinya maupun daerah yang terancam akibat aliran debris tersebut.

B. Penentuan titik dasar (basic point) yaitu suatu titik batas untuk menentukan jumlah debris/sedimen yang akan dikendalikan dan diizinkan.

2.6.2 Fungsi Check Dam

A. Dam dipersiapkan cukup mampu menampung jumlah aliran

sedimen/debris yang akan turun

B. Dam mampu mengurangi energi dengan merubah kondisi aliran kolektif

debris menjadi aliran individu

2.6.3 Manfaat lain dari Check Dam

A. Water Intake (pengambilan air) untuk irigasi

B. Depo penambangan batu, pasir dan kerikil C. Jembatan pelintasan

D. Tenaga air mini

E. Pelindung jalan dan jembatan

Adapun hal-hal yang harus diperhitungkan dalam merencanaan check dam adalah sebagai berikut :

2.6.4 Pelimpah

Pada perencanaan pelimpah, diasumsikan air melimpah diatas check dam sehingga dalam perencanaan pelimpah digunakan persamaan energi debit check dam dengan rumus sebagai berikut :

Q =2 3. Cd.�� 2 3g�. (Be). He 3/2 Dimana

Q = Debit diatas pelimpah

Cd = Koefisien debit ( Cd = C0.C1.C2) C0 = Merupakan fungsi He/r C1 = Merupakan fungsi p/He

C2 = merupakan fungsi p/He dan kemiringan muka hulu bendung g = Percepatan gravitasi= 9,81 m/dt2

Be = Lebar Pelimpah (m) W = Tinggi jagaan (m)

m = Kemiringan tepi Pelimpah B = Lebar sungai rata-rata He= Tinggi air diatas pelimpah

Tabel 2.15 Tinggi Ruang Bebas

Debit Rencana (m3/dt) Ruang Bebas (m)

Q < 200 0,6

200 < Q < 500 0,8 500 < Q < 2.000 1,0 2.000 < Q < 5.000 1,2

Sumber : Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen.1985

Kontrol nilai koefisien debit dengan menggunakan rumus rehbock (sumber : Program Magister PSDA-ITB-PU, Pokok Bahasan Hidraulika Terapan)

C = 0,602 + 0,083�H3 H � Dengan :

H3 = Tinggi air diatas pelimpah

H = Tinggi mercu pelimpah/main dam dari tanah dasar

2.6.5 Kemiringan dan Lebar Dasar Main Dam

Mercu adalah puncak dari main dam ataupun sub dam dan lebar mercu yang direncanakan adalah sebagai berikut :

Tabel 2.16 Lebar Mercu Sesuai dengan Material dan Hidrologisnya Lebar Mercu B = 1,5 – 2,50 M B = 3,0 – 4,0

Material Pasir dan Kerikil, atau Kerikil dan Batu

Batu – batu besar

Hidrologis Kandungan Sedimen sedikit, sampai dengan yang banyak

Debris Flow kecil sampai dengan Debris Flow yang besar

Sumber : Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen.1985

Berdasarkan ketentuan lebar mercu dari table diatas kita dapat merencanakan lebar mercu sesuai dengan kondisi dilapangan, dan selanjutnya direncanakan kemiringan tubuh dam bagian hulu.

Dikarenakan kemiringan tubuh dam bagian hilir sudah ada ketentuannya pada buku Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen.1985, yaitu 0,2,

maka dapat ditentukan kemiringan tubuh dam bagian hulu dengan menggunakan persamaan anonymous:

(1 +α)m2+ [2(n +β) + n(4α+γ) + 2.α.β]m

−(1 + 3α) + α.β(4n +β)−γ(3nβ+β + n2 ) = 0

Dengan :

n = Kemiringan Tubuh Dam bagian Hilir (0,2)

α = H3

H =

TinggiAirdiatasMercu Tinggi�������dariFondasi

β = b1 H =

LebarMercu������� Tinggi�������dariFondasi

γ = γγc

w =

BeratIsiBahanDam BeratIsiAir

m = Kemiringan Tubuh Dam bagian Hulu

Dengan menggunakan trial and error , maka didapatkan nilai Variabel “m” dan setelah nilai Vaiabel “n dan m” diketahui maka dapat ditentukan lebar main dam.

(2.39) 1 m n 1 b2 Tanah Asli b1 P. Batu Kali 1:4

Gambar 2.5. Penampang Main Dam (Tubuh Dam)

Lebar dasar main dam sangat mempengaruhi kestabilan main dam menerima gaya horizontal yang melawan struktur main dam, dengan ketentuan :

Lebar dasar main dam ditentukan berdasarkan analisa dan perhitungan stabilitas dan daya dukung tanah dasar

 Stabilitas bangunan ditentukan oleh empat keadaan, yaitu :

o Resultan gaya-gaya main dam harus bekerja pada sepertiga lebar dasar

o Dam harus stabil terhadap gaya geser

o Tanah fondasi harus mampu menahan berat sendiri check dam d. Fondasi

Disarankan fondasi masuk kedalam batuan dasar 1 – 2 m pada tanah berpasir atau batu. Meskipun demikian masuknya fondasi dalam tanah dapat lebih dalam lagi terutama pada batuan dasar yang mengalami retak atau lapuk dimana batuan dasar tidak homogen (Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen).

Tinggi efektif bendung

Tinggi efektif bendung adalah tinggi bendung/main dam yang direncanakan dalam kemampuannya menahan besarnya sedimen yang telah diperhitungkan berdasarkan intensitas curah hujan per-periode ulang dan penetuan tinggi efektif bendung tergantung kepada :

 Kapasitas tampung rencana (volume penahan, volume tampung dan volume control)

 Topografi daerah sekitarnya, sehingga tinggi sayap tidak lebih tinggi dari tebing sungainya

 Penetapan banjir rencana  Dalamnya fondasi bendung  Faktor ekonomi teknik

2.6.6 Perencanaan Sub Dam dan Lantai Pelindung (Apron)

Sub dam dibuat dengan maksud yang sama dengan kolam olakan,

yaitu melindungi dasar sungai bagian hilir terhadap gerusan local (scouring local). Bentuk mercu dan kemiringan sub dam sama dengan bentuk main dam, dalam hal ini dalamnya air diatas mercu pelimpah sub dam didapat dengan anggapan bahwa penampang pelimpah dan sub dam

ditentukan sama. Sedangkan lantai pelindung (apron) dibuat untuk mencegah fondasi dasar sungai dibagian hilir tergerus akibat terjunan air dan sedimen. Lantai pelindung dibuat berdasarkan gaya-gaya yang diakibatkan oleh terjunan, sedangkan lebar lapis lindung ditentukan sesuai dengan lebar, tinggi dan kemiringan dinding pelimpah.

Perhitungan – perhitungan yang berkaitan dalam merencanakan sub dam dan lantai (apron) :

1. Jarak Antara Main Dam dengan Sub Dam L = (1,5 ~ 2,0) x (H1 + H3)

Dengan :

L = Jarak antara main dam dengan sub dam

H1 = Tinggi dari permukaan lantai sampai mercu main dam H3 = Tinggi air diatas mercu pelimpah

2. Tinggi Sub Dam H2 = (⅓ ~ ¼) x H1 3. Panjang Terjunan Lw = V0�2�H1+ 1 2H3� g � 1 2 V0 =Hq0 3 q0 =Qd B1 Dengan :

qo = Debit persatuan lebar

Qd = Debit Air diatas Mercu

B1 = Lebar Pelimpah Bagian Bawah

Vo = Kecepatan Aliran per-meter panjang dibagi tinggi air Lw = Panjang Terjunan

g = Percepatan Gravitasi Bumi 4. Panjang Loncat Air

X = L – b2 + Lw (2.41) (2.42a) (2.42b) (2.42c) (2.43a)

X = β x hj

hj =h21��1 + 8. F12−1�

Dengan :

X = Panjang Loncat Air

β = Koefisien Loncat Air (4,5 ~ 5,0)

hj = Tinggi loncatan air dari permukaan lantai s/d diatas mercu Sub Dam

L = Panjang Main Dam ke Sub Dam b2 = Lebar Mercu Sub Dam

5. Kecepatan Aliran diatas Titik Terjunan V1 = �2g(H1+ H3)�

1 2

6. Tinggi Air pada Titik Jatuh Terjunan h1 = q1

V1

7. Angka Froud pada Aliran Titik Terjunan F1 = V1

(g x h1)1/2

8. Tebal Lantai (Apron)

(2.43b) (2.43c) (2.44) (2.46) (2.47) (2.45)

t = 0,1(0,6H1 + 3H3−1)

2.6.7 Tinjauan Gerusan Lokal di Hilir Sub Dam

Akibat air limpasan dari kolam olakan maka akan terjadi gerusan terhadap tanah asli di hilir sub dam, sehingga tinggi air di atas sub dam sangat mempengaruhi besar kecilnya gerusan tersebut.

Gambar 2.6. Gerusan di Hilir Sub Dam

Gerusan Lokal di Hilir Sub Dam dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

1. Tinggi Air diatas Sub Dam (ketinggian kritis)

Yc = ��3 q12g

q1 =QBd

2. Tinggi Air di Hilir Sub Dam

(2.48a) (2.48b) Yc hc H2 t b4 b4 m n 1 1

Yn =�1q1 nx�I0� 3 5 Dengan : B = Lebar Sungai

n = Koefisien Kekasaran Manning Qd = Debit Air diatas Mercu

Io = Kemiringan rata-rata Lokasi Rencana Check Dam g = Percepatan Gravitasi

q1 = Debit Persatuan Lebar

Dalamnya scouring pada hilir Check Dam menurut ketentuan Vendjik : 1. 2,00 < H/Yc < 15 , maka T = 3 Yc + 0,10 H

2. 0,5 < H/Yc < 2 , maka T = 0,4 Yc + 0,40 H

Dengan :

Yc = Tinggi Air diatas Sub Dam

hc = Tinggi Air di Hilir Sub Dam H = Yc + h

Tabel 2.17 Koefisien Kekasaran Manning berdasarkan Keadaan Sungai

No. Keadaan Sungai Koef. Kekasaran (n)

1. 2. 3.

Sungai curam

Sungai lebar dan dangkal

Sungai dengan perkuatan tebing dari beton pada kedua sisinya dan dasarnya dari tanah atau beton

0,03 ~ 0,05 0,035 ~ 0,045

0,025

Sumber : Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen.1985

Menurut ketentuan Vendjik kedalaman scouring dari tanah dasar di hilir check dam minimal 1 ~ 3 m dikondisikan untuk menanggulangi gerusan akibat

limpasan air dari mercu sub dam. Namun apabila air limpasan dari sub dam terlalu besar, maka gerusan yang terus menerus akan mengikis tanah dasar hilir sub dam, sehingga diharuskan untuk menambah lantai pada bagian hilir sub dam sepanjang 3 ~ 5 m (Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen.1985).

2.6.8 Perhitungan Gaya dan Momen

Adapun gaya-gaya yang bekerja pada check dam adalah :

1. Berat Sendiri Struktur (Main Dam)

Berat struktur yang akan diperhitungkan hanya main dam saja dikarenakan main dam yang berat akan mengalami patahan pada sektor B pada saat menerima gaya dari hulu, baik itu gaya geser maupun guling dan berat sendiri struktur tergantung dari jenis bahan yang akan digunakan, umumnya pasangan batu kali atau batu pecah.

[

Gambar 2.7. Sketsa Penampang Check Dam

A C D B E P. Batu Kali 1:4 0,8 1 0,2 1 h1 P. Batu Kali 1:4

Gambar 2.8. Sketsa Penampang Main Dam Berat Struktur :

W = V x γp

Dengan :

W = Berat Struktur (ton)

V = Volume Pasangan (m3) γp = Berat isi Pasangan (t/m3)

Volume tinjauan untuk setiap 1 m lebar, maka volume sama dengan luas potongan dikalikan 1 m lebar. Berat isi pasangan dapat diambil dari Tabel 3.7.

Tabel 2.18. Berat Isi Pasangan (T/M3)

No Jenis Pasangan (t/m3)

1 Pasangan Batu Kali 2,20 ~ 2,30

2 Beton Tumbuk 2,40

3 Beton Bertulang 2,50

Sumber: Standar Perencanaan Irigasi (KP-02)

2. Gaya Gempa

Besar gaya gempa adalah berat bangunan dikalikan dengan koefisien gempa dan diperhitungkan sebagai gaya horizontal yang bekerja kearah yang paling berbahaya, sehingga persamaannya adalah :

Gg = W x E E = ad g ad = n(ac x z)m Dengan : Gg = Gaya gempa (t) W = Berat Struktur (t) E = Koefisien gempa

ad = Percepatan gempa dasar (cm/dt2) n,m = Koefisien jenis tanah

ac = Percepatan gempa dasar (cm/dt2) g = Percepatan gravitasi (cm/dt2)

(2.53) (2.52) (2.51)

Gambar 2.9. Peta Zona Gempa Sumatera

KETERANGAN :

Legenda

Harga koefisien gempa tergantung dari faktor letak geografis suatu daerah dimana check dam direncanakan dan diambil dari peta gempa yang dikeluarkan oleh Departemen Perhubungan, Direktorat Meteorologi dan Geofisika dapat dilihat pada Tabel 2.16 dan periode ulang dengan percepatan gempa pada Tabel 2.17

Tabel 2.19. Koefisien Jenis Tanah untuk Perhitungan Gempa

No Jenis Tanah n m

1 Batuan 2,76 0,71

2 Diluvium 0,87 1,05

3 Aluvium 1,56 0,89

4 Aluvium Lunak 0,29 1,32

Sumber: Standar Perencanaan Irigasi (KP-06)

Tabel 2.20. Percepatan Gempa Dasar (cm/dt2)

No Periode Ulang (Tahun)

1 20 85

2 50 113

3 100 160

4 500 225

5 1000 275

3. Tekanan Lumpur (Sediment Pressure)

Setelah bendung beroperasi ada kemungkinan dibagian hulu dam akan tertimbun oleh sedimen atau lumpur. Oleh karena itu dalam meninjau stabilitas, maka dihulu dam dianggap terdapat endapan lumpur setinggi mercu. Apabila parameter sedimen diketahui maka tekanan sedimen dapat dihitung sebagai berikut :

Gambar 2.10. Tekanan Sedimen

��=���2�45−� 2� H3 = ½ x Ka x γs x (h1)2 G6 = ½ x (b1 x h1) x γs Dengan : O G1 H1 b1 b2 b3 h1 x Y P. Batu Kali 1:4 Sedimen

Ka = Koefisien Tekanan Tanah Φ = Sudut Geser Tanah

H3 = Tekanan Sedimen arah Horizontal

G6 = Tekanan Sedimen arah Vertical γs = Berat Isi Sedimen

G6 akan bekerja secara vertical sehingga menambah berat struktur check dam.

4. Gaya Hidrostatis

Gaya hidrostatis pada check dam bekerja secara 2 Arah dikarenakan bentuk penampangnya, ada Gaya yang bekerja secara horizontal yang mempengaruhi kestabilan check dam dan ada gaya yang bekerja secara vertical yang menambah berat sendiri check dam. Gaya-gaya tersebut

dihitung pada keadaan saat air normal dan pada saat air banjir dengan berat isi air � = 1 �/�3

a. Gaya Hidrostatis Air Normal

O h1 G2 H2 b1 b2 b3 h2 b4 G3 x Y Air Sungai P. Batu Kali 1:4

Gambar 2.11. Gaya Hidrostatis Air Normal Keterangan : H = ½ x γw x (h1)2 G1 = ½ x b1 x h1 x γw G2 = ½ x b4 x h2 x γw Dengan :

H = Gaya Hidrostatis arah Horizontal

G1 = G2 = Gaya Hidrostatis arah Vertikal

h1 = Tinggi Air di hulu Main Dam pada saat Air Normal

h2 = Tinggi Air di hilir Main Dam pada saat Air Normal

G1 dan G2 akan bekerja secara vertical sehingga menambah Berat Struktur Check Dam sendiri pada saat Air Normal.

b. Gaya Hidrostatis Air Banjir

Gambar 2.12. Gaya Hidrostatis Air Banjir

O h1 G4 H3 b1 b2 b3 G5 h3 b4 h2 G6 x Y

Keterangan : H2 = ½ x γw x (h1+h3)2 G3 = ½ x b1 x h1 x γw G4 = h3 x (b1 + b2) x γw G5 = ½ x (b4 x h2) x γw Dengan :

H2 = Gaya Hidrostatis arah Horizontal saat Air Banjir

G3 = G4 = G5 = Gaya Hidrostatis arah Vertikal

G4 = Tinggi Air diatas Pelimpah

h1+h3 = Tinggi Air di hulu Main Dam pada saat Air Banjir

h2 = Tinggi Air di hilir Main Dam pada saat Air Banjir

G3, G4 dan G5 akan bekerja secara vertical sehingga menambah berat struktur check dam sendiri pada saat air banjir.

5. Uplift Pressure

Bangunan tubuh bendung mendapat tekanan air bukan hanya pada permukaan luarnya, tetapi juga pada dasarnya dari bawah tubuh bangunan itu sendiri yang disebut uplift pressure yang menyebabkan berkurangnya berat efektif bangunan diatasnya. uplift pressure ini akan mengakibatkan gaya angkat yang

akan menimbulkan gaya guling dan geser terhadap tubuh bendung dan pecahnya lantai kolam olakan.

Pengembangan dari teori Bligh dan Lane akan memperoleh persamaan :

Ux =�hx− Lx

∑ Lx ∆H�x A x γw

Lx = Lv+1 3x Lh

Dengan :

Ux = Uplift pressure pada titik tinjauan (t/m2)

hx = Ketinggian muka air di Hulu bendung (m)

Lx = Panjang creep line sampai titik tinjauan (m)

Lv = Panjang creep line sampai titik tinjauan arah vertikal (m)

Lh = Panjang creep line sampai titik tinjauan arah horizontal (m)

ΣL = Panjang creep line total (m) ∆H = Selisih tinggi tekanan (m) γw = Berat isi air (t/m3)

A = Luas Diagram Gaya (m2)

6. Gaya Tumbukan Akibat Aliran Sedimen

(2.54a)

Mengenai beberapa besarnya gaya tumbukan yang bekerja pada check dam, hanya sedikit sekali data yang didapat. Besarnya tumbukan yang

pernah diamati, contohnya 30 ~ 100 t/m2 bekerja pada bagian sayap dari check dam. Sebenarnya hanya ada beberapa contoh saja dalam hitungan

gaya tumbukan ini. Meskipun demikian gaya tumbukan ini mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap check dam, dimana check dam dapat mengalami pecah/retak akibat energi kinetis dari kecepatan aliran sedimen yang ditahan oleh check dam (Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen.1985).

Rumus berikut dapat dipakai dalam merencanakan gaya tumbukan akibat aliran sedimen :

F = 0,153 x h x V2

P = 48,2 x V1,2 x R2 x D−1

Dengan :

F = Tekanan air (t/m)

P = Benturan oleh batu-batuan (t/m)

h = Tinggi aliran sedimen (m)

V = Kecepatan aliran sedimen (m/dt)

R = Jari-jari baru (m)

(2.55a)

D = Berat volume dam (t/m2)

2.6.9 Analisis Stabilitas Check Dam

Dalam menganalisa stabilitas check dam harus dianalisa semua gaya – gaya yang bekerja pada struktur bendungan. Apabila gaya – gaya tersebut dapat diketahui maka data tersebut sebagai acuan untuk perencanaan check dam. Perhitungan analitik untuk check dam khususnya stabilitas struktur yang diperhitungkan adalah dari dasar fondasi sampai mercu pelimpah dan bukan terhadap mercu sayap. Untuk menyederhanakan perhitungan check dam maka struktur bendungan dibagi dalam pias-pias segitiga, segi empat atau trapesium.

Check dam yang akan direncanakan harus dapat bertahan dan berfungsi

dengan baik selama umur rencananya. Untuk dapat berfungsi dengan baik maka konstruksi check dam khususnya main dam harus mampu bertahan terhadap semua kemungkinan gaya yang bekerja tanpa mengalami perubahan, baik posisi, elevasi maupun bentuk (stabil). Peninjauan gaya-gaya dilakukan pada kondisi yaitu kondisi air normal dan banjir.

1. Gaya guling

Keamanan terhadap gaya guling dikontrol dengan rumus : ∑ MT

∑ MG> ��

Dengan :

∑MT = Jumlah momen tahan (tm)

∑MG = Jumlah momen guling (tm)

SF = Faktor keamanan > 1,30 (kondisi air normal KP-06)

Faktor keamanan > 1,10 (kondisi air banjir KP-06)

2. Gaya geser

Keamanan terhadap gaya geser dikontrol dengan rumus : ∑ V

∑ H>��

Dengan :

∑V = Jumlah gaya vertikal (t/m)

∑H = Jumlah gaya horizontal (t/m)

SF = Faktor keamanan > 1,30 (kondisi air normal KP-06)

Faktor keamanan > 1,10 (kondisi air banjir KP-06)

3. Eksentrisitas

Keamanan terhadap eksentrisitas dikontrol dengan rumus :

e =L2−(∑ MV−∑ MH) ∑ V Syarat: e≤1 6L Dengan : e = Eksentrisitas (m)

L = Panjang total bendung yang ditinjau (m)

(2.57)

∑ MV = Jumlah momen vertikal (tm)

∑ MH = Jumlah momen horizontal (tm)

∑ V = Jumlah gaya vertikal (t)

4. Kontrol Terhadap Tegangan Tanah/Daya Dukung (overstressing)

Tegangan tanah yang terjadi di bawah fondasi adalah : ��.� = � � � ��± �� �� Dengan : σ 1.2 = tegangan tanah V = gaya-gaya vertikal B = lebar dasar e = eksentrisitas

Tabel 2.21 Daya Dukung Tanah berdasarkan Jenis Tanah Fondasi

Klasifikasi Fondasi Daya Dukung

Tanah (t/m2)

Batuan Dasar

Batuan keras dengan sedikit retak 100 Batuan keras dengan banyak retak 60

Batuan lunak atau Mudstone 30

Lapis Kerikil

Kompak 60

Tidak kompak 30

Lapis Pasir

Kompak 30

Tidak kompak 20

Lapis Tanah Liat

Keras 10

Kurang keras 5

Sangat keras 20

Sumber : Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen.1985

5. Kontrol Terhadap Uplift Pressure

Akibat adanya uplift pressure maka semua gaya-gaya berat struktur arah vertikal ke bawah akan direduksi oleh gaya dengan arah vertikal ke atas yang dihasilkan oleh uplift pressure, sehingga dalam pengontrolannya setiap gaya berat struktur arah vertikal ke bawah akan dikurangi dengan besarnya uplift pressure.

6. Kontrol Terhadap Gaya Tumbukan Aliran Sedimen

Kontrol terhadap gaya tumbukan aliran sedimen terhadap check dam (F+P). Nilai berikut dapat digunakan pada check dam tipe gravitasi.

Gaya tumbukan yang diizinkan < 40 Kg/cm2 (Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre,

Namun secara garis besar dapat dihitung berdasarkan ketentuan sebagai berikut :

Tabel 2.22 Ketentuan Gaya-Gaya yang Bekerja pada Check Dam berdasarkan Tinggi Bendung

Tinggi

Bendung Pada Debit Normal Pada Debit Banjir

< 15 m 1. Berat sendiri

2. Tekanan Air Statis ≥ 15 m 1. Berat sendiri

2. Tekanan Air Statis 3. Tekanan Tanah/Sedimen 4. Gaya Up Lift

5. Tekanan Inersia Terhadap gempa

1. Berat sendiri 2. Tekanan Air Statis 3. Tekanan Tanah/Sedimen 4. Gaya Up Lift

Sumber : Japan International Cooperation Agency (JICA), Volcanic Sabo Technical Centre, Perencanaan Bangunan Pengendali Sedimen.1985

Dokumen terkait