BAB II. LANDASAN TEORI
D. Perencanaan dan Evaluasi Andragogi
Perencanaan merupakan suatu proses yang harus dilaksanakan ketika kita akan
melakukan sesuatu, termasuk perencanaan pembelajaran orang dewasa. Perencanaan pembelajaran orang dewasa sangat diperlukan agar proses pendidikan dan pembelajaran orang dewasa dapat berjalan sesuai dengan karakter orang dewasa.
Menurut Rahman dapat dianggap sebagai komponen perencanaan pendidikan orang dewasa. komponen tersebut adalah seabagai berikut:33
a) Peserta didik. Dalam pendidikan orang dewasa harus mempertimbangkan kondisi peserta didik, seperti perbedaan umur, kelamin, sosial, ekonomi, latar belakang, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya.
33
b) Tujuan belajar. Pendekatannya lebih berat pada peningkatan kemampuan dan keterampilan praktis dalam waktu sesingkat mungkin untuk mencukupi keperluan hidupnya.
c) Sumber belajar (pembimbing). Diupayakan sumber belajar ini diambil dari warga masyarakat setempat biasanya sudah mengenal keadaan masyarakat setempat biasanya sudah mengenal keadaan masyarakatnya sendiri secara rinci. d) Kurikulum. Kurikulum untuk pendidikan orang dewasa biasanya sangat sederhana dan sesuai dengan kebijakan pemerintah setempat, mengandung pengetahuan dasar dan praktis.
e) Oraganisasi pelaksana. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam organisasi pelaksana adalah siapa pelaksananya, apa kegiatannya, bagaimana susunan personalianya, apa perlengakapannya, dari mana sumber dananya, dan siapa penanggung jawabnya.
f) Kondisi masyarakat setempat. Dalam menyusun rencana pembelajaran perlu dipertimbangkan kondisi masyarakat setempat. Harus dihindari rencana yang muluk-muluk karena dapat menimbulkan ketidaksesuaian dengan kondisi masyarakat setempat.
g) Kemanfaatan langsung. Isi program pendidikan harus berhubungan atau sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
h) Struktur organisasi. Struktur organisasi diupayakan sesederhana mungkin, perlu dihindari organisasi yang rumit dan berbelit-belit.
Dalam perencanaan pendidikan, ada hal-hal yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut:34
a) Penemuan yang telah ada sebelumnya. Hasil penelitian yang telah ada sebelumnya dapat bermanfaat dalam perencanaan pendidikan.
b) Perlunya penelitian keadaan lokasi. Penelitian langsung ke sasaran lokasi perlu dilakukan untuk memastikan keadaan lokasi yang sebenarnya.
c) Perkiraan kebutuhan. Perkiraan kebutuhan masyarakat sangat penting untuk menyusun kerja yang jelas. Contoh kerangka kerja: (1) dasar dan fungsional-kesehatan, perawatan, pemeliharaan anak, (2) kejujuran-keterampilan untuk mencari kerja, (3) kewarganegaraan atau sosial-kerja sama, perbaikan kemasyarakat, pengertian tentang sosial ekonomi dan kekuatan politik, (4) kejiwaan-sikap positif dan kontrol diri, dan 5) moral-nilai dan kebaikan.
d) Penyusunan tujuan dan strategi. Termasuk perumusan tujuan umum, tujuan khusus, dan strateginya.
e) Rancangan implementasi. Rancangan pelaksanaan kegiatan dan pengenalan dampak yang akan ditimbulkannya, dan siapa yang akan bertanggung jawab di setiap kegiatan.
f) Penetapan waktu pelaksanaan. Suatu kegiatan selalu memerlukan waktu, dan waktu itu perlu ditetapkan.
g) Penilaian. Penilaian sebaiknya direncanakan bersamaan dengan penentuan tujuan. Perencanaan penilaian ini termasuk siapa yang akan menangani penilaian, siapa yang akan bertanggung jawab, kapan waktu penialain, dan bagaimana data dikumpulkan.
34
Dalam penjelasan lain proses perencanaan kegiatan pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut:35
a) Menyiapkan Iklim Belajar yang Kondusif. Faktor lingkungan berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. Oleh karena itu, dalam pembelajaran model Andragogi langkah pertama yang harus dikerjakan adalah menyiapkan iklim belajar yang kondusif. Ada tiga hal yang perlu disiapkan agar tercipta iklim belajar yang kondusif itu. Pertama, penataan fisik seperti ruangan yang nyaman, udara yang segar, cahaya yang cukup, dan sebagainya. Termasuk di sini adalah kemudahan memperoleh sumber-sumber belajar baik yang bersifat materi seperti buku maupun yang bukan bersifat materi seperti bertemu dengan fasilitator. Kedua, penataan iklim yang bersifat hubungan manusia dan psikologis seperti terciptanya suasana atau rasa aman, saling menghargai, dan saling bekerjasama. Ketiga, penataan iklim organisasional yang dapat dicapai melalui kebijakan pengembangan SDM, penerapan filosofi manajemen, penataan struktur organisasi, kebijakan finansial, dan pemberian insentif.
b) Menciptakan Mekanisme Perencanaan Bersama. Perencanaan pembelajaran dalam model Andragogi dilakukan bersama antara fasilitator dan peserta didik. Dasarnya ialah bahwa peserta didik akan merasa lebih terikat terhadap keputusan dan kegiatan bersama apabila peserta didik terlibat dan berpartisipasi dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
35 http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/Dr.%20Sujarwo,%20M.Pd./Makalah-Strategi%20Pembelajaran%20Orang%20dewasa%20%28Repaired%29.pdf. diakses 10. 01.2013
c) Menetapkan Kebutuhan Belajar Dalam proses pembelajaran orang dewasa perlu diketahui lebih dahulu kebutuhan belajarnya. Ada dua cara untuk mengetahui kebutuhan belajar ini adalah dengan model kompetensi dan model diskrepensi.
Pertama, Model kompetensi dapat dilakukan dengan mengunakan berbagai cara
seperti penyusunan model peran yang dibuat oleh para ahli. Pada tingkat organisasi dapat dilakukan dengan melaksanakan analisis sistem, analisis performan, dan analisis berbagai dokumen seperti deskripsi tugas, laporan pekerjaan, penilaian pekerjaan, analisis biaya, dan lain-lain. Pada tingkat masyarakat dapat digunakan berbagai informasi yang berasal dari penelitian para ahli, laporan statistik, jurnal, bahkan buku, dan monografi. Kedua, Model dikrepensi, adalah mencari kesenjangan. Kesenjangan antara kompetensi yang dimodelkan dengan kompetensi yang dimiliki oleh peseta didk. Peseta didik perlu melakukan self assesment.36
d) Merumuskan Tujuan Khusus (Objectives) Program Tujuan pembelajaran ini akan menjadi pedoman bagi kegiatan-kegiatan pengalaman pembelajaran yang akan dilakukan. Banyak terjadi kontroversi dalam merumuskan tujuan pembelajaran ini karena perbedaan teori atau dasar psikologi yang melandasinya. Pada model Andragogi lebih dipentingkan terjadinya proses self-diagnosed needs.
e) Merancang Pola Pengalaman Belajar Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan perlu disusun pola pengalaman belajarnya atau rancangan programnya. Dalam konsep Andragogi, rancangan program meliputi pemilihan problem areas yang telah diidentifikasi oleh peserta didik melalui self-diagnostic, pemilihan format belajar (individual, kelompok, atau massa) yang sesuai, merancang
unit pengalaman belajar dengan metoda-metoda dan materi-materi, serta mengurutkannya dalam urutan yang sesuai dengan kesiapan belajar peserta didik dan prinsip estetika. Rancangan program dengan menggunakan model pembelajaran Andargogi pada dasarnya harus dilandasi oleh konsep self-directed learning dan oleh karena itu rancangan program tidak lain adalah preparat tentang learning-how-to-learn activity.37
f) Melaksanakan Program (Melaksanakan Kegiatan Belajar). Catatan penting pertama untuk melaksanakan program kegiatan belajar adalah apakah cukup tersedia sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan membelajarkan dengan menggunakan model Andragogi. Proses pembelajaran Andragogi adalah proses pengembangan sumberdaya manusia. Peranan yang harus dikembangkan dalam pengembangan sumberdaya manusia adalah peranaan sebagai administrator program, sebagai pengembang personel yang mengembangkan sumberdaya manusia. Dalam konteksi pelaksanaan program kegiatan belajar perlu dipahami hal-hal yang berkaitan dengan berbagai teknik untuk membantu orang dewasa belajar dan yang berkaitan dengan berbagai bahan-bahan dan alat-alat pembelajaran.
Dalam perkembangan pendidikan orang dewasa saat ini lebih banyak menggunakan metode perencanaan partisipatif, di mana semua pihak yang terkait di dalam pendidikan dilibatkan dalam proses pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasinya. Adapun prinsip perencanaan partisipatif adalah sebagai berikut:38
37 ibid
a) Hubungan dengan masyarakat. Antara lembaga pendidikan dan masyarakat perlu hubungan yang harmonis, saling kerja sama, saling memberi, dan salaing menerima.
b) Partisipan. Pihak yang layak diikutsertakan dalam perencanaan pendidikan harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1) Tertarik akan masalah-masalah pendidikan. 2) Mau belajar dari ahli perencana pendidikan.
3) Memiliki kemampuan intelektual sebagai perencana. 4) Paham masalah pendidikan.
5) Merupakan anggota kelompok yang dapat bekerja efektif.
c) Teknik kerja kelompok. Tiga teknik kerja kelompok yang dianjurkan: 1) pertemuan kelompok, 2) proses kelompok nominal, dan 3) teknik delphi.
d) Ramalan dan pembuatan program. Ramalan (forcasting) mempunyai arti: 1) ramalan yang terbatas, yakni perkiraan yang akan terjadi di organisasi pendidikan atau dalam masyarakat lingkungan lembaga pendidikan atau dalam masyarakat lingkungan lembaga pendidikan, dan 2) ramalan yang lebih luas, yakni perkiraan kegiatan atau program organisasinya yang sesuai dengan hasil ramalan terhadap lingkungannya.
2. Evaluasi Andragogi
Pekerjaan mengevaluasi merupakan pekerjaan yang harus terjadi dan dilaksanakan dalam setiap proses pembelajaran. Tidak ada proses pembelajaran tanpa evaluasi. Proses evaluasi dalam model pembelajaran Andragogi bermakna pula sebagai proses untuk merediagnosis kebutuhan belajar. Untuk membantu peserta
didik mengenali ulang model-model kompetensi yang diharapkannya dan mengasses kembali diskrepensi antara model dan tingkat kompetensi yang baru dikembangkannya. Pengulangan langkah diagnosis menjadi bagian integral dari langkah evaluasi.
Dalam khasanah proses evaluasi terdapat empat langkah yang diperlukan untuk mengefektifkan assessment program yaitu: Pertama, evaluasi reaksi yang dilaksanakan untuk mengetahui bagaimana peserta didik merespon suatu program belajar; Kedua, evaluasi belajar dilaksanakan untuk mengetahui prinsip-prinsip, fakta, dan teknik-teknik yang telah diperoleh oleh peserta didik; Ketiga, evaluasi perilaku dilaksanakan untuk memperoleh informasi perubahan perilaku peserta didik setelah memperoleh latihan; dan Keempat, evaluasi hasil dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program. Aplikasi yang diutarakan di atas sebenarnya lebih bersifat prinsip-prinsip atau rambu-rambu sebagai kendali tindakan membelajarkan orang dewasa.39
Dalam kesempatan lain, Suprijanto mengatakan bahwa dalam pendidikan orang dewasa dibutuhkan evaluasi Formatif yaitu suatu proses untuk memperoleh data yang digunakan untuk meyakinkan bahwa materi pengajaran efisien dan efektif. Dalam evaluasi formatif dapat dilaksanakan dengan tiga langkah:40
Pertama, Evaluasi perorangan. Setelah acara pengajaran disusun, pendidik atau
pembimbing memilih dua atau tiga orang peserta didik untuk memeriksa tes dan isi meteri pengajaran. Setelah itu, mereka mendiskusikan kelemahan dan kekuatan tes maupun isi materi pengajaran tersebut.
39 ibid
Kedua, evaluasi kelompok kecil. Setelah perbaikan dengan menggunakan hasil
evalusi perorangan, pendidik atau pembimbing menyampaikan pengajarannya dengan menggunakan materi yang telah diperbaiki dan menggunakan strategi yang telah ditetapkan sekelompok peserts didik (10-20 orang). Semua kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik harus dicatat untuk perbaikan selanjutnya. Setelah semua kegiatan pengajaran selesai dilakukan, pendidik atau pembimbing membagikan kuesioner untuk mengetahui seberapa baik strategi pengajaran itu dilaksanakan.
Ketiga, Evaluasi lapangan. Evaluasi lapangan adalah upaya pendiidikan atau
pembimbing memperoleh data dari situasi pembelajaran itu sendiri. Data tersebut meliputi: (1) laporan tes masuk, (2) nilai tes awal dan tes akhir, (3) laporan tentang jangka waktu yang diperlukan peserta didik menyelesaikan tes dan tugas yang lain, (4) kebutuhan perbaikan dan pengayaan, dan (5) laporan survei tingkah laku.
Oleh karena itu, keberhasilannya akan lebih benyak tergantung pada setiap pelaksanaan dan tentunya juga tergantung kondisi yang dihadapi. Jadi, implikasi pengembangan teknologi atau pendekatan andragogi dapat dikaitkan terhadap penyusunan kurikulum atau cara mengajar terhadap warga belajar. Namun, karena keterikatan pada sistem lembaga yang biasanya berlangsung, maka penyusunan program atau kurikulum dengan menggunakan andragogi akan banyak lebih dikembangkan dengan menggunakan pendekatan ini.