Rancangan Tindakan Penelitian
METODE WHOLE LANGUAGE UNTUK PEMBELAJARAN BAHASA PADA ANAK TK
I. Perencanaan dan perorganisasian kelas whole language
A. Merencanakan dan mengorganisasikan tema
Dari hasil pemberian tindakan penerapan metode Whole Language maka dapat di ketahui bahwa kemampuan berbahasa anak-anak mengalami peningkatan yang sangat signifikan terutama dalam kemampuan membacanya.
Siklus Mengenal Huruf Merangkai kata Membaca Sederhana 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Pretes 55% 45% 73% 28% 60% 40%
Siklus 1 38% 50% 13% 65% 35% 20% 80%
Siklus 2 10% 90% 35% 75% 33% 68% Keterangan :
Skor 5, jika anak membaca benar dan lancar Skor 4, jika anak membaca benar tapi kurang lancar Skor 3, jika anak membaca ragu-ragu
Skor 2, jika anak membaca dengan bantuan guru Skor 1, jika anak tidak dapat membaca
Binatang Dua suku kata
Membaca :
Nama Binatang dua suku kata antara lain : Ku-da, Sa-pi,
Menulis :
Menjiplak
Menulis nama
binatang dengan dua suku kata
Mendengar : Bermain berbisik dengan menyebutkan nama binatang Mendengarkan cerita binatang Berbicara :
Menyebutkan kembali nama-nama binatang yang terdiri dari 2 suku kata
Bercerita tentang binatang Menirukan kembali suara
70
70
Dari bagan diatas, pada kemampuan mengenal huruf yang pada mulanya 55% anak dengan bantuan guru namun setelah di berikan tindakan mengalami peningkatan sampai 90% anak mampu mengenal huruf dengan benar dan lancer. Pada kemampuan merangkai kata yang pada mulanya 73% anak membaca dengan bantuan guru setelah diberikan tindakan dengan metode whole language anak mampu membaca dengan benar dan lancer dapat mencapai 75%. Kemudian pada kemampuan membaca sederhana yang pada mulanya 60% anak membaca dengan batuan guru namun setelah diberikan tindakan terjadi peningkatan 33% anak mampu membaca dengan benar tapi kurang lancer dan 68% anak mampu membaca dengan benar dan lancar.
Hal ini disebabkan proses kegiatan belajar mengajar anak-anak tidak merasa jenuh atau tertekan. karena pada prinsipnya pembelajaran dengan metode whole language ini adalah pembelajaran bahasa secara utuh anak tidak duduk diam kemudian membaca tulisan yang ada di depannya. Namun di lakukan dengan terpadu ke empat aspek perkembangan bahasa yakni mendengar, berbicara, membaca dan menulis sehingga anak-anak tidak bosan. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Papalia, untuk dapat membaca anak harus memiliki ketrampilan bahasa umum dan ketrampilan bahasa khusus, sebagai ketrampilan pra membaca dan koordinasi mata, tangan dan kemampuan motorik halus. Ketrampilan bahasa umum meliputi perbendaharaan kata/kosakata, sintaksis, struktur naratif, dan pemahaman bahwa bahasa digunakan untuk berkomunikasi.
Penerapan whole language hasilnya dapat maksimal karena dilakukan dengan berbagai pendekatan baik dengan permainan maupun secara berkelompok hal ini membuat anak tidak merasa bosan dan kesulitan. Dengan permainan yang variatif maka kegiatan pembelajaran akan lebih menyenangkan dan pastinya bermakna bagi anak. Dengan permainan dapat melatih indera penglihatan anak sekaligus mengenalkan anak konsep membaca. Melatih otak anak cukup baik untuk membedakan bentuk tulisan dengan tulisan yang lainnya. Selain itu juga melatih daya pikir anak dan dapat mengembangkan kemampuan bahasanya. Sehingga semakin sering menerima pengalaman melihat tulisan-tulisan di lingkungan sekitar maka anak akan lebih cepat dalam mengenal simbol tulisan tersebut. Hal ini sejalan dengan pernyataan Piaget bahwa anak pada usia 5-6 berada pada masa pra operasional konkret yang artinya anak dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan berbahasa dengan benda-benda yang nyata sebagai simbolnya seperti kartu-kartu bergambar (tulisan).
71
71
Daftar Pustaka
Abdurrahman, Mulyono, 2003, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi, 2003, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.
Brewer, Jo Ann, 2007, Introduction to Early Childhod Education, Boston, USA: Allyn and Bacon.
Crain, William, 2007, Teori Perkembangan Konsep dan Aplikasi Alih bahasa Yudi santoso, Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Dardjowidjoyo, Soenjono, 2008, Psikolinguistik, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Dhieni, dkk. Nurbiana, 2008, Metode Pengembangan Bahasa, Jakarta: Universitas Terbuka. Eisele, Beverly, 1991, Managing The Whole Language Classroom, Creative Teaching Prees,
CA.
Hawadi, Reni Akbar, 2006, Psikologi Perkembangan Anak, Jakarta: Grasindo.
Jamaris, Martini, 2006, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak: Pedoman bagi Orang Tua dan Guru, Jakarta: Grasindo.
Kadir, 2010, Statistika Untuk Penelitian Ilmu-ilmu Sosial,, Jakarta: Rosemata Sampurna. Lesley Mandel Morrow, 1993, Literacy Development in the Early Years, United State of
America : Allyn and Bacon.
Munandar, Utami, 1999, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Jakarta: PT Gramedia.
Papalia,. Diane E, Wendkos Old, Sally and Feldman, Ruth Duskin, 2008, Human Development, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Rahim, Farida, 2008, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar, Jakarta: Bumi Aksara. Solehuddin dkk, 2007, Pembaharuan Pendidikan TK, Jakarta:Universitas Terbuka.
Sugiyono, 2010, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Jakarta: Alfabeta.
Sudjana, Nana, 2011, Langkah dan Prosedur Penelitian, Jakarta: Binamitra-Publishing.
Suyanto, Slamet, 2005, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Tinggi.
Wasik, Carol Seefeldt dan Barbara A.,2008, Pendidikan Anak Usia Dini Menyiapkan Anak Usia Tiga, Empat, dan Lima Tahun Masuk Sekolah , Jakarta : Indeks, 2008.
72
72
Choirun Nisak Aulina, M.Pd Vanda Rezania, S.Psi
73
73 BAB I
PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA DINI
Bahasa merupakan alat komunikasi yang bersifat universal, artinya hampir tak ada manusia di dunia yang tak mampu berkomunikasi melalui bahasa. Semua manusia dapat dipastikan menggunakan bahasa untuk berkomuniksi dengan orang lain (koentjaraningrat, 1997). Setiap manusia mengawali komuniksinya dengan dunia lewat bahasa tangis. Lewat bahasa yang universal inilah bayi mengkomunikasikan segala kebutuhan dan keinginannya. Namun sejalan dengan perkembangan kemampuan serta kematangan otot-otot yang berkaitan dengan proses berbicara.
Banyak orang yang mempertukarkan penggunaan istilah “bicara” (speech) dengan “bahasa” (language), meskipun kedua istilah tersebut sebenarnya tidak sama. Bahasa adalah mencakup setiap sarana komunikasi dengan menyimbolkan pikiran dan perasaan untuk menyampikan makna kepada orang lain. Termasuk didalamnya perbedaan bentuk komunikasi yang luas seperti : tulisan, bicara, bahasa symbol, ekspresi muka, isyarat, pantomime, dan seni. Sedangkan bicara adalah bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata-kata yang digunakan untuk menyampaikan maksud.
Masa perkembangan bicara dan bahasa yang paling intensif pada manusia terletak pada tiga tahun pertama dari hidupnya, yakni suatu periode dimana otak manusia berkembang dalam proses mencapai kematangan. Penelitian membuktikan bahwa terdapat “masa kritis” dalam perkembangan bicara dan bahasa terjadi sejak lahir hingga usia 5 tahun. Dalam masa ini perkembangan otak bayi dan anak sedang mengalami kemampuan maksimal dalam menyerap bahasa.
Scheaerlaekens (dalam Marat,2005) menyebutkan ada tiga tahap perkembangan pada anak usia lima tahun pertama yaitu:
1. Periode Prelingual (Usia 0-1 tahun)
Merupakan suatu periode yang ditandai dengan kemampuan bayi untuk mengoceh sebagai cara untuk berkomunikasi. Bayi dapat member respon yang berbeda-beda terhadap stimulus. Bayi dapat member respon positif terhadap orang yang ramah dan member respon negatif terhadap orang yang tidak ramah.
2. Periode Lingual Dini (usia 1-2,5 tahun)
Periode ini disebut jg dengan early lingual period yaitu suatu periode perkembangan bahasa yang ditandai dengan kemampuan anak untuk membuat kalimat satu kata maupun dua kata dalam suatu percakapan dengan orang lain. Periode lingual dini dibagi tiga tahap, yaitu:
(1) Periode kalimat satu kata (holophrase)
Yaitu kemampuan anak untuk membuat kalimat yang hanya terdiri dari satu kata yang mengandung pengertian secara menyeluruh dalam suatu pembicaraan.
(2) Periode kalimat dua kata
Yaitu periode perkembangan bahasa yang ditandai dengan kemampuan anak membuat kalimat dua kata sebagai ungkapan berkomunikasi dengan orang lain.
74
74
(3) Periode kalimat lebih dua kata (more word sentence)
Yaitu periode perkembangan bahasa yang ditandai dengan kemampuan anak untuk membuat kalimat secara sempurna sesuai dengan susunan subjek, predikat dan objek.
3. Periode Diferensiasi (usia 2,5-5 tahun)
Merupakan suatu periode yang ditandai dengan kemampuan anak untuk menguasai bahasa sesuai dengan hukum tata bahasa yang baik. Pada masa ini ketrampilan anak dalam berbicara berkembang pesat. Bukan saja penambahan kosakatanya yang mengagumkan, tetapi ia sudah mampu mengucapkan kata demi kata sesuia dengan jenisnya.
Daftar perkembangan Bahasa dari lahir sampai usia 3 tahun (Dalam Papalia, Olds & Feldman, 1998).
Usia (bulan) Karakteristik Perkembangan
Lahir Bayi dapat menerima pembicaraan orangtua. Ia menangis untuk membuat respon terhadap suara yang gaduh.
1,5-3 bulan Bayi mengoceh, tertawa, dan berteriak
3 bulan Bayi bermain dengan suara-suara untuk memperoleh rasa senang 5-6 bulan Bayi mampu membuat suara konsonan dan mencoba untuk
merespon terhadap suara-suara yang didengarnya.
6-10 bulan Bayi mampu mengoceh dengan memadukan suara konsonan dan vocal.
9 bulan Menggunakan gerak-gerik isyarat(gerstur) untuk berkomunikasi dan bermain dengan gertur.
9-10 bulan Bayi mampu menggunakan beberapa isyarat social yang dapat dimengerti oleh lingkungan sosialnya.
10-12 bulan Bayi mulai memahami kata-kata (seperti kata tidak dan nama sendiri), serta mampu meniru kata-kata.
10-14 bulan Anak mampu mengatakan kata-kata pertama dan meniru suara orang lain.
10-18 bulan Anak dapat mengatakan kata-kata tunggal
13 bulan Anak mampu memahami fungsi simbolik dari nama, serta dapat menggunakan isyarat yang diperluas.
14 bulan Akan mampu memahami dan menggunakan isyarat secara simbolik
16-24 bulan Anak mampu membuat kalimat dua kata, misalnya: saya bica, caya bica, taya bita (maksudnya saya bisa)
20 bulan Anak mampu mempelajari kata-kata dan memperluas
75
75
Anak mampu menggunakan kata-kata benda dan kata sifat.
20-22 bulan Anak mampu menggunakan beberapa isyarat atau nama. Nama mempunyai arti bagi dirinya.
24 bulan Anak mempunyai dorongan secara tiba-tiba dan cenderung mampu membuat beberapa kata.
30 bulan Anak mampu menggunakan kalimat 2 kata sebagai frase dan ingin berbicara kepada orang lain.
36 bulan Anak belajar kata-kata baru hampir setiap hari. Ia berbicara dengan 3 atau lebih kata. Ia mampu memahami bahasa atau kata-kata dengan baik, mampu membuat kalimat dengan aturan tata bahasa tatapi sering salah.
76
76
BAB II
Kemampuan Membaca Anak
Chomsky menyatakan bahwa kemampuan berbahasa secara alami dimiliki oleh setiap manusia. Ia mengatakan bahwa anak memiliki cetak biru untuk mampu menciptakan sendiri struktur mentalnya secara spontan. Anak mampu berbahasa karena secara alami otak anak memiliki potensi untuk berbahasa. Anak juga mampu menciptakan bentuk gramatika secara alami. Gramatika adalah sebuah sistem aturan untuk menciptakan dan memahami kalimat-kalimat dengan benar. Kemampuan ini didapat anak ketika mendengar orang lain berbicara. Secara alami anak menangkap sistem aturan tersebut dan mulai memahami kalimat-kalimat yang didengar. Pada saat anak memahami sistem aturan tersebut maka pada saat itu pula anak mampu menciptakan kalimat-kalimat baru dengan sistem aturan yang sama. Kegiatan ini kemudian dituangkan dalam bentuk aktivitas membaca.
Sebagaimana pembagian tahap perkembangan kognitif menurut Piaget bahwa anak usia 5-6 tahun telah masuk pada tahap pra-operasional yang mana anak-anak belajar berpikir menggunakan simbol-simbol dan pencitraan batiniah namun pikiran mereka masih belum sistematis dan tidak logis. Sebagai suatu proses berfikir, membaca merupakan menerjemahkan simbol tulisan (huruf) ke dalam kata-kata lisan.
Montessori menyatakan membaca merupakan kecakapan fundamental anak paling penting yang akan selalu dipelajari. Membaca berarti kesuksesan di sekolah, di dunia kerja, dan dalam kehidupan. Tanpa ada latar belakang membaca yang baik, anak benar-benar akan menderita, karena pada kecakapan membaca inilah sebagian besar proses belajar di masa-masa akan datang dan kesuksesan dipertaruhkan.1 Kemampuan membaca akan mempengaruhi seluruh kehidupan masa depan untuk itu kemampuan membaca harus dimiliki anak sejak usia dini agar menjadi suatu kebiasaan pada dirinya hingga dewasa.
Munandar mendefinisikan kemampuan merupakan daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan atau latihan. Seseorang dapat melakukan sesuatu karena adanya kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan menurut Siskandar kemampuan adalah pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan sikap yang perlu dimiliki dan dilatihkan kepada
77
77
peserta didik untuk membiasakan mereka berfikir dan bertindak, kemampuan ini perlu dimahirkan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Senada dengan yang dikemukakan Semiawan, kemampuan adalah suatu daya untuk melakukan tindakan sebagai hasil dari pembawaan latihan-latihan. Adapun Gagne dan Briggs menempatkan kemampuan sebagai hasil belajar (learning out come) yang terdiri dari lima kategori, yakni: (1) kemahiran intelektual (intelectual skills), (2) strategi kognitif (cognitive strategies), (3) informasi verbal (verbal information), (4) ketrampilan motorik (motor-skill), dan (4) sikap (attitude).
Berdasarkan beberapa pendapat diatas maka kemampuan merupakan suatu kesanggupan atau kapasitas yang dimiliki seseorang dalam melakukan tindakan yang dihasilkan dari pembawaan sejak lahir namun dengan demikian kemampuan ini akan berkembang jika diberikan latihan-latihan sehingga mampu melakukan sesuatu dengan baik. Kemampuan merupakan suatu kekuatan/kecakapan tertentu yang dimiliki seseorang sebagai hasil pengalamannya dalam kegiatan belajar. Kemampuan ini mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Dikutip dari buku Wasik yang menjelaskan bahwa ada empat aspek perkembangan bahasa pada anak usia dini, yaitu: (a) Mendengarkan (menyimak), anak-anak mengembangkan kemampuan mendengarkan agar memahami lingkungan mereka. Supaya mereka belajar, mereka harus menerima masukan informasi dan mengolahnya. Mendengarkan dan memahami informasi adalah langkah dasar dalam memperoleh pengetahuan karena fungsi indra pendengaran sangat mempengaruhi perolehan informasi, (b) Berbicara, bahwa untuk belajar bahasa, anak-anak memerlukan kesempatan untuk bicara dan didengarkan. Dialog efektif antara orang dewasa dan anak termasuk orang dewasa yang mendengarkan ketika anak itu berbicara, mengajukan pertanyaan yang mendorong anak itu bicara lebih banyak, dan memperluas serta mengolah apa yang dikatakan anak itu. (c) Membaca, merupakan kemampuan individu dalam mengolah kata-kata dan sistem bahasa pada huruf dan kata cetak. Kuncinya adalah memahami kombinasi huruf dan kata yang tercetak. Sistem bahasa yang berpengaruh disini adalah kemampuan anak dalam hal semantik, dan sintaksis serta pragmatis bahasa, (d) Menulis, merupakan bagian yang paling rumit dalam perolehan bahasa anak.Hal tersebut karena dalam menulis anak sudah mampu membaca. Namun, walaupun demikian proses yang dialami tentunya bertahap. Kemampuan anak menulis diawali dengan kemampuannya mencoret yang abstrak bertahap menjadi jelas bentuk hurufnya.
78
78
Ruddell dalam Morrow mendefinisikan membaca sebagai salah satu dari penggunaan berbahasa untuk menguraikan tulisan atau simbol dan memahaminya. Dijelaskan juga oleh Tampubolon bahwa membaca merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dan tulisan. Menurut Bond dalam Abdurrahman membaca merupakan pengenalan simbol-simbol bahasa tulis yang merupakan stimulus yang membantu proses mengingat tentang apa yang dibaca untuk membangun suatu pengertian melalui pengalaman yang telah dimiliki. Ditambahkan juga oleh Klein dkk, dalam Farida bahwa membaca mencakup: (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca adalah strategis, (3) membaca merupakan interaktif.
Jadi membaca bukan hanya sekedar melafalkan huruf-huruf atau kata demi kata, namun lebih dari itu membaca merupakan proses mengkonstruksi yang melibatkan banyak hal, baik aktivitas fisik, berfikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Membaca mencakup aktivitas proses penerjemahan tanda dan lambang-lambang ke dalam maknanya, pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi dan pemahaman makna bacaan dan mengaitkan pengalaman pembaca dengan teks yang dibaca.
Menurut Papalia untuk dapat membaca anak harus memiliki keterampilan bahasa umum dan ketrampilan bahasa khusus, sebagai ketrampilan pra membaca dan koordinasi mata, tangan dan kemampuan motorik halus. Ketrampilan bahasa umum meliputi perbendaharaan kata/kosakata, sintaksis, struktur naratif, dan pemahaman bahwa bahasa digunakan untuk berkomunikasi.
Ditambahkan oleh Dardjowidjoyo untuk memahami adanya keteraturan bentuk huruf anak harus memiliki pra syarat yang bersifat psikologis dan neurologis. Dari segi psikologis, anak harus terlebih dahulu mengembangkan kemampuan kognitifnya sehingga ia dapat membedakan satu bentuk dengan bentuk lainnya. Dengan kemampuan ini, anak dapat memahami bentuk huruf. Pra syarat kognitif lainnya yang harus terlebih dahulu dimiliki anak untuk dapat mengembangkan kemampuan membaca adalah adanya atensi motivasi, kemampuan asosiatif atau kemampuan untuk dapat mengaitkan sesuatu dengan sesuatu yang lain dan kemampuan memaknai simbol. Simbolisasi diperlukan karena anak harus memahami bahwa apa yang selama ini mereka dengar dan ucapkan dalam bentuk bunyi dapat disimbolkan dalam bentuk huruf. Dari segi neurologis, anak tidak akan mungkin dapat mulai membaca sebelum neuro-biologinya memungkinkan. Misalnya pada umur satu tahun dimana otak baru berkembang sekitar 60% dari otak orang dewasa, anak belum dapat mengidentifikasi letak
79
79
garis lurus dan setengah lingkaran. Maka anak usia 5-6 tahun telah memiliki prasyarat ini dengan kata lain anak telah memiliki kesiapan belajar membaca.
Farida mengutip pendapat Syafei yang menyatakan membaca permulaan merupakan proses perseptual, yaitu pengenalan korespondensi rangkaian huruf dengan bunyi-bunyi bahasa. Maka membaca permulaan adalah tahap pembelajaran membaca untuk mengembangkan ketrampilan dasar membaca. Ketrampilan ini mencakup ketrampilan mengenal huruf, membaca kata, serta membaca kalimat sederhana dengan lafal dan intonasi yang wajar secara lancar akan tetapi tidak ditekankan pada pemahaman isinya karena pemahaman isi akan dilaksanakan dan ditekankan pada tahap membaca selanjutnya pada kelas yang lebih tinggi.
Membaca pada tingkat awal atau membaca permulaan dapat diberikan kepada anak di Taman Kanak-kanak. Hal ini tergantung pada kesiapan membaca seseorang. Senada dengan yang dinyatakan oleh Thomson dalam Hawadi mengatakan bahwa waktu yang paling tepat untuk belajar membaca adalah saat anak-anak duduk di TK. Adapun alasannya adalah pada masa ini rasa ingin tahu anak berkembang sehingga anak banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Mereka juga lebih siap menerima hal-hal yang dilihatnya disekolah. Disamping itu keterikatan anak pada sesuatu yang konkret semakin berkurang, dan sebaliknya kemampuan mereka berkembang menjadi lebih abstrak. Untuk itulah, anak sudah dapat dilibatkan pada simbol-simbol.
Menurut Jamaris anak usia Taman Kanak-Kanak telah memiliki dasar kemampuan untuk belajar membaca dan menulis. Hal tersebut dapat dilihat dari ; (1) kemampuan anak dalam melakukan koordinasi gerakan visual dan gerakan motorik yang dapat dilihat pada waktu anak menggerakkan bola matanya bersamaan dengan tangan dalam membalik buku, (2) kemampuan anak dalam melakukan diskriminasi secara visual, yaitu kemampuan dalam membedakan berbagai bentuk. Seperti bentuk segi tiga, dan bentuk lainnya, kemampuan ini merupakan dasar untuk dapat membedakan bentuk-bentuk huruf, (3) kemampuan kosakata, anak usia Taman Kanak-kanak telah memiliki kosakata yang cukup luas, (4) kemampuan diskriminasi auditori atau kemampuan membedakan suara yang didengar. Kemampuan ini berguna untuk membedakan bunyi huruf.
80
80
Pembelajaran membaca permulaan yang diberikan pada peserta didik usia Taman Kanak-kanak khususnya bagi mereka yang telah memiliki kesiapan membaca, bertujuan untuk membina dasar-dasar mekanisme membaca, seperti kemampuan mengasosiasikan huruf dengan bunyi-bunyi bahasa yang diwakilinya, melatih gerak bola mata dan kesiapan visual dan audiotori anak. Sebagaimana pendapat Papalia untuk dapat membaca anak harus memiliki ketrampilan bahasa umum dan ketrampilan bahasa khusus, sebagai ketrampilan pra membaca dan koordinasi mata, tangan dan kemampuan motorik halus. Ketrampilan bahasa umum meliputi perbendaharaan kata/kosakata, sintaksis, struktur naratif, dan pemahaman bahwa bahasa digunakan untuk berkomunikasi. Sehingga anak tidak merasa kesulitan karena telah memiliki modal dasar kemampuan yang di butuhkan untuk belajar membaca.
Gray dalam Hawadi menyebutkan beberapa komponen membaca yaitu: (1) pengenalan kata-kata, (2) pengertian, (3) reaksi, dan (4) penggabungan. Harris dalam Abdurrahman menambahkan ada 5 tahap perkembangan membaca, yaitu (1) kesiapan membaca, (2) membaca permulaan, (3) ketrampilan membaca cepat, (4) membaca luas, dan (5) membaca yang sesungguhnya. Sedangkan Solehuddin dkk, membagi tahap perkembangan mambaca anak menjadi empat tahap yakni, (1) tahap pembaca pemula (beginning reader), (2) tahap pembaca tumbuh (emergent reader), (3) pembaca awal (early reader), dan (4) pembaca ahli (fluent reader).
Jamaris membagi tahapan perkembangan membaca pada anak TK menjadi empat tahapan, (1) Tahap timbulnya kesadaran terhadap tulisan, yang ditandai anak mulai belajar menggunakan buku dan menyadari pentingnya buku. (2) Tahap membaca gambar, dimana anak dapat memandang dirinya sendiri sebagai pembaca dan melibatkan diri dalam kegiatan membaca dan memberi makna pada gambar, (3) Tahap pengenalan bacaan, pada tahap ini anak telah dapat menggunakan tiga sistem bahasa : fonem (bunyi huruf), sematik (arti kata), dan sintaksis (aturan kata atau kalimat) secara bersama-sama, (4) Tahap membaca lancar, pada tahap ini anak sudah dapat membaca lancar berbagai jenis buku yang berbeda, serta bahan-bahan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Bila disesuaikan dengan pengertian membaca permulaan yang dijelaskan sebelumnya maka anak usia 5-6 tahun berada pada tahap tiga dan empat menurut pembagian Jamaris.
81
81
Abdurrahman menambahkan tahap membaca permulaan umumnya dimulai pada anak-anak berusia enam tahun. Meskipun demikian anak-anak dapat belajar membaca lebih awal atau pada usia setelah itu, hal ini tergantung pada kesiapannya dalam membaca. Kesiapan membaca ini dapat diukur dari kematangan mental, kemampuan visual, kemampuan mendengarkan, perkembangan wicara dan bahasa, ketrampilan berfikir dan mendengarkan, perkembangan motorik, kematangan sosial dan emosional serta motivasi dan minat membaca. Hal ini senada dengan yang dikatakan oleh Dhieni, dkk membaca dikatakan sebagai ketrampilan bahasa tulis yang bersifat reseptif. Kemampuan membaca termasuk kegiatan yang kompleks dan melibatkan berbagai ketrampilan. Jadi kegiatan membaca merupakan suatu kegiatan terpadu yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenal huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi, maknanya serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan. Proses yang alami dalam membaca berupa penyajian kembali dan penafsiran suatu kegiatan dimulai dari mengenali huruf, kata, kalimat dan wacana serta menghubungkannya dengan bunyi dan