• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN PEMULA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN PEMULA"

Copied!
93
0
0

Teks penuh

(1)

1

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN DOSEN PEMULA

Penerapan Metode Whole Language dalam Meningkatkan Kemampuan

Membaca Permulaan Anak TK Kelompok B

Peneliti Utama : Choirun Nisak Aulina, M.Pd. (0714038402)

Anggota

: Vanda Rezania, S.Psi

(0718018603)

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (LPPM)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO

(2)

2

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian : Penerapan Metode Whole Language dalam

Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Anak TK Kelompok B

Peneliti/Pelaksana :

Nama Lengkap : Choirun Nisak Aulina, M.Pd

NIDN : 0714038402

Jabatan Fungsional : Dosen

Fakultas/Program Studi : FKIP/PG. PAUD

Nomor HP : 081553657413

Alamat surel (e-mail) : [email protected]

Anggota Peneliti :

Nama : Vanda Rezania, S.Psi

NIDN : 0718018603

Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Tahun Pelaksanaan : 1 (satu) tahun Sumber Dirjen Dikti : Rp. 15.000.000,-

Total Biaya : Rp. 15.000.000,-

(Lima Belas Juta Rupiah)

(3)

3

PENERAPAN METODE WHOLE LANGUAGE DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN ANAK TK KELOMPOK B

RINGKASAN

Pembelajaran membaca yang berlangsung saat ini di taman kanak-kanak masih banyak yang menggunakan metode konvensional, yaitu meningkatkan kemampuan membaca masih dengan bantuan buku latihan membaca dengan cara mengeja serta kegiatan belajarnya bersifat klasikal. Metode mengeja mengakibatkan anak mudah bosan serta mudah mengeluh. Mengajar membaca kepada anak memang bukanlah persoalan mudah. Jika membaca diajarkan dengan cara “dipaksakan” justru dapat berakibat buruk pada perkembangan anak. Anak akan takut membaca akibat merasa tertekan saat belajar membaca. Whole language merupakan suatu metode pengajaran perolehan bahasa yang dipraktekkan di kelas atau sekolah secara utuh dan menyenangkan. Yang mana dalam implementasinya dalam pembelajaran di lakukan pengembangan kemampuan berbahasa secara utuh yakni mendengar, berbicara, membaca dan menulis tidak dilaksanakan secara terpisah-pisah melainkan dilaksanakan bersama secara terpadu pada semua bidang kemampuan di Taman Kanak-kanak. Maka sangat perlu dilakukan penelitian ini, agar dapat menentukan metode yang tepat untuk mengajarkan membaca pada anak usia dini tanpa membuat anak bosan dan tertekan.

Penelitian ini bertujuan: 1) Untuk mengetahui pengaruh penerapan metode Whole language dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak, 2) Untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca permulaan anak yang diterapkan metode whole language.

Penelitian ini di lakukan pada anak TK kelompok B. Metode penelitian yang digunakan adalah metode ”action research” atau penelitian tindakan dengan menggunakan metode penelitian campuran (Mix Method). Penggunaan pendekatan kualitatif dan kuantitatif secara kombinasi dalam melakukan sebuah penelitian memberikan pemahaman yang lebih baik dibandingkan dengan satu pendekatan. menganalisis data kuantitatif melalui uji perbedaan antara kemampuan awal (pre test), akhir siklus yang didasarkan data yang diperoleh di lapangan. Data tersebut berupa hasil pengamatan yang akan dilakukan oleh peneliti dan kolaborator.

Dari hasil penelitian maka di ketahui ada peningkatan kemampuan membaca permulaan anak yakni 90% anak mampu mengenal huruf dengan lancar dan benar, 75% anak mampu merangkai kata dengan lancar dan benar serta 68% anak mampu membaca kalimat sederhana dengan lancar dan benar

(4)

4

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan proposal yang berjudul “Penerapan Metode Whole Language Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Anak TK Kelompok B.

Selanjutnya peneliti menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan proposal ini, kami mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Ketua LPPM UMSIDA, Bapak Mu‟adz, M.Pd

2. Akhtim Wahyuni, M. Ag., selaku dekan FKIP Umsida yang telah memberikan ijin penelitian.

3. Ida Rindaningsih, M.Pd., selaku ketua Prodi PAUD FKIP Umsida yang selalu motivator peneliti.

4. Kepala TK „Aisyiyah 6 Penatarsewu Tanggulangin yang telah memberikan ijin untuk uji coba instruen penelitian kemampuan membaca permulaan anak kelompok B.

5. Kepala TK „Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian di lembaganya.

Semoga Allah SWT melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua. Harapan penulis, penelitian dan penulisan laporan ini dapat bermanfaat dan memberikan kontribusi positif bagi penulis khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Sidoarjo, 30 Oktober 2013

(5)

5 DAFTAR ISI Halaman Halaman Judul... 1 Halaman Pengesahan...,... 2 Ringkasan 3 Kata Pengantar... 3 Daftar Isi... 5 BAB I. PENDAHULUAN... 6

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Metode Whole language... 9

B. Kemampuan Membaca Permulaan ... 9

C. Penerapan Metode Whole Language dalam meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan ... 12 BAB III : TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 15 BAB IV : METODE PENELITIAN 16 A. Jenis Penelitian... 16

B. Tempat Penelitian... 16

C. Subjek dan Partisipan yang terlibat dalam penelitian... 16

D. Metode Pengumpulan Data... 17

E. Teknik Pengumpulan Data... 17

F. Instrumen Penelitian... 17

G. Analisis Data... 17

H. Prosedur Penelitian... 18

BAB V : HASIL dan PEMBAHASAN 20 BABVI: KESIMPULAN DAN SARAN 36 DAFTAR PUSTAKA... 37 LAMPIRAN...

Instrumen dan perhitungannya 39

Personalia tenaga peneliti Publikasi

(6)

6

BAB I PENDAHULUAN

Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Hal ini d karenakan pada anak usia dini, anak mengalami perkembangan kemampuan yang sangat pesat. Sebagaimana pada undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Bab I, Pasal 1, Butir 14 bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Disebutkan juga dalam Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1990 tentang pendidikan pra sekolah. Selanjutnya pada pasal 4 ayat 5 disebutkan “Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.” Namun data dari UNESCO Institute for Statistics 2003, di ketahui kebiasaan membaca orang Indonesia termasuk rendah, berada di peringkat ke-41 dari 51 negara. Bahkan menurut laporan United Nations Development Program pada 2009, Indonesia berada di peringkat ke-87 dari 178 negara di dunia dalam tingkat melek aksara. Berdasarkan data tersebut, maka di masing-masing tingkat pendidikan berkewajiban mengembangkan budaya membaca tak terkecuali pada anak usia dini.

Sering kita jumpai orang tua merasa cemas melihat anaknya belum bisa membaca, menulis dan berhitung. Mereka khawatir jika anak mereka tidak bisa menguasai tiga kemampuan tersebut, maka anak tersebut akan mengalami kesulitan untuk diterima di sebuah Sekolah Dasar (SD). Meskipun tidak ada aturan yang mengatakan bahwa anak masuk SD harus dapat membaca, menulis dan berhitung, namun dalam prakteknya telah banyak ditemui sekolah-sekolah SD terutama SD unggulan yang menjadikan kemampuan calistung sebangai tes pada penyaringan siswa baru masuk Sekolah Dasar.

(7)

7

Hal ini mendorong lembaga pendidikan penyelenggara PAUD maupun orang tua secara aktif untuk mengajarkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung dengan cara-cara pembelajaran di SD yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Oleh karena itu, PAUD yang seharusnya menjadi taman yang indah, tempat anak-anak bermain dan berteman, mulai beralih menjadi sekolah kanak-kanak yang hanya memenuhi target kemampuan akademik membaca, menulis, dan berhitung (calistung), kegiatan ini berakibat adanya penugasan-penugasan yang harus diselesaikan di rumah biasa disebut PR seperti layaknya proses pembelajaran di SD. Sebagaimana di sampaikan oleh Sukiman “Banyak praktek di PAUD, demi mengejar kemampuan baca-tulis-hitung (calistung), guru sering menggunakan teknik hafalan dan latihan yang mengandalkan kemampuan kognitif, abstrak dan tidak terkait langsung dengan kehidupan anak. Akibatnya, kepentingan anak terkalahkan oleh tugas-tugas skolastik yang semestinya belum saatnya.

Selanjutnya, fenomena proses pembelajaran yang berlangsung saat ini dilapangan masih banyak taman kanak-kanak yang menggunakan metode konvensional, yaitu meningkatkan kemampuan membaca masih dengan bantuan buku latihan membaca dengan cara mengeja serta kegiatan belajarnya bersifat klasikal. Metode mengeja mengakibatkan anak mudah bosan serta mudah mengeluh. Mengajar membaca kepada anak memang bukanlah persoalan mudah. Jika membaca diajarkan dengan cara “dipaksakan” justru dapat berakibat buruk pada perkembangan anak. Anak akan takut membaca akibat merasa tertekan saat belajar membaca.

Whole language merupakan suatu metode pengajaran perolehan bahasa yang dipraktekkan di kelas atau sekolah secara utuh dan menyenangkan. Yang mana dalam implementasinya dalam pembelajaran di lakukan pengembangan kemampuan berbahasa secara utuh yakni mendengar, berbicara, membaca dan menulis tidak dilaksanakan secara terpisah-pisah melainkan dilaksanakan bersama secara terpadu pada semua bidang kemampuan di Taman Kanak-kanak. Prinsip whole language adalah mengamati cara belajar anak, dimana mereka secara aktif mengejar proses belajarnya sendiri sehingga penguasaan konsep menjadi lebih

(8)

8

mudah dan lebih dekat. Anak belajar secara langsung, alamiah dan diarahkan pada kenyataan bahasa yang “real”.

Dalam kelas whole language pendidik dan anak sama – sama berperan sebagai pengambil resiko dan pengambil keputusan melalui tanggung jawab masing – masing. Di dalamnya juga terdapat interaksi social yang tertuang dalam kegiatan diskusi, saling berbagi gagasan, kerjasama dalam memecahkan masalah dan melaksanakan tugas

Whole language juga dapat menjawab permasalahan anak dengan para orang tua. Sebagaimana diketahui bahwa banyak orang tua yang melepaskan begitu saja pendidikan pada program pendidikan anak usia dini. Padahal orangtua juga merupakan hulu dari segala permasalahan yang muncul pada anak atau individu di kemudian hari. Dalam konsep whole language orangtua juga merupakan bagian dari sekolah yang harus mengenal sekolah dan kurikulumnya. Guru bertugas untuk dapat melakukan komunikasi yang baik dengan orangtua anak didik mereka. Mulai dari awal penerimaan murid dan pertemuan berkala berikutnya, system komunikasi yang dilakukan bukan hanya bertemu dalam acara pertemuan rutin sekolah tetapi dapat juga dilakukan dengan kunjungan guru ke rumah.

TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin kegiatan pembelajarannya terutama pada anak kelompok B banyak diarahkan pada kegiatan membaca, menulis dan berhitung untuk mempersiapkan anak masuk pada jenjang sekolah dasar yang menuntut ketiga ketrampilan tersebut. Adanya pemilihan metode pembelajaran yang lebih banyak menggunakan metode bercerita/ceramah dan metode penugasan kurang memberikan kesempatan pada anak untuk berinteraksi antara satu dengan yang lainnya dalam mengembangkan kemampuan yang lain dan cenderung membuat anak cepat merasa bosan atau jenuh.

Berdasarkan uraian di atas, maka sangat perlu dilakukan penelitian tentang

Penerapan Metode Whole Language Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Anak TK Kelompok B dipandang sangat penting dan

menarik dalam rangka memberikan metode dalam mengajarkan membaca kepada anak usia dini yang menyenangkan dan sesuai untuk anak usia dini.

(9)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Metode Whole Language

Weaver menjelaskan tentang whole language sebagai berikut :

“whole language is not static entity but evolving philosophy, sensitive to new knowlwdge and insight. It is based upon research from a variety of perspectives and disciplinrs – among them language acquisition and emergent literacy, psycholinguistics and siciolinguistics, cognitive and developmental psychology, anthropology and education.”

Dari penjelasan Weaver diatas dapat dimaknai bahwa whole language bukanlah satu kesatuan yang statis, akan tetapi suatu filosofi yang mengembangkan, sensitive terhadap ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam. Whole language ini berdasarkan pada berbagai macam pandangan dan disiplin ilmu yang mengembangkan bahasa dan literasi, psikolinguistik dan sosiolinguistik, psikologi kognitif dan perkembangan, antropologi dan pendidikan”.

Eisele memberikan pengertian yang labih sederhana mengenai whole language, yaitu bahwa “Whole language is a way of thingking about how children learn language – oral language and written language”.

Menurut Eisele, whole language merupakan suatu cara berfikir untuk mengetahui bagaimana anak-anak belajar berbahasa baik lisan maupun bahasa tulis. Kegiatan whole language ini meliputi semua proses belajar bahasa (mendengar, berbicara, membaca, menulis) semua dipelajari secara alami, yakni dipelajari secara utuh dan bukan tiap-tiap bagian dipelajari secara terpisah.

Berdasarkan beberapa definisi whole language di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode whole language adalah suatu metode pengajaran perolehan bahasa yang dipraktekkan di kelas atau sekolah secara utuh dan menyenangkan. Pembelajaran mendengar, berbicara, membaca dan menulis tidak dilaksanakan secara terpisah-pisah melainkan dilaksanakan bersama secara terpadu pada semua bidang kemampuan di Taman Kanak-kanak.

(10)

10

B. Kemampuan Membaca Permulaan

Chomsky menyatakan bahwa kemampuan berbahasa secara alami dimiliki oleh setiap manusia. Ia mengatakan bahwa anak memiliki cetak biru untuk mampu menciptakan sendiri struktur mentalnya secara spontan. Anak mampu berbahasa karena secara alami otak anak memiliki potensi untuk berbahasa. Anak juga mampu menciptakan bentuk gramatika secara alami. Kemampuan ini didapat anak ketika mendengar orang lain berbicara. Secara alami anak menangkap sistem aturan tersebut dan mulai memahami kalimat-kalimat yang didengar. Pada saat anak memahami sistem aturan tersebut maka pada saat itu pula anak mampu menciptakan kalimat-kalimat baru dengan sistem aturan yang sama. Kegiatan ini kemudian dituangkan dalam bentuk aktivitas membaca.

Dikutip dari buku Wasik yang menjelaskan bahwa ada empat aspek perkembangan bahasa pada anak usia dini, yaitu: (a) Mendengarkan (menyimak), (b) Berbicara, (c) Membaca, (d) Menulis.Namun, walaupun demikian proses yang dialami tentunya bertahap. Kemampuan anak menulis diawali dengan kemampuannya mencoret yang abstrak bertahap menjadi jelas bentuk hurufnya.

Ruddell dalam Morrow mendefinisikan membaca sebagai salah satu dari penggunaan berbahasa untuk menguraikan tulisan atau simbol dan memahaminya. Dijelaskan juga oleh Tampubolon bahwa membaca merupakan kegiatan fisik dan mental untuk menemukan makna dan tulisan. Menurut Bond dalam Abdurrahman membaca merupakan pengenalan simbol-simbol bahasa tulis yang merupakan stimulus yang membantu proses mengingat tentang apa yang dibaca untuk membangun suatu pengertian melalui pengalaman yang telah dimiliki.

Jadi membaca bukan hanya sekedar melafalkan huruf-huruf atau kata demi kata, namun lebih dari itu membaca merupakan proses mengkonstruksi yang melibatkan banyak hal, baik aktivitas fisik, berfikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Membaca mencakup aktivitas proses penerjemahan tanda dan lambang-lambang ke dalam maknanya, pengenalan kata, pemahaman literal, interpretasi dan pemahaman makna bacaan dan mengaitkan pengalaman pembaca dengan teks yang dibaca.

(11)

11

Membaca pada tingkat awal atau membaca permulaan dapat diberikan kepada anak di Taman Kanak-kanak. Hal ini tergantung pada kesiapan membaca seseorang. Senada dengan yang dinyatakan oleh Thomson dalam Hawadi mengatakan bahwa waktu yang paling tepat untuk belajar membaca adalah saat anak-anak duduk di TK. Adapun alasannya adalah pada masa ini rasa ingin tahu anak berkembang sehingga anak banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Mereka juga lebih siap menerima hal-hal yang dilihatnya disekolah. Disamping itu keterikatan anak pada sesuatu yang konkret semakin berkurang, dan sebaliknya kemampuan mereka berkembang menjadi lebih abstrak. Untuk itulah, anak sudah dapat dilibatkan pada simbol-simbol.

Menurut Jamaris anak usia Taman Kanak-Kanak telah memiliki dasar kemampuan untuk belajar membaca dan menulis. Hal tersebut dapat dilihat dari ; (1) kemampuan anak dalam melakukan koordinasi gerakan visual dan gerakan motorik yang dapat dilihat pada waktu anak menggerakkan bola matanya bersamaan dengan tangan dalam membalik buku, (2) kemampuan anak dalam melakukan diskriminasi secara visual, yaitu kemampuan dalam membedakan berbagai bentuk. Seperti bentuk segi tiga, dan bentuk lainnya, kemampuan ini merupakan dasar untuk dapat membedakan bentuk-bentuk huruf, (3) kemampuan kosakata, anak usia Taman Kanak-kanak telah memiliki kosakata yang cukup luas, (4) kemampuan diskriminasi auditori atau kemampuan membedakan suara yang didengar. Kemampuan ini berguna untuk membedakan bunyi huruf.

Pembelajaran membaca permulaan yang diberikan pada peserta didik usia Taman Kanak-kanak khususnya bagi mereka yang telah memiliki kesiapan membaca, bertujuan untuk membina dasar-dasar mekanisme membaca, seperti kemampuan mengasosiasikan huruf dengan bunyi-bunyi bahasa yang diwakilinya, melatih gerak bola mata dan kesiapan visual dan audiotori anak. Sebagaimana pendapat Papalia untuk dapat membaca anak harus memiliki ketrampilan bahasa umum dan ketrampilan bahasa khusus, sebagai ketrampilan pra membaca dan koordinasi mata, tangan dan kemampuan motorik halus. Ketrampilan bahasa umum meliputi perbendaharaan kata/kosakata, sintaksis, struktur naratif, dan pemahaman bahwa bahasa digunakan untuk berkomunikasi. Sehingga anak tidak

(12)

12

merasa kesulitan karena telah memiliki modal dasar kemampuan yang di butuhkan untuk belajar membaca.

Kemampuan membaca permulaan itu muncul secara alamiah sesuai dengan tahap perkembangan anak. Sebelum mengajarkan membaca pada anak maka terlebih dahulu harus diketahui sejauh mana kesiapan anak dalam belajar membaca yang dapat dilihat dari kematangan mental, kemampuan visual, kemampuan mendengarkan, perkembangan wicara dan bahasa, ketrampilan berfikir dn mendengarkan, perkembangan motorik, kematangan sosial dan emosional serta motivasi dan minat membaca anak.

Sehingga yang dimaksud dengan kemampuan membaca permulaan dalam penelitian ini adalah suatu kemampuan yang dimiliki anak untuk membaca simbol, membaca huruf, kata, dan kalimat sederhana yang menghubungkan antara bahasa lisan dengan tulisan.

C. Penerapan Metode Whole language dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan

Selanjutnya Goodman menyatakan bahwa “…this educational philosophy is based upon research from converging disciplines that together provide a strong theory of learning and language, a view of teaching and the role of teachers in fostering learning and language and learner centered view of the curriculum..”

Pernyataan Goodman diatas memliliki pengertian bahwa filosofi pendidikan pada konsep whole language adalah berdasarkan pada perpaduan berbagai disiplin ilmu yang sama – sama memiliki teori yang kuat pada bahasa dan pembelajaran, pandangan mengajar,dan aturan guru dalam mengembangkan bahasa dan pembelajaran dan kurikulum yang berpusat pada pembelajar.

Dari berbagai penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa landasan filosofi dari whole language tumbuh dari berbagai pandangan dan disiplin ilmu, yaitu mulai dari proses pemerolehan bahasa dan tumbuhanya budaya keaksaraan, psikolonguistik, sisiolingistik, psikologi kognitif, psikologi perkembangan, anthropologi, dan pendidikan. Dari keragaman yang berbeda tersebut whole language berada untuk mempersatukannya .

(13)

13

Whole language merupakan suatu filosofi, yang berakar pada pembelajaran secara alami yang pembinaannya dilakukan di kelas dan di sekolah. Dengan falsafah yang berdasarkan pada keyakinan tentang hakikat belajar dan bagaimana belajar maka diharapkan anak – anak dapat berkembang lebih optimal karena mereka mengikuti proses belajarnya sendiri. Anak secara alami belajar bahasa dengan mendengarkan dan berbicara. Selama perkembangan pada awal tahun anak bebas belajar, melalui trial and error dan mereka juga membuat penaksiran atau perkiraan – perkiraan tentang bahasa yang ada di lingkungannya.

Sebagaimana belajar bahasa oral, demikian pula dengan ketrampilan membaca dan menulis anak juga membutuhkan waktu yang cukup lama, melalui latihan–latihan yang mereka lakukan sendiri dan berbagai pengalaman yang bermakna dan penuh arti. Mereka bebas “membuat kesalahan” dalam belajar bahasa dan belajar dari kesalahan yang dibuat. Karena itu berkaitan dengan konsep whole language ini, dibutuhkan guru yang benar – benar mengerti bagaimana anak mempelajari bahasa, dan juga dapat menyediakan waktu dan latihan – latihan untuk perkembangan literasinya.

Whole language merupakan suatu penyiapan lingkungan yang menyeluruh dimana anak ditenggelamkan dalam bahasa. Penekanannya dalam bentuk kegiatan mendengar, bercakap, membaca dan menulis. Semuanya itu harus merupakan komunikasi yang bermakna yang diperankan guru dan juga muridnya. Program whole language dibangun berdasarkan suatu pemahaman bahwa anak memang sudah siap untuk melakukan membaca dan menulis, dimana mereka dapat berkomunikasi secara menyueluruh. Dari sinilah guru mulai menyediakan berbagai hal sesuai dengan kebutuhan anak agar terjadi komunikasi yang bermakna sehingga dapat berlangsung proses keaksaraan atau literasi.

Berdasarkan konsep psikolinguistik, sosiolinguistik, psikologi kognitif, psikologi perkembangan, antropologi dan pendidikan maka whole language memiliki beberapa kunci dasar yang dapat diimplementasikan untuk program pendidikan yaitu lingkungan yang disesuaikan atau disetting dengan cara tertentu. Menurut Eisele berikut cara menciptakan lingkungan yang dapat mengembangkan konsep whole language:

(14)

14

1. Immersion (tenggelamkan) : lingkungan anak harus kaya akan bahasa tulisan. Dinding, kursi bahkan pintu dan segala peralatan harus kaya akan tulisan dan menarik minat anak untuk kemudian membacanya. Dapat dipajang juga berbagai hasil karya anak.

2. Demonstration (demonstrasi) : anak belajar melalui model atau dengan melihat model Guru dan anak melakukan kegiatan membaca¸menulis, mendengarkan dan berbicara dalam kegiatan setiap harinya.

3. Expectation : menciptakan atmosfir yang mengandung harapan untuk anak belajar dan bekerja sesuai dengan tahap perkembangan anak. Untuk ini perlu disiapkan berbagai sumber atau fasilitas bahan, aktifitas dan buku – buku. Peralatan untuk kegiatan mendengar, seni, kegiatan menulis,computer, penerbitan hasil karya, dan peralatan untuk kegiatan matematika.

4. Responsibility : anak harus bertangggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri. Guru sebagai fasilitator, dan anak mengambil tanggung jawab sebagaimana seorang guru. Anak membuat bank kata, brainstorming ide/ gagasan, dan mencari fakta sendiri. Anak bekerja dengan menuliskan pada papan atau display di sekitar ruangan. Anak bergerak dan bekerja dengan bebas dan hanya sedikit arahan dari guru

5. Employment : anak secara aktif terlibat dalam pembelajaran yang penuh arti. 6. Approximations : anak mengambil resiko dan bebas bereksperimen dari

dorongan mereka sendiri dan merasa senang terhadap hasil usaha mereka sendiri.

7. Feedback/response : anak menerima feedback atau timbale balik yang positif dan spesifik dari guru dan teman sebaya/kelompok kerja.

Konsep “whole” dalam whole language mencakup semua komponen proses bahasa yakni mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Semua dipelajari secara menyeluruh dan tidak terpisah– isah. Anak–anak akan mencapai keberhasilan yang optimal jika berpartisipasi secara aktif dalam semua proses kebahasaan tersebut. Untuk itu, guru whole language harus menyediakan berbagai macam pengalaman yang penuh makna dalam untuk mendengar, berbicara, membaca dan menulis dalam kegiatan sehari – hari.

(15)

15

Anak usia dini membangun bahasa oral secara alamiah. Mereka belajar kosakata, intonasi, ekspresi dan ktrampilan berbicara dengan mendengarkan dan berbicara dengan menggunakan bahasanya sendiri. Bimbingan dalam menggunakan bahasa oral merupakan pondasi dasar untuk keberhasilan dalam ketrampilan membaca dan menulis. Untuk itu penting kiranya bagi anak untuk selalu berpartisipasi aktif dalam mendengarkan dan berbicara setiap hari. Anak mendapatkan rasa percaya diri, membangun konsep diri dan membangun perbendaharaan bahasa yang kuat melalui penggunaan bahasa secara aktif.

(16)

16

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian, maka dirumuskan tujuan penelitian sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca permulaan anak TK Kelompok B yang di terapkan metode whole language.

2. Untuk mengetahui penerapan metode whole language dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak TK kelompok B.

B. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan berguna dan dapat memberi informasikan kepada berbagai pihak secara teoritis maupun praktis diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Secara teoritis penelitian ini bermanfaat bagi program Pendidikan Anak Usia Dini, untuk melengkapi kajian tentang kemampuan membaca permulaan anak melalui penerapan metode whole language.

2. Secara praktis penelitian ini berguna :

a. Bagi guru PAUD, hasil penelitian ini dapat memberi informasi tentang penerapan metode whole language dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak TK kelompok B;

b. Bagi orang tua murid, sebagai masukan untuk mengajarkan membaca dengan menggunakan permainan agar lebih efektif.

(17)

17

BAB IV

METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode ”action research” atau penelitian tindakan dengan menggunakan metode penelitian campuran (Mix Method). Penggunaan pendekatan kualitatif dan kuantitatif secara kombinasi.

Kualitatif karena menjelaskan peristiwa yang dilakukan dalam penelitian, sehingga mendapat gambaran dan penjelasan yang lengkap dalam pelaksanaan penelitian tindakan ini. Secara kuantitatif, hal ini karena menggunakan instrumen kemampuan membaca permulaan berupa pedoman observasi untuk mengumpulkan dan mengukur data kemampuan membaca permulaan anak TK kelompok B.

B. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan di anak TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin. Adapun dasar pertimbangan pemilihan lokasi penelitian tersebut karena berpotensi untuk diteliti karena TK Aisyiyah 5 Kalitengah mengalami kesulitan dalam mengajarkan membaca pada anak didiknya dan masih tergantung pada buku paket membaca.

C. Subjek dan partisipan yang terlibat dalam penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa TK Kelompok B yang berjumlah 40 anak di TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin.

Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sample yaitu sample yang bertujuan. Penelitian ini juga melibatkan peranan guru kelas dan teman sejawat yang nantinya disebut kolaborator.

D. Metode Pengumpulan Data a. Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti dari obyek penelitian. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dan dikumpulkan langsung dari lokasi penelitian melalui tes kemampuan membaca permulaan anak dengan memberikan tes kepada anak yang menjadi sampel penelitian.

(18)

18

b. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari dokumentasi resmi TK Aisyiyah 5 Kalitengah, antara lain: profil sekolah, terutama dikaitkan dengan penerapan metode whole language dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan, struktur organisasi, sumber-sumber pustaka.

E. Instrumen Penelitian

Adapun kisi-kisi instrument kemampuan membaca permulaan sebagai berikut :

Variabel Dimensi Indikator

Kemampuan membaca permulaan

Mengenal huruf

- Mengenal huruf vokal - Mengenal huruf konsonan Merangkai

kata

- Membaca kata yang terdiri dari satu suku kata

- Membaca kata yang terdiri dari dua suku kata - Membaca kata yang terdiri dari tiga suku kata

atau lebih

- Membaca dengan akhiran huruf konsonan Membaca

sederhana

- Membaca kalimat bergambar - Membaca kalimat sederhana

F. Analisis Data

1. Analisis Data Kuantitatif

Peneliti akan menganalisis data kuantitatif melalui uji perbedaan antara kemampuan awal (pre test) dan kemampuan anak setelah di berikan tindakan (post-test). Hal tersebut dilakukan untuk dapat mengetahui perbedaan nilai sebelum dan sesudah dilakukan intervensi tindakan.

2. Analisis Data Kualitatif

Analisis data kualitatif bertujuan untuk melihat proses dan hasil pembelajaran yang telah disusun secara terstruktur dan sistematis. Analisis data kualitatif ini menggunakan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari sumber data, reduksi data dan verifikasi/kesimpulan.

G. Prosedur Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah model spiral dari Kemmis dan Taggart yang memaparkan dasar dari pelaksanaan penelitian tindakan atau

(19)

19

action research. Rancangan ini terdiri dari 4 tahap, yaitu (a) perencanaan (planning); (b) tindakan (acting); (c) pengamatan (observing); dan (d) refleksi (reflecting). Berikut ini prosedur penelitian tindakan menurut Kemmis dan Taggart :

Gambar 3.2

Model Spiral Kemmis dan Taggart

Target Tercapai R E F L E K S I T IND A K A N PENGAMAT AN R E F L E K S I T IND A K A N PENGAMAT AN RENCAN AAA RENCAN A ULANG Asesmen Awal:Tes kemampuan membaca permulaan sebelum pelaksanaan tindakan 1.Analisis focus pengembangan kecerdasan interpersonal 2. Membuat perencanaan pembelajaran

3. Analisis Tema dan jaringan tema

4.Membuat RKM dan RKH 5.Mempersiapkanmedia/

sumber yang akan digunakan 1. Melaksanakan pembelajaran 2. Melakukan pengamatan pembelajaran 3. Mengumpulkan data pelengkap yang mendukung

Merevisi dan memodifikasi pembelajaran sesuai dengan hasil tindakan siklus I

Mengaplikasikan pembelajaran sesuai dengan rencana tindakan 1. Mengamati perubahan

yang terjadi pada siswa

2. Mengadakan pertemuan dengan guru untuk membahas hasil tindakan 3. Evaluasi tindakan I 1. Melaksanakan observasi dengan menggunakan format observasi 2. Mengamati kegiatan pembelajaran 3. Mengevaluasi kemampuan membaca permulaan anak 1. Mengamati kegiatan pembelajaran sesuai dengan perencanaan tindakan kedua 2. Pengumpulan data tindakan kedua 1. Mengamati perubahan yang terjadi pada siswa setelah dilakukan tindakan kedua

2. Evaluasi tindakan II

(20)

20

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Penyajian Data

1. Deskripsi Data Assesmen Awal (sebelum tindakan)

Penelitian ini di laksanakan anak kelompok B TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin dengan jumlah siswa 40 anak . TK ini merupakan TK yang berada di kawasan perumahan yang kondisi sarana dan prasarananya sudah cukup memadai serta pendidiknya pun sudah beberapa yang memenuhi kualifikasi sebagai guru di Taman Kanak-kanak. Namun, model pembelajaran yang diterapkan masih model pembelajaran klasikal sehingga pada kegiatan pembelajaran membaca khusunya anak-anak masih di terfokus dengan buku paket yang ada.

Dari pengamatan peneliti melalui pre tes dan wawancara kepada guru tentang keadaan siswa terutama dalam kemampuan membacanya, menunjukkan bahwa guru masih mengalami kendala dalam mengajarkan membaca kepada anak-anak. Anak-anak lebih suka menggambar atau mewarnai dari pada membaca. Hal ini karena anak-anak merasa kesulitan dalam belajar membaca.

Dari hasil pre tes sebelum di berikan tindakan, kondisi kemampuan membaca permulaan anak-anak di lihat dari tiga indicator kemampuan membaca permulaan yang meliputi ; (1) kemampuan anak dalam membaca huruf, (2) merangkai kata, dan (3) membaca sederhana. Dengan menggunakan penilaian berskala 1-4, dengan ketemtuan : Skor 5 jika anak membaca benar dan lancar, Skor 4 jika anak membaca benar tapi kurang lancar, Skor 3 jika anak membaca ragu-ragu, Skor 2 jika anak membaca dengan bantuan guru, Skor 1 jika anak tidak dapat membaca. Maka di peroleh nilai sebagai berikut :

(21)

21

Tabel: 5.1 Nilai kemampuan membaca permulaan sebelum di berikan tindakan penerapan metode whole language

No. Respo

nden

Butir Soal Tes

Mengenal Huruf Merangkai Kata Membaca Sederhana

1 2 3 4 5 R 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 R 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 R 1 2 3 1 2 2 2 3 3 1 2 3 4 2 1 2 2 2 3 2 3 2 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 3 2 4 3 2 1 3 3 2 2 2 1 2 3 2 3 1 3 3 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 3 2 5 2 3 1 3 3 2 2 3 1 3 3 2 3 1 3 3 2 2 2 3 2 3 2 3 2 3 3 3 6 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 2 4 2 3 4 3 3 2 2 3 3 2 2 3 3 3 2 3 7 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 3 2 2 2 2 1 2 2 2 1 2 3 3 2 1 2 8 1 2 3 2 2 2 1 2 3 2 2 3 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 9 4 3 2 2 4 3 2 3 2 2 2 3 3 2 2 1 2 4 2 3 2 4 2 4 2 5 2 3 10 2 3 2 2 1 2 2 3 2 1 2 3 3 2 2 1 2 2 2 3 2 2 2 3 2 1 2 2 11 3 2 2 3 3 3 4 2 3 2 3 3 4 3 3 3 3 2 3 2 2 3 2 2 2 2 3 2 12 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 2 2 4 3 3 3 3 2 4 3 3 2 2 3 3 1 2 3 13 4 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 3 3 2 2 2 3 3 3 2 2 3 3 2 2 3 14 3 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 1 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 15 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 1 3 3 2 2 3 2 3 2 3 2 1 3 3 2 2 1 2 16 3 4 2 4 2 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 3 2 2 17 3 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 3 3 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 3 3 2 2 18 4 4 3 3 2 3 2 2 3 3 1 3 2 3 2 2 2 2 1 2 3 1 2 2 3 3 1 2 19 1 3 3 3 2 2 2 3 3 2 1 2 1 3 3 2 2 2 1 3 3 1 2 3 3 2 1 2 20 4 3 2 3 3 3 3 3 2 2 4 4 2 4 3 4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 21 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 22 3 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 3 2 2 3 2 2 3 2 2 2 2 3 2 23 2 3 3 2 2 2 3 3 3 4 3 3 3 3 3 2 3 4 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 24 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 25 3 4 3 2 3 3 1 2 3 3 2 3 2 3 2 3 2 1 3 2 3 2 1 2 3 3 2 2 26 2 2 3 2 3 2 2 3 3 4 3 3 4 3 2 3 3 1 2 2 3 2 1 2 3 2 2 2 27 3 2 3 2 3 3 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 3 2 3 3 28 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 1 2 2 2 2 1 3 3 2 3 1 3 2 2 3 2 29 4 3 2 3 3 3 2 3 2 3 2 3 2 2 3 2 2 2 4 3 4 2 4 3 2 3 4 3 30 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 31 2 3 3 3 2 3 2 4 4 3 2 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 32 3 3 3 2 2 3 2 4 3 3 4 4 3 3 2 2 3 2 3 3 3 4 4 3 3 3 2 3 33 3 3 2 2 2 2 4 3 4 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 2 3 2 3 34 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 35 2 3 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 3 2 3 2 2 3 2 36 3 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 2 2 2 37 4 3 3 2 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 2 3 38 3 3 4 3 2 3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 2 3 3 39 4 3 3 3 2 3 2 3 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 3 3 2 2 3 3 2 2 3 40 3 3 4 3 2 3 2 3 2 2 2 2 3 2 3 2 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 2 2

(22)

22

Tabel 5.2 Rekapitulasi Nilai kemampuan membaca permulaan sebelum di berikan tindakan penerapan metode whole language

Indikator Penilaian

1 2 3 4 5

Mengenal Huruf 0% 55% 45% 0% 0%

Merangkai kata 0% 73% 28% 0% 0%

Membaca sederhana 0% 60% 40% 0% 0%

Dari data table di atas, dapat diketahui pada pra siklus ini didapatkan kemampuan anak dalam mengenal huruf masih pada 55% membaca dengan bantuan guru, dan dalam kemampuan merangkai kata 73% juga dengan bantuan guru serta dalam membaca sederhana hamper 60% anak. Jadi bisa dilihat bahwa masih banyak anak yang masih kurang dalam kemampuan membacanya.

Dari perolehan nilai pra siklus yang ada, maka peneliti ingin meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak yang nantinya peneliti mengharapkan bahwa kemampuan membaca permulaan anak bisa meningkat dengan penerapan metode whole language.

2. Data Siklus I

Dalam penelitian tindakan ada empat tahap yang harus di lalui yakni : a. Perencanaan

Berdasarkan data assesmen awal yang diperoleh dapat diketahui bahwa kemampuan membaca permulaan anak masih rendah. Hasil assesmen awal ini menjadi acuan peneliti dalam membuat perencanaan perlakuan tindakan. Adapun perencanaan perlakuan tindakan dirancang oleh peneliti dan dibantu oleh guru kelas meliputi : pembuatan RKH sesuai dengan prinsip metode whole language, media pembelajaran yang mendukung, menyiapkan instrument dan lembar observasi.

Kegiatan pembelajaran di TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin dimulai dari pukul 07.00 WIB sampai dengan 10.30 WIB. Pada penerapan metode whole language ini dilaksanakan pada kegiatan awal pembelajaran yaitu pukul 07.30-08.00 WIB Sembilan kali pada tiap siklus. Dan pada waktu kegiatan

(23)

23

penerapan metode whole language yang memberikan tindakan adalah guru kelas masing-masing dan peneliti sebagai observer. Pelaksanaan metode bercerita ini dilakukan sesuai dengan jadwal penelitian yang ada di table bawah ini.

Tabel 5.3 Jadwal pelaksanaan penerapan metode whole language

No Hari/Tanggal Kegiatan

1 Senin, 14 Oktober 2013 Mengenal huruf

2 Selasa, 15 Oktober 2013 Mengenal huruf

3 Rabu, 16 Oktober 2013 Merangkai kata

4 Senin, 21 Oktober 2013 Merangkai kata

5 Selasa, 22 Oktober 2013 Merangkai kata

6 Rabu, 23 Oktober 2013 Membaca sederhana

7 Senin, 28 Oktober 2013 Membaca sederhana

8 Selasa, 29 Oktober 2013 Membaca sederhan

9 Rabu, 30 Oktober 2013 Post test

b. Pelaksanaan Tindakan

Sesuai dengan pendapat dari Eisele dalam pelaksanaan pemberian tindakan metode whole language perlu menciptakan lingkungan yang dapat mengembangkan konsep whole language meliputi :

Immersion (tenggelamkan) : lingkungan anak harus kaya akan bahasa tulisan. Dinding, kursi bahkan pintu dan segala peralatan harus kaya akan tulisan dan menarik minat anak untuk kemudian membacanya. Dapat dipajang juga berbagai hasil karya anak.

Demonstration (demonstrasi) : anak belajar melalui model atau dengan melihat model Guru dan anak melakukan kegiatan membaca¸menulis, mendengarkan dan berbicara dalam kegiatan setiap harinya.

Expectation : menciptakan atmosfir yang mengandung harapan untuk anak belajar dan bekerja sesuai dengan tahap perkembangan anak. Untuk ini perlu disiapkan berbagai sumber atau fasilitas bahan, aktifitas dan buku – buku. Peralatan untuk kegiatan mendengar, seni, kegiatan

(24)

24

menulis,computer, penerbitan hasil karya, dan peralatan untuk kegiatan matematika.

Responsibility : anak harus bertangggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri. Guru sebagai fasilitator, dan anak mengambil tanggung jawab sebagaimana seorang guru. Anak membuat bank kata, brainstorming ide/ gagasan, dan mencari fakta sendiri. Anak bekerja dengan menuliskan pada papan atau display di sekitar ruangan. Anak bergerak dan bekerja dengan bebas dan hanya sedikit arahan dari guru  Employment : anak secara aktif terlibat dalam pembelajaran yang penuh

arti.

Approximations : anak mengambil resiko dan bebas bereksperimen dari dorongan mereka sendiri dan merasa senang terhadap hasil usaha mereka sendiri.

Feedback/response : anak menerima feedback atau timbale balik yang positif dan spesifik dari guru dan teman sebaya/kelompok kerja.

c. Observasi

Observasi pada perlakuan tindakan difokuskan pada pengamatan meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak, apakah kemampuan membaca permulaan anak bisa meningkat setelah diterapkan metode whole language. Adapun aspek kemampuan membaca permulaan meliputi kemampuan mengenal huruf, merangkai kata, dan membaca sederhana.

Dari hasil observasi kemampua membaca permulaan anak-anak kelompok B Tk Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin di peroleh data sebagai berikut :

(25)

25

Tabel 5.4 Nilai kemampuan membaca permulaan sebelum di berikan tindakan penerapan metode whole language (siklus 1)

No. Respon

den

Butir Soal Tes

Mengenal Huruf Merangkai Kata Membaca Sederhana

1 2 3 4 5 R 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 R 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 R 1 5 4 5 4 5 5 3 3 3 4 3 4 3 3 4 3 3 5 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 2 3 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 3 5 4 3 4 4 4 5 3 4 3 3 4 3 3 4 4 4 5 4 3 5 5 3 4 4 4 3 4 4 4 5 5 4 5 5 5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 3 3 5 5 4 5 5 5 5 4 5 5 3 4 4 3 5 5 3 4 4 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 6 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 7 5 4 3 4 4 4 5 5 3 4 4 3 4 4 4 5 4 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3 8 5 4 4 3 5 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 9 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 10 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 11 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 3 3 12 5 5 3 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 13 3 3 3 3 3 3 5 4 5 5 3 3 5 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 14 5 4 4 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 4 4 4 3 15 3 3 4 3 3 3 4 4 5 3 4 3 4 5 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 16 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 3 4 3 17 5 5 4 3 4 4 5 5 3 4 4 4 3 5 4 3 4 5 5 3 4 3 5 4 3 4 4 4 18 5 3 5 4 3 4 5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 3 3 4 3 19 5 3 4 5 3 4 5 4 4 3 4 3 5 5 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 20 4 3 3 3 3 3 5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3 21 4 5 5 3 3 4 5 4 3 3 5 4 5 4 4 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 22 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 4 4 3 3 23 5 3 4 4 4 4 3 5 3 3 4 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 24 4 3 3 3 3 3 3 4 5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 4 4 4 4 4 25 5 3 4 3 5 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 3 4 3 26 5 3 5 4 3 4 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 4 3 27 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 28 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 5 4 3 5 3 5 4 4 4 3 4 29 4 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 4 3 4 3 30 3 4 3 3 3 3 5 4 4 3 5 4 3 4 3 5 4 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 31 5 5 5 5 5 5 5 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 4 4 3 3 3 4 3 32 5 4 4 4 3 4 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 5 5 3 3 3 5 3 5 5 4 4 33 5 5 4 4 3 4 5 5 4 4 4 3 4 4 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 34 4 3 4 4 3 4 4 3 4 5 3 3 3 4 3 3 4 5 5 3 4 5 3 4 4 4 3 4 35 5 3 4 5 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 4 3 3 3 3 4 3 4 4 3 3 36 4 5 4 4 4 4 5 4 5 4 3 5 3 4 4 4 4 3 4 3 3 3 3 4 3 3 4 3 37 4 3 4 3 4 4 5 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 5 4 4 3 4 3 5 3 4 5 4 38 3 3 4 3 3 3 5 3 3 4 3 3 5 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 4 3 3 39 5 4 3 5 3 4 3 3 3 4 4 3 3 3 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 40 5 5 5 5 5 5 5 5 5 3 4 4 3 4 3 4 4 4 3 3 5 5 4 4 5 4 4 4

(26)

26 d. Refleksi

Dari observasi yang dilakukan dengan pre test, catatan lapangan dan post test pada siklus I ini, terjadi peningkatan terhadap kemampuan membaca permulan anak yang meliputi kemampuan mengenal huruf, merangkai kata dan membaca kalimat sederhana. Hasil peningkatannya dapat di lihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 5.5 Tabel perolehan nilai pre test dan post test

No. Responden Mengenal Huruf Merangkai Kata Membaca Sederhana Pre Tes Siklus I Pre Tes Siklus I Pre Tes Siklus I

1 2 5 2 3 3 3 2 2 4 2 3 2 3 3 2 4 2 4 2 4 4 2 5 2 3 2 3 5 2 5 2 4 3 3 6 3 3 3 3 3 3 7 2 4 2 4 2 3 8 2 4 2 3 2 3 9 3 3 2 3 3 3 10 2 3 2 3 2 3 11 3 3 3 3 2 3 12 3 4 3 3 3 3 13 3 3 2 4 3 3 14 2 4 2 3 2 3 15 2 3 2 4 2 3 16 3 3 2 3 2 3 17 2 4 2 4 2 4 18 3 4 2 3 2 3 19 2 4 2 4 2 3 20 3 3 3 3 3 3 21 3 4 2 4 2 3 22 2 3 2 3 2 3 23 2 4 3 3 3 3 24 2 3 2 3 2 4 25 3 4 2 3 2 3 26 2 4 3 3 2 3 27 3 3 2 3 3 3 28 2 3 2 3 2 4 29 3 3 2 3 3 3 30 2 3 2 4 2 3 31 3 5 3 3 3 3 32 3 4 3 3 3 4 33 2 4 3 4 3 3 34 2 4 2 4 2 4 35 2 4 2 3 2 3 36 2 4 2 4 2 3 37 3 4 3 3 3 4 38 3 3 3 4 3 3 39 3 4 2 3 3 3 40 3 5 2 4 2 4

(27)

27

Dari hasil observasi yang telah dilakukan pada penelitian ini, terdapat kelemahan dan kelebihan, adapun kelebihannya yaitu (1) anak tidak merasa terbebani dengan kegiatan membaca, (2) disamping dapat membaca metode ini juga mengajarkan kemampuan menulis untuk anak, (3) tidak terikat dengan buku paket. Sedangkan kelemahannya (1) guru harus benar-benar faham tentang tahapan pengajaran dengan metode whole language ini, (2) perlu ketrampilan khusus guru untuk merencanakan kegiatan pengembangan bahasa secara terpadu.

3. Data Siklus II

Dalam penelitian tindakan ada empat tahap yang harus di lalui yakni : a. Perencanaan

Berdasarkan data siklus 1 yang diperoleh dapat diketahui bahwa kemampuan membaca permulaan anak sudah ada peningkatan namun masih belum optimal. Hasil assesmen dan refleksi pada siklus 1 ini menjadi acuan peneliti dalam membuat perencanaan perlakuan tindakan. Adapun perencanaan perlakuan tindakan dirancang oleh peneliti dan dibantu oleh guru kelas meliputi : pembuatan RKH sesuai dengan prinsip metode whole language dan masukan dari refleksi siklus 1, media pembelajaran yang mendukung, menyiapkan instrument dan lembar observasi.

Kegiatan pembelajaran di TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin dimulai dari pukul 07.00 WIB sampai dengan 10.30 WIB. Pada penerapan metode whole language ini dilaksanakan pada kegiatan awal pembelajaran yaitu pukul 07.30-08.00 WIB Sembilan kali pada tiap siklus. Dan pada waktu kegiatan penerapan metode whole language yang memberikan tindakan adalah guru kelas masing-masing dan peneliti sebagai observer. Pelaksanaan metode bercerita ini dilakukan sesuai dengan jadwal penelitian yang ada di table bawah ini.

(28)

28

Tabel 5.6 Jadwal pelaksanaan penerapan metode whole language siklus 2

No Hari/Tanggal Kegiatan

1 Senin, 04 Nopember 2013 Mengenal huruf 2 Selasa, 05 Nopember 2013 Mengenal huruf

3 Rabu, 06 Nopember 2013 Merangkai kata

4 Senin, 11 Nopember 2013 Merangkai kata 5 Selasa, 12 Nopember 2013 Merangkai kata

6 Rabu, 13 Nopember 2013 Membaca sederhana

7 Senin, 18 Nopember 2013 Membaca sederhana

8 Selasa, 19 Nopember 2013 Membaca sederhan 9 Rabu, 20 Nopember 2013 Post test

e. Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan sama dengan pada siklus 1 yakni dalam pelaksanaan pemberian tindakan metode whole language perlu menciptakan lingkungan yang dapat mengembangkan konsep whole language meliputi :

Immersion (tenggelamkan) : lingkungan anak harus kaya akan bahasa tulisan. Dinding, kursi bahkan pintu dan segala peralatan harus kaya akan tulisan dan menarik minat anak untuk kemudian membacanya. Dapat dipajang juga berbagai hasil karya anak.

Demonstration (demonstrasi) : anak belajar melalui model atau dengan melihat model Guru dan anak melakukan kegiatan membaca¸menulis, mendengarkan dan berbicara dalam kegiatan setiap harinya.

Expectation : menciptakan atmosfir yang mengandung harapan untuk anak belajar dan bekerja sesuai dengan tahap perkembangan anak. Untuk ini perlu disiapkan berbagai sumber atau fasilitas bahan, aktifitas dan buku – buku. Peralatan untuk kegiatan mendengar, seni, kegiatan menulis,computer, penerbitan hasil karya, dan peralatan untuk kegiatan matematika.

(29)

29

Responsibility : anak harus bertangggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri. Guru sebagai fasilitator, dan anak mengambil tanggung jawab sebagaimana seorang guru. Anak membuat bank kata, brainstorming ide/ gagasan, dan mencari fakta sendiri. Anak bekerja dengan menuliskan pada papan atau display di sekitar ruangan. Anak bergerak dan bekerja dengan bebas dan hanya sedikit arahan dari guru  Employment : anak secara aktif terlibat dalam pembelajaran yang penuh

arti.

Approximations : anak mengambil resiko dan bebas bereksperimen dari dorongan mereka sendiri dan merasa senang terhadap hasil usaha mereka sendiri.

Feedback/response : anak menerima feedback atau timbale balik yang positif dan spesifik dari guru dan teman sebaya/kelompok kerja.

f. Observasi

Observasi pada perlakuan tindakan difokuskan pada pengamatan meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak, apakah kemampuan membaca permulaan anak bisa meningkat setelah diterapkan metode whole language. Adapun aspek kemampuan membaca permulaan meliputi kemampuan mengenal huruf, merangkai kata, dan membaca sederhana.

Dari hasil observasi kemampua membaca permulaan anak-anak kelompok B Tk Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin di peroleh data sebagai berikut :

(30)

30

Tabel 5.7 Nilai kemampuan membaca permulaan sebelum di berikan tindakan penerapan metode whole language (siklus 2)

No. Respon

den

Butir Soal Tes

Mengenal Huruf Merangkai Kata Membaca Sederhana 1 2 3 4 5 R 6 7 8 9 1 0 1 1 1 2 1 3 1 4 1 5 R 1 6 1 7 1 8 1 9 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 R 1 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 5 4 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 5 4 5 2 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 5 5 5 4 5 4 5 5 4 4 5 4 5 4 5 5 4 5 3 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 5 4 5 5 5 4 5 4 4 5 5 4 4 5 6 5 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 7 5 5 4 4 5 5 5 5 4 5 4 5 4 4 4 5 5 5 5 5 4 5 4 4 5 4 4 5 8 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 9 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 10 5 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 5 4 4 5 4 4 4 4 11 5 5 4 4 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 4 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 4 4 5 12 5 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 4 5 5 5 4 4 5 4 5 4 4 5 5 13 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 4 4 5 5 4 4 5 4 5 5 5 4 4 5 14 5 4 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 15 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 4 5 16 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 17 5 4 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 4 5 4 4 5 5 5 4 4 4 5 5 4 5 4 5 18 5 5 4 5 4 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 19 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 5 4 4 5 20 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 4 5 4 5 5 4 5 5 5 4 4 5 4 5 4 5 4 5 21 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 4 5 4 5 4 5 5 22 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 23 5 4 4 5 5 5 4 5 4 5 4 4 5 5 4 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 4 4 5 24 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 25 5 4 5 5 4 5 4 4 3 3 3 4 3 4 4 4 4 4 4 3 3 3 4 3 4 3 4 4 26 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 5 5 5 4 4 4 5 5 4 4 5 4 5 4 5 5 4 5 27 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 4 4 5 5 4 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 28 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 29 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 30 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 5 4 4 4 5 5 5 5 5 4 4 5 4 5 5 4 4 5 31 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 5 4 5 4 5 4 4 5 4 5 5 5 4 5 32 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 4 5 4 5 5 4 5 33 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 34 5 5 5 5 5 5 4 5 5 5 4 4 5 4 5 4 5 5 5 4 4 5 4 4 4 4 4 4 35 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 4 5 5 4 5 4 5 5 4 4 5 5 5 4 4 5 4 5 36 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 37 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 4 5 4 4 5 5 5 4 5 5 4 5 4 4 5 5 38 5 4 4 4 5 4 3 4 3 4 4 4 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 39 5 5 5 5 5 5 5 5 4 5 4 4 5 4 5 4 5 5 5 4 4 5 5 4 5 4 4 5 40 5 5 5 5 5 5 5 5 5 4 4 5 5 5 4 4 5 5 4 5 5 5 4 5 5 4 4 5

(31)

31 g. Refleksi

Dari observasi yang dilakukan dengan pre test, catatan lapangan dan post test pada siklus I ini, terjadi peningkatan terhadap kemampuan membaca permulan anak yang meliputi kemampuan mengenal huruf, merangkai kata dan membaca kalimat sederhana. Hasil peningkatannya dapat di lihat dari tabel di bawah ini.

Tabel 5.8 Tabel perolehan nilai pre test dan post test No.

Respon den

REKAP KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN ANAK KELOMPOK B Mengenal Huruf Merangkai Kata Membaca Sederhana Pre Tes Siklus I Siklus II Pre Tes Siklus I Siklus II Pre Tes Siklus I Siklus II

1 2 5 5 2 3 5 3 3 5 2 2 4 5 2 3 5 2 3 5 3 2 4 5 2 4 4 2 4 4 4 2 5 5 2 3 5 2 3 5 5 2 5 5 2 4 5 3 3 5 6 3 3 4 3 3 4 3 3 4 7 2 4 5 2 4 5 2 3 5 8 2 4 5 2 3 4 2 3 4 9 3 3 5 2 3 5 3 3 5 10 2 3 4 2 3 4 2 3 4 11 3 3 5 3 3 5 2 3 5 12 3 4 5 3 3 5 3 3 5 13 3 3 5 2 4 5 3 3 5 14 2 4 5 2 3 4 2 3 4 15 2 3 5 2 4 5 2 3 5 16 3 3 4 2 3 4 2 3 4 17 2 4 5 2 4 5 2 4 5 18 3 4 5 2 3 4 2 3 4 19 2 4 5 2 4 5 2 3 5 20 3 3 5 3 3 5 3 3 5 21 3 4 5 2 4 5 2 3 5 22 2 3 5 2 3 4 2 3 4 23 2 4 5 3 3 5 3 3 5 24 2 3 5 2 3 5 2 4 4 25 3 4 5 2 3 4 2 3 4 26 2 4 5 3 3 5 2 3 5 27 3 3 5 2 3 5 3 3 4 28 2 3 5 2 3 5 2 4 5 29 3 3 5 2 3 5 3 3 5 30 2 3 5 2 4 5 2 3 5 31 3 5 5 3 3 5 3 3 5 32 3 4 5 3 3 5 3 4 5 33 2 4 5 3 4 5 3 3 5 34 2 4 5 2 4 5 2 4 4 35 2 4 5 2 3 5 2 3 5 36 2 4 5 2 4 5 2 3 5 37 3 4 5 3 3 5 3 4 5 38 3 3 4 3 4 4 3 3 4 39 3 4 5 2 3 5 3 3 5 40 3 5 5 2 4 5 2 4 5

(32)

32

Dari hasil observasi yang telah dilakukan pada penelitian ini, terdapat kelemahan dan kelebihan, adapun kelebihannya yaitu (1) anak termotovasi

B. Pembahasan

1. Peningkatan kemampuan membaca permulaan anak melalui metode whole language

Dari hasil pemberian tindakan pembelajaran membaca dengan metode whole language pada anak kelompok B TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin yang di lakukan dengan dua siklus masing-masing siklus Sembilan kali pemberian tindakan, dengan rincian :

Siklus I : 14, 15, 16, 21, 22, 23, 28, 29, 30 Oktober 2013 Siklus II : 4, 5, 6, 11, 12, 13, 18, 19, 20 Nopember 2013

Berikut perolehan nilai prosentase dari peningkatan kemampuan membaca anak yang diterapkan dengan metode whole language di TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin.

Siklus Mengenal Huruf Merangkai kata Membaca Sederhana 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Pretes 55% 45% 73% 28% 60% 40%

Siklus 1 38% 50% 13% 65% 35% 20% 80%

Siklus 2 10% 90% 35% 75% 33% 68% Keterangan :

Skor 5, jika anak membaca benar dan lancar Skor 4, jika anak membaca benar tapi kurang lancar Skor 3, jika anak membaca ragu-ragu

Skor 2, jika anak membaca dengan bantuan guru Skor 1, jika anak tidak dapat membaca

Dari data table diatas maka dapat dilihat peningkatan kemampuan anak yang pada pre tes sebelum diberikan tindakan, 55% anak dalam kemampuan mengenal huruf masih membaca dengan bantuan guru dan 73% anak juga masih perlu bantuan guru dalam merangkai kata hal ini dipengaruhi karena dalam kegiatan membaca selama ini guru masih berpedoman pada buku paket membaca dan menggunakan metode yang kurang menyenangkan buat anak. Sehingga setiap kegiatan membaca anak merasa takut dan juga bosan.

(33)

33

Setelah dilakukan pemberian tindakan pada siklus I maka diketahui ada peningkatan pada kemampuan membaca peserta didik yang sebelumnya banyak anak dalam membaca masih perlu bantuan guru, namun setelah di berikan tindakan dan di lakukan pengamatan terhadap kemampuan membaca anak-anak maka terlihat hamper pada tiap indicator membaca anak-anak sudah bisa membaca sendiri tanpa bantuan guru lagi meskipun masih ada beberapa anak membaca dengan ragu-ragu namun pada siklus 1 ini sudah mulai muncul kemampuan anak membaca dengan benar meskipun kurang lancar. Dengan rincian 50% anak membaca huruf dengan benar, 35% anak merangkai kata dengan benar yang sebelumnya pada siklus 1 masih belum ada anak yang mencapai nilai 4, dan 80% anak mampu membaca sederhana dengan benar meskipun masih kurang lancar. Perubahan itu dapat dilihat pada kegiatan pembelajaran yang di tunjukkan oleh salah satu siswa yang bernama Aini dulunya dia termasuk anak yang perlu bimbingan khusus dalam kegiatan membaca, namun setelah diberi tindakan Aini mulai ada peningkatan san dia sekarang suka bertanya terhadap tulisan-tulisan yang ada di sekitarnya.

Dari pemberian tindakan pada siklus 1 maka setelah di lakukan analisis dan diskusi dengan kolaborator maka dirasa perlu untuk dilakukan pemberian tindakan kembali dengan beberapa catatan dari refleksi dari siklus 1. Maka pada siklus 2 dapat di ketahui peningkatan kemampuan membaca anak yang sangat signifikan, hal ini di ketahui bahwa 90% anak mampu membaca huruf dengan benar dan lancar, dalam kemampuan merangkai kata 75% anak dapat dengan benar dan lancar serta 68% anak mampu dengan benar dan lancar membaca sederhana.

Perubahan ini dapat dilihat pada salah satu anak kelompok B TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin yang bernama Rendra ketika kegiatan menulis kata SEPEDA dia tidak hanya menulis sesuai contoh tapi secara spontan dia juga membaca apa yang dia tulis kemudian bercerita pada teman yang disebelahnya tentang sepedanya yang baru. Maka dari sini dapat di ketahui metode whole language ini dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak

(34)

34

secara terpadu sehingga secara otomatis kemampuan membaca anak pun meningkat tanpa membuat anak terbebani serta bosan dengan pembelajaran.

Dari data yang diperoleh saat pelaksanaan tindakan pada siklus 1 dan siklus 2 dengan cara pengamatan menggunakan lembar instrument tes dan check-list observasi kemampuan anak-anak maka di ketahui terjadi peningkatan yang signifikan kemampuan membaca anak-anak dapat ditingkatkan dengan penerapan metode whole language. Hal ini sejalan dengan pendapat Eisele, whole language merupakan suatu cara berfikir untuk mengetahui bagaimana anak-anak belajar berbahasa baik lisan maupun bahasa tulis. Yang mana kegiatan whole language ini meliputi semua proses belajar bahasa (mendengar, berbicara, membaca, menulis) semua dipelajari secara alami, yakni dipelajari secara utuh dan bukan tiap-tiap bagian dipelajari secara terpisah. Sehingga anak belajar secara terpadu tidak hanya kemampuan mengucapkan saja, namun lebih dari itu dengan anak melihat dan mendengar anak mampu mengucapkan dan membaca apa yang di lihatnya serta dengan kegiatan menulis anak terbiasa dengan huruf-huruf sehingga secara tidak langsung anak pun melafalkan apa yang ditulisnya.

2. Penerapan metode whole language dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak TK Kelompok B.

Dalam penerapan metode whole language ini meliputi semua proses belajar bahasa (mendengar, berbicara, membaca, menulis) semua dipelajari secara alami, yakni dipelajari secara utuh dan bukan tiap-tiap bagian dipelajari secara terpisah.

Namun yang perlu diperhatikan dalam penerapan metode whole language ini guru harus benar-benar telah mempersiapkan lingkungan yang sesuai dengan konsep metode whole language. Semua benda yang ada di kelas hendaknya tertera nama benda tersebut sehingga anak terbiasa melihat tulisan itu sehingga anak secara reflex mengetahui bacaan tulisan yang tertera. Kemudian membiasakan anak belajar melalui model atau dengan melihat model Guru dan anak melakukan kegiatan membaca¸menulis, mendengarkan dan berbicara dalam kegiatan setiap harinya.

(35)

35

Dari hasil penelitian maka di ketahui dari penataan lingkungan itu maka sangat berpengaruh terhadap motivasi belajar anak untuk mengenal/ belajar membaca maupun menulis secara bersamaan karena itu menjadi suatu hal yang rutin mereka lakukan.

(36)

36

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari penelitian yang telah di lakukan dan sudah dipaparkan pada bab sebelumnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Kemampuan membaca permulaan anak kelompok B TK Aisyiyah 5 Kalitengah Tanggulangin setelah diterapkan metode whole language mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari hasil pra siklus dengan hasil post test pada siklus 2. Hal ini terlihat dengan meningkatnya kemampuan membaca anak baik mengenal huruf, merangkai kata maupun membaca kalimat sederhana.

2. Saat penerapan metode whole language dalam pada anak TK Kelompok B anak. Anak-anak merasa nyaman saat pembelajaran dan tidak membuat anak merasa terpaksa. Karena pada metode ini pembelajaran secara terpadu sehingga anak dapat mengembangkan kemampuannya lebih optimal.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan hasil penelitian dan keterbatasan pada hasil penelitian ini, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :

1. Bagi guru dan pendidik TK, metode whole language dapat menjadi alternative dalam kegiatan pembelajaran membaca.

2. Bagi pengelola Taman Kanak-kanak atau Bustanul Athfal, diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan dan menentukan pembelajaran seluas-luasnya, sehingga dapat menimbulkan kreatifitas guru dalam mengajar.

3. Bagi peneliti selanjutnya, hendaknya dapat mengembangkan penelitian ini dengan memasukkan variabel lain yang belum ada pada penelitian ini.

(37)

37

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono, 2003, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi, 2003, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.

Brewer, Jo Ann, 2007, Introduction to Early Childhod Education, Boston, USA: Allyn and Bacon.

Crain, William, 2007, Teori Perkembangan Konsep dan Aplikasi Alih bahasa Yudi santoso, Yogyakarta:Pustaka Pelajar.

Dardjowidjoyo, Soenjono, 2008, Psikolinguistik, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Dhieni, dkk. Nurbiana, 2008, Metode Pengembangan Bahasa, Jakarta: Universitas Terbuka.

Eisele, Beverly, 1991, Managing The Whole Language Classroom, Creative Teaching Prees, CA.

Hawadi, Reni Akbar, 2006, Psikologi Perkembangan Anak, Jakarta: Grasindo. Jamaris, Martini, 2006, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman

Kanak-Kanak: Pedoman bagi Orang Tua dan Guru, Jakarta: Grasindo. Kadir, 2010, Statistika Untuk Penelitian Ilmu-ilmu Sosial,, Jakarta: Rosemata

Sampurna.

Lesley Mandel Morrow, 1993, Literacy Development in the Early Years, United State of America : Allyn and Bacon.

Munandar, Utami, 1999, Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Jakarta: PT Gramedia.

Papalia,. Diane E, Wendkos Old, Sally and Feldman, Ruth Duskin, 2008, Human Development, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Rahim, Farida, 2008, Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar, Jakarta: Bumi Aksara.

(38)

38

Solehuddin dkk, 2007, Pembaharuan Pendidikan TK, Jakarta:Universitas Terbuka.

Sugiyono, 2010, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Jakarta: Alfabeta.

Sudjana, Nana, 2011, Langkah dan Prosedur Penelitian, Jakarta: Binamitra-Publishing.

Suyanto, Slamet, 2005, Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Depdiknas Dirjen Pendidikan Tinggi.

Wasik, Carol Seefeldt dan Barbara A.,2008, Pendidikan Anak Usia Dini Menyiapkan Anak Usia Tiga, Empat, dan Lima Tahun Masuk Sekolah , Jakarta : Indeks, 2008.

Weaver, Constance, 1990, Understanding Whole Language, Irwin publishing, Canada.

Gambar

Tabel 5.2 Rekapitulasi Nilai kemampuan membaca permulaan sebelum di  berikan tindakan penerapan  metode whole language
Tabel 5.3 Jadwal pelaksanaan penerapan metode whole language
Tabel 5.4 Nilai kemampuan membaca permulaan sebelum di berikan  tindakan penerapan  metode whole language (siklus 1)
Tabel 5.5 Tabel perolehan nilai pre test dan post test
+4

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini berjudul “ Upaya Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini Dengan Menggunkan Education Games Di Kelompok A-1 TK Pembina Swasta UMP Dukuhwaluh Purwokerto Banyumas

Dengan demikian silang luar dilakukan antara ikan tengadak asal Kalimantan dan Jawa yang memiliki jarak genetik relatif lebih jauh dibandingkan dengan Sumatera

Ciri yang dimiliki oleh kelompok ini adalah permukaan tangkai daun gundul atau berambut, bentuk kelenjar pada tangkai daun membulat, kelenjar rata atau menonjol,

Dari hasil pengujian di laboratorium yang dapat dilihat pada tabel dan gambar di atas bahwa nilai batas cair mengalami penurunan saat penambahan campuran pasir dari tanah asli

Komisi Pemilihan Umum Daerah yang selanjutnya disebut KPUD adalah KPUD sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2003 yang diberikan wewenang khusus

Jika dan adalah vektor-vektor basis di yaitu vektor satuan yang masing- masing sejajar dan searah dengan sumbu x dan sumbu y dan berpangkal di titik O dalam ,

Hulu Selangor Gombak Kuala Selangor Kelang Petaling W.P Jelebu Pekan Kuantan Maran Temerloh Bera Bentong Raub PAHANG SELANGOR Sabak Bernam Hulu L t Kuala Langat Kelang Jelebu

Kondisi pemenuhan kebutuhan tak terlepas dari sebuah proses dinamika perubahan ke arah konstruksi nilai-nilai yang disepakati bersama dalam sebuah masyarakat (dan bahkan proses yang