6.RIWAYAT KEADAAN PSIKOSOSIAL
C. Perencanaan Keperawatan dan Rasional
Setelah dilakukannya pengkajian pada tanggal 17 Juni 2013, maka dibuatlah suatu perencanaan keperawatan dan rasional berdasarkan dari rumusan masalah yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk lebih jelasnya lagi perencanaan keperawatan beserta rasionalnya dapat dilihat di (lampiran 3) yang sudah tersedia. Perencanaan keperawatan dan rasional tersebut yakni:
1) Pada tanggal 17 Juni 2013 dibuatlah perencanaan keperawatan dengan diagnosa keperawatan yang pertama: Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri atau kelemahan otot. Adapun tujuan dan kriteria hasil, intervensi dan rasional yang ditujukan untuk diagnosa tersebut:
21
kriteria hasil: mempertahankan pola nafas kembali normal/efektif bebas sianosis dan tanda/gejala lain dari hipoksia dengan bunyi nafas sama secara bilateral, area paru bersih.
intervensi dan rasional:
a) evaluasi frekuensi pernapasan dan kedalaman. Catat upaya pernafasan. R/ respons pasien bervariasi. Kecepatan dan upaya mungkin meningkat karena nyeri, takut, demam, penurunan volume sirkulasi.
b) Observasi penyimpangan dada. Selidiki penurunan ekspansi atau ketidaksimetrisan gerakan dada. R/ udara atau cairan pada areal pleural mencegah ekspansi lengkap dan memerlukan pengkajian lanjut status ventilasi.
c) Lihat kulit dan membran mukosa untuk adanya sianosis. R/ sianosis bibir, kuku, atau daun telinga menunjukan kondisi hipoksia sehubungan dengan gagal jantung atau komplikasi paru. d) Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi
atau semi fowler. R/ merangsang fungsi pernafasan/ ekspansi paru. Efektif pada pencegahan dan perbaikan kongestif paru.
2) Pada tanggal 17 Juni 2013 dibuatlah perencanaan keperawatan dengan diagnosa keperawatan yang kedua: Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (seperti: nyeri , nafas pendek dan batuk). Adapun tujuan dan kriteria hasil, intervensi dan rasional yang ditujukan untuk diagnosa tersebut:
Tujuan: agar pola tidur pasien kembali normal
Kriteria hasil: melaporkan perbaikan dalam pola tidur/istirahat dan mengungkapkan peningkatan rasa sejahtera dan segar.
intervensi dan rasional:
a) Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi. R/ mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat. b) Berikan tempat tidur yang nyaman dan beberapa milik pribadi. R/
meningkatkan kenyamanan tidur serta dukungan fisiologis/ psikologis.
c) Buat rutinitas tidur baru yang dimasukan dalam pola lama dan lingkungan baru. R/ bila rutinitas baru mengandung aspek sebanyak kebiasaan lama, stress dan ansietas yang berhubungan dapat berkurang.
3) Pada tanggal 17 Juni 2013 dibuatlah perencanaan keperawatan dengan diagnosa keperawatan yang ketiga: Nyeri akut berhubungan dengan perubahan frekuensi nafas, oedem pada ekstremitas atas dan bawah. Adapun tujuan dan kriteria hasil, intervensi dan rasional yang ditujukan untuk diagnosa tersebut: Tujuan: nyeri berkurang
Kriteria hasil: menyatakan/menunjukan nyeri hilang intervensi dan rasional:
a) Anjurkan pasien untuk memberitahu perawat dengan cepat bila terjadi nyeri dada. R/ nyeri dan penurunan curah jantung dapat merangsang sistem saraf simpatis.
b) Observasi gejala yang berhubungan, seperti dispnea, mual/muntah, pusing, keinginan berkemih. R/ penurunan curah jantung merangsang sistem saraf simpatis/parasimpatis.
c) Tinggikan kepala tempat tidur bila pasien napas pendek. R/ memudahkan pertukaran gas untuk menurunkan hipoksia dan napas pendek berulang.
d) Pantau tanda-tanda vital. R/ TD dapat meningkat secara dini sehubungan dengan rangsangan simpatis, kemudian turun bila curah jantung dipengaruhi. Takikardi juga terjadi pada respon terhadap rangsangan simpatis dan dapat berlanjut sebagai kompensasi bila curah jantung turun.
23 D. Implementasi Keperawatan
Setelah dilakukan analisa data berdasarkan DO, DS dan setelah dirumuskan masalah dan dibuat perencanaannya maka pada tanggal 17 Juni 2013 dilakukanlah implementasi dan evaluasi keperawatan. Untuk lebih jelas lagi melihat pelaksanaan keperawatannya dapat dilihat di (lampiran 4) yang sudah tersedia. Untuk diagnosa keperawatan yang pertama yaitu: Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri atau kelemahan otot. Implementasinya tanggal 17 Juni 2013 sebagai berikut: 1. Memantau tanda-anda vital.
2. Kolaborasi kepada keluarga agar meninggikan kepala tempat tidur pasien dan letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler.
3. Menganjurkan pasien untuk berpatisipasi dalam latihan tarik nafas dalam. Pada diagnosa keperawatan yang pertama masalah belum teratasi dan intervensi dilanjutkan.
Untuk diagnosa keperawatan yang kedua yaitu: Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (seperti: nyeri , nafas pendek dan batuk). Implementasinya sebagai berikut:
1. Menentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi.
2. Menganjurkan klien agar tidur ditempat tidur yang nyaman dan beberapa milik pribadi.
3. Kolaborasi dengan keluarga untuk buat rutinitas tidur baru yang dimasukan dalam pola lama dan lingkungan baru.
Di diagnosa keperawatan kedua yang dilakukan pada hari dan tanggal yang sama 17 Juni 2013 masalah belum teratasi dan intervensi dilanjutkan.
Untuk diagnosa keperawatan yang ketiga yaitu: Nyeri akut berhubungan dengan perubahan frekuensi nafas, oedem pada ekstremitas atas dan bawah. Implementasinya sebagai berikut:
1. Anjurkan pasien untuk memberitahu perawat dengan cepat bila terjadi nyeri dada.
3. Menganjurkan pada pasien untuk meninggikan kepala tempat tidur bila pasien napas pendek.
4. Memantau tanda-tanda vital.
Diagnosa keperawatan ketiga yang masih dilakukan pada pada hari dan tanggal yang sama 17 Juni 2013 masalah masih belum teratasi dan intervensi dilanjutkan.
Untuk implementasi dan evaluasi yang untuk hari selanjutnya selasa, 18 Juni 2013 dilakukanlah lagi implementasi dan evaluasi berdasarkan analisa data DO dan DS, dan diagnosa keperawatan. Untuk diagnosa keperawatan yang pertama yaitu:
1. Memantau tanda-anda vital.
2. Menganjurkan pasien untuk berpatisipasi dalam latihan tarik nafas dalam Pada hari kedua yaitu selasa, 18 Juni 2013 untuk diagnosa keperawatan pertama masalah juga masih belum teratasi dan intervensi dilanjutkan.
Untuk diagnosa keperawatan yang kedua yaitu: Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (seperti: nyeri , nafas pendek dan batuk). Implementasinya sebagai berikut:
1. Menentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi.
2. Menganjurkan klien agar tidur ditempat tidur yang nyaman dan beberapa milik pribadi.
Diagnosa keperawatan kedua pada tanggal 18 Juni 2013 masalah teratasi dan intervensi dilanjutkan.
Untuk diagnosa keperawatan yang ketiga yaitu: Nyeri akut berhubungan dengan perubahan frekuensi nafas, oedem pada ekstremitas atas dan bawah. Implementasinya sebagai berikut:
1. Mengkaji nyeri pada pasien jika terjadi perubahan pada nyeri. 2. Mengatur posisi pasien semifowler bila nafas pendek
3. Memantau tanda-tanda vital.
Diagnosa keperawatan ketiga yang dilakukan pada tanggal 18 Juni 2013 masalah masih belum teratasi dan intervensi dilanjutkan.
25
Untuk implementasi dan evaluasi pada hari selanjutnya Rabu, 19 Juni 2013 dilakukan kembali implementasi dan evaluasi berdasarkan analisa data DO dan DS, dan diagnosa keperawatan. Untuk diagnosa keperawatan yang pertama yaitu:
1. Memantau tanda-tanda vital.
2. Kolaborasi kepada pasien agar meninggikan kepala tempat tidur pasien dan letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler.
3. Menganjurkan pasien untuk berpatisipasi dalam latihan tarik nafas dalam. Diagnosa keperawatan pertama untuk hari ketiga tanggal 19 Juni 2013 masalah teratasi sebagian dan intervensi dilanjutkan.
Untuk diagnosa keperawatan yang ketiga yaitu: Nyeri akut berhubungan dengan perubahan frekuensi nafas, oedem pada ekstremitas atas dan bawah. Implementasinya sebagai berikut:
1. Mengkaji nyeri pada pasien jika terjadi perubahan pada nyeri. 2. Menganjurkan pasien untuk latihan teknik nafas dalam 3. Memantau tanda-tanda vital.
Diagnosa keperawatan ketiga ini yang dilakukan pada hari yang sama tanggal 19 Juni 2013 masalah teratasi sebagian dan intervensi dilanjutkan.
Untuk implementasi dan evaluasi pada hari selanjutnya Kamis, 20 Juni 2013 dilakukanlah kembali implementasi dan evaluasi berdasarkan analisa data DO dan DS, dan diagnosa keperawatan. Untuk diagnosa keperawatan yang pertama yaitu:
1. Memantau tanda-tanda vital
2. Mengobservasi latihan teknik tarik nafas dalam
Diagnosa keperawatan pertama ini yang dilakukan pada hari selanjutnya tanggal 20 Juni 2013 masalah teratasi dan intervensi dihentikan.
Untuk diagnosa keperawatan ketiga yaitu: Nyeri akut berhubungan dengan perubahan frekuensi nafas, oedem pada ektremitas atas dan bawah. Implementasinya sebagai berikut:
1. Memantau tanda-tanda vital 2. mengatur posisi pasien semifowler
3. Mengkaji nyeri pada pasien jika terjadi perubahan
Diagnosa keperawatan ketiga ini yang dilakukan pada hari dan tanggal yang sama yaitu 19 Juni 2013 masalah teratasi dan intervensi dihentikan.
27 BAB III
Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengkajian yang telah dilaksanakan pada tanggal 17 Juni 2013 di RA-2 RSUP. H. Adam Malik dapat diambil kesimpulan ternyata asuhan keperawatan pada Tn.H dengan prioritas masalah kebutuhan dasar oksigenasi yang dapat diambil ada 3 diagnosa keperawatan yaitu: ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri atau kelemahan otot, Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (seperti: nyeri, nafas pendek, dan batuk), dan nyeri akut berhubungan dengan perubahan frekuensi nafas, oedem pada ekstremitas atas dan bawah. Dari ketiga diagnosa keperawatan tersebut ada dua diagnosa keperawatan yang masalahnya teratasi sebgaian yaitu diagnosa: ketidakefektifan pola nafas dan nyeri akut. Sedangkan untuk diagnosa keperawatan kedua yaitu: gangguan pola tidur masalah sudah teratasi.
B. Saran
1. Untuk Rumah Sakit
Kepada tim kesehatan khususnya perawat ruang RA2 RSUP H. Adam Malik Medan dapat melakukan pemenuhan kebutuhan prioritas kepada pasien CHF.
2. Untuk Pasien
Dalam suatu keluarga sangatlah penting untuk memperhatikan pola pernafasan apabila di dalam satu keluarga tersebut mengalami gangguan oksigenasi.
3. Untuk Institusi Pendidikan
Dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang berkualitas demi mewujudkan perawat vokasional yang kompeten, terampil, inovatif, dan bermutu yang mampu memberikan asuhan keperawatan secara menyeluruh berdasarkan kode etik keperawatan.