• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

B. Temuan-Temuan Penelitian

1. Perencanaan Laboratorium Kimia Organik FMIPA

3. Penggerakan Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang. 4. Pengawasan Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengidentifikasi dan mengkaji perencanaan Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

2. Untuk mengidentifikasi dan mengkaji pengorganisasian Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

3. Untuk mengidentifikasi dan mengkaji penggerakan Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

4. Untuk mengidentifikasi dan mengkaji pengawasan Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

D. Manfaat Penelitian 3. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat :

a. Menjadi bahan acuan bagi peneliti lain yang berminat meneliti tentang permasalahan yang terkait dengan manajemen Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

b. Memberikan informasi dalam mengembangkan teori yang berkaitan dengan manajemen Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang

4. Manfaat Praktis :

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi :

a. Pengelola Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang yaitu sebagai bahan evaluasi terhadap manajemen laboratorium yang dikelolanya.

b. Seluruh laboratorium di Jurusan Kimia atau di lembaga-lembaga pendidikan yang sama, agar pemantauan atas manajemen laboratorium dapat lebih mudah dilakukan.

c. Lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia yaitu sebagai gambaran dalam penyusunan program atau pengembangan manajemen laboratorium kimia.

E. Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang. Ditetapkannya lokasi ini karena di laboratorium-laboratorium Kimia yang ada di FMIPA-UNNES Semarang, yaitu Laboratorium Kimia Dasar, Laboratorium Kimia Anorganik, Laboratorium Kimia Analitik, Laboratorium Kimia Fisik, Laboratorium Kimia Organik Biokimia, Laboratorium PBM-Komputasi.

Kegiatan di Laboratorium Kimia Organik meliputi pelayanan praktikum untuk mata kuliah kimia organik, biokimia dan kimia bahan pangan, penelitian dosen dan mahasiswa, serta kegiatan layanan masyarakat yang membutuhkan analisis proksimat, isolasi dan identifikasi serta transformasi komponen organik bahan alam, pelatihan dan informasi pembuatan ekstraks empon-empon, penetapan nilai gizi, dan pengawetan bahan pangan. Dengan padatnya kegiatan di Laboratorium Kimia Organik, sedang kondisi laboratorium seperti sekarang, maka perlu segera diperluas dengan menambahkan Laboratorium Pangan dan Laboratorium Biokimia.

Inilah yang menjadi alasan kenapa peneliti mengambil lokasi di Laboratorium Kimia Organik.

F. Penegasan Istilah

Penegasan istilah diperlukan untuk menghindari terjadinya interprestasi yang berbeda dari para pembaca.

5. Perencanaan

Kegiatan menyusun keputusan dalam bentuk langkah yang akan ditempuh dalam melaksanakan kegiatan Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

6. Pengorganisasian

Pengaturan dan pembagian kerja sekelompok orang dalam bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien dalam Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

7. Penggerakan

Kegiatan penggerakan orang agar secara sadar dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia mau melaksanakan apa yang telah direncanakan dalam Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

8. Pengawasan

Kegiatan mengawasi dan mengontrol semua kegiatan agar tidak terjadi penyimpangan sesuai dengan program yang telah dibuat Laborato-rium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang.

G. Asumsi dan Lingkup Penelitian

Penelitian ini bertolak dari asumsi bahwa :

1. Para pengelola Laboratorium Kimia Organik atas dasar pengalaman kegiatan-kegiatan yang dilakukan dapat menunjang keefektifan manaje-men laboratorium yang mereka lakukan.

2. Para pengelola Laboratorium Kimia Organik telah dibekali pula pengetahuan praktis tentang manajemen laboratorium melalui penataran atau pelatihan tersebut meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mereka dalam melaksanakan manajemen laboratorium.

3. Pengalaman perolehan penataran atau pelatihan dilengkapi pula buku pedoman praktis, para pengelola laboratorium dapat dengan lancar dan mencapai hasil yang optimal dalam manajemen laboratorium.

Lingkup penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang tidak dapat diatasi oleh peneliti. Keterbatasan-keterbatasan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Substansi penelitian ini adalah manajemen Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang. Substansi yang lebih luas tidak termasuk jangkauan penelitian ini dan perlu diadakan penelitian tersendiri.

2. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu situs yaitu di Laboratorium Kimia Organik FMIPA-UNNES Semarang. Hasil penelitian lebih dari satu situs mungkin hasilnya akan berbeda.

3. Peneliti sebagai instrumen penelitian tidak dapat terhindar dari adanya kemungkinan bias. Untuk mengatasi bias tersebut digunakan triangulasi keabsahan data, baik melalui metode atau sumber data.

4. Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu (tahun 2004/2005). Implikasinya kemungkinan hasil penelitian ini hanya berlaku untuk kurun waktu tersebut.

8 A. Manajemen

1. Pengertian Manajemen

Manajemen memiliki berbagai arti dan definisi, tergantung dari siapa yang mendefinisikan dan kapan mendefinisikannya. Istilah manajemen sen-diri berasal dari bahasa Inggris ‘management’, yang berasal dari kata kerja ‘to manage’ yang artinya: ‘to handle’ (mengurus, menangani), to control (menguasai, mengawasi), to make and keep submissive (menjaga agar tetap patuh, tunduk), to organize (mengorganisir), to alter by manipulation (me-ngubah dengan cara memanipulasi), to carry out a purpose (melaksanakan tujuan).

2. Manajemen sebagai Seni

Sebagai suatu seni manajemen berarti melaksanakan fungsi-fungsi dan tugas organisasi melalui orang. Pelaksanaannya menggunakan berbagai teknik, misalnya : (1) melalui hubungan antar manusia (human relations); (2) mendelegasikan wewenang, menugaskan atau membagi tugas dan tang-gung jawab dengan orang lain; (3) berkomunikasi, termasuk di dalamnya mengambil keputusan dan memecahkan masalah; (4) mengelola perubahan; (5) manajemen sebagai ilmu pengetahuan; (6) manajemen di sini berkaitan dengan membangun filsafat, hukum-hukum, teori, prinsip,

proses dan praktek, yang bisa diterapkan di berbagai situasi termasuk di sekolah.

3. Manajemen sebagai Suatu Organisasi

Sebagai suatu organisasi, manajemen menciptakan struktur formal dan struktur tersebut didasarkan pada misi, tujuan, target, fungsi dan tugas. Misalnya, departemen pertahanan dan keamanan dapat menunjuk pada pengelolaan militer dan polisi (juga masalah dalam dan luar negeri), sedang Menteri Ekonomi menangani keuangan, perdagangan, koperasi, dan lain-lain).

4. Manajemen sebagai Orang

Manajemen dapat dilihat sebagai orang atau sekelompok orang. Misalnya, seorang guru mengatakan “Manajemen sekolah telah mengubah jadwal di pertengahan semester” ini bisa berarti anda sendiri, atau pimpinan sekolah, atau guru senior, atau mungkin tim (seperti menteri koordinator di kabinet).

5. Manajemen sebagai Disiplin Ilmu

Dalam pengertian ini, manajemen sebagai suatu bidang kajian yang terdiri dari berbagai subjek atau topik. Pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam manajemen bisa diperoleh melalui belajar, pengataman, atau pendidikan yang memberikan ijazah atau sertifikat.

6. Manajemen sebagai Proses

Manajemen sebagai kumpulan proses, termasuk misalnya, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, atau perencanaan aksi. Semua proses ini melibatkan pesan sumber-sumber seperti manusia, barang, dana, dan waktu. Sering proses-proses ini disebut sebagai fungsi-fungsi manajer.

Definisi yang lebih kompleks dan mencakup aspek-aspek penting pengelolaan, seperti yang dikemukakan oleh Stoner (1990) sebagai berikut “Managemen adalah perencanan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para pengawas, usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya / organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang lebih ditetapkan”.

B. Fungsi-fungsi Manajemen

G.R. Terry, H. Albers, Richard D. Anderson, Henry Fayol, Herbert G. Hicks, Luther Gulick, Ernest Dale dalam (Winardi. 2000 : 161-163) G.R. Terry (Principles organ Management) menyatakan bahwa fungsi-fungsi fundamental manajemen meliputi hal-hal sebagai berikut : Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Menggerakkan), Controlling (Mengawasi). Ingat singkatan P.O.A.C.

H. Albers (Management, The Basic Concepts) mengemukakan fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut : Planning, Organizing, Directing, Controlling.

Richard D. Anderson (Management Practice) membagi manajemen dalam 5 elemen sebagai berikut : Planning, Organizing, Staffing, Excecuting, Appraising.

Henry Fayol (Bapak Konsepsi Proses) memasukkan fungsi-fungsi berikut dalam aktivitas manajemen : Planning, Organization, Command, Coordination, Control.

Herbert G. Hicks (The Management of Organizations) mengemukakan pembagian berikut : Planning, Organizing, Motivating, Communicating, Controlling, Creating.

Luther Gulick yang pada tahun 1930 mengemukakan istilah singkatan : P O S D C O R B. Didalamnya terkandung 7 buah fungsi yaitu : Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgeting.

Ernest Dale dalam bukunya : Management Theory and Practice membagi fungsi-fungsi manajemen dalam : Planning, Organizing, Direction, Innovation, Representation.

Beberapa fungsi manajemen dari beberapa pakar tersebut, peneliti menggunakan fungsi manajemen yang diutarakan oleh G.R. Terry yaitu meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan.

1. Perencanaan (Planning)

Menurut Terry (1998) perencanaan meliputi tindakan memilih dan menggabungkan fakta-fakta dan membuat serta menggabungkan asumsi-asumsi mengenai yang akan datang dalam memvisualisasikan serta

merumuskan aktivitas-aktivitas yang diusulkan dan dianggap perlu untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan.

Graves dalam Sarwoto (1998 : 70) membedakan tiga tingkatan dalam perencanaan menurut tingkatannya dalam organisasi sebagai berikut : a. Tingkat atas (top level)

Pada tingkat ini perencanaan lebih bersifat memimpin / directive, yaitu memberi petunjuk serta menggariskan dalam segala hal, baik mengenai tujuan maupun caranya, jadi perencanaan sifatnya belum begitu positif untuk segera dapat dilaksanakan.

b. Tingkat menengah (midle level)

Pada tingkat ini perencanaan lebih bersifat administrative (manajerial) yaitu sudah lebih jelas menunjuk pada cara-cara bagaimana tujuan-tujuan dan cara-cara yang telah digariskan dalam perencanaan yang bersifat directive dapat dilaksanakan sebaik-baiknya.

c. Tingkat bawah (bottom level)

Yaitu tingkat dimana tiap-tiap anggota kelompok lebih banyak mempunyai tugas menghasilkan, sehingga tugas itu lebih bersifat operatif (operational) yaitu pekerjaan yang harus berakhir dengan menghasilkan sesuatu yang konkrit. Maka sifat perencanaan pada tingkat ini juga lebih bersifat operatif, yaitu bagaimana cara menjalankan sesuatu agar dicapai hasil yang sebaik dan sebenar mungkin.

Menurut Handayaningrat (1988) perencanaan adalah proses berfikir yang sistematis dalam menetapkan segala sesuatu yang akan dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan. Sedangkan fungsi perencanaan meliputi serangkaian keputusan yang berupa menentukan tujuan, kebijaksanaan, membuat program, menentukan metode yang akan dicapai, dan prosedur serta menyusun jadwal pelaksanaan.

2. Pengorganisasian (Organizing)

Pengorganisasian adalah suatu proses untuk menentukan, mengelompokkan tugas, dan pengaturan secara bersama, aktivitas untuk mencapai tujuan, menentukan orang-orang yang akan melakukan aktivitas, menyediakan alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang dapat didelegasikan kepada setiap individu yang akan melaksanakan aktivitas tersebut (Hasibuan, 1990). Sedangkan Winardi (2000) mengatakan pengorganisasian adalah suatu proses di mana suatu pekerjaan yang ada dibagi atas komponen-komponen yang dapat ditangani dan aktivitas untuk mengkoordinasikan hasil-hasil yang dicapai untuk mencapai tujuan. 3. Penggerakan (actuating)

Penggerakan adalah fungsi manajemen yang paling penting dan dominan dalam proses manejemen. Penggerakan (directing = actuating = leading) amat rumit dan kompleks karenanya sangat sulit diterapkan apabila karyawan tidak dapat dikuasai sepenuhnya, dan suatu organisasi tanpa penggerakan tidak ada output yang konkrit. Terry (1998 : 313) actuating merupakan usaha untuk penggerakan anggota-anggota kelompok

sedemikian rupa supaya mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran-sasaran perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut. Siagian (2000) mengatakan penggerakan adalah keseluruhan proses dalam memberikan dorongan kepada bawahan untuk bekerja sehingga mereka mau bekerja secara ikhlas dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi. Pada bagian lain Handoko (1991 : 25) memberikan istilah, penggerakan adalah pengarahan dan oleh Handoko mengartikan pengarahan adalah untuk membuat/mendapatkan para karyawan melakukan apa yang diinginkan dan harus mereka lakukan. Beberapa komponen penggerakan yang perlu dipahami adalah motivasi, komunikasi, kepemimpinan dan pengawasan. a. Motivasi

Menurut faham behaviourisme motivasi diartikan sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan sebuah kondisi yang memberi arah atau ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Sedangkan faham kognitif motivasi didefinisikan sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkunganya. (Suciati 1997 : 4 1).

Motivasi sebagai proses psikologi timbul diakibatkan oleh faktor di dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut dengan faktor instrinsik yaitu dapat berupa sikap, kepribadian, serta pengalaman sebagai harapan cita-cita yang menjangkau ke masa depan. Sedangkan faktor dari luar diri dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber yang dapat

datang lingkungan kerja dimana manusia, itu beraktivitas atau lingkungan dimana ia tinggal, bisa karena pemimpin, kolega atau faktor-faktor lain yang sangat kompleks. Tetapi dapat dikatakan bahwa faktor intrinsik maupun faktor ekstrinsik motivasi timbul oleh karena ada rangsangan (Wahjosumidjo 1994 174, 175).

b. Kepemimpinan

Blanchard dkk (1986 99) kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain dapat dikatakan sebagai pemimpin, dan orang yang dipengaruhi adalah pengikut. Kepemimpinan juga dapat dikatakan suatu usaha mempengaruhi orang antar perorangan (interpersonal) lewat proses komunikasi untuk mencapai sesuatu atau beberapa tujuan Gibson (1990 : 263). Dari kedua pendapat diatas dapat dirumuskan definisi kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi kegiatan seseorang atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan.

c. Komunikasi

Komunikasi adalah proses pencapaian pesan antara komunikan dan komunikator. Dalam penyampaian pesan itu ada hal-hal yang harus diperhatikan antara lain dengan menggunakan umpan balik, artinya komunikasi tersebut mestinya dua arah. Komunikasi dua arah ini memungkinkan proses komunikasi berjalan lebih efektif. Gibson (1990) kelangsungan hidup organisasi erat hubungannya dengan

kemampuan pemimpin untuk menerima, mengirim dan bertindak atas dasar informasi. Dari pendapat di atas dapat digambarkan bahwa komunikasi sebagai suatu landasan organisasi dapat berlangsung secara efektif.

4. Pengawasan (controlling)

Pengertian pengawasan pada umumnya oleh Siagian dalam Subagio (2000 : 175) adalah proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilaksanakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Handoko (1991:25) mendefinisikan pengawasan adalah penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pengawasan adalah pengukuran dan koreksi atas pelaksanaan kerja dengan maksud untuk mewujudkan kenyataan atau menjamin bahwa tujuan-tujuan organisasi dan rencana yang disusun dapat dilaksanakan dengan baik.

Dari berbagai pernyatan-pernyataan mengenai perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan manajemen dapat disimpulkan sebagai berikut :

C. Laboratorium

Laboratorium, pengertiannya dapat disimak dari kata “Laboratory” seperti pada kamus Welester’s yaitu “A building or room in which scientific experiments are conducted, or where drugs, chemicals explosives are tested and compounded”.

Menurut keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0134/0/1983, tentang organisasi dan tata kerja lnstitut keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung, tanggal 5 Maret 1983, Pasal 57 ayat 1 yang dimaksud laboraorium adalah sebagai berikut: Laboratorium/studio adalah sarana penunjang jurusan dalam satu atau sebagian cabang ilmu, teknologi atau seni tertentu sesuai dengan keperluan bidang studi yang bersangkutan, dan unit sumber daya dasar untuk pengembangan ilmu dan pendidikan.

Keputusan Mendiknas RI Nomor 225/0/2000: Statuta UNNES Pasal 39 (1) Laboratorium/Studio merupakan perangkat penunjang

pelaksanaan pendidikan pada jurusan dalam pendidikan akademik dan profesional.

(2) Laboratorium/Studio dipimpin oleh seorang dosen yang keahliannya telah memenuhi persyaratan sesuai cabang ilmu pengetahuan, teknologi, olahraga, seni dan budaya serta bertanggungjawab langsung kepada Ketua Jurusan.

Pasal 40

Laboratorium/studio mempunyai tugas melakukan kegiatan dalam cabang ilmu pengetahuan, teknologi, olahraga, seni dan budaya tertentu sebagai penunjang pelaksanaan tugas jurusan sesuai dengan ketentuan bidang yang bersangkutan.

Pasal 41 ayat (2)

Penambahan dan penutupan laboratorium / studio ditetapkan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan jurusan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Laboratorium Kimia Organik adalah suatu ruangan atau kamar tempat dilangsungkannya kegiatan praktek atau penelitian yang ditunjang oleh adanya seperangkat alat-alat laboratorium serta ditunjang oleh adanya infrastruktur laboratorium yang lengkap (termasuk fasilitas air, listrik, gas) (Ditjen Dikti, 2002).

Dalam pendidikan, laboratorium adalah tempet proses belajar mengajar melalui metoda praktikum yang dapat menghasilkan pengalaman belajar dimana siswa berinteraksi dengan berbagai alat dan bahan untuk mengobservasi gejala-gejala yang dilengkapinya secara langsung. Praktikum di dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu metoda mendidik untuk belajar dan mempraktekan segala aktivitas dalam proses belajar mengajar untuk menguasai suatu keahlian.

Komponen-komponen laboratorium pendidikan kimia dapat dikatego-rikan ke dalam lima komponen yang terdiri dari bangunan laboratorium, fasi-litas laboratorium, alat-alat laboratorium, zat (chemical), dan personil pengelo-la laboratorium.

1. Personil Pengelola Laboratorium

Suatu komponen yang penting dalam pengelolaan laboratorium adalah para personelnya, yaitu yang akan melaksanakan tugas pengelolaan

laboratorium. Para personel akan terdiri dari beberapa orang yang jumlahnya akan tergantung pada keadaan lab, jumlah praktikan, dan tujuan para praktikan yang melaksanakan praktikum atau eksperimen di laboratorium itu. Yang ideal personel-personel yang akan terlibat langsung berdasarkan birokrasi dan hirarki tanggung jawab bidang kerja yang harus ditanganinya akan terdiri dari: (1) kepala laboratorium, (2) penanggung jawab laboratorium, (3) pembimbing praktikum (asisten), (4) tenaga teknisi dan analis, (5) tenaga pembantu (juru laboratorium).

Masing-masing personel harus memahami dan mengerti bidang kerja yang menjadi tanggung jawabnya, sesuai dengan peraturan yang berlaku pada lembaganya dan selalu berorientasi kepada tujuan dan fungsi laboratorium yang dibinanya. Antara para personil pengelola yang langsung dan jalur vertikal secara administrasi harus terbina suatu hubungan yang harmonis, dan masing-masing dapat memahami bahwa mereka semua itu merupakan komponen-komponen dari sistem dalam pendidikan. Pembinaan personel secara teknis dan administrasi dari waktu ke waktu agar selalu ditingkatkan dan dibina sehingga pelaksananan kerjanya mencapai tujuan yang optimal. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa keberhasilan tugas dalam melaksanakan pengelolaan laboratorium akan ditentukan oleh para personilnya, dan lembaga yang membinanya.

2. Bangunan laboratorium

Bangunan laboratorium diantaranya terdiri dari : (1) lokasi dan bentuk bangunan laboratorium, (2) ruang praktikum, (3) ruangan tempat alat

(gudang alat), (4) ruangan tempat zat (gudang zat), (5) ruang alat optik, (6) ruangan komputer, (7) ruangan persiapan praktikum, (8) ruang timbang, (9) ruang pembimbing, asisten, (10) ruang gelap (fotografi), (11) ruang bengkel laboratorium, (12) W.C.

3. Fasilitas Laboratorium

Fasilitas laboratorium diantaranya terdiri dari : (1) meja praktikum dan kursi bulat, (2) meja mimbar, (3) papan tulis, (4) rak (lemari alat), (5) rak (lemari zat), (6) instalasi air, bak air, kran-kran air, dan bak cuci, (7) instalasi jaringan listrik, (8) lemari asam, (9) alat-alat penangkal kebakaran, (10) kotak obat-obatan dan alat PPPK, (11) sumber api/gas dan pembakar, (12) alat-alat bengkel yaitu gunting, pisau, cetok, kikir, palu, tang, gergaji, obeng, testpen, kunci pembuka kran, kuas, cat pembuat etikel botol, pelubang sumbat, sablon huru, kelengkapan alat-alat pengerjaan gelas, (13) jam dinding, (14) kipas angin (blower), (15) lemari es, (16) alat pembuat aquades, (17) barometer, (18) termometer ruangan, (19) buku-buku rujukan materi praktikum, (20) telepon/alat komunikasi lainnya, (21) papan pengumuman.

4. Alat-alat laboratorium, (alat-alat yang digunakan untuk pelaksanaan praktikum kimia).

Alat-alat laboratorium kimia dapat dikelompokkan berdasarkan sifat-sifatnya, keadaannya (bentuknya) fungsinya/ harganya, dan frekwensi penggunaannya, serta kondisinya. Dalam pengelolaan alat-alat laboratorium cara pengelompokkan alat-alat itu dapat dilakukan sebagai

berikut: alat-alat ukur, alat-alat gelas, alat-alat yang terbuat dari logam, alat-alat yang terbuat dari kayu.

5. Zat (Chemicals) : zat yang bersifat racun keras, asam kuat dan larutan basa yang mudah menguap, zat cair senyawa organik, zat berbentuk gas, dan zat padat, misalnya macam-macam asam basa, garam dan unsur.

D. Manajemen Laboratorium

Manajemen adalah suatu proses penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai suatu sasaran. Manajemen laboratorium akan mencakup kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan. Hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan tersebut diantaranya mengatur dan memelihara alat dan bahan, menjaga disiplin di laboratorium dan keselamatan laboratorium serta mendayagunakannya.

Manajemen laboratorium dapat diartikan sebagai pelaksanaan dalam pengadministrasian, perawatan, pengamanan, perencanaan untuk pengemba-ngannya secara efektif dan efisien sesuai dengan tujuannya. Dalam melaksa-nakannya selalu berorientasi dibinanya faktor-faktor keselamatan yang terlibat didalam laboratorium dan lingkungannya.

Pelaksanaan manajemen laboratorium bertujuan agar dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar di laboratorium dan juga kegiatan penelitian agar berlangsung secara optimal. Dari sisi lain pengetahuan laboratorium merupakan usaha yang diarahkan kepada sarana dan prasarana serta serta personil yang terlibat dalam peran dan kegiatannya.

Dalam manajemen laboratorium, lima macam komponen laboratorium seperti yang telah dikemukakan di atas, dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu kelompok pengelola (sebagai sumber daya manusia), dan kelompok yang dikelola yaitu bangunan laboratorium, fasilitas laboratorium, alat-alat laboratorium, dan zat (chemicals). Dalam uraian disini, akan dicoba meninjau fungsi dan aspek dari masing-masing kelompok itu.

1. Kelompok Pengelola

Beberapa hal mengenai personil pengelola laboratorium, akan dicoba dikemukakan landasan, tugas, fungsi dan aspek dari para personel laboratorium dalam pelaksanaannya.

Para personel laboratorium sesuai dengan bidang dan tanggung jawabnya agar memiliki ketrampilan, dan pemahaman tentang laboratorium, fasilitasnya, alat-alatnya dan zat-zatnya. Para personel laboratorium agar mengetahui dan memahami tentang tugas dan fungsi dari laboratorium berdasarkan peraturan dan tugas dari lembaga institusinya.

Para personil dalam melaksanakan tugas dan fungsi laboratorium untuk mencapai tujuannya, agar memahami dan mempelajari penjelasan-penjelasan dan penjabaran dari keputusan dan peraturan yang ada diantaranya mengenai hal-hal seperti berikut ini:

a. Struktur organisasi laboratorium. DEKAN PD II PD III PD I JURUSAN JURUSAN JURUSAN LAB * LAB * LAB * ASISTEN ** ASISTEN ** ASISTEN **

Gambar 1 Susunan Organisasi Laboratorium Keterangan : * Dibantu oleh Lab. Teknisi

** Dibantu oleh tenaga laboran (Tim Supervisi, Ditjen Dikti, 2002) b. Rincian tugas, Tanggung Jawab, dan Wewenang

Rincian tugas, tanggung jawab, dan wewenang bidang kerja dan masing-masing personil pengelola dan hubungannya secara vertikal dan horizontal, serta hak-haknya berdasarkan peraturan dan perundang-undangan ketenaga kerjaan yang berlaku.

Selain mengerjakan hal itu para personel laboratorium akan/harus mengerjakan pekerjaan sebagaimana telah dikemukakan di atas. Untuk menyempurnakan pelaksanaan pengelolaan laboratorium para personel laboratorium pada setiap kesempatan, agar selalu meneliti berbagai aspek dari komponen-komponen laboratorium, sehingga peranan

laboratorium hasilnya optimum dalam segi pencapaian tujuan instruksional, dan tujuan institusional, serta terbinanya suatu profesionalisme dalam melaksanakan kerja. Suatu sistem pembinaan ketatalaksanaan kerja dan pembinaan dari para personil laboratorium perlu diperhatikan oleh pihak yang berwenang baik secara teknis atau administratif, karena pelaksanaan bekerja di laboratorium baik segi waktu pelaksanaan kerja, disiplin yang diperlukan, atau hal-hal yang dapat merugikan kesehatan dirinya, merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan pada waktu mereka melaksanakan tugasnya. Karena itu untuk semua orang yang bekerja di laboratorium agar mempelajari

Dokumen terkait