a. Pendidikan Awal Merdeka
Pada waktu Proklamasi Kemerdekaan diproklamirkan yang menjadi Menteri PP dan K ialah Ki Hajar Dewantoro. Maka di saat itu dikeluarkan berbagai-bagai pengumuman sesuai dengan pemerintahan yang baru. Pedoman dalam melakukan pelajaran masih berdasarkan pada yang lama, merupakan warisan kolonial. Hal ini dapat kita maklumi, karena bangsa kita pada waktu itu sedang berada dalam taraf revolusi fisik.
Berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 yang berkenaan dengan pendidikan dan pengajaran maka pasal 31 menetapkan:
2) Bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang .
Pendidikan tidak hanya terpengaruh oleh tekanan ekonomi dan sosial, tetapi juga memiliki perkembangan sendiri secara otonom. Pengaturan dan teknologi baru perlu disesuaikan untuk mengembangkan sumber-sumber dan meningkatkan usaha. Inilah yang dimaksudkan dengan teknologi baru. Mesin, televisi, radio, film, semuanya dalam berbagai kombinasi dengan cepat muncul ke depan sebagai alat-alat umum untuk mengajar. Gaya pendidikan yang berbeda-beda yang dijalankan di berbagai negara akan cenderung menuju persamaan. Sebagaimana disebutkan di atas sudah tentu mungkin akan diperlukan perhatian terhadap banyak faktor dalam mengembangkan teknik mengajar yang baru. Tak dapat diragukan lagi bahwa ada unsur ketiga yaitu perkembangan pengetahuan tentang belajar dan tentang mengajar dua faktor yang berbeda-beda namun merupakan penekanan yang erat hubungannya dan penggunaan teknologi (dalam hubungannya dengan hasil-hasil riset) di dalam pendidikan itu sendiri. Suatu contoh yang paling banyak menyolok dari hal ini adalah pelajaran yang direcanakan (program learning) dan produksi mesin-mesin pengajar. Sebuah program adalah suatu rangkaian tindakan yang logis dalam memperoleh ilmu, dan kecakapan yang disusun menurut susunan yang efisien bagi seorang pelajar untuk mempelajarinya. Dengan studi yang teliti tindakan-tindakan ini dapat disusun dalam suatu bentuk dimana tidak lagi dibutuhkan adanya seorang guru atau orang lain sebagai perantara langsung. Hal ini yang senantiasa merupakan prinsip bagi sebuah buku, terlebih bagi sebuah textbook tetapi ide baru yang dijelmakan dalam bentuk mesin
pengajar adalah suatu penyusunan berbagai tindakan yang dilakukan secara sadar berdasarkan penyelidikan ilmiah tentang proses belajar itu sendiri.
Dalam perkembangan dunia pendidikan dewasa ini dapat dikatakan sedang ngetrend-ngetrendnya penggunaan model-model pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM. Sehingga pendidikan cara klasik dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan kondisi zaman saat ini. Dengan demikian otomatis setiap elemen pendidikan termasuk guru harus dapat menyesuaikan dengan trend pendidikan modern saat ini. Pengembangan perangkat pembelajaran seperti RPP, Media, Model pembelajaran semuanya diubah dan disesuaikan dengan standar pendidikan modern yang ’katanya” akan mampu meningkatkan kualitas peserta didik.
Harapan yang begitu tinggi terlebih lagi dengan penerapan kurikulum yang dianggap paling mutakhir yaitu KTSP ternyata belum cukup memberikan jawaban yang memuaskan bagi kondisi pendidikan di indonesia. Problematika yang berkembang justru semakin kompleks dan terasa tiada ujungnya.
No Faktor Pembanding
Pendidikan Modern Pendidikan Klasik 1 Pendidikan Moral Penanaman Humanisme
dengan cara Anti Kekerasan
Penanaman Humanisme dengan menggunakan Kekerasan dalam taraf wajar.
2 Fungsi Guru Sebagai Motivator dan Fasilitator.
Pusat segala aktivitas pendidikan baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah. 3 Penerapan Etika Tergantung pada masing- Wajib diterapkan di
masing individu peserta didik.
dalam maupun luar lingkungan sekolah. 4 Punishment and
Reward.
berupa himbauan dan apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik.
Berupa himbauan dan apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik. Pembelajaran tradisional merupakan pembelajaran dimana secara umum, pusat pembelajaran pada guru, dan menempatkan siswa sebagai objek dalam belajar. Jadi, disini guru berperan sebagai orang yang serba bisa dan sebagai satu-satunya sumber belajar. Sedangkan pembelajaran modern adalah seorang pelajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Mereka yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pengajar atau orang lain. Mereka harus bertanggung jawab terhadap hasil belajar. Itulah yang menjadi tolak ukur perbedaan antara pembelajaran tradisional dan pembelajaran modern.
Pembelajaran modern adalah salah satu hasil dari pesatnya perkembangan teknologi dan informasi yang mengubah konsepsi dan cara berpikir belajar manusia. Semakin meningkatnya perkembangan teknologi dan informasi tersebut mengakibatkan teori pembelajaran behavioristik dipandang kurang cocok lagi untuk dikembangkan bagi anak didik di sekolah. Oleh karena itu, munculah sebuah teori pembelajaran konstruktivisme sebagai jawaban atas berbagai persoalan pembelajaran dalam masa kontemporer. Teori kontruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing individu. Pengetahuan juga bukan merupakan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Dalam proses itu, keaktifan peserta didik sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya. Ia harus aktif melakukan kegiatan, aktif berfikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari.1[4] Disisi lain, kenyataannya masih banyak peserta didik yang salah menangkap apa yang diberikan oleh gurunya. Hal ini menunjukkan 1
bahwa pengetahuan tidak begitu saja dipindahkan, melainkan harus dikontruksikan sendiri oleh peserta didik tersebut.
Peran guru dalam pembelajaran bukan pemindahan pengetahuan, tetapi hanya sebagai fasilitator yang menyediakan stimulus baik berupa strategi pembelajaran, bimbingan dan bantuan ketika peserta didik mengalami kesulitan belajar, atau menyediakan media dan materi pembelajaran agar peserta didik itu merasa termotivasi dan tertarik untuk belajar sehingga pembelajaran menjadi bermakna hingga akhirnya peserta didik tersebut mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuannya.
Strategi dan metode yang digunakan dirancang sesuai degan tujuan dan sasaran Program Studi yang mengacu pada sistem antara lain:
a. Adanya keterlibatan antara siswa dan guru dalam proses belajar mengajar,
b. Terdapat pelaksanaan dan format kegiatan belajar mengajar.
c. Bahan-bahan pelajaran yang diberikan selalu menarik bagi para siswa d. Kesiapan alat bantu kegiatan pembelajaran,
e. Metode dan teknik penyajian yang baik
Proses pembelajaran menggunakan komunikasi 2 (dua) arah sehingga memungkinkan siswa untuk berdiskusi dengan guru. Peluang untuk melakukan diskusi cukup besar karena rasio guru dan siswa sudah mencukupi (1:10) dan guru selalu berusaha menciptakan suasana yang kondusif untuk proses diskusi. Untuk meningkatkan pemahaman materi sebagian besar guru memberikan tugas untuk dikerjakan secara mandiri dan kelompok yang disertai dengan penerapan teknologi seperti mencari informasi di media elektronik, cetak dan internet.
B. Prinsip-prinsip Umum dan Jenis-jenis Pendekatan dalam Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan mengenal prinsip-prinsip yang dapat dijadikan pegangan, baik dalam proses penyusunan maupun dalam implementasinya. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:
a. Perencanaan itu Interdisiplinair
b. Perencanaan itu Fleksibel. Meskipun berbagai hal yang terkait dengan pelaksanaan rencana telah dipertimbangakan sebai-baiknya, masih mungkin terjadi hal-hal di luar perhitungan perencanaan ketika rencana itu dilaksanakan. Oleh karena dalam pembuatan perencanaan, hendaknya disediakan ruang gerakbagi kemungkinan penyimpangan dari rencana ssebagai antisipasi terhadap hal-hal yang terjadi diluar perhitungan perencanaan.
c. Perencanaan itu Objektif rasional
d. Perencanaan itu tidak dimulai dari nol tetapi dimulai dari apa yang dimiliki
e. Perencanaan itu merupakan wahana untuk menghimpun kekuatan-kekuatan secara terkoordinir
f. Perencanaan itu disusun dengan data
g. Perencanaan itu mengendalikan kekuatan ssendiri, tidak berdasarkan pada kekuatan orang lain.
h. Perencanaan itu komprehansif dan ilmiah.
i. Perncanaan itu hendaknya mempunyai dasar yang jelas dan mantap. Nilai yang menjadi dasar berupa nilai budaya, nilai moral, nilai relegius, maupun gabungan nilai ketiganya. Acuan nilai yang jelas dan mantap akan memberikan motivasi yang kuat untuk menghasilakan rencana yang sebaik-baiknya.
j. Perencanaan hendaknya berangkat dari tujuan umum. Tujuan umum itu dirinci menjadi khusus, kemudian bila masih bisa dirinci menjadi tujuan khusus, itu dirinci menjadi lebih rinci lagi. Adanya rumusan tujuan umum dan
khusus yang terinci akan menyebabkan berbagai unsur di dalam perencanaan memiliki relevansi yang tingggi dengan tujuan yang akan dicapai.
k. Perencanaan hendaknya relitis. Perencanaan hendaknya disesuaikan dengan sumber daya dan dana yang tersedia. Dalam hal sumber daya hendaknya dipertimbangakan kualitas maupun kuantitas manusia dan perangkat penunajangnya.
l. Perencanaan hendaknya mempertimbangkan kondisi sosio budaya masyarakat, baik yang mendukung maupun menghambat perencanaan nanti. Kondisi sosio budaya tersebut misalnya system nilai, adat istiadat, keyakinan sertacita-cita. Terhadap kondidi sosio budaya yang yang mendukukng pelaksaan rencana. Hendaknya telah direncanakan memanfaatkan secaramaksimal factor pendukung itu.
Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa untuk mencapai setiap tujuan dalam kegiatan pendidikan, kita perlu menyusun rencana dan strategi yang baik dan matang. Untuk itu kita harus berpegang pada prinsip-prinsip perencanaan pendidikan baik dalam prosen penyusunannya maupun dalam proses implementasinya. Dengan prinsip-prinsip perencanaan pendidikan diharapakan pembangunan manusia seutuhnya yang menjadi tekad pemerintah dapat tercapai dengan maksimal sesuai dengan yang diharapkan.
Pembangunan pendidikan tidak hanya ditujukan untuk mengembangkan aspek intelektualnya saja melainkan juga watak, moral, social dan fisik peserta didik.
2. Jenis-jenis Pendekatan dalam Perencanaan Pendidikan a. Pendekatan Permintaan Masyarakat
Menurut Enoch (1986) istilah permintaan masyarakat terhadap pendidikan paling tidak digunakan dalam tiga bentuk perencanaan pendidikan, yaitu pertama bila sasaran rencana pendidikan ditekankan pada factor kependudukan; kedua, bila sasaran rencana pendidikan didasarkan pada tujuan nasional suatu bangsa sesuai dengan aspirasi sosial dan kemauan politik pemerintah, dan ketiga, bila proyrk rencana didasarkan pada analisis kebuthan individu terhadap pendidikan.
Menurut bentuknya perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat yang paling sederhana, target rencana pendidikan disusun berdasarkan kelompok populasi atau proyeksi calon peserta didik (umur dan jenis kelamin). Bila peserta didik didasarkan pada analisis mekanisme, kecenderungan pendekatan yang dilakukan dapat bersifat bebas atau criteria normatif(etika, tujuan sosial, dan standar) selalu mendasari bentuk pendekatan ini. Perencanaan pendidikan didasarkan pada analisis dan proyeksi himpunan permintaan individu dapat dipengaruhi oleh nilai budaya dan social yang berbeda. Perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat digunakan dalam penelitian-penelitian di mana factor penentu target jumlah peserta didik pada masa mendatang adalah terbatasnya ruang kelas, standar mutu yang dikombinasi dengan jatah penerimaan, kebijakan besiswa dan beban uang kuliah, jangkauan geografi, karakteristik kepercayaan calon peserta didik, standar mutu yang diterima, ujian dan kebijakan khusus, ataupun kebijakan umum dalam system penerimaan terbuka atau penerimaan seleksi.
b. Pendekatan Berdasarkan Kebutuhan Tenaga Kerja
Davis (1980) mengemukakan bahwa pada dasarnya lembaga pendidikan bertujuan untuk membentuk sikap, memberikan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan. Disamping tujuan-tujuan ini ada beberapa jenjang dan jenis pendidikan dan pelatihan
yang diarahkan untuk mempersiapkan peserta didiknya siap kerja pada berbagai lapangan yang menghasilkan barang dan jasa.
Jusuf (1980) mengemukakan bahwa bila pendidikan diarahkan berdasarkan persyaratan kebutuhan tenaga kerja, cara perhitungannya didasarkan pada perkiraan pendapatan nasional. Proses perhitungannya melalui enam tahapan yaitu :
1. Proyeksi produksi persektor.
2. Taksiran perkembangan produktivitas tenaga kerja persektor. 3. Perkembangan produksi dan perubahan produktivitas sector industri.
4. Perincian seluruh tenaga kerja yang diperlukan berbagai jenis pekerjaan.
5. Jenis dan tingkat pendidikan yang diperlukan.
6. Jumlah tenaga kerja yang harus dihasilkan oleh lembaga pendidikan.
c. Pendekatan Nilai Balik Dalam Perencanaan Pendidikan
Pendekatan rate of return di dalam perencanaan pendidikan didasarkan pada model ekonomi. Pendekatan ini digunakan untuk memungkinkan mengadakan perbandingan secara ekonomis secara investasi yang diberikan kepada sektor-sektor ekonomi lainnya. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk menjamin bahwa alokasi sumber-sumber daya diantara sektor-sektor ekonomi yang berbeda disesuaikan dengan manfaat yang diharapkan.
Menurut Barrios dan Davis (1980) kesulitan utama dalam menggunakan pendekatan ini yaitu tingkat maksimal keuntungan sosial yang diperoleh dari pendidikan di universitas atau jenis pendidikan lainnya pada saat ini dan yang akan datang tidak selalu sama. Melalui berbagai studi para ahli ekonomi berusaha untuk membuktikan bahwa nilai keuntungan (rate of return) mempunyai kaitan yang signifikan antara peningkatan pendapat dengan
peningkatan pendidikan. Para ahli pendidikan dapat menerima walaupun tidak keseluruhan prinsip rate of return bahwa investasi dalam pendidikan disusun berdasarkan suatu keuntungan baik keuntungan yang diperoleh masyarakat maupun keuntungan yang diperoleh perseorangan dalam bentuk peningkatan produktivitas yang tercermin dalam peningkatan pendapatan.
d. Pendekatan Sistem Terpadu
Pendekatan sistem merupakan suatau kerangka ilmu pengetahuan (skelton of science) yang dapat memadukan berbagai pendekatan yang sifatnya parsial menjadi suatu pendekatan yang bersifat menyeluruh dan terpadu. Pendekatan perencanaan sistem pendidikan yang secara teoritik selama ini ada yaitu:
1. Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat.
2. Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan kebutuhan tenaga kerja dan,
3. Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan nilai balik. Untuk dapat memadukan ketiga pendekatan dalam perencanaan pendidikan diperlukan suatu pendekatan perencanaan yang memiliki karakteristik sistemik, analitik, dan sistematik. Sistemik dalam arti permasalahan dilihat dari konteks keseluruhan. Analitik dalam arti setiap permasalahan dianalisis sebab dan akibatnya dikaitkan dengan berbagai masalah yang ada baik di dalam maupun di luar sistem. Sistematik dalam arti cara kerjanya beraturan atau runtut. Hal ini dapat dilihat dari proses kegiatannya yaitu perumusan masalah, penelitian, penilaian, penelaahan,. Pemeriksaan, dan pelaksanaan.
Karakteristik model kerangka perencanaan pendidikan berdasarkan pendekatan sistem yaitu :
1. Proses perencanaan bersifat terbuka, faktor lingkungan termasuk yang diperhitungkan ditujukan untuk melakukan
perubahan internal dan eksternal dan mengarah pada penyesuaian sistem dan lingkungannnya.
2. Kemajuan sistem ditujukan untuk mengadakan perubahan terhadap yang ada dan seharusnya ada.
3. Permasalahan didekati secara normatif dan mengacu ke masa depan.
4. Pemilihan alternatif berada pada tingkat pengambilan keputusan.
5. Bersifat futuristik. 6. Bersifat akomodatif.
7. Dalam memecahkan masalah disekati secara sistemik, analitik, dan sistematik,
8. Norma penilaian rencana dan keputusan dilakukan melalui proses sosialisasi.
Dari uraian tersebut dapat disajikan :
a) Kerangka Dasar Model Sistem Pendidikan. Pada garis besarnya kerangka dasar model sistem pendidikan terdiri atas input, yang berupa calon peserta didik, instrumental input yaitu sumber daya pendidikan. Environmental input meliputim aspek kehidupan bangsa, proses merupakan kegiatan mengubah masukan (peserta didik) menjadi keluaran (output). Dalam sistem pendidikan, masukan (peserta didik) diproses melalui kegiatan proses belajar mengajar ditunjang oleh sumber daya pendidikan. Mengingat sistem pendidikan merupakan sistem terbuka yang berada pada suatu lingkungan masukan dari lingkungan luar sistem pendidikan perlu diperhatikan. Walaupun masukan dari lingkungan luar sistem pendidikan itu tidak seluruhnya berkaitan langsung dengan proses belajar mengajar dalam sistem pendidikan namun interaksi, interrelasi, dan dinamika aspek kehidupan yang berada di luar lingkungan sistem pendidikan berdampak luas terhadap sistem pendidikan.
b) Substansi dan Aspek Perencanaan Sistem Pendidikan. Pada garis besarnya substansi perencanaan sistem pendidikan meliputi tiga tuntutan terhadap sistem pendidikan yaitu permintaan masyarakat terhadap pendidikan berwujud berapa besar, tuntutan agar hasil pendidikan bermutu dan relevan secara proporsional dengan kebutuhan tenaga kerja , dan sistem pendidikan dituntut agar dilaksanakan secara efisien yang dapat memberikan nilai balik antara sumber daya yang digunakan sistem pendidikan dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari hasil pendidikan baik untuk individu maupun untuk masyarakat.
c) Kerangka Model Perencanaan Sistem Pendidikan Terpadu. Peserta Didik merupakan masukan utama yang akan diproses dikaitkan dengan tiga aspek perencanaan pendidikan yaitu kuantitas, relevansi, dan mutu pendidikan. Dari hasil proses tersebut ditujukan untuk menghasilkan sejumlah lulusan secara proporsional dengan kualitas tertentu yang relevan dengan berbagai kebutuhan. Salah satu jembatan penghubung antara kualitas lulusan dengan proporsi kuantitas lulusan adalah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor baik sektor formal maupun informal. Dalam proses sistem pendidikan diperlukan masukan instrumental yaitu sumber daya pendidikan meliputi kurikulum, prasarana pendidikan, sarana pendidikan, sumber belajar, tenaga non kependidikan.
a. Aspek Perencanaan Pendidikan 1. Aspek Kuantitatif
Adalah aspirasi dan permintaan masyarakat terhadap pendidikan. Perencanaan sistem pendidikan dilakukan berdasarkan sosial demand aproach dan pendekatan sistem dilakukan melalui kegiatan berikut. Perumusan proyeksi jumlah kelompok usia peserta didik menurut jenjang pendidikan didasarkan pada proyeksi jumlah penduduk secara
keseluruhan proyeksi bersumber dari instansi yang berwenang. Perumusan kebijakan arus peserta didik biasanya ditentukan oleh kebijakan politik. Misalnya untuk kurun waktu tertentu sebesar berapa persen anak usia tertentu harus mengikuti pendidikan. Di dalam proses perumusan kebijakan arus peserta didik selain kebijaksanaan politik perlu dikembangkan berbagai alternatif dengan memperhatikan faktor eksternal dan internal dalam pendidikan. Faktor internal perlu dikaji antara lain jumlah satuan, peserta didik, tenaga kependidikan pada semua satuan, jenjang dan jenis pendidikan, susunan program pengajaran, jumlah angka partisipasi murni dan partisipasi kasar penduduk SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Faktor eksternal yaitu berkenaan dengan pertumbuhan penduduk, letak geografis,, infrastruktur, dan trasnportasi kurang memadai, dan kemampuna ekonomi orang tua dan masyarakat perlu diperhatikan.
2. Aspek Kualitatif
Merencanakan kualitas pendidikan berarti merencanakan kemampuan berfikir, mengubah sikap, dan meningkatkan keterampilan peserta didik. Suatu pendidikan dikatakan berkualitas apabila Proses belajar mengajar berjalan efektif, peserta didik mengalami proses pembelajaran bermakna ditunjang oleh sumber daya pendidikan dan lingkungan yang kondusif. Dalam proses pendidikan peserta didik menunjukkan tingkat kemampuan prestasi belajar, mengetahui sesuatu dan dapat melakukan sesuatu secara fungsional serta hasil pendidikan sesuai dengan tuntutan lingkungannya.
3. Aspek Relevansi
Relevansi pendidikan melekat inherent dengan perkembangan kemajuan dan aspirasi masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan di suatu tempat tertentu dalam kurun waktu tertentu.
Aspek relevansi menyusun rencana pendidikan yang dilakukan pada hari ini sebenarnya hasilnya diperuntukkan untuk masa depan. Kaitan masa kini dan masa depan dalam perencanaan aspek relevansi merupakan pangkal tolak perencanaan aspek relevansi. Karakteristik perencanaan aspek relevansi harus bersifat futuristik. Konsep relevansi sebenarnya lebih mendasari konsep peningkatan peningkatan mutu pendidikan. 4. Aspek Efisiensi
Dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu edfisiensi internal dan eksternal sistem pendidikan. Fisiensi internal ditandai oleh tinggi rendahnya angka putus sekolah dan angka mengulang kelas. Efisiensi eksternal merujuk kepada efektivitas manajemen sistem pendidikan secara keseluruhan yang disebabkan oleh kelambanan dalam manajemen sistem pendidikan. Kelembanan ini disebabkan oleh profesionalisme, mekanisme proses pengambilan keputusan dsb. Untuk mengefesienkan dan mengefektifkan sistem pendidikan diperlukan rencana terpadu yang mengaitkan masukan instrumental dan masukan lingkungan dalam proses perencanaan peningkatan efesiensi manajemn sistem pendidikan guna menghasilkan lulusan bermutu dan relevan dengan berbagai kebutuhan melalui pendayagunaan sumber daya pendidikan secra efisien.
e. Pendekatan Kebutuhan Sosial (Social Demand)
Pendidikan ini menitikberatkan pada tujuan pendidikan yang mengandung misi pembebasan terutama bagi negara-negara berkembang yang kemerdekaannya baru saja diperoleh setelah melalui perjuangan pembebasan yang amat lama. Pendidikan membebaskan rakyat dari ketakutan, dari penjajahan, dari kebodohan dan dari kemiskinan. Misi pembebasan yang menjiwai tuntutan terhadap pendidikan merupakan aspirasi politik rakyat,
karena itu tuntutan sosial ini merupakan tekanan keras bagi penyelenggara pendidikan. Dengan melihat karakteristik tuntutan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan ini lebih menekankan pemerataan kesempatan atau kuantitatif, dibandingkan aspek kualitatif. Contoh dari penerapan pendekatan ini adalah “ Wajib Belajar Sekolah Dasar “.
Ada tiga kelemahan pendekatan kebutuhan social, yaitu:
1. Pendekatan ini mengabaikan masalah alokasi dalam skala nasional, dan secara samar tidak mempermasalahkan besarnya sumber daya pendidikan yang dibutuhkan karena beranggapan bahwa penggunaan sumber daya pendidikan yang terbaik adalah untuk segenap rakyat Indonesia.
2. Pendekatan ini mengabaikan kebutuhan perencanaan ketenagakerjaan yang diperlukan masyarakat sehingga dapat menghasilakan lulusan yang sebenarnya kurang dibutuhkan oleh masyarakat.
3. Pendekatan ini cenderung hanya menjawab pemerataan pendidikan saja sehingga kuantitas lulusan lebih diutamakan ketimbang kualitasnya
f. Pendekatan Efisiensi Biaya
Menurut Guruge ( 1972 ) , pendekatan efisiensi ini mengandung pengertian yaitu penentuan besarnya investasi dalam dunia pendidikan sesuai dengan hasil, keuntungan atau efektivitas yang akan diperoleh. Pendekatan ini bersifat ekonomi dan berpangkal dari konsep Investment in Human Capital atau investasi pada sumber daya manusia. Setiap investasi harus mendatangkan keuntungan yang dapat diukur dengan nilai moneter. Pendidikan memerlukan investasi yang besar dan karena itu keuntungan dari investasi tersebut harus dapat diperhitungkan bilamana pendidikan itu memang mempunyai nilai ekonomi. Pendidikan ini menitikberatkan pemanfaatan biaya secermat mungkin untuk
mendapatkan hasil pendidikan yang seoptimal mungkin, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kelemahan pendekatan ini adalah pengelolaan dana pendidikan terutama di Negara berkembang masih sangat lemah.
BAB II PEMBAHASAN 1. Asal Usul Perencanaan Pendidikan
Perencanaan pendidikan yang saat ini dijalankan di seluruh dunia tak luput dari peran tokoh tokoh pelopor pendidikan pada jaman dahulu dari dalam negri maupun luar negri. Sebelum pendidikan se-modern seperti sekarang ini, para tokoh jaman dahulu juga berusaha bagaimana membuat rakyatnya cerdas atau pandai dalam menangani berbagai masalah kemasyarakatan. Awalnya pendidikan dibentuk dengan sangat sederhana karena bertujuan hanya untuk tujuan militer, sosial, dan ekonomi, namun seiring berjalannya waktu pendidikan