• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asal Usul dan Perencanaan Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asal Usul dan Perencanaan Pendidikan"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

Aliran, Prinsip, dan Jenis Perencanaan Pendidikan

Disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Perencanaan dan Evaluasi Pembelajaran Anak Usia Dini

Dosen Pengampu : Dede Yudi, S. Pd

Disusun oleh:

Siti Nur Fatimah (14.0304.0022) Rima Cahyaningtyas (14.0304.00226) Rika Setiani (14.0304.0027) Septi Prihatiningsih (14.0304.0032) Titi Nur Fitriyana (14.0304.0033)

PG - PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG

(2)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua hingga terselesainya tugas makalah ini. Segala kerinduan dan penghambaan marilah hanya kita tujukan kepada Allah SWT yang mencerdaskan hamba yang memohon kepadaNya.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Makalah ini disusun melalui berbagai sumber dan sejumlah referensi yang relevan. Makalah tentang Aliran, Prinsip, dan Jenis Perencanaan Pendidikan ini insyaallah bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Apabila ada kekurangan pada makalah ini, ataupun ada kata kata yang kurang pantas untuk dibaca kami mohon maaf. Saran dan masukan yang positif tentu saja sangat diharapkan demi penyempurnaan di masa mendatang. Terimakasih.

Magelang, 15 September 2015

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar... i Daftar Isi... ii

BAB I

Pendahuluan ... 1 A. Latar Belakang... B. Tujuan Pembuatan Makalah... C. Rumusan Masalah... BAB II

Kajian teori... A. Aliran aliran Perencanaan... B. Perencanaan Pendidikan... BAB III

Pembahasan ... A. Aliran aliran Perencanaan... B. Perencanaan Pendidikan... BAB IV

Penutup ... A. Kesimpulan...

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Para pendidik dan para administrator pada umumnya menyadari bahwa dunia selalu berubah, lingkungan pendidikan tidak selalu konstan. Untuk itu mereka berusaha menghadapi tantangan ini dalam upaya mempertahankan dan memajukan lembaganya masing-masing. Mereka setuju bahwa perencanaan pendidik adalah salah satu sarana untuk menghadapi tantangan ini. Mereka seharusnya tidak mereaksi terhadap perubahan itu, melainkan mengantisipasi melalui perencanaan.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami perencanaan menentukan berhasil tidaknya suatu program khususnya untuk mencapai tujuan dan fungsi pendidikan, suatu program yang tidak melalui perencanaan yang baik cenderung gagal. Dalam arti kegiatan sekecil dan sebesar apapun jika tanpa ada perencanaan kemungkinan besar berpeluang untuk gagal. Meskipun, dengan perencanaan yang sudah baik kadang hasilnya belum sesuai yang diharapkan itu karena dalam pelaksanaan perencanaan tersebut kita melanggar atau keluar jalur dari garis perencanaan tersebut. Sehingga yang salah bukan perencanaannya tetapi pelakunya sendiri.

(5)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana asal usul dari perencanaan pendidikan ? 2. Apa saja aliran aliran perencanaan pendidikan ?

3. Apa yang dimaksud dengan perencanaan tradisional dan modern ? 4. Apa saja prinsip prinsip perencanaan pendidikan ?

5. Apa saja jenis jenis pendekatan perencanaan pendidikan ?

C. Tujuan Pembuatan Makalah

(6)

BAB II KAJIAN TEORI

A. Aliran-aliran Perencanaan

1. Asal usul Perencanaan Pendidikan

a. Asal Usul Perencanaan Pedidikan Di Dunia

Perencanaan pendidikan masa kini berasal dari zaman kuno yang tidak terputus putus. Xenephon menceritakan (dalam lacadaemonian constitution) bagaimana 2500 tahun yang lalu orang orang spartan merencanakan dengan baik pendidikan mereka untuk tujuan militer, sosial, dan ekonomi. Plato didalam republik-nya mengusulkan suatu rencana pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan pemimpin dan memenuhi kebutuhan politik Athena. Cina selama pemerintahan Dinasti Han dan orang orang Inca di Peru merencanakan pendidikannya untuk tujuan khas masyarakat mereka. Contoh contoh dari jaman kuno kini menekankan betapa pentingnya fungsi perencanaan pendidikan dan kaitan sistem pendidikan dengan tujuan masyarakat, apapun jenis tujuan itu. Contoh contoh yang kemudian menunjukkan bagaimana perencanaan pendidikan itu di dalam masa pergolakan sosial dan intelektual mengambil jalan membantu perubahan suatu masyarakat agar seirama dengan tujuan yang baru. Pembuat rencana seperti itu umumnya adalah pemikir masyarakat yang kreatif yang melihat bahwa pendidikan itu adalah suatu alat yang sangat kuat untuk mencapai perubahan dan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

(7)

dan kursus kursus nasional sehingga bangsa Scott memiliki suatu bentuk perpaduan antara kepuasan spiritual dan kesejahteraan material. Masa masa yang berat bagi liberalisme baru di eropah pada akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 menghasilkan usulan yang banyak seperti “Rencana Pendidikan” dan “Pembaruan Pengajaran” yang dimaksudkan untuk pembaruan dan peningkatan sosial. Salah satu yang ternama adalah Rencana Diderot “Plan de’une Universite pour le Gourvenement de Russie”, yang dipersiapkan atas permintaan Catherina II. Rencana lain adalah rencana Rosseau agar setiap warga negara Polandia memperoleh pendidikan. (Rencana yang satu ini sangat terperinci sehingga mengakibatkan hukuman badan bagi yang membandel).

Sudah barang tentu usaha modern yang paling dahulu agar perencanaan pendidikan itu dapat membantu merealisasi suatu masyarakat baru adalah rencana lima tahun yang pertama dari angkatan muda Soviet dalam tahun 1923. Walaupun metodologinya yang pertama sangat kasar menurut standar saat ini, tetapi rencana tersebut adalah permulaan dari proses perencanaan yang berkesinambungan dan terperinci yang membantu mengubah, dalam waktu kurang dari 50 tahun, suatu bangsa yang mulai dengan dua pertiga warganya buta huruf menjadi salah satu negara di dunia yang paling maju pendidikannya. Selain orientasi ideologi-nya, pengalaman perencanaan Soviet ini menjadi pelajaran yang berguna bagi negara negara lain.

(8)

lingkup, tujuan, dan kemajemukannya. Beberapa ditujukan untuk seluruh bangsa, lainnya ditujukan kepada lembaga lembaga secara sendiri sendiri, beberapa tidak diragukan jauh lebih efektif dari yang lain, beberapa hanya musiman, yang lain menyangkut proses yang terus menerus dan dalam jangka waktu yang cukup lama, beberapa di dalam susunan yang sangat otoriter dan yang lain lebih demokratis dan pluralistis. Semuanya harus diajarkan tetapi tidak satupun yang memiliki ciri yang dibutuhkan untuk perencanaan pendidikan modern.

Tetapi riwayat perencanaan pendidikan masa kini tidak berhenti dengan contoh contoh yang lebih jelas dan dramatis yang baru sajaj disebut di atas. Selama itu bentuk perencanaan lebih tersebar dan bersifat rutin yang harus dihadapi oleh mereka yang bertanggung jawab terhadap lembaga administrasi pendidikan, semenjak lembaga ini ada.

Disimpulkan bahwa perencanaan pendidikan yang khas yang berlaku di kebanyakan tempat sebelum Perang Dunia Kedua dan yang berlaku untuk generasi generasi sebelum itu mempunyai empat ciri utama:

1. Berpandangan jangka pendek, hanya berlaku sampai anggaran tahun berikutnya, (kecuali apabila fasilitas fasilitas harus dibuat atau sutau program utama baru ditambahkan, dalam hal ini ruang lingkup perencanaan sedikit diperluas). 2. Sistem pendidikan yang fragmentaris (bagian

bagian direncanakan sendiri sendiri).

(9)

nyata dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat serta ekonomi pada umumnya.

4. Bentuk perencanaan yang tidak dinamis, suatu model pendidikan yang statis, ciri cirinya tidak berubah dari tahun ke tahun.

b. Asal Usul Pendidikan Di Indonesia

Pada zaman kolonial pemerintah belanda menyediakan sekolah yang beraneka ragam bagi orang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan berbagai lapisan masyarakat. Ciri yang khas dari sekolah sekolah ini ialah tidak adanya hubungan berbagai ragam sekolah itu. Namun lambat laun, dalam berbagai macam sekolah yang terpisah pisah itu terbentuklah hubungan hubungan sehingga terdapat suatu sistem yang menunjukkan kebulatan. Pendidikan bagi anak anak Indonesia semula terbatas pada pendidikan rendah, akan tetapi kemudian berkembang secara vertikal sehingga anak Indonesia, melalui pendidikan menengah dapat mencapai pendidikan tinggi, sekalipun melalui jalan yang sulit dan sempit.

(10)

memasuki perguruan tinggi. Dalam kenyataan anak anak yang mendapat pelajaran di sekolah berorientasi Barat saja yang dapat melanjutkan pelajarannya, sekalipun hanya terbatas pada segelintir orang saja.

Sekolah pertama di Jakarta dibuka pada tahun 1630 untuk mendidik anak Belanda dan Jawa agar menjadi pekerja yang kompeten bagi V.O.C. pada thun 1636 jumlahnya menjadi 3 buah dan pada tahun 1703 telah ada 34 guru dan 4873 murid. Seklah seklah itu terbuka bagi semua anak tanpa perbedaan kebangsaan.

Walaupun tidak ada kurikulum yang ditentukan, biasanya sekolah menyajikan pelajaran tentang ketekismus, agama, juga membaca, menulis, dan bernyanyi. Demikian pula tidak ditentukan lama belajar. Peraturan hanya menentukan bahwa anak pria lebih dari usia 16 dan anak wanita lebih dari 12 tahun hendaknya jangan dikeluarkan dari sekolah. Kemudian usia itu diturunkan menjado 12 tahun untuk anak pria dan 10 tahun untuk anak wanita. Pembagian dalam 3 kelas untuk pertama kali dilakukan di tahun 1778. Di kelas 3, kelas terendah, anak anak belajar abjad, di eklas 2 membaca, menulis dan bernyanyi, di kelas 1, kelas tertinggi membeca menulis, bernyanyi dan berhitung.

2. Aliran-aliran Perencanaan

(11)

perkembangan sosial-budaya dan perkembangan iptek. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan pendidikan itu disebut aliran-aliran pendidikan. Seperti dalam bidang-bidang lainya, pemikiran-pemikiran dalam pendidikan itu berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan yakni pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir-pemikir berikutnya, dan karena dialog tersebut akan melahirkan lagi pemikiran-pemikiran baru, dan demikian seterusnya. Agar diskusi berkepanjangan itu dapat diikuti dan dipahami, maka berbagai aspek dari aliran-aliran itu harus dipahami terlebih dahulu. Oleh karena itu setiap calon tenaga kependidikan, utamanya calon pakar kependidikan, harus memahami berbagai aliran-aliran itu agar dapat menangkap makna setiap gerak dinamika pemikiran-pemikiran dalam pendidikan itu.

Aliran-aliaran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunanya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Di dalam berbagai kepustakaan tentang aliran-aliran pendidikan, pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai dari zaman Yunani kuno sampai kini.

a. Aliran Klasik dan Gerakan Baru dalam Pendidikan

Aliran-aliran klasik yang meliputi aliran-aliran empirisme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi merupakan benang-benang merah yang menghubungkan pemikiran-pemikiran pendidikan masa lalu, kini, dan mungkin yang akan datang. Aliran yang paling pesimis memandang bahwa pendidikan kurang bermanfaat, bahkan mungkin merusak bakat yang telah dimiliki anak. Aliran yang sangat optimis memandang anak seakan-akan tanah liat yang dapat dibentuk sesuka hati.

(12)

gerakan-gerakan pengajaran alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, dan pengajaran proyek. Gerakan-gerakan ini sangat mempengaruhi cara-cara guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar di sekolah. Gerakan-gerakan itu dapat dikaji untuk memperkuat wawasan dan pengetahuan tentang pengajaran. Pengajaran merupakan pilar penting dari kegiatan pendidikan di sekolah, utamanya kalau dilakukan pengajaran yang sekaligus mendidik.

1. Aliran-aliran Klasik dalam Pendidikan dan Pengaruh Terhadap Pemikiran Pendidikan di Indonesia

Sehubungan dengan kajian tentang aliran-aliran pendidikan, perbedaan pandangan itu berpangkal pada perbedaan pandangan tentang perkembangan manusia itu. Terdapat perbedaan penekanan di dalam sesuatu teori kepribadiaan tertentu tentang faktor yang paling berpengaruh (dominan) dalam perkembangan kepribadian tersebut menjadi dasar perbedaan pandangan tentang pendidikan terhadap manusia, mulai dari paling pesimis sampai yang paling optimis. Bahwa aliran konvergensi mencoba mengemukakan pandangan menyeluruh, dandi terima luas oleh banyak pihak.

a) Aliran Empirisme

(13)

anak lahir didunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Menurut pandangan empirisme (environmentalisme) pendidikan memang peran yang sangat penting sebab pendidikan dapat menyediakan lingkungan pendidikan pada anak dan diterima oleh anak sebagai pengalaman. Pandangan behavioral masih bervariasi dalam menentukan faktor yang paling utama dalam proses belajar (Milhollan dan Forisha,1972;31-79; Ivey, et.al, 1987: 231-263), sebagai berikut:

1) Pandangan yang menekankan peranan stimulus (rangsangan) terhadap perilaku.

2) Pandangan yang menekankan peranan dari dampak ataupun balikan dari sesuatu perilaku.

3) Pandangan yang menekankan peranan pengamatan dan imitasi.

b) Aliran Nativisme

(14)

Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan prendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri.

Tetapi pembawaan itu bukanlah merupakan satu-satunya faktor yang menentukan perkembangan. Pandangan konvergensi tentang pentingnya kedua faktor: Pembawaan atau hereditas dan lingkungan dalam perkembagan anak. Terdapat suatu pokok pendapat aliran nativisme yang berpengaruh luas yakni bahwa dalam diri individu terdapat suatu “inti” pribadi (G. Leibnitz: Monad) yang mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan yang menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemauan bebas. Pandangan-pandangan tersebut tampak antara lain humanistic psychology dari Carl R. Rongers ataupun pandangan phenomenology/humanistik lainya. Meskipun pandangan ini mengakui pentingya belajar, namun pengalaman dalam belajar itu ataupun penerima dan persepsi seseorang banyak ditentukan oleh kemampun memberi makna kepada apa yang dialaminya itu. Terdapat variasi pendapat dari pendekatan phenomenology/humanistik tersebut (Milhollan dan Forisha, 1972: 81-123; et.al, 1987:267-197) sebagai berikut:

a. Pendekatan aktualisasi diri atau non-direktif.

b. Pendekatan “Personal Constructs” menekankan betapa pentingnya memahami hubungan “transaksional” antara manusia dan lingkungan sebagai bekal awal memahami perilakunya.

(15)

d. Pendekatan “Search for Meaning” dengan aplikasinya sebagai “Logotherapy” yang mengungkapkan betapa pentingnya semangat untuk mengatasi berbagai tantangan/masalah yang dihadapi.

c) Aliran Naturalisme

Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah naturalisme yang dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J Rousseau (1712-1778). Berbeda dengan Schocpenhauer, Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan buruk. Pembawaan baik akan menjadi rusak dipengaruhi oleh lingkungan. Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa dapat merusak pembawaan anak yang baik itu. Aliran ini juga disebut negativisme, karena pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Pendidikan tidak diperlukan. Yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak karena tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan itu.

d) Aliran Konvergensi

(16)

memang pada dii anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju kesatu titik pertemuan.

Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi:

1) Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.

2) Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungn kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik.

3) Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.

Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia.

e) Pengaruh Aliran Klasik terhadap Pemikiran dan Praktek Pendidikan di Indonesia

(17)

masyarakat (kelompok belajar, lembaga keagamaan/pesantren dan lain-lain).

1. Gerakan Baru Pendidikan dan Pengaruh terhadap Pelaksanaan di Indonesia

a. Pengajaran Alam Sekitar

Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar, perintis gerakan ini antara lain: Fr. A. Finger (1808-1888) di Jerman dengan heimatkunde (pengajaran alam disekitar), dan J. Ligthart (1859-1916) di Belanda dengan Het Volleleven (kehidupan senyatanya). Beberapa prinsip gerakan Heimatkunde adalah:

1) Dengan pengajaran alam sekitar itu guru dapat meragakan secara langsung.

2) Pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya agar anak aktif.

3) Pengajaran alam sekitar memugkinkan untuk memberikan pengajaran totalitas, yaitu suatu bentuk pengajaran dengan ciri-ciri dalam garis besarnya sebagai berikut:

a) Suatu pengajaran yang tidak mengenai pembagian mata pelajaran dalam daftar pengajaran, tetapi guru memahami tujuan pengajaran dan mengarahkan usahanya untuk mencapai tujuan. b) Suatu pengajaran yang menarik minat.

c) Suatu pengajaran yang memungkinkan segala bahan pengajaran itu berhubung-hubungan satu sama lain seerat-eratnya secara teratur.

(18)

e) Pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional.

Sedangkan J. Lingthart mengemukakan pegangan dalam Het Volle Leven sebagai berikut:

1. Anak harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mendengar anaknya, tidak kebalikanya.

2. Pengajaran sesungguhnya harus mrndasarkan pada pengajaran selanjutnya.

3. Pengajaran alam sekitar. b. Pengajaran Pusat Perhatian

Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Ovideminat Decroly (1871-1932) dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat minat (Centre d’interet) disamping pendapatnya tentang pengajaran global. Pendidikan menurut Decroly berdasarkan pada semboyang : sekolah untuk hidup dan oleh hidup. Dua hal yang khas dari Decroly, yaitu:

1) Metode Global (keseluruhan). Anak-anak mengamati dan mengingat secara global. Mengingat keseluruhan lebih dulu dari pada bagian-bagian.

2) Centre d’interet (pusat-pusat minat). Pengajaran harus disesuaikan dengan minat-minat spontan. Anak mempunyai minat-minat-minat-minat spontan terhadap diri sendiri dan minat spontan terhadap diri sendiri itu dapat kita bedakan menjadi:

(19)

Sedangakan minat terhadap masyarakat (biososial) ialah:

1) Dorongan sibuk bermain-main 2) Dorongan menoru orang lain

Dorongan-dorongan inilah yang digunakan sebagai pusat-pusat minat. Sedangkan pendidikan dan pengajaran harus selalu dihubungkan dengan minat pusat-pusat minat tersebut.

c. Sekolah Kerja

Gerakan sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari pandangan-pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan dalam pendidikan. Sebagai bapak sekolah kerja adalah G. Kerschensteiner (1854-1932) dengan Arbeitschule-nya (sekolah kerja) di jerman. Perlu dikemukakan bahwa sekolah kerja itu bertolak dari pandangan bahwa pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu tetapi juga kepentingan masyarakat. Kerschensteiner berpendapat bahwa kewajiban utama

sekolah adalah mempersiapkan anak-anak untuk dapat bekerja.banyaknya macam pekerjaan yang menjadi pusat pelajaran, maka sekolah kerja dibagi menjadi tiga golongan besar:

1) Sekolah-sekolah perindustrian 2) Sekolah perdangangan

3) Sekolah-sekolah rumah tangga d. Pengajaran Proyek

(20)

di Indonesia yang prlu ditekankan bahwa pengajaran proyek akan menumbuhkan kemampuan untuk memandang dan memecahkan persoalan yang komprehensif.

e. Pengaruh Gerakan Baru dalam Pendidikan Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan di Indonesian.

Gerakan baru dalam pendidikan berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah namun dasar-dasar pemikiranya tentulah menjangkau semua segi dari pendidikan baik aspek konseptual maupu oprasonal. Sebab itu mungkin gerakan-gerakan itu tidak diadopsi seutuhnya disuatu masyarakat atau negara tertentu, namun asas pokoknya menjiwai kebijakan-kebijakan pendidikan dalam masyarakat atau negara itu.

2. Dua “Aliran” Pokok Pendidikan di Indonesia

Dua “aliran” pokok pendidikan di indonesia dimaksudkan adalah perguruan kebangsaan Taman Siswa dan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam kedua aliran ini di pandang sebagai suatu tonggak pemikiran tentang pendidikan di Indonesia. Secara historis, pendidikan yang melembaga telah dikenal sebelum Belanda menjajah Indonesia.

a. Perguruan Kebangsaan Taman Siswa

Didirikan oleh Ki Hajar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1932 di Yogyakarta

1) Asas dan Tujuan Taman Siswa

(21)

a) Bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat terbitnya persatuan dalam peri kehidupan umum.

b) Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri.

c) Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.

d) Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat mencangkau kepada seluruh rakyat.

e) Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya lahir maupun batin.

f) Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan.

g) Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu adanya keiklasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak.

2) Upaya-upaya Pendidikan yang Dilakukan Taman Siswa

Dilingkungan perguruan untuk mencapai tujuannya Taman Siswa berusaha dengan jalan antara lain :

1. Menyelenggarakan tugas pendidikan dalam bentuk perguruan dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi

2. Mengikuti, mempelajari perkembangan dunia diluar Taman Siswa yang ada hubungannya dengan bidang kegiatan Taman Siswa.

(22)

4. Meluaskan kehidupan ke-Taman Siswa diluar lingkungan masyarakat perguruan, sehingga dapat terbentuk wadah yang nyata bagi jiwa Taman Siswa.

3) Hasil-hasil yang Dicapai

Yayasan Perguruan Kebangsaan Taman Siswa yang didirikan Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta sampai kini telah mencapai berbagai hal seperti: gagasan/pemikiran tentang pendidikan nasional, lembaga-lembaga pendidikan dari Taman Indria sampai dengan Sarjana Wiyata, dan sejumlah besar alumni perguruan (banyak yang menjadi tokoh nasional,antara lain Ki Hajar Dewantara, Ki Mangunsarkoro,dan Ki Suratman). Ketiga pencapaian itu merupakan pencapaian sebagai suatu yayasan pendidikan, yang juga mungkin dicapai oleh yayasan pendidikan lainnya.

2. Ruang Pendidik INS Kayu Tanam

Didirikan oleh Muhammad Sjafei pada tanggal31 Oktober 1926 di Kayu Tanam ( Sumatra Barat). INS pada mulanya dipimpin oleh bapaknya, kemudian diambil oleh Muhammad Sjafei. Pada tahun 1952 INS mendirikan percetakan Sri Dharma yang menerbitkan adalah bulanan sendi dengan sasaran khalayak adalah anak-anak.

a. Asas dan Tujuan Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam 1. Berfikir logis dan rasional

2. Keaktifan atau kegiatan 3. Pendidikan masyarakat

4. Memperhadikan pembawaan anak 5. Menentang intelektualisme

(23)

1. Mendidik rakyat kearah kemerdekaan

2. Memberi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat

3. Mendidik para pemuda agar berguna untuk masyarakat 4. Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dan berani

beranggungjawab

5. Mengusahakan mandiri dalam pembiayaan b. Usaha-usaha Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam

Terdapat berbagai usaha yang dilakukan oleh Muhammad Sjafei dkk. Dalam mengembangkan gagasan dan berupaya mewujudkannya, baik yang berkaitan dengan Ruang Pendidk INS maupun tentang pendidikan dan perjuangan bangsa Indonesia pada umumnya. Beberapa hal yang perlu dikemukakan adalah memantabkan dan menyebarluaskan gagasannya tentang pendidikan nasional, pengembangan Ruang Pendidik INS (kelembagaan, sarana/prasarana,dll), uaya pemberantasan buta huruf penerbitan majalah anak-anak dll. c. Hasil-hasil yang Dicapai Ruang Pendidik INS Kayu Tanam

(24)

Pendidik INS Kayu Tanam juga diharapka melakukan penyegaran dan dinamisasi, seiring dengan perkembangan masyarakat dan iptek. Upaya-upaya pengembangan Ruang Pendidik INS tersebut seyogyanya dilakukan dalam kerangka pengembangan Sisdiknas, sebagai bagian dari usaha mewujudkan cita-cita Ruang Pendidik INS, yakni mencerdaskan seluruh rakyat Indonesia.

3. Perencanaan Tradisional dan Modern 1) Perencanaan Tradisional

Pendidikan di Indonesia dari zaman pemerintahan Belanda dan Jepang. Kegiatan pada waktu lampau Jepang mempengaruhi terbentuknya Undang-undang Pokok Pendidikan No. 4/1950jo. No. 12/1954.

a. Pendidikan pada waktu pemerintahan Belanda

Perkembangan pendidikan di Indonesia sejak penjajahan Belanda sampai merdeka diwarnai oleh bermacam-macam tantangan dan hambatan-hambatan sebagai suatu taktik memperlambat kemajuan bangsa Indonesia utuk masa yang akan datang. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda maupun pada waktu dijajah Inggris, usaha untuk mencerdaskan bangsa Indonesia sangat terbatas sekali dan tujuan pada saat itu hanya sekedar untuk menjadi buruh kasar dan pegawai kelas dua. Pemerintah Belanda menjadikan negara jajahan sumber kekayaan alam yang harus dikuras demi kepentingan penjajah. 1. Landasan Pendidikan Sebelum Tahun 1900

a. Tidak memihak kepada satu aliran/agama tertentu.

(25)

Rome Katholik dan telah tersebar di Kepulauan Maluku dan sekitarnya.

b. Pendidikan diarahkan untuk membentuk elite sosial dalam masyarakat. Ini dimaksudkan oleh Belanda untuk membentuk suatu golongan aristokrat dari putra Indonesia sendiri yang akan dapat memperkuat kedudukan Belanda sebagai penjajah di Indonesia.

c. Sekolah disusun dengan memperhatikan lapisan sosial dalam masyarakat. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa ada suatu pembatasan untuk memasuki suatu lembaga pendidikan yang ada pada waktu itu dengan memperhatikan kelas sosial dari anggota masyarakat. Anak kaum ningrat atau sekurang-kurangnya anak demanglah yang dapat masuk HIS, sedangkan anak rakyat jelata dengan kemampuan yang baik tidak mungkin untuk menikmati pendidikan.

d. Pendidikan pada waktu itu juga dimaksudkan tidak untuk membentu kepribadian yang harmonis, tetapi adalah untuk mendapatkan pekerjaan dikemudian hari, demi kepentingan kolonial Belanda bukan untuk Indonesia.

2. Landasan Pendidikan sesudah Tahun 1900

(26)

Educatie (pendidikan), Irigatie (irigasi), dan Emigratie (emigrasi)

3. Jenis-jenis Sekolah yang ada

Sebelum tahun 1900 sekolah yang ada boleh dikatakan SD 5 tahun saja, tetapi sesudah tahun 1900 berkembang sedikit lebih baik. Sekolah yang ada ialah :

a. Pengajaran Rendah (Loger Onderwijs)

1) Sekolah Rendah Eropa dengan Bahasa Pengantar bahasa Belanda yaitu

a) Sekolah Rendah Eropa

Sekolah ini diperuntukkan untuk keturunan eropa atau anak keturunan timur asing atau anak bumi putra dari tokoh terkemuka. Lama sekolah tujuh tahun. Pertama kali didirikan tahun 1818.

b) Sekolah bumi putera kelas satu terdiri dari : i) Sekolah cina belanda

Didirikan pertama kali tahun 1908 untuk anak keturunan china dengan masa belajar 7 tahun. ii) Sekolah bumi putera belanda

Lama pendidikan 7 tahun disediakan untuk anak indonesia asli keturunan bangsawan, tokoh terkemuka atau pegawai negeri. Pertama kali didirikan tahun 1914.

2) Sekolah Rendah Dengan Bahasa Pengantar Bahasa Daerah

a) Sekolah Bumi Putera Kelas Dua

Sekolah ini untuk anak Bumi Putera. Lama pendidikan Lima tahun

b) Sekolah Desa

Untuk anak Bumi Putera. Lama pendidikan 5 tahun. Pertama kali didirikan tahun 1907

c) Sekolah Lanjutan

(27)

3) Sekolah sambungan

Sekolah ini merupakan peralihan dari sekolah desa 3 tahun ke sekolah dasar dengan bahasa pengantar bahasa belanda. Lama belajar 5 tahun.

b. Pendidikan Lanjutan

Sekolah lanjutan pertama adalah MULO. Lama pendidikan 3 atau 4 tahun dengan bahasa pengantar Bahasa belanda. Pertama kali didirikan tahun 1914.

Sebagai kelanjutannya adalah :

a) AMS (Algemene Middlebaar School)

Dipertuntukkan untuk penduduk bumi putra dan umum. Pertama kali didirikan tahun 1915 dengan dua jurusan yaitu bagian A (pengetahuan kebudayaan) dan bagian B (pengetahuan alam)

b) Hoogere Burgerschool (Sekolah warga negara tinggi) Sebagai kelanjutan ELS. Sekolah ini khusus untuk keturunan eropa dan bangsawan golongan bumi putra atau tokoh terkemuka. Lama pendidikan 3 atau 5 tahun. c. Pendidikan Kejuruan

Kelompok pendidikan kejuruan dapat dibagi atas: 1) Sekolah Pertukangan

Sekolah ini ada yang diperuntukan khusus bumi putera sebagai kelanjutan dari sekolah Bumi putera kelas dua dengan bahasa pengantar bahasa belanda sebagai kelanjutan dari HBS dan HCS.

2) Sekolah Tekhnik

(28)

d. Pendidikan Tinggi

Perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia pada saat pemerintahan Hindia Blanda sangat lambat dnegan jenjang pendidikan yang sangat terbatas pula bahkan lulusan yang dapat memasuki pendidikan tingi pun sangat rendah pula. Pendidikan tinggi yang ada yaitu :

1) Pendidikan tinggi kedokteran 2) Pendidikan tinggi hukum 3) Pendidikan tinggi tekhnik

b. Pendidikan Pada Waktu Pemerintahan Jepang

Pada waktu pemerintahan Jepang banyak membawa perubahan terhadap pendidikan Indonesia. Pada waktu pemerintahan Jepanglah semua sekolah dasar yang bermacam macam itu diubah menjadi sekolah rakyat 6 tahun, dan bahasa pengantar adalah bahasa Indonesia, sedangkan bahasa jepang hanya diajarkan sebagai sebuah mata pelajaran. Sekolah yang ada yaitu sekolah rakyat, sekolah menengah pertama, sekolah menengah tinggi dan perguruan tinggi.

2) Perencanaan Modern

a. Pendidikan Awal Merdeka

Pada waktu Proklamasi Kemerdekaan diproklamirkan yang menjadi Menteri PP dan K ialah Ki Hajar Dewantoro. Maka di saat itu dikeluarkan berbagai-bagai pengumuman sesuai dengan pemerintahan yang baru. Pedoman dalam melakukan pelajaran masih berdasarkan pada yang lama, merupakan warisan kolonial. Hal ini dapat kita maklumi, karena bangsa kita pada waktu itu sedang berada dalam taraf revolusi fisik.

Berdasarkan Undang-undang Dasar 1945 yang berkenaan dengan pendidikan dan pengajaran maka pasal 31 menetapkan:

(29)

2) Bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang .

(30)

pengajar adalah suatu penyusunan berbagai tindakan yang dilakukan secara sadar berdasarkan penyelidikan ilmiah tentang proses belajar itu sendiri.

Dalam perkembangan dunia pendidikan dewasa ini dapat dikatakan sedang ngetrend-ngetrendnya penggunaan model-model pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM. Sehingga pendidikan cara klasik dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan kondisi zaman saat ini. Dengan demikian otomatis setiap elemen pendidikan termasuk guru harus dapat menyesuaikan dengan trend pendidikan modern saat ini. Pengembangan perangkat pembelajaran seperti RPP, Media, Model pembelajaran semuanya diubah dan disesuaikan dengan standar pendidikan modern yang ’katanya” akan mampu meningkatkan kualitas peserta didik.

Harapan yang begitu tinggi terlebih lagi dengan penerapan kurikulum yang dianggap paling mutakhir yaitu KTSP ternyata belum cukup memberikan jawaban yang memuaskan bagi

1 Pendidikan Moral Penanaman Humanisme dengan cara Anti

2 Fungsi Guru Sebagai Motivator dan Fasilitator.

(31)

masing individu peserta apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik.

Berupa himbauan dan apresiasi sesuai dengan kompetensi peserta didik.

Pembelajaran tradisional merupakan pembelajaran dimana secara umum, pusat pembelajaran pada guru, dan menempatkan siswa sebagai objek dalam belajar. Jadi, disini guru berperan sebagai orang yang serba bisa dan sebagai satu-satunya sumber belajar. Sedangkan pembelajaran modern adalah seorang pelajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Mereka yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pengajar atau orang lain. Mereka harus bertanggung jawab terhadap hasil belajar. Itulah yang menjadi tolak ukur perbedaan antara pembelajaran tradisional dan pembelajaran modern.

(32)

bahwa pengetahuan tidak begitu saja dipindahkan, melainkan harus dikontruksikan sendiri oleh peserta didik tersebut.

Peran guru dalam pembelajaran bukan pemindahan pengetahuan, tetapi hanya sebagai fasilitator yang menyediakan stimulus baik berupa strategi pembelajaran, bimbingan dan bantuan ketika peserta didik mengalami kesulitan belajar, atau menyediakan media dan materi pembelajaran agar peserta didik itu merasa termotivasi dan tertarik untuk belajar sehingga pembelajaran menjadi bermakna hingga akhirnya peserta didik tersebut mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuannya.

Strategi dan metode yang digunakan dirancang sesuai degan tujuan dan sasaran Program Studi yang mengacu pada sistem antara lain:

a. Adanya keterlibatan antara siswa dan guru dalam proses belajar mengajar,

b. Terdapat pelaksanaan dan format kegiatan belajar mengajar.

c. Bahan-bahan pelajaran yang diberikan selalu menarik bagi para siswa d. Kesiapan alat bantu kegiatan pembelajaran,

e. Metode dan teknik penyajian yang baik

Proses pembelajaran menggunakan komunikasi 2 (dua) arah sehingga memungkinkan siswa untuk berdiskusi dengan guru. Peluang untuk melakukan diskusi cukup besar karena rasio guru dan siswa sudah mencukupi (1:10) dan guru selalu berusaha menciptakan suasana yang kondusif untuk proses diskusi. Untuk meningkatkan pemahaman materi sebagian besar guru memberikan tugas untuk dikerjakan secara mandiri dan kelompok yang disertai dengan penerapan teknologi seperti mencari informasi di media elektronik, cetak dan internet.

B. Prinsip-prinsip Umum dan Jenis-jenis Pendekatan dalam Perencanaan Pendidikan

(33)

Perencanaan pendidikan mengenal prinsip-prinsip yang dapat dijadikan pegangan, baik dalam proses penyusunan maupun dalam implementasinya. Prinsip-prinsip tersebut antara lain:

a. Perencanaan itu Interdisiplinair

b. Perencanaan itu Fleksibel. Meskipun berbagai hal yang terkait dengan pelaksanaan rencana telah dipertimbangakan sebai-baiknya, masih mungkin terjadi hal-hal di luar perhitungan perencanaan ketika rencana itu dilaksanakan. Oleh karena dalam pembuatan perencanaan, hendaknya disediakan ruang gerakbagi kemungkinan penyimpangan dari rencana ssebagai antisipasi terhadap hal-hal yang terjadi diluar perhitungan perencanaan.

c. Perencanaan itu Objektif rasional

d. Perencanaan itu tidak dimulai dari nol tetapi dimulai dari apa yang dimiliki

e. Perencanaan itu merupakan wahana untuk menghimpun kekuatan-kekuatan secara terkoordinir

f. Perencanaan itu disusun dengan data

g. Perencanaan itu mengendalikan kekuatan ssendiri, tidak berdasarkan pada kekuatan orang lain.

h. Perencanaan itu komprehansif dan ilmiah.

i. Perncanaan itu hendaknya mempunyai dasar yang jelas dan mantap. Nilai yang menjadi dasar berupa nilai budaya, nilai moral, nilai relegius, maupun gabungan nilai ketiganya. Acuan nilai yang jelas dan mantap akan memberikan motivasi yang kuat untuk menghasilakan rencana yang sebaik-baiknya.

(34)

khusus yang terinci akan menyebabkan berbagai unsur di dalam perencanaan memiliki relevansi yang tingggi dengan tujuan yang akan dicapai.

k. Perencanaan hendaknya relitis. Perencanaan hendaknya disesuaikan dengan sumber daya dan dana yang tersedia. Dalam hal sumber daya hendaknya dipertimbangakan kualitas maupun kuantitas manusia dan perangkat penunajangnya.

l. Perencanaan hendaknya mempertimbangkan kondisi sosio budaya masyarakat, baik yang mendukung maupun menghambat perencanaan nanti. Kondisi sosio budaya tersebut misalnya system nilai, adat istiadat, keyakinan sertacita-cita. Terhadap kondidi sosio budaya yang yang mendukukng pelaksaan rencana. Hendaknya telah direncanakan memanfaatkan secaramaksimal factor pendukung itu.

Berdasarkan uraian diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa untuk mencapai setiap tujuan dalam kegiatan pendidikan, kita perlu menyusun rencana dan strategi yang baik dan matang. Untuk itu kita harus berpegang pada prinsip-prinsip perencanaan pendidikan baik dalam prosen penyusunannya maupun dalam proses implementasinya. Dengan prinsip-prinsip perencanaan pendidikan diharapakan pembangunan manusia seutuhnya yang menjadi tekad pemerintah dapat tercapai dengan maksimal sesuai dengan yang diharapkan.

Pembangunan pendidikan tidak hanya ditujukan untuk mengembangkan aspek intelektualnya saja melainkan juga watak, moral, social dan fisik peserta didik.

(35)

Menurut Enoch (1986) istilah permintaan masyarakat terhadap pendidikan paling tidak digunakan dalam tiga bentuk perencanaan pendidikan, yaitu pertama bila sasaran rencana pendidikan ditekankan pada factor kependudukan; kedua, bila sasaran rencana pendidikan didasarkan pada tujuan nasional suatu bangsa sesuai dengan aspirasi sosial dan kemauan politik pemerintah, dan ketiga, bila proyrk rencana didasarkan pada analisis kebuthan individu terhadap pendidikan.

Menurut bentuknya perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat yang paling sederhana, target rencana pendidikan disusun berdasarkan kelompok populasi atau proyeksi calon peserta didik (umur dan jenis kelamin). Bila peserta didik didasarkan pada analisis mekanisme, kecenderungan pendekatan yang dilakukan dapat bersifat bebas atau criteria normatif(etika, tujuan sosial, dan standar) selalu mendasari bentuk pendekatan ini. Perencanaan pendidikan didasarkan pada analisis dan proyeksi himpunan permintaan individu dapat dipengaruhi oleh nilai budaya dan social yang berbeda. Perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat digunakan dalam penelitian-penelitian di mana factor penentu target jumlah peserta didik pada masa mendatang adalah terbatasnya ruang kelas, standar mutu yang dikombinasi dengan jatah penerimaan, kebijakan besiswa dan beban uang kuliah, jangkauan geografi, karakteristik kepercayaan calon peserta didik, standar mutu yang diterima, ujian dan kebijakan khusus, ataupun kebijakan umum dalam system penerimaan terbuka atau penerimaan seleksi.

b. Pendekatan Berdasarkan Kebutuhan Tenaga Kerja

(36)

yang diarahkan untuk mempersiapkan peserta didiknya siap kerja pada berbagai lapangan yang menghasilkan barang dan jasa.

Jusuf (1980) mengemukakan bahwa bila pendidikan diarahkan berdasarkan persyaratan kebutuhan tenaga kerja, cara perhitungannya didasarkan pada perkiraan pendapatan nasional. Proses perhitungannya melalui enam tahapan yaitu :

1. Proyeksi produksi persektor.

2. Taksiran perkembangan produktivitas tenaga kerja persektor. 3. Perkembangan produksi dan perubahan produktivitas sector industri.

4. Perincian seluruh tenaga kerja yang diperlukan berbagai jenis pekerjaan.

5. Jenis dan tingkat pendidikan yang diperlukan.

6. Jumlah tenaga kerja yang harus dihasilkan oleh lembaga pendidikan.

c. Pendekatan Nilai Balik Dalam Perencanaan Pendidikan

Pendekatan rate of return di dalam perencanaan pendidikan didasarkan pada model ekonomi. Pendekatan ini digunakan untuk memungkinkan mengadakan perbandingan secara ekonomis secara investasi yang diberikan kepada sektor-sektor ekonomi lainnya. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk menjamin bahwa alokasi sumber-sumber daya diantara sektor-sektor ekonomi yang berbeda disesuaikan dengan manfaat yang diharapkan.

(37)

peningkatan pendidikan. Para ahli pendidikan dapat menerima walaupun tidak keseluruhan prinsip rate of return bahwa investasi dalam pendidikan disusun berdasarkan suatu keuntungan baik keuntungan yang diperoleh masyarakat maupun keuntungan yang diperoleh perseorangan dalam bentuk peningkatan produktivitas yang tercermin dalam peningkatan pendapatan.

d. Pendekatan Sistem Terpadu

Pendekatan sistem merupakan suatau kerangka ilmu pengetahuan (skelton of science) yang dapat memadukan berbagai pendekatan yang sifatnya parsial menjadi suatu pendekatan yang bersifat menyeluruh dan terpadu. Pendekatan perencanaan sistem pendidikan yang secara teoritik selama ini ada yaitu:

1. Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan permintaan masyarakat.

2. Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan kebutuhan tenaga kerja dan,

3. Pendekatan perencanaan pendidikan berdasarkan nilai balik. Untuk dapat memadukan ketiga pendekatan dalam perencanaan pendidikan diperlukan suatu pendekatan perencanaan yang memiliki karakteristik sistemik, analitik, dan sistematik. Sistemik dalam arti permasalahan dilihat dari konteks keseluruhan. Analitik dalam arti setiap permasalahan dianalisis sebab dan akibatnya dikaitkan dengan berbagai masalah yang ada baik di dalam maupun di luar sistem. Sistematik dalam arti cara kerjanya beraturan atau runtut. Hal ini dapat dilihat dari proses kegiatannya yaitu perumusan masalah, penelitian, penilaian, penelaahan,. Pemeriksaan, dan pelaksanaan.

Karakteristik model kerangka perencanaan pendidikan berdasarkan pendekatan sistem yaitu :

(38)

perubahan internal dan eksternal dan mengarah pada penyesuaian sistem dan lingkungannnya.

2. Kemajuan sistem ditujukan untuk mengadakan perubahan terhadap yang ada dan seharusnya ada.

3. Permasalahan didekati secara normatif dan mengacu ke masa depan.

4. Pemilihan alternatif berada pada tingkat pengambilan keputusan.

5. Bersifat futuristik. 6. Bersifat akomodatif.

7. Dalam memecahkan masalah disekati secara sistemik, analitik, dan sistematik,

8. Norma penilaian rencana dan keputusan dilakukan melalui proses sosialisasi.

Dari uraian tersebut dapat disajikan :

(39)

b) Substansi dan Aspek Perencanaan Sistem Pendidikan. Pada garis besarnya substansi perencanaan sistem pendidikan meliputi tiga tuntutan terhadap sistem pendidikan yaitu permintaan masyarakat terhadap pendidikan berwujud berapa besar, tuntutan agar hasil pendidikan bermutu dan relevan secara proporsional dengan kebutuhan tenaga kerja , dan sistem pendidikan dituntut agar dilaksanakan secara efisien yang dapat memberikan nilai balik antara sumber daya yang digunakan sistem pendidikan dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari hasil pendidikan baik untuk individu maupun untuk masyarakat.

c) Kerangka Model Perencanaan Sistem Pendidikan Terpadu. Peserta Didik merupakan masukan utama yang akan diproses dikaitkan dengan tiga aspek perencanaan pendidikan yaitu kuantitas, relevansi, dan mutu pendidikan. Dari hasil proses tersebut ditujukan untuk menghasilkan sejumlah lulusan secara proporsional dengan kualitas tertentu yang relevan dengan berbagai kebutuhan. Salah satu jembatan penghubung antara kualitas lulusan dengan proporsi kuantitas lulusan adalah kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor baik sektor formal maupun informal. Dalam proses sistem pendidikan diperlukan masukan instrumental yaitu sumber daya pendidikan meliputi kurikulum, prasarana pendidikan, sarana pendidikan, sumber belajar, tenaga non kependidikan.

a. Aspek Perencanaan Pendidikan 1. Aspek Kuantitatif

(40)

keseluruhan proyeksi bersumber dari instansi yang berwenang. Perumusan kebijakan arus peserta didik biasanya ditentukan oleh kebijakan politik. Misalnya untuk kurun waktu tertentu sebesar berapa persen anak usia tertentu harus mengikuti pendidikan. Di dalam proses perumusan kebijakan arus peserta didik selain kebijaksanaan politik perlu dikembangkan berbagai alternatif dengan memperhatikan faktor eksternal dan internal dalam pendidikan. Faktor internal perlu dikaji antara lain jumlah satuan, peserta didik, tenaga kependidikan pada semua satuan, jenjang dan jenis pendidikan, susunan program pengajaran, jumlah angka partisipasi murni dan partisipasi kasar penduduk SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Faktor eksternal yaitu berkenaan dengan pertumbuhan penduduk, letak geografis,, infrastruktur, dan trasnportasi kurang memadai, dan kemampuna ekonomi orang tua dan masyarakat perlu diperhatikan.

2. Aspek Kualitatif

Merencanakan kualitas pendidikan berarti merencanakan kemampuan berfikir, mengubah sikap, dan meningkatkan keterampilan peserta didik. Suatu pendidikan dikatakan berkualitas apabila Proses belajar mengajar berjalan efektif, peserta didik mengalami proses pembelajaran bermakna ditunjang oleh sumber daya pendidikan dan lingkungan yang kondusif. Dalam proses pendidikan peserta didik menunjukkan tingkat kemampuan prestasi belajar, mengetahui sesuatu dan dapat melakukan sesuatu secara fungsional serta hasil pendidikan sesuai dengan tuntutan lingkungannya.

3. Aspek Relevansi

(41)

Aspek relevansi menyusun rencana pendidikan yang dilakukan pada hari ini sebenarnya hasilnya diperuntukkan untuk masa depan. Kaitan masa kini dan masa depan dalam perencanaan aspek relevansi merupakan pangkal tolak perencanaan aspek relevansi. Karakteristik perencanaan aspek relevansi harus bersifat futuristik. Konsep relevansi sebenarnya lebih mendasari konsep peningkatan peningkatan mutu pendidikan. 4. Aspek Efisiensi

Dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu edfisiensi internal dan eksternal sistem pendidikan. Fisiensi internal ditandai oleh tinggi rendahnya angka putus sekolah dan angka mengulang kelas. Efisiensi eksternal merujuk kepada efektivitas manajemen sistem pendidikan secara keseluruhan yang disebabkan oleh kelambanan dalam manajemen sistem pendidikan. Kelembanan ini disebabkan oleh profesionalisme, mekanisme proses pengambilan keputusan dsb. Untuk mengefesienkan dan mengefektifkan sistem pendidikan diperlukan rencana terpadu yang mengaitkan masukan instrumental dan masukan lingkungan dalam proses perencanaan peningkatan efesiensi manajemn sistem pendidikan guna menghasilkan lulusan bermutu dan relevan dengan berbagai kebutuhan melalui pendayagunaan sumber daya pendidikan secra efisien.

e. Pendekatan Kebutuhan Sosial (Social Demand)

(42)

karena itu tuntutan sosial ini merupakan tekanan keras bagi penyelenggara pendidikan. Dengan melihat karakteristik tuntutan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan ini lebih menekankan pemerataan kesempatan atau kuantitatif, dibandingkan aspek kualitatif. Contoh dari penerapan pendekatan ini adalah “ Wajib Belajar Sekolah Dasar “.

Ada tiga kelemahan pendekatan kebutuhan social, yaitu:

1. Pendekatan ini mengabaikan masalah alokasi dalam skala nasional, dan secara samar tidak mempermasalahkan besarnya sumber daya pendidikan yang dibutuhkan karena beranggapan bahwa penggunaan sumber daya pendidikan yang terbaik adalah untuk segenap rakyat Indonesia.

2. Pendekatan ini mengabaikan kebutuhan perencanaan ketenagakerjaan yang diperlukan masyarakat sehingga dapat menghasilakan lulusan yang sebenarnya kurang dibutuhkan oleh masyarakat.

3. Pendekatan ini cenderung hanya menjawab pemerataan pendidikan saja sehingga kuantitas lulusan lebih diutamakan ketimbang kualitasnya

f. Pendekatan Efisiensi Biaya

(43)

mendapatkan hasil pendidikan yang seoptimal mungkin, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Kelemahan pendekatan ini adalah pengelolaan dana pendidikan terutama di Negara berkembang masih sangat lemah.

BAB II PEMBAHASAN

1. Asal Usul Perencanaan Pendidikan

(44)

di Indonesia. Seperti yang telah diceritakan oleh Xenephon pada bukunya yang berjudul Lacademonian Constitution bahwa sekitar 2500 tahun yang lalu orang orang spartan merencanakan dengan baik pendidikan mereka untuk tujuan militer, sosial, dan ekonomi. Tokoh lainnya yaitu Plato yang mengusulkan suatu rencana pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan pemimpin dan kebutuhan politih Athena. Perencanaan Pendidikan juga telah mulai dirancang pada Jaman Dinasti Han di China dan orang orang Inca di Peru dengan tujuan untuk memajukan masyarakat mereka.

Berbeda dengan pendidikan saat ini yang mulai teratur dan bahkan sangat baik di berbagai negara maju, pendidikan jaman dulu dianggap kasar dan belum terintegrasi dengan baik. Tidak sedikit pula perencanaan pendidikannya bersifat tidak dinamis, tidak mengalami kemajuan setiap tahunnya. Namun, sebuah usaha jangan dilihat dari satu tahun atau dua tahun saja tapi lihatlah menuju taun tahun selanjutnya. Seperti di Uni Soviet, mereka membutuhkan waktu 50 tahun untuk mengubah penduduknya yang semula dua pertiga buta huruf menjadi salah satu negara di dunia yang paling maju pendidikannya. Selain orientasi ideologinya, pengalaman perencanaan Soviet ini menjadi pelajaran yang berguna bagi negara negara lain.

(45)

pendidikan tersebut. Sekolah pertama di Indonesia di buka di Ambon dan diperuntukkan bagi anak anak Indonesia, karena dulu belum ada anak Belanda. Namun, pendirian sekolah tersebut mempunyai maksud lain, yaitu menyingkirkan agama katolik dan menyebar luaskan agama protestan. Pada jaman itu, sekolah cepat bertambah. Pada tahun 1963 terdapat 16 sekolah di Ambon, dan pada tahun 1964 meningkat menjadi 33 sekolah dengan 1300 murid.

Sekolah pertama di Jakarta dibuka pada tahun 1630 untuk mendidik anak anak Belanda dan Jawa agar menjadi pekerja yang kompeten pada V.O.C. Dari 3 sekolah pada tahun 1636 menjadi 34 seklah pada tahun 1706 dengan 4873 murid. Memang semula, pada masa Belanda, pendidikan digunakan untuk menyebarkan agama protestan, namun seiring berjalannya waktu dan berkembangnya jaman pendidikan dijadikan jalan untuk membentuk pekerja dan generasi yang unggul dan dapat memajukan bangsa. Dulu juga belum ada kurikulum seperti sekarang ini, seperti yang saya jelaskan di atas tadi, pendidikan digunakan untuk menyebarkan agama protestan, dikarenakan sekolahnya diadakan di gereja dan di isi dengan kegiatan bernyanyi, menulis, menggambar, dan keagamaan. Namun, setelah agama katholik habis dilenyapkan Belanda, Belanda sudah tidak berminat untuk mempengaruhi orang Islam menjadi Kristen, dan mungkin saat itulah pendidikan berada dijalur yang benar dan tidak digunakan untuk menyebarkan agama protestan lagi.

BAB IV PENUTUP

(46)

1. Asal usul perencanaan pendidikan di dunia masa kini berasal dari zaman kuno yang tidak terputus putus. Pada zaman dahulu orang orang melakukan perencanaan pendidikan mereka dengan baik untuk tujuan militer, sosial, dan ekonomi. Sedangkan asal usul perencanaan pendidikan di Indonesia bukanlah hasil dari suatu perencanaan menyeluruh melainkan langkah demi langkah melalui eksperimentasi dan didorong olehh kebutuhan praktis dibawah pengaruh kondisi sosial, ekonomi, dan politik di Nederland maupun Hindia-Belanda

2. Aliran-aliaran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunanya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Aliran di Indonesia juga muncul gagasan tentang pendidikan, yang dapat dikategorikan sebagai aliran pendidikan yakni : taman siswa dan INS Kayu Tanam.

(47)

Pendidikan tidak hanya terpengaruh oleh tekanan ekonomi dan sosial, tetapi juga memiliki perkembangan sendiri secara otonom. Pada perencanaan pendidikan modern dan semakin meningkatnya perkembangan teknologi dan informasi, mengakibatkan teori pembelajaran behavioristik dipandang kurang cocok. Oleh karena itu, munculah sebuah teori pembelajaran konstruktivisme untuk menggantikan sistem pembelajaran kontemporer. Teori kontruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja, melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing individu. Sehingga, keaktifan peserta didik sangat menentukan dalam mengembangkan pengetahuannya. 4. Untuk mencapai setiap tujuan dalam kegiatan pendidikan, kita perlu

menyusun rencana dan strategi yang baik dan matang. Untuk itu kita harus berpegang pada prinsip-prinsip perencanaan pendidikan baik dalam proses penyusunannya maupun dalam proses implementasinya. Prinsip-prinsip perencanaan pendidikan disusun sebagai acuan agar pembangunan manusia seutuhnya yang menjadi tekad pemerintah dapat tercapai dengan maksimal sesuai dengan yang diharapkan.

5. Terdapat 6 jenis pendekatan perencanaan pendidikan, antara lain : a. Pendekatan Permintaan Masyarakat

b. Pendekatan Berdasarkan Kebutuhan Tenaga Kerja c. Pendekatan Nilai Balik Dalam Perencanaan Pendidikan d. Pendekatan Sistem Terpadu

e. Pendekatan Kebutuhan Sosial (Social Demand) f. Pendekatan Efisiensi Biaya

DAFTAR PUSTAKA

(48)

Coombs, Philip H. 1982. Apakah Perencanaan Pendidikan Itu. Jakarta Bhratara Karya Aksara dan UNESCO.

Vembriarto. 1975. Pengantar Perencanaan Pendidikan. Yogyakarta Yayasan Pendidikan Paramitha.

Frina, Methia. 2012. Prinsip-prinsip Perencanaan Pendidikan.

http://methiafarina.blogspot.co.id/2012/05/prinsip-prinsip-perencanaan-pendidikan.html ( di akses tanggal 14 September 2015)

Soenarya, Endang, 2000. Teori Perencanaan Pendidikan. Adicita Karya Musa : Yogyakarta.

Sa’ud, Syamsudin. Abin. 2005. Perencanaan Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Referensi

Dokumen terkait

(a) Mengadakan pendataan kondisi sosial ekonomi keluarga peserta didik dan sumber daya pendidikan yang ada dalam masyarakat; (b) Memberikan masukan dan

Pendidikan adalah dasar utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan merupakan usaha untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan,

 proses pendidikan dan pembelajaran proses pendidikan dan pembelajaran  pemanfaatan sumber daya pemanfaatan sumber daya..  pemerataan kesempatan belajar bagi pemerataan

Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan disekitarnya, utamanya berbagai sumber

Secara garis besar, pendidikan sebagai system mencakup komponen atau sub-sistem ; (a) masukan ( input ): anak didik, pendidik (guru), materi pendidikan, metode,

Mengingat bahwa SMK Negeri 49 Jakarta berusaha untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu dan ditunjang dengan aktivitas proses belajar mengajar yang

Tujuan evaluasi pendidikan adalah mengetahui kadar pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak peserta didik untuk mengingat kembali

20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembalajaran agar peserta didik secara aktif