Perencanaan Strategik
2. Bentuk-bentuk Perencanaan Pendidikan
5.16. Perencanaan Pendidikan dalam Konteks Kewilayahan
Otonomi daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Titik berat otonomi daerah dalam undang-undang dilaksanakan dengan menyerahkan sebagian besar urusan pemerintahan oleh pemerintahan dan atau Pemerintah Propinsis (Dati I) kepada Pemerintah Kabupaten/Kota (Dati II) secara bertahap dan berkelan-jutan. Penyelenggaraan pemerintahan di daerah didasarkan pada asas desen-tralisasi, dekondesen-tralisasi, dan asas tugas pembantuan.
Sasaran desentralisasi ditujukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan posisi geografis Indonesia yang strategis, memiliki kebhinekaan sumber daya alam serta memanfaatkan perubahan struktural yang tengah terjadi dalam sistem kehidupan dunia yang tengah berlangsung dewasa ini. Desentralisasi manajemen pembangunan dipandnag lebih baik dibandingkan pembangunan yang sentralis, yang banyak menghadapi hambatan dalam pelaksanaannya, dan hanya dapat dilaksanakan secara baik oleh daerah-daerah yang memenu-hi persyaratan tertentu.
Dengan menganut strategi pembangunan dari bawah, maka peranan pemerintah perlu dititikberatkan pada aspek-aspek yang strategis dan memberi peluang kepada masyarakat untuk mengembangkan kemampuan-nya. Sistem yang kita anut dengan sendiri adalah “sistem terbuka” yang lebih
responsif terhadap dinamika keadaan lingkungan sekitarnya” (Moerdiono, dalam Somantri, 1999).
Sedangkan Mubyarto (2000) mengemukakan bahwa “setiap daerah sesungguhnya mempunyai keistimewaan yang dapat dikenali dan dikem-bangkan bagi keuntungan daerah yang bersangkutan”. Kata kuncinya adalah partisipasi yang kompak dari seluruh masyarakat di daerah. Apabila partisi-pasi masyrakat itu dapat dikembangkan dari bawah, maka manajemen pembangunannya jauh lebih mudah pada semua tingkatannya, dengan demikian secara otomatis akan terjadi desentralisasi dalam pelaksanaan manajemen pembangunan.
Urusan pemerintahan yang dapat diserahkan adalah semua urusan pemerintahan, kecuali: (a) Bidang Hankam; (b) Peradilan; (c) Luar Negeri;
(d) Moneter; (e) Agama; dan (f) Sebagian urusan pemerintahan umum yang menjadi wewenang, tugas dan kewajiban kepala wilayah; serta (g) Urusan Pemerintahan lainnya yang secara nasional lebih berdayaguna dan berhasilguna jika tetap diurus oleh pemerintah. Oleh karena itu, penyeleng-garaan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan masyarakat dalam bidang pendidikan termasuk dalam urusan yang dapat diserahkan kepada pemerintah daerah.
Di negara-negara dengan sistem pemerintahan yang sentralistik, dengan pemerintah hasil pemeliharaan masyoritas, participatory planning tidak berhasil untuk menggeser quantitative-authorze planning. Sedangkan di negara yang sistem pemerintahannya menganut sistem desentralisasi, participatory planning mendapat tempat yang baik terutama pada tingkat lokal (Gaffar, 2005).
Perencanaan pendidikan harus berorientasi kepada sistem perencaan yang lebih terbuka dan fleksibel. Untuk itu diperlukan adanya pergeseran dari perencanaan yang birokratik ke arah perencanaan partisipatoris, yang lebih
Bab V Perencanaan Strategik 163
diarahkan pada kebutuhan riil manusia. Sentralisasi administrasi pendidikan pada kantor wilayah yang luas merupakan hal yang tidak tepat dan tidak respontif bagi pemenuhan kebutuhan peserta didik, guru-guru dan kepala sekolah, juga akan mengurangi daya kritis persatuan guru, orang tua dan kepala sekolah terhadap kegagalan sekolah .
5.17. Keterkaitan Konsep Strategic Management & Strategic Planning 1. Perencanaan dan Manajemen Strategik
Perkembangan yang terjadi di segala aspek kehidupan cenderung menimbulkan permasalahan dan tantangan-tantangan baru, yang variasi dan intensitasnya cenderung meningkat. Keadaan itu akan membawa dampak pada luas dan bervariasinya tugas-tugas pengelolaan pendidikan. Praktis pengelolaan pendidikan dewasa ini sudah tidak memadai lagi untuk menangani perkembangan yang ada, apalagi untuk menjangkau jauh ke depan sesuai dengan tuntutan terhadap peranan pendidikan yang sesung-guhnya, maka kebutuhan akan aplikasi konsep Strategic Management &
Strategic Planning dalam pengelolaan pendidikan amat diperlukan. Aplikasi konsep tersebut diharapkan dapat mengurangi adanya stagnasi bagi akselerasi pembangunan pendidikan.
Tiga langkah utama pendekatan strategis dalam konteks manajemen, meliputi: (1) Strategic Planning, sebagai dokumen formal; (2) Strategic Thinking, sebagai kerangkan dasar untuk menilai kebutuhan, merumuskan tujuan dan hasil-hasil yang ingin dicapai secara berkesinambungan (Rowe, 1993). Strategic Planning merujuk pada adanya keterkaitan antara internal strenghts dengan external needs. Dalam hal ini, strategi mengandung unsur analisis kebutuhan, proyeksi, peramalan, pertimbangan ekonomis dan finansial, serta analisis terhadap rencana tindakan yang lebih rinci.
Dikatakan bahwa suatu strategi harus ditangani dengan baik, sebab “…
it is not only knowing the competitive environment, allocating resources, restructuring organization, and implementing plans, but it olso involves controling the management process” (Porter, 1987; Rowe, 1993).
Gambar 5.5. A Framework for Strategic Management Sumber: Rowe, 1993: 1
Kerangka kerja strategic management yang dikemukakan Rowe (1993) terdiri atas empat komponen utama yaitu: strategic planning, organizational structure, strategic control, dan resource requirments seperti dilukiskan pada gambar 5.5. di atas, Rowe menyatakan bahwa strategic managament merupakan suatu proses dalam mengelola keempat gugus komponen tersebut.
Dari keempat gugus komponen yang harus dikelola tersebut aktivitas kuncinya terletak pada strategic planning, sebab pada fase ini dilakukan analisis terhadap tantangan dan peluang eksterla, serta kekuatan dan
Strategic Planning
Strategic Management
Strategic Control
Organizational Structures Resources
Management Resources
Avallability Organnizational
Culture External
Environment
Internal Environment
Bab V Perencanaan Strategik 165
kelemahan internal organisasi, atau lebih populer dengan sebutan analis SWOT. Strategic management berfungsi untuk mengarahkan operasi internal organisasi berupa alokasi sumberdaya manusia, fisik dan keuangan, untuk mencapai interaksi optimal dengan lingkungan eksternalnya. Sebagaimana dikemukakan Rowe bahwa
“Strategic management is the proses of managing of four factors to achieve a strategy. The function of strategic management is to align internal operation of the organization, including te alocation of human physial and financial resources, to achieve optimal interactions with external environment” (Rowe, dkk : 1990 : 12).
Lima komponen tugas yang saling berkaitan dalam proses strategic management adalah (1) Develoving a vision and a mission, (2) Seting objectivies; (3) Crafing a strategy; (4) Strategy implementation ad execution;
(5) Evaluating performance reviewing the situations, and iniating corrective adjusment (Thomson, 1993 : 2 – 11).
Berkaitan dengan perencanaan strategis, Rowe, dkk (1993) menge-mukakan bahwa:
“Strategic planning is the key link between strategic management and the organization‟ external environment. It is the one factor that requires a careful analysis of the external enviroment. Having identified external threath and opportuities, strategic planner analyze availabel resources and organizational strenghs and weaknesses. The next step is to formulate alternative strategies that take adventage of external opportunities and internal strengths. Selected alternative are then made into plans of action having specific resource and organizational (structure and operational) requirments (Rowe, 1993 ; 12).
Adapun model strategic – planning – process yang dikembangkan Rowe, dkk. dilukiskan sebagai berikut:
Gambar 5.6. A Strategic Planning Process Model Sumber : Rowe 1993
Dalam dunia pendidikan, hasil situation audit harus ditindaklanjuti dengan penggunaan teknik analisis SWOT, meliputi aktivitas evaluasi terhadap kekuatan dan kelemahan internal sistem pendidikan serta peluang dan ancaman yang berasal dari luar sistem pendidikan. Situation audit didasarkan pada nilai-nilai, dukungan, dan kemampuan yang ada. Dengan demikian akan dapat diketahui kekuatan dan kelemahan, serta kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi dalam penyelenggaraan pendidikan.
SITUATION
Bab V Perencanaan Strategik 167
Secara konseptual, Steiner (1979) mengembangkan salah satu model perencanaan strategis, yaitu substansi premis perencanaan terkandung dalam empat kontak, yaitu berisi akumulasi informasi hasil situation audit atau bagian dari perencanaan berupa (corporate appraisal, position audit, assessment of current position, and planning premises). Dalam hal ini perlu dipertimbangkan (1) harapan-harapan masyarakat di luar sistem; (2) harapan manajer dan staf organisasi; (3) data base yang berisi informasi tentang past performance, the current situation, and the future; (4) melakukan analisis dengan menggunakan teknik WOTS UP analysis (Steinner, 1979: 16 – 19).
Tahap selanjutnya adalah memformulasikan master strategis dan program strategis; master strategis meliputi kegiatan pengembangan basic missions, purposes, objectives, and policies; sedangkan program strategis menyangkut pengadaan penggunaan dan pengaturan sumber-sumber untuk kepentingan suatu proyek. Bidang kajiannya meliputi semua aktivitas organisasi, menurut Steinner, dapat berupa
“profits, capital expenditures, market share, organization, pricing, production, marketing, finance, public relations, personel, technological capabilities, product improvement, research and development, legal matter, management selection and training, political activities, and so on” (Steinner, 1979 : 20)
Program strategis tersebut selanjutnya dapat dijabarkan ke dalam program jangka menengah dan program jangka pendek, kemudian dilanjutkan dengan implementasi dan evaluasi rencana. Lebih lanjut, Steinner (1979: 16-19) mengembangkan model strategic planning dengan berorientasi pada gap analisis, sebagaimana dilukiskan pada gambar 5.7 di bawah ini.
Dengan pola gap analisis ini ketajaman analisis SWOT amat menentukan keberhasilan dalam merumuskan perencanaan strategis, sehingga rencana yang dibuat cukup rasional dan aplikatif bagi pencapaian sasaran-sasaran strategis dalam bidang pendidikan.