• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERENCANAAN PERKERASAN BARU TIPE FLEXIBLE PAVEMENT. .42

Dalam dokumen Lap Akhir Jembatan (Halaman 51-67)

BAB 2 METODOLOGI

2.7. PERENCANAAN TEKNIS

2.7.2. PERENCANAAN PERKERASAN BARU TIPE FLEXIBLE PAVEMENT. .42

menentukan tebal lapis perkerasan yang mempunyai sifat-sifat mekanis yang telah ditetapkan sedemikian sehingga menjamin bahwa tegangan-tegangan dan regangan-regangan pada semua tingkat yang terjadi karena beban lalu-lintas, pada batas-batas yang dapat ditahan dengan aman oleh bahan tersebut.

Ada enam langkah utama yang harus diikuti dalam perencanaan perkerasan jalan baru, yaitu :

1 Tetapkan kriteria perencanaan yang akan digunakan

2 Tetapkan / perkiraan jumlah lalu-lintas pada akhir umur rencana berdasarkan beban sumbu standar yang akan melewati jalan tersebut.

3 Hitung modulus resilen efektif tanah dasar, berdasarkan nilai CBR yang didapat dari DCP test

4 Tentukan Structural Number Rencana berdasarkan grafik atau perhitungan.

5 Tentukan Structural Number tiap – tiap lapisan berdasarkan modulus resilen lapisan dibawahnya dengan menggunakan grafik atau perhitungan.

6 Hitung tebal perkerasan tiap lapisan berdasarkan nilai koefisien kekuatan relatif dan nilai structural number tiap lapisan.

Standar yang digunakan dalam desain perkerasan adalah Pedoman Perencanaan Tebal Perkerasan Lentur (Pt-01-2002-B). Adapun parameter-parameter sebagai landasan perencanaan perencanaan tebal perkerasan lentur adalah sebagai berikut:

Umur Rencana

Jumlah waktu dalam tahun dihitung sejak jalan tersebut mulai dibuka sampai saat diperlukan perbaikan berat atau dianggap perlu untuk diberi lapisan permukaan yang baru.

Angka Ekivalen (E)

Angka yang menyatakan perbandingan tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh suatu lintasan beban sumbu tunggal kendaraan

terhadap tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh satu lintasan beban standar sumbu tunggal seberat 8,16 ton (18.000 lbs).

Lalu Lintas pada Lajur Rencana (w18)

Lalu lintas pada lajur rencana diberikan dalam kumulatif beban sumbu standar selama umur rencana, yang dapat dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut :

w18 = D0 x DL x w18

Dimana : D0 = Faktor distribusi arah

DL = Faktor distribusi lajur

w18 = Beban gandar standar kumulatif untuk dua

arah

Pada umumnya D0 diambil 0.5, sementara faktor distribusi lajur dapat dilihat pada tabel 2.4. Faktor Distribusi Lajur

Jumlah lajur per

arah % beban gandar standardalam lajur rencana

1 100

2 80 – 100

3 60 – 80

4 50 - 75

Tabel 2.4. Faktor Distribusi Lajur

Reliabilitas (R)

Merupakan upaya untuk menyertakan derajat kepastian ke dalam proses perencanaan untuk menjamin bermacam – macam alternatif perencanaan dapat bertahan selama selang waktu yang direncanakan. Rekomendasi tingkat reliabilitas untuk bermacam – macam klasifikasi jalan dapat dilihat pada tabel 2.5.

Klasifikasi Jalan Rekomendasi Tingkat Reliabilitas

Perkotaan Antar Kota

Bebas Hambatan 85 – 99.9 80 – 99.9

Kolektor 80 – 95 75 – 95

Lokal 50 – 90 50 - 80

Tabel 2.5. Tingkat Reliabilitas

Standar Deviasi Keseluruhan (So)

Deviasi Standar (So) harus dipilih yang mewakili kondisi setempat. Rentang nilai So adalah 0,40 – 0,50

Penyimpangan Normal Standar (Zo)

Nilai Penyimpangan Normal Standar berdasarkan Reliabilitas dapat dilihat pada tabel 2.6.

Koefisien Drainase

Kualitas drainase pada perkerasan lentur diperhitungkan dalam perencanaan dengan menggunakan koefisien kekuatan relatif yang dimodifikasi. Faktor untuk memodifikasi koefisien drainase ini adalah koefisien drainase (m). Tabel 2.7. memperlihatkan nilai koefisien drainase yang merupakan fungsi dari kualitas drainase dan persen waktu selama setahun struktur perkerasan akan dipengaruhi oleh kadar air yang mendekati jenuh.

R (%) ZR 50 - 0,000 60 - 0,253 70 - 0,524 75 - 0,674 80 - 0,841 85 - 1,037 90 - 1,282 91 - 1,340 92 - 1,405 93 - 1,476 94 - 1,555 95 - 1,645 96 - 1,751 97 - 1,881 98 - 2,054 99 - 2,327 99,9 - 3,090 99,99 - 3,750

Tabel 2.6. Nilai Penyimpangan Normal Standar

Kualitas Drainase

Persen waktu perkerasan dipengaruhi oleh Kadar air yang mendekati jenuh

< 1 % 1 – 5 % 5 – 25 % > 25 % Excellent 1.40 –1.30 1.35 –1.30 1.30 –1.20 1.20 Good 1.35 –1.25 1.25 –1.15 1.15 –1.00 1.00 Fair 1.25 –1.15 1.15 –1.05 1.00 –0.80 0.80 Poor 1.15 –1.05 1.05 –0.80 0.80 –0.60 0.60 Very poor 1.05 –0.95 0.80 –0.75 0.60 –0.40 0.40

Tabel 2.7. Koefisien Drainase

Indeks Permukaan (IP)

Suatu angka yang dipergunakan untuk menyatakan kerataan / kehalusan serta kekokohan permukaan jalan yang bertalian dengan tingkat pelayanan bagi lalu-lintas yang lewat. Indeks

permukaan pada awal umur rencana (IPo) berdasarkan jenis lapis permukaan dapat dilihat pada tabel 2.8. Sementara Indeks permukaan pada akhir umum rencana berdasarkan klasifikasi jalan dapat dilihat pada tabel 2.9.

JENIS LAPIS PERMUKAAN IPO ROUGHNESS MM/KM Laston ≥ 4 ≤ 1000 3.9 - 3.5 > 1000 Lasbutag 3.9 - 3.5 ≤ 2000 3.4 - 3.0 > 2000 Lapen 3.4 - 3.0 ≤ 3000 2.9 - 2.5 > 3000

Tabel 2.8. Indeks Permukaan Awal

ESAL KLASIFIKASI JALAN

LOKAL KOLEKTOR ARTERI TOL

< 10 1.0 - 1.5 1.5 1.5 – 2.0

-10 - -100 1.5 1.5 - 2.0 2.0

100

-1000 1.5 - 2.0 2.0 2.0 – 2.5

-> 1000 - 2.0 - 2.5 2.5 2.5

Tabel 2.9. Indeks Permukaan Akhir

Modulus Resilien (Mr)

Modulus Resilien tanah dasar dapat diperkirakan dari nilai CBR standar dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Mr (psi) = 1500 x CBR

Koefisien Kekuatan Relatif (a)

Berdasarkan jenis dan fungsi material lapis perkerasan, estimasi koefisien kekuatan relatif dikelompokan kedalam 5 kategori, yaitu

: beton aspal, lapis pondasi granular, lapis pondasi bawah

granular, cement treated base dan asphalt treated base.

Koefisien Kekuatan Relatif masing – masing lapis perkerasan dapat dilihat pada tabel 2.10.

Jenis lapisan NilaiCBR

Nilai Marshal Stability Nilai Modulus Resilien Koef. Kekuatan Relatif

Beton Aspal - - 400.000 psi 0.42

Lapis Pondasi Granular 90% - 29.000 psi 0.14 Lapis Pondasi Bawah Granular 40% - 17.000 psi 0.12 Asphalt Treated Base - 800 kg 160.000 psi 0.30

Tabel 2.10. Koefisien Kekuatan Relatif

2.7.3. PERENCANAAN JEMBATAN

Konsep Detail Perencanaan

Dalam proses ini Konsultan akan menentukan semua kesimpulan hasil survai lapangan dari semua bagian pekerjaan, antara lain menyangkut :

1 Penetapan lokasi jembatan baru berdasarkan peta topografi dan evaluasi hasil survai pendahuluan pada jembatan dengan memperhatikan standar perencanaan yang telah ditetapkan. 15.Untuk realinyemen akan dicantumkan titik pada jarak tiap 50

meter sepanjang as baru, tangen point, SC, CS. dan beberapa titik lainnya yang perlu, rencana bangunan-bangunan drainase akan ditetapkan Konsultan berdasarkan pertim-bangan yang sesuai dengan keadaan setempat.

16.Untuk perhitungan konstruksi pondasi serta bangunan bawah akan disesuaikan dengan hasil-hasil penyelidikan tanah maupun keadaan bahan bangunan. Untuk jumlah serta panjang bentang, akan sesuai dengan keadaan topographi setempat dengan memperhatikan standar bangunan atas yang akan ditentukan oleh Pemberi Tugas.

17.Untuk konstruksi bangunan atas akan digunakan standard Bina Marga yang ditentukan oleh Direktorat Bina Teknik cq. Sub Direktorat Teknik Jembatan dan Bangunan Pelengkap, sehingga dalam hal ini Konsultan tidak menghitung konstruksi bangunan atas.

18.Untuk konstruksi bangunan atas ada beberapa alternatif antara lain : jembatan beton prategang dengan Gelagar I dengan lantai beton komposit atau Gelagar Boks menerus dengan pelaksanaan kantilever. Penentuan jenis bangunan atas akan dikoordinasikan dengan Pemberi Tugas.

Kriteria Perencanaan

Dalam perencanaan teknis jembatan, pihak konsultan perencana menggunakan beberapa kriteria sebagai berikut:

1 Konstruksi bangunan atas yang dipergunakan adalah jembatan beton pratekan tipe gelagar I dengan lantai beton komposit. 2 Beban tetap adalah berat sendiri bangunan atas jembatan dan

berat konstruksi pangkal (abutment) atau pilar termasuk pondasinya. Berat jenis yang dipakai dalam menentukan beban tetap adalah: g) Baja = 7.850,00 kg/m3 h) Beton bertulang = 2.500,00 kg/m3 i) Pasangan batukali = 2.000,00 kg/m3 j) Kayu kelas II = 900,00 kg/m3 k) Beton cyclop = 2.200,00 kg/m3 l) Perkerasan Aspal = 2.200,00 kg/m3

m) Tanah timbunan jalan terdekat = 1.800,00

kg/m3

3 Beban hidup adalah beban/muatan yang bergerak berupa berat kendaraan beserta muatannya dan pejalan kaki pada bagian trotoar jembatan. Pembebanan muatan hidup diasumsi 100% terhadap standar pembebanan dari Bina Marga.

a Muatan garis = 12,0 ton/jalur

q = 2,2 ton/m’, untuk panjang bentang L < 30,0 m.

q = 2,2 – 1,1 (L – 30,0)/60,0 ton/m’, untuk 30,0 < L <

50,0 m.

q = 1,1 (1 + 30,0/L) ton/m’, untuk L > 60,0 m

n) Muatan pada trotoar , q = 100,0 kg/m3

o) Lebar per jalur muatan = 2,75 m

4 Beban kejut merupakan gaya tambahan akibat efek kejut dari muatan bergerak.

Koefisien kejut, K = 1 + 20 / ( 50 + L )

L : panjang bentang

Pengaruh faktor kejut dianggap hanya berpengaruh pada muatan garis saja (beban P)

5 Gaya angin dapat diabaikan mengingat kondisi dan dimensi konstruksi jembatan tidak banyak menerima tekanan angin. 6 Gaya tekanan aliran air adalah hasil perkalian tekanan air

dengan luas bidang pengaruh pada suatu pilar.

AH = kair x V

Dimana : AH : tekanan aliran air

V : kecepatan aliran air

K : koefisien aliran yang tergantung bentuk pilar

sebagai berikut:

bentuk persegi k = 0,075

bentuk bersudut < 30,0 k =

0,025

bentuk bundar k = 0,035

7 Gaya gesekan merupakan gaya akibat gesekan pada tumpuan yang terjadi karena adanya pemuaian dan penyusutan. Gaya gesekan hanya ditinjau akibat beban mati saja dan besarnya koefisien gesekan diasumsi 0,15 sesuai dengan kondisi perletakan bangunan atas pada konstruksi pangkal/pilar.

8 Gaya rem merupakan gaya sekunder yang arah kerjanya searah memanjang jembatan. Besarnya gaya akibat rem diperhitungkan sebesar 5% dari muatan hidup (D) tanpa kejut. Letak titik

tangkap gaya rem dianggap berada setinggi 1,80 meter dari permukaan lantai kendaraan.

9 Besarnya koefisien gempa disesuaikan dengan Petunjuk Perencanaan Tahan Gempa untuk Jembatan Jalan Raya. Gaya gempa hanya berlaku untuk jembatan permanen, dengan syarat-syarat:

 bangunan atas tidak monolit dengan

bangunan bawah

 tinggi pilar kurang dari 30,0 meter

 pilar terbuat dari struktur beton bertulang

atau baja

Struktur jembatan akan memenuhi ke-3 persyaratan di atas. Gaya horisontal dianggap sebagai gaya yang mempunyai dua arah horisontal (searah dan tegak lurus dari jembatan). Gaya gempa dihitung dengan rumus:

G = Kh x M

Dimana :

G : gaya gempa pada suatu bagian struktur yang

ditinjau (kg)

Kh : koefisien gempa horisontal

M : berat bagian struktur yang didukung oleh bagian struktur yang ditinjau

Pada perencanaan struktur atau bagian struktur, gaya gempa dianggap bekerja pada titik berat struktur yang ditinjau. Pada perencanaan bangunan bawah, gaya gempa akibat bangunan atas pada titik berat konstruksi untuk gaya gempa melintang jembatan dan pada tepi bawah perletakan untuk gaya gempa membujur jembatan. Koefisien gempa dihitung dengan rumus:

Kh = Kr x ft x p x b

Dimana :

Kh : koefisien gempa horisontal

Kr : koefisien respon gabungan yang diperoleh

menurut grafik Kr - Tg

p : faktor kepentingan, jembatan penting p = 1,0

b : faktor bahan, beton bertulang b = 1,0

Koefisien respon gabungan diperoleh dari grafik Kr - Tg, waktu getar alami struktur dihitung dengan rumus:

Dimana : Mp : berat bagian bangunan bawah yang di atas

poer (ton)

Ma : berat bagian bangunan atas yang didukung oleh bangian bangunan bawah yang ditinjau (ton)

E : modulus elastis bangunan bawah (ton/m2)

I : momen inertia bangunan bawah pada arah

yang ditinjau (m4). Bila penampang bangunan bawah berubah sesuai tingginya, nilai I diasumsi nilai rata-ratanya.

g : gravitasi (9,8 m/det)

h : tinggi bangunan bawah (m)

Hubungan Kr dan Tg dipengaruhi oleh keadaan tanah setempat. Keadaan tanah setempat dianggap:

 Tanah lunak, bila kedalaman tanah keras lebih dari 25 m.

 Tanah sedang, bila kedalaman tanah keras

antara 3 sampai 25 m.

 Tanah keras, bila kedalaman tanah keras kurang dari 3 m.

Faktor ketinggian massa dihitung dengan rumus:

ft : 1,0 bila tinggi massa kurang dan tidak lebih dari 10,0 m

diukur dari permukaan poer

ft : 1 + (t – 10) / 100 bila tinggi massa lebih dari 10,0 m

diukur dari permukaan poer

Pembagian Kh sepanjang tinggi bangunan bawah dapat dilihat pada gambar 2.6.

Lokasi jembatan berada dalam wilayah 3 dan 4 dalam Peta Wilayah Gempa untuk Indonesia. Dalam perencanaan jembatan ini konsultan akan menggunakan koefisien yang berada dalam wilayah 3 sebagai dasar perencanaan.

30,0 m 1,2Kh

20,0 m 1,1Kh

10,0 m 1,0Kh

0 ,0 m 1,0Kh

- 10,0 m 1,0Kh

Gambar 2.7. Sketsa Distribusi Koefisien Gempa

Koefisien Tekanan Tanah dan Parameter Tanah

Penetapan nilai koefisien tekanan tanah menggunakan rumus Coulomb sebagaimana dapat dilihat pada gambar sketsa dibawah ini.

Gambar 2.8. Sketsa Menentukan Koefisien Tekanan Tanah

Ka.p =

jika  = 0,  = 0; maka persamaan menjadi:

Ka.p =

Ka.peq =

jika  = 0,  = 0; maka persamaan menjadi:

Ka.peq =

Dimana : Q : tan-1 e

e : koefisien gempa tanah

Ka : koefisien tekanan tanah aktif

Kp : koefisien tekanan tanah pasif

Ka eq : koefisien tekanan tanah aktif pada saat terjadi gempa

Kp eq : koefisien tekanan tanah pasif pada saat terjadi gempa

Tanah di belakang pangkal abutment merupakan tanah galian setempat yang ditimbun kembali sesudah konstruksi pangkal selesai dengan kondisi dipadatkan, jadi parameter tanahnya diasumsi sebagai berikut:

 = 1.800,0 kg/m3

c = 0

 = 25

Kombinasi Pembebanan

Kombinasi pembebanan yang akan diterapkan adalah sebagai berikut:

1 Kombinasi (I)

M + H + K + Ta + Tu, dengan koefisien 1,0 2 Kombinasi (II) M + Ta + F + Ah + A + SR + Tm, dengan koefisien 1,25 3 Kombinasi (III) M + H + K + Ta + R + F + Tu + A + SR + Tm + S, dengan koefisien 1,4 4 Kombinasi (IV)

M + Tag + G + F + Ahg +Tu, dengan koefisien 1,5 5 Kombinasi (I)

M + PI, dengan koefisien 1,3 6 Kombinasi (VI)

M + H + K + Ta + S + Tb, dengan koefisien 1,5

Dimana : M : muatan mati

H : muatan hidup

K : kejut

Tag : tekanan tanah akibat gempa

Ta : tekanan tanah aktif

Tb : gaya tumbuk

Tu : gaya angkat

Tm : gaya akibat perubahan temperatur

A : muatan angin

R : gaya rem

Ah : aliran arus air sungai dan hanyutan

Ahg : aliran arus air sungai dan hanyutan waktu

gempa

G : gaya akibat gempa

S : Gaya sentrifugal

PI : Gaya pada waktu pelaksanaan

SR : Gaya akibat susut rangkak

Angka Keamanan

Dalam analisa stabilitas bangunan, ditetapkan angka keamanan untuk guling, 1,5 dan untuk geser 1,25.

Tipe Struktur Bawah Jembatan

1 Tipe Kepala / Pilar Jembatan (Abutment/Pier)

Beberapa tipe kepala jembatan – pilar yang akan mendapat perhatian pemanfaatan adalah sebagai berikut :

a Kepala Jembatan-Pilar Berbentuk Block/Gravitasi

Biasanya penggunaan kepala jembatan berbentuk block/gravitasi diterapkan jika tinggi konstruksi pangkal tidak lebih dari 3,00 meter. Tipe pangkal ini bisa memanfaatkan jenis konstruksi pasangan batu kali atau beton dengan tulangan praktis. Dalam pertimbangan kekuatan dan keawetan terhadap beban permanen, beban hidup dan gempa, maka perencanaan lebih condong mengunakan jenis konstruksi beton dengan tulangan praktis.

b Kepala Jembatan–Pilar Berbentuk Kantilever

Pangkal-pilar dengan tinggi lebih dari 3.00 meter lazimnya menggunakan bentuk kantilever dengan pertimbangan akan lebih ekonomis dan pemenuhan tuntutan kebutuhan teknis agar dapat mengurangi berat sendiri pangkal yang akan dibebankan ke bagian pondasi. Pangkal-pilar berbentuk kantilever biasa-nya menggunakan jenis konstruksi beton bertulang

Kadang kala pada suatu lokasi jembatan, pangkal–pilar berbentuk block maupun yang berbentuk kantilever tidak dapat diterapkan, mengingat kondisi lapisan tanah yang kurang mendukung sehingga perlu adanya pengurangan berat sendiri konstruksi kepala jembatan–pilar atau karena muka air tanah tinggi serta debit airnya besar yang mana akan menyulitjkan dalam pelak-sanaan phisik serta butuh biaya besar, misalnya butuh konstruksi Cofferdam, maka pilihan akan jatuh pada kepala jembatan-pilar berbentuk portal. Tipe ini umumnya menggunakan jenis konstruksi beton bertulang atau profil baja. Namun demikian setelah diadakan evaluasi dan pengamatan teknis tipe portal tidak dimanfaatkan, karena kondisi lapangan yang ada tidak membutuhkan. Tingginya konstruksi kepala jembatan-pilar tentunya sangat tergantung dari bentuk palung sungai dan jarak elevasi muka jembatan terhadap elevasi palung sungai. 2 Tipe Pondasi Jembatan

Ada beberapa tipe pondasi yang akan mendapat perhatian pertimbangan penggunaannya, yaitu:

a Pondasi Telapak / Langsung

Pondasi telapak dipergunakan jika lapisan tanah keras (lapisan tanah yang dianggap laik mendukung beban) terletak tidak jauh (dalam) dari permukaan tanah. Dalam perencanaan jembatan pada sungai yang masih aktif, pondasi telapak tidak dianjurkan mengingat untuk menjaga kemungkinan terjadinya pergeseran akibat gerusan.

b Pondasi Sumuran

Jika lapisan tanah pendukung beban berada tidak jauh di bawah dasar sungai, pemilihan pondasi sumuran cukup tepat. Namun demikian panjang/tinggi pondasi sumuran hendaknya dibatasi tidak lebih dari 8,0 m demi menjaga ketelitian kerja dan juga kemudahan kerja.

Jika lapisan tanah pendukung beban merupakan lapisan tidak keras atau lapisan keras berada agak dalam namun daya lekatnya tinggi maka pemilihan penggunaan pondasi Strauze Pile layak dipertimbangkan. Berdasarkan pertimbangan segi praktis dan kemudahan pelaksanaan biasanya Strauze Pile tidak lebih dari 10,0 m.

d Pondasi Tiang Pancang

Pondasi tiang pancang akan menjadi pilihan jika lapisan tanah pendukung beban berada jauh dari dasar sungai dan biasanya lebih dari 8,0 m dan gaya horisontal yang bekerja cukup besar.

e Pondasi Bore Pile

Jika lapisan tanah keras berada pada dasar sungai atau dasar sungai terdiri dari lapisan keras yang sulit digali, maka pondasi bore pile akan menjadi alternatif yang tepat. Umumnya dasar pondasi bore pile diletakkan tidak kurang 3,0 m di bawah dasar sungai.

Metoda Desain Bangunan Bawah Jembatan

Sebelum sampai pada tahap perhitungan, akan ditetapkan terlebih dahulu sistem struktural dengan metoda perencanaannya. Seperti diketahui pada konstruksi yang sejenis, namun berbeda sistem struktural serta metoda perencanaannya, maka cara perhitungannya akan berbeda dan menghasilkan dimensi konstruksi yang berbeda pula. Metoda Perencanaan Konstruksi Kepala Jembatan-Pilar (Abutment-Pier) akan mengikuti prosedur sebagai berikut:

1 Pada awalnya adalah menetapkan panjang dan jumlah bentang bangunan atas serta jenis konstruksinya karena dalam pekerjaan Desain Kepala Jembatan-Pilar Jembatan ini adalah desain konstruksi kepala jembatan-pilar yang menjadi tempat duduknya bangunan atas. Jika panjang atau jumlah serta jenis konstruksi bangunan atas telah ditetapkan, maka selanjutnya adalah menentukan konstruksi pangkal-pilar beserta pondasinya.

2 Bila tinggi konstruksi kepala jembatan (abutment) yang dibutuhkan tidak lebih dari 4,0 m maka akan memakai konstruksi beton tipe blok/gravitasi. Konstruksi berbentuk blok/gravitasi ini cukup sederhana perhitungannya dimana cukup diperhitungkan stabilitas terhadap geser, guling dan kebutuhan stabilitas pondasi-nya. Tipe blok dengan jenis konstruksi pasangan batu kali hanya dapat digunakan pondasi langsung dan sumuran saja. Seandainya dibutuhkan pondasi tiang pancang, hendaknya menggunakan jenis konstruksi beton dengan penulangan praktis saja. Jadi jenis konstruksi beton dapat menggunakan pondasi langsung, sumuran, tiang pancang dan lain-lain. Usahakan tipe blok ini tidak ada bagian yang perlu ditinjau khusus kekuatannya. 3 Bila tinggi konstruksi kepala jembatan (abutment) yang dibutuhkan lebih dari 4,0 m maka akan menggunakan tipe bentuk kantilever dengan jenis konstruksi beton bertulang. Selain tinjauan stabilitas geser, guling dan kebutuhan pondasinya, penampang beton juga akan dianalisis terhadap dimensi penampang beton itu sendiri dan penulangannya.

4 Dasar poer pilar selalu berada dalam lapisan tanah dan berbentuk kantilever. Tubuh/dinding pilar akan dibuat berbentuk portal berupa dua kolom dan apabila aliran sungai sering membawa material batu, maka tubuh pilar dibuat berbentuk dinding penuh.

Dalam dokumen Lap Akhir Jembatan (Halaman 51-67)

Dokumen terkait