a. Perencanaan bangunan terdiri atas: 1) Perencanaan aristektur;
2) Perencanaan konstruksi;
3) Perencanaan utilitas yang disertai dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat Pekerjaan (RKS).
b. Perencanaan bangunan rumah tinggal satu lantai dengan luas kurang dari 50 m² dapat dilakukan oleh orang yang ahli/berpengalaman.
c. Perencanaan bangunan sampai dengan dua lantai dapat dilakukan oleh orang yang ahli yang telah mendapatkan surat Ijin bekerja dari Bupati.
d. Perencanaan bangunan lebih dari dua lantai atau bangunan umum, atau bangunan khusus harus dilakukan oleh badan hukum yang telah mendapat kualifikasi sesuai bidang dan nilai bangunan.
e. Perencana bertanggung jawab bahwa bangunan yang direncanakan telah memenuhi persyaratan teknis dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f. Ketentuan point (b), (c), (d), dan (e) tidak berlaku bagi perencanaan yang meliputi : 1) Bangunan yang sifatnya sementara dengan syarat bahwa luas dan tingginya
tidak bertentangan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh dinas; 2) Pekerjaan pemeliharaan/perbaikan bangunan kecuali bangunan yang
dilestarikan, antara lain:
• memperbaiki bangunan dengan tidak merubah konstruksi dan luas lantai bangunan;
• pekerjaan memplester, memperbaiki retak bangunan dan memperbaiki lapis lantai bangunan;
• memperbaiki penutup atap tanpa mengubah konstruksinya; • memperbaiki lubang cahaya/udara tidak lebih dari 1m²; • membuat pemisah halaman tanpa konstruksi;
• memperbaiki langit-langit tanpa mengubah jaringan lain.
g. Pengesahan rencana teknis bangunan gedung untuk kepentingan umum ditetapkan oleh Pemerintah Daerah setelah mendapat pertimbangan teknis dari tim ahli bangunan.
h. Pengesahan rencana teknis bangunan gedung fungsi khusus ditetapkan oleh Pemerintah setelah mendapat pertimbangan teknis Pemerintah Daerah dan tim ahli bangunan.
i. Perancangan dan perencanaan bangunan harus dilakukan oleh ahli yang memiliki surat ijin bekerja perencana sesuai bidangnya masing-masing, yaitu meliputi:
1) site plandanlansekap;
2) perancang arsitektur bangunan; 3) perancang struktur bangunan;
4) perencana instalasi dan perlengkapan bangunan; 5) geologi tata lingkungan.
j. Gambar rancangan dan rencana bangunan terdiri atas: 1) gambarsite plan(tata letak bangunan dan tanaman) 2) gambar rancangan arsitektur;
3) gambar dan perhitungan struktur;
4) gambar dan perhitungan instalasi dan perlengkapan bangunan; 5) gambar dan perhitungan lain yang ditetapkan.
k. Gambar dan perhitungan struktur, instalasi dan perlengkapan bangunan harus sesuai dan tidak menyimpang dari gambar rancangan arsitektur.
l. Rencana penggunaan bahan finishing, interior atau eksterior harus jelas letak, bentuk dan ukurannya sesuai dengan petunjuk teknis dinas.
m. Dalam perencanaan suatu bangunan gedung atau lingkungan bangunan gedung, harus dibuat perencanaan tapak menyeluruh yang mencakup rencana tata letak bangunan gedung, rencana sirkulasi kendaraan, orang dan barang, pola parkir, pola penghijauan, ruang terbuka, sarana dan prasarana lingkungan, dengan memperhatikan keserasian terhadap lingkungan dan sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan dan Peraturan Perundangan yang berlaku.
n. Tata letak bangunan gedung di dalam suatu tapak harus memenuhi ketentuan tentang jarak bebas, dengan memperhatikan jenis peruntukan dan ketinggian bangunan gedung, kondisi fisik (kemiringan lahan), zonasi (blok plan), pola sirkulasi dan garis koordinasi antar bangunan gedung sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan dan Peraturan Perundangan yang berlaku.
o. Dalam setiap perancangan dan perencanaan bangunan, pemilik bangunan harus menunjuk ahli.
p. Apabila terjadinya penggantian ahli dalam perancangan dan atau perencanaan bangunan, pemilik bangunan wajib memberitahukan secara tertulis kepada dinas. 2. Pelaksanaan Konstruksi
a.
Pelaksanaan kegiatan membangun wajib mengikuti persyaratan yang tercantum dalam Ijin Mendirikan Bangunan.b.
Dalam pelaksanaan kegiatan membangun wajib dijaga keamanan, keselamatan fisik bangunan dan keamanan lingkungan.c.
Tata cara dan persyaratan pelaksanaan kegiatan membangun ditetapkan oleh Bupati.d.
Pada pelaksanaan pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus harus dilaksanakan oleh tenaga ahli sesuai bidangnya.e.
Ketentuan lain mengenai Pelaksanaan Konstruksi Bangunan Gedung diatur lebih lanjut dalam peraturan dan Perundang-undangan yang berlaku.f.
Pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan sampai dua lantai dapat dilakukan oleh pelaksana perorangan yang ahli;g.
Pelaksanaan pekerjaan mendirikan bangunan dengan luas lebih dari 500 m² atau bertingkat lebih dari dua lantai atau bangunan spesifik harus dilakukan oleh pelaksana badan hukum yang memiliki kualifikasi sesuai dengan peraturan yang berlaku.h.
Segala kerugian pihak lain yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan membangun, kerusakan fisik lingkungan, menjadi beban dan tanggung jawab pelaksana dan / atau pemilik bangunan.i.
Bupati dapat memerintahkan menutup atau melarang penggunaan suatu bangunan gedung dan atau bangun bangunan yang tidak memenuhi persyaratan pemanfaatan atau penggunaannya dan keselamatan bangunan gedung dan atau bangun bangunan.j.
Bupati dapat memberi kelonggaran teknis pada pembaharuan seluruh atau sebagian dari bangunan gedung dan atau bangun bangunan, jika dengan pembaharuan tersebut akan membuat keadaan lingkungan yang lebih baik.k.
Bupati dapat memerintahkan kepada pemilik atau penghuni bangunan gedung dan atau bangun bangunan untuk memperbaiki bangunannya baik sebagian atau seluruhnya, jika menurut pendapat petugas yang ditunjuk, bangunan gedung yang bersangkutan dipandang tidak memenuhi syarat keselamatan bangunan gedung baik secara teknis maupun estetika lingkungan.l.
Bupati dapat menetapkan suatu bangunan gedung dan atau bangun bangunan baik sebagian atau seluruhnya tidak layak huni atau tidak memenuhi kelayakan penggunaan;m.
Bupati dapat memerintahkan Penghuni untuk segera mengosongkan dan membongkar bangunan gedung dan atau bangun bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pasal ini dalam jangka waktu tertentu;n.
Apabila bangunan gedung dan atau bangun bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) Pasal ini sudah dikosongkan, pembongkaran dilakukan sendiri oleh penghuni atau pemilik dalam jangka waktu tertentu;o.
Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) pasal ini tidak dilaksanakan oleh penghuni atau pemilik, pelaksanaan pengosongan dan/atau pembongkaran dilakukan oleh Bupati dengan biaya dibebankan kepada penghuni atau pemilik bangunan gedung dan atau bangun bangunan;p.
Persyaratan dan tata cara penetapan bangunan gedung tidak layak huni atau digunakan ditetapkan oleh Bupati.q.
Tata cara dan persyaratan membangun pada kawasan-kawasan yang rencananya belum dapat diterapkan, ditetapkan oleh Bupati.r.
Setiap kegiatan membangun termasuk pekerjaan instalasi dan perlengkapan bangunan wajib memperhatikan dan melaksanakan ketentuan-ketentuan tentang tertib pembangunan, keselamatan bangunan serta sistem penyelenggaraan pembangunan.s.
Setiap pelaku teknis dalam melaksanakan kegiatan pembangunan wajib mengikuti petunjuk teknis yang diberikan oleh Dinas.t.
Apabila pelaksanaan kegiatan pembangunan yang menggunakan teknologi/cara baru, maka sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan, pelaksana/pemilik bangunan wajib terlebih dahulu mengajukan rencana pelaksanaannya untuk mendapat persetujuan Dinas.u.
Setiap kegiatan pembangunan yang mempunyai resiko/tingkat kesulitan yang tinggi memerlukan sistem perencanaan melalui pengawasan atas pertimbangan oleh Dinas.v.
Ketentuan teknis dalam pelaksanaan konstruksi bangunan gedung selanjutnya diatur oleh Undang-Undang Bangunan Gedung dan Standar Nasional Indonesia (SNI). 1. Pengawasan Konstruksia.
Bupati berwenang memerintahkan penghentian / penutupan kegiatan pembangunan, meninggikan atau merendahkan dan/atau mengubah lingkungan, dan/atau memundurkan pagar atau batas pekarangan untuk kepentingan umum seperti:1) Menghentikan atau menutup kegiatan di dalam suatu kegiatan pembangunan yang dinilai belum sesuai ketentuan, sampai yang bertanggung jawab atas bangunan tersebut memenuhi persyaratan yang ditetapkan;
2) Memerintahkan Pemilik pekarangan untuk meninggikan, merendahkan dan merubah luas pekarangan sehingga serasi dengan sarana dan prasarana lingkungan yang ada;
3) Memerintahkan Pemilik pekarangan untuk meninggikan, merendahkan dan memundurkan pagar atau batas pekarangan untuk kepentingan umum;
4) Memerintahkan untuk melakukan perbaikan, penyempurnaan terhadap bagian bangunan, bangunan-bangunan dan pekarangan ataupun suatu lingkungan untuk mencegah terhadap gangguan kesehatan dan keselamatan jiwa manusia; 5) Memerintahkan, menyetujui atau menolak dilakukannya pembangunan,
perbaikan atau pembongkaran sarana atau prasarana lingkungan oleh pemilik bangunan atau lahan.
b.
Bupati berwenang untuk menetapkan ketentuan pengawasan bangunan pada lingkungan khusus atau lingkungan yang dikecualikan dari ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah ini dengan mempertimbangkan keserasian lingkungan dan pendapat tim ahli bangunan.c.
Dalam melaksanakan tugas pengawasan pembangunan wilayah perkotaan, Bupati dibantu oleh Dinas.d.
Bupati atau petugas yang ditunjuk menjalankan tugasnya berwenang memasuki halaman, pekarangan dan/atau bangunan gedung.e.
Bupati dapat menetapkan ketentuan khusus tentang pemagaran bagi suatu pekarangan kosong atau yang sedang dibangun, serta pemasangan papan-papan nama proyek dan sejenisnya dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.f.
Bupati dapat menetapkan ketentuan khusus tentang suatu lingkungan bangunangedung maupun ruang terbuka (open space) yang terlarang untuk membuat batas fisik atau pagar pekarangan.
g.
Penggalian pondasi atau basement yang memerlukan dewatering (penurunan muka air) pelaksanaannya tidak boleh merusak lingkungan sekitarnya.h.
Tata cara dan persyaratan pelaksanaan dewatering ditetapkan sesuai ketentuan yang berlaku.i.
Pada pekerjaan pondasi tiang pancang yang menggunakan sambungan, harus dilakukan pengawasan dan pengamatan oleh tenaga ahli.j.
Pada pekerjaan pondasi tiang baja, harus dilakukan pengawasan dan pengamatan terhadap gejala kelelahan tiang dimaksud akibat pemancangan.k.
Pekerjaan tertentu yang menurut sifat dan jenis penanganannya memerlukan keahlian khusus harus dilakukan oleh tenaga ahlil.
Percobaan pembebanan untuk struktur bangunan harus dilaksanakan oleh pelaksana dan diawasi oleh direksi pengawas serta mengikuti persyaratan teknis, standar dan prosedur yang berlaku.m.
Bila muncul suatu keraguan mengenai keamanan dari suatu struktur atau komponen struktur, dinas dapat meminta supaya dilakukan penelitian terhadap kekuatan struktur.n.
Apabila pemasangan bahan finishing hasilnya dinilai kurang memenuhi persyaratan, maka harus dilakukan perbaikan/penggantian.o.
Apabila mutu bahan hasil pengujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini tidak memenuhi persyaratan, maka dinas dapat memerintahkan untuk mengganti bahan yang sudah terpasang.p.
Mutu bahan struktur bangunan yang belum lazim digunakan harus dibuktikan terlebih dahulu dengan test atau diuji dengan test laboratorium pengujian yang ditunjuk oleh dinas.q.
Apabila dalam pelaksanaan membangun terjadi kegagalan struktur, maka pembangunan harus dihentikan dan dilakukan pengamanan terhadap manusia dan lingkungan.r.
Apabila hasil penelitian terhadap kegagalan struktur maka bangunan tersebut harus di bongkar.s.
Pada pelaksanaan pemasangan instalasi listrik, tata udara gedung, plambing serta instalasi lainnya wajib dikerjakan secara aman dan tidak boleh mengganggu atau mengurangi kekuatan struktur bangunan.t.
Pelaksanaan pembangunan di bawah permukaan air dan di bawah permukaan tanah wajib dibuat pengamanan khusus.u.
Pelaksana dan atau pemilik bangunan wajib dengan segera membersihkan segala kotoran dan atau memperbaiki segala kerusakan terhadap prasarana dan sarana wilayah akibat pelaksanaan pembangunan.v.
Setiap kegiatan membangun yang dilaksanakan secara bertahap dan atau terhenti pelaksanaannya, maka penghentian pekerjaan harus pada kondisi yang tidak membahayakan bangunan itu sendiri dan lingkungan sekitarnya.w.
Pada pelaksanaan kegiatan membangun bangunan bertingkat, pembuangan puing dan atau sisa bahan bangunan dari lantai tingkat harus dilaksanakan dengan sistem tertentu yang tidak membahayakan dan mengganggu lingkungan.x.
Ketentuan teknis dalam pengawasan konstruksi bangunan gedung selanjutnya diatur oleh Undang-Undang Bangunan Gedung dan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang berlaku.5.3.4 Peran masyarakat dan pembinaan dalam penyelenggaraan bangunan
gedung
1. Dalam penyelenggaraan bangunan gedung masyarakat dapat berperan untuk memantau dan menjaga ketertiban, baik dalam kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian, maupun kegiatan pembongkaran bangunan gedung.
2. Pemantauan sebagaimana dimaksud dilakukan secara objektif, dengan penuh tanggung jawab, dan dengan tidak menimbulkan gangguan dan/atau kerugian bagi pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung, masyarakat dan lingkungan.
3. Masyarakat melakukan pemantauan melalui kegiatan pengamatan, penyampaian masukan, usulan, dan pengaduan.
4. Dalam melaksanakan pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), masyarakat dapat melakukan baik secara perorangan, kelompok, organisasi kemasyarakatan, maupun melalui tim ahli bangunan gedung.
5. Berdasarkan pemantauannya, masyarakat melaporkan secara tertulis kepada pemerintah dan/atau pemerintah daerah terhadap:
6. Indikasi bangunan gedung yang tidak laik fungsi; dan/atau
7. Bangunan gedung yang pembangunan, pemanfaatan, pelestarian, dan/atau pembongkarannya berpotensi menimbulkan gangguan dan/atau bahaya bagi pengguna, masyarakat, dan lingkungannya.
5.4
Arahan
Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum
(RISPAM)
5.4.1 Rencana Sistem Pelayanan
1. Wilayah yang Perlu DilayaniDitinjau dari pola pemanfaatan ruang Kabupaten Paser, kawasan yang akan menjadi prioritas pelayanan adalah Kawasan Pemukiman Kota, Kawasan Pemukiman Transmigrasi dan Kawasan Pariwisata. Sedangkan apabila ditinjau dari wilayah administrasi, wilayah yang akan menjadi prioritas pelayanan adalah sesuai dengan kriteria yang digunakan untuk menentukan wilayah pelayanan PDAM seperti tabel dibawah ini.
Tabel 5.6
Penentuan Wilayah yang Dilayani Sistem Penyediaan Air Minum No. Kriteria Penyisih a b c d Kecamatane f g h i j
1. Wilayah dengan pelayanan Air
Minum masih rendah dibanding target nasional dan MDG
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √
2. Wilayah yang sudah terjangkau
pelayanan Air Minum namun
membutuhkan operasi
pemeliharaan yang intensif dan
peningkatan pelayanan karena
fungsi kota
√ √
3. Wilayah yang potensial untuk
berkembang √ √ √ √ √ √ √ √
4. Wilayah yang dianggap mampu
secara ekonomi membayar retribusi kepada PDAM
5. Rencana Tata Guna Tanah sesuai
RTRW Kota √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
6. Jumlah penderita penyakit yang
ditularkan melalui air
7. Daerah pertanian
8. Kepadatan penduduk
9. Konstruksi jalan-jalan utama √ √
Keterangan:
a. Kecamatan Tanah Grogot b. Kecamatan Pasir Belengkong c. Kecamatan Long Kali
d. Kecamatan Long Ikis e. Kecamatan Kuaro
f. Kecamatan Muara Komam g. Kecamatan Batu Sopang h. Kecamatan Batu Engau i. Kecamatan Muara Samu
j. Kecamatan Tanjung Harapan
Berdasarkan kriteria penyisih diatas, maka wilayah pelayanan PDAM Kabupaten Paser adalah; Kec. Tanah Grogot, Kec. Pasir Belengkong, Kec. Long Kali, Kec. Long Ikis, Kec. Kuaro, Kec. Muara Komam, Kec. Batu Sopang dan Kec. Batu Engau. Sedangkan untuk Kec. Muara Samu dan Kec. Tanjung Harapan dilayani dengan pelayanan air minum pedesaan. Selain berdasarkan kriteria diatas, masyarakat Kecamatan Muara Samu saat ini mendapatkan layanan air secara cuma-cuma dari PT. KODECO. Meskipun kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat Muara Samu tanpa melalui pengolahan, masyarakat sudah merasa puas, sehingga apabila pelayanan dialihkan ke PDAM, walaupun kualitas air yang didistribusikan lebih terjamin, namun masyarakat akan keberatan karena harus membayar.
Pelayanan dengan air minum pedesaan dipandang sesuai untuk Kecamatan Tanjung Harapan mengingat potensi air yang ada sangat terbatas pada air hujan atau pengumpulan air tanah dangkal melalui pembuatan sumur pengumpul. Untuk sistem penyediaan air minum yang sederhana pengelolaan oleh PDAM menjadi kurang efisien dikarenakan biaya overhead tidak seimbang dengan biaya investasi.