• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

5.2 Pergerakan Harga Saham Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit

Eksplorasi pergerakan harga saham dilakukan terhadap data harga penutupan saham perusahaan untuk melihat perkembangan kedua hal tersebut. Data indeks harga saham mengukur kinerja saham-saham yang ada di pasar modal.

Gambar 5, 6 dan 7 menunjukkan pergerakan harga saham harian PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (BSP), PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) periode Januari 2005 hingga akhir Februari 2008. Saham ketiga perusahaan tersebut merupakan saham yang telah terbukti memiliki reputasi baik dan secara historis memiliki catatan pertumbuhan keuntungan (profit growth) dari tahun ke tahun (Lampiran 2, 3, dan 4), serta konsisten memberikan deviden kepada pemegang saham. Hal ini dibuktikan karena ketiga saham perusahaan kelapa sawit tersebut termasuk dalam perhitungan Indeks LQ45. Perusahaan ini dikelola dengan standar profesionalisme tinggi untuk menghasilkan produk bermutu tinggi. Namun ketiga perusahaan ini memiliki pergerakan harga yang berbeda-beda pada tiap periodenya. Tingkat harga dan pergerakan harga masing-masing perusahaan berbeda tergantung kapitalisasi pasar dan likuiditas saham perusahaan tersebut (Tambunan, 2007).

Pada periode awal Agustus 2005, pergerakan saham dipermainkan oleh kondisi politik yang terjadi di Indonesia saat itu. Seperti kenaikan harga minyak mentah dunia yang mengakibatkan anggaran pemerintah menjadi defisit. Perusahaan-perusahaan yang menjadi aset negara dijual satu persatu untuk menutupi defisit tersebut. Hal ini menyebabkan harga saham-saham di bursa efek menjadi turun begitu juga harga saham ketiga perusahaan perkebunan kelapa sawit terpilih. Pada pertengahan Agustus 2005, pemerintah sepakat mengakhiri perseteruan yang terjadi dengan Gerakan Aceh Merdeka. Kesepakatan yang dibuat tersebut seharusnya menjadi prospek yang baik bagi kondisi perekonomian Indonesia saat itu. Tetapi, investor asing berpikiran lain bahwa hal tersebut merupakan awal disintegrasi negara kesatuan Republik Indonesia. Setelah ini pun

masih ada persoalan di Papua dan Republik Maluku Selatan. Momentum ini dimanfaatkan oleh para investor asing untuk melakukan profit taking. Hal ini menyebabkan pasar semakin menurun berkelanjutan.

Memasuki periode tahun 2007, pemerintah seharusnya bisa membaca arah prospek bisnis perusahaan perkebunan kelapa sawit di masa yang akan datang. Sebelumnya, Menteri Pertanian melalui Peraturan Menteri Nomor 2 Tahun 2007 menetapkan satu perusahaan diizinkan mengembangkan area perkebunan untuk kelapa sawit hingga 100 ribu hektare. Peraturan Menteri itu merupakan perubahan dari SK Menteri Kehutanan Nomor 357 Tahun 2002 yang kepemilikannya hanya 20 ribu hektare setiap perusahaan. Guna mencegah terjadinya praktek kartel dalam pasar minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil), pemerintah akan membatasi luas area perkebunan sawit. Hal ini menyebabkan saat itu para investor melakukan aksi jual terhadap saham perkebunan kelapa sawit sejak peraturan itu diumumkan pada akhir Juli 2007. Langkah pemerintah membatasi luas lahan perkebunan kelapa sawit dinilai sebagai langkah mundur dan tak masuk akal di tengah gencarnya investor asing menanamkan investasi pada sektor tersebut. Pemerintah dan industri agrobisnis nasional akan kehilangan peluang meraih keuntungan besar di tengah masih tingginya permintaan minyak sawit di pasar dunia guna memproduksi biofuel sebagai bahan pengganti energi.

Pada periode pertengahan Februari 2008, saham ketiga perusahaan perkebunan kelapa sawit terpilih sempat mengalami penurunan harga saham padahal pada saat itu harga CPO (Crude Palm Oil) sedang naik. Hal ini disebabkan karena negara-negara Eropa dan Amerika yang merupakan negara tujuan ekspor para produsen kelapa sawit sedang melakukan penelitian tentang

komoditi kelapa sawit. Kekhawatiran negara-negara tersebut terhadap kelapa sawit yaitu lahan yang digunakan untuk penanaman kelapa sawit tidak dapat digunakan sama sekali dalam jangka waktu yang lama jika umur pohon kelapa sawit sudah habis atau kelapa sawit sudah tidak dapat lagi tumbuh di lahan tersebut. Penelitian menyatakan bahwa lahan tersebut akan gersang dalam jangka waktu yang lama. Hal ini menjadi kekhawatiran negara-negara industri tersebut yang dikenal sangat menjaga lingkungan alam. Para investor pada perusahaan CPO (Crude Palm Oil) mulai waspada dengan isu tersebut. Jika isu tersebut benar-benar menjadi pertimbangan mendasar bagi negara-negara di Eropa dan Amerika untuk mengimpor CPO (Crude Palm Oil) maka, produk CPO akan dipersulit prosedur pengirimannya ke negara-negara Eropa dan Amerika tersebut.

. 0 500 1000 1500 2000 2500 3000

Jan-05 Jul-05 Jan-06 Jul-06 Jan-07 Jul-07 Jan-08

H a rg a Pe nutupa n Sa ha m

Gambar 5. Pergerakan Harga Penutupan Saham PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (BSP).

Dari pergerakan harga penutupan saham terlihat bahwa harga penutupan berkisar antara 310 hingga 2825. Kisaran harga yang terbentuk pada saham perusahaan dipengaruhi oleh kapitalisasi pasar perusahaan tersebut di Bursa Efek Indonesia. PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (BSP) memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 4.312.350.000.000,00 sehingga perusahaan memiliki kesempatan

untuk mengalami fluktuasi pergerakan harga saham yang tinggi. PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (BSP) juga cukup aktif diperdagangkan setiap harinya sehingga pergerakan harganya menjadi fluktuatif. Tingkat pengembalian terhadap modal yang cukup tinggi menyebabkan harga saham PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (BSP) relatif cukup mahal tetapi return yang didapatkan relatif setimpal. Pergerakan harga penutupan saham PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (BSP) menunjukkan pergerakan yang berfluktuasi dengan trend meningkat.

0 100 200 300 400 500 600 700 800

Jan-05 Jul-05 Jan-06 Jul-06 Jan-07 Jul-07 Jan-08

H a rg a Pe nutupa n Sa ha m

Gambar 6. Pergerakan Harga Penutupan Saham PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA).

Dari pergerakan harga penutupan saham terlihat bahwa harga penutupan berkisar antara 135 hingga 710. Kisaran harga yang terbentuk pada saham perusahaan dipengaruhi oleh kapitalisasi pasar perusahaan tersebut di Bursa Efek Indonesia. PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 2.365.621.957.770,00 sehingga perusahaan memiliki kesempatan untuk mengalami fluktuasi pergerakan tidak setinggi PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (BSP) karena PT Bakrie Sumatra Plantation Tbk (BSP) memiliki kapitalisasi pasar yang lebih tinggi. Fluktuasi pergerakan harga yang terjadi pada PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) disebabkan karena perusahaan ini

memiliki rata-rata volume perdagangan yang cukup tinggi. Tingkat pengembalian terhadap modal yang lebih rendah dibandingkan kedua perusahaan menyebabkan harga saham PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) menjadi lebih murah. Pergerakan harga penutupan saham PT Tunas Baru Lampung (TBLA) menunjukkan pergerakan yang berfluktuasi dengan trend meningkat pada periode 2007 hingga 2008. 0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 35000 40000

Jan-05 Jul-05 Jan-06 Jul-06 Jan-07 Jul-07 Jan-08

H a rg a Pe nutupa n Sa ha m A A L I

Gambar 7. Pergerakan Harga Penutupan Saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Dari pergerakan harga penutupan saham terlihat bahwa harga penutupan berkisar antara 2875 hingga 34000. Kisaran harga yang terbentuk pada saham perusahaan dipengaruhi oleh kapitalisasi pasar perusahaan tersebut di Bursa Efek Indonesia. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 24.172.335.750.000,00 sehingga perusahaan memiliki kesempatan untuk mengalami fluktuasi pergerakan harga saham yang tinggi. Perusahaan memiliki jumlah kapitalisasi pasar terbesar dibandingkan dengan perusahaan kelapa sawit terpilih lainnya. Fluktuasi pergerakan harga yang terjadi pada PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) disebabkan karena perusahaan ini memiliki rata-rata volume perdagangan yang cukup tinggi. Tingkat pengembalian terhadap modal paling

tinggi dibandingkan kedua perusahaan menyebabkan harga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjadi lebih mahal. Pergerakan harga penutupan saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menunjukkan pergerakan yang berfluktuasi dengan trend meningkat.

Dokumen terkait