V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Analisis Pertumbuhan Kesempatan Kerja
5.1.4. Pergeseran Bersih dan Profil Pertumbuhan Kesempatan
2000, 2001 dan 2003, 2004 dan 2007
Nilai pergeseran bersih (PB) yang positif pada suatu lapangan usaha menunjukkan bahwa lapangan usaha tersebut di Jawa Tengah tergolong mengalami pertumbuhan yang progresif dalam hal kesempatan kerja. Sedangkan untuk lapangan usaha yang memiliki nilai PB negatif, menunjukkan bahwa lapangan usaha tersebut memiliki pertumbuhan kesempatan kerja yang lamban di Jawa Tengah. Jika dilihat secara keseluruhan pada Tabel 5.7, nilai PB di Jawa Tengah menunjukkan pertumbuhan yang lamban pada masa pra otonomi daerah, sedangkan era otonomi daerah menunjukkan pertumbuhan yang progresif namun hanya berlangsung pada awal otonomi daerah (periode 2001-2003) dan mengalami pertumbuhan yang lamban kembali pada periode 2004-2007.
Kesempatan Kerja pada lapangan usaha pertanian mengalami pergeseran yang cukup signifikan, dimana pada masa pra otonomi daerah termasuk memiliki pertumbuhan yang progresif dengan nilai PB sebesar 152.396 jiwa (2,67 persen), namun era otonomi daerah memiliki pertumbuhan yang lamban dengan penurunan yang cukup drastis pada masa awal otonomi daerah (2001-2003) menjadi -343.999 jiwa (-5,11 persen) dan pada periode 2004-2007 mengalami penurunan kembali menjadi -447.614 jiwa (-7,24 persen).
Lapangan usaha yang juga memiliki pergeseran cukup signifikan adalah lapangan usaha bangunan. Pada masa pra otonomi daerah, lapangan usaha ini memiliki pertumbuhan kesempatan kerja yang lamban dengan nilai PB sebesar -84.120 jiwa (-13,31 persen). Namun era otonomi daerah tergolong memiliki pertumbuhan yang progresif, dimana pada masa awal otonomi daerah menghasilkan nilai PB sebesar 181.283 jiwa (26,36 persen) dan pada periode 2004-2007, lapangan usaha ini memiliki nilai PB sebesar 106.604 jiwa (11,17 persen). Nilai PB yang negatif pada pra otonomi daerah dimungkinkan karena pada masa pra otonomi daerah terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan daya beli masyarakat akan bahan bangunan menurun. Sedangkan pada masa otonomi daerah dimana perekonomian mulai membaik, permintaan masyarakat akan bahan bangunan juga meningkat akibat dari cukup pesatnya kegiatan konstruksi di Jawa Tengah seperti untuk kantor pemerintahan, jalan, jembatan, pusat perbelanjaan, serta tempat tinggal.
Tabel 5.7. Pergeseran Bersih Kesempatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah Tahun 1996 dan 2000, 2001 dan 2003, 2004 dan 2007
No Lapangan Usaha
PBi (Jawa Tengah) Pra Otonomi Daerah
Tahun 1996 dan 2000
Era Otonomi Daerah
Tahun 2001 dan 2003 Tahun 2004 dan 2007
Perubahan Perubahan Perubahan
Absolut (Jiwa) Relatif (Persen) Absolut (Jiwa) Relatif (Persen) Absolut (Jiwa) Relatif (Persen) 1 Pertanian 152.396 2,67 -343.999 -5,11 -447.614 -7,24 2 Industri Pengolahan -296.367 -12,07 357.665 14,62 168.703 6,93 3 Bangunan -84.120 -13,31 181.283 26,36 106.604 11,17 4 Perdagangan, Hotel dan Restoran 141.950 5,15 -14.968 -0,53 -189.966 -5,61 5 Transportasi dan Komunikasi 53.968 9,58 57.998 9,80 -42.890 -5,85 6 Keuangan, Perbankan dan Jasa Perusahaan 93.051 273,57 -64.954 -53,87 23.247 19,88 7 Jasa -402.749 -21,17 -161.233 -10,31 198.176 13,20 8 Lainnya -117.948 -55,49 49.481 50,33 -68.900 -31,58 Total -459.820 -3,22 61.273 0,41 -252.640 -1,62
Sumber: BPS (Data diolah, contoh perhitungan seperti pada lampiran 9).
Keterangan: Lapangan Usaha lainnya terdiri dari lapangan usaha pertambangan dan penggalian serta listrik, gas dan air bersih.
Evaluasi profil pertumbuhan kesempatan kerja pada masing-masing lapangan usaha di Jawa Tengah dapat dilakukan dengan menggunakan empat kuadran yang terdapat pada garis bilangan. Gambar 5.1 dan 5.2 merupakan gambar profil pertumbuhan kesempatan kerja pada masing-masing lapangan usaha di Jawa Tengah pada masa pra otonomi daerah dan era otonomi daerah. Apabila lapangan usaha berada di kuadran I, berarti lapangan usaha tersebut memiliki pertumbuhan kesempatan kerja yang cepat dan daya saing yang baik bila dibandingkan dengan wilayah lainnya. Hal ini dikarenakan wilayah ini merupakan wilayah yang progresif (maju). Pada masa pra otonomi daerah, kuadran I hanya ditempati oleh lapangan usaha keuangan, perbankan dan jasa perusahaan. Namun pada awal otonomi daerah (periode 2001-2003), lapangan usaha ini mengalami
penurunan daya saing sehingga menempati kuadran II tetapi menempati kuadran I kembali pada periode 2004-2007.
Kuadran II menunjukkan bahwa kesempatan kerja pada lapangan usaha tersebut memiliki pertumbuhan yang cepat namun berdaya saing kurang baik. Pra otonomi daerah, lapangan usaha yang berada di kuadran II ini antara lain adalah (1) pertanian, (2) industri pengolahan, (3) perdagangan, hotel dan restoran serta (4) transportasi dan komunikasi. Lapangan usaha industri pengolahan serta lapangan usaha perdagangan, hotel dan restoran bergeser ke kuadran IV era otonomi daerah periode 2001-2003. Pergeseran ke kuadran IV ini menunjukkan bahwa kesempatan kerja pada lapangan usaha industri pengolahan serta lapangan usaha perdagangan, hotel dan restoran memiliki pertumbuhan yang lamban dan berdaya saing baik. Namun pada periode 2004-2007 lapangan usaha perdagangan, hotel dan restoran menempati kuadran II kembali. Sedangkan lapangan usaha industri pengolahan mengalami peningkatan yang cukup signifikan sehingga mampu menempati kuadran I. Hal ini menunjukkan bahwa era otonomi daerah pada periode ini, kebijakan pemerintah dalam mendorong industri pengolahan di Jawa Tengah yang ditopang oleh industri besar dan sedang, industri kecil dan kerajinan rumah tangga memberi pengaruh positif bagi industri pengolahan.
Kesempatan kerja pada lapangan usaha pertanian masa pra otonomi daerah dan era otonomi daerah periode 2001-2003 selalu menempati kuadran II, mengalami pergeseran era otonomi daerah periode 2004-2007 menjadi kuadran III. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan kerja pada lapangan usaha pertanian mengalami pertumbuhan yang lamban dan daya saing yang kurang baik. Berbeda
dengan lapangan usaha transportasi dan komunikasi yang selalu menempati kuadran II baik pada masa pra otonomi daerah maupun era otonomi daerah.
Kuadran III pada masa pra otonomi daerah ditempati oleh lapangan usaha bangunan dan lapangan usaha lainnya yang terdiri dari pertambangan dan penggalian serta lapangan usaha listrik, gas dan air bersih. Kesempatan kerja pada lapangan usaha bangunan mengalami pergeseran yang cukup signifikan era otonomi daerah periode 2001-2003 dan periode 2004-2007 menjadi kuadran I. Berkembangnya pembangunan pusat-pusat perbelanjaan dan kantor-kantor pemerintahan di Jawa Tengah sehingga permintaan akan bahan bangunan meningkat pada masa otonomi daerah disinyalir menyebabkan lapangan usaha ini memiliki pertumbuhan yang cepat dan berdaya saing baik. Sedangkan lapangan usaha lainnya mengalami pergeseran ke kuadran IV era otonomi daerah periode 2001-2003. Hal ini menunjukkan bahwa kesempatan kerja pada lapangan usaha ini memiliki pertumbuhan yang lamban dan berdaya saing baik. Namun mengalami pergeseran kembali ke kuadran III pada periode 2004-2007.
Pada masa pra otonomi daerah dan era otonomi daerah periode 2001-2003, lapangan usaha jasa menempati kuadran IV yang menunjukkan bahwa kesempatan kerja pada lapangan usaha ini memiliki pertumbuhan yang lamban dan berdaya saing baik. Namun era otonomi daerah periode 2004-2007, lapangan usaha ini berhasil menempati kuadran I yang artinya memiliki pertumbuhan yang cepat dan berdaya saing baik bila dibandingkan dengan wilayah lainnya.
Pada Gambar 5.1 dan 5.2 terlihat adanya garis diagonal 45° yang membagi kuadran II dan IV menjadi dua bagian, dimana bila terdapat lapangan usaha yang
berada di atas garis tersebut maka lapangan usaha tersebut tergolong lapangan usaha yang progresif (maju). Sedangkan jika terdapat lapangan usaha di bawah garis tersebut, maka lapangan usaha tersebut tergolong lambat dalam hal kesempatan kerja.
Lapangan usaha yang tergolong progresif pada masa pra otonomi daerah adalah (1) pertanian, (2) perdagangan, hotel dan restoran, (3) transportasi dan komunikasi serta (4) keuangan, perbankan dan jasa perusahaan. Sedangkan lapangan usaha yang tergolong lambat adalah (1) industri pengolahan, (2) bangunan, (3) jasa dan (4) lapangan usaha lainnya.
Era otonomi daerah periode 2001-2003, lapangan usaha yang tergolong progresif antara lain adalah (1) industri pengolahan, (2) bangunan, (3) transportasi dan komunikasi serta (4) lapangan usaha lainnya. Sedangkan lapangan usaha yang tergolong lambat adalah (1) pertanian, (2) perdagangan, hotel dan restoran, (3) keuangan, perbankan dan jasa perusahaan serta (4) jasa. Pada periode 2004-2007, lapangan usaha yang tergolong progresif adalah (1) industri pengolahan, (2) bangunan, (3) keuangan, perbankan dan jasa perusahaan serta (4) jasa. Lapangan usaha yang tergolong lambat adalah (1) pertanian, (2) perdagangan, hotel dan restoran, (3) transportasi dan komunikasi serta (4) lapangan usaha lainnya.
Gambar 5.1. Profil Pertumbuhan Lapangan Usaha di Jawa Tengah Pra Otonomi Daerah (1996-2000)
Profil Pertumbuhan Lapangan Usaha Jawa Tengah Pra Otonomi Daerah (1996 dan 2000)
-50 0 50 100 150 200 250 300 -60 -40 -20 0 20 40 PPW PP Pertanian Industri Pengolahan Bangunan
Perdagangan, Hotel dan Restoran Transportasi dan Komunikasi
Keuangan, Perbankan dan Jasa Perusahaan Jasa
Gambar 5.2. Profil Pertumbuhan Lapangan Usaha di Jawa Tengah Era Otonomi Daerah (2001-2003 dan 2004-2007) Profil Pertumbuhan Lapangan Usaha Jawa Tengah
Era Otonomi Daerah (2004-2007)
-20 -15 -10 -5 0 5 10 -20 -10 0 10 20 PPW PP Pertanian Industri Pengolahan Bangunan
Perdagangan, Hotel dan Restoran Transportasi dan Komunikasi
Keuangan, Perbankan dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kuadran II Kuadran I Kuadran IV Kuadran III Profil Pertumbuhan Lapangan Usaha Jawa Tengah
Era Otonomi Daerah (2001-2003)
-80 -60 -40 -20 0 20 40 60 80 -30 -20 -10 0 10 20 PPW PP Pertanian Industri Pengolahan Bangunan
Perdagangan, Hotel dan Restoran Transportasi dan Komunikasi
Keuangan, Perbankan dan Jasa Perusahaan Jasa Lainnya Kuadran II Kuadran III Kuadran I Kuadran IV
Pada Gambar 5.1 dan 5.2 dapat terlihat terdapat beberapa lapangan usaha yang mengalami pergeseran kesempatan kerja pada era otonomi daerah (periode 2001-2003 dan periode 2004-2007). Lapangan usaha tersebut adalah (1) pertanian, (2) industri pengolahan, (3) bangunan, (4) perdagangan, hotel dan restoran. Lapangan usaha yang mengalami pergeseran kesempatan kerja dari yang tergolong progresif pada pra otonomi daerah menjadi lambat pada era otonomi daerah adalah lapangan usaha pertanian serta perdagangan, hotel dan restoran, dimana pertanian mengalami penurunan pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan perdagangan, hotel dan restoran.
Lapangan usaha yang mengalami pergeseran kesempatan kerja dari yang tergolong lambat pada pra otonomi daerah menjadi progresif era otonomi daerah adalah lapangan usaha bangunan dan industri pengolahan. Lapangan usaha bangunan mengalami pertumbuhan yang cukup drastis dibandingkan dengan industri pengolahan. Pesatnya pertumbuhan lapangan usaha bangunan kemungkinan disebabkan dari meningkatnya permintaan masyarakat akan bahan bangunan karena Jawa Tengah membutuhkan kegiatan konstruksi yang tidak sedikit, baik untuk tempat tinggal, kantor, jalan, jembatan dan lain sebagainya.
Berdasarkan hasil analisis shift share, terlihat bahwa terjadi pertumbuhan yang cukup drastis pada kesempatan kerja di Jawa Tengah era otonomi daerah (tahun 2004-2007) dibandingkan dengan pertumbuhan kesempatan kerja pra otonomi daerah. Walaupun pada awal diberlakukannya otonomi daerah terlihat pertumbuhan kesempatan kerja yang lebih rendah dibandingkan pada masa pra otonomi daerah. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan otonomi daerah
yang telah berlaku selama tujuh tahun ini telah berdampak pada meningkatnya kesempatan kerja di Jawa Tengah. Namun jika dilihat kesempatan kerja pada masing-masing lapangan usaha, terdapat dua lapangan usaha yang mengalami pergeseran yang cukup signifikan dalam hal kesempatan kerja yaitu pertanian dan bangunan. Lapangan usaha pertanian mengalami penurunan pertumbuhan menjadi tergolong lambat era otonomi daerah, sedangkan lapangan usaha bangunan mengalami peningkatan pertumbuhan menjadi tergolong progresif era otonomi daerah. Pergeseran ini menunjukkan bahwa kebijakan otonomi daerah berdampak positif terhadap kesempatan kerja pada lapangan usaha bangunan dibandingkan dengan lapangan usaha pertanian.