BAB IV TEMUAN PENELITIAN
B. Temuan Penelitian
3. Pergeseran nilai agama
Agama Islam merupakan satu-satunya agama yang dianut oleh masyarakat Minangkabau.pergeseran yang ditemui adalah dalam
pelaksanaan agama yang tidak memenuhi ketentuan yang ada dalam agama Islam
(1)Bergesernya fungsi surau Kutipan
Tapi, setelah Ongga berangkat dewasa bersama anak-anak lainnya yang sebaya, keadaan Surau Batu secara perlahan berubah. Surau Batu semakin hari semakin lengang. Jika dulu masih terdengar azan magrib dengan suara yang terputus-putus dari mereka yang belajar azan, sekarang azan magrib berkumandang dari suara mikrofon mesjid besar di seberang jalan. (hal. 102-103)
Perubahan ini mempunyai pengaruh kepada anak-kemenakan Ongga dan anak-anak penduduk asli lainnya sepanjang Batang Karan. Mereka merasa tersisih dari anak-anak yang datang. Anak-anak yang datang itu pada umumnya berasal dari keluarga yang berpenghasilan baik, sehingga iuran mengaji selalu dapat mereka lunasi. Iuran mengaji semakin lama semakin naik pula. Sedangkan anak-anak kemenakan Ongga selalu terlambat membayarnya, bahkan sampai menunggak tiga hingga empat bulan. Tidak jarang pula dari mereka tidak mau lagi belajar mengaji ke Surau Batu karena malu, tidak mampu membayar iuran. (hal. 103)
(2) mempercayai kekuatan mistik
Mempercayai kekuatan mistik dalam kehidupan mereka dan menganggap perbuatan itu hal yang wajar. Kutipan:
Karena Ongga dianggap menyembunyikan sesuatu sementara mereka ingin tahu semuanya, Ongga diserang lagi dengan pertanyaan-pertanyaan lain. Apakah Ongga menerima sesuatu pemberian dari tamu itu atau tidak? Apa bentuk pemberian itu? Keris? Batu cincin? Jimat? Minyak atau cairan lain yang disimpan
dalam botol kecil? Sapu tangan? Tanah pekuburan? Berkali-kali Ongga membantah tidak menerima apa pun juga, tapi mereka tetap tidak percaya. (hal. 67)
Kita anak Batang Karan, Ongga. Semua orang tahu negeri kita gudangnya ilmu batin. Ongga harus ikut,” famili-familinya mendesak. (hal. 52)
“Agama mana pun menyuruh kita membela diri. Percayalah. Ongga tidak akan berdosa,” desak Ampalu. (hal. 83)
(3) Meninggalkan sholat
Keengganan Aji Sirene tinggal di surau setelah istrinya meninggal karena belum mau mengerjakan sholat, begitu juga dengan said yang masih suka meninggalkan sholat. Kutipannya:
Bagi Aji Sirene menetap di surau berarti harus menjadi orang saleh. Harus sembahyang dan mengaji. Harus mengajari anak kemenakan yang datang ke surau. Hal itu tidak dikehendakinya. (hal. -41)
Mungkin kaum kita kena kutuk. Semuanya mempertahankan surau, tapi tak seorang pun yang mau sembahyang.”
Said menggelengkan kepala. Dia tidak setuju dengan pernyataan itu. Mungkin karena dia pun sampai sekarang belum juga mau sembahyang. (hal. 166)
(4) kebiasaan Berjudi
Aji Sirene tidak bisa meninggalkan kebiasaan berjudi ddan rela melepaskan jabatan kepala kaum agar tetap bisa berjudi, kutipannya:
Julukan “Sirene” diberikan nenek kepadanya karena dia selalu pulang sewaktu suara sirene dari stasiun kereta api terdengar pertanda pukul 4 pagi. Sedangkan “Aji” bukanlah panggilan karena dia sudah naik haji, tapi
karena selalu berjudi. Julukan itu sengaja
dipertentangkan dengan kenyataan yang
sesungguhnya, agar dia mau menghentikan kebiasaan berjudi. Ternyata julukan apa pun yang diberikan kepadanya tetap saja tidak dapat mengubah kebiasaan. Pernah pula dipanggil “ustad” atau “buya”. Tapi, julukan yang kekal menempel padanya adalah itu tadi, Aji Sirene. Walaupun sudah tua, dia tetap saja berjudi dengan berbagai cara. “Hidup ini sendiri adalah perjudian, Yuang,” katanya pada setiap orang yang suka mengkritik kebiasaannya. Sampai sekarang semua kaum famili Ongga memanggil mamak yang tua itu Aji Sirene. (hal 34-35)
“Kalau tidak sakit, mau aku memotong tanganku yang suka berjudi ini, Kak,” katanya pada nenek. (hal. 36)
(5) penyalahgunaan Alquran
Ditangan etek Nuri Alquran sebagai kitb suci orang Islam menjadi alat untuk meramal.Niyuih mempergunakan Alquran untuk bersumpah tidak akan mengulangi perbuatan serongnya.Kutipannya:
Yang membuat Ongga penasaran adalah alasan yang diberikan Etek Nuri terhadap penggunaan kartu ceki. Itu hanya ‘alat’. Ada dukun yang menggunakan al-Quran yang digantungkan pada kunci untuk meramal nasib dan mengobati seseorang. Jadi, Al-Quran, kemenyan putih, kartu ceki, atau apa pun yang berfungsi sebagai alat, sah-sah saja dalam dunia pedukunan. (h. 100-101)
(6) Hubungan Seks di Luar Nikah
Siluik mengaku diperkosa oleh orang yang dikenalnya di oplet menuju bioskop. Dia dating mamal-malam ke rumah Ongga. Kutipannya:
Pada petang Kamis malam Jumat, menjelang jam dua dinihari, Siluik datang ke rumah Ongga. Dengan mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi lalu menghempaskannya ke dada, dia mengatakan baru saja diperkosa dua lelaki di belakang bioskop misbar. Dia tidak menangis, menyesal, atau malu. Seperti mengatakan bahwa dia baru saja selesai makan jagung rebus. Menurut Siluik, laki-laki yang memperkosanya gagah, dadanya berbulu tapi sudah beristri. Sedangkan yang seorang lagi kurus tinggi dan berkumis tebal. (hal. 29)
Tabel 5.1 Perbandingan Nilai Lama dengan Nilai Baru dalam Masyarakat Minangkabau
Nilai Budaya Minangkabau Pergeseran Nilai Budaya Minangkabau 1. Nilai kekerabatan
a. Kekerabatan sangat kuat
antara mamak dan
kemenakan saling
menghormati.
b. Hubungan mamak rumah dan semenda saling menghormati
c. Laki-laki dalam kaum saling menghargai dan tabu membicarakan tentang hubungan laki-laki perempuan
1. Pergeseran nilai kekerabatan
a. Kekerabatan bergeser antara mamak dan kemenakan terjadi pertengkaran karena rena mamak tidak dapat menempatkan diri sebagai panutan.
b. Semenda tidak menghargai mamak rumah
c. Perempuan membicarakan tentang hubungan laki-laki perempuan terhadap saudara laki-lakinya tanpa sungkan.
2. Nilai Harta Pusaka
a. harta pusaka adalah harta keluarga yang tidak bisa dijual dan mamak diwajibkan menjaga dan menambahnya.
2. Pergeseran Nilai Harta Pusaka
a. Mamak menjual harta pusaka untuk kepentingan pribadinya.
b. Harta pusaka dijaga dan dimanfaatkan untuk kepentingan bersama.
c. Menebus harta pusaka yang terjual merupakan tanggung jawab dan kewajiban laki-laki Minang
b.Harta pusaka dijual untuk kepentingan pribadi
c.meminta uang tebusan harta pusaka kepada kemenakannya.
3. Nilai Agama
a.Surau sebagai tempat ibadah dan pusat pendidikan anak laki-laki dalam kaum oleh mamaknya
b.Percaya kepada Allah semata sebagai umat muslim c.rajin beribadah kepada Allah semata.
d. Perempuan memiliki rasa malu yang tinggi dan menjaga kehormatannya
e. berjudi adalah perbuatan yang melanggar agama dan dihindari dalam kehidupan
3. Pergeseran Nilai Agama
a. surau dibiarkan lengang dan reot. Anak laki-laki tidur di rumah dan mamak tidak peduli dengan pendidikan kemenakannya.
b.mempercayai Allah dan dunia mistik yang memberi kekuatan kepada manusia
c.meninggalkan ibadah sholat yang merupakan tiang agama
d. Perempuan melakukan perbuatan serong tanpa merasa malu.
e.berjudi menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan dan rela kehilangan apa saja untuk meneruskan kebiasaan buruk itu