V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2. Pergeseran Tenaga Kerja di Sektor Perdagangan
Secara umum, kondisi ketenagakerjaan di sektor perdagangan dapat dicerminkan dari jumlah tenaga yang terdapat dalam sektor perdagangan, hotel dan restoran. Dilihat dari status pekerjaan utama, usaha kecil di sektor perdagangan merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja dalam periode 1999-2004 dengan persentase sekitar 30 sampai 40 persen seperti yang terlihat dalam Tabel 5.3. Pada tahun 2004, dari total tenaga kerja sebesar 19.119.156 orang, terdapat diantaranya 7.643.230 unit usaha yang berusaha tanpa dibantu orang lain dan 4.092.828 unit usaha yang dibantu anggota rumah tangga atau buruh tidak tetap.
Tabel 5.3. Penyerapan Tenaga Kerja di Sektor Perdagangan Menurut Status Pekerjaan Utama Tahun 1999-2004
Status Pekerjaan Utama 1999 2001 2003 2004 Berusaha sendiri tanpa dibantu orang lain 43,47 41,56 39,42 39,98 Bersaha dengan dibantu anggota rumah
tangga/ buruh tidak tetap 23,14 21,20 22,82 21,41 Berusaha dengan buruh tetap 3,11 3,83 3,95 4,15 Buruh/karyawan/pegawai 14,87 17,41 17,33 18,75 Pekerja bebas non pertanian 0,00 0,76 1,29 1,11 Pekerja tidak dibayar 15,41 15,24 15,20 14,61
Sumber : BPS, 1999-2004.
Keterangan : Angka penyerapan tenaga kerja dalam bentuk persen.
Pergeseran tenaga kerja yang terjadi di sektor perdagangan antara lain dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikannya. Seiring dengan berkembangnya sektor perdagangan yang menjadi lebih modern maka tenaga kerja berpendidikan rendah mulai tergantikan oleh tenaga kerja berpendidikan menengah dan tinggi seperti terlihat pada Gambar 5.4 dan Gambar 5.5.
40 6% 15% 18% 22% 3% 36%
Tidak/belum pernah sekolah Tidak/belum tamat
SD SMTP
SMTA Universitas
Sumber : BPS, 1999.
Gambar 5.4. Persentase Tenaga Kerja Berdasarkan Pendidikan di Sektor Perdagangan Tahun 1999
Pada tahun 1999, jumlah tenaga kerja di sektor perdagangan yang berpendidikan rendah (tidak/belum pernah sekolah, tidak/belum tamat SD dan tamat SD) menempati porsi sekitar 57 persen, tenaga kerja berpendidikan menengah sekitar 40 persen sedangkan berpendidikan tinggi sekitar 3 persen. Namun jumlah persentase ini mengalami pergeseran pada tahun 2004.
3% 10%
34% 23%
26%
4%
Tidak/belum pernah sekolah Tidak/belum tamat SD
SD SMTP
SMTA Universitas
Sumber : BPS, 2004.
Gambar 5.5. Persentase Tenaga Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Sektor Perdagangan Tahun 2004
Pada tahun 2004, jumlah tenaga kerja di sektor perdagangan yang berpendidikan rendah (tidak/belum pernah sekolah, tidak/belum tamat SD dan tamat SD) menempati porsi sekitar 47 persen, tenaga kerja berpendidikan
41
menengah sekitar 49 persen sedangkan berpendidikan tinggi sekitar 4 persen. Bila dilihat dari masing-masing tingkat pendidikan, persentase jumlah tenaga kerja yang berpendidikan rendah memiliki porsi yang semakin berkurang yakni tenaga kerja yang tidak/belum pernah sekolah memiliki pesentase sebesar 6 persen pada tahun 1999 menjadi hanya 3 persen di tahun 2004 sedangkan tenaga kerja yang tidak/belum tamat SD terserap sebesar 15 persen pada 1999 namun pada 2004 hanya sebesar 10 persen begitupula dengan tenaga kerja berpendidikan SD yang sebelumnya berjumlah 36 persen pada 1999 menjadi 34 persen pada 2004.
Berbeda dengan porsi tenaga kerja berpendidikan rendah, tenaga kerja berpendidikan menengah daya serapnya meningkat yaitu tenaga kerja berpendidikan SMTP dari 18 persen menjadi 23 persen pada tahun 2004. Untuk SMTA dar 22 persen pada 1999 menjadi 26 persen pada 2004 sedangkan untuk tenaga kerja berpendidikan tinggi dari universitas juga meningkat persentase penyerapannya dari 3 persen pada 1999 menjadi 4 persen pada 2004.
Pergeseran persentase tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan ini cukup beralasan untuk terjadi karena semakin lama sistem perdagangan semakin modern sehingga semakin dibutuhkan tenaga kerja dengan kualifikasi yang cukup tinggi.
5.3. Faktor Pendorong Perkembangan Pasar Modern di Indonesia
Tren yang berkembang dalam bisnis perdagangan eceran saat ini lebih ditujukan pada pertumbuhan pasar modern. Usaha ritel modern merupakan usaha yang sangat diminati oleh kalangan dunia usaha karena perannya yang sangat strategis, tidak saja menyangkut kepentingan produsen, distributor dan konsumen
42
juga perannya dalam menyerap tenaga kerja. Selain itu perdagangan eceran juga berperan sebagai sarana yang efisien dan efektif dalam pemasaran hasil produksi, sekaligus dapat digunakan untuk mengetahui image dari suatu produk di pasar, termasuk preferensi yang dikehendaki oleh pihak konsumen (Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, 2003). Pergeseran ini merupakan salah satu dampak dari diberlakukannya era perdagangan bebas dan globalisasi.
Jumlah pasar tradisional yang cenderung menurun dipengaruhi oleh berkembangnya ritel modern di Indonesia, faktor yang mempengaruhi perkembangan pasar modern antara lain berkaitan dengan faktor internal seperti ketidakmampuan pasar tradisional untuk mempertahankan keunggulan yang dimiliki sedangkan pasar modern masuk dengan berbagai keunggulan yang tidak dimiliki oleh pasar tradisional seperti harga barang murah, kemasan rapi, jenis barang lengkap, situasi bersih, aman dan nyaman sehingga konsumen beralih ke pasar modern termasuk masyarakat menengah ke bawah yang selama ini menjadi pasar potensial bagi pasar tradisional. Faktor internal perkembangan pasar modern antara lain dilihat dari :
1. Penurunan Daya Saing Pasar Tradisional
Penurunan daya saing pasar tradisional dapat dilihat dari ketidakmampuan pasar tradisional dalam mempertahankan keunggulan yang dimilikinya selama ini. Ruang bersaing pasar tradisional kini mulai terbatas. Jika selama ini pasar tradisional dianggap unggul dalam memberikan harga relatif rendah untuk banyak komoditas, keunggulan tersebut mulai terkikis saat ini. Keunggulan biaya rendah telah bergeser ke pasar modern. Skala ekonomis pengecer modern yang cukup luas
43
dan akses langsung mereka terhadap produsen dapat menurunkan harga pokok penjualan mereka sehingga mampu menawarkan harga lebih rendah sedangkan pedagang di pasar tradisional umumnya memiliki skala yang kecil dan menghadapi rantai pemasaran yang cukup panjang untuk membeli barang yang akan dijualnya.
Selain dari segi harga, keunggulan pasar tradisional juga didapat dari lokasi. Awalnya masyarakat lebih suka berbelanja ke pasar tradisional karena lokasinya dekat. Seiring dengan ekspansi pasar modern ke berbagai daerah, saat ini telah banyak ditemukan pasar atau toko modern di lokasi-lokasi yang dekat dengan pemukiman sehingga keunggulan lokasipun tidak dapat dijadikan sumber keunggulan yang berkelanjutan. Jika diamati, pasar tradisional yang masih bertahan dan banyak dikunjungi adalah pasar-pasar khusus seperti Pasar Tanah Abang untuk garmen dan Pasar Glodok untuk elektronik karena pasar-pasar tersebut mempunyai citra khusus di mata konsumen dan mampu menawarkan produk dengan harga yang menarik.
Pasar tradisional hingga saat ini sebenarnya masih memilki keunggulan dalam penjualan produk kebutuhan sehari-hari, terutama bahan mentah. Untuk komoditas ini pasar tradisional mampu bersaing dengan memberikan harga yang relatif murah dan produk yang segar sedangkan di pasar modern harga kebutuhan pokok lebih mahal karena kualitas dan penyajian yang lebih baik.
2. Penurunan Segmen Konsumen Pasar Tradisional
Pusat perbelanjaan modern merupakan pesaing dan ancaman bagi keberadaan pasar tradisional, terutama setelah segmen pasar modern memasuki
44
segmen menengah ke bawah. Jika dahulu pasar modern lebih banyak ditujukan untuk penduduk berpendapatan menengah ke atas, kini pasar modern mulai memasuki berbagai segmen yang bervariasi.
Menurut laporan First Pasific Davies, sasaran konsumen pasar modern pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu kelompok menengah ke atas, kelompok menengah dan kelompok menengah ke bawah. Diperkirakan bahwa kelompok menengah berjumlah sekitar 18 persen sedangkan kelompok menengah ke bawah sebesar 69 persen.
Kelompok menengah ke atas adalah kelompok tenaga terampil dan tenaga manajemen yang memiliki pendapatan sangat tinggi untuk dibelanjakan. Kelompok ini merupakan sasaran pusat perbelanjaan seperti Sogo, Metro, Galeria serta sejumlah toko khusus (speciality store) seperti Mark and Spencer. Kelompok menengah merupakan kelompok yang baru tumbuh daya belinya. Kelompok ini umumnya terdiri atas tenaga manager muda dan teknisi terampil, sejumlah mal seperti Mal Puri Indah dan Mega Mal serta beberapa departement store merupakan pusat perbelanjaan yang mengincar kelompok ini. Kelompok terakhir adalah kelompok menengah ke bawah, kelompok ini umumnya memiliki pendidikan lebih baik dan lebih terbuka dengan alternatif belanja dibanding generasi tuanya. Kelompok ini lebih suka berbelanja di pasar modern daripada pasar tradisional. Kelompok ini diduga memiliki potensi pertumbuhan yang kuat. Department store lokal seperti Matahari dan Ramayana merupakan pengecer yang sangat aktif menggarap kelompok ini. Di masa mendatang, generasi muda ini sangat potensial
45
menyebabkan pergeseran kegiatan belanja dari pasar tradisional ke pusat perbelanjaan modern (Napitupulu, 2006).
Selain faktor internal, ada faktor eksternal yang mendorong perkembangan pasar modern antara lain berhubungan dengan kondisi demografis Indonesia yang sangat potensial untuk dijadikan konsumen bagi pasar modern. Menurut Sukaesih (1994) berkembangnya pasar modern di Indonesia didorong oleh beberapa faktor antara lain meningkatnya jumlah penduduk, jumlah rumah tangga, persentase wanita yang bekerja serta pendapatan perkapita masyarakat. Berikut ini akan dideskripsikan empat faktor eksternal yang mendorong perkembangan pasar modern di Indonesia.
1. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk di Indonesia terus mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,20 persen pada tahun 2004. Jumlah penduduk yang cukup besar merupakan pasar yang potensial untuk dijadikan konsumen pasar modern. 119.208 147.49 179.381194.754 205.843217.854 0 50 100 150 200 250 J UM L AH P E ND UD U K (J UT A J IW A) 1971 1980 1990 1995 2000 2004 TAHUN JUMLAH PENDUDUK Sumber : BPS, 1995-2004.
Gambar 5.6. Perkembangan Jumlah Penduduk di Indonesia Periode 1971-2004
46
2. Jumlah Rumah Tangga
Sama halnya dengan jumlah penduduk, jumlah rumah tangga (keluarga) di Indonesia terus mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan rumah tangga sebesar 5,56 persen pada tahun 2004. Jumlah rumah tangga di Indonesia tentunya akan terus bertambah sehingga rumah tangga juga merupakan pasar potensial untuk dijadikan konumen bagi pasar modern. Perkembangan jumlah rumah tangga di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 5.7.
30,373 39,695 45,653 52,008 54,898 0 10 20 30 40 50 60 J u m la h R um a h T a ngga (J u ta Ke lu a rg a ) 1980 1990 1995 2000 2004 TAHUN JUMLAH RUMAH TANGGA Sumber : BPS, 1995-2004.
Gambar 5.7. Perkembangan Jumlah Rumah Tangga di Indonesia Periode 1980-2004
3. Jumlah Wanita yang Bekerja
Jumlah wanita yang bekerja di Indonesia cukup banyak, untuk dijadikan sampel, maka digunakan data jumlah wanita yang bekerja pada instansi pemerintah sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di mana pada tahun 2004 mencapai 1.456.651 dengan laju pertumbuhan sebesar 2,53 persensebagai dampak positif dari kesempatan kerja yang terbuka bagi kaum wanita. Peningkatan jumlah wanita yang bekerja telah meningkatkan besarnya penghasilan yang dapat
47
dibelanjakan dan mendorong peningkatan permintaan akan sarana yang dapat menghemat waktu dan tenaga serta makanan yang mudah disiapkan. Trend ini kemungkinan masih akan berlanjut untuk beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu bagi wanita yang bekerja, seringkali tidak cukup waktu untuk berbelanja ke pasar tradisional tetapi dengan berbelanja ke swalayan hanya dalam waktu singkat sudah dapat dipenuhi berbagai kebutuhan.
1.37 1.44 1.46 1.42 1.48 1.48 1.30 1.35 1.40 1.45 1.50 1995 1997 1999 2001 2003 2004 TAHUN J UM L AH W ANI T A BE K E RJ A (JUT A J IW A ) JUMLAH WANITA BEKERJA (PNS) Sumber : BPS, 1995-2004.
Gambar 5.8. Perkembangan Jumlah Wanita Bekerja (PNS) di Indonesia Tahun 1995-2004
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa peningkatan jumlah wanita yang bekerja merupakan pasar potensial dan membuka peluang berkembangnya pasar modern. Disisi lain untuk menarik minat berbelanja, terutama wanita maka pasar modern banyak melakukan terobosan dan inovasi guna merebut pangsa pasar baik melalui penggunaan iklan, penyediaan fasilitas pelayanan, pemberian potongan harga, bonus dan pengadaan fasilitas rekreasi di lingkungan pasar modern sebagai bagian strategi yang ditempuh untuk menciptakan daya tarik dan dalam kenyataannya strategi ini cukup berhasil untuk menarik minat konsumen berbelanja di pasar modern.
48
4. Tingkat Pendapatan
Jumlah penduduk bukan satu-satunya faktor pertimbangan bagi pendirian pasar modern, tetapi juga dikaitkan dengan daya beli masyarakat. Pendapatan masyarakat merupakan faktor yang paling dominan sebagai pertimbangan pendirian pasar modern. Secara umum, pendapatan setiap penduduk Indonesia dicerminkan oleh pendapatan nasional perkapita. Pada umumnya sasaran konsumen dari pasar modern adalah masyarakat yang berpenghasilan menengah keatas. Semakin besar pendapatan masyarakat maka pengeluaran masyarakat untuk barang konsumsi (sandang, pangan dan papan) yang seluruhnya dipenuhi oleh pengecer akan semakin besar pula. Oleh karena itu, pengusaha menilai tingkat pendapatan yang tinggi sebagai prospek yang cerah bagi bisnis pasar modern dan mendorong perkembangan pasar modern.
1,86 1,98 2,1 2,2 2,06 2,01 1,97 1,93 1,87 1,87 1,6 1,7 1,8 1,9 2 2,1 2,2 2,3 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 TAHUN P E NDAP AT AN P E RKAP IT A (J UT A RP ) PENDAPATAN PERKAPITA Sumber : BPS, 1995-2004.
Gambar 5.9. Perkembangan Tingkat Pendapatan Perkapita di Indonesia Tahun 1994-2003
Pendapatan perkapita masyarakat seperti terlihat pada Gambar 5.9 cenderung mengalami peningkatan kecuali pada tahun 1998 mengalami penurunann akibat terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia. Pendapatan
49
kembali meningkat pada tahun 1999 seiring dengan mulai membaiknya kondisi perekonomian. Pendapatan masyarakat yang meningkat menyebabkan perubahan pada pola konsumsi masyarakat, yaitu semakin banyak penduduk yang mengkonsumsi makanan non karbohidrat dengan memperhatikan kualitas barang sehingga semakin banyak konsumsi makanan olahan. Perubahan pola konsumsi juga menuntut perubahan cara berbelanja seperti barang berkualitas tinggi, cukup bervariasi dan dengan penampilan yang menarik.
Dengan meningkatnya pendapatan, konsumen juga menghendaki tempat belanja yang lebih baik daripada sebelumnya, seperti suasana yang lebih nyaman, bersih dan aman serta rekreatif. Disini faktor pribadi dan hubungan antara pedagang dan konsumen tidak diperhitungkan kecuali hubungan yang bersifat bisnis. Dengan demikian perkembangan pasar modern dalam arti modernisasi pasar akan sejalan dengan pertumbuhan pendapatan masyarakat. Disamping itu, hal-hal lain yang tidak menutup kemungkinan adanya pemekaran pasar modern sebagai akibat dari demonstration effect yang ditimbulkan pasar modern (promosi, diskon) dan kedekatan pasar modern dengan tempat tinggal konsumen kelas menengah ke atas maupun karena gengsi/prestise. Dengan demikian, tingkat pendapatan konsumen merupakan indikator yang diperlukan untuk mengetahui status sosial ekonomi konsumen, sehingga dapat diketahui pula seberapa besar daya belinya (Sukaesih, 1994).
Dengan munculnya pasar modern maka akan menambah ketersediaan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Meskipun unsur pelayanan tidak diperlukan, namun tenaga kerja yang diserap oleh dunia usaha ini cukup banyak,
50
seperti kasir, karyawan yang mengawasi keluar masuknya barang dari gudang, delivery barang siap jual, petugas kebersihan, keamanan, parkir dan lain sebagainya.
5.4. Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Perdagangan Eceran
Secara umum perkembangan pasar modern yang cukup pesat membawa dua dampak yaitu dampak yang menguntungkan dan dampak yang kurang menguntungkan. Dampak menguntungkan dari pertumbuhan pasar modern diperoleh konsumen, di mana konsumen akan memiliki keleluasaan dalam memilih tempat untuk berbelanja. Selain itu, dengan munculnya banyak pasar modern maka akan muncul suatu persaingan, di mana dengan adanya persaingan tersebut akan membuat pelayanan menjadi lebih baik dalam rangka menarik konsumen.
Perkembangan pesat pasar modern di sisi lain akan memberikan dampak yang kurang menguntungkan bagi pasar atau pedagang di pasar tradisional. Pedagang di pasar tradisional secara umum adalah pedagang-pedagang kecil bukan pengecer besar seperti pedagang di pasar modern. Pusat perbelanjaan modern dianggap pesaing dan akan mengancam keberadaan pedagang di pasar tradisional. Jika dahulu pasar modern lebih banyak ditujukan untuk penduduk berpendapatan menengah keatas, kini segmen pasar modern telah bervariasi dan telah memasuki berbagai segmen pasar termasuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Perkembangan jumlah pasar modern yang cukup pesat terutama dalam satu dekade
51
terakhir telah mendorong pemerintah untuk membuat sebuah peraturan mengenai pasar modern dan pasar tradisional.
Secara konsep, pemerintah yang berperan dalam mengalokasikan sumber-sumber ekonomi menginginkan adanya sinergi antara pengusaha pasar modern dengan pedagang kecil di pasar tradisional. Karena hal itulah maka pemerintah melalui Departemen Perdagangan menetapkan beberapa keputusan mengenai pasar tradisional dan modern dalam bentuk Keputusan Bersama Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.145/MPP/Kep/5/97 dan Menteri Dalam Negeri No. 57 tahun 1997 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan, Surat Keputusan (SK) Menperindag No.420/MPP/Kep/10/1997 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan serta SK Menperindag No. 261/MPP/Kep/7/1997 tentang Pembentukan Tim Penataan dan Pembinaan Pasar dan Pertokoan. Peraturan-peraturan inilah yang kemudian dijadikan pedoman bagi perkembangan pasar tradisional dan modern.
Secara garis besar, kebijakan pemerintah dalam penataan dan pembinaan perpasaran bertujuan untuk :
1. Mewujudkan sinergi yang saling menguntungkan dan memperkuat antara pengusaha pasar modern dengan pedagang kecil dan menengah koperasi serta pasar tradisional agar dapat tumbuh dan berkembang dengan lebih cepat sebagai upaya terwujudnya tata perdagangan dan pola distribusi nasional yang mantap, lancar, efektif dan efisien serta berkelanjutan.
52
2. Memberdayakan pedagang kecil, menengah dan koperasi serta pasar tradisional agar tangguh, maju dan mandiri serta meningkatnya kesejahteraan.
3. Mewujudkan kemitraan usaha antara pengusaha besar pasar modern dengan pedagang kecil menengah, koperasi serta pasar tradisional di dalam tatanan perdagangan yang efektif dan efisien serta berdaya saing tinggi. 5.4.1. Kebijakan Penataan Pasar dan Pertokoan
Berpedoman pada peraturan-peraturan mengenai pasar dan pertokoan, baik modern maupun tradisional maka dalam pembangunan pasar modern maupun pasar tradisional harus memperhatikan beberapa faktor, yaitu:
1. Lokasi
a. Lokasi pembangunan pasar harus berada di lokasi yang sesuai dengan peruntukkan menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (RTRWK) dan Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Kota (RDTRWK) serta harus dilengkapi dengan AMDAL dengan penekanan pada aspek kajian sosial ekonomi.
b. Pasar yang akan dibangun diatas lahan sebagai akibat perubahan fungsi lahan, harus memperhatikan Peraturan Menteri Dalam Negeri No.4 Tahun 1996 tentang Pedoman Perubahan Pemanfaatan Lahan Perkotaan, antara lain:
1) Harus mencerminkan pertumbuhan ekonomi.
2) Harus dapat dikendalikan, terutama aspek estetika, arsitektonis bangunan dan nilai sejarah kota.
53
3) Mampu meningkatkan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat maupun daerah.
4) Tidak mengganggu ketertiban dan keamanan umum.
5) Tidak merugikan bagi Pemerintah Daerah di masa mendatang.
6) Tidak merugikan masyarakat, khususnya koperasi dan pedagang kecil atau golongan ekonomi lemah.
7) Harus berazaskan keterbukaan, persamaan, keadilan dan perlindungan hukum serta kemitraan dengan mengutamakan kepentingan masyarakat koperasi dan pengusaha kecil atau golongan ekonomi lemah.
8) Harus sesuai dengan azas penataan ruang dan ditujukan bagi semua kepentingan secara terpadu, berdayaguna, serasi, selaras dan seimbang 9) Harus berupaya agar dalam pemanfaatan lahan yang baru selalu
memperhatikan fungsi lahan dan daya dukung lingkungan sekitarnya serta saling menunjang dan berkeserasian secara terpadu.
10) Dalam rangka menciptakan keserasian dan keseimbangan, maka pembangunan pasar modern harus memperhatikan:
1. Lokasi pasar modern dengan pasar tradisional dan koperasi serta pengusaha kecil yang ada.
2. Jangkauan pelayanan Pasar Modern dan Pasar Tradisional 3. Ketertiban dan keindahan kota
54
c. Aspek Sosial Ekonomi
Pembangunan pasar modern harus memperhatikan jarak antara pasar modern dengan pasar tradisional dan pasar modern dengan pertokoan, koperasi dan pengusaha kecil sehingga dapat dihindari timbulnya persaingan yang tidak sehat.
d. Kebutuhan
Pembangunan pasar modern harus sesuai dengan jumlah dan pertumbuhan penduduk, kondisi ekonomi masyarakat, tingkat pertumbuhan ekonomi dan tingkat pertumbuhan koperasi dan pengusaha kecil.
e. Perkembangan Kota dan Ekonomi
Pembangunan pasar modern di Kabupaten atau kota di luar ibukota propinsi hanya diperkenankan bagi kabupaten atau kota yang perkembangan kota dan ekonominya sangat pesat dengan kriteria antara lain sebagai berikut:
1) Laju pertumbuhan penduduk kota diatas laju rata-rata pertumbuhan penduduk perkotaan secara nasional.
2) Laju pertumbuhan ekonomi termasuk kegiatan industri, jasa dan perdagangan melebihi pertumbuhan kegiatan sektor lainnya secara nasional.
3) Kota yang keberadaannya sebagai kota industri, jasa dan perdagangan 4) Merupakan pemukiman skala besar/kota mandiri/kota baru
55
Pertumbuhan pasar tradisional harus tetap didorong untuk tumbuh dan berkembang baik di perkotaan maupun di pedesaan, termasuk untuk meningkatkan kemandirian koperasi dan pengusaha kecil dan menengah agar dapat menyesuaikan dengan perkembangan dan pertumbuhan pasar modern serta kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat dan berkembang sesuai dengan tuntutan dan perkembangan perekonomian.
2. Pembangunan Pasar
Pembangunan sarana pasar harus di lokasi dengan peruntukannya menurut Rencana Tata Ruang Wilayah. Pembangunan pasar modern juga diwajibkan menyertakan Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL) dengan penekanan pada aspek kajian sosial ekonomi khususnya pembinaan dan pengembangan koperasi dan pengusaha kecil.
a. Lokasi pasar modern harus mempertimbangkan keberadaan koperasi, pengusaha kecil dan menengah serta pasar tradisional
b. Pembangunan dan pengembangan sarana pasar diprioritaskan bagi koperasi dan pengusaha kecil
c. Pengusaha besar yang akan membangun sarana pasar, wajib bermitra dengan koperasi dan pengusaha kecil, baik dalam hal kepemilikan, pembangunan, pengelolaan maupun pengembangan.
5.4.2. Kemitraan
Kemitraan adalah bentuk kerjasama usaha antara pengusaha besar dengan pengusaha kecil, menengah dan koperasi disertai dengan kegiatan pembinaan dan pengembangan oleh pengusaha besar atas dasar prinsip saling menguntungkan.
56
Kemitraan tersebut dilakukan dengan pola yang sesuai dengan sifat dan karakteristik usaha yang dimitrakan sehingga akan tercipta suatu sistem atau mekanisme yang dapat menciptakan praktek usaha yang sehat dan kompetitif.
Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 127 Tahun 2001 tentang Bidang Jenis Usaha Yang Dicadangkan Untuk Usaha Kecil dan Bidang atau Jenis Usaha Yang Terbuka Untuk Usaha Menengah atau besar dengan syarat kemitraan, maka bidang atau jenis usaha yang terbuka untuk usaha menengah dan besar dengan persyaratan kemitraan dengan usaha kecil adalah melalui berbagai bentuk pola kemitraan yang terdiri dari penyertaan saham, inti plasma dan subkontraktor atau waralaba atau dagang umum.
Kebijakan di bidang kemitraan ini diharapkan mampu menopang upaya penataan dan pengembangan pasar tradisional maupun pasar modern dengan didukung oleh infrastruktur lainnya secara sinergi. Arah kebijakan pemerintah