• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR PUSTAKA

2. Perhitungan Beban Hidup (PH)

Untuk perhitungan beban hidup, data ketinggian timbunan di atas pipa (H) sebesar 57 cm atau 0.57 m. Beban kendaraan dan muatan direncanakan adalah 1 ton atau 1000 kg, jadi beban roda terpusat di permukaan jalan. Bila roda kendaraan berjumlah 4, maka masing-masing roda mempunyai beban 250 kg. Untuk mencari nilai Cb dilakukan pengukuran pada Gambar 7, dan hasilnya ditampilkan pada Tabel 10.

Tabel 10 Hubungan nilai r/H dengan Cb

r/H Cb 0.0 0.48 0.5 0.28 1.0 0.08 1.5 0.02 2.0 0.01

Tabel 11 memperlihatkan nilai PH yang mengacu kepada rumus 19 yaitu beban hidup rata-rata lalu-lintas pada tepi atas pipa (kg/m) dengan beberapa nilai Cb. Nilai PH diambil yang paling maksimum yaitu 369 kg/m, yaitu saat posisi roda kendaraan tepat di atas posisi pipa PVC. Kondisi ini merupakan posisi yang paling optimum, pipa menerima beban yang terbesar.

Tabel 11 Perhitungan nilai PH

H (m) H^2 r/H Q (kg) Cb QxCb PH 0.57 0.32 0.0 250 0.48 120 369 0.57 0.32 0.5 250 0.28 70 215 0.57 0.32 1.0 250 0.08 20 62 0.57 0.32 1.5 250 0.02 5.0 15 0.57 0.32 2.0 250 0.01 2.5 8

3. Perhitungan Beban Kombinasi (Pk)

Beban tekan kombinasi (Pk) adalah beban mati dan beban hidup yang diterima puncak pipa yang dihitung dengan rumus 20 yaitu :

Pk = Cp (PM + PH) dimana :

Pk = Beban kombinasi yang bekerja pada pipa

Cp = Koefisien reduksi, untuk struktur kaku Cp = 2 dan untuk struktur lentur nilai Cp lebih kecil dari 2.

Beban kombinasi Pk ini adalah beban maksimum yang harus diterima oleh pipa. Dalam hal ini kekuatan tekan pipa harus lebih besar atau sama dengan kekuatan tekan yang timbul, dan besarnya kekuatan tekan yang timbul adalah sebesar nilai Pk.

Misalnya nilai Cp = 1.0, maka nilai Pk yang timbul atau yang diijinkan adalah Pk = 1.0 (67 + 369) ≈ 436 kgf/m.

dan beban kombinasi (Pk) yang ditimbulkan oleh beban mati (PM) dan beban hidup (PH) adalah 436 kgf/m. Maka berarti pipa kuat menahan beban tekan yang timbul, karena kekuatan tekan pipa (504 kgf/m) > dari kekuatan tekan yang timbul (436 kgf/m).

Prototipe Subgrade Jalan Usahatani di Petakan Tersier Lahan Sawah

1. Penyediaan Tanah Timbunan untuk Tanah Dasar (subgrade)

Tanah timbunan untuk tanah dasar atau subgrade diperoleh sekitar daerah percobaan pembuatan prototipe jalan usahatani yang telah diambil contoh tanahnya. Tanah timbunan untuk tanah dasar jalan usahatani tersebut dapat dilihat seperti pada Gambar22.

Gambar 22 Tanah timbunan untuk tanah dasar (subgrade) jalan usahatani

2. Langkah Pembuatan Prototipe Subgrade Jalan Usahatani

1. Persiapan bahan, peralatan dan tenaga kerja.

2. Pembuatan profil melintang jalan dengan penimbunan awal, tebal penimbunan untuk setiap lapis pemadatan adalah sekitar 20 cm, seperti terlihat pada Gambar 23.

Gambar 23 Pembuatan profil melintang jalan dengan penimbunan awal 3. Koreksi kadar air tanah bahan timbunan di lapangan dengan cara

mengetahui batas plastisnya, yaitu menggulung beberapa bahan tanah timbunan dengan jari tangan menjadi diameter ±3 mm, dimana pada diameter tersebut tanah mulai retak. Dari beberapa bahan timbunan yang ada, sebagian ada yang mencapai batas plastis dan sebagian lagi tidak mencapai batas plastis. Penyelesaiannya tanah bahan urugan yang kekurangan kadar airnya ditambah dengan cara disiram sampai mendekati batas plastis. Pelaksanaan koreksi batas plastis di lapangan seperti terlihat pada Gambar 24.

Gambar 24 Pelaksanaan koreksi batas plastis di lapangan

4. Selanjutnya yaitu pelaksanaan pemadatan lapis pertama, dimana tebal setiap lapis tanah timbunan yaitu 20 cm. Alur pemadatan tanah timbunan yaitu berbentuk seperti spiral yang dimulai dari sisi tanah timbunan menuju pusat timbunan, dan dari pusat timbunan menuju sisi timbunan, seperti terlihat pada Gambar 25 dan Gambar 26.

Gambar 25 Bentuk alur pemadatan dari sisi menuju pusat

Gambar 26 Bentuk alur pemadatan dari pusat menuju sisi

Mengacu pada pekerjaan tanah dasar pada buku Departemen Pekerjaan Umum Direktorat Bina Marga No : 003-01/BM/2006 pada halaman 74- 100 tentang tebal dan jumlah lapisan pemadatan. Untuk tebal tanah kohesif tebal lapisan berkisar antara 10 sampai 20 cm, sedangkan jumlah lintasan berkisar antara 4 sampai 8 lintasan. Dalam percobaan pembuatan prototipe ini pemadatan dilakukan 5 lintasan. Gambar 27 merupakan hasil dari pemadatan akhir lapisan pertama.

Gambar 27 Pemadatan akhir lapis pertama

Pengamatan dalam proses pemadatan pada lapis pertama yaitu dari tebal tanah timbunan kondisi gembur adalah 20 cm menghasilkan tanah dalam kondisi padat yaitu rata-rata 12 cm. Hasil pengamatan satu titik pemadatan tanah adalah 3- 5 tumbukan.

5. Untuk lapis kedua sampai lapis terakhir tahapannya sama dengan urutan lapis pertama, dimana jumlah lapisan yang dipadatkan adalah 8 lapisan. Lapisan terakhir hasil pemadatan seperti pada Gambar 28.

Gambar 28 Pemadatan akhir lapis terakhir

6. Setelah lapis terakhir selesai, maka langkah selanjutnya pengambilan data DCP (Dynamic Cone Penetrometer) sebanyak 2 titik pada lokasi yang berbeda. Maksud pengambilan data DCP (Dynamic Cone Penetrometer)

yaitu untuk mengetahui nilai CBR (California Bearing Ratio) yang ada di lapangan, dan data CBR (California Bearing Ratio) yang diperoleh di lapangan akan dijadikan CBR rencana untuk tebal perkerasan jalan

pengambilan data DCP (Dynamic Cone Penetrometer) di satu titik.

Gambar 29 Pengambilan data DCP

7. Langkah berikutnya adalah mengukur dan menggali lokasi untuk pemasangan pipa PVC diperlihatkan pada Gambar 30.

Gambar 30 Penggalian lokasi pipa PVC

8. Penggalian tanah untuk pipa PVC adalah sedalam 65 cm dari permukaan tanah bagian atas. Pada Gambar 31 berikut merupakan pipa yang sudah dipasang dan ditimbun tetapi belum dipadatkan kembali.

Gambar 31 Pipa yang sudah terpasang dan ditimbun

9. Setelah pemasangan dan penimbunan pipa selesai, maka permukaan tanah kembali dilakukan pemadatan agar kondisi tanah mempunyai daya dukung yang kuat. Proses pemadatan ulang diperlihatkan pada Gambar 32.

Gambar 32 Proses pemadatan ulang tanah setelah pipa terpasang

10.Hasil dari pemadatan ulang setelah pipa terpasang diperlihatkan pada Gambar 33.

Gambar 33 Hasil pemadatan ulang tanah setelah pipa terpasang

Kekuatan Tanah Dasar (Subgrade) Prototipe Jalan Usahatani

Perhitungan pengujian kekuatan tanah dasar (subgrade) prototipe jalan usahatani menggunakan alat DCP (Dynamic Cone Penetrometer) langkah perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran 9. Pada Tabel 12 disajikan nilai rata- rata CBR (California Bearing Ratio) dari tiap bagian kedalaman.

Tabel 12 Nilai rata-rata CBR (California Bearing Ratio) dari tiap bagian kedalaman.

Lapisan Kedalaman rata-rata (mm) Rata-rata CBR tiap kedalaman (%)

Bagian A 0 - 340 7.62

Bagian B 340 - 590 19.67

Bagian C 590 - 950 21.91

Dengan mengacu pada Tabel 12 nilai rata-rata CBR yang diperoleh sebesar 7.62%, 19.67% dan 21.91%, yang lebih besar dari CBR rencana yaitu 5.7%. Hal ini berarti CBR subgrade memenuhi syarat kekuatan.

Dokumen terkait